Sikap Kita Terhadap Masalah

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

Saudaraku, hidup manusia di dunia merupakan kumpulan masalah. Ke mana pun manusia pergi masalah pasti akan selalu mengikuti. Maka siapa pun yang ingin menggapai kemuliaan dalam hidup, ia harus memiliki keterampilan dalam menyikapi setiap masalah. Persoalan sebenarnya bukan terdapat pada masalahnya.

Akan tetapi dari cara kita memandang masalah: Apakah kita memandang masalah sebagai beban atau sebagai sarana meningkatkan kualitas diri? Agar kita menyikapi masalah dengan tepat, kita harus memahami hakikat masalah sebenarnya. Selain itu sebenarnya masalah adalah ketidaksesuaian antara apa yang kita harapkan dengan kenyataan.

Kita menginginkan A tapi kenyataan menunjukkan B, itu adalah masalah. Kita menginginkan banyak uang, tapi kenyataannya kita tidak punya uang, itu juga masalah. Pokoknya, semua hal yang tidak sesuai dengan keinginan diri, itulah yang harus menjadi perhatian Maka Jangan takut menghadapi masalah, tapi takutlah bila kita salah menyikapi masalah tersebut.

Ada tiga langkah yang dapat kita lakukan agar masalah bisa mendatangkan kebaikan, yaitu :

1. Persiapan

Persiapan erat kaitannya dengan mental. Langkah awalnya adalah menyadari adanya masalah. Keduanya cobalah untuk menghimpun input (informasi) dari orang lain tentang masalah tersebut. Semakin banyak input, insya Allah akan semakin baik. Langkah ketiga adalah memetakan masalah yang didasarkan pada input tersebut. Cari, hal-hal apa saja yang menjadi sumber masalah. Misal, kita merasa bahwa kita kurang wawasan (langkah pertama). Setelah sadar kita kurang wawasan, tanyakan pada orang lain, Apa benar kita seperti itu? Bagaimana pandangan mereka terhadap kita. Langkah kedua, berdasarkan pendapat tersebut segeralah kita petakan masalah, Apa yang menyebabkan kita kurang wawasan? Mungkin kita salah pergaulan, malas belajar, tidak punya biaya untuk pengembangan diri. Langkah ketiga.

2.Solusi

Bila tahap persiapan sudah kita lalui, segeralah kita bertanya tentang solusi. Langkah pertama menghimpun solusi, tanyalah orang tentang solusi yang paling memungkinkan, bagaimana cara agar kita menjadi orang berilmu. Himpun solusi sebanyak mungkin. Setelah itu, petakan solusi, cara seperti apa yang mungkin kita lakukan. Langkah ketiga, buatlah rencana aksi yang tertulis dan terukur.

3.Pelaksanaan

Setelah mental kita siap dan solusi pun sudah ada, segeralah bertindak. Jangan ditunda-tunda. Yang tidak kalah pentingnya, apa yang kita lakukan harus dikontrol dan dievaluasi terus menerus. Tentunya setiap masalah kita upayakan agar dapat terselesaikan, sebab masalah adalah tahapan ujian kehidupan yang harus dilalui dan ada solusinya, sebagaimana firman Allah SWT; ” Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal itu baik bagimu; dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. “(QS. Al-Baqarah [2] : 216) Saudaraku, musibah, penyakit, penghinaan adalah sebagian masalah yang akan selalu menimpa manusia. Di mana saja maupun kapan pun masalah akan menghampiri kita. Yang harus menjadi perhatian, bagaimana sikap kita terhadap masalah tersebut? Hal inilah yang justru akan menentukan sukses tidaknya hidup kita. Sehingga diharapkan ketika kita dihadapkan dengan masalah, sikap kita: jangan panik, jangan emosiona, jangan tergesa-gesa, jangan mendramatisasi dan jangan putus asa, seperti tersirat dalam Q.S Al-Insyirah ayat 5-6 bahwa; “Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. Wallahu a’lam bish showab

Ketika Allah Maha Besar


Oleh : Amri Knowledge Entrepreneur

Hidup itu seperti pembanding, oleh karena itu,marilah kita menjadi
orang yang sangat pandai membandingkan. Khususnya, perbandingan yang
menyebabkan kita menjadi mudah dalam menghadapi kehidupan.

