Sang Underdog

Image

“Seringkali orang yang kita remehkan pada kesan pertama, adalah orang yang sesungguhnya luar biasa, dan berprestasi jauh melebihi orang yang meremehkan”

            Ruangan kelas berisi 40 orang murid berseragam Putih- Merah yang riuh rendah oleh teriakan, tawa, cekikikan, canda dan obrolan itu tiba- tiba sunyi senyap, ketika pintu kelas itu terbuka perlahan- lahan, dan memperlihatkan bayangan seorang perempuan dewasa dan bayangan seorang anak kecil.

            Tak lama kemudian, Ibu Wali Kelas yang kami takuti karena beliau galak luar biasa, melangkah masuk perlahan sambil menuntun murid yang mukanya tidak pernah kami lihat sebelumnya di sekolah ini. Pagi ini ada yang berbeda. Beliau memasuki kelas tidak sendirian. Ada seorang anak kecil, dan dia benar- benar kecil. Maksudku, dia memang lebih pendek dan kecil disbanding teman- temanku di kelas.

            Dia diperkenalkan sebagai seorang murid baru, pindahan dari sebuah Sekolah Dasar yang tidak terlalu terkenal di Bandung. Kata temanku yang lain sih, Sekolah Dasar tempat dia berasal adalah “SD Kampung”. Iya lah, dibandingkan dengan sekolah kami yang berada tepat di tengah kota Bandung, Sekolah dasar mana pun pasti akan terlihat seperti berada di kampung.

            Tidak ada yang istimewa dari si anak baru ini. Hanya saja dia terlihat agak lusuh dan kurang terurus, walau pun seragam Putih- Merahnya terlihat masih baru. Dan juga, wajahnya juga tidak terlihat terlalu pintar, setidaknya menurut kami. Malahan, dia terkesan culun dan tidak mau bergaul. Mungkin dia malu dan gugup, sehingga mulutnya terlihat bergetar dan suaranya pun sedikit tergagap- gagap ketika berusaha memperkenalkan dirinya kepada kami.

            “Assalaamu’alaikum teman- teman, nama saya Deni, sss, saya, pi, ppi, pin, pindahan dari Sekolah Dasar Leuwigoong!” Katanya dengan sedikit tergagap dan menundukkan wajahnya.

            Seisi kelas langsung tertawa lepas, karena mendengar nama sekolahnya yang terdengar sangat lucu, Leuwigoong. 

Dia pindah ke sekolah kami di tengah- tengah ujian Catur Wulan. Ternyata materi- materi pelajaran yang sedang kami pelajari waktu itu belum diajarkan di sekolahnya. Kami lihat dia harus bekerja keras untuk mengejar ketertinggalan pelajaran.

Ada yang aneh di dalam diri si Deni ini, dia tidak pernah mau diajak bergabung di acara belajar bersama yang diadakan setiap minggu di rumah ibu Walik Kelas. Ketika orang lain sibuk mendaftar ke tempat bimbingan belajar di luar sekolah, atau mengikuti les khusus dengan guru di sekolah.

            Ada yang unik dari si Deni ini, entah kenapa, ketika orang lain berebut ingin duduk di belakang, dia malah aneh sendirian dengan selalu memilih tempat duduk di barisan paling depan, tepat di depan meja guru yang mengajar.

            Setiap kali ada ulangan pun, kami tidak pernah tahu berapa nilai yang dia dapat. Entah jelek atau bagus, karena air mukanya selalu terlihat biasa.

            Suatu hari kami melihatnya baru turun dengan susah payah dari sebuah Bis Damri yang penuh sesak oleh penumpang. Sekolah kami memang berdekatan dengan terminal terbesar di Bandung. Sehingga semua jurusan angkutan kota dan bis dalam kota dan bis luar kota pasti akan melewati jalan raya di depan sekolah kami.

            Ternyata itu penyebabnya dia selalu terlihat kelelahan dan lusuh, walau pun dia baru datang di pagi hari. Bagaimana tidak, dia bilang, dia harus berangkat dari rumahnya paling lambat jam 05:40, kalau tidak dia akan ketinggalan bis.

            Walau pun setelah beberapa minggu ini dia mulai bisa berbaur dengan kami, tapi kami masih belum bisa menerka- nerka bagaimana kemampuan belajar dia yang sebenarnya. Kami tak pernah tahu nilai- nilai ulangannya. Dia tidak pernah mau berbagi jawaban dengan orang lain, apalagi mencontek. Padahal seringkali kesempatan itu datang ketika guru meninggalkan ruangan. Dan dia pun tidak pernah bertanya kepada orang lain. Selain para guru membagikan hasil ulangan tersebut secara individu, dia juga tidak pernah mau dan berminat untuk membahasnya.

