Masakan Paling Enak Sedunia



“Sesuatu yang menurut kita biasa saja, mungkin untuk orang lain adalah hal yang luar biasa”

Menu Favorit

Ketika baru beberapa kali bekerja di Qatar, saya memiliki seorang kenalan baru, seorang Chef di sebuah restoran yang terkenal. Restorannya berada tepat di depan pintu masuk salah satu mall yang terbesar di Doha.
Saya beberapa kali berkunjung ke restorannya, dan Alhamdulillah setiap itu pula saya hampir tidak pernah membayar. Sering saya memaksa untuk membayar, tapi dia paling hanya membiarkan saya membayar minumannya saja. Itu pun tidak seberapa dibanding harga  makanan utamanya.
Di restoran Italia yang dia kepalai, menu favorit saya adalah semacam Mie Ayam, tapi berbahan tambahan udang, disajikan dengan sangat unik. Bagian atas si mangkuk saji ditutup, atau ditangkupi oleh semacam kulit pangsit.

 

Ketika kita menusukkan sendok ke atasnya, langsung deh partikel- partikel aroma pedas, segar, dan menggiurkan yang ada di dalam mie/spageti tersebut berebutan masuk ke setiap sensor indra penciuman kita. Sekilas sih aroma yang keluar ini mirip dengan salah satu menu di restoran Pizza terkenal, Spicy Shrimp Fushili, hanya aroma nya jauh lebih segar dan lebih sedikit aroma kejunya.
Ceglug. Silahkan menelan ludah dulu sebelum melanjutkan membaca. Hehehe.

 

Menu favorit kedua saya, Pizza. Pizza buatan restoran ini sangat mirip dengan Pizza buatan waralaba terkenal.

Tapi, ada perbedaan yang sangat signifikan.

 

Pizza buatan restoran ini walau pun sudah dingin, tapi masih terasa crunchy. Tidak umes dan lunak seperti Pizza buatan waralaba yang terkenal itu.Bahkan walau pun sudah  dihangatkan dengan microwave.

 

Ketika saya sudah menikah dan membawa keluarga berkunjung ke restorannya , dan akhirnya bisa membayar dengan normal seperti konsumen lainnya, tetapi, selalu ada pelayanan yang spesial.

 

Minuman gratis, extra udang di dalam menu yang tadi saya sebutkan, dan lain-
lain.

 

Makanan Super Lezat

 

Saya beberapa kali menginap di rumahnya yang berada tepat di tengah kota  Doha.

 

Tempat kosan saya dulu di luar kota Doha. Jadi kadang kalau kemalaman setelah beredar seharian atau besok paginya ada kegiatan di Doha, saya biasanya menginap di rumahnya.
Di rumahnya ada beberapa orang yang mengisi, mereka juga Chef.

Hal pertama yang saya bayangkan ketika pertama kali menginap, tentu saja saya akan merasakan makan malam yang super nikmat dan mewah. Bayangkan saja, ada lebih dari satu orang juru masak di restoran Italia.

 

Dan perkiraan saya semakin nyata, ketika sebelum ke rumahnya saya diajak berbelanja dahulu ke supermarket.

 

Saya tidak tahu apa yang dia beli, karena saya hanya menunggu di mobil.

Sehabis melepas lelah, dia pun bertanya: “Mau makan apa nih ?” Tanya si mas  Chef sambil membereskan belanjaan tadi.
“Terserah, apa aja, pasti enak lah masakan Chef mah!” Saya menjawab sambil meraih sebotol air mineral di dalam kulkas.
“Beneran nih? Gua mau masak masakan yang menurut gua paling enak. Makanan favorit orang serumah nih. Tapi kayanya lu ngga bakalan sukaYakin ngga mau dimasakin apa- apa?” Tanya dia berusaha meyakinkan.
“Iya, yakin. Pasti enak lah masakn Chef internasional mah!” Jawab saya lagi.

“Oke deh, tunggu bentar ya! Nonton film atau apa dulu kek ya!” Kata si mas Chef, sambil berlalu membawa tubuh suburnya berjalan ke arah dapur.
“Siip! Tenang aja Mas!” Jawab saya sambil merebahkan tubuh lelah saya di atas sofa.

Kalau Chef tapi ukuran tubuhnya subur, menurut saya itu adalah nilai tambah, karena menunjukkan bahwa makanan hasil masakan dia pasti enak sekali.

 

Karena pasti mencicipinya banyak. Hehehe.
Kurang dari setengah jam, si mas Chef ini sudah sibuk bolak- balik dari dapur ke ruang tamu untuk menyiapkan beberapa piring dan mangkok dan peralatan makan lainnya.

“Broo! Makanan dah siap nih!” Si Mas bro berteriak memanggil temannya yang sedang  menyendiri di dalam kamar.

“Okee, bentar lagi gua keluar!” Ada suara laki- laki menjawab dari dalam kamar yang tertutup itu.
Dan tak lama sesosok tubuh kurus dan setinggi saya keluar dari kamar itu. Dia masih mengenakan seragam koki. Katanya sih dia mau berangkat kerja malam.

Ketika semua orang sudah duduk melingkar, dan sudah ada satu set peralatan makan lengkap di depannya, si mas Chef beranjak lagi dari duduknya menuju ke dapur.

Dasar Chef, peralatan makan biasa pun, dia susun begitu rupa sehingga terkesan sangat rapi, tidak seperti kita orang rumahan biasa yang menyusun sendok, garpu, piring dan mangkok sekenanya saja.
Semakin yakinlah saya bahwa  malam ini saya akan memakan masakan Italia yang super spektakuler dan maknyuuss…
“Niih…Makan malam kita udah jadi!” Kata si mas Chef sambil membawa panci yang berukuran lumayan besar.
Sejak dia keluar dari dapur saja, air liur saya sudah mengalir deras, sehingga saya harus ber-ceglug ria beberapa kali karena membayangkan seperti apa makan malam saya kali ini. Pasti masakan Italia yang belum pernah saya makan di restoran si mas Chef.

Menu Ajaib
Panci itu dia bawa dalam keadaan tertutup, dan sampai panci itu mendarat di tengah- tengah kami, saya masih belum bisa menebak makanan jenis apakah itu yang dia masak.

Tidak ada bocoran sekali untuk menebaknya, karena tidak ada satu pun partikel bau dan aroma dari masakan itu yang mampir ke dalam hidungku.
Eh, begitu dia buka pancinya, betapa terkejutnya saya melihat masakan yang ada di situ.

Ternyata,yang dia masak itu mie rebus pake telor!

 

Halah, gubraag..

 

Kalau adegan ini ada di film kartun, mungkin yang terlihat di televisi hanya gambar kaki saya saja yang terjengkang ke belakang.

“ Ayo cepetan, katanya laper! Udah gua buka lu malah melongo aja!” Dengan cueknya si mas Chef berkata seperti itu, tanpa menyadari bahwa saya masih syok melihat menu yang sejak dulu memang sudah jadi santapan sehari- hari saya di tempat kosan.