Sebagai contoh sangat sederhana, Pertama, seseorang bisa dikatakan
tinggi bentuk tubuhnya, ketika dibandingkan dengan orang yang sangat
pendek bentuk tubuhnya.. Begitu juga sebaliknya, yang tadinya terlihat
sangat tinggi, menjadi pendek juga, ketika dibandingkan yang lebih
tinggi lagi. Kedua, seseorang yang memunyai uang Rp. 10.000.000.000,-
(sepuluh milyar ruiah) akan terlihat sangat kaya raya, kalau
dibandingkan dengan seseorang yang hanya punya uang Rp. 100.000,-
(Seratus ribu rupiah). Namun Rp. 10.000.000.000,- (Sepuluh milyar
rupiah) menjadi sangat kecil kalau dibandingkan dengan Rp.
10.000.000.000.000,- (Sepuluh trilyun rupiah). Ketiga, seseorang akan
terlihat sangat gemuk, bila dibandingkan dengan seseorang yang sangat
kurus. Namun, yang tadinya terlihat sangat gemuk, akan menjadi
biasa-biasa saja ketika dibandingkan dengan seseorang yang sangat
gemuk di dunia ini.

Inilah hidup, kepandaian kita dalam membandingkan akan sangat
menentukan kehidupan kita.dalam menghadapi permasalahan kehidupan.

Kemudian timbul pertanyaan dalam diri kita, mengapa hidup ini, selalu
terasa banyak masalah, sehingga masalah menjadi terasa sangat besar?
Jawabannya tentu sangat sederhana, karena kita salah dalam
membandingkan.

Dimana letak kesalahannya? Jawabannya juga sangat sederhana,
masalah-masalah yang sangat besar itu, atau kita sendiri yang merasa
permasalahan sangat besar, tidak kita bandingkan dengan seseuatu yang
maha besar. Apa yang maha besar? Jawabannya adalah ketika “Allah” Maha
Besar tertanam dalam hati kita, maka semua permasalahan menjadi sangat
kecil.

Jadi wajar sekali kalau Allah berjanji bahwa: Allah akan memberi
solusi kehidupan kepada siapa saja yang mempunyai keimanan sangat
bagus dalam hatinya, sehingga tertanam dalam bentuk keyakinan hati
bahwa Allah Maha Besar.

Jadi rumus hidup menjadi sangat sederhana, kalau ingin hidup penuh
masalah, walaupun sebenarnya, masalah yang datang tidak terlalu besar,
hanya terlihat dan terasa sangat besar, bukan masalahnya yang besar,
hanya pembandingnya yang kurang besar.

Intinya adalah kalau kita ingin tidak banyak masalah bukan tidak mau
ada masalah, namanya juga hidup, pasti banyak masalah. Permasalahannya
adalah bagaimana masalah dalam kehidupan ini menjadi terselesaikan
dengan menyenangkan ketika kita punya keyakinan dalam hati bahwa Allah
Maha Besar, agar semua permasalahan menjadi sangat kecil.

Berani menghadapi tantangan untuk bersahabat dengan masalah dengan
punya keyakinan yang tertanam dalam hati bahwa Allah Maha Besar!!!
Atau hidup sengsara dari detik perdetik, karena merasa selalu datang
masalah-masalah sangat besar, karena Allah dalam hati kita tertanam
sangat kecil . Bagaimana pendapat Anda ???

Ya Allah, Kenalkan Aku dengan Diriku

Ya Allah, Kenalkan Aku dengan Diriku

“Barangsiapa yang mengenal dirinya, ia akan sibuk untuk memperbaiki diri daripada sibuk mencari-cari aib dan kesalahn oranglain.”(Ibnul Qayyim)

Di antara ciri-ciri kebahagian dan kemenangan seorang hamba adalah: Bila ilmu pengetahuannya bertambah, bertambah pula kerendahan hati dan kasih sayangnya. Setiap bertambah amal-amal shalih yang dilakukan, bertambah pula rasa takut dan kehati-hatiannya dalam menjalankann perintah Allah. Semakin bertambah usianya, semakin berkuranglah ambisi-ambisi keduniaannya. Ketika bertambah hartanya, bertambah pula kedermawanannya dan pemberiannya kepada sesama. Jika bertambah tinggi kemampuan dan kedudukannya, bertambahlah kedekatanya pada manusia dan semakin rendah hati kepada mereka. Sebaliknya, ciri-ciri kecelakaan adalah: Ketika bertambah ilmu pengetahuannya, semakin bertambah kesombongannya. Setiap bertambah amalnya, kian bertambah kebanggaannya pada diri sendiri dan penghinaannya pada orang lain. Semakin bertambah kemampuan dan kedudukannya, semakin bertambah pula kesombongannya. (Al Fawa-id, Imam Ibnul Qayyim).

