Wabah Jam Karet

 

Orang yang disiplin terhadap waktu, malah akan terlihat sangat bodoh dan aneh jika membuat janji dengan orang yang memakai jam karet”

            Sejak kecil, kedua orangtuaku terbiasa bersikap sangat ketat terhadap waktu. Bahkan menurutku kadang terlalu berlebihan dan terkesan paranoid.

            Masa acara mulai jam 10 aku sudah harus siap- siap dari jam 6? Dan aku harus berangkat jam 8?

            Mereka terus mengatakan bahwa lebih baik datang lebih awal daripada datang terlambat. Dan mereka selalu marah jika aku terlambat datang ke sebuah acara, atau jika diajak oleh mereka ke suatu tempat, dan aku belum siap pada waktunya.

Disiplin waktu seperti itu semakin menjadi ketika aku mengikuti acara SSG di Daarut Tauhiid Bandung.

Aku mengalami pengalaman yang berkesan hingga hari ini. Bukan kesan yang baik sih. Karena aku dihukum langsung oleh Aa Gym

Aku dan kedua kawanku terlambat datang 10 menit, karena berbagai alasan. Kalau aku sih, alasannya karena tidak keburu menaiki bus Damri pada waktu yang biasanya, karena sudah terlalu penuh sesak. Dua temanku yang lain tidak jauh berbeda, kalau tidak macet ya terlambat bangun.

Ketika itu kami dihukum push up sesuai dengan keterlambatan kami. Dan ternyata kami bukan yang paling terlambat, ada yang lebih parah, terlambat hingga setengah jam.

Dan masih belum selesai. Santri yang datang terlambat diberi hukuman tambahan yang sama: memindahkan puluhan genteng yang ditumpuk ke area di dekat tempat kami biasa latihan.

Sebagian dari kami ada yang tidak terima, masa hukuman yang telat 5 menit sama dengan hukuman yang telat setengah jam?

            “Terlambat setengah jam itu terlambat, terlambat lima belas menit juga namanya terlambat, terlambat lima menit juga terlambat!” Kata Aa Gym waktu itu berapi- api.

            Sejak itulah aku tahu dan memahami salah satu konsep dasar yang sangat penting dalam kehidupan.

            Disiplin waktu.

            Menunda acara yang sudah dijadwalkan hanya karena alasan menunggu yang belum datang/terlambat, sama saja dengan tidak menghormati orang- orang yang sudah datang tepat waktu.

            Sudah menjadi tabiat umum masyarakat Indonesia di mana pun untuk datang In Time, bukan On Time.

            Ternyata kebiasaan memakai jam karet ini masih terbawa walau pun sudah tinggal di negeri orang.

            Tak terhitung berapa kali pengalaman buruk yang kualami di Qatar, yang berkaitan dengan jam karet ini.

            Yang paling “berkesan” sih ketika ada acara arisan rutin yang diadakan di daerah Corniche (daerah garis pantai skyline Doha, tempat favorit orang- orang yang tinggal di sana untuk berkumpul). Aku adalah salah satu pemenang bulan sebelumnya, sehingga aku otomatis jadi penyelenggara acara pertemuan bulan berikutnya.

            Di email undangan yang dikirim, sangat jelas tercantum bahwa acara arisan akan diadakan pada jam 14:00 waktu Qatar.

            Sebagai penyelenggara, sudah seharusnya aku datang lebih awal dari orang lain.

            Jadi, jam 13:30 tepat, aku sudah tiba di tempat yang sudah disepakati.

            Ternyata tidak ada satu orang pun yang sudah datang.

            Kucoba untuk menghubungi pemenang arisan yang lain.

            “Cepet amat datengnya, kan masih jam setengah dua?” Dia malah seperti orang kebingungan.

            “Tampil amat nih, jam segini sudah dateng?” Jawab teman lain yang juga kuhubungi.

            “Halaah..kaya ngga tahu orang Indonesia aja…jam 14:00 itu kan buat ancer- ancer doang kali. Panitia tahu kalau orang- orang bakal dateng telat. Paling mereka bakal dateng jam tigaan..!” Kata temanku yang lain sambil terkekeh- kekeh.

            Haddeeuuuh….Cappe Deeh..

            “Kenapa jadi gua yang keliatan bodo ya?” Omelku dalam hati.

            Ketika jam dua siang tiba pun, ternyata belum ada satu pun orang yang datang.

            Aku masih berputar- putar di tempat parkiran. Dan ketika ada tempat parkir yang kosong, langsung saja kuparkir mobilku, sambil tetap  melihat situasi, siapa tahu ada yang datang.

            Ternyata, setelah hampir dua jam berlalu dari semenjak aku datang, dan jam sudah menunjukkan jam tiga sore, masih saja ada yang belum datang. Jangankan peserta, panitia yang lain saja belum ada yang datang. Istriku sudah kesal menunggu di dalam mobil. Kami tidak bisa meninggalkan mobil, karena takut jika ada panitia lain yang datang dan kami tidak bisa membantu mereka untuk membongkar makanan dan peralatan lainnya.