“Mas masak mie rebus pake telor?” Tanya saya untuk memastikan.

“Bukan Spicy Shrimp Linguini ala menu di restoran Mas?” Tanya saya lagi dengan masih memegang mangkok putih di depan dada.
“Loh, kamu pengen makan itu toh? Kenapa kagak bilang dari tadi?! Kalau lu bilang ya pasti gua masakin lah! Hahahaa” Dia menjawab sambil tertawa terbahak- bahak dan mengaduk- ngaduk mie rebus yang sudah tersaji di dalam panci aluminium berukuran jumbo itu.

“Ya gua nyangkanya mas bakal masak kaya menu di restoran lah. Trus tadi mas bilang juga bakal masak masakan paling enak dan favorit orang- orang di kosan ini. Mie rebus pake telor kaya gini mah gua hampir tiap hari makan. Ampe bosen!” Jawab saya sambil mulai menyendoki kuah mie rebus pake telor di dalam panci itu ke dalam
mangkok bagian saya.

 
“Hahaha..Menu paling enak di rumah ini ya ini, mie rebus pake telor. Eh, bukan masakan paling enak di rumah ini deng, tapi masakan paling enak sedunia selama kami kerja di Qatar. Kita hampir dua puluh empat jam nyium bau masakan Italia, megang pleus nyicipin masakan Italia, makan masakan Italia.”

 
“Bosen kali!” Kata si mas Chef sambil dengan lahapnya memindahkan semangkuk mie rebus ke dalam mulutnya yang masih komat kamit, sambil sesekali meremas botol saus pedas di atas mangkoknya, dan kadang terkekeh- kekeh lagi  mentertawakan saya yang malam itu terlihat sangat cupu.

Makan malam waktu itu bercampur dengan tawa terbahak- bahak.

Mie rebus pake telor makanan paling enak sedunia?

Menurut anda?

www.didaytea.com
Doha, 27 Juni 2013

Super Sya’ban Moon

Sejak kecil, saya sudah meyakini dan melihat sendiri bahwa ada kelinci di bulan. Setiap bulan purnama datang, memang siluet bayangan, atau area gelap di bulan itu membentuk siluet seperti kelinci.

Bulan purnama juga sering dibuat frase untuk merayu sang pujaan hati, dengan ungkapan “wajahmu secantik rembulan”. Kalau zaman sekarang, mungkin si wanita tidak akan terima wajahnya disamakan dengan wajah rembulan.Image

Karena semua orang sekarang tahu bahwa wajah bulan itu tidak mulus dan cantik, akan tetapi banyak kawahnya.

Saya sangat beruntung diberi jalan oleh Allah untuk bisa belajar sedikit ilmu fotografi. Tadi, ada yang memposting status dan foto supermoon di FB. Naluri tukang foto saya langsung aktif, dan langsung meloncat keluar sambil memboyong kamera kesayangan saya+lensa tele 18-200 satu- satunya.

Jepret, jepret, jepret, edit sedikit, selesai deh.

Dan hari ini saya melengkapi keyakinan saya, dengan mata kepala dan kamera sendiri,  menjadi Haqqul yakin bahwa wajah bulan  itu tidak indah.:)

Sekarang tepat pertengahan bulan Sya’ban, artinya dua minggu lagi bulan suci Ramadhan akan tiba.

Semoga kita masih diberi kesempatan untuk beramal dengan amalan yang terbaik kita di bulan yang terbaik.

Dan menjadi jalan agar kita menjadi suci bersih tanpa dosa, seperti bayi yang baru lahir dari rahim Ibunya.

Aamiin.

 

Jujur Itu Indah

JUJUR ITU INDAH

Surat Yang Rumit

Proses seseorang menjadi karyawan di perusahaan saya lumayan berat. Ada beberapa tahapan yang harus dilalui.

Di akhir bulan September, saya mengikuti tes tertulis  dan wawancara dua hari berturut- turut. Sebulan kemudian , saya harus berangkat lagi ke Jakarta untuk mengikuti tes kesehatan.

Di antara tes kesehatan dan tes tertulis dan wawancara, kegiatan paling melelahkan yang harus saya lakukan adalah ketika membuat SKCK (Surat Keterangan Catatan Kepolisian), yaitu surat keterangan dari kepolisian yang menerangkan bahwa seseorang pernah atau tidak pernah berurusan dengan tindak pidana yang tercatat pada instansi kepolisian.

Saya harus meminta surat rekomendasi dari RW, Kelurahan, Kecamatan. Lalu harus ke Polres, Polsek dan sampai Polda.

Dan ini tidak bisa dilakukan dalam satu hari.

Karena saya tidak bekerja shift, jadi setiap keperluan yang berhubungan dengan pembuatan passport, bahkan sejak pembuatan SKCK tadi saya harus mengorbankan cuti saya.

Momennya juga pas sekali menjelang Lebaran.

Proses terakhir pembuatan SKCK adalah tanda tangan dari Kapolda. Dan saya ingat betul bahwa itu adalah bulan Ramadhan hari terakhir. Sampai- sampai saya harus mengorbankan waktu lebaran saya dengan keluarga di Bandung.

Di setiap tahapan ketika saya harus membuat dokumen- dokumen tersebut, setidaknya jatah cuti tahunan saya yang tinggal beberapa hari saja terpakai.

Dan sampai akhirnya cuti tahunan saya tidak ada yang tersisa, semuanya terpakai untuk pembuatan SKCK tadi, karena prosesnya yang sangat rumit dan menghabiskan waktu, dan juga tidak di satu tempat. Beda kota malah. Saya tinggal di Cilegon. Tapi Kantor Kecamatan, Polres, Polsek dan Polda ada di Serang. Yang paling dramatis ya ketika di Polda itu.

Dari rumah saya harus naik angkot ke tempat bis antar kota. Lalu naik bis sampai ke terminal pakupatan Serang yang sudah sangat jauh. Dan dari terminal ini pun, saya masih harus naik ojek lagi yang ongkosnya sepuluh ribu rupiah. Bayangkan saja jauhnya.

Ongkos ojek dari rumah kontrakan saya ke pangkalan bis yang berjarak sekitar tiga kilo meter saja hanya dua ribu rupiah.

Belum lagi keringat yang tak henti- henti bercucuran di setiap lipatan tubuh saya, yang seketika merubah wangi parfum menjadi bau asem, bahkan sejak duduk di pangkalan bis ke arah Serang.

Belum lagi ketika pembuatan paspor, saya harus bolak- balik Jakarta- Merak untuk mendapatkan surat rekomendasi dari agen perekrutan karyawan.

Cuti Habis         

 

Ada panggilan terakhir untuk mengikuti semacam penataran dari agen yang menjadi perantara perekrutan karyawan oleh perusahaan tempat saya bekerja. Penataran ini kata agen penyalur tenaga kerja itu wajib, karena kalau saya tidak tercatat pernah mengikutinya, kemungkinan besar saya tidak akan bisa berangkat.

Waktu itu saya benar- benar bingung bagaimana caranya agar besoknya bisa berangkat ke Jakarta, padahal cuti saya sudah habis.