            Dia lumayan aktif di kelas, mau bertanya dan tidak malu untuk menjawab pertanyaan dari guru yang sedang mengajar, walau pun tentunya tidak selalu benar. Tidak jauh berbeda lah dengan murid- murid lain di kelas kami.

            Bahkan ketika ulangan umum.

            Seminggu menjelang ulangan umum, kami sih biasanya berebut dan saling “membooking” teman sekelas yang kami anggap pintar, terutama dua murid perempuan yang menjadi langganan juara di kelas kami, Intan dan Mirza.

            Mereka berdua, sejak kelas satu dan kelas empat, selalu menguasai ranking satu dan dua . Sisa murid yang lain hanya memperebutkan posisi tiga dan seterusnya saja.

            Mereka memang cerdas. Apalagi Intan, tiga saudaranya juga “bertabiat” sama. Kakaknya yang sudah kelas enam, dan adiknya yang sekarang masih kelas dua pun seperti itu. Sama- sama selalu menjadi juara kelas.

            Si Deni ini, aneh sendirian, dia tidak ikut “berebut” duduk bersama dengan para juara kelas. Di hari pertama ujian, dia memilih untuk duduk di posisi favoritnya, tepat di depan meja guru.

            Tidak ada seorang pun yang mau duduk bersamanya. Iya lah, siapa yang tidak segan duduk di depan meja guru pengawas di saat Ulangan Umum? Apalagi yang sudah berniat jahat untuk mencontek atau berusaha mencuri kesempatan untuk bekerja sama dengan murid yang lain.

            Selama satu minggu Ulangan Umum berlangsung, si Deni ini tetap duduk di posisi yang sama.

            Anehnya, dia tidak pernah berusaha untuk mencontek atau bekerja sama dengan murid yang lainnya. Dia selalu bersikap tenang dan cuek, bahkan ketika mata pelajaran Matematika dan IPA yang susahnya luar biasa. Sangat susah, sampai- sampai Intan dan Mirza, duet penguasa ranking satu dan dua pun harus mencuri- curi kesempatan untuk bisa bekerja sama mengerjakan soal- soal tersebut.

            Seminggu setelah Ulangan Umum berlalu, seperti biasa adalah pembagian raport di kelas kami. Ibu Wali Kelas seperti biasa juga akan memberikan wejangan dan petuahnya sebelum raport dibagikan.

            Seperti biasa , nasehat agar belajar lebih baik. Beliau juga menyebutkan data- data nilai siswa di kelas kami. Nilai rata- rata, nilai paling tinggi, dan nilai paling rendah untuk setiap pelajaran dengan lengkap beliau sebutkan.

            Acara intinya sih adalah penyebutan ranking di kelas kami. Biasanya beliau menyebutkan nama murid- murid dari ranking ke- satu sampai ke- sepuluh.

            Kami pada awalnya sih tidak terlalu antusias, karena kami menduga pasti hasilnya akan seperti biasa, Intan dan Mirza pasti akan menguasai posisi satu dan dua di kelas kami.

            Tapi alangkah terkejutnya kami ketika ibu Wali Kelas mengumumkan bahwa Catur Wulan ini ada kejutan. Ada tiga orang siswa yang memiliki nilai rata- rata tertinggi sama perssis.

            Sehingga untuk pertama kalinya dalam sejarah, di kelas kami akan ada tiga orang yang menduduki ranking satu!

            Suasana kelas yang tadinya sunyi dan membosankan pun tiba- tiba menjadi gaduh dan ribut. Semua orang bertanya- tanya siapakah orang ke- tiga yang bisa menyamai nilai Intan dan Mirza, yang notabene sudah menguasai posisi tertinggi di kelas kami sejak kelas satu.

            Alangkah terkejutnya kami ketika Ibu Wali Kelas mengumumkan nama ke- tiga murid tersebut:

            “Catur Wulan ini, ada tiga orang yang menduduki ranking satu, karena mereka memiliki nilai rata- rata yang sama. Siapakah mereka?” Tanya beliau, seakan sengaja mengulur waktu untuk membuat kami penasaran.

            “Ibu sangat bangga dengan prestasi ketiga anak ini, karena kejadian ini adalah baru pertama kalinya dalam sejarah sekolah kita, ada tiga orang yang menduduki ranking satu!” Si Ibu menambahkan dengan  penuh semangat.

            “Mari kita ucapkan selamat dan beri tepuk tangan kepada Intan Nurita!” Tepuk tangan yang sangat meriah pun membahana menyambut nama yang sudah tidak asing lagi.

