Demam Mimbar

Image

“Gagal dalam persiapan, sama saja dengan mempersiapkan diri untuk gagal”

 

            Tidak pernah kubayangkan sebelumnya bahwa aku akan menjadi ketua panitia dari sebuah acara workshop menulis. Dan bukan sembarang workshop, tapi workshop yang merupakan rangkaian dari acara Gempa Literasi Asia yang dilakukan oleh penulis besar di Indonesia, Gol A Gong dan Tias Tatanka.

            “Todongan” menjadi ketua panitia pertama kali diajukan oleh staff Pensosbud di KBRI Doha, alasannya ya karena aku yang mengajukan proposal untuk acara tersebut dan pada tanggal workshop diadakan nanti, hampir seluruh staff KBRI akan disibukkan oleh UNCTAD XIII. KBRI hanya akan memfasilitasi acara, sedangkan hal- hal teknis harus ditangani oleh panitia kecil.

            Tadinya sih Aku senang saja, tidak ada beban apa pun di pikiranku. Yang ada malah euforia melanda diriku, karena akhirnya aku bisa mewujudkan impianku sejak tiba di Qatar 4 tahun yang lalu, mendatangkan Gol A Gong ke Qatar.

            Firasat buruk mulai datang ketika kami mendiskusikan jadwal acara pada hari H.

            Di selembar kertas itu tercantum agenda “Sambutan Ketua Panitia”.

            “Waduh..! Gawat Kataku dalam hati.

            Aku kan paling tidak bisa berbicara di depan umum. Aku masih trauma ketika SMP dulu mengikuti lomba ceramah di mesjid dekat rumah.

            Bukannya berceramah, ketika itu aku hanya bisa tertunduk membaca teks ceramah dengan tangan bergetar dan menahan bulir- bulir keringat agar tidak jatuh, dengan terus menerus menyeka pelipisku dengan tangan baju koko putih yang kupakai.

            Gagal total.

            Walau pun aku hanya harus membaca teks yang kupegang, tapi kata-kataku terdengar tidak jelas oleh penonton, sehingga mereka protes sambil ber”huuuuuuuuuu..” ria setengah mengejekkku.

            Ingin sekali aku menghindar dari acara sambutan itu, atau menyuruh panitia lain yang maju.

            Aku punya kekurangan. Seringkali aku berbicara terlalu cepat dan sedikit tergagap. Kata orangtuaku sih, itu salah satu ciri- ciri orang cerdas. Hehehe…

            Kali ini aku bertekad harus bisa.

            Kuyakinkan diriku bahwa sambutan ketua ini tidak begitu penting, dan peserta workshop pun tidak akan begitu memperhatikan.

            Persiapan yang kulakukan hanya sekedar membuat outline hal- hal yang akan kusampaikan ketika sambutan nanti.

            Aku coba juga mengetik semacam naskah pidato. Tadinya sih mau kucoba berlatih di depan cermin. Tapi sampai hari H, aku tidak sempat karena sibuk mengantar Gol A Gong dan istrinya.

            Malam sebelum acara pun aku terlalu lelah untuk berlatih, bahkan hanya untuk sekedar membaca contekan pun aku tidak sempat.

            Sebelum berangkat ke tempat acara itu berlangsung, akhirnya kuputuskan untuk “gimana nanti aja deh”. Toh aku masih ada contekan yang sudah kubuat, kan tinggal dibaca nanti di atas mimbar.

            Sampai MC membuka acara sih aku masih tenang dan yakin bahwa aku akan bisa membawakan sambutan dengan sukses.

            Ketika sedang asyik melamunkan sambutan yang akan kubawakan nanti, tiba- tiba suara sang MC seperti halilintar yang menyambar kepalaku.

            Dia tiba- tiba memanggil namaku untuk naik ke atas panggung! Ternyata sambutan yang pertama yang tadinya kukira dari perwakilan KBRI, adalah sambutan dari Ketua Panitia.

            “Gaawwaatt nih…!” Lamunanku langsung buyar dan hancur berantakan. Tanganku yang sedang memegang contekan pun langsung bergetar.

            “Lho, kok sekarang?” Aku bertanya- tanya dalam hati.

            Sambil berjalan ke arah mimbar pun hatiku masih bertanya- tanya.

            Dan benar saja, walau pun tidak separah ketika aku mengikuti lomba ceramah dulu, tapi kali ini aku terkena sindrom yang sama.

            Demam panggung. Demam mimbar.

            Aku berbicara terlalu cepat. Seperti meracau. Entahlah, aku rasa puluhan peserta di depanku itu tidak mengerti semua yang aku ucapkan, walau pun mereka bisa membaca salam pembukaku dengan lantang.

            Walau pun contekan sudah kupegang, dan sudah kutarik nafas sedalam- dalamnya, tetap saja tanganku bergetar, mulutku sempat kelu beberapa saat. Jantungku menghentak kencang seperti hendak meloncat keluar dari dada.

            Ketika selesai, ada temanku yang sedikit meledek.

            “Barusan tadi adalah sambutan tersingkat yang pernah kudengar lho…!” Katanya sambil tersenyum.