Sampai pulang kerja pun kepala saya masih berputar bagaimana caranya agar saya bisa berangkat ke Jakarta besok pagi.

Satu- satunya cara yang mungkin adalah izin tidak masuk karena sakit. Sick Leave. Tapi saya tidak mau berbohong jika harus bilang bahwa saya sakit, padahal saya sama sekali tidak sakit. Saya takut nanti malah benar- benar sakit, dan tidak jadi berangkat ke Jakarta.

Tapi, berhubung pikiran saya sudah mentok dan karena hanya cuti sakit itulah cara agar saya tidak masuk kerja besoknya.

Urusan surat dari dokter, ya saya sudah berniat akan tetap jujur dengan tetap bilang ke dokter kondisi saya yang sebenarnya, hanya memerlukan surat darinya agar bisa cuti sakit, untuk keperluan saya pergi bekerja ke luar negeri.

“Ya sudahlah, Allah kan Maha Mengetahui, kali ini saya kan berbohong demi kebaikan. Saya berniat untuk pergi ke luar negeri agar bisa memperbaiki kehidupan saya dan orang tua saya. Semoga Allah mengampuni dan mengerti.”

 

Walau pun masih menyisakan pergolakan batin, tapi akhirnya tubuh lelah dan pikiran saya yang seharian bekerja dan berpikir keras, akhirnya saya tertidur tanpa sempat berganti baju, mandi, apalagi makan malam.

Allah Memberi Jalan

Saya tidak ingat jam berapa saya terlelap.

Saya ingat betul, waktu itu sekitar jam tiga pagi, ketika saya terbangun dengan perasaan tidak enak di perut, melilit seperti ada yang mengaduk- ngaduk dan diperas- peras.

Sakit luar biasa.

Dengan kelopak mata yang masih terasa sangat berat untuk dibuka, dan tubuh terhuyung- huyung karena masih belum sadar sepenuhnya saya beranjak dari sehelai kasur Palembang di kamar depan ke kamar mandi.

Tangan saya baru saja memegang bingkai pintu, ketika tiba- tiba seluruh isi perut saya tiba- tiba mendesak keluar dengan sangat kuat. Ya, semua yang ada di perut saya keluar dan saya terus muntah- muntah sampai tidak ada yang keluar lagi.

Kalau bahasa Sundanya mah, utah uger. Hehehe.

Saat itu juga saya langsung ganti baju dan bergegas menuju ke pangkalan ojek yang selalu ada dua puluh empat di komplek rumah kontrakan saya, menuju ke klinik terdekat yang buka non stop.

Alhamdulillah, saya bisa langsung bertemu dokter jaga di klinik itu.

Kata dia maag saya kambuh, kemungkinan pemicunya dari stress dan saya semalam lupa makan malam.

Sesaat sebelum saya beranjak keluar, tiba- tiba saya teringat sesuatu.

Surat Izin Sakit!” Teriakku di dalam hati.

Tanpa banyak bertanya si dokter muda yang umurnya paling lebih tua lima tahun saja segera mengambil secarik kertas blanko Surat Izin Sakit dari sudut mejanya. Dan segera membubuhkan tulisan khas dokter yang tidak pernah saya mengerti, dan tanda tangannya.

Surat itu pun akhirnya berpindah ke tangan saya setelah dimasukkan ke dalam amplop putih kecil, setelah saya menandatangani form tanda terima dari asuransi.

Walau pun perut masih terasa agak mual, tapi pikiran saya tiba- tiba menjadi tenang dan riang gembira, karena Allah sudah melindungi saya dari berbohong.

Setibanya di rumah kontrakan, saya langsung menelepon atasan saya, bahwa saya tidak bisa masuk karena sakit, dan utah uger sejak jam dua pagi. Tanpa banyak bertanya lagi dia pun mengiyakan, dan langsung memberikan izin setelah saya bilang bahwa saya baru saja pulang dari klinik.

Selepas sholat subuh berjamaah di mesjid, saya langsung mandi dan memakai baju setelan “melamar kerja”: celana panjang hitam+kemeja lengan panjang+sabuk yang gespernya mengkilat+sepatu vantopel yang baru saja disemir kemarin. Hehehe.

Alhamdulillah, sakit dan mual di perut saya sudah mulai reda. Mungkin karena obat yang tadi langsung saya minum di klinik dan sepotong roti cokat yang tersisa di dalam kulkas mungil saya.

Dan sakit serta mual itu akhirnya hilang sama sekali ketika tiga jam kemudian, saya sudah duduk dengan manis mendengar pengarahan dari agen tenaga kerja itu bersama teman- teman yang juga akan berangkat ke Qatar.

Jujur itu indah!

Diday Tea

12062013

http://www.didaytea.com

Toga Biru

 

Sekolah Mahal

Di Qatar, sampai tulisan ini dibuat, belum ada sekolah khusus untuk orang Indonesia seperti di beberapa negara lain.

Alhamdulillah, akhirnya saya bisa memasukkan si sulung ke salah satu sekolah yang ada, dan termasuk ke dalam sekolah yang termasuk ke dalam daftar yang ditanggung langsung oleh perusahaan.

O iya, perusahaan saya, dan perusahaan Oil & Gas atau Petrokimia lainnya di Qatar biasanya menanggung biaya pendidikan hingga anak ke-empat. Fasilitas ini juga yang menjadi salah satu pertimbangan saya untuk membubuhkan tanda tangan saya di atas surat penawaran dari perusahaan tempat saya bekerja sekarang.

Biaya pendidikan di sini super muahhall.

Biaya pendidikan per bulan sekolah setingkat TK Nol Besar saja bisa mencapai hampir lima juta rupiah! Padahal sekolah itu bukan termasuk sekolah yang elit, masih sekolah yang tingkatnya biasa- biasa saja. Salah satu sekolah elit yang ada di Doha, malah ada yang biaya per bulannya mencapai hampir delapan belas juta rupiah. Ya, anda tidak salah membaca dan saya juga tidak salah mengetik, delapan belas juta rupiah per bulan!

Di Indonesia, TK yang paling elit pun tidak akan memungut biaya sebegitu besar, bahkan bisa membiayai kuliah S2.

Ah, tapi ya sudahlah, ilustrasi biaya tadi hanya untuk pembuka tulisan saya saja.

Hari Pertama Sekolah

Langsung saja ke intinya deh, walau pun pasti untuk pembaca yang berada di Indonesia masih terkaget- kaget begitu mengetahui biaya sekolah di sini yang super mahal luar biasa.

Hari pertama anak saya sekolah adalah hari di mana saya benar- benar merasa menjadi orang tua yang sesungguhnya. Bahkan perasaan campur aduk antara bangga, taku, khawatir, perasaan menjadi tua, dan perasaan lain yang bertumpuk dan bercampur di dalam pikiran dan hati itu sudah muncul sejak hari pendaftaran.

