Bercerita Sejarah Qatar Dengan Keajaiban Visual dan Desain

Bercerita Sejarah Qatar Dengan Keajaiban Visual dan Desain

Oleh: Diday Tea

The National Museum of Qatar (NMoQ) is dedicated to bringing to life the unique story of Qatar and its people. It actively gives voice to the nation’s rich heritage and culture and demonstrates our extensive network of ties with other nations and people around the world. Designed as a vibrant and immersive space, diverse communities can come together and experience Qatar’s past, present and future.

Inilah yang menjadi kalimat pembuka di website resmi National Museum of Qatar: https://www.nmoq.org.qa/

Museum ini baru saja dibuka di pagi hari ketika tulisan ini dibuat.

Sungguh spektakuler, amazing, awesome dan (jika ada) kata-kata lain  yang bisa lebih menggambarkan kekaguman saya ini kepada bagaimana indahnya Qatar “bercerita”tentang sejarahnya dari sejak ribuan tahun yang lalu. Dari era negara ini belum dikenal dunia, zaman ketika masa keemasan Mutiara di dunia, sampai sekarang menjadi salah satu negara dengan pengaruh besar.

Sekarang Qatar adalah pengekspor LNG terbesar dunia dengan mengirimkan 81 juta ton pada tahun 2017 atau 28% dari jumlah keseluruhan di dunia.

Dari luar saja, sudah sangat menarik perhatian dengan bentuknya yang seperti Pesawat Alien atau UFO.

Di dalam?

Anda bakalan “mind blown”lah kata orang bule mah, karena anda akan menyaksikan keindahan visual yang spektakuler dan sepertinya belum pernah anda saksikan di dalam hidup anda.

Hampir semua dinding di area dalam museum adalah layar raksasa yang menampilkan animasi, dan video yang sangat indah.

Untuk pemegang Qatar Resident permit tidak perlu membayar, tapi untuk pengunjung dari luar Qatar dikenakan biaya 50 Qatari Riyal, sekitar 200 Ribu Rupiah.

Jangan lupa sempatkan untuk transit ke Qatar dan mengunjungi tempat-tempat spektakuler seperti National Museum of Qatar ini ya!

Pemegang paspor Indonesia sekarang sudah bebas visa sampai 30 hari lho!

 

 

Diday Tea

Doha, Qatar

28 Maret 2019

Cover sCREENSHOT

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Teh Manis Yang Pahit

Teh Manis Yang Pahit

Cerpen oleh Diday Tea

 

 

Di dalam sebuah rumah mungil di tengah kota Bandung, tahun 2006, terjadilah satu  penggalan kisah kehidupan dua insan  yang mungkin menjadi penyesalan seumur hidup untuk keduanya.

“Mangga A, dileueut teh manisna, mumpung panas keneh, engke mah bakal moal raos” Kata seorang gadis manis yang baru saja menyimpan segelas teh panas di atas sebuah meja jati  tua yang sudah berwarna kehitaman itu.

Kurang lebih artinya “Silakan Mas, teh manisnya diminum, mumpung masih panas, kalau nanti keburu dingin”.

Walau pun tinggal satu jam saja menjelang magrib, tapi hari itu masih terang benderang oleh cahaya Jjingga keunguan sang lembayung senja.

Terang tapi terasa muram. Terpancar tapi mengandung kegelapan.

Ruang tamu mungil yang berisi sofa tua berwarna coklat dan rak buku kosong yang juga berwarna coklat itu juga terasa masih terang, tapi temaram.

Semburat cahaya Ungu dan Jingga seolah sudah bersiap untuk mewarnai kelabunya hatiku sepulang dari rumah itu.

Wajah si gadis yang baru saja menyajikan teh tadi juga seperti sang senja.

Bercahaya tetapi suram.

Dia terduduk layu di sofa seberang tempat aku duduk. Pandangannya pun dia buang jauh-jauh ke bawah, entah apa yang dia pandang, entah apa yang menggelayuti hatinya.

Tak lama setelah gelas itu dia simpan di atas meja, hampir setengah dari segelas teh manis itu sudah melewati kerongkonganku.

Untuk beberapa saat kami berdua hanya terdiam.

Kulihat sesekali dia membetulkan posisi jilbab abu-abunya yang kurang rapi, karena dipakai terburu-buru.

