Customer (Segan) Complain

Customer (Segan) Complain

“Salah satu cara menjadi penjual yang baik, adalah dengan menjadi pembeli yang baik”

 

Sejak beberapa bulan lalu, ujung jari telunjukku semakin rajin saja mengklik mouse di atas tombol “add to basket”. Ya, aku semakin rajin belanja online. Hampir tiap bulan, ada saja yang aku beli dari situs belanja online seperti Amazon dan Ebay. Dari casing ipad, gadget, mainan anakku, buku yang murahnya minta ampun, yang diskonnya lebih besar dari Pasar Buku Palasari, sampai terakhir, sebuah kamera dslr professional.

Ternyata ada masalah untuk pembelian terakhir.

Untuk kamera, walau pun aku beli itu bekas, tapi tidak pernah kuduga bahwa ternyata kamera itu tidak dilengkapi dengan kardus dan  charger orisinil. Bahkan kamera itu tiba di tanganku tidak dengan mas Selamet eh, tidak dengan strap, atau gantungan yang kupikir sih seharusnya ada.

Kubuatlah surat customer complain ke website tempatku membeli kamera tersebut.

Aku komplen berat karena mereka hanya menyebutkan bahwa kamera itu kamera bekas. Mereka tidak menyebutkan bahwa kamera itu sudah tidak bersama- sama lagi dengan kardus dan strap, serta charger orisinilnya lagi.

Ah, pokoknya aku marah- marah deh di email itu.

Eh, tidak sampai satu hari, sudah ada balasan dari departemenet customer complain website tersebut.

Awalnya dia meminta maaf habis- habisan karena aku tidak menerima barang sesuai yang kuharapkan ketika memesan. Pada akhirnya sih mereka menerangkan bahwa mereka punya pengkategorian untuk divisi barang bekas. Dan itu sudah tercantum di definisi barang yang terpampang di website mereka. Dan para kostumer bisa menanyakan langsung kepada customer service jika ada yang ingin ditanyakan mengenai barang yang ditampilkan.

Aku masih tidak terima dan masih komplain, kenapa mereka tidak langsung saja memberi keterangan lengkap bahwa kamera itu sudah tidak ada dusnya dan tanpa strap dan charger original.

Mereka akhirnya mengakui bahwa itu adalah sebuah kesalahan, dan mereka menawarkan refund untuk ongkos kirim yang telah aku keluarkan.

Tadinya sih aku masih ingin komplain habis- habisan terus dan kalau bisa kukirim kembali kamera itu dan aku tukar dengan yang lebih lengkap.

Tapi setelah kupikir- pikir, ongkos kirim dari sini ke Amerika pasti mahal. Dan aku sedang membutuhkan kamera itu sekarang. Bisa- bisa bulan depan, atau bahkan lebih lama aku bisa mendapatkan gantinya.

Akhirnya aku berusaha nerimo.

Aku tolak keinginan mereka untuk refund biaya pengiriman dan mengatakan kepada mereka kalau aku akan terima kondisi kamera ini apa adanya. Dan pula setelah ongkos kirim pun, harga kamera itu masih jauh lebih murah dibanding di Qatar. Harga termurah untuk kamera professional sekelas kameraku itu pun masih lebih mahal beberapa juta dibanding harga di website itu, dan sudah termasuk ongkos kirim.

Aku berpikir bahwa aku masih bisa membeli strap untuk kamera itu di sini.

Tapi bersamaan dengan itu aku juga memberi usul agar mereka memberi keterangan yang lebih lengkap di website mereka, terutama untuk barang- barang bekas. Dan tetap berterimakasih bahwa kamera itu tiba jauh lebih cepat dari yang mereka janjikan.

Balasan yang aku dapat sungguh di luar dugaan, mereka ternyata kembali meminta maaf, dan tetap akan meredun uang pengiriman sebagai tanda maaf mereka atas pelayanan yang sangat buruk terhadap konsumen. Dan juga tanda terima kasih mereka atas usul yang sangat baik. Dan mereka juga sangat berterimakasih karena aku telah mencantumkan feedback positif yang mereka terima dariku sesudah pembelian itu.

Mereka mengatakan bahwa itu sangat berarti untuk kelangsungan bisnis mereka.

Selang beberapa hari, uang biaya pengiriman kamera itu pun sudah tiba dengan selamat di kartu kreditku.

Pembeli memang adalah raja.

Tapi pembeli yang baik adalah raja yang tidak hanya bisa komplain terhadap penjual.

Tapi pembeli yang bisa komplain dengan santun dan menempatkan diri sejajar dengan penjual atas nama simbiosis mutualisme.

Pembeli yang bisa membantu penjual untuk melayani pelayanannya kepada kita atau pelanggan lain dengan kritik dan komplain yang membangun.