            “Mirza Mahardia..!” Sebut si Ibu lagi.

            Kali ini tepuk tangannya tidak semeriah tadi, karena kami semua sudah menduga nama yang akan disebut pasti si Mirza.

            “Dan, Ibu sangat bangga, luar biasa bangga dengan murid ranking satu yang ketiga ini, karena Ibu tidak pernah menduga bahwa dia akan berprestasi setinggi ini. Di kelas ini, kelas favorit di sekolah kita. Kelas yang selalu meraih nilai rata- rata tertinggi di sekolah kita!” Si Ibu terus berbicara, seakan sengaja akan membuat kami semua penasaran.

            “Mari kita ucapkan selamat dan beri tepuk tangan yang sangat meriah kepada Deni Sucipta…!” Nama yang keluar dari mulut ibu Wali Kelas kami itu bagaikan geledek yang menyambar di siang bolong.

            Seisi kelas bukannya menyambut ajakan untuk bertepuk tangan, tapi malah terdiam sunyi beberapa saat.

            Tidak ada yang mempercayai, bahwa murid culun pindahan dari SD kampung itu, yang bahkan baru masuk di tengah- tengah Catur Wulan bisa menyamai Intan dan bahkan melewati Mirza, yang sudah sejak kelas satu selalu menduduki peringkat tertinggi di kelas kami. Luar biasa!

            Tapi keheningan itu tidak bertahan lama, tak lama kemudian teriakan, siulan, dan tepuk tangan langsung membahana menggetarkan ruangan kelas kami.

            Semua memberi selamat kepada sang Underdog yang sejak awal kami tidak perhitungkan akan ikut dalam persaingan yang sangat ketat di kelas kami ini.

 

 

 

The Avengers: Film Action Biasa+Humor Cerdas

 Image

__The_Avengers___Movie_Poster_by_themadbutcher

“Individu- individu yang berkarakter kuat dan egois, jika bisa disatukan akan membentuk sebuah tim yang super kuat” 

            Karena penasaran dengan rekor baru yang dicetak oleh The Avengers, dengan mencetak pendapatan di akhir pekan sebesar 200,3 juta Dollar, saya dan keluarga langsung meluncur ke bioskop terdekat.

            Siapa yang tidak tertarik ketika super hero sekelas Iron Man, Hulk, Captain America, dan Thor bergabung di dalam satu film? Black Widow, Nick Fury, Hawkeye, dan Loki menurut saya bukan super hero, karena mereka hanya “manusia biasa”, walau pun dengan peran yang luar biasa.

            Di The Avengers, anda akan mendapatkan semua yang anda harapkan dari sebuah film action.

Sepanjang film berlangsung sih tidak ada adegan action yang istimewa. Adegan standard dengan ledakan, dentuman, tabrakan, manusia/alien yang berterbangan, pertarungan di udara. Ah, pokoknya standar film action masa ini, gaya film Transformers.

            Hal yang menarik adalah proses para superhero ini menjadi sebuah tim. Lebih tepatnya konflik di antara ego mereka. Nick Fury, sang direktur S.H.I.E.L.D pun sampai kewalahan ketika mereka semua berdebat dalam waktu yang bersamaan.

            Di bagian awal, setiap superhero seolah berkutat dengan egonya masing- masing. Sehingga akhirnya berakhir dengan pertarungan Thor vs Iron Man, walau pun akhirnya mereka bisa dipisahkan oleh Captain America.

            Thor dengan misinya ingin mengingatkan adiknya agar tidak bersekutu dengan musuh.

            Captain America dengan bersikukuh ingin segera menemukan Tesserac yang disembunyikan oleh Loki di suatu tempat.

            Black Widow/ Agent Romanov, yang ingin menyelamatkan Hawkeye yang sudah disihir, sehingga mejadi sekutu Loki.

            Belum lagi Tony Stark, si Iron Man yang sedikit lebay.

            Walau pun pada akhirnya mereka semua akhirnya bersatu mempertahankan bumi serangan Alien- alien serupa Devastator-nya Transformers, tapi cara sang sutradara, Joss Whedon mengolah cerita proses penggabungan mereka menjadi sebuah tim sangatlah apik.

            Sisi manusia dari para superhero itu lumayan tersorot, tidak melulu hanya kekuatan super dan keistimewaan yang mereka miliki.

            Steve Rogers, sang Captain America, akhirnya muncul sebagai pemimpin rekan- rekannya. Belum lagi celetukan- celetukan lucu, yang tanpa saya duga bisa keluar dari para superhero.

