Kasihani Mimpi


 

Kasihani Mimpi

Ketika saya masih balita, sekedar menaiki mobil umum saja sudah merupakan kemewahan hidup.

Naik taksi saja, sudah merupakan pengalaman yang luar biasa.

Sampai akhirnya saya bekerja di Cilegon pun di awal tahun 2000-an, mobil jemputan saya pun sudah terasa sangat mewah.

Sama sekali tidak terbersit keinginan untuk memiliki sendiri sebuah mobil. Bermimpi pun saya tidak berani.

Karena dengan gaji sedikit di atas UMR,saya bisa menyicil motor pun sudah pencapaian yang luar biasa.

Pernah sekali mengendarai mobil dinas mewah milik Plant Manager, rasanya seperti awan Kintoun. Mulus, tanpa suara, dan sangat lembut.

Sempat sih terbersit keinginan untuk bisa punya mobil, sambil membayangkan betapa bahagianya jika saya bisa menyetir sendiri mobil mewah itu.

Ya pada akhirnya saya hanya bisa mengasihani diri sendiri yang lancang, berani bermimpi tinggi-tinggi.

Takdir Allah, akhirnya saya bisa bekerja di Qatar dan bisa memiliki mobil sendiri.

Di Qatar mobil adalah kebutuhan primer jika anda tinggal bersama keluarga. Karena sangat penting untuk kegiatan sehari-hari.

Mengantar sekolah anak, belanja keperluan dapur, berangkat kerja, dan keperluan lainnya.

Ada transportasi umum sih yang lumayan bagus juga, tapi dengan tiga anak, sangat repot jika setiap saat harus naik bis atau taksi

Yang tadinya mimpi kini jadi kebutuhan.

Menyetir mobil sendiri kali ini bukan sekedar khayalan di siang bolong. Ya hampir setiap kali saya menyetir mobil ke manapun.

Apakah itu sebuah kebahagiaan?

Ketika saya masih balita, sekedar menaiki mobil umum saja sudah merupakan kemewahan hidup.

Naik taksi saja, sudah merupakan pengalaman yang luar biasa.

Sampai akhirnya saya bekerja di Cilegon pun di awal tahun 2000-an, mobil jemputan saya pun sudah terasa sangat mewah.

Sama sekali tidak terbersit keinginan untuk memiliki sendiri sebuah mobil. Bermimpi pun saya tidak berani.

Karena dengan gaji sedikit di atas UMR,saya bisa menyicil motor pun sudah pencapaian yang luar biasa.

Pernah sekali mengendarai mobil dinas mewah milik Plant Manager, rasanya seperti awan Kintoun. Mulus, tanpa suara, dan sangat lembut.

Sempat sih terbersit keinginan untuk bisa punya mobil, sambil membayangkan betapa bahagianya jika saya bisa menyetir sendiri mobil mewah itu.

Ya pada akhirnya saya hanya bisa mengasihani diri sendiri yang lancang, berani bermimpi tinggi-tinggi.

Takdir Allah, akhirnya saya bisa bekerja di Qatar dan bisa memiliki mobil sendiri.

Di Qatar mobil adalah kebutuhan primer jika anda tinggal bersama keluarga. Karena sangat penting untuk kegiatan sehari-hari.

Mengantar sekolah anak, belanja keperluan dapur, berangkat kerja, dan keperluan lainnya.

Ada transportasi umum sih yang lumayan bagus juga, tapi dengan tiga anak, sangat repot jika setiap saat harus naik bis atau taksi

Yang tadinya mimpi kini jadi kebutuhan.

Menyetir mobil sendiri kali ini bukan sekedar khayalan di siang bolong. Ya hampir setiap kali saya menyetir mobil ke manapun.

Apakah itu sebuah kebahagiaan?

Pada tahun-tahun pertama sih tentunya sangat bahagia dong.

Siapa yang tidak akan bahagia jika bisa meraih sesuatu yang sebelumnya tidak berani memimpikannya?

Tapi ketika menyetir sudah menjadi rutinitas, dan beberapa tahun ini Doha juga akhirnya terkena penyakit jalanan macet, lama-lama menyetir sudah tidak menyenangkan lagi.

Kadang ketika sudah sangat jenuh dan lelah menghadapi kemacetan, saya malah memanggil taksi online untuk sekedar pergi ke tempat jemputan.

Kok bisa seperti itu?

Padahal kan itu adalah “Dream Comes True”, mimpi yang jadi kenyataan?

Ya begitulah sifat dunia.

Seperti tulisan saya sebelumnya, mimpi-mimpi dan keinginan kita yang bersifat duniawi, akan berakhir semu.

Walaupun itu hal-hal yang tadinya kita anggap mustahil, dan akhirnya kita bisa mendobrak kemustahilan dengan mencapainya.

Jika cuma sebatas keinginan tanpa ada sangkut paut dan keterlibatan kepentingan akhirat kita, ya hanya sebatas kesuksesan dan pencapaian semu.

Seperti kata ustadz Adi Hidayat, berdo’alah meminta apapun kepada Allah, walaupun bersifat kebendaan dan duniawi, tapi satu syaratnya.

Selalu kaitkan dengan kepentingan akhirat dan ibadah.

Minta mobil? Boleh. Niatkan untuk memudahkan anda beribadah sholat ke mesjid, memudahkan keluarga jika pergi ke mana-mana.

Minta harta berlimpah? Tentu boleh!

Niatkan agar kita bisa menjadi orang kaya yang sholeh, agar harta yang kita miliki bisa bermanfaat untuk umat.

Minta kecerdasan dan ilmu? Harus dong, karena umat membutuhkan orang-orang yang berilmu.

Pokoknya apapun keinginan anda, harus ada kaitannya dengan kepentingan akhirat kita, dan bisa menjadi jalan kita menuju surga yang abadi dan tertinggi kelak.

Aamiin.

Doha, 11 November 2018

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s