            Aku hanya bisa tersenyum getir dan menunduk karena saking malunya.

            Lain kali aku harus mempersiapkan diriku lebih baik lagi.

            Karena aku tidak akan bisa menghindar. Suatu saat aku pasti akan menghadapi situasi yang sama dengan hari itu, ketika mau tidak mau harus berbicara di depan umum.

            Aku rasa penyumbang terbesar kegagalan sambutanku itu hanya masalah persiapan saja. Rasa gugup dan gemetar itu aku rasa tidak akan datang jika aku tidak terlalu kaget karena tidak menduga akan naik panggung lebih dulu dari perwakilan KBRI.

            Seperti Aa Gym bilang di salah satu ceramahnya: “Gagal dalam persiapan, sama saja dengan mempersiapkan diri kita untuk gagal”

 

Didaytea

290412

 

 

Iklan
Tak Berkategori

Cintaku Musnah di Penghujung Tahun

“Kalau kamu memang mencintaiku seperti yang selalu kamu bilang, dan tidak mau aku menikah dengannya,kenapa kamu tidak melamarku sebelum dia?” Sambil tertunduk lesu, aku hanya bisa bilang kepadanya: “ Aku belum siap Teh!”

            Goncangan bus yang direm setengah mendadak membangunkanku tepat di depan gerbang Tol Pasirkoja. Otot dan tulang di sekujur tubuhku serasa mengkerut setelah hampir enam jam berada di dalam dinginnya AC bus jurusan Merak- Bandung. Jam di hape jadulku pun masih menunjukkan jam empat pagi.

Tak lama kemudian, bus yang kutumpangi pun tiba di Terminal Leuwipanjang. Ketika beranjak keluar dari bus itu, aku sebenarnya mengharapkan sedikit kehangatan dari udara kota Bandung.

Eh, ternyata bukannya hangat yang kurasakan. Begitu pintu bis terbuka, malah udara yang dingin, lebih dingin dari AC bus yang kutumpangi semalaman langsung menyusup masuk dan meremas- remas wajahku sampai terasa mengkerut dan seperti ditarik ke belakang. Tapi bersamaan dengan dinginnya udara Bandung, tercium juga bau khas tanah jika sudah dihampiri oleh sang hujan.

Ternyata sang hujan baru saja mampir dan menumpahkan sedikit pesonanya di kota kelahiranku. Sang hujan juga ternyata ingin merayakan tahun baru nanti malam.

Kunikmati saja udara dingin yang kini membelai wajahku dengan lembut dan sejuk di atas Becak sepanjang perjalanan dari terminal Leuwipanjang menuju rumahku.

Begitu tiba di rumah, langsung kupeluk dan kulepas rindu dengan  Ayah, Ibu dan ketiga adik-adikku. Lalu aku bergegas menuju mesjid yang berada tepat di depan rumahku untuk mengejar sholat subuh berjamaah. Seperti biasa, setiap pulang ke Bandung aku selalu meminta si bibi untuk membelikan kami sekeluarga sarapan Kupat Tahu dan Bubur Ayam Mang Ujang yang sudah berjualan sejak aku belum terlahir ke dunia itu.

Tak sampai dua jam kemudian, rumahku  yang tadinya riuh rendah oleh kami berenam yang ngobrol ngalor ngidul sambil menyantap sarapan, langsung sunyi senyap ditinggal oleh penghuninya.

Ayah dan Ibuku masih bekerja di sebuah instansi pemerintah, dan segera disusul oleh adik-adikku pergi kuliah. Aku pun menuju kamar untuk beristirahat, karena nanti siang aku sudah harus bersiap- siap untuk berangkat ke Alun- alun Bandung.

Kemarin, seseorang yang sangat istimewa memintaku untuk bertemu di Alun- alun kota Bandung, di depan Yogya Kepatihan. Dia adalah wanita yang sudah menjadi sahabatku sejak tiga belas tahun yang lalu, sejak kami berdua masih berseragam Merah Putih.

Sejak lulus SD, kami sudah berpisah. Aku masih di Bandung, melanjutkan ke SMP Negeri di dekat rumahku, sedangkan dia pindah ke Tasikmalaya untuk belajar di pesantren yang dipimpin oleh seorang ulama terkenal. Tujuh tahun setelah itu kami baru bertemu lagi, itu pun karena dia sudah pulang ke Bandung dan bekerja di pesantren yang dipimpin oleh seorang Kyai kondang di Kota Kembang. Sampai sekarang, paling sering kami hanya bertemu dua kali dalam satu tahun. Itu pun biasanya aku berkunjung langsung ke rumahnya ketika momen lebaran saja, tidak di luar seperti sekarang.

Entah kenapa kali ini dia tiba- tiba memintaku untuk bertemu di luar. Dia bilang padaku ada sesuatu yang harus dia bicarakan.

Setelah sholat Zhuhur di mesjid Agung Bandung,  langsung kuhela tubuhku agar berjalan secepat mungkin karena aku tidak ingin membuatnya menunggu lama.