            “Loki is my Brother..!”Teriak Thor, berusaha membela adiknya.

            “But He already killed 80 people in two days!”Teriak si cantik agent Romanov atau Black Widow.

            “He was adopted!” Si Thor akhirnya ngeles dengan sukses.

            Bahkan ada juga adegan humor slapstick, ketika si Hulk tiba- tiba memukul si Thor, padahal sebelumnya mereka bahu membahu menumpas serangan para alien.

            IMDB memberi rating 8.8 untuk film The Avengers, ini artinya film ini sangat layak untuk ditonton.

didaytea

Sedekah Receh Gratis (Do’a) Masuk Surga

Image

“Uang yang jumlahnya tidak seberapa untuk kita, kadang berarti segalanya untuk orang- orang miskin di luar sana”

 

            Sambil menunggu tiket keberangkatankku ke Qatar, aku mempunyai beberapa hari sebagai “pengangguran” karena aku sudah berhenti bekerja di perusahaan lamaku. Waktu itu kugunakan untuk membereskan barang- barang yang masih tersisa di rumah kontrakanku.

Seperti biasanya, pagi hari di Cilegon sudah terasa seperti jam sepuluh di Bandung, hawanya terasa sudah hangat- hangat kuku menjurus panas, dan pastinya dilengkapi kelembaban khas daerah yang dekat dengan pantai.

Agendaku hari itu adalah membuang semua barang tidak terpakai yang tidak akan bisa kubawa pulang ke Bandung.

Tak berapa lama, kardus- kardus televisi, mesin cuci, kulkas dan pemutar DVD yang tadinya tertumpuk rapi di pojok kamar mungilku, sudah berpindah ke teras depan rumah.

Karena debu sudah menumpuk tebal di sudut- sudut ruang tamu, aku tunda sebentar agenda beres- beres kardus dan barang bekas untuk menyapu setiap sudut ruangan di rumahku itu.

Ketika sedang menyapu hampir setiap debu yang nampak dengan tekun, tiba- tiba terdengar suara salam yang lantang daridepan rumahku:

“Assalaamu’alaikum..!” Suara seorang laki- laki setengah baya itu terdengar dengan lantang.

“Wa’alaikumsalaam!” Jawabku sambil berjalan keluar.

“Aih..gimana kabarnya Nong..?” Tanya si Bapak dengan wajah yang terlihat lusuh dan kelelahan. Nong, adalah panggilan akrab bahasa daerah Banten dari yang lebih tua kepada yang lebih muda. Nong ini harusnya panggilan untuk wanita, untuk pria sih seharusnya Teng, tapi entah kenapa, pedagang nasi uduk di dekat rumahku juga memanggil semua anak laki- laki dengan panggilan Nong juga. Termasuk si Bapak ini, memanggilku dengan sebutan Nong.

“Alhamdulillah Pak, sehat. Ada yang bisa saya bantu?” Tanyaku dengan muka penasaran. Aku belum pernah bertemu dengan si Bapak ini sebelumnya.

“Itu, kerdus- kerdus yang di teras mau dikemanain ya? Mau dijual atau mau dibuang?” Si Bapak dengan antusias.

Ternyata si Bapak itu adalah seorang pemulung, dia membawa sebuah sepeda ontel dengan dua buah karung goni besar yang dikaitkan di sisi kanan dan kiri sepedanya.

“Bapak beli semuanya boleh ya?” Dia bertanya lagi dengan wajah yang agak memelas sebelum sempat kujawab.

Kerdusnya masih bagus- bagus, bapak beli mahal deh!” Ujarnya lagi sambil berjalan masuk ke teras rumahku dan mulai memegang- megang kardus- kardus yang memang masih terlihat bagus dan bersih.

“Kalau Bapak mau ya ambil saja, tidak usah dibeli. Tadinya memang mau saya buang kok! Tuh di dalam masih ada, sebentar ya saya ambilkan lagi” Jawabku sambil masuk ke kamar mengambil kardus- kardus lain yang belum kukeluarkan.

“Beneran Nong? Bapak ngga usah bayar nih?” Tanya si Bapak pemulung tadi dengan muka berbinar- binar.            Hilang sudah wajah memelas dan kuyunya itu.

“Iya Pak, sok, ambil saja semuanya!” Jawabku sambil tersenyum.

Dan tak berapa lama si Bapak itu pun dengan cekatan mengambil karung besarnya dari sepeda, dan mulai melipat- lipat kardus- kardus bekas itu.

Buatku, kardus- kardus itu adalah sampah, tapi sepertinya, buat si Bapak itu kardus- kardus itu adalah “makan hari ini”. Karena kulihat mukanya sangat bahagia, jauh berbeda dengan wajahnya yang pertama kulihat.