Berlanjut ke persiapan sekolahnya. Dari mulai membeli seragam, peralatan sekolah, sepatu. Kami biarkan dia memilih sendiri model dan warna yang dia inginkan untuk peralatan sekolah. Walau pun ada efek sampingnya juga sih. Adik perempuannya yang baru beranjak dua tahun, ternyata ikut- ikutan seperti kakaknya. Pada akhirnya hanya satu anak yang sekolah, tapi belanjaan jadi dua kali lipat, karena si kecil meniru kakaknya dengan memasukkan benda- benda yang dia inginkan ke dalam kereta belanjaan.

Di hari pertama itu, perasaan kami berdua sudah campur aduk seperti bubur ayam yang sudah diaduk, tadinya rapih dengan topping kerupuk, daging ayam suwir, irisan seledri, kacang kedelai yang sudah digoreng garing, taburan merica, dan sedikit tetelan tulang ayam yang tenggelam di tengah adonan bubur, dilengkapi dengan sambel super pedas berwarna Jingga teronggok di sudut salah satu lekukan kerupuk

Gembira, karena kami akhirnya menaiki salah satu tangga fase kehidupan di dalam kehidupan berumah tangga, mengantar anak ke sekolah.

Sedih, karena sejak hari itu dan dua belas tahun, atau mungkin lebih, di hari selain hari libur kami sudah tidak akan mungkin lagi bisa mendengar canda tawanya di dalam rumah ketika matahari terbit.

Di hari itu pula kami bisa membayangkan perasaan orang tua kami ketika dulu melepas kami di hari pertama sekolah.

Entah apa yang ada dibenaknya, tapi di benak saya dan istri hanya ada satu perasaan: khawatir.

Khawatirnya cuma satu, tapi hal- hal kami khawatirkan banyak sekali.

Khawatir dia tidak akan bisa mengikuti pelajaran di sekolahnya, dan harus mengulang lagi di TK Nol Kecil tahun depan.

Khawatir dia tidak akan mengerti gurunya, yang tidak mungkin bisa berbahasa Indonesia.

Eh, tanpa terasa, serasa baru kemarin kami mengantarkannya ke sekolah.

Serasa baru kemarin kami dengar tangis dan teriakannya yang masih terdengar sampai gerbang sekolah, karena tidak ingin ditinggal. Hanya hari pertama sekolah saja kami boleh mengantarnya sampai ke dalam kelas . Besoknya, kami sudah tidak boleh melangkah lebih jauh dari garis pintu gedung kelasnya.

Pada hari pertama itu, gedung anak kelas Reception riuh rendah oleh tangis anak- anak TK yang tidak ingin ditinggal oleh orang tuanya. Ada yang berteriak- teriak. Ada yang bertahan sekuat tenaga memegang pintu kelasnya agar tidak tertutup. Ada yang menangis meraung- raung tak henti- henti. Gedung itu penuh sesak oleh para orang tua yang khawatir meninggalkan anaknya yang masih menangis.

“Don’t worry Sir, Maam, please leave now. This is normal. We are used to it already. We will take care of your children!” Ujar gurunya dengan memasang wajah yang sangat manis.

Padahal di saat yang sama, kaki kanannya sedang menghalangi pintu yang sedang didorong paksa oleh seorang anak, tangan kirinya memegangi tangan seorang anak laki- laki yang hendak lari keluar, dan mulutnya langsung berteriak kepada guru yang lain:

 “I need somebody here, please!” 

Karena dia melihat seorang anak berhasil berlari dari hadangan para guru dan lolos ke halaman kelas. Ketika dia tidak menemukan orang tuanya di sana, stadium kedua dimulai untuk anak itu.

Kali ini aktifitasnya bertambah. Tidak hanya menangis dan meraung- raung, tapi juga dilengkapi dengan teriakan dan kokosehan (duduk sambil menendang-nendangkan kaki), dan bahkan ada yang sampai berguling- guling.

Tadinya sih kami kira anak kami tidak akan sampai seperti itu.

Eh, ternyata di dalam kelas ada beberapa anak yang juga sudah mencapai stadium dua. Padahal, satu kelas yang hanya berisi dua puluh orang anak, dijaga oleh tiga orang guru.

Ah, pokoknya seru deh hari pertama itu.

Kalau di Indonesia kan jauh berbeda kondisinya.

Bukan hanya anak TK, bahkan seringkali anak sudah berseragam Putih- Merah pun masih ditunggui oleh Ibunya di kelas.

Mungkin hari yang “seru” itu sudah sering dihadapi oleh para guru, tapi bagi kami yang baru pertama kali mengalami chaos dan keseruan seperti itu, sangatlah luar biasa.

Luar biasa karena pertama kalinya.

Dan yang utama, luar biasa menambah lagi kekhawatiran kami terhadap si sulung yang masih menangis dan berteriak- teriak ketika kami tinggalkan di dalam.

Akhirnya kami tenang- tenangkan saja pikiran kami. Dan kami serahkan kepada Allah dan gurunya saja.

Ternyata periode seperti itu hanya berlangsung satu atau dua minggu saja.

Alhamdulillah, si sulung tidak susah dibangunkan. Walau pun dengan mata yang masih tertutup, dia tetap bangun untuk berdoá kala bangun tidur dan beranjak dari tempat tidur mungilnya untuk mandi. Dan ketika air sudah menyiram tubuhnya yang kini tidak super montok lagi, langsung segar bugar seketika. Masalahnya paling hanya tidak mau sarapan, tidak mau sekolah dengan berjuta alasan, atau tidak mau memakai seragam.

Alhamdulillah, setelah periode itu berlalu, kami sendiri yang malah terkaget- kaget dengan perkembangannya.

Ternyata kekhawatiran kami tidak terbukti sama sekali. Dia berhasil beradaptasi dengan hebat di lingkungan yang tadinya sama sekali asing baginya. Dan lagi dia langsung kami masukkan ke TK Nol Besar, bukan TK Nol kecil. Pertimbangannya sih ya itu tadi, perusahaan baru menanggung biaya sekolah anak karyawan di tingkat Nol Besar.

Bayi super montok itu kini sudah mempelajari tiga bahasa asing: Arab, Inggris, dan Prancis. Dan setelah term (Catur Wulan atau semester) pertama, dia sudah mulai cas-cis-cus berbahasa Inggris, dan dia mulai sering protes kalau diajak berbahasa Indonesia di rumah.

English, please!” Mulut mungilnya berucap dan mata belonya semakin besar karena sambil melotot.

Tidak berbeda jauh sih dengan orang tuanya, sama- sama tiga bahasa.

Hanya bahasa yang kami pelajari adalah Indonesia, Inggris dan Sundanese.

Hehehe.

Wisuda TK

Bayi super montok yang menjadi “mainan” sehari- hari kami sejak tiba di sini kini sudah tumbuh tinggi, kemarin berbaris melangkah masuk gedung ke tempat acara wisuda, memakai toga dan seragam kebesaran kain satin berwarna Biru sambil melambai- lambaikan tangannya yang masih montok dan pejal itu ke semua orang. Tentu saja bibirnya tidak lupa dia sejajarkan dengan pipinya yang masih tembem untuk membentuk senyum yang mungkin di masa depan akan membuat lawan jenisnya kelepek- kelepek. Hehehe.