Tak sampai dua detik setelah aku tiba di depan Yogya Kepatihan, sudah kukenali sosok wanita tinggi semampai yang sedang berdiri di antara ramainya orang yang lalu lalang berbelanja di malam menjelang tahun baru. Dari belakang pun dia sudah terlihat sangat anggun dan cantik dengan baju gamis berbahan satin berwarna merah muda. Dia semakin cantik lagi dengan menghiasi gamis itu dengan kerudung berwarna dan berbahan sama yang berpadu padan dengan sebuah bros berbentuk kupu- kupu yang berkilauan ketika dijatuhi oleh cahaya lampu neon.

“Assalaamu’alaikum Teteh! Kumaha damang?” Sapaku dengan lembut dan tanpa sadar menatap matanya dalam- dalam. Ah, rindu berbulan- bulan tak bertemu dia pun lenyap seketika hanya dengan satu detik memandang matanya.  Walau pun dia memang lebih tua tiga tahun dariku, panggilan Teteh bukan karena itu, tapi itu adalah panggilan sayangku untuknya.

“Eh, wa’alaikumsalaam. Alhamdulillah, pangestu” Dia pun menjawab sambil membalikkan tubunya ke arahku dengan suaranya yang khas, serak tapi lembut, perpaduan sempurna antara suara Nicky Astria dan Siti Nurhaliza.

“Langsung ke sini dari kantor? Mobil diparkir di mana? Udah makan siang belum? Udah sholat?” Tanyaku bertubi- tubi. “Iya atuh, tadi harus lembur setengah hari. Lagian kalau pulang dulu ke Cimahi mah ngga akan bisa nyampe jam segini meureuun! Tuh, mobil mah diparkir di basement aja lah, da susah kalau diluar mah.” Jawabnya dengan logat Sunda yang sangat kental.

Kupandangi lagi dia selama beberapa saat. Si Tetehku ini memang sungguh unik, berkulit putih kemerahan layaknya orang bule, berambut pirang kecoklatan, tapi bermata sipit seperti orang Jepang. Perpaduan unik yang menyebabkan kecantikkannya melebihi siapa pun yang pernah kukenal di dunia ini. Setidaknya menurutku.

“Hei! Kok malah ngelamun? Makan dulu yuk? Teteh lapar nih!” Si Teteh setengah berteriak sambil mengibas- ngibaskan tangannya di depan mukaku.

Selama makan siang, tidak ada obrolan yang istimewa di antara kami selain menanyakan kabar keluarga, pekerjaan dan kuliahku di Cilegon, dan pekerjaannya di pesantren seorang kyai kondang di Bandung.

“Nonton Yuk! Ada film James Bond Baru, Casino Royale!” Ajakan yang sama sekali tidak kuduga sebelumnya. Walau pun mukaku melongo terkaget- kaget, hatiku langsung berbunga- bunga, karena aku bakal lebih lama lagi bisa dekat dengan si Teteh tercinta. Sebelumnya kami tidak pernah nonton ke bioskop hanya berdua, kami selalu pergi beramai- ramai bersama kakaknya dan adik- adikku. Jangankan ke bioskop, untuk pergi ke luar rumahnya pun ayahnya akan melarang keras jika aku hanya datang sendiri, tidak dengan adik- adikku. Walau pun bisa, itu harus dengan kakaknya atau si mbok pengasuh di rumahnya.

Kami pun bergegas mengayunkan langkah ke King’s Kepatihan, tempat bioskop terdekat.

Aku tidak memikirkan apa- apa lagi sejak film diputar selain betapa bahagianya hatiku bisa sedekat ini dengan si Teteh.  Setelah film diputar selama beberapa menit, entah kenapa tiba-tiba dia menyandarkan kepalanya di bahuku. Sebagai seorang lelaki normal tentunya jantungku langsung berdegup luar biasa kencang ketika berada sedekat itu dengan lawan jenis. Aku akhirnya tidak kuasa menahan tanganku untuk menyentuhnya. Si Teteh pun yang entah memang tertidur atau sekedar pura- pura tidur  membiarkan saja aku membelai pipinya dan membelai kepalanya berulang- ulang.

Aku tidak pernah sedekat itu dengan wanita mana pun sebelumnya. Aroma parfumnya yang sangat segar tanpa malu-malu merasuk ke dalam hidungku menyebabkan aku tidak tahan lagi untuk mendaratkan bibirku tepat di atas ubun- ubunnya.

Tidak pernah kuduga jika beberapa lama kemudian aku akan mendengar hal yang sangat mengguncangkan jiwaku.

Selama belasan tahun aku mengenalnya, jangankan membuat adegan semacam itu, ketika aku secara refleks menggamit tangannya untuk menyeberang jalan saja, dia langsung melayangkan tinjunya ke perutku. Kadang aku berpikir kalau dia jauh lebih kuat dan lebih cepat dariku, karena tak pernah bisa kutangkis kepalan tangannya yang mungil itu. Dan selalu terasa sakit.