Ah, tiba- tiba aku terpikir bahwa aku mempunyai beberapa helai sarung dan baju bekas yang juga rencananya akan kubuang. Aku tinggalkan saja si Bapak yang sedang asyik melipat- lipat kardus- kardus itu untuk mengambil baju dan sarung bekas.

Tak lama kemudian, kardus- kardus besar itu sudah terlipat dengan rapih di dalam karung besar, dan sudah tertumpuk dengan rapih di dua sisi sepeda ontel antik si Bapak pemulung itu.

“Bapak, saya punya sarung dan baju bekas. Bapak Mau?’ Tanyaku sambil berjalan keluar dari ruang tamu dan menyodorkan kantong plastik berisi dua helai sarung dan dua helai kemeja yang masih lumayan bagus.

“Beneran ini Nong?” Tanya si Bapak dengan terkejut.

“Ini kan masih bagus, Bapak kan cuma menerima barang rongsokan.” Ujar dia sambil berjongkok dan  membolak- balik kemeja dan sarung di dalam  kantong plastik itu.

“Iya Pak, sok itu buat Bapak, saya masih punya banyak. Dan beberapa hari lagi saya mau pulang ke Bandung, dan setelahnya langsung pergi ke luar negeri, alhamdulillah saya baru dapat pekerjaan di sana.” Jawabku sambil ikut berjongkok di sebelahnya.

“Alhamdulillaah…Bapak memang lagi ngga punya baju dan sarung. Punya Bapak sudah robek- robek dan kucel semuanya!” Ujar si Bapak dengan raut muka lebih bahagia lagi dari yang tadi kulihat, sambil mematut- matut dirinya di depan kaca ruang tamuku dengan kemeja yang kuberi.

“Hmmm…padahal itu hanya baju dan sarung bekas ya, tapi dia sudah bahagia seperti itu? Kesempatan nih, apa lagi ya yang bisa kuberikan buat si Bapak? ” Ucapku dalam hati sambil tersenyum- senyum melihat tingkah laku si Bapak yang seperti anak kecil yang baru saja diberi mainan baru.

Tiba- tiba aku teringat koleksi uang recehku di dalam toples. Uang- uang receh itu adalah kembalian dari supermarket, warung, warteg yang terkumpul selama beberapa tahun. Uang- uang receh di dalam toples itu adalah andalanku ketika aku kehabisan uang di tanggal tua. Uang- uang receh itu adalah penyambung hidupku ketika uangku habis sama sekali, walau pun hanya untuk sekedar membeli makan atau mie instan dari warung di sebrang rumahku.

Itu kan lumayan berat kalau dibawa ke Bandung, lagian, pasti repot banget kalau harus kutukar uang logam ratusan, lima puluhan dan lima ratusan itu. Entah berapa isinya sih, tapi kutaksir, paling banyak uang di dalam toples plastik itu hanya sekitar dua puluh ribuan.

Nong, Bapak mau pamit nih, makasih banyak ya!” Kata si Bapak itu sambil memeluk kantong plastik berisi kemeja dan sarung pemberianku.

“Sebentar Pak, saya masih punya sesuatu nih! Sini dulu sebentar, tunggu ya!” Kataku sambil berlalu ke dalam rumah untuk mengambil toples plastik berisi uang receh itu.

“Apalagi sih Nong? Ini juga udah kebanyakan sih, ngga usah ngerepotin lagi!” Jawab si Bapak sambil berjalan masuk lagi, dan kali ini dia duduk di teras.

“Bapak saya kasih uang mau ngga? Tapi Uangnya logam semua!” Tanyaku dengan sedikit ragu ragu.

“Uang Nong?” Tanya si Bapak dengan keheranan.

“Kalau uang mah ya Bapak terima aja, biar pun receh juga.” Ujar si Bapak lagi.

“Iya Pak, uang, masa koin buat ding- dong!” Jawabku sambil beranjak mendekati si Bapak.

“Ini Pak, uangnya,, tolong diterima ya, maaf saya ngasihnya receh!” Sambil kusodorkan toples plastik berisi setumpuk uang logam receh itu ke tangannya.

“Atuh Nooong, ini mah banyak banget..!” Kata si Bapak itu dengan terkejut. Tapi sesudah itu dia langsung terdiam.

Kupandangi dia beberapa saat. Dan lalu kulihat badannya seperti bergetar, dan dia mulai sesenggukan menangis. Dan dia tiba- tiba menjatuhkan badannya, dia bersujud di depanku!