Saudaraku,

Suasana apa yang terekam dalam jiwa kita saat membaca kalimat-kalimat tersebut? Bilakah kita berada dalam daftar orang-orang yang berbahagia dan menang? Atau, celaka? Semoga Allah Swt. membimbing hati dan langkah kita untuk tetap memiliki karakter orang-orang yang berbahagia dan menang. Semoga Allah Swt. menjauhkan hati dan langkah kita dari karakter orang-orang yang terpedaya oleh ilmu, amal dan kemampuannya. Amiin.

Saudaraku,

Salah satu pesan yang bisa kita petik dari petuah Ibnul Qayyim rahimahullah itu adalah, kedalaman ilmunya tentang lintasan dan perasaan-perasaan jiwa. Ibnul Qayyim rahimahullah yang banyak berguru pada Imam Ibnu Taimiyyah itu, berhasil mengenali karakter jiwa kemanusiaannya, sampai ia pun kemudian banyak mengeluarkan nasihat-nasihat yang maknanya sangat dalam dan menyentuh tentang jiwa.

Saudaraku,

Mengenali diri memang penting. Rasulullah Saw juga mengajarkan kita untuk lebih banyak bercermin dan mengevaluasi dri sendiri, ketimbang bercermin dan mengevaluasi orang lain. Orang yang sibuk oleh aib dan kekurangannya, kata Rasulullah lebih beruntung, ketimbang orang yang sibuk memperhatikan kekurangan orang lain.

Dan memang, manfaat menjalani nasihat Rasulullah Saw ini adalah seperti dikatakan Ibnul Qayyim, “Barangsiapa yang mengenal dirinya, ia akan sibuk memperbaiki diri daripada sibuk mencari-cari aib dan kesalahan orang lain.”

Saudaraku, genggam erat-erat tali keimanan kita,

Kenalilah diri. Pahami kebiasaannya. Rasakan setiap getaran-getarannya. Lalu berhati-hati dan kontrollah kemauan dan kecenderungannya. Waspadai kekurangannya dan manfaatkan kelebihannya. Berdoálah pada Allah agar Ia menyingkapkan ilmu-Nya tentang diri. Sebagaimana senandung doá yang dilantunkan Yusuf bin Asbath, murid Sofyan Ats Tsauri: Ällahumma arrifni nafsii”, Ya Allah kenalkan aku dengan diriku…

Jiwa manusia banyak menyimpan rahasia. Misteri hati dan jiwa manusia sulit dikenali dengan baik kecuali dengan bantuan Allah Swt kepada kita. Karena itu ulama terkenal yang ahli dalam masalah kejiwaan Sahal bin Abdillah mengatakan bahwa mengenali diri sendiri itu lebih sulit dan lebih halus daripada mengenali musuh. Artinya, aib dan kekurangan yang terselubung dalam diri, sangat sulit dideteksi, dan harus dibuka oleh Allah agar seseorang dapat membersihkan diri dan jiwanya.

Jika seseorang telah berhasil mengenal dan mengetahui bagaimana kondisi jiwanya, maka ia akan mudah mengontrol dan mengawasi keinginan-keinginan buruknya. Inilah yang dikatakan ulama Makkah bernama Wuhaib bin Ward. “Sesungguhnya di antara kebaikan jiwaku adalah pengetahuanku tentang keburukan jiwaku. Cukuplah seorang mukmin memelihara dirinya dari keburukan bila ia mengetahui keburukan jiwanya kemudian ia meluruskannya.”

Sebagaimana juga perkataan Hasal Al Bashri, “Seorang hamba masih dalam keadaan baik selama ia menyadari dan mengetahui sesuatu yang merusak amal-amalnya. (Az Zuhd, Imam Ahmad)

Saudaraku,

Semoga Allah mempererat genggaman tangan kita dijalan-Nya. Itulah pentingnya mengenali diri. Sampai-sampai Umar bin Abdul Aziz yang dijuluki khulafaur rasyidin kelima itu mengatakan, “Aku mempunyai akal yang aku takut Allah akan mengazabku karenanya.”(Riyadun Nufus, 1/355). Umar bin Abdul Aziz banyak merenungi dirinya dan sangat mengenal dirinya, sehingga muncullah perkatan luar biasa itu.