“Ngapain kamu pegang- pegang?! Jangan macem- macem! Lain kali tinju ini mampir di tempat yang lebih menyakitkan!” Ancamnya sambil mengepalkan tangan mungilnya tepat di depan wajahku.

Setelah film selesai, aku bingung harus bersikap seperti apa setelah kejadian di dalam tadi. Kejadian yang seperti mimpi. Gembira? Pasti lah, aku kan masih laki- laki yang normal. Tapi aku juga sedih, karena tidak cukup kuat untuk bisa menahan diri untuk tidak sampai menyentuhnya seperti tadi. Sangat bertolak belakang dengan materi ceramah tentang menjaga pandangan dan pergaulan dengan lawan jenis yang sering kudengar dari seorang kyai kondang di Bandung.

“Duuh, dosa itu the Cep…!” Umpatku di dalam hati.

“Duduk dulu di sini yuk?” Si Teteh memintaku sambil menggamit tanganku  dan menarik tubuhku ke kursi tunggu di depan loket bioskop itu. Aku tak kuasa menolak.

“Teteh bilang kan, kemarin, mengajak kamu ketemuan di sini untuk membicarakan sesuatu?”

Ujarnya sambil sedikit memiringkan tubuhnya ke arahku sehingga kedua ujung lututnya menempel di kaki kiriku.

“Iya Teh, ada apa sih? Meni asa rareuwas ini teh “ Jawabku sambil bercanda. Entah kenapa, bukannya tersenyum, tapi dia malah terdiam beberapa saat. Dan beberapa kali menarik nafas panjang. Perasaanku mulai tidak enak.

“Emmmm…” Dia hanya menggumam. Dan beberapa kali kembali menarik nafas panjang sambil memilin- milin ujung jarinya.

“Ikhlasin Teteh yah?” Sebuah pertanyaan aneh terlontar dari bibirnya yang merah walaupun tanpa lipstik itu.

“Ikhlasin? Ikhlasin apa ini teh? Tanyaku dengan muka kebingungan.

“Emmm…Teteh…Teteh bulan depan akan menikah.” Walau pun sempat mengulang adegan bergumam lagi selama beberapa saat, akhirnya dia membuka mulutnya dengan sedikit tergagap dan sambil sedikit menggigit bibir.

“Menikah?! Sama siapa? Kok bisa? Kapan?” Belum saja kedua bibirnya tertutup dengan sempurna, aku sudah memberondongnya dengan pertanyaan.

“Sama orang Bogor, Ustadz di pesantren tempat Teteh belajar” Si Teteh menjawab lagi dengan perlahan.  “Bulan kemarin, dia datang bersama orangtuanya dari Bogor untuk melamarku.”

“Aku tidak punya alasan yang Syar’i untuk menolak lamarannya.” Timpalnya lagi sambil meluruskan tubuhnya. Kali ini dia sedikit menggeser posisi duduknya, agak menjauh dariku.

Hampir setiap kali aku menghubungi si Teteh, aku selalu bilang padanya bahwa aku  mencintainya sejak belasan tahu yang lalu dan aku ingin menikahinya. Tapi selama ini pula dia hanya menjawab pertanyaanku dengan senyum dan tawanya yang renyah. Tak pernah ada tanggapan langsung yang keluar dari mulutnya.

“Aku tidak punya alasan untuk menolak lamarannya.” Dia mengulang lagi pernyataannya.

“Ayah Ustadz yang melamar adalah teman Abi sejak mereka masih kuliah di Mesir.” Ujar si Teteh lagi sambil menarik nafas panjang.

“Tapi Teh, Teteh tahu kan kalau Aku ingin menikahi Teteh, Aku cinta sama Teteh, Aku sayang sama Teteh! Ucapku dengan nada yang sedikit meninggi.

“Ngga mungkin kan Teteh ngga tau dan ngga merasakan perasaan saya kaya gimana kan? “ Tanyaku lagi.

“Kalau kamu memang mencintaiku seperti yang selalu kamu bilang, dan tidak mau aku menikah dengannya, kenapa kamu tidak melamarku sebelum dia? Dia bertanya dengan bibir yang bergetar menahan jatuhnya air mata yang sudah berkumpul di kedua sudut matanya.

“Kenapa..? Kenapa? Kenapa kamu tidak melamarku sebelum dia..? ” Dia bertanya lagi karena aku tidak kunjung memberi jawaban. Pertanyaan yang dia lemparkan seperti tombak tajam yang langsung menghujam ke dalam hatiku.  Kali ini Dia bertanya sambil terisak menahan tangis.

Sambil tertunduk lesu, akhirnya aku hanya bisa bilang:

“Aku belum siap Teh!” Akhirnya aku menjawab dengan bibir yang bergetar karena menahan kekecewaan yang luar biasa besar. Sebagai seorang laki- laki, Aku pantang untuk menangis. Tapi kali ini rasanya sulit sekali untuk menahan setetes airt mata yang sudah diambang jatuh di ujung mataku.

“Berarti keputusanku untuk menerima lamarannya tepat kan?” Dia bertanya lagi sambil meraih daguku yang sedang tertunduk dan memalingkan wajahku ke arahnya. Kali ini matanya sudah memerah. Tak ada air mata di ujung sana, mungkin sudah dia seka.