“Eh, Bapak ngapain, kok pake sujud- sujud gitu segala? Kenapa Bapak menangis?” Tanyaku dengan terkejut dan heran.Dan langsung kuangkat badannya.

Nong, anak Bapak lagi sakit demam. Bapak sudah ngga punya duit lagi buat berobat. Sudah tiga hari bapak keliling komplek ini, tapi Bapak belum dapet apa- apa.” Jawabnya dengan terisak menahan tangis.

“Bapak sujud ingin bersyukur sama Allah Yang Maha Besar, Allah ngasih jalan biar Bapak lewat jalan ini biar ketemu sama Nong. Akhirnya Bapak bisa dapet kardus- kardus yang masih bagus.”

“Bapak udah cukup seneng dengan dikasih kardus- kardus itu Nong, karena pasti bakal laku mahal, karena masih pada bagus dan lumayan banyak.” Jawabnya lagi sambil menimang- nimang toples plastik berisi koin itu.

“Eh, ternyata Nong malah ngasih baju sama sarung yang masih bagus banget.”

“Dan sekarang, Nong malah nambahin juga ngasih uang sebanyak ini!” Ujarnya lagi sambil memandangi uang di dalam toples plastik itu dengan berkaca- kaca.

“Makasih banyak ya Nong, makasiiih banyak..!” Katanya lagi sambil memegang tanganku.

“Sama- sama Pak, semoga bermanfaat buat Bapak dan keluarga Bapak!” Jawabku, sambil menenangkan diri, karena mulai terbawa terharu oleh si Bapak.

“Bapak doain Nong biar terus sehat, panjang umur, rejekinya makin banyak, dan sedekah Nong hari ini sama Bapak bisa ngebawa Nong ke surga!” Kata si Bapak mengucapkan doa itu sambil menengadahkan kedua tangannya ke atas, dan mengusap- ngusap kepalaku dengan lembut.

Selama beberapa menit, tak henti- hentinya si Bapak berurai air mata, bergumam dan berdoá sambil menengadahkan kedua tangannya.

“Duh, padahal semua benda pemberianku itu bisa dibilang ‘tidak berguna’, tapi buat si Bapak, dia seperti mendapatkan harta yang luar biasa banyak. Bahkan dia mendoákanku dengan sungguh- sungguh, dan berurai air mata”

Alhamdulillah, Maha Suci Engkau ya Allah yang telah mentakdirkan si Bapak itu lewat di depan rumahku dan membuatku didoákan seperti itu.

Bedah Hikmah:

 

Adegan seperti ini mungkin sering dialami oleh kita. Di luar sana, masih banyak orang- orang yang membutuhkan bantuan. Di luar sana banyak orang – orang fakir miskin yang masih memiliki harga diri dengan tidak mengemis atau meminta- minta.

Dengan sedekah, sebenarnya bukan yang kita beri sedekah yang mendapat keberuntungan.

Sedekah itu semua manfaatnya akan kembali kepada diri kita.

Pahala yang berlipat ganda.

Sedekah itu juga penolak bala.

Balasan sedekah itu akan kita rasakan langsung balasannya, bahkan sejak di dunia.

Betapa sering kita membaca dan mendengar cerita tentang keajaiban sedekah. Orang- orang yang secara instan dibalas oleh balasan yang berlipat- lipat oleh Allah, syariatnya karena sedekahnya.

 

Ini Dia Surga Tahu di Qatar

Image

 

KOMPAS.com – Tidak semua orang Indonesia di Qatar, dari Al Khor, Doha, Wakrah sampai ke Messaid mengetahui kalau sejak beberapa tahun yang lalu ada orang Indonesia yang menjual tahu.

Sudah beberapa tahun lalu, dua sejoli, Lili dan Ani merintis bisnis tahu. Pasangan ini sangat jeli dengan pilihannya untuk menjadi produsen sekaligus pengedar tahu di Qatar. Mereka adalah pionir. Walau pun ada beberapa produsen tahu yang lain yang mengikuti, tapi tetap saja tidak bisa menandingi enaknya tahu buatan Lili dan Ani.

Sebagai orang Bandung yang sudah pasti maniak terhadap tahu, tentunya saya sangat layak dan mampu untuk membedakan dan membandingkan, serta menilai enak tidaknya rasa tahu dari berbagai produsen.

“Saya mendapatkan ilmu membuat tahu ini langsung dari ayah saya,” kata Lili, sang pemilik dengan sangat bangga.

Dan benar saja, bisnis tahu pasangan ini ternyata sukses besar. Mereka mengirim tahu ke hampir seluruh restoran Indonesia yang ada di Qatar.