Bahkan, karena pengenalan diri yang dalam itu, Fudhail bin Iyadh radhiallahu anhu mengatakan, “la ya’rifur riya ila mukhlish,” riya tak mungkin di sadari, kecuali orang yang ikhlas. Ya, orang yang merasakan manisnya keikhlasan, pasti akan mengetahui pahitnya riya. Sebaliknya, orang yang tidak pernah merasakan nikmatnya ikhlas, tak mungkin bisa mengenali pahitnya riya. Begitulah. Manisnya ikhlas dan pahitnya riya, hanya dirasakan oleh orang-orang yang terbiasa dan mengenali getaran jiwa.

Saudaraku,

Apa yang dikatakan Fudhail itu tadi pun bertolak karena kondisi dirinya yang sangat mengenal karakter jiwanya sendiri. Orang yang tidak mengenal dirinya, bahkan mengingkari keburukan dirinya adalah orang yang tidak akan mampu mengetahui apalagi mempengaruhi jiwa orang lain. Apalagi meluruskan kebengkokannya, ia tidak akan bisa. Inilah materi yang disebutkan oleh Al Kailani ketika ia mengatakan, “Bila engkau mampu meluruskan kekurangan yang ada pada dirimu, berarti engkau mampu meluruskan yang ada pada selain dirimu.” Ia melanjutkan “Kemampuanmu menghilangkan kemungkaran tergantung dengan kekuatan imanmu memerangi kemungkaran dalam dirimu. Kelemahanmu tinggal diam di dalam rumah dari merubah kemungkaran adalah karena kelemahan imanmu dalam memerangi kemungkaran yang ada dalam dirimu. Kekokohan dan kekuatan imanlah yang mengokohkan para ulama saat mereka berhadapan dengan pasukan syaitan baik manusia dan jin.”(Al-Fathur Rabani, 30)

“Allahumma arrifnii nafsii…” Ya Allah, kenalkan aku pada diriku…

(Mencari Mutiara di Dasar Hati)

Jangan Pernah Meremehkan Sholat!

Amirul Mukminin, Umar bin Al Khoththob –radhiyallahu ‘anhu- mengatakan,

“Sesungguhnya
di antara perkara terpenting bagi kalian adalah shalat. Barangsiapa
menjaga shalat, berarti dia telah menjaga agamanya. Barangsiapa yang
menyia-nyiakannya, maka untuk amalan lainnya akan lebih disia-siakan
lagi. Tidak ada bagian dalam Islam, bagi orang yang meninggalkan
shalat.“

Imam Ahmad –rahimahullah- juga mengatakan perkataan yang serupa,

“Setiap orang yang meremehkan perkara shalat, berarti telah meremehkan
agamanya. Seseorang memiliki bagian dalam Islam sebanding dengan
penjagaannya terhadap shalat lima waktu. Seseorang yang dikatakan
semangat dalam Islam adalah orang yang betul-betul memperhatikan shalat
lima waktunya. Kenalilah dirimu, wahai Abdullah. Waspadalah! Janganlah
engkau menemui Allah, sedangkan engkau tidak memiliki bagian dalam
Islam. Kadar Islam dalam hatimu, sesuai dengan kadar shalat dalam
hatimu.“

Oleh karena itu, jangan heran jika kita melihat
seseorang yang sering bolong shalatnya, amalan yang lainnya juga lebih
dia sia-siakan, lebih sering berdusta, dan lebih menyia-nyiakan amanat.

Alhamdulillahilladzi bi nimatihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ala nabiyyina Muhammad wa ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Rujukan: Ash Sholah wa Hukmu Taarikiha, Ibnu Qoyyim Al Jauziyah.