            Akhirnya ada satu dua orang panitia yang datang.  Itu pun waktu sudah menunjukkan setengah empat. Walau pun kesal, tapi aku sedikit lega juga karena akhirnya bisa keluar dari mobil.

            “Udah lama nunggu??” Tanya salah seorang dari mereka dengan wajah tanpa merasa bersalah.

            “Engga, baru dua jam..!” Kataku dengan sedikit ketus.

            Ketika semua makanan sudah tersaji, dan tempat pun sudah kami siapkan untuk acara arisan yang dijadwalkan jam 14:00 itu, ternyata masih saja belum ada yang datang.

            Akhirnya kami meminta ijin kepada panitia yang lain untuk sholat Ashar dahulu.

            Sepulang dari sholat Ashar, yang menghabiskan waktu kira- kira lima belas menit itu, ternyata masih belum ada yang datang.

            Kami masih harus menunggu.

            Dan akhirnya, para teman- teman peserta arisan mulai berdatangan jam empat sore. Padahal jelas- jelas acara arisan hari itu dijadwalkan pada jam dua siang. Molor dua jam. Tanpa rasa bersalah sedikit pun.

            Telatnya super kompak.

            Yang lebih parah, bahkan ada peserta yang datang jam lima!

            Ketika aku komplain kepada beberapa orang di antara mereka, jawaban dari mereka adalah kalimat sakti itu:

            “Kamu tuh kaya ngga tau orang Indonesia aaajjaa..!”

             

Iklan
Tak Berkategori

Déjà vu Galau

Déjà vu Galau

 “Suasana hati seringkali mempengaruhi kesehatan badan kita

Oleh: Diday Tea

            Entah kenapa, walau pun hari itu sangat melelahkan bagiku, karena aku harus menangani pekerjaan teman- temanku yang sedang cuti lebaran, tiba- tiba aku ingin sekali pergi ke warnet.

Saking sibuknya, hampir satu minggu aku tidak sempat melihat isi inbox-ku.

            Ketika melihat angka yang tertera di dalam surat penawaran kerja (job offer) yang baru saja kubuka dari email, otakku secara otomatis langsung merubahnya ke dalam rupiah.

            Aku langsung tersungkur bersujud syukur di atas lantai warnet itu. Entah berapa lama aku bersimpuh. Entah berapa kali bibirku bergetar beryukur kepada Yang Maha Kaya di antara tangis kebahagiaanku saat itu. Mimpiku yang nyaris mustahil, akhirnya menjadi kenyataan.

Aku akan bekerja di luar negeri!

Kemudian, tanpa ragu dan tanpa berpikir panjang lagi, segera saja kububuhkan tanda tanganku di atas surat penawaran kerja itu. Bagaimana tidak, gaji yang akan kuterima itu hampir sama, bahkan mungkin lebih besar dari General Manager di tempatku bekerja. Belum lagi fasilitas dan embel- embel penghasilan lain yang akan kuterima. Sesuatu banget lah, kalau dibandingkan dengan gajiku saat itu.

            Tanpa kutunda- tunda, seketika itu juga aku kirimkan kembali surat yang sudah ditandatangani tersebut kepada agen penyalur tenaga kerja yang sudah mengurus proses perekrutan sejak awal.

            Keluar dari warnet, tubuh kurusku yang tadinya kelelahan luar biasa, tiba- tiba terasa enteng. Kakiku yang tadinya terasa sungguh berat walaupun sekedar untuk dibawa turun dari atas mobil jemputan, tiba- tiba terasa sangat sangat ringan.

            Wajahku yang tadinya kusam, kucel, kumal, dan kuleuheu (bahasa Sunda, digunakan untuk mendefinisikan wajah yang dekil), langsung terlihat bersih dan bersinar, dihiasi dengan senyuman ceria, seperti pelang terbalik yang terbit setelah hujan lebat. Kalau ini sih, karena memang sebelum keluar, aku cuci muka dulu dengan sabun pembersih wajah. Hehehe.

            Pokoknya, hari- hari setelah kuterima surat itu, kujalani hidupku dengan penuh keceriaan dan kegembiraan.

            Senyum super lebar, selalu menghiasi wajahku.

            Tapi semua itu hanya bertahan beberapa minggu saja.

            Beberapa hari setelah aku kirim surat penawaran yang sudah kutandatangani, ada balasan dari agen, yang menyebutkan bahwa aku tinggal menunggu visa. Setelah visa sudah jadi, baru mereka akan mengirimkan tiket penerbangan dari Jakarta ke Doha.

            Setelah lebih dari sebulan menunggu, ternyata visa yang kutunggu itu tidak kunjung datang. Hampir setiap hari kuhabiskan puluhan ribu rupiah di warnet, hanya untuk memeriksa email- email yang datang.

            Hatiku mulai galau.

            “Jangan- jangan ngga jadi nih!”

            Hatiku yang sedang galau dalam penantian itu menjadi lebih galau, ketika aku mendengar desas- desus bahwa ada beberapa kasus yang sama. Orang yang sudah menerima job offer ternyata belum tentu seratus persen akan direkrut.