Tanggal 1 Mei 2012 kemarin, di bawah bendera Tofu & Cake Rest, dua sejoli ini melebarkan sayap bisnisnya ke bisnis restoran. Dengan cerdiknya mereka mengambil segmen ceruk sempit masakan Indonesia yang hanya berbahan utama tahu.

Menu-menu yang disediakan sudah pasti akan memanjakan lidah para maniak Tahu. Siomay Bandung, Batagor, Bakso sapi + Tahu, Tahu Gejrot, Kupat Tahu, Karedok Tahu, Goreng Tahu Bumbu Kecap Pedas siap menggoyang lidah anda dan merusak rencana diet Anda.

Sempitnya lahan parkir dan tempat makan yang kurang luas adalah kendala utama bagi orang Indonesia  yang ingin mengunjungi restoran yang menyediakan masakan Indonesia.

Di restoran ini parkiran tersedia sangat luas, karena bergabung dengan salah satu pusat perbelanjaan di pusat kota Doha, The Center.

“Musim dingin nanti, saya berencana untuk memasang meja tambahan di luar gedung, agar nanti pengunjung bisa menikmati sensasi luar biasa memakan batagor atau mie bakso tahu dengan pemandangan di depan perempatan Hotel Ramada,” kata Lili, yang “Asgar” atau Asli Garut ini sembari tersenyum.

Di dalam pun, ada 5 sampai 6 meja yang selalu siap sedia untuk dipakai “mojok” dengan menu-menu untuk para maniak tahu. Jika ingin merasakan sensasi duduk di meja sempit dan berdempetan dengan pengunjung yang lain, khas kios penjual bakso seperti di Terminal Kebon Kalapa Bandung, tempat di dalam siap sedia untuk melemparkan memori Anda ke masa-masa sekolah ketika Anda berdua dengan mantan pacar memakan semangkok Batagor kuah atau Baso Tahu yang masih panas.

Harga yang mahal tentunya relatif, tergantung pembandingnya. Jika dibandingkan dengan standar Indonesia, tentunya harga hampir Rp 50.000 untuk semangkuk mie bakso campur sama tidak masuk akal. Tapi untuk para TKI profesional di Qatar yang gajinya belasan juta hingga puluhan juta, dan bahkan ada yang mencapai ratusan juta sih, seharusnya tidak menjadi kendala.

Masalah rasa, tentunya orang punya selera yang berbeda- beda. “Jika ada keluhan atau usul untuk memperbaiki kualitas dan rasa masakan kami, jangan ragu- ragu, tolong beritahu kami ya,” ujar Ani, dengan wajah yang kelelahan karena tak henti- hentinya melayani pelanggan yang datang terus menerus datang sejak pagi.

Nah, untuk para tahu mania, jangan ditunda lagi untuk memanjakan lidah Anda.

Jika suatu saat Anda sempat mampir ke Qatar dan rindu tahu, langsung saja kunjungi Tofu and Cake Rest di Area The Center, belakang Ramada Hotel, disamping Chowking Restaurant atau dibawah The Great Wall Chinese Restaurant, Doha Qatar. (Diday Tea)

Menggiatkan Literasi dari Luar Negeri

 

Image 

Doha- Qatar

Oleh Diday Tea

 

 

 

Tidak ada yang berbeda pada sepasang remaja yang dikenalkan oleh temanku itu. Mereka terlihat seperti orang Indonesia pada umumnya yang berkulit sawo matang. Perbedaan yang sangat nyata baru kurasakan ketika beberapa saat kemudian bertengkar memperebutkan sesuatu”

 

Gagap Berbahasa Indonesia

 

 

Bahasa yang mereka gunakan bukan bahasa Indonesia, bahasa Sunda, atau bahasa daerah lainnya, tapi bahasa Inggris. Dan bahasa Inggris yang tertumpah dari kedua mulut dua anak remaja tanggung itu bukan sekedar bahasa Inggris, tapi bahasa Inggris dengan aksen British yang sangat kental. Saya hanya bisa melongo dan mencoba menyimak sebentar pertengkaran mereka yang lumayan seru, walau pun pada akhirnya saya menyerah, ketika mereka sudah bicara terlalu cepat. Ayah mereka pun hanya bisa tersenyum simpul melihat saya yang berusaha keras memicingkan telinga untuk sekedar menangkap kata- kata yang berhamburan dari kedua anaknya.

 

Timbul pertanyaan pada diri saya, apakah jika suatu saat mereka kembali ke tanah air, mereka bisa berkomunikasi dengan baik dengan bahasa Ibunya?