***
Mediu-Jogja, 17 Jumadil Ula 1430 H
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Membantu Orang Membayar Hutang

Membantu Orang Membayar Hutang

“Saudaraku,” kata Nasrudin kepada seorang tetangga, “aku sedang mengumpulkan uang untuk membayar utang seorang laki-laki yang amat miskin, yang tidak mampu memenuhi tanggung jawabnya.”
“Sikap yang amat terpuji,” komentar tetangga itu, dan kemudian memberinya sekeping uang.
“Siapakah orang itu?”
“Aku,” kata Nasrudin sambil bergegas pergi. Beberapa minggu kemudian Nasrudin muncul lagi di depan pintu tetangganya itu. “Kupikir, kau mau membicarakan soal utang,” kata sang tetangga yang sekarang tampak sinis.
“Betul demikian.”
“Ada seseorang yang tidak bisa membayar utangnya dan engkau mengumpulkan sumbangan untuknya?”
“Ya. Memang demikian adanya.”
“Lalu engkau sendiri yang meminjam uang itu?”
“Tidak untuk saat ini.”
“Aku senang mendengarnya. Ini ambillah sumbangan ini.”
“Terima kasih…”
“Satu hal, Nasrudin. Apa yang membuatmu begitu bersikap manusiawi terhardap masalah yang khusus ini?”
“Oh, rupanya kamu tahu… akulah yang memberi pinjaman.”

Memupuk Sikap Tangguh

Memupuk Sikap Tangguh

Kita akan salut kepada seorang ibu yang mati-matian mengurus anaknya di tengah kesulitan ekonomi yang menghimpit. Kita akan salut kepada pasukan yang berani mati di medan perang, walau musuh yang dihadapi jumlahnya jauh lebih banyak. Kita akan salut kepada seorang pemimpin yang jujur, sederhana dan berjuang siang malam demi kebaikan orang-orang yang dipimpinnya. Intinya, kita akan salut kepada mereka yang memiliki ketangguhan dalam hidup.

Pertanyaannya, apakah kita termasuk manusia tangguh atau rapuh? Di balik manusia tangguh, biasanya ada banyak manusia rapuh. Dihadapkan pada masalah sepele saja mereka goyah. Lihatlah, ada yang hanya putus cinta, ia bunuh diri. Atau hanya karena tidak disapa tetangga, ia panas dingin dan sakit hati. Maka, mulai sekarang kita harus memiliki keberanian untuk mengevaluasi diri. Apakah kita itu bermental tangguh atau sebaliknya? Kalau sudah mengenal diri, kita harus memiliki program untuk membangun ketangguhan diri.

Saya pernah melihat kontes ketahanan fisik di televisi, yaitu untuk memilih manusia “terkuat” di dunia dari segi fisik. Mereka harus berlari puluhan kilometer, berenang, mengayuh sepeda, mengarungi kubangan lumpur, dan lainnya. Dalam lomba tersebut, terlihat ada orang yang semangatnya kuat, tapi fisiknya lemah. Ada yang semangatnya lemah, tapi fisiknya kuat. Ada yang fisik dan semangatnya lemah. Tapi ada pula yang semangat dan fisiknya sama-sama kuat. Mereka inilah yang akhirnya keluar sebagai pemenang. Ternyata, ketangguhan akan terlihat saat seseorang mengarungi medan ujian. Semakin berat medan ujian, semakin terlihat pula ketangguhannya.

Hidup hakikatnya adalah medan kesulitan sekaligus medan ujian. Separuh hidup kita adalah medan ujian yang berat. Yang akan keluar sebagai pemenang hanyalah mereka yang tangguh, yang mampu melewati setiap kesulitan dengan baik. Dalam Al-Quran, Allah berjanji akan membahagiakan orang-orang sabar dan tangguh mengarungi hidup. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu mereka yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah, dan kepada-Nya kami akan kembali (QS Al Baqarah [2]: 155-156).

Ciri manusia tangguh
Ketangguhan hakiki tidak dilihat dari fisiknya (walau ini penting), tapi dilihat dari keimanannya. Manusia paling tangguh adalah manusia yang paling takwa dan kuat imannya. Boleh jadi tubuh kita lemah, rapuh, bahkan lumpuh, tapi kalau ia memiliki ketangguhan iman, maka kelemahan fisik akan tertutupi.