Aku hanya bisa terdiam. Dia benar, tidak ada alasan untuknya buat menolak lamaran si Ustadz. Dan walau pun ternyata dia bisa meyakinkan ayahnya untuk menolak, entah kapan aku bisa melamarnya. Menikah memang tidak selalu butuh uang, tapi jika tidak ada uang, bagaimana aku bisa menikahinya dan membiayai rumah tangga kami, jika gaji bulananku saja selalu kurang untuk biaya kuliahku, dan biaya sekolah adik- adikku yang masih kecil? Walau pun orang tua Dia kaya raya, dan dia pun sudah bekerja di Bandung rasanya tidak mungkin, jika aku harus memboyongnya ke Cilegon. Atau aku harus meninggalkan kuliah dan pekerjaanku demi menikahinya.

Untuk beberapa saat, kami berdua hanya mematung dan terdiam seribu bahasa.

“Sudah sore Teh, sholat Ashar dulu yuk?” Tanyaku untuk mencairkan suasana yang tiba- tiba terasa garing itu. Si Teteh masih hanya diam dan hanya mengiyakan ajakanku dengan bangkit dari duduknya dan mengayunkan kakinya ke arah pintu mushola wanita.

Setelah selesai sholat Ashar, kami pun berjalan meninggalkan King’s menuju ke Yogya, tempatnya memarkir mobil. Jalan yang sangat dekat itu kali ini terasa sangat jauh, karena kaki- kakiku ini terasa berat luar biasa. Berat seperti diganduli oleh bola besi yang dirantai ke pergelangan kakiku.

“Teh, selamat ya!”Aku mengulurkan tanganku untuk memberi selamat kepadanya sambil tersenyum getir.

Untuk beberapa saat, dia hanya terdiam, dan hanya memandangi tanganku yang sudah terulur di depannya.

“Iya, alhamdulillah. Doain Teteh ya!” Dia menjawab, kali ini sambil tersenyum lebih lepas. Tapi kali ini dia tidak membalas uluran tanganku.

“Semoga kamu juga mendapatkan jodoh yang lebih baik dari Teteh!”Ucapnya.

“Amiin…” Aku mengaminkan doánya dengan perlahan.

Kami pun kembali hanya bisa terdiam lagi.

“Hufff….ya sudah deh…Teteh kira ini adalah saatnya kita harus berpisah” Ucap si Teteh dengan kalimat yang benar- benar membuatku merasa tidak akan pernah lagi akan bertemu dengannya.

“Iya Teh, lagian sudah malam. Sebentar lagi pasti jalanan penuh sama yang pawai Tahun Baruan” Jawabku dengan datar.

“Hati- hati di jalan ya! Assalaamuálaikum!”Ucapku sambil membalikkan badan.

“Waálaikumsalaam..” Aku masih sempat mendengar suaranya yang lirih, setengah terisak.

Baru lima langkah aku menjauh, tiba- tiba aku berbalik dan memanggilnya:

“Teteh…!” Aku berteriak keras- keras sambil setengah berlari menghampirinya yang sedang berjalan menjauh. Begitu dia membalikkan badannya, entah setan apa yang tiba- tiba merasukiku sehingga tanpa aba- aba apa pun aku langsung memeluk dia erat- erat.

Si Teteh terkejut bukan main, karena dipeluk di depan puluhan orang yang lalu- lalang di depan pintu mall tanpa sempat melawan atau berontak. Selama beberapa detik kemudian dia pun hanya bisa terdiam. Yang terdengar hanya riuh-rendahnya tiupan terompet yang mulai dibunyikan oleh para pedagang dadakan di pinggiran jalan Kepatihan itu.

Tidak ada kata- kata apa pun yang terucap ketika aku memeluknya. Hanya kurasakan kedua mataku terasa pedas dan bibirku yang sedang bergetar tiba- tiba terasa asin.  Ketika kulepas pelukanku, kulihat wajahnya yang masih terlihat kaget menjadi semakin merah, Dia terisak untuk menahan butir air mata yang sudah berkumpul di sudut mata coklatnya yang sipit itu.

Aku tak kuasa lagi menahan jatuhnya tetesan air mata yang mulai mengalir di pipiku.  Kubalikkan badanku lagi dan kuhela kedua kakiku untuk mengayunkan langkah secepat mungkin agar aku bisa segera pergi menjauh dari tempat itu. Sekuat tenaga kutahan leherku agar tidak lagi menengok ke belakang. Dengan bodohnya kupukuli kepalaku agar semua ingatanku tentangnya bisa hilang saat itu juga.

Cintaku musnah di penghujung tahun.

Doha 28 Oktober 2011

GEMPA LITERASI ASIA MENGGUNCANG QATAR

Image

Doha-Qatar

Oleh Diday Tea

Setelah melanglang buana ke Malaysia, Singapura, Thailand, India, dan Uni Emirat Arab, Gol A Gong dan Tias Tatanka menutup Gempa Literasi Asia di Doha dan Al Khor, Qatar.