Aku tidak sabar ingin segera memberitahu kabar gembira ini. Sehingga tidak sempat aku mengabari dia, kalau aku baru tiba di Bandung satu jam sebelum aku sudah berada dengannya di ruang tamu mungil itu..

Aku datang hanya untuk memberi kabar gembira ini.

Tetapi melihat wajah suramnya, timbul sedikit keraguan.

O iya, dia adalah temanku sejak aku masih berseragam Putih Abu-Abu dan dia masih berseragam Putih Biru.

Namanya Tamara Wulandari. Tapi dia selalu menolak jika dipanggil Tamara, karena merasa minder luar biasa. Dia tidak mau dibandingkan dengan Tamara yang artis paling cantik pada zamannya itu.

Dia hanya ingin dipanggil dengan sebutan “Ulan”.

Sudah lima tahun aku merantau di Malaysia. Dan dia pun baru saja menyelesaikan kuliahnya tahun kemarin.

Rumah kami sebenarnya berbeda Kelurahan, tapi ada semacam kajian bulanan yang selalu melibatkan panitia gabungan dari beberapa Mesjid yang berbeda. Dan dia adalah salah satu remaja mesjid yang menonjol dari remaja mesjid di wilayah dia tinggal.

Setidaknya menurutku dia yang paling menarik perhatian.

Dan kondisi juga yang mengharuskan kami terus berinteraksi hampir setiap malam Jum’at. Jadwal Ketika semua guru ngaji mengadakan kelas gabungan oleh ustadz di lingkungan kami.

Cara kami berkenalan kami pun tidak akan pernah bisa aku lupakan.

Hanya dengan secarik sobekan kertas bertuliskan “Assalaamuálaikum, kamu sama temen kamu suka beli Surabi di perempatan jalan Pelindung Hewan ya? Perkenalkan, nama saya Dadang. Nama kamu dan temen kamu siapa kalau boleh tahu?”

“Iya. Saya Ulan, dan temen saya Imas. Boleh kenalan, tapi tolong fokus ke pengajian Kang!”

Malam itu pengajian gabungan berlangsung di mesjid wilayahnya yang tidak terlalu besar, sehingga jamaah laki-laki dan perempuan hampir tidak berjarak. Dan karena aku datang terlambat, takdir menunjukkan jalanku duduk tepat di barisan terakhir mesjid di dekat pintu, dan tepat juga di samping dua gadis itu.

Ulan dan Imas.

Sejak saat itu pula hatiku sudah tertambat.

Ternyata, sejak dia lulus SMP, sudah ada yang melamarnya. Seorang laki-laki yang ternyata juga adalah remaja mesjid senior di Mesjid daerahnya.

Lamaran itu diterima dan perjanjiannya dia akan dinikahi oleh laki-laki itu ketika sudah lulus kuliah.

“Sabar banget kalau dia mau beneran nunggu yaa?” Komentar sejenis yang keluar dari mulut orang-orang, hampir serentak terdengar.

Tapi itu wajar, karena laki-laki yang melamarnya itu akan segera berangkat ke Jepang karena mendapat beasiswa untuk kuliah di sana. Dan ada ikatan dinas selama tiga tahun.

Tepat setahun setelah dia lulus, dia berjanji akan langsung menikahinya.

Kabar itu pun hanya kudengar dari teman dekatnya dan tetangganya yang satu sekolahan denganku.

Dengan meredam perasaan kecewa karena dia sudah dilamar, aku masih bisa bergaul dan berteman secara normal.

Setelah aku merantau ke Malaysia, setiap libur lebaran selalu aku sempatkan berkunjung ke rumahnya, atau jika tidak sempat, kami pada akhirnya pasti bertemu ketika dia berziarah ke makam almarhum Ayahnya, dan aku berziarah ke makam almarhumah Ibuku.

“Assalaamu’alaikum!” Kesunyian di ruang tamu mungil itu tiba-tiba terpecah oleh suara anak perempuan.

“Wa’alaikumsalaam!” Aku dan dia serempak menjawab salam dari adik bungsu Ulan yang masih memakai seragam Putih Biru.

“Eh, Aa Dadang, udah lama? Sapa gadis remaja berseragam Putih Biru yang dulu masih aku ajari  belajar Iqro satu itu.

