Pungguk Tak Meraih Bulan bagian 1

Temans, insyaallah mulai hari ini saya kan posting cerita bersambung yang insyaallah merupakan cikal bakal dari salah satu novel- novel saya.

Mohon doá restu dan kritik saran ide pendapatnya yaa…

Pungguk Tak Meraih Bulan: Bagian 1

Jatuh cinta selalu indah, walau pun seringkali berakhir dengan penuh derita.

Aula yang hanya seukuran dua ruang kelas kami itu mendadak menjadi penuh sesak oleh ratusan anak- anak berbagai ukuran dan tinggi. Mereka semua memakai seragam kebesaran Putih- Merah.

Aula yang biasanya sunyi senyap seperti kuburan di tengah malam itu , hari ini mendadak seru gegap gempita. Riuh rendah siulan dan teriakan dari orang- orang yang ada di dalamnya silih berganti setiap bunyi bel terdengar.

Untukku, saat itu mungkin hanya aku yang merasakan keheningan, terpesona oleh seorang siswi berjilbab putih. Seperti mawar putih yang tumbuh di atas pesawahan kering. Wajahnya bercahaya. Walaupun ada bekas luka sayatan sepanjang jari kelingking yang melintang tepat di antara kedua matanya, tapi tidak sedikitpun mengurangi hebatnya pesona wajah itu terhadap kedua mataku.

Mata bulatku dan mata di dalam hatiku.

Dia terlihat begitu indah. Dengan umurku yang baru kelas lima Sekolah Dasar, tentunya aku tidak tahu pasti apa namanya perasaan itu. Perasaan yang hanya datang begitu saja, dan memicu detak jantungku sangat kencang setiap kali bertemu pandangan dengannya.

Dengan bahasa jaman sekarang mungkin bisa kita sebut “Cinta Babon”. Bahkan belum layak untuk disebut cinta monyet.

Namanya Mia, Mia Oktorina.

Itu yang tertera di seragam putih tangan panjangnya.

Dan nama itu juga yang keluar dari bibirnya ketika kami berkenalan sebelum duduk di dalam formasi seperti sekarang.

Terus saja kupandangi wajahnya tak henti- henti. Wajahnya kali ini terlihat serius ketika sedang berdiskusi dengan teman di kanan dan kirinya.

“Sekarang Giliran Grup C, dari kelas 5-IV, silahkan ke depan mengambil amplop soalnya!”

Satu persatu perwakilan dari para kelas lima maju ke atas panggung untuk mengambil amplop soal.

“Silahkan, juru bicara dari Grup C, maju untuk mengambil amplop soalnya!”

Dukk…!!

Tiba- tiba lengan kanankuku terasa ngilu sikut Bayu, teman sekelasku, mendarat disitu dengan keras.

“Dooodoolll..Cepetan kamu ke depan ambil amplopnya..!!! Kamu kan juru bicara! Bukannya malah bengong…!” Ucapnya kencang- kencang di telingaku.

“Ehh…saya juru bicaranya ya?” Jawabku sambil berjalan tergopoh- gopoh ke meja juri untuk segera mengambil amplop soal yang akan diujikan kepada kami.

Tentunya dengan diiringi oleh sorakan “Huuuuuuuuuu…….!” Karena aku dianggap sekedar mengulur waktu.

“Regu C dari kelas 5-IV memilih amplop soal C juga!” Kepala dewan juri yang juga merupakan kepala sekolah mengumumkan dengan lantang. Namanya Ibu Restini Sulastriningsih.

“Gara- gara si neng Mia ini teh..!” Aku menggerutu sambil berjalan, tapi senyumku segera terbentang lebar ketika pandanganku beradu lagi dengannya yang sedang tertawa- tawa dengan kedua rekannya di meja Regu B.

Jeduk..!
Gedubrag..!

Itu suara tubuhku yang limbung dan menghempas ke atas panggung.

Langkahku tidak sinkron, sehingga kakiku tersandung pinggiran panggung yang padahal hanya setinggi lututku saja.

“Siaalll….Habis deh seiisi aula mentertawakanku.

Suara kepala sekolah terus berkumandang dari pengeras suara di dalam Aula. Hampir tidak terdengar karena para siswa dan siswi berseragam Putih – Merah itu masih saja membuat kegaduhan untuk mendukung kelasnya masing- masing.

Hari ini adalah hari penentuan perwakilan dari sekolah kami yang akan dikirim menuju lomba Cerdas Cermat se Bandung Raya.

Di angkatan kami ada enam kelas untuk setiap angkatan.

Dari enam kelas, hanya ada empat perwakilan yang akan dikirim.

Bersambung…

Posted 27 Desember 2014

Download juga aplikasi Diday Tea di Google Play Store untuk kemudahan membaca tulisan- tulisan saya…

https://play.google.com/store/apps/details?id=diday.tea.com