            “Waddduuh…gaawwwwaat nih!”

            Sejak kudengar kabar seperti itu badanku langsung lemas dan lunglai. Bagaimana tidak, aku membayangkan bagaimana kelanjutan hidupku jika sampai aku tidak jadi pergi ke Qatar.

            Hutangku ke Bank sudah menumpuk, kuliahku sudah tidak terbayar, usahaku pun sudah kembang kempis.

            Hari- hariku yang tadinya penuh kegembiraan dan keceriaan, berubah drastis menjadi hari- hari galau. Hari- hari murung di dalam penantian yang tidak jelas.

            Selera makanku mulai hilang. Mungkin, sebulan sejak masa penantian itu, aku hanya makan sekali dalam satu hari. Itu pun aku harus memaksakan diri, karena takut terjadi apa- apa pada kesehatan tubuhku.

            Dan akhirnya ,yang kutakutkan pun terjadi.

            Aku jatuh sakit.

            Penyakit maagku yang tadinya kusangka sudah sembuh total, kali ini kambuh lagi.

            Hampir setiap hari penyakit itu kambuh. Telat makan sedikit saja, rasa pedih di lambungku langsung menyerang hebat.

            Pada puncaknya, aku tidak kuat lagi dan harus berobat ke klinik berkali- kali ketika maagku kambuh. Dokter di klinik itu akhirnya membuat surat rujukan agar aku dirawat saja di rumah sakit, agar penyembuhannya optimal. Dia beralasan, dengan kondisiku yang tinggal sebatang kara di rumah kontrakan, pasti aku tidak akan bisa makan teratur. Tidak ada yang mengingatkanku untuk minum obat.

Dan akhirnya aku pun harus merelakan tubuhku terbaring lemah di rumah sakit. Dan untuk pertama kalinya seumur hidup, akhirnya aku merasakan juga jarum infus menusuk urat di tanganku.

Ternyata diinfus itu tidak enak dan sakit.

            Tapi sampai sekarang keluargaku tidak pernah tahu, bahwa aku pernah dirawat gara- gara penyakit maag akut. Aku sengaja tidak memberitahu mereka, agar mereka tidak khawatir.

            Hampir semua tetanggaku dan teman- teman kerjaku yang datang menengok mengetahui bahwa penyebab aku sakit itu adalah karena aku terlalu memikirkan masalah visa kerjaku yang tidak kunjung datang.

            Mereka semua menenangkan dan menyemangatiku untuk tidak terlalu memikirkan visa itu, karena toh nanti juga akan datang. Dan kasus pada orang- orang yang sudah menerima job offer, tapi akhirnya tidak jadi direkrut pun, itu hanya terjadi pada beberapa orang, tidak terlalu banyak terjadi.

            Setelah tujuh hari dirawat, dokter spesialis penyakit dalam di rumah sakit itu akhirnya memperbolehkan aku untuk pulang.

            Walau pun hatiku masih galau, tapi Alhamdulillah kondisi maagku sudah mulai membaik.

            Yang menyemangatiku waktu itu adalah keinginanku untuk sehat kembali, dan ketakutanku jika ternyata ketika visa sudah kuterima, dan aku malah tidak jadi berangkat karena penyakit ini.

            Karena setelah keluar dari rumah sakit, ada isu baru.

            Isu bahwa ada beberapa kasus juga, orang  yang sudah menerima visa, dan sudah menginjakkan kaki di Qatar, ternyata dipulangkan lagi karena alasan kesehatan. Katanya sih  rumah sakit di Qatar jauh lebih canggih, sehingga bisa mendeteksi penyakit yang tidak dapat terdeteksi oleh  rumah sakit/klinik kesehatan di Indonesia.

            Aku berusaha untuk hidup “normal”, kembali kepada rutinitas pekerjaan dan kehidupanku sebelum menerima job offer itu. Walau pun tentunya aku masih berharap dan menunggu visa kerja itu datang. Karena pada waktu itu, hanya itulah harapanku satu- satunya agar bisa “bertahan hidup”.

            Aku ke warnet mungkin hanya satu minggu sekali, itu pun jika aku ada waktu dan tidak harus bekerja lembur di akhir minggu.

            Tepat sebulan aku keluar dari rumah sakit, aku sudah bisa menjalani hidupku seperti biasa lagi. Tapi pikiran dan penantianku kepada visa kerjaku masih saja membebani pikiranku, walau pun tidak separah sebelum aku dirawat.

             Aku sudah mulai datang lagi ke kampus.

            Aku sudah mulai berjualan pin dan bros Islami lagi ke toko- toko buku di Cilegon.

            Seminggu kemudian, aku akhirnya pergi ke warnet. Itu pun karena berniat untuk membuat laporan keuangan usahaku dan mengirimkan email ke supllier, untuk memesan barang jualanku.

            Sama sekali tidak ada niat untuk melihat apakah visaku sudah jadi atau belum. Dan lagian,  kulihat ada ratusan unread messages di dalam inboxku.