“Iya Neng, baru setengah jaman yang lalu” Jawabku sambil melihat dia berlalu masuk ke dalam.

“Bagus Aa dateng, semoga bisa menghilangkan kesedihan si Teteh. Udah beberapa hari ini dia selalu mengurung diri di kamar. Naannggiisss mulu! Ngga mau makan ngga mau ngapa-ngapain sama sekali. Untung ada Aa nih. Tolong kasih tau dia ya biar melupakan masalahnya dan segera move on!” Kalimat beruntun meluncur cepat dari bibir mungilnya sambil berlalu masuk ke kamarnya.

“Apaan sih Neng, udah sana!” Ulan mengomel sambil merengut.

“Jangan dianggap A, si Neng mah emang gitu bercandanya. Ngga asik!” Katanya lagi sambil kembali memandangi meja kaca di depan kami.

Dan setelah si Neng berlalu, kesunyian itu kembali lagi.

Hampir setiap 20 detik kulihat jam bundar berwarna Colat Tua yang menempel di dinding belakangnya yang masih saja tertunduk layu seperti tidak ada gairah hidup.

“Kenapa Lan, keliatannya seperti kalut banget?” Tanyaku perlahan.

“Ah, engga Aa, Ulan cuma baru sembuh dari sakit, jadi masih kerasa lemes mau ngapa-ngapain juga. Ngga ada apa-apa Kok!” Jawabnya dengan senyum getir.

“O iya A, katanya ada kabar yang sangat menggembirakan? Saking menggembirakannya sampai Aa dari airport langsung meluncur ke rumah Ulan, bukannya ke rumah Aa dulu!” Kali ini wajahnya terlihat lebih segar. Wajah putih pucatnya seperti mendapat tambahan aliran darah sehingga agak mulai merona.

 

Tak bisa kubohongi hatiku yang memangsudah menaruh hati sejak pertama kali melihat dia yang sedang membeli Surabi di pertigaan dekat lapangan Tegal Lega itu.

 

Bahkan setelah aku tahu bahwa dia sudah dilamar, tetap saja aku selalu mengintip peluang sekecil apa pun untuk bisa merebut hatinya. Bukankah selama Janur Kuning belum berkembang, peluang masih selalu ada? Kalimat yang selalu menghantui kepalaku selama beberapa lama.

 

Tapi seiring berjalannya waktu dan kepergianku ke Malaysia untuk bekerja di sebuah perusahaan Petrokimia terbesar di sana, aku sudah bisa menghapus perasaan itu. Masih kujaga hubungan baik dengan dia dan keluarganya karena dua adikku kebetulan bersekolah di SMA yang sama.

 

Dan tentunya bukan kebetulan juga kalau dokter yang merawat ayahnya sebelum meninggal karena sakit diabetes yang menahun adalah Ibuku.

“Iya Lan, kabar yang menggembirakan banget ini teh!” Kataku yang dengan bersemangat

“Alhamdulillah Minggu kemarin Aa melamar Imas, dan alhamdulillah ternyata diterima!” Kataku lagi dengan semangat yang berlipat ganda.

O iya, Imas adalah sahabat dekatnya Ulan yang baru saja masuk bekerja di Rumah Sakit tempat Ibuku bekerja. Pokoknya saking dekatnya, di mana ada Ulan, di situ pasti ada Imas. Bahkan sejak kejadian perkenalan sobekan kertas itu, aku sudah meyakini kalau mereka adalah BFF.

Best Friend Forever.

Tapi setahun yang lalu mereka sempat jarang saling menghubungi, dan tidak ada seorang pun yang tahu kenapa penyebabnya.

Kabar yang beredar sih, ada selentingan kalau tunangan Ulan itu pernah memiliki hubungan khusus ketika mereka masih SMA. Ulan bersekolah di SMA, tapi Imas dan Andri bersekolah di SMK Kimia.

Mungkin karena saking seringnya bertemu, akhirnya timbul perasaan khusus di antara mereka yang berujung memburuknya hubungan Ulan dan Imas.

Tapi setelah Andri resmi melamar Ulan dan Imas pun meneruskan kuliah ke Akademi Keperawatan di Rumah Sakit tempat Ibuku bekerja, segala sesuatu kembali menjadi normal.