Workshop menulis diadakan tiga kali, dua kali di Doha dan satu kali di Al Khor.

Qatar menjadi penutup rangkaian acara rangkaian Gempa Literasi Asia, dari Singapura, Malaysia, Thailand, India, sampai ke Uni Emirat Arab. Gol A Gong, ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat dan istrinya yang juga penulis, Tias Tatanka memberikan pelatihan menulis di Doha dan Al Khor.

Acara utama yang didukung penuh oleh KBRI Doha dan digawangi oleh Qatar Menulis ini di selenggarakan di Holiday Villa, serta dihadiri oleh 60 orang tenaga kerja Indonesia professional. Bank Mandiri dan CV Dinta Tour and Sevices juga hadir sebagai sponsor pendamping.

Trisna, beberapa kali mengunjungi negara- negara di Eropa, mengalami kesulitan untuk menuliskan catatan perjalanannya karena sering tiba- tiba kehilangan mood untuk menulis jika sudah kembali lagi ke rutinitas perkerjaannya.

Ada juga Dewi, istri salah seorang tenaga kerja professional yang sebelum pergi ke Qatar, tulisannya sering dimuat di tabloid, koran , dan majalah terkenal di Indonesia.

“Saya tidak ada bahan untuk ditulis,“ ujarnya.

Beffy, salah seorang peserta yang lain juga ingin mewujudkan mimpinya keliling dunia dalam bentuk sebuah novel.

Di dalam workshop yang diadakan sepanjang hari ini peserta membuat blue print buku yang akan mereka buat dengan dua lembar kertas HVS yang dibentuk seperti buku. Gol A Gong dan Tias Tatanka memberi “ilmu tingkat tinggi” di dunia kepenulisan dengan menjelaskan kunci- kunci agar tulisan kita lebih memiliki makna dan bermanfaat untuk penulis dan pembacanya.

Malam harinya, diadakan pelatihan kedua di adakan di Al Khor, 62 km dari Doha, di salah satu rumah di Al Khor Community.

Ada lebih dari 50 orang yang hadir. Kali ini pesertanya lebih beragam, ada Ibu- Ibu, remaja tanggung dan anak kecil. Gol A Gong dan Tias Tatanka pun berbagi tugas. Walau pun dengan metode yang mirip, tapi  kali ini Gol A Gong lebih fokus mengajar menulis melalui menggambar kepada anak- anak. Acara kali ini lebih seru dan ramai karena anak- anak peserta pelatihan sangat aktif dan antusia untuk menggambar.

Ada seorang Ibu yang sudah 14 tahun tinggal di Qatar, dan anaknya lebih fasih berbicara bahasa Inggris dibanding bahasa Indonesia. Ketika Gol A Gong berbicara, seringkali ada kata- kata yang tidak mereka mengerti, dan harus diterjemahkan ke dalam bahasa inggris.

Acara yang ketiga diadakan di Al Waab Garden 2, Doha. Peserta acara ini lebih seragam, mereka adalah 25 orang anggota komunitas Indonesian Moms’s Qatar, yang digawangi oleh Ibu Mirna. Kali ini Tias Tatanka lebih banyak berbagi tips bagaimana memanfaatkan waktu luang sebagai seorang ibu rumah tangga. Ibu – ibu di Qatar memiliki waktu luang yang sangat banyak ketika ditinggal suaminya bekerja dan anak- anaknya sekolah.

Puncak dari rangkaian acara “Gempa Literasi Asia”ini adalah perayaan hari World Book Day, Senin 23 April di Aspire Park, Doha, Qatar. Dihadiri oleh lebih dari 50 orang warga Indonesia di Qatar, dari Doha, Wakrah, Messaid, Dukhan dan Al Khor. Ketika para orang tua berdiskusi dengan Gol A Gong dan Tias Tatanka tentang dunia kepenulisan dan acara World Book Day ini, anak – anak asyik dengan lomba mewarnai, menggambar dan membaca puisi.  Hadiah untuk para pemenang dipersembahkan oleh Ramly Ismail, pemilik Central Indonesian Restoran. Ada juga ibu Maryam yang membawa nasi Biryani.

Alanda Kariza salah seorang penulis muda yang kebetulan bergabung dengan delegasi Indonesia di UNCTAD XIII (United Nation Conference on Trade And Development) juga ikut meramaikan perayaan ini.

Di acara ini juga Qatar Menulis yang diwakili oleh Arien Ratih, Diday Tea, dan Rini Wahyuni ikut mendeklarasikan tekad warga Indonesia yang hadir:

  1. Kepada anak- anak Indonesia, harus menguasai Bahasa Asing.
  2. Kepada warga Indonesia di Qatar, jangan melupakan bahasa nasional dan bahasa ibu. Tetap mengajarkan adat dan kebudayaan nasional kepada anak- anak.
  3. Menghapus stigma negara Indonesia sebagai House Maid Country, dengan menyebarkan kisah sukses para tenaga kerja profesional di Qatar dan mengirim lebih banyak lagi tenaga kerja professional.