            Subhanalloh, ternyata tak kuduga dan kusangka- sangka, di antara ratusan email yang kubaca, ada terselip satu email dari agen penyalur tenaga kerja itu.

            “Visa”, hanya satu kata yang menjadi judul email tersebut.

            Alhamdulillah, dan ternyata benar saja, visa yang sudah lama kunanti itu akhirnya tiba juga!

            Selama beberapa menit, hampir tak berkedip mataku memandangi gambar scan copy dari secarik kertas yang berbahasa Arab itu. Hanya namaku saja yang tertera di dalam huruf latin.

            Seperti Déjà vu, keceriaan dan kegembiraan yang kurasakan ketika melihat job offer  itu terulang kembali.

            Aku bersimpuh sujud syukur lagi kepada Allah Yang Maha Kaya. Air mataku mengalir deras di antara kedua bibirku yang tak henti- henti bertasbih dan bersyukur. Bersyukur karena penantian yang sebenarnya akhirnya berakhir juga. Bersyukur karena akhirnya aku akan bisa menggapai mimpi- mimpi dan rencana- rencana terbesar di dalam hidupku.

            Malam itu juga aku langsung membuat surat pengunduran diri. Sambil tersenyum- senyum sendiri, dan celingak- celinguk salting di dalam petak kecil warnet itu, kurancang surat perpisahan yang pasti akan mengejutkan semua orang di tempat kerjaku besok.

            Hujan gerimis menyambut aku yang  keluar dari warnet dengan perasaan seperti bintang iklan obat flu dan pilek. Orang yang bisa bernapas lega karena terbebas dari lilitan kencang tambang di sekujur tubuhnya dan menyisakan hanya kelegaan dan kesegaran yang luar biasa. Gerahnya kota Cilegon, kali ini hilang disapu oleh kesejukan sang gerimis.

            Dan tidak pake lama juga, besoknya aku membuat geger di departemenku, karena mengajukan surat pengunduran diri, tepat sehari setelah departemen kami mengadakan acara selamat datang untuk karyawan baru. Hehehe.

            Dua bulan kemudian , akhirnya aku bisa menginjakkan kaki di Qatar dan bekerja dengan tenang, bahagia, ceria, dan damai di tempatku bekerja sekarang.

            Alhamdulillah, sampai sekarang aku tidak pernah lagi mengalami sakit yang disebabkan oleh karena berlarut- larut memikirkan suatu masalah. Paling banter pilek atau sakit leher karena salah posisi tidur saja.

Haahh….leganyaaa…! 

Tak Berkategori

Usus Buntu Gadungan

 

“Kondisi tubuh seringkali bergantung kepada suasana hati. Hati yang galau akan membuat tubuh menimbulkan penyakit yang tidak jelas.

Diagnosa Awal

Baru saja kurebahkan tubuh kerempengku yang sudah kelelahan sepulang dari shift malam itu di atas kasur palembang berwarna biru yang sudah lepek , ketika tiba- tiba perutku sebelah kanan bawah terasa sakit luar biasa. Sakit dan pedih seperti ada puluhan jarum yang menusuk- nusuk. Seperti ada yang meregangkan otot- otot di dalam sana.

Sakit itu tidak seperti biasanya. Kalau hanya mules dan pedih di ulu hati sih, itu sudah biasa. Dengan statusku sebagai anak kos, tentu saja makan sering tidak teratur.

Ketika sakit ini tiba, aku sedikit khawatir, karena aku pernah membaca bahwa sakit perut kanan bawah itu mungkin adalah gejala dari infeksi usus buntu.

Gawat..! Aku harus segera ke klinik nih!”

Sambil menahan sakit, kupaksa tubuhku untuk berdiri. Dan kubawa tubuh ini menuju ke pangkalan angkot terdekat.

Untungnya tidak lama kemudian sudah ada angkot berwarna Ungu yang selalu setia mengantarku ke mana pun tujuanku di Cilegon itu yang menghampiri.

Setibanya di klinik itu, aku langsung mendaftar ke dokter jaga, karena di situ tidak ada dokter spesialis penyakit dalam.

“Selamat pagi Dokter!” Sapaku sambil meringis dan memegang perut dengan kedua tangan, dan agak sedikit membungkuk.

“Selamat pagi! Sini langsung berbaring!” Dokter muda yang mengenakan jilbab berwarna pink itu langsung terlihat khawatir ketika melihatku meringis kesakitan.

“Kenapa perutnya?’ Tanyanya.

“Tidak tahu Dok, tadi tiba- tiba perut saya, bagian kanan bawah terasa sakit banget, pedih!” Kataku sambil membaringkan badanku di atas ranjang pemeriksaan.

Ibu Dokter tidak menjawab. Dia hanya mengambil stetoskop dan alat pengukur tekanan darah, lalu melakukan prosedur rutin.

“Tolong buka kausnya!” Pinta Ibu Dokter.

Setelah itu dia langsung menekan perutku, tepat di bagian yang sakit.

“Ahhh…..!” Aku langsung bangkit, dan hampir terduduk.

“Maaf. Sakit banget ya?” Tanya Ibu Dokter.