“Appppaaaahh???” Ulan yang tadinya seperti pohon kering dan layu itu hampir seperti terloncat dari sofa.

“Yang bener A? Kok bisa? Kok Imas? Kok Ulan ngga tau? Ko Mamah ngga pernah cerita? Kok Imas ngga pernah bilang?” Dan beberapa pertanyaan lainnya yang terus berhamburan dari bibir mungilnya yang masih pucat itu.

“Semuanya berjalan begitu cepat , Lan” Jawabku dengan semangat.

“Wahh, alhamdulillah atuh, Ulan ikut bahagia. Jangan lupa undangannya ya? Ulan menimpali lagi dilengkapi senyuman. Tapi, senyuman di bibirnya kali ini hanya singkat. Setelah kalimat itu, wajahnya langsung kembali tertunduk.

“Iya atuh pastinya, pasti Aa undang!” Jawabku lagi.

Setelah itu, beberapa saat kami hanya terdiam lagi.

Baru saja kuhela nafas panjang, kumandang adzan Magrib sudah memasuki ruang tamu kecil tempat kami duduk berhadapan itu.

Baru sedetik adzan berhenti, dengan sigap aku berdiri dan langsung minta izin pamit ke mesjid.

Ulan dan Ibunya melepasku dengan lambaian tangan mereka. Tak sampai sepuluh kuayunkan kakiku, aku balikkan badanku. Kulambaikan tanganku lagi. Seolah itu adalah perpisahan terakhir.

Padahal baru saja aku memberitahukan bahwa aku akan segera melepas masa lajangku, dan tentunya tidak mungkin dia dan keluarganya tidak akan aku undang.

Ternyata dia masih berdiri di bingkai pintu.

Tangannya sudah turun, tapi dia masih memandangiku dari jauh.

Tak sampai dua detik kupandang lekat mata bulatnya, tak mungkin aku salah melihat, tapi selintas aku lihat ada kilauan cahaya berkilau dari sudut matanya.

Setelah beres sholat Magrib berjamaah, aku sempatkan bertemu dan mengobrol dengan remaja mesjid setempat yang selalu menjadi rekan panita bersama kajian gabungan antar mesjid.

Ya basa basi kerinduan biasa setelah lama tak bertemu. Sampai ketika pembicaraan tiba pada satu pembahasan yang akan mengguncang perasaanku.

“Eh, kang, tadi dari rumah Ulan ya? Kasian banget dia ya?” Kalimat ini meluncur dari kang Dudi, ketua remaja Mesjid yang sekarang sudah menjadi ketua DKM.

“Kasian kenapa Kang?” Tanyaku segera dengan wajah terkembang penasaran.

“Emang tadi ngga dibahas sama dia ya?” Jawabnya.

“Engga, saya Cuma sebentar tadi. Keburu Magrib. Itu pun cuma ngasih tau kalau lamaran saya diterima oleh Imas! Ceritanya panjang lebar dan tinggi deh, nanti saya ceritain” Jawabku lagi.

“Tau ngga kalau dia ditinggal nikah sama si Andri? Tega banget ya, ngebatalin tunangan seminggu sebelum dia pulang dari Jepang. Itu pun setelah keluarganya ada yang melihat undangan pernikahan dia dengan perempuan lain. Ngga nyangka banget!”

“Katanya sih, beberapa bulan yang lalu mereka sempat bertengkar hebat karena Andri mendapat kabar bahwa sebenarnya Ulan tidak pernah mencintai Andri. Dan sebenarnya Ulan memiliki perasaan sama kang Dadang. Tapi karena Andri lebih dahulu melamarnya, dan kang Dadang pun tidak pernah tahu, dan Ulan tidak pernah sempat mengemukakan perasaannya, maka terjadilah pertunangan itu.”

Mendengar itu dadaku serasa tersambar petir.

“O Iya, dan ternyata yang memberitahukan hal itu ke Andri adalah Imas. Dia tidak sengaja membaca diarynya Ulan ketika menginap di rumahnya. Ketika”

Teh manis yang tadi teguk habis menjelang Magrib, tiba-tiba terasa pahit.

 

Doha, 27 Maret 2019

 

Teh Pahit