Untuk para pebisnis, salah satu cara untuk menjadi penjual yang baik adalah terlebih dahulu menjadikan diri kita seorang pembeli yang baik.

 

 

 

Ilmuwan Cilik

“Periode bayi dan anak- anak, sampai kira- kira umur lima tahun adalah Research and Development Unit of Human Species, menurutProfessor Alison Gopnik, seorang Professor di bidang psikologi di University of California, Berkeley, USA”

 

Jika ada yang masih ingat, belasan tahun lalu ada iklan sebuah baterai yang super awet. Di dalam iklan itu diperlihatkan sebuah mainan kelinci yang masih saja anteng menabuh drum dengan kuatnya di saat baterai- baterai dengan merek lain sudah tidak bisa bergerak lagi.

Seperti itu juga kondisiya dengan bayi perempuanku yang baru berumur tiga belas bulan.

Sekarang, dia hanya punya tiga kegiatan besar: minum susu, tidur, dan bermain.

Minum susu dan tidur sih sama sekali tidak bermasalah untuk kami orang tuanya.

Tapi ketika dia sedang bermain, baik sendiri atau pun dengan kakaknya, hmmmm….itu baru tantangan yang sesungguhnya.

Bayangkan saja, kalau dia bangun, hampir tidak ada sedetik pun yang dia habiskan untuk diam. Kaki- kaki mungilnya selalu bergerak dengan spartan dan konstan menyusuri setiap jengkal lantai di rumah kami.

Hampir sepanjang hari, dia akan titirilikan (entah apa ini terjemahannya dalam bahasa Indonesia, digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang kecil atau mungil dan bergerak dengan sangat cepat dengan arah yang acak.. :D)

Jari- jari kecilnya akan menggenggam apa pun di depannya tanpa ragu.

Tangan mungilnya juga yang akan oprek barang- barang apa pun yang dia temukan. Lalu dia tumpuk, susun, lempar, injak, jilat, dan bahkan kalau sedikit saja luput dari pengawasan kami, dia akan memakan apa pun yang dia rasa enak.

Jika saja mainan- mainan itu hidup, tentunya di ruangan itu akan terdengar riuh –rendahnya teriakan kesakitan dari para mainan yang terlempar ke sana ke mari, terinjak berulang kali.

Tapi ada juga sih sedikit keributan , yaitu teriakan kakaknya yang kadang kesal ketika sedang memegang iPad tiba- tiba dilempar oleh mainan mobil, atau ketika sedang asyik bermain dan menyusun lego, tiba- tiba makhluk kecil dan imut itu lewat begitu saja sambil menginjak bangunan yang sudah dia susun dengan susah payah.

Apa pun yang berada di dalam wadah tidak akan luput dari “percobaannya” . Makanan, minuman, mainan lego milik kakaknya, biskuit yang kadang kami lupa menutup wadahnya akan sukses berpindah dari wadahnya ke atas lantai yang sudah penuh sesak dengan ratusan potongan dan patahan mainan.

Analogi “kapal pecah” mungkin sudah tidak relevan lagi untuk menggambarkan keadaan rumah kami jika si bayi sudah beraksi. “Kapal dibom” atau “kapal meledak” rasanya lebih tepat.

Persis seperti mainan kelinci di iklan baterai tersebut, energinya seperti tidak pernah habis. Dengan minum susu sebentar dan tidur hanya beberapa puluh menit, kecuali malam, “baterai” di dalam badan mungil, pejal dan montok itu sudah terisi penuh dan kembali bergerak dengan aktif.

Sudah tak terhitung berapa kali tubuh montoknya itu jatuh berdebam di atas lantai karena terpeleset mainan atau mobil- mobilan yang berserakan di lantai.

Sudah tak terhitung pula istriku harus mengepel lantai dari tumpahan susu, coklat, selai, biskuit dan “hasil karya” seniman mungil imut yang montok dan super lucu itu.

Dalam sehari, istriku bisa tiga kali membereskan mainan yang hampir sama sekali tidak menyisakan ruang untuk sekedar menginjakkan kaki pun di ruang tamu.

Ah, pokoknya, kadang terlintas di pikiran bahwa bayi dan anak- anak adalah makhluk yang sama sekali tidak berguna, hanya merepotkan saja.

Ternyata sama sekali tidak seperti itu.

Periode bayi dan anak- anak, sampai kira- kira umur lima tahun adalah Research and Development Unit of Human Species, menurutProfessor Alison Gopnik, seorang Professor di bidang psikologi di University of California, Berkeley, USA.

Ilmuwan adalah seorang “anak kecil besar”.

Dan seorang anak kecil adalah seorang “ilmuwan” cilik.