Dia kemarin dengan lincahnya mentas di panggung bersama- puluhan teman- teman sekelasnya,  menari dan menyanyikan lagu “Transportation Song” dan “Graduation Song.”

Dia kemarin sudah berfoto dengan ijazah pertamanya dengan Toga Biru yang membalut tubuh mungilnya.

Padahal bapaknya seumur- umur belum pernah memakai Toga. Hehehe.

Selamat ya Nak! Kamu sudah lulus TK!

Kami sangat bangga kamu berhasil melewati tantangan besar pertama di awal kehidupanmu.

Doha, 11 Juni 2013

http://www.didaytea.com

INGIN VS BUTUH

“Keinginan seringkali mengalahkan kebutuhan, jika kita tidak bisa menahan diri”

 

Lupa Antena

 

Di zaman sekarang, sangat jarang sekali orang rumah yang tidak ada televisi di dalamnya.

 

Ketika masih di Cilegon dulu, saya mengontrak rumah tipe 21.

Saya ingat betul suatu malam ketika saya melakukan perbuatan konyol, dan perbuatan konyol itu juga memancing saya untuk melakukan perbuatan konyol yang lainnya.

Malam itu adalah jadwal semi final Piala Dunia 2006 antara Italia vs Jerman. Tentunya kita sudah tahu bersama bahwa pada akhirnya Italia yang menang dengan dua gol Fabio Grosso dan Alessandro Del Piero di penghujung perpanjangan waktu. Akhirnya pun mereka berhasil menjadi juara dunia dengan susah payah mengalahkan Prancis dengan tos- tosan adu pinalti.

 

Walau pun saya sudah memiliki komputer, tapi saya belum mampu menghadirkan koneksi internet . Untuk up to date  dengan informasi saya harus menyengajakan diri pergi ke warnet atau membeli koran. Sehingga kadang- kadang hati ini merindukan acara- acara televisi. Terutama siaran berita dan siaran langsung sepakbola.

 

Setelah menghabiskan hampir seluruh energi di tubuh saya karena sudah bekerja seharian, saya malam itu meminta supir jemputan untuk menurunkan saya di depan Supermall Cilegon.

Untuk kepentingan menonton tim favorit saya Italia, saya malam itu berniat akan membeli TV Tuner. Karena dengan penghasilan yang pas- pasan untuk menutup biaya kuliah dan juga modal usaha dagang saya, saya belum mampu membeli Televisi. Cara mengakalinya agar murah ya dengan cara membeli TV Tuner untuk komputer saya.

 

Harganya hanya dua ratus lima puluh ribu, jauh lebih murah dibanding harus membeli Televisi 21 inch yang waktu itu masih berharga dua jutaan.

Dengan semangat empat lima, karena sudah membayangkan kemenangan Italia atas Jerman, saya tersenyum- senyum sendiri dipojok angkot berwarna ungu menuju rumah kontrakan saya. Pandangan mata saya tidak pernah lepas dari kantong plastik berwarna hitam yang berisi TV Tuner itu.

“Kiri Pak!” Ucap saya dengan lantang menggunakan password untuk menghentikan angkot.

Saya masih harus berjalan sekitar dua ratus meter dari tempat turun tadi ke rumah kontrakan saya. Dan masih saja, setiap ayunan kaki- kaki lelah yang membawa tubuh lemas saya, selama itu pula mata saya tertuju kepada si kantong plastik hitam.

 

Sesampainya di rumah pun tidak saya pedulikan tubuh saya yang lemah letih lunglai. Saya langsung bongkar CPU karena tidak sabar untuk memasang TV Tuner, agar nanti subuh bisa melihat tim favorit saya Italia beraksi mengalahkan Jerman.

 

Saya buka kotak kertas tempat TV Tuner, dan saya keluarkan buku mungil panduan pemasangannya.

 

Awalnya sih tidak ada yang salah, dan tidak ada yang susah. Karena cara memasang TV Tuner itu sangat mudah, hanya tinggal memasang beberapa baut pada slot yang tepat di motherboard, selesai deh

Tapi…

Ada hal kecil yang saya lupakan, dan saya juga tidak pernah terpikir sebelumnya, tapi ternyata menjadi masalah besar.

Saya lupa membeli antenanya!

 

Ternyata saya tidak tahu kalau ternyata TV Tuner itu hanya membuat layar monitor kita seperti  Televisi. Tetap memerlukan antena TV, UHF dan VHF seperti televisi pada umumnya.

 

Kegembiraan saya yang saya rasakan dari sejak membeli TV Tuner itu pun berubah seratus delapan puluh derajat.

Jika tidak ingat harganya, hampir saja saya lempar TV Tuner itu karena saking kesalnya menyesali kebodohan saya.

 

Waktu sudah jam setengah sepuluh malam, semua toko antena di Cilegon pasti sudah tidak ada yang buka lagi. Kalau pun saya cukup beruntung, saya sudah tidak mempunyai uang lagi untuk membeli antena, yang pasti harganya lumayan mahal.

Hampir setengah jam saya termenung, mareh menyesali kebodohan diri yang bisa melupakan hal sepenting itu.

 

Walau pun pada akhirnya saya bisa menyaksikan pertandinngan semi final itu, tapi tetap saja ada dongkol yang tersisa, ada kesal yang tertinggal di dalam hati.

 

Balas Dendam

 

            Entah setan dari mana, besoknya, sepulang kerja saya langsung bergegas menuju sebuah toko elektronik yang menyediakan fasilitas cicilan.

Dengan pertimbangan yang singkat, tanpa perhitungan yang matang, waktu itu saya memutuskan untuk menyicil sebuah televisi 21 inch dan sebuah DVD sebagai satu paket cicilan.

Saya harus mencicil kurang lebih tiga ratus ribu per bulan, selama satu tahun.

Secara hitung- hitungan kasar sih, memang neraca keuangan saya bergeser ke kiri, alias jadi minus.

Tapi, keinginan saya untuk tidak melewatkan final Piala Dunia yang melibatkan tim favorit saya Italia dengan nyaman dan sendirian di rumah, telah berhasil mengalahkan logika saya yang bertanya bagaimana uang cicilan itu akan bisa saya bayar? Ketika itu bisnis saya masih berjalan, jadi masih ada keuntungan sekitar dua ratus ribu per bulan. Uang keuntungan itulah yang saya rencanakan untuk menambal “lubang” di neraca keuangan saya karena menyicil televisi dan DVD player itu.

 

Tekor

 

            Ternyata, pada kenyataannya, keputusan saya itu malah mebuat kondisi keuangan semakin acak- acakan.

Hampir setiap bulan saya harus berhutang untuk bisa membayar cicilan.

Dua kali debt collector pernah mendatangi rumah saya untuk menagih, karena cicilan yang saya tunggak.