Orang yang kuat iman, salah satu cirinya adalah tangguh menghadapi cobaan hidup. Kesulitan apapun yang menderanya, tidak sedikit pun ia berpaling dari Allah, malah semakin dekat. Ada lima prinsip yang senantiasa dipegangnya.
Pertama, sadar bahwa kesulitan adalah episode yang harus dijalani. Sehingga ia akan menghadapinya sepenuh hati; tidak ada kamus mundur atau menghindar.
Kedua, yakin bahwa setiap kesulitan sudah tepat ukurannya bagi setiap orang.
Ketiga, yakin bahwa ada banyak hikmah di balik kesulitan.
Keempat, yakin bahwa setiap ujian pasti ada ujungnya.
Kelima, yakin bahwa setiap kesulitan yang disikapi dengan cara terbaik akan mengangkat derajatnya di hadapan Allah. Ada sesuatu yang besar di balik kesulitan yang menghadang. Semakin berat ujian, semakin luar biasa pula ganjaran yang akan diterima.

Sesulit apapun keadaan kita, pilihan terbaik hanya satu: “Kita harus menjadi manusia tangguh”. Jangan putus asa atau menyerah. Bergeraklah terus karena segala sesuatu ada ujungnya. Kesulitan tidak mungkin akan terus mendera kita. Bukankah di balik setiap kesulitan ada dua kemudahan?

( KH Abdullah Gymnastiar )

Apakah Kita Seorang Mukmin ?

“Seseorang bertanya pada Hasan Al Bashri, “Ya Hasan, apakah engkau seorang Mukmin?” Hasan Al Bashri hanya menjawab, “Insya Allah.”

Sejak pertama melangkahkan kaki di sini, setiap kita harusnya tahu, bahwa kita sedang berada dalam proses hijrah kepada Allah swt. kita sedang berjalan dan berlari menuju Allah swt. hanya Allah saja. Kita juga harus mengerti bahwa proses perjalanan itu tidak mudah. Jalan ini ibarat tangga yang menjulang ke atas dan bertingkat-tingkat. Kita menaikinya satu demi satu, setingkat demi setingkat. Hingga ke anak tangga yang terakhir.

Seperti yang dikisahkan tentang seorang Tabi’in bernama Tsabit Al Banani di ujung hayatnya. Ketika itu ia dikelilingi oleh para sahabatnya. Mereka berupaya mentalqinkan Tsabit yang saat itu memasuki fase sakratul maut. Tapi, sungguh mengejutkan karena ketika itu Tsabit mengatakan pada mereka, “Saudaraku, jangan ganggu aku. Aku sedang menuntaskan wiridku yang keenam.” (Shaidul Khatir, 50)

Saudaraku,

Sungguh mulai perjalanan para salafushalih, orang-orang yang menemani mereka bertutur kagum tentang perjalanan hidup mereka. Seorang ahli hadis bernama Ibrahim Al Harabi, Ahmad bin Hambal. Dengarkanlah perkataannya, “Aku telah menemaninya (Imam Ahmad bin Hamdal) selama 20 tahun. Kami melewati musim kemarau dan musim semi, musim panas dan musim dingin. Sementara aku tidak pernah mendapatinya pada suatu hari, kecuali ia dalam kondisi lebih baik dari harinya yang kemarin.” (Manaqib Ahmad, Ibnul Jauzi, 40)

Menjadi lebih baik dari kemarin. Selama bertahun-tahun. Itulah barangkali makna anak-anak tangga kehidupan menuju Allah swt. semakin hari semakin tinggi, semakin mendaki, semakin mendekat ke langit. Betapa indahnya orang yang bisa menerapkan kaidah seperti itu. Ketika tapak-tapak usia membuktikan sebuah perjalanan yang semakin mahal nilainya. Di saat jejak umur semakin lama semakin menambah kemuliaan seseorang. Ketika perguliran hari, bulan dan tahun, menjadi pertambahan kita saat menuai pahala, balasan dari Allah swt. di saat perjalanan waktu, terus menerus menambah kedekatan kita kepada kebahagiaan di akhirat.

Tapi, sedikit sekali di antara kita yang bisa menepati prinsip itu.

Saudaraku,

Dahulu ada sahabat Rasulullah saw, yang kerap menyadari jikalau dirinya lemah dan banyak kekurangan mengisi hari-harinya untuk beramal. Abu Dzar Al Ghifari ra, namanya. Ia adalah tokoh sahabat yang telah mengukir prestasi mengagumkan dalam fase perjuangan sejarah awal dakwah Islam. Tapi ia kerap merasakan kelemahan dan ketidakberdayaan dirinya dalam menunaikan amanah yang Allah swt. berikan kepadanya. Hingga suatu hari, ia datang kepada Rasulullah saw dan berkata, “Ya Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku ternyata lemah dalam melakukan amal-amalku?”.