Bayi dan anak kecil, seperti layaknya seorang ilmuwan yang sedang melakukan penelitian, hanya melakukan satu hal, yaitu belajar. Mereka tidak perlu memikirkan lagi tentang makanan, minuman, dan kehidupan mereka karena sudah ditangani oleh orang lain.

Mereka mempunyai kemampuan dan kapasitas belajar yang sangat luar biasa. Perkembangan otak manusia yang paling pesat terjadi di periode nol sampai dua atau tiga tahun/

Mereka akan mempelajari bagaimana barang- barang di sekitar mereka bekerja.

Mereka akan mengamati bagaimana sikap orang- orang di sekitar mereka.

Mereka akan mencari tahu bagaimana perkaitan antara sesuatu hal yang disebabkan oleh sesuatu yang lain. Tentu bukan “sesuatu”nya Syahrini. Hehehe.

Mereka akan selalu melakukan percobaan- percobaan tertentu, hanya untuk sekedar ingin mengetahui sesuatuyang kdang berbahaya buat mereka. Si mungil akan tanpa ragu memegang colokan listrik tanpa ada rasa takut tersengat aliran listrik sebelum orang tuanya panik dan berteriak- teriak, atau bahkan langsung menggamit tubuh mungilnya menjauh dari area colokan listrik itu.

Ada periode di mana mereka akan mencoba memakan apa pun yang mereka pegang.

Mereka belajar seperti spons yang menyerap air. Bahasa, Sikap, perilaku, kata- kata orang tua, televisi, film, musik, lagu, tingkah laku kakaknya, akan mereka tiru atas nama “penelitian” pribadi mereka.

Mungkin ini adalah jawaban kenapa manusia menjalani masa kecil atau masa anak-anak lebih panjang dibanding dengan makhluk lainnya.

Allah mentakdirkan kehidupan manusia lebih lama di dalam masa anak- anak, untuk mempersiapkan diri seorang manusia dalam menghadapi keras dan rumitnya kehidupan seorang manusia dewasa kelak.

Bayangkan saja, sorang anak kuda atau rusa akan bisa berjalan dengan tegap bahkan berlari, hanya setelah satu jam dia dilahirkan.

Tapi lihat, sejak itu sampai dia mati pun tidak ada perkembangan yang berarti di dalam kehidupannya: makan, tidur, buang air, begitu besar kawin dengan binatang lain dan mati.

Lihatlah seorang manusia.

Untuk bisa berjalan saja, paling cepat memerlukan sembilan bulan.

Untuk bisa berbicara lancar seperti orang dewasa, setidaknya sampai umur tiga atau empat tahun.

Bahkan sampai mereka betul- betul mandiri pun setidaknya memerlukan waktu sampai mereka lulus kuliah atau sekolah.

Sungguh sangat beruntung kita dilahirkan sebagai manusia!

Chillax Luar Dalam

Chillax Luar Dalam

“Sebagai seorang muslim, aku merasa sangat beruntung karena memiliki setidaknya lima kali waktu dalam sehari untuk mendinginkan kepala dan menenangkan hati”

Sejujurnya, sih , selalu ada saja saat dan periode di mana aku terikat oleh belenggu kemalasan untuk sholat berjamaah di masjid.

Beberapa tahun ini, hampir tidak pernah ada satu hari pun yang aku bisa lewati sempurna tanpa ada “bolong” sholat berjamaah di mesjid. Selalu ada saja waktu sholat berjamaah yang lolos, sehingga terpaksa aku hanya sholat sendiri di rumah, atau setidaknya berjamaah dengan istriku. Ada saja halangan yang jadi alasanku untuk bisa pergi ke mesjid. Dari kesibukan waktu kerjaku yang shift lah, lagi di mall lah, jalan- jalan, bahkan kalau di rumah alasannya lebih dramatis lagi: menyalahkan panasnya summer dan dinginnya winter di sini. Dan banyak lagi kambing- kambing hitam yang tidak bersalah tapi sering kutunjuk dan kusalahkan.

Padahal sih, alasan yang sesungguhnya cuma satu: MALAS.

Beberapa hari lalu kutemukan kata- kata baru di Twitter ketika ingin mereset passwordku yang hilang.

“Please chillax, and try to log in after one hour. Because your ability to reset password is disabled”. Itu kalimat yang terpampang di halaman utamanya.

Chillax? Kata yang aneh.

Sangat mirip dengan nama makanan dari Bandung yang sangat legendaris: Ciloks. Kalau ini singkatannya Aci dicoloks.

Tapi beberapa saat kemudian langsung kusadari bahwa itu adalah gabungan dua kata Chill dan Relax, dingin dan relaks. Sedikit susah untuk menemukan terjemahan yang tepat untuk gabungan dua kata ini.

Langsung saja itu menyadarkanku bahwa dalam hidup kita, selalu diperlukan Chill and Relax.