 

Yang konyolnya lagi, pembelian televisi dan DVD Player itu saya niatkan untuk menonton final Piala Dunia. Tapi pada akhirnya saya malah tidak bisa menontonnya karena harus lembur shift malam selama dua minggu.

Dan setelah final Piala Dunia itu pun lewat, kedua benda yang saya cicil itu jarang sekali saya pakai.

 

Paling sering saya tonton hari Sabtu atau minggu, itu pun jika tidak ada jadwal lembur atau jadwal kuliah, dan saya hanya diam saja di rumah, tidak berada di warnet hampir seharian seperti biasanya.

 

Keinginan sesaat yang didukung “alasan yang logis” yang tiba-tiba muncul akhirnya harus kubayar dengan penderitaan finansial selama setahun, bahkan lebih lama lagi.

 

 

Diday Tea

7 Juni 2013

http://www.didaytea.com

 

Komitmen Ketiga

 “Bila kamu tak tahan lelahnya belajar, maka kamu akan menanggung perihnya 

kebodohan.” (Imam Syafi’i)

            Ada salah satu penyesalan terbesar di dalam hidup saya. Ketika saya memutuskan untuk berhenti kuliah.

Sampai hari ini, saya masih merasa nyaman dan aman dengan alibi, bahwa saya memilih untuk mengorbankan kuliah saya demi mendapatkan gaji puluhan kali lipat, demi melunasi hutang- hutang saya, demi membahagiakan orang tua saya, demi impian saya untuk segera menikah, dan masih banyak lagi.

Saya memilih untuk berhenti kuliah, karena banyak sekali SKS yang harus saya ambil untuk setidaknya bisa mengerjakan Tugas Akhir.

Dan baru hari ini, saya menyadari ternyata, alasan- alasan itu tidak terlalu kuat.

Penyebab utama saya tidak pernah berhasil menyelesaikan kuliah saya sebenarnya karena komitmen belajar saya yang lemah. Berjuta alasan telah saya buat untuk menjadi alibi kelemahan saya dalam berkomitmen untuk belajar.

Lemah Komitmen

Di kampus saya yang pertama, hanya ada tiga orang yang berstatus karyawan. Semua mahasiswa yang lainnya adalah mahasiswa reguler. Karena di kampus saya yang pertama belum ada kelas karyawan.

Selama tiga tahun lebih belajar di sana, sangat jelas terlihat, komitmen mereka jauh lebih hebat dan kuat dari saya.

Padahal saya sudah merasa berjuang dan berusaha luar biasa untuk bisa mengikuti jadwal kuliah reguler.

Durasi shift saya di pabrik yang pertama adalah delapan jam. Dengan jadwal 6-2, dua hari kerja pagi jam delapan malam, dua hari kerja siang jam empat sore, dua hari kerja malam jam dua belas malam.

Beberapa kali saya berada di luar rumah saya lebih dari dua puluh empat jam. Bayangkan saja, saya pernah kuliah dari pagi sampai sore. Sorenya harus berangkat bekerja shif siang. Eh, ternyata saya harus lembur sampai shift malam, dan pulang kerja besok paginya.

Padahal besok paginya ada beberapa jadwal kuliah yang tidak bisa ditinggalkan.

Walhasil, hari itu saya terpaksa numpang mandi di tempat kosan teman kuliah yang dekat kampus dan sore harinya sudah harus berangkat lagi bekerja shift siang.

Tapi perjuangan seperti itu ternyata masih kurang dibanding kedua teman saya itu.

Mereka hampir tidak pernah melewatkan setiap kelas atau praktek yang diikuti. Padahal jadwal kerja mereka hampir sama dengan saya. Tapi nilai- nilai mereka lumayan bagus, tidak sampai seperti saya yang harus mengulang Kalkulus 1 sampai tiga kali.

Mereka sering tinggal lebih lama di perpustakaan kampus sekedar untuk mendiskusikan tugas dan prosedur praktek.

Tidak seperti saya yang kadang- kadang hanya mengandalkan keberuntungan dan kecepatan membaca saya, di beberapa mata kuliah, saya dengan hanya muncul satu atau dua kali di kampus, tiba- tiba hadir lagi ketika UTS dan UAS. Parah.

Padahal mereka berdua lebih tua dari saya. Bahkan, sampai ada yang paling tua di antara kita, sudah beranak dua, malah disangka dosen ketika masuk kelas pertama kali. Ya jelas saja, dia tampangnya memang agak sangar, dengan kumis dan brewok di wajahnya, tidak ada seorang pun di dalam kelas itu yang menyangka dia adalah mahasiswa semester pertama?

Saya memutuskan untuk pindah kuliah dari kampus itu karena saya pindah kerja yang jam kerjanya normal, bukan shift. Tidak mungkin lagi saya bisa menghadiri kelas mahasiswa reguler dari pagi hingga sore.

Kampus Dua

 

            Di kampus saya yang kedua, saya mengambil kelas malam khusus karyawan. Dan ditambah hari Sabtu atau Minggu jika ada praktek.

Ternyata jauh lebih melelahkan.

Hampir setiap hari badan ceking saya hampir selalu terasa remuk redam kehabisan tenaga.

Saya bekerja di perusahaan Jepang yang notabene sangat sibuk. Dari jam delapan pagi sampai jam lima sore, hampir tidak ada jam istirahat selain jam makan siang dan waktu sholat.

Belum lagi kalau sering terpaksa lembur karena pekerjaan yang belum selesai.

Hampir setiap hari saya pulang menjelang tengah malam. Saya bekerja di daerah Anyer, ngekos di Cilegon, tapi kuliah di Serang. Sekedar menghabiskan waktu di perjalanan saja sudah sangat melelahkan.

Hampir setiap kali masuk kuliah tubuh terasa tidak nyaman, karena gerah, badan terasa cepel (lengket) dan masih memakai seragam kerja. Ketika mahasiswa lain di kelas berpakaian rapi jali dan harum, saya masuk kelas dalam keadaan kucel kumel kuleuheu (dekil), dan sedikit bau apek. Saya pun tahu diri untuk tidak mengambil tempat duduk di depan, sehingga terpaksa harus duduk mojok di sudut kelas.

Pernah suatu malam, ketika saya baru saja selesai kuliah tiba- tiba diminta untuk datang ke pabrik karena ada masalah. Hanya saya yang bisa datang, karena orang lab yang lain sedang cuti dan tidak bisa datang.

Walhasil, dengan seragam yang sama dengan yang tadi pagi, dan dengan tubuh yang sudah terasa lengket penuh dengan garam dari keringat yang mengering saya harus berangkat lagi ke tempat kerja. Dan kembali bekerja lagi sampai pagi.

Dua semester awal saya masih bisa memaksa diri untuk mengikuti pola hidup seperti itu.

Tapi setelah itu akhirnya saya mulai menyerah, saya menyerah dengan komitmen saya yang kedua untuk bisa menyelesaikan kuliah saya.