Begitulah pertanyaannya kepada Rasulullah di tengah prestasi ubudiyah dan perjuangannya yang luar biasa. Abu Dzar mengakui kekurangan dirinya secara terus terang di hadapan Rasualullah saw. Ia tidak menoleh seberapa bagus ibadah dan nilai perjuangannya yang telah ia tunaikan bersama Rasulullah saw. Ia juga tidak segan untuk mengakui kelemahan itu di hadapan orang lain. Ketika itu, Rasulullah saw berpesan kepadanya, “Peliharalah orang lain dari keburukanmu. Itu saja sudah merupakan shadaqah darimu untuk dirimu sendiri.” (HR Muslim)

Saudaraku,

Beramallah dalam hidup ini, tanpa perlu membanding-bandingkan kelebihan amal-amal kita dengan orang lain. Membanding-bandingkan dan mengukur-ukur kelebihan amal-amal kita dengan orang lain, bisa menjerumuskan kita menjadi ujub dan sombong. Padahal Ibnu Harits Al Hafi mendefinisikan kesombongan dan ujub itu dengan ungkapan, “Jika engkau merasakan amalmu banyak sedangkan amal orang selainmu itu sedikit.”

Syaikh Muhammad Ahmad Ar Rasyid, seorang ulama yang banyak menuangkan nasihat-nasihat ruhani dalam banyak bukunya, membuat satu jub judul pendek yang berisi tentang ujub. Judul itu berbunyi “Laa tarfa’ si’rak,” yang artinya, jangan jual mahal. Yang dimaksud Syaikh Muhammad Ahmad Ar Rasyid adalah agar kita tidak cenderung memandang diri sendiri lebih baik dari orang lain. Betapapun secara lahiriah banyak orang yang mendudukan kita seperti itu. Tidak merasa diri lebih berprestasi, lebih banyak berperan, lebih sering beramal, daripada orang lain.

Menyentuh sekali perkataan Fudhail bin Iyadh rahimahullah saat menyinggung masalah ini. Katanya, iblis akan menang atas Bani Adam, hanya dengan menjadikan manusia memiliki satu dari tiga prilaku. “Jika aku sudah dapat satu saja, aku tidak akan meminta yang lain.” Begitu kata iblis seperti diungkapkan oleh Fudhail. Tiga prilaku itu adalah: Ujubnya seseorang terhadap dirinya, atau menganggap banyak amal yang telah dilakukannya, atau melupakan dosa-dosanya.” Itulah pangkal dosa menurut Fudhail.

Konon ada perkataan Nabiyyulah Isa as yang menyebutkan, “Berapa banyak lentera yang cahayanya mati tertiup angin. Berapa banyak ibadah yang pahalanya rusak oleh kesombongan. Amal sholeh adalah cahaya. Dan cahaya itu bisa padam oleh angin ujub dan kesombongan.

Saudaraku,

Semoga cahaya amal shalih kita tidak mati oleh perasaan kita sendiri. Semoga keimanan kita tidak redup oleh kebanggaan kita sekadar telah mendapatkan penilaian dan pandangan orang yang baik tentang kita.

Dahulu, Hasan Al Bashri rahimahullah tidak merasa yakin untuk mengatakan bahwa dirinya pasti beriman, lantaran kekhawatirannya bila Allah memandang amal-amal yang ia lakukan ternyata tidak sesuai dengan tuntutan keimanannya. Ia pernah ditanya, “Ya Hasan, apakah engkau seorang Mukmin?” Hasan Al Bashri hanya mejawab “Insya Allah”. Penanya terkejut dengan jawaban Hasan al Bashri itu. “Kenapa engkau menajwab seperti itu?” ulama yang terkenal zuhud di zaman generasi Tabi’in itu lalu mengatakan, “Aku takut jika aku katakan, ‘Ya aku Mukmin’, tapi Allah mengatakan ‘engkau bohong’, karena itulah aku katakana Insya Allah. Aku tidak merasa aman jika suatu ketika Allah mendapatiku melakukan apa yang Ia benci, lalu Ia murka padaku dan mengatakan, “Pergilah aku tidak menerima amal-amalmu.”

Saudaraku,

Apakah kita seorang Mukmin?

Mencari Mutiara di Dasar Hati seri 1 oleh Muhammad Nursani