Chillax.

Tubuh kita perlu istirahat, begitu pun pikiran kita.

Kita harus punya waktu untuk sejenak melakukan relaksasi dan memberikan sedikit waktu untuk tubuh, hati, pikiran, otak, dan jiwa kita dalam kondisi tenang dan “dingin”.

Ada yang chillax menggunakan musik. Dari musik klasik, gamelan, kacapi suling, Kitaro sampai ada juga yang nekad memutar lagu dance dan ngebeat atas nama relaksasi pikiran.

Ada juga yang selalu mengadakan acara keluarga di taman.

Ada juga yang memberlakukan hari tanpa gadget di rumahnya.

Ah, pokoknya mungkin ribuan cara manusia yang manusia lakukan dan cari untuk bisa Chill and Relax.

Sejujurnya lagi sih, kadang, ahem, bahkan sering aku sering berusaha menenangkan diriku dan sedikit menjauh dari penatnya urusan kerja  dengan mendengarkan music. Tidak sampai harus mendengarkan musik- musik yang tidak jelas. Paling banter sekarang sih penyanyi Swedia yang sedang naik daun, akang Maher Zain.

Ah, Maha Suci Allah yang Maha Memberi Hidayah.

Tadi baru saja aku pulang dari sholat Ashar berjamaah di mesjid. Setelah salam tadi, entah kenapa aku tiba- tiba teringat kata- kata tadi, Chillax.

Ternyata perasaan Chillax  terbaik dan paling sempurna bukan setelah merdunya suara Maher Zain, atau lembutnya tiupan kacapi suling, atau megahnya musik sang Maestro New Age: Kitaro, tapi perasaan tenang, penuh kedamaian dan “dingin” yang kita rasakan beberapa saat setelah kita ucapkan salam yang kedua di dalam sholat.

Kondisi ketika kita barang satu atau dua menit beristigfar, bersyukur, bertasbih, dan bersholawat dan dilanjutkan dengan berdo’a itu adalah kondisi chillax yang sesungguhnya, ketika kita tidak mempunyai batas lagi dengan Yang Maha Mencipta.

Ketika sedang sibuk bekerja saja, dan kita break untuk mendirikan sholat, Sensasi chillax akan sangat terasa bahkan sejak sholat itu dimulai. Dinginnya air wudhu, dan beberapa menit waktu yang  kita berikan kepada tubuh dan pikiran kita untuk sejenak beristirahat dan menjauh dari penatnya pekerjaan. Belum sensasi ruhiyahnya, ketika dosa kita akan berguguran dengan air wudhu yang membasuh tubuh kita, dan dihapusnya dosa- dosa kecil di antara dua waktu sholat.

Sensasi dinginnya pikiran dan relaksnya hati akan jauh berlipat ketika kita sholat berjamaah di mesjid.

Paling mantap sih ketika sholat subuh. Bayangkan saja, jika kita bangun lima belas menit saja sebelum sholat subuh, bisa dijamin kita akan bisa mendapatkankan kemuliaan sholat malam, walau pun itu hanya sebatas dua rakaat qiyamul lail dan satu rakaat witir. Lalu sebelum berangkat, seharusnya sih kita bisa mendapatkan kemuliaan yang jauh lebih baik dari dunia dan seisinya dari dua rakaat sholat sunah sebelum subuh.

Ketika tiba di mesjid pun, kita masih mempunyai kesempatan untuk mendapatkan keutamaan sholat tahiyyatul mesjid.

Dan ditutup dengan kemuliaan sholat berjamaah di waktu yang paling utama, sholat subuh berjamaah.

Ah, sungguh bodoh sekali diriku ini yang masih bisa terkalahkan oleh kemalasan, dan melepaskan kesempatan luar biasa itu.

Perjuangan melawan kemalasan akan selalu terjadi di setiap langkah kehidupan kita.

Seharusnya aku merasa sungguh sangat beruntung karena diberi minimal lima kali waktu untuk Chill and Relax luar dalam. Kesempatan untuk menenangkan hati, tubuh, pikiran dan jiwa sejenak dari penatnya kehidupan dan mendekat kepada Yang Maha Pencipta, tujuan akhir kita yang sesungguhnya.

Mari ber-Chillax dengan Sholat  berjamaah di mesjid!

 

 

Bangkrut Pangkat Tiga Kuadrat


“Sukses dalam penjualan tidak akan berarti apa- apa jika ternyata kita memiliki pengelolaan keuangan yang buruk”

SD

Sejak aku masih mengenakan kebesaran seragam Putih-Merahnya Sekolah Dasar, aku sudah memiliki pengalaman berjualan dan berbisnis.