Kuliah mulai jarang. Sampai puncaknya ketika uang SPP juga mulai tidak terbayar. Biaya kuliah di kampus saya yang baru ini hampir tiga kali lipat lebih mahal dari kampus yang sebelumnya yang sudah berstatus Universitas Negeri. Kampus ke dua ini kampus swasta yang kampus pusatnya ada di Jakarta.

Ada tiga teman satu angkatan saya di kampus yang terakhir, pada akhirnya bisa menyusul saya ke Qatar, tapi mereka berhasil menyelesaikan kuliahnya.

Bedanya mereka dengan saya, ya itu tadi, masalah komitmen. Walaupun mereka bekerja di waktu yang sama dengan saya, sibuknya sama dengan saya. Mereka bahkan lebih sibuk karena mengambil jurusan Teknik Kimia, tidak sesibuk jurusan Teknik Industri yang saya ambil.

Toh, pada akhirnya mereka lulus juga.

Dan pada akhirnya juga, mereka bisa menyusul saya ke bekerja di luar negeri.

Hampir dapat dipastikan, peluang mereka untuk mengembangkan karir di perusahaannya lebih terbuka lebar. Dengan posisi saya yang sekarang, dan latar belakang pendidikan yang hanya lulusan SMK, perkembangan karir yang paling mungkin ya hanya sekedar promosi naik Grade. Diperlukan kualifikasi yang lebih untuk menjadi level yang lebih tinggi, bahkan di posisi yang ada di departemen yang lain,  pendidikan setingkat sarjana menjadi syarat yang hampir mutlak.

Secara gelar akademis, tentu saja tidak ada gelar apa pun yang saya dapat, karena sama sekali tidak lulus. Secara keilmuan pun, ilmu yang saya dapat dari kuliah di jurusan Teknik Industri hanya sedikit sekali dibanding lamanya kuliah yang delapan semester.

Pengorbanan energi dan uang, serta perjuangan saya bertahun- tahun seolah- olah menguap habis begitu saja ketika saya memutuskan untuk meninggalkan bangku kuliah.

Memang sih ada alasan yang kuat, karena saya tidak melewatkan kesempatan yang mungkin hanya sekali seumur hidup untuk bisa bekerja ke luar negeri.

Komitmen Ketiga

 

Di pertengahan tahun dua ribu sepuluh, untuk ketiga kalinya saya berkomitmen untuk kuliah lagi. Kali ini saya memilih jurusan Manajemen, di Universitas Terbuka. Selain karena tidak ada jurusan teknik, pertimbangan bahwa jurusan Teknik Industri memiliki banyak mata kuliah yang sama dengan Manajemen juga menjadi faktor penentu.

Alhamdulillah, kali ini hampir tidak ada kendala.

Tidak ada kendala masalah biaya, karena UT tergolong murah.

Tempat ujian dekat dengan rumah saya.

Semua buku kuliah yang saya perlukan sampai lulus sudah saya beli sejak awal masa pendaftaran.

Dan justru karena tidak ada kendala ini, diri saya dituntut untuk memiliki komitmen yang lebih kuat agar bisa menyelesaikannya. Sekarang usaha dan pengorbanan saya tidak terlalu berat,. Tidak seperti ketika saya kuliah di Cilegon- Serang dulu. Semuanya membutuhkan perngorbanan yang sangat besar. Dari biaya kuliah, ongkos bolak- balik Cilegon- Serang, kelelahan yang luar biasa ketika sepulang bekerja seharian, harus langsung kuliah sampai jam sebelas malam, dan tiba di rumah menjelang tengah malam. Dan ongkos bolak- balik ke Jakarta ketika harus ada praktek.

Saya bisa berhenti kapan saja, karena hampir tidak ada beban dan pengorbanan apa pun.

Belajar di Universitas terbuka kali ini lebih menantang, terutama dari sisi komitmen dan penguatan disiplin diri.

Ada tugas online yang harus saya kerjakan setiap minggu selama delapan minggu. Ada forum diskusi, ada tugas makalah. Yang berbeda hanya semuanya bisa saya kerjakan di rumah. Rata- rata saya mengambil 20 SKS satu semester. Jauh lebih singkat dari yang saya perkirakan sebelumnya.

Alhamdulillah, tidak terasa sudah lebih dari 100 SKS yang sudah saya tempuh dari 144 SKS yang ada.

Saya akan merasa malu luar biasa jika kali ini kuliah saya tidak sampai selesai juga.

Insyaallah, semoga Allah menguatkan komitmen saya, agar saya bisa melanjutkan kuliah saya ke jenjang yang lebih tinggi. Jika sudah menyelesaikan tahap ini, tentunya akan memudahkan saya untuk mengambil Master Degree di jurusan yang lain.

Walau pun jurusan yang saya pilih kali ini adalah “Jurusan Sejuta Umat”, yaitu jurusan manajemen, yang secara kasat mata jelas- jelas tidak akan banyak membantu untuk pengembangan karir saya di tempat bekerja sekarang, tapi saya mempunyai keyakinan.

Ini Déjà vu.

Di buku pertama saya, “Oase Kehidupan Dari Padang Pasir”, tulisan pertamanya adalah “Dialog Lima Belas Juta”, yang menceritakan pengalaman saya yang sedikit dicibir karena telah mengumpulan buku senilai lima belas juta. Yang pada akhirnya, dengan pertolongan Allah, buku- buku itulah yang telah mengantarkan saya bekerja di luar negeri.

Seperti itu juga pilihan saya untuk kuliah kali ini. Saya yakin, dengan izin Allah, di masa depan, setiap detik yang saya habiskan, setiap riyal uang yang saya bayarkan, setiap kalori energi saya yang terbakar ketika belajar, di masa depan akan Allah ganti dengan sesuatu yang dahsyat.

Insyaallah!

Doha, 3 Juni 2013

http://www.didaytea.com

Satu Riyal Yang Ajaib

Satu Riyal Yang Ajaib


“Jangan pernah meremehkan amalan sekeciil apa pun,  walau hanya sekedar tersenyum, karena kita tidak akan pernah tahu sebesar dan sedahsyat apa balasan yang Allah siapkan untuk kita di masa depan.

Di suatu pagi hari yang panasnya sudah seperti siang itu (Di sini sudah mulai memasuki musim panas, adzan subuh  sudah berkumandang jam setengah empat pagi. Jadi jam setengah lima langit sudah terang benderang) seperti biasanya saya menyetir menuju tempat bis jemputan.

 
Hampir setiap pagi sih, saya melewati sebuah pertigaan jalan. Di atas trotoar tepat di pertigaan itu, ada seorang tukang koran yang bulak- balik dari trotoar itu ke trotoar di seberang jalan di belakangnya. Mungkin di situ adalah tempat agen besar mendrop koran untuk dijual hari itu. Setiap saya melewatinya, dia pasti terlihat sedang sibuk membereskan dagangannya. Pernah saya melewati jalan itu agak siang, sekitar jam tujuh, dia masih ada di sana.

 
Awalnya sih tidak ada yang istimewa atau luar biasa. Ya, tukang Koran kan di Indonesia juga banyak.