World Book Day dirayakan di seluruh dunia secara serentak pada pukul 16:23.

Mari kita mulai perubahan dari Qatar untuk Indonesia yang lebih baik dengan menulis, sekarang juga!(*)

Sun Tangan

Saya mau sedikit berbagi, bercerita, dan bertanya tentang budaya “Sun Tangan” orang Indonesia.

Seperti yang kita tahu, sejak kecil kita diajari orang tua kita untuk Sun Tangan/Salim  jika bertemu dengan teman/saudara/orang yang lebih tua.

Sejak kecil, saya juga ajari lah anak saya untuk sun tangan, setiap bertemu dengan teman saya, anak teman saya, tiap pulang kerja atau berangkat kerja.

Masalah, atau lebih tepatnya keheranan mulai muncul, ketika orang yang di Sun Tangan-i itu bukan orang Indonesia… 😀


Ketika bertemu orang Qatar/Arab, anak saya otomatis menyodorkan tangannya kepada orang tersebut. Nahh..ketika mau disun tangan, orang tersebut, malah seperti menolak, dan malah dia yang mencium tangan anak saya..atau mencium pipi.. 🙂

Sepertinya mereka punya budaya dan cara yang berbeda untuk menunjukkan rasa hormat mereka.

Di sini sih sejauh yang saya amati, mereka akan beradu hidung dengan keluarga dekat..


Dan kalau jeli juga, ketika selesai sholat Jum’at, akan ada sekelompok anak kecil yang yang menghampiri imam/khatib dan anak kecil tersebut MENCIUM KEPALA IMAM’KHATIB…


Yang paling dramatis sih kemarin, waktu di Qatar Marine Festival.

Ada teteh teteh penunggu stand, dari tampangnya sih orang dari Jazirah Arab, beda-beda sedikit lah sama Nabila Syakieb, cuma ini rambutnya pirang dan matanya hijau keabu- abuan,hehehe.

Ketika di sun tangan oleh anak saya, dia langsung terlihat seperti syok dan memegang mulutnya sambil memandang anak saya, kaget sekaget-kagetnya…. Bukan kaget marah sih…tapi “Omaygad!You…..You…!” Katanya, 😀 


Kita mah cuek saja, meninggalkan si teteh yang masih melongo dengan tampang entah terkejut, terpesona, heran, atau apapun itu. Saya rasa si teteh itu masih memandangi kami sampai kami berjalan menuju parkiran.


Senangnya ya hidup dengan orang dari negara lain di perantauan, kita bisa “membaca” budaya orang- orang dari negara lain.. 🙂

Tak Berkategori

Merantau Itu Indah


“Hidup merantau akan sangat menyenangkan jika kita bisa membangun hubungan persaudaraan yang baik dengan tetangga dan komunitas kita”

“Om, kata Papah nanti malem gabung ya, ikutan nonton bareng sama penduduk gang Mangga, sekarang kan final!” Ajak seorang gadis belia  yang sudah beranjak remaja sambil ikut melangkahkan tubuh semampainya disampingku.

“Insyaallah ya, Om masih cape nih, tadi abis lembur langsung lanjut kuliah!” Jawabku sambil melangkah sedikit gontai, karena hari itu sangat melelahkan.

“Ohhh..gitu. Ya udah, Neng bilang deh nanti sama Papah. Om istirahat dulu aja, biar nanti malam bisa gabung. Daahhh…!” Gadis anak tetanggaku itu melambaikan jemari lentiknya sambil berlari membawa tikar dan sebuah termos.

Akhirnya hanya sebentar kutengok acara nonton bareng itu, karena mata ini sudah tidak kuat lagi menahan kantuk. Aku pamit pulang kepada semuanya, bahkan sebelum pertandingan dimulai. Ah, bagiku sudah cukup, asal sudah menampakkan diri saja di depan penduduk gang Mangga, sebutan untuk gang tempat tinggalku di komplek perumahan itu.

Ketika sampai di rumah, ternyata rasa kantuk itu malah hilang lenyap tak berbekas.

Ketika riuh rendahnya teriakan histeris dan sorak sorai tetangga- tetanggaku membahana dan bergema sampai ke pintu kamarku, aku hanya teronggok pasrah dan kelelahan di atas sehelai kasur Palembang tipis berwarna biru seharga dua ratus ribu itu.

Ketika teriakan kecewa pendukung Perancis bergema lagi di pintu kamarku karena Italia berhasil menyamakan kedudukan, aku hanya bisa terkaget- kaget dan memandangi screensaver layar monitor CRT 14 inciku dengan tatapan kosong.

Ketika teriakan mereka menderu semakin kencang, karena ternyata pertandingan harus diselesaikan dengan adu penalti, aku hanya terduduk dan mengintip dari balik jendela kamarku yang malam itu terasa gerah luar biasa. Kulihat belasan keluarga berkumpul dan berteriak- teriak histeris karena tegangnya adu pinalti yang akhirnya dimenangi negeri para Gladiator.