Pengalaman pertamaku adalah membuka membuka usaha taman bacaan. Ketika masih kecil aku sering dirawat. Setiap yang menengok, tidak ada permintaan yang kuucapkan kepada mereka yang berupa makanan. Aku tidak pernah meminta jeruk, apel Amerika, martabak, biskuit, atau makanan apa pun. Aku hanya meminta majalah Siswa, Donal Bebek, atau Bobo.

Karena saking seringnya aku dirawat, tanpa terasa akhirnya majalah- majalah itu pun menumpuk di kamarku. Tiba- tiba saja terpikir untuk membuka taman bacaan kecil- kecilan.

Mulailah aku membuka lapak di teras depan rumah, dengan membuat tulisan “Taman Bacaan, 100 Rupiah/hari” di depan pagar rumahku. Kugelar lapak Taman Bacaanku itu setiap pulang sekolah sampai menjelang Magrib.

Ah, sebenarnya sih sama sekali tidak mirip taman bacaan, hanya puluhan koleksi majalahku yang kutumpuk beberapa baris di teras rumah.

Eh, ternyata usaha Taman Bacaanku ini lumayan sukses! Tiap hari ada saja yang menyewa.

Tapi sayang, uang yang kudapat bukannya kutabung, malah aku belikan gambar apung (maaf, tak dapat kutemukan terjemahannya ke dalam Bahasa Indonesia), dan kelereng yang kuadu bersama- teman-temanku. Karena sering kalah bermain adu gambar, dan skillku dalam ngadu kaleci (ngadu kelereng) di bawah teman- temanku. Jadinya ya gitu deh, aku lebih sering membeli gambar apung dan kelereng.

SMP

Ternyata setelah aku sudah berseragam Putih-Biru pun bakat dan insting berjualanku ternyata masih tajam saja. Aku kali ini berjualan bordiran dan kartu nama lusinan untuk teman- teman di sekolahku. Untungnya luar biasa besar. Di sekolah, harga Nama Bordir, lokasi untuk di seragam bisa dua ribu lima ratus rupiah. Sedangkan aku bisa menjual ke mereka paling mahal seribu lima ratus, itu pun jika mereka meminta desain macam- macam seperti warna border yang berbeda- beda, atau ingin dibentuk seperti plat nomer mobil/motor.

Kalau hanya bentuk standar dengan latar belakang putih dan tulisan hitam atau sebaliknya sih, aku bisa kasih mereka harga seribu dua ratus saja.

Dan dari harga itu pun, aku masih punya untung paling sedikit lima ratus, karena kadang jika pesenan yang datang banyak, si tukang bordir akan memberiku diskon tambahan.

Bayangkan saja dengan jumlah siswa di SMP ku itu, ada sebelas kelas per angkatan. Dan ada minimal empat puluh lima orang murid di satu kelas. Tiap hari ada saja teman- teman yang datang memesan.

Benar- benar simbiosis mutualisme yang sempurna antara aku, teman-temanku dan tukang bordir.

Selain bisnis bordiran, aku juga menjadi makelar bisnis kartu nama. Ya, aku hanya membawa brosur, menawarkan ke teman- teman yang ingin membuat kartu nama. Harganya dua ribu lima ratus per lusin. Aku mendapat diskon juga lima ratus rupiah per set kartu yang dipesan.

Pesanan kartu nama ini tidak terlalu banyak, tapi sangat lumayan. Minimal tiap minggu ada dua atau tiga orang yang datang memesan kartu nama dengan desain yang lucu- lucu dan unik itu.

Tapi sayang lagi, uang hasil usaha ku itu selama tiga –tahun tidak menjadi sesuatu yang besar, hanya sebatas barang- barang yang kubeli karena orang tuaku tidak bisa membelikannya. Sepatu Eagle yang sedikit mahal, dan Celana Merek Cardinal yang ketika itu rasanya sueper kwureen.

Dan satu lagi, aku hampir setiap hari bermain ding-dong (video gamne koin) yang harus membayar dengan koin seratus rupiah.

Jadi kadang, eh, malah sering sekali uang hasil usahaku itu akhirnya bukan berakhir di celangan, tapi malah berakhir di dalam mesin ding- dong Street Fighter atau Strikers 1945.

SMK

Kisah berjualan/wirausahaku di Masaku berseragam Putih-Abu-abu  ternyata tidak semeriah dan seramai kisah berjualan yang terus berlanjut sejak masa Putih- Merah dan Putih-Biru.

Di periode ini aku kurang intens berjualan, karena sekolahku yang sangat sibuk.

Mungkin hanya di sekolahku itu murid bisa pulang jam 5 dari sekolah. Karena katanya sih, itu SMK yang lumayan berkualitas dan lulusannya sangat didambakan oleh dunia kerja, hehehe..