 
Setiap saya bekerja shift pagi melewati pertigaan itu, setiap kali itu pula saya melihat pemandangan yang sama di atas trotoar itu. Si Bapak Tua tukang koran yang sedang membereskan beberapa tumpukan koran.

 
Pada suatu pagi, entah kenapa saya tiba- tiba ingin membaca koran.

 
Dari kejauhan saya sudah pasang lampu sein untuk menghampiri trotoar di pertigaan kecil itu.

 
Tepat ketika saya berhenti dan membuka pintu jendela kanan mobil saya, si Bapak Tua langsung menghampiri dan menyapa dengan ramah.

 
“Good Morning Pare!” Sapanya sambil langsung memajang senyum di bibirnya.

 
“You are Muslim?” Dia langsung bertanya lagi, mungkin karena mendengar alunan merdu Syaikh Abdurrahman As Sudais dari dalam mobil.

 
“Good Morning! Yes, alhamdulillah I am Muslim. But I am not Filipino, I am Indonesian, please call me Pak or Mas!” Jawab saya dengan sigap, dan langsung menjelaskan.

 
“Oh Sorry Sir, Sorry, I don’t know you are Indonesian!” Dia menjawab lagi sambil tetap tersenyum.

 
Di sini sudah sering dan lumrah kalau orang Indonesia dikira orang Filipina.

 
O iya, “Pare” itu artinya kurang lebih Masbro lah kalau dalam bahasa Indonesia gaul.

 
“Its okay no problem. You have Gulf Times?” Saya langsung saja bertanya.

 
Di Qatar, Koran yang berbahasa Inggris yang paling terkenal, eh, yang paling saya kenal sih, adalah Gulf Times dan Peninsula.

 
Itu pun jarang sekali saya baca. Kalau pun membaca, paling limpahan dari bekas bacaan para atasan yang sudah kadaluwarsa. Dan lagi pula, saya merasa belum ada urgensinya untuk saya membaca Koran lokal, kan internet sudah dua puluh empat jam dalam genggaman tangan, kapan saja saya bisa mengetahui informasi terbaru dari belahan bumi mana pun.

 
Pernah sih sengaja membeli koran berbahasa Arab, Al Watan.

 

Walau pun tidak intensif, tapi saya juga sedang belajar bahasa Arab. Tadinya sih diniatkan untuk praktek belajar bahasa Arab, dengan membaca situasi aktual, di koarn yang berbahasa Arab. Saya pikir bakal tidak akan terlalu sulit karena sudah ada kamus dan tentunya, Google translate.  Eh, pada kenyataannya, Alhamdulillah, setelah seminggu koran itu saya beli, tidak satu artikel pun yang saya berhasil pahami. Blas, ngga ada yang ngerti dan nyambung terjemahannya. Hehehe.

 
“Have Sir!” Dia langsung dengan gesit dan sigap membawa sehelai koran yang saya maksud. Sedikit tidak terduga, karena hampir tidak ada bagian dari rambut si Bapa Tua itu yang berwarna hitam.

 
“Peninsula I also have Sir! You want?”  Dia menawarkan koran yang satunya lagi.

 
“Okay I will take!” langsung saja saya iyakan tawarannya.

 
Dua eksemplar koran pun tak lama berpindah ke jok di sebelah kanan.

 
Kuulurkan selembar uang berwarna hijau, uang lima riyal kepada si Bapak Tua.

 
“One riyal, for you! Halal! Halal! Okay?” Langsung saja saya klarifikasi, ketika dia lagi- lagi dengan sigap langsung mengeluarkan selembar uang satu riyal dari saku kemeja biru tuanya yang sudah lusuh.

 
“Thank you so much Sir!” Ucapnya dengan wajah yang sumringah, sambil memasukkan lagi uang yang sudah dia pegang tadi.

 
“Wa’alaikumsalaam!” Dia menjawab sambil mengangkat tangan kanannya dan menempelkan tangan itu di atas dadanya ketika aku pamit dan berlalu mengucapkan salam.

 
Sejak saat itu, hampir setiap kali saya masuk pagi, saya pasti akan membeli koran dari si Bapak Tua itu.

Pernah beberapa kali, karena sudah terlambat, saya tidak sempat berhenti di pertigaan itu. Tampak sekali wajahnya yang penuh dengan harapan ketika dia langsung berdiri sambil memegang dua koran, ketika dia mulai melihat mobil biru saya dari kejauhan.

Saya hanya bisa mengangkat tangan dan menunjuk ke arah jam tangan saya, dengan harapan dia akan mengerti bahwa saya sudah terlambat mengejar bis jemputan.

 

Ketika besoknya saya berhenti di tempatnya, senyumnya selalu lebih lebar dari biasanya. Seolah ingin menunjukkan terimakasihnya karena saya sudah membeli korannya.

 

Satu riyal bernilai sekitar dua ribu enam ratus rupiah.

 

Tentunya nilai itu tidak seberapa. Di Qatar, satu riyal hanya  bisa membeli satu botol air mineral berukuran lima ratus mililiter.

 

Hampir terasa tidak ada nilainya.

 
Tapi, bayangkan apa yang bisa uang satu riyal ini lakukan ketika saya sedekahkan.

 
Si Bapak Tua ini sangat mungkin menanggung nafkah keluarganya dengan jauh- jauh pergi ke luar dari negerinya. Dan menafkahi keluarga tentunya adalah pahala yang luar biasa besar.

 
Terus, bagaimana dengan koran yang saya beli tadi?

 
Oh, ini tentu saja bakal bermanfaat.

 
Teman- teman saya, termasuk saya sendiri  di tempat kerja kan tidak semuanya punya akses ke koran baru.

 
Kadang- kadang kami sampai berebut ketika ada koran yang tergeletak.

 
Setidaknya ini membuat saya jadi melek informasi dan bisa memberi kebahagiaan kecil bagi teman- teman di kantor saya.

 
Siapa tahu , mungkin di akhirat kelak uang satu riyal ini yang menjadi tiket saya masuk ke Surga kan?

 
Siapa tahu, sedikit kebahagiaan kecil karena teman- teman saya bisa membaca koran tanpa harus membeli, adalah pembuka jalan bagi saya untuk mendapatkan rejeki yang luar biasa di masa depan?

 
Ganjaran dari Allah memang tidak selalu instan atau seperti memakan keripik pedas. Jam tujuh makan keripiknya, seketika seperti ada api unggun yang menyala di dalam perut kita.

 
Tapi disitulah The Art of Giving, kata ustadz Yusuf Mansur.

 
Bersedekahlah walau pun satu sen.

 
Memberilah walau pun itu hanya sekedar benda- benda yang sudah kita anggap sampah.

 
Berbagilah walau pun dengan barang- barang yang kita anggap tidak berharga.

 
Jangan pernah meremehkan amalan sekeciil apa pun,  walau hanya sekedar tersenyum, karena kita tidak akan pernah tahu sebesar dan sedahsyat apa balasan yang Allah siapkan untuk kita di masa depan.

Doha, 1 Juni 2013
www.didaytea.com