“Saya harus memeriksa dengan cara seperti ini. Karena saya takutkan kamu terkena infeksi usus buntu” Katanya lagi.

“Tahan ya!” Katanya sambil menekan lagi perutku.

“Ketika ditekan sakit?” Tanyanya lagi.

“Sakit banget…” Jawabku lemas.

“Ketika tekanannya dilepas, sakit juga?” Dia bertanya lagi.

“Iya Dok, sakit juga..” Kujawab lagi.

Kali ini muka Ibu Dokter mulai terlihat khawatir.

“Saya cek satu parameter lagi ya!” Katanya sambil mengangkat kaki kananku, sampai paha kananku hampir menempel ke perutku.

“Ahhhh….!” Aku hampir berteriak, karena sakit di perutku hampir sama dengan ketika perutku ditekan.

“Waduh, gawat Pak! Ini positif usus buntu!” Katanya dengan sedikit panik.

“Langsung saya rujuk ke rumah sakit ya! Ini harus segera dioperasi, kalau tidak bisa berakibat fatal!” Katanya dengan sedikit panik, dan sambil terburu- buru menulis surat rujukan ke rumah sakit terbesar di kota Cilegon.

Aku tidak bisa berkata- kata dan hanya menatap kosong langit- langit ruangan periksa.

“Ini suratnya, silahkan langsung saja ke rumah sakit ya! Ingat, ini ini harus dioperasi sekarang juga, kalau tidak bisa gawat!” Kata Ibu Dokter itu, masih dengan raut muka yang panik dan cemas.

“Iya Dok, makasih banyak ya..” Jawabku dengan lemas dan melangkah gontai ke luar dari ruangan periksa itu.

Untuk beberapa saat, aku biarkan tubuhku mematung di atas kursi halte di depan klinik. Tatapanku kosong menatap kertas rekomendasi rawat inap dari dokter di kliniktadi. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.

“Waduuh, gawat ini mah euy! Aku kena usus buntu..!” Umpatku dalam hati sambil tetap meringis menahan pedih di perutku yang tak kunjung reda.

Yang ada di pikiranku saat itu hanya Ibuku. Ibuku adalah seorang perawat di sebuah rumah sakit swasta di Bandung. Minimal dia bisa bertanya kepada dokter di sana. Secepat kilat kupijit nomor hape ibu.

Second Opinion

            Alhamdulillah, ternyata keputusanku untuk menelepon ibuku sangat tepat. Ternyata bukannya langsung menyuruhku untuk pergi ke rumah sakit untuk dioperasi sesuai rujukan dokter di klinik, aku malah disuruh untuk mencari second opinion. Ibuku menyuruhku untuk berobat ke dokter spesialis penyakit dalam.

Akhirnya aku tetap pergi ke rumah sakit.

Anehnya, rasa pedih di dalam perutku agak berkurang. Sepanjang perjalanan di dalam angkot berwarna Ungu itu, rasa sakitku sedikit demi sedikit mulai menghilang.

Sesampainya di rumah sakit, langsung saja aku mendaftar di bagian spesialis penyakit dalam.

Tidak pake lama, giliranku pun tiba.

Aku terangkan saja pada dokter spesialis itu kejadian tadi pagi dan termasuk rekomendasi untuk “operasi dengan segera” dari sang dokter di klinik dekat rumah kontrakanku.

Dokter yang perawakannya tidak jauh beda seperti dokter selebritis spesialis kandungan, dokter Boyke itu, melakukan prosedur pemeriksaan yang sama. Dari tes nyeri tekan dan nyeri lepas, sampai lutut kananku yang diangkat ke arah perut. Alhamdulillah, pada saat pemeriksaan kali ini, rasa sakit itu sudah jauh berkurang. Tapi tetap saja masih ada sakit dan pedih.

Walau pun begitu, tapi aku tetap harus menjalani prosedur pemeriksaan yang lengkap, untuk memastikan apa penyebab rasa nyeri yang melanda begitu hebat di dalam perutku itu.

            Aku harus menjalani semua tes laboratorium, dari urine, darah hingga feses.

Kata pak Dokter, hasilnya akan bisa diketahui setelah dua hari. Tapi, hari itu juga aku harus menjalani tes yang lain, tes Ultrasonografi (USG). Ya! Anda tidak salah baca.Aku harus menjalani USG, layaknya ibu- ibu hamil saja.

Dan benar saja, ketika antri di bagian USG, aku mengantri bersamaan dengan para ibu- ibu hamil. Hanya aku saja pria yang duduk di situ.

Walau pun aku memasang pose yang sama dengan ibu- ibu itu-duduk menyender di kursi, muka menunduk, dan tangan sesekali mengelus- ngelus perut-tapi tetap saja, aku tetap terlihat mencolok di dalam antrian itu. Ibu- ibu hamil itu malah cekikikan dan berbisik- bisik tidak jelas melihatku yang berwajah muram, sambil mengusap- ngusap perutku yang sebenarnya sudah tidak terasa sakit lagi.

Hasil USG pun ternyata tidak menunjukkan masalah apa- apa.