Ternyata tidak sepenuhnya berhenti. Instingku untuk berbisnis masih saja kuat. Ada divisi wira usaha di sekolah yang baru saja dibentuk. Mereka membuat tender untuk pembuatan papan nama sekolah dan Mading (Majalah-Dinding) sekolah.

Ah, pokoknya mah entah kenapa aku jadi siswa yang terpilih untuk membuat papan nama dan Mading itu.

Tender ini sangat menguntungkan. Karena pihak sekolah selalu memberi uang lebih dari setiap nota pembelian bahan baku yang aku ajukan ke bendahara sekolah. Paling sedikit aku bisa mendapat lima ribu rupiah per satu papan nama kelas yang kubuat. Ada puluhan kelas dan enam laboratorium. Belum ditambah uang konsumsi yang kudapat jika aku bekerja setelah jam sekolah. Lumayan bisa untuk membeli satu porsi nasi rames plus sayur dan segelas teh manis hangat di warteg depan sekolahku.

Bisnisku yang ke dua sih, tidak sepenuhnya bisnis. Karena ini berkaitan dengan posisiku yang diangkat sebagai sekretaris panitia untuk acara perpisahan atau semacam pentas seni. Maaf, aku lupa acara tepatnya yang mana.

Aku ditugasi untuk membuat proposal acara tersebut dengan sangat detail.

Tapi, karena ternyata sang Ibu Kepala Sekolah ketika itu baru menjabat, jadi beliau aaga “cerewet”. Hampir sepuluh kali proposal yang kubuat itu ditolak oleh beliau. Dari kesalahan ketik sampai kesalahan konteks dan kesalahan budget.

Hal itu malah menjadi berkah tersembunyi buatku. Karena masih jarang yang punya komputer, jadi tiap membuat proposal, aku harus pergi ke warnet dan mengajukan anggaran khusus. Aku tentu saja tidak mau rugi. Kuminta lah, ongkos angkot dari Kiaracondong ke Inhoftank, ditambah konsumsi.

Lumayan, selama hampir sebulan, minimal aku tiga kali seminggu berangkat ke warnet. Dan pulangnya langsung deh makan Batagor Kuah gratis di dekat stasiun Kiaracondong dan pulang naik angkot gratis.

Dua usaha itu tidak begitu menguntungkan secara finansial, karena tidak ada yang bisa kukumpulkan dalam bentuk tabungan. Hanya skill komputerku saja yang meningkat pesat, secara, bulak- kalik ke warnet hampir tiap hari. Dan sedikit kecanduan Batagor Kuah..hehehe..

Cilegon: Bagian 1

Tahun pertamaku kerja di Cilegon, aku masih menikmati masa- masa “menghasilkan uang sendiri”. Iya lah, ketika sekolah, paling banyak aku memegang uang dua ribu sehari. Gaji pertamaku ketika itu tuuh ratus delapan puluh lima ribu. Gimana mau mikir bisnis atau berjualan ketika masih bingung uang sebanyak itu mau dipakai apa?

Walau pun lama vakum berjualan, tapi bakat dan instingku ternyata masih tetap tajam.

Tahun kedua aku mulai kuliah lagi. Dan mulai kurasakan pertama kalinya yang namanya kesulitan keuangan. Aku membiayai sendiri kuliah ku yang lumayan mahal itu.

Jadi, mau tidak mau aku harus mencari uang tambahan di luar gaji.

Kali ini aku berjualan ditambah oleh satu bakat lagi: “Bakat Ku Butuh” (Istilah dalam bahasa Sunda yang artinya, karena sangat butuh, atau kepepet, hehehe).

Kuputuskan untuk mulai lagi berjualan.

Kali ini komoditas pertamaku adalah Buku dan VCD ceramah- ceramah Aa Gym. Ketika itu Aa Gym dan Manajemen Qolbunya sedang booming di Banten, bahkan seluruh Indonesia. Dan di daerah Cilegon-Banten belum ada yang berjualan produk- produk Manajemen Qolbu.

Aku langsung membeli ke agen Manajemen Qolbu di Mesjid Daarut Tauhiid Bandung, dengan diskon bervariasi, antara sepuluh sampai dua puluh persen.

Bulan- bulan pertama berjalan sangat berat karena aku sudah mulai kuliah. Dan aku bukan mengambil kuliah di kelas karyawan, tapi sebagai mahasiswa regular. Ditambah dengan jadwal kerja shiftku yang delapan jam, membuat waktuku sebagian besar habis di luar rumah. Kerja, kuliah, dagang.

Bahkan pernah aku menggelar lapak di depan Mesjid Agung Cilegon, walaupun hanya beberapa saat, karena ketika itu aku sudah tidak mempunyai uang sama sekali.