Aku tak bisa keluar rumah dan bergabung dengan mereka, karena besok aku sudah harus bekerja lagi. Aku harus memanggil rasa kantukku lagi agar bisa tidur secepatnya.

Ketika sedang melamun dan setengah tidur, tiba tiba ada yang membunyikan pagar depan rumahku. Ternyata si Neng itu lagi.

“Om, ini buat Om!” Katanya sambil menyodorkan baki berisi gorengan, dadar gulung dan segelas teh  manis yang masih mengepulkan asap.

“Waahh…Makasih banyak ya!” Aku ambil saja cemilan dan gelas teh manis itu. Kukembalikan baki itu.

“Italia yang menang Om, adu pinalti loh!” Kata si Neng dengan semangat. Padahal dia juga harus sekolah, tapi aku heran,kuat juga dia begadang sampai hampir subuh.

“Oya, waah..berarti tim jagoan Om menang dong?” Jawabku dengan antusias.

“Iya tuh Om, Italia memang hebat, ada Del Pieeero sih!” Si Neng menjawab lagi dengan suaranya yang sedikit melengking.

“Ya udah deh, met istirahat ya Om, Neng mau bantuin Mamah sama Papah beres-beres dulu!” Pamitnya.

“Iya nih, Om juga harus tidur cepet- cepet nih, besok harus kerja lagi!” Jawabku sambil berlalu ke dalam rumah.

Hampir semua penduduk di kompleks perumahan itu adalah pendatang.

Suasana di sana sudah tidak seperti perumahan yang identik dengan egoisme penduduknya yang tidak mau kenal dengan tetangga sebelah.

Kebanyakan mereka memulai hidup dan beranak pinak di sana sejak tahun delapan puluhan, jadi walau pun strukturnya sama seperti kompleks perumahan lainnya tapi persaudaraan di antara tetangga sudah sangat erat, sudah hampir sama seperti di daerah asal masing- masing saja.

Di gang itu, hanya aku yang bujangan. Karena aku mengontrak rumah sendiri dan tidak ngekos seperti teman- teman kerjaku yang masih belum menikah.

Tapi aku tidak merasa sendirian, aku seperti memiliki keluarga yang sangat besar.

Si Neng depan rumah dan keluarganya sudah seperti keluargaku sendiri. Pak RT sebelah rumah juga sudah seperti ayah sendiri yang selalu membimbing dan mengayomi warga yang lain. Penjual Nasi goreng dan pemilik warung di ujung jalan pun sudah sangat akrab, sudah seperti koki pribadi saja yang bisa dipesan makanan kapan pun aku lapar, bisa diutangin pulsa kapan pun aku mau.

Hampir semua bapak- bapak di gang itu kenal denganku.

Setiap Minggu, selalu ada acara pengajian rutin dari gang ke gang, dari blok ke blok di seluruh komplek perumahan itu.

Ah, selain panas dan gerahnya kota Cilegon, selebihnya hampir tidak ada yang berbeda dengan Bandung, kota kelahiranku. Bedanya hanya aku jauh dari Bapak, Ibu dan Adik- adikku. Itu pun hampir setiap minggu aku bisa bertemu mereka.

Orang Sunda cenderung lebih senang tinggal di “kandang”. Ketika akan pergi ke Cilegon pun, orang tuaku pada awalnya kurang setuju.

Bahkan ada sindiran satir kalau hampir semua orang Bandung punya keinginan yang sama, lahir di Bandung, sekolah di Bandung, kerja di Bandung, menikah dengan orang Bandung, punya rumah di Bandung, beranakpinak di Bandung, dan kelak jika sudah meninggal pun ingin dikubur di Bandung.

Sempat ada keraguan yang terbit di hati, dan ketakutan yang timbul di diri, karena aku akan berangkat merantu, bekerja ke tempat yang sama sekali belum pernah kukunjungi sebelumnya.

Alhamdulillah, ternyata merantau itu indah. Allah memberiku jodoh di perantauanku yang pertama.

Alhamdulillah lagi, setelah hampir tujuh tahun di Cilegon, empat tahun lalu Allah mentakdirkan aku merantau lebih jauh lagi, kali ini sampai ke Timur Tengah. Merantau kuadrat, karena kali ini sangat jauh, ribuan kilometer dari Bandung. Dan Allah pun melimpahkan lebih banyak lagi rejeki dan banyak hal yang tidak pernah kumimpikan sebelumnya.

Hidup merantau, jauh dari kampung halaman, berpindah dari tempat kelahiran itu tidak seburuk dan sesulit dari yang kupikirkan sebelumnya.

Merantau itu bagus untuk melakukan akselerasi di kehidupan kita.

Merantau itu sangat bagus untuk mempersiapkan masa tua kita yang lebih baik.

Merantau itu menggoreskan lebih banyak warna untuk cerita kehidupan kita.

Merantau akan selalu menyenangkan jika kita bisa memiliki dan membangun hubungan persaudaraan yang baik dengan tetangga dan komunitas di mana kita berada.

Merantau pasti akan membuat hidup kita lebih hidup.

Mari kita merantau!

 

www.didaytea.com