Dan setelah semua hasil selesai pun, dokter belum bisa memutuskan apa yang menyebabkan rasa sakit di perutku. Walau pun pada akhirnya dia mengambil kesimpulan, itu pun hanya sebatas kemungkinan, bahwa (mungking) ada otot di dalam perutku yang robek.

Kutinggalkan rumah sakit dengan kepala dipenuhi keraguan.

“Otot yang robek..?” Ah, benar- benar tidak jelas.

            Malam itu juga, kuputuskan untuk pulang ke Bandung.

Dr Li

Sebelum subuh, aku sudah tiba di terminal Leuwipanjang dan di sambut oleh sejuknya udara kota Bandung ketika pintu bis terbuka dengan perlahan. Setiap kali udara sejuk kuhela masuk ke dalam paru- paruku, badanku terasa semakin segar.

Setelah beristirahat sebentar, sholat subuh dan sarapan bubur ayam idolaku di kampung halaman, Ibu segera mengajakku ke rumah sakit.

Tidak lupa kubawa juga sebundel hasil Xray, USG, Hasil tes darah, urine dan feses kubawa dengan untuk diperlihatkan ke dokter Li.

Dokter Li ini adalah dokter yang sudah merawatku sejak bayi. Tongkrongannya sih menurutku lebih mirip ahli kungfu. Tubuh yang tinggi besar, tatapan mata yang tajam, serta sepasang tangan yang kokoh tidak menampakkan kalau dia sudah berumur lebih dari 80 tahun (kata ibuku sih). Tadinya sih aku tidak percaya, karena kulihat dia setiap tahun selalu mengikuti acara lomba lari 10 kilometer yang diadakan oleh rumah sakit tempat ibuku bekerja. Dan tidak hanya sekedar berpartisipasi, dokter Li betul- betul berlomba dengan peserta yang lain.

“Aa, ayo, itu sudah dipanggil sama dokter Li!” Tak sampai lima menit, aku sudah dipanggil oleh ibu ke dalam ruangan dokter Li.

Ketika aku dan Ibu memasuki ruangan, kulihat dokter Li sedang membolak- balik lembar demi lembar hasil testku di rumah sakit Cilegon.

Semoga tidak ada yang serius..” Gumamku perlahan.

“Tolong suruh anak kamu tiduran di ranjang periksa..!” Kata dokter Li sambil menyimpan setumpuk kertas dan hasil X-Ray dan USGku di atas meja kerjanya yang mungil.

Tak berapa lama, dokter Li menghampiriku dan memegang pergelangan tanganku. Persis seperti adegan ketika Wong Fei Hung memeriksa denyut nadi muridnya yang cedera. Dan ternyata hanya itu saja yang dia lakukan.

Aku heran.

Kali ini dia sama sekali tidak menggunakan stetoskopnya, apalagi melakukan pemeriksaan gejala usus buntu seperti dokter di Cilegon.

Seperti biasanya, dokter Li hampir tidak pernah bicara secara langsung kepadaku, selalu saja dia berbicara kepada ibuku.

“Gimana Dok, anak saya kenapa?” Tanya Ibuku penasaran.

Dokter Li, tidak menjawab. Hanya matanya saja yang menatapku tajam, tapi segurat senyum tiba- tiba terbit di ujung bibirnya, walau pun tidak sampai bisa mengangkat pipinya yang sudah keriput dimakan umur.

Neng, anak maneh mah lain gering apendisitis, mun henteu keur patah hati, pasti keur hayang kawin..!” Katanya dengan kencang, sambil tiba- tiba tertawa terkekeh- kekeh dan setengah melemparkan tumpukan dokumen hasil testku di Cilegon ke arah aku dan ibuku.

(Neng, anak kamu itu bukannya sakit apendisitis/usus buntu, kalau ngga lagi patah hati, pasti dia lagi pengen kawin..!)

Hadeuuh, dari mana dokter Li tahu kalau sejak seminggu yang lalu aku sedang galau karena gadis yang kucintai dinikahi sama orang lain ya?

Satria Bergitar

Image

“Seringkali, keinginan untuk sekedar dipuji oleh orang lain membuat kita tidak lagi berhitung dengan logika dan berpikir dengan menggunakan akal sehat” 

Jaman SMP dahulu, cowok yang dianggap paling keren sedunia adalah cowok yang bisa bermain gitar. Sehingga bisa mengiringi cewek- cewek itu untuk bernyanyi. Sangat dimaklum sekali , karena cewek- cewek SMP umur belasan tahun masih sedang masanya menggemari artis, penyanyi, yang ganteng, cantik, dan bersuara bagus. Ah, tapi sampai sekarang pun rasanya para ababil (abg labil) itu masih seperti itu. Hanya berbeda tempat dan waktu saja.

Pada saat itu lagu yang sedang in adalah lagunya Gigi yang berjudul “Janji”.

Saat ini ku mencoba 

Lingkari hari

Dengan janji

Untuk
wujudkan

Semua impian

Yang slalu menggoda

Slalu menggoda haaa..