 

Berbicara bahasa Ibunya pun mereka sudah kepayahan, apalagi merambah jauh ke dalam dunia literasi yang memerlukan kemampuan berbahasa yang bukan sekedar seadanya dan “asal bisa nyambung”.

 

Mungkin saja orangtuanya memang mempunyai rencana jangka panjang agar anaknya kelak memang akan bekerja dan hidup di luar negeri seperti mereka. Dan sangat mungkin juga mereka memang berniat untuk berdiaspora di negeri orang, pergi tak kembali.

 

Jangan Melupakan Jati Diri

 

Biar bagaimana pun, dan selama apa pun, para ekpatriat Indonesia yang bekerja di luar negeri ini tetap adalah orang Indonesia, walau pun sudah tidak menjadi Warga Negara Indonesia lagi. Suatu saat, mereka akan ingat bahwa mereka lahir di Indonesia, atau hanya sekedar memiliki orang tua Indonesia, dan pernah menginjakkan kaki di Indonesia.

 

Mereka bisa sangat bangga ketika bisa mengajari anak- anaknya untuk mementaskan kesenian daerah, atau memakaikan pakaian adat di International Day sekolah anak- anaknya.

 

Mereka sangat bangga karena memiliki keragaman budaya yang luar biasa yang membuat warga negara lain terkagum- kagum dan terpesona.

 

Mereka sangat bangga ketika para karya para fotografer professional memajang  keindahan alam Indonesia yang luar biasa di sebuah galeri seni paling terkenal di Qatar.

 

Perasaan bangga yang luar biasa juga ketika kalimat “ from Indonesia” terdengar setelah salah seorang warga negara Indonesia memenangi sebuah penghargaan fotografi paling bergengsi di Qatar.

 

Akan ada perasaan rindu untuk pulang. Akan ada perasaan ingin membantu memperbaiki kondisi Indonesia ke arah yang lebih baik ketika membaca berita- berita buruk tentang tanah airnya di media online dan televisi.

 

Memulai Perubahan dari Luar Negeri

 

Tahun 2007, di tempat saya bekerja, orang Indonesia tidak lebih dari 25 orang. Tapi sekarang, sudah lebih dari seratus orang. Sejak itu pula, dimulailah “eksodus” kecil-kecilan tenaga kerja professional dari Indonesia. Walau pun tidak sebanyak orang India dan Filipina, tapi sejak saat itu keberadaan tenaga kerja professional asal Indonesia mulai diperhitungkan.

 

Berdasarkan data dari KBRI Doha, di Qatar ada 35.000 tenaga kerja Indonesia yang 6000 di antaranya adalah tenaga kerja profesional, yang menjabat level teknisi sampai level manajerial di perusahaan- perusahaan yang tersebar di Qatar.

 

Ini adalah potensi yang luar biasa besar.

 

Setelah KBRI Doha memfasilitasi kegiatan Gempa Literasi Asia bersama Gol A Gong dan Tias Tatanka, timbul gagasan besar di dalam pikiran saya.

 

Saya merasa bahwa ini adalah saatnya menggaungkan “Gerakan Literasi Dunia Menuju Indonesia Membaca”, yang digawangi oleh orang – orang Indonesia yang bekerja dan tersebar di seluruh dunia.

 

Dengan kekuatan finansial dan tidak ada lagi istilah “jatah buku berebut dengan jatah beras”, seharusnya para orang tua yang bekerja di luar negeri bisa mengenalkan dunia literasi kepada anak- anaknya.

 

Menyediakan perpustakaan pribadi yang berisi buku- buku karya penulis Indonesia, dari zaman Angkatan 45 sampai zaman Raditya Dika seharusnya tidak sulit. Agar anak- anak mereka tahu dan mengenal bangsanya lewat karya sastra, dan mungkin kelak akan memberi pengaruh besar untuk kemajuan bangsa Indonesia dengan perannya masing- masing.

 

Dengan kekuatan finansial ini juga, mereka seharusnya bisa berperan lebih besar dengan membuat taman bacaan gratis di lingkungan kampung halaman mereka.

 

Siapa yang tahu kalau ternyata perubahan Indonesia yang lebih baik malah dimulai dari gerakan- gerakan literasi dari orang- orang Indonesia yang tinggal di luar negeri.

 

Tidak hanya menambah devisa negara dengan mentransfer puluhan juta rupiah setiap bulan, tapi kita juga bisa menggiatkan dunia literasi di luar negeri untuk merubah bangsa Indonesia ke arah yang lebih baik.

 

 

Diday Tea, salah seorang tenaga kerja professional Indonesia di Qatar

26 April 2012