Konsumenku tadinya masih sebatas tetangga dan teman-teman satu pekerjaan. Aku masih harus turun sendiri menjajakan daganganku. Mereka boleh membayar setelah gajian, dan bahkan ada yang aku beri kemudahan untuk mencicil, tanpa tambahan harga sepeser pun.

Cilegon: Bagian 2

Sampai akhirnya bala bantuan datang.

Akhirnya ada empat orang teman- temanku yang membantu berjualan. Ada guru TPA tetangga, dan sisanya teman- teman mengajiku di Remaja Islam Mesjid. Aku beri mereka sistem konsinyasi (hanya membayar harga setelah diskon untuk barang yang laku).

Alhamdulillah, berkat ijin Allah dan bantuan dari teman- temanku itu usahaku mulai berkembang.

Aku bisa melebarkan sayap ke produk lain.

Kali ini aku bisa menambah jenis produk yang aku jual. Aku mulai menjalin kerjasama dengan agen- agen produk Islami di Tanggerang dan Bandung.

Tahun ke dua berjalan sangat mulus seperti mulusnya jalan dari Doha ke Al Khor.

Bahkan di tahun ini, ada tujuh orang temanku yang membantu menanam modal.

Perputaran uang yang kutangani ketika itu hampir empat belas juta.

Puncaknya adalah ketika aku bisa mengikuti sebuah pameran di Banten: Banten Islamic Fair. Di pameran ini, aku mencatat rekor penjualan tertinggi dalam satu minggu. Total pendapatanku kala itu setidaknya delapan juta setengah.

Biaya sewa stand yang cukup mahal, lima ratus ribu rupiah untuk tujuh hari saja, dan tujuh hari aku cuti ternyata setimpal dengan apa yang aku dapatkan.

Aku mendapat rejeki nomplok dan investor pun tersenyum lebar.

Lagi- lagi usaha ini pun akhirnya gagal. Tadi nya sih aku ingin bilang usahaku ini hancur lebur, tapi sedikit tidak tega… hehehe..

Ya, usaha ini ambruk dalam sekejap, hanya beberapa minggu setelah mencatat keuntungan tertinggi.

Sebenarnya faktor yang menyebabkan ambruknya usahaku ini tidak hanya satu.

Tapi penyebab utamanya lagi- lagi lagi karena pengelolaan uang yang kurang baik.

Dengan kondisiku yang harus membayar kuliah yang lumayan mahal, seringkali uang yang terkumpul dari bisnisku itu terpakai. Dan uang modal yang harusnya selalu ada yang stand by untuk membeli barang pesanan pun terpakai.

Kondisi bisnisku semakin limbung ketika salah satu investor mendadak ingin menarik investasinya di kala kondisi bisnis sedang bagus- bagusnya. Dia beralasan karena dia akan menikah dan butuh dana invesasinya untuk menambah biaya pernikahannya.

Aku dan para rekan- rekanku sedang menerima pesanan yang lumayan banyak ketika itu. Karena kekurangan dana untuk membeli barang, dengan sangat terpaksa kami tolak.

Ditambah lagi faktor, teman- temanku yang membantu bisnisku mundur teratur dengan alasan menjelang UAS di kampus dan sekolahnya.

Beberapa minggu kemudian para investor lain juga melakukan hal yang sama.

Mereka juga menarik modalnya.

Mereka beralasan bahwa, kenapa si A bisa melanggar perjanjian yang menyatakan bahwa dana investasi tidak bisa ditarik sebelum dua tahun.

Karena aku sudah tidak mempunyai dana, yang ada hanya stok barang, aku pun kelimpungan mencari dana untuk mengembalikan dana para investor yang kini sudah berkembang lumayan besar.

Kala itu aku harus mengembalikan setidaknya tujuh juta rupiah.

Akhirnya ada jalan yang kutemukan, walaupun tadinya ingin kuhindari.

Aku pun berhutang ke bank.

Dan, pada akhirnya runtuhlah bisnis yang sudah dua tahun kurintis bersama teman- teman itu, ketika sudah tidak ada lagi dana untuk membeli pesanan para pembeli dan barang yang ada pun menumpuk di kamarku.

Kali ini aku sah mengalami kebangkrutan dalam berbisnis.

Cilegon: Bagian 3

            Selama beberapa minggu, aku sempat kaget dan syok, karena masih belum percaya, bisnisku bisa bangkrut dan membuatku berhutang jutaan rupiah bangkrut dalam hitungan minggu, tepat setelah mencetak rekor pendapatan tertinggi.

Setelah kurenungkan, kuresapi, kupertimbangkan, kutimang- timang, kutafakuri, kupikirkan, ah pokoknya segala hal yang terdefinisikan sebagai evaluasi pemikiranku atas pengalaman bangkrut itu, akhirnya aku mendapat satu benang merah.