 

Hampir setiap hari di jam istirahat antar mata pelajaran, dan jam pulang, ketika aku berjalan melewati belasan kelas di lorong sekolahku itu, hanya genjrengan gitar dan nyanyian si “Janji” ini yang kudengar.

“Modus Operandi”-nya selalu sama. Cowok bergitar dikelilingi beberapa orang lawan jenisnya dan kadang diiringi oleh gitaris lain.

Untuk diriku yang belum pernah menjadi pusat perhatian seperti cowok bergitar itu, hal tersebut hanya ada dalam mimpi dan khayalan tingkat tinggi saja. Hampir mustahil itu akan terjadi.

Pada suatu hari, ketika aku sedang bergegas berjalan melewati lorong kelas anak- anak yang baru masuk, ada salah satu adik kelas yang kalau dilihat, menimbulkan semacam perasaan aneh yang tiba- tiba merambat di sekujur tubuhku. Seperti perasaan nyetrum- nyetrum gitu deh. Yang kata Si Boim, dari mata turun ke hati. Mungkin itu ya, yang namanya cinta Babon. Kalau cinta monyet kan sudah terlalu umum. Cinta Babon ini versiku sendiri, untuk menggambarkan cinta monyet yang masih sangat mentah.

Aku lihat ternyata dia juga suka bergabung di kumpulan “genjreng- genjreng” itu.

Naluri puber remajaku ternyata mulai menyala. Naluri yang mendorong keinginan untuk  diperhatikan oleh lawan jenis.

Kayanya bakal keren banget, kalau misalnya aku tiba- tiba bawa gitar dan bisa duduk di teras depan kelas, lalu mengiringi si Neng Geulis itu ya?” Aku berbicara sendirian dalam hati sambil cengar- cengir ngga jelas.

Pokoknya sepanjang perjalanan dari sekolah ke rumah, aku tidak berhenti mengatur siasat, strategi dan SOP yang akan aku siapkan agar rencanaku bisa berjalan mulus.

Mencari gitar. Belajar main gitar, minimal lagunya Gigi yang judulnya Janji itu. Bawa  ke sekolah. Keluar pas jam istirahat. Pura- pura mau ke arah kantin, padahal berhenti di depan teras kelas anak si Neng Geulis itu. Pasang aksi nyetel gitar, dan genjreng- genjreng deh lagu Janji buat umpan. Dan si Neng Geulis dan teman- temannya pasti akan sukses terpesona oleh kelihaianku. “Hihihi, passti keren banget…!” Lagi- lagi aku melamun sambil cengar-cengir sendirian.

Langkah pertama, mencari gitar.

Ternyata ada salah satu tetanggaku yang mempunyai gitar yang sangat bagus. Berwarna keperakan, dan dengan bentuk yang tidak biasa seperti gitar biasa pada umumnya yang berwarna coklat muda, atau tua dan berbentuk Spanish Guitar. Salah satu ujungnya meruncing, berbentuk seperti tanduk. Dan yang paling keren, gitar ini dicat berwarna perak mengkilat, yang akan terlihat sangat mengkilat jika diterpa sinar matahari.

Karena dia teman mengajiku di mesjid, dia langsung memberikan gitar itu setelah kujawab pertanyaannya.

“Emang kamu bisa main gitar?” Tanya temanku itu.

“Ya engga lah, justru ini minjem gitar kamu ini ya mau mulai belajar” Jawabku sambil berpose dengan sok keren seperti anggota The Eagles yang sedang membawakan Hotel California.

“Ya udah atuh bawa aja gitar itu, tapi jangan lama- lama ya! Takutnya mau dipake tuh!” Jawab dia lagi.

Aku melangkah keluar dengan rasa bangga dan pede luar biasa. Padahal sampai detik itu aku belum bisa sedikit pun bermain gitar.

Dasar ababil!

Hari demi hari kuhabiskan waktuku berjam- jam hanya untuk mempelajari cord dan genjrengan lagu Janji. Seringkali aku ditegur oleh kedua orang tua dan adikku karena suara gitar yang terlalu bising.

Ah, ternyata tidak semudah yang aku duga.

Setelah hampir dua minggu belajar, belum ada perkembangan yang berarti.

Ternyata menghafal cord saja tidak cukup. Yang paling sulit belajar gitar itu ya cara menggenjreng dan memetiknya.

Akhirnya lagu itu malah terdengar lucu.

Genjrengan gitar dan syairnya sama sekali tidak sinkron dan tentu saja sama sekali jauh dari penyanyi aslinya.

Setelah seminggu lagi berjuang untuk mempelajari lagu tersebut, akhirnya aku menyerah. Tapi kali ini agak mendingan, setidaknya bait pertama agak mendekati lagu Janji yang aslinya.

Hari Senin, hari pertama sekolah, adalah hari yang kuputuskan untuk mengkerenkan diriku di hadapan para adik- adik kelas, terutama si Neng Geulis, yang sampai detik itu pun aku tidak tahu namanya.

Dengan berjalan seperti satria berkuda yang sedang membawa tombak untuk berperang, siang itu aku berangkat ke sekolah.

Entah kenapa, sepanjang jalan aku merasa seperti semua orang yang kutemui di perjalanan seolah seperti memperhatikanku, mengagumiku. Bagaimana tidak, gitar itu seolah berkilauan diterpa oleh teriknya sinar matahari. Dari jauh pun orang akan bisa melihat kilauan gitar pinjaman itu.

Dan benar saja. Persis seperti yang kubayangkan.

Baru saja melangkahkan kaki di depan gerbang sekolah, sudah ada beberapa teman satu kelasku yang menghampiriku karena terkagum- kagum oleh gitar yang kubawa.

Begitu tiba di kelas, langsung kusimpan gitar itu di bawah meja belajar dengan sedikit terburu- buru agar tidak menjadi pusat perhatian lagi seperti di depan gerbang tadi.

Pokoknya, dua mata pelajaran pertama kujalani dengan sama sekali tidak fokus.

Aku hanya fokus pada gitar dan lagu yang akan kunyanyikan di depan anak- anak kelas baru nanti.

Begitu bel istirahat pergantian antar mata pelajaran itu berhenti, dengan sigap aku genggam leher gitar itu dan aku bergegas menuju arah kantin, agar segera bisa duduk di teras depan kelas si Neng Geulis yang kukagumi itu.

Beberapa temanku terlihat mengikutiku.

“Hmm..mungkin mereka ingin melihat kelihaianku bermain gitar…!” Gumamku dengan tatapan yang super pede.

Tak sampai satu menit, aku sudah berada di depan kelas si Neng Geulis.

Tanpa ba bi bu lagi, aku langsung duduk dan memasang pose keren seperti Eric Clapton yang bersiap-siap untuk mentas. Teman- teman sekelasku pun ikut- ikutan duduk di sampingku.

Seperti penari pendamping saja.

Dan lagi- lagi perkiraanku benar. Tak berapa lama kemudian, si Neng Geulis dan teman- temannya mulai berkumpul di sekitarku. Jelas saja, aku duduk menghadap sianr matahari, sehingga si gitar pinjaman itu pasti akan memantulkan kilauan cahayanya kemana-mana dan menarik perhatian.

“Janji dong, Janjii..!” Salah satu dari mereka mulai berteriak. Tidak histeris sih, dia berteriaknya juga biasa saja. Hehehe…

“Ahem..” Aku berdehem dengan sangat percaya diri, sambil mulai memasang pose yang sekeren mungkin.

Penonton pun terdiam, menunggu suara emas dari gitar itu, dan mungkin mereka bertanya- tanya, apakah suara gitar tersebut sekeren penampakkannya.

“Croeng…croeng…”

“Croeng..croeng…” Alih- alih suara merdu gitarnya Dewa Budjana yang keluar, malah suara aneh yang terdengar ketika gitar itu kugenjreng.

Mukaku langsung merah padam. Malu luar biasa.

“Adduuuhh…Kenapa ya? Perasaan tadi pagi suara gitar ini masih bagus?” Tanyaku dalam hati sambil menundukkan mukaku, karena tidak ingin dilihat.

Kucoba lagi beberapa kali, dan suara yang keluar tetap sama. Jelek banget. Malah mirip kecapi.

Penonton pun langsung bubar dan kompak ber-huuuu ria.

Tiba- tiba salah satu teman sekolahku menghampiri.

“Itu gitarnya belum disetem kali?” Tanyanya sambil mengambil gitar itu dari tanganku.

“Disetem? Apa itu?” Tanyaku dengan wajah kebingungan.

Dasar gitaris amatir.

“Ya senarnya ada yang terlalu kencang atau terlalu kendor. Mungkin tadi kamu tadi nyimpen gitarnya sembarangan. Atau tadi pagi ada yang iseng muter- muter senarnya.” Katanya sambil tangannya sibuk memutar- mutar kunci di gagang gitar itu.

Tak sampai lima menit, setelah dia memperbaiki gitarku, suarnya kembali seperti sebelumnya, bagus dan merdu.

Eh, ternyata temanku ini tidak langsung memberikan gitar itu kepadaku.

Dia malah memainkan gitar itu di depan mukaku.

Dan tidak sopannya, dia malah memainkan lagu yang tadinya akan kumainkan dengan niat ingin dipuji sama si Neng Geulis di depan kelasnya itu.

Waduuuh…ternyata dia sangat mahir memainkan lagu itu. Hampir sama seperti penyanyi aslinya. Dan bahkan dia juga bersuara bagus, hampir sama dengan Armand Maulana.

Dan tentu saja, akhirnya rencanaku gagal total.

Akhirnya aku harus menanggung malu dan menanggung perasaan gondok.

Malu karena aku ketahuan tidak bisa bermain gitar dan gondok karena akhirnya malah temanku itu yang dikerubuti oleh si Neng Geulis dan teman- temannya.

Ternyata ingin dipuji itu melelahkan dan malah membuat sengsara. Dan jika ternyata pada akhirnya kita mendapatkan pujian pun ternyata sama sekali tidak mendatangkan manfaat apa pun buat kita.

 

 

 

 

 

 

Tak Berkategori