Ya, benang merah kenapa walau pun aku cukup lihai untuk berdagang, berjualan dan berbisnis, tapi selalu, yaa tidak selalu sih, hampir selalu gagal. Dan bahkan kasus yang terakhir, memiliki akibat yang sangat lama. Aku harus mencicil bertahun- tahun ke bank.

Naluri berdagang dan kelihaianku berjualan ternyata tidak diimbangi dengan kemampuan manajemen uang yang baik.

Uang pribadi, uang modal, uang barang, keuntungan, dan uang lain, selama ini berada di dalam satu dompet. Mereka tidak pernah kupisahkan.

Padahal tidak seharusnya mereka semua memiliki tempat yang sama. Ya itu, untuk mencegah silang kepentingan dan silang pemakaian yang menjadi penyebab aku sama sekali tidak punya dana segar jika ada kejadian yang tidak terduga seperti yang kualami terakhir kali.

Selihai apa pun kita dalam berbisnis, tidak akan berarti apa- apa jika kita memiliki pengelolaan keuangan yang buruk.

http://www.didaytea.com

Insyallah+Semampunya: Komitmen atau Kemalasan?

Insyaallah dan Semampunya, kata- kata yang sering disalahgunakan untuk menyembunyikan kemalasan”

 

“Insyaallah”,arti sebenarnya sangat baik, dengan ijin Allah. Kata ini jika dirangkaikan dengan sebuah rencana, seharusnya digunakan untuk menunjukkan bahwa rencana itu sudah pasti akan dilakukan. Hanya Allah yang bisa menggagalkan rencana kita itu dengan menciptakan kejadian luar biasa.

Tapi kata ini sering disalahgunakan.

Bukan definisi diatas yang digunakan. Kata Insyaallah seringkali diucapkan jika seseorang sebenarnya tidak niat datang ke sebuah undangan. Atau diucapkan seseorang ketika sebenarnya dia tidak mau melakukan sesuatu, tapi karena merasa tidak enak dengan yang meminta tolong, dia pakai lah kata “Insyaallah” ini sebagai alat untuk menyembunyikan hal itu, agar seolah- olah dia sudah berkeinginan untuk melakukan hal yang diminta.

“Insyaallah lah saya dateng ya!” atau

“Insyaallah deh, kalau bisa saya nanti ke sana!”

“Insyaallah nanti kalau sempat saya sampaikan!”

“Insyaallah saya kerjakan abis Ashar deh!”

Insyaallah yang seharusnya diucapkan ketika kita ingin memastikan sesuatu, dan hanya Allah saja lah yang bisa membuat kita tidak dapat memenuhi janji tersebut, ternyata malah menjadi sebaliknya. Insyaallah malah dijadikan sebagai alat untuk menunjukkan kemalasan kita untuk memenuhi janji, dan bersembunyi di balik “izin Allah”.

Begitu juga dengan “semampunya”.

Di kala seseorang meminta kita untuk melakukan sesuatu, dan kita menjawab dengan mengucapkan semampunya, kadang itu bukan ekspresi kesanggupan kita.

Seringkali itu malah menunjukkah bahwa kita sebenarnya malas untuk melakukannya dan tidak enak untuk bilang tidak. Semampunya dan “kalau mampu” juga akhirnya menjadi tempat kita berlindung.

Kata “Semampunya” seharusnya digunakan untuk menunjukkan bahwa kita siap berusaha seratus persen untuk melakukan hal itu. Untuk menunjukkan bahwa kita sudah siap dan akan memberikan semua sumber daya yang ada pada diri kita sekuat tenaga untuk berusaha melakukan hal tersebut.

Contohnya jika kita berkomitmen berusaha semampunya untuk bisa bangun di sepertiga malam terakhir. Dalam prakteknya semampunya ini didefinisikan sebagai sebisanya atau sebangunnya. Kalau bangun syukur, ya kalau tidak bangun juga ya tidak apa- apa.

Kita tidak membeli beberapa weker yang super kencang agar bisa membangunkan tidur kita. Menyetel alarm pun hanya satu kali, yang kalau pun kita terbangun, itu pun hanya untuk mematikan alarm tersebut sebelum akhirnya kembali ke pangkuan selimut hangat yang sudah memeluk kita semalaman. Atau sebelum tidur kita tidak memaksa diri untuk bisa sholat dua rakaat dan berdoa mati-matian kepada Allah agar bisa dibangunkan untuk bisa mendapatkan kemuliaan sholat malam.

Sudah saatnya kita keluar dari belenggu kemalasan dan bersembunyi di balik dua kata sakti: Insyaallah dan semampunya.

Sudah saatnya kita menggunakan kedua kata itu sebagai komitmen seratus satu persen untuk memperbaiki kualitas diri dan ibadah kita.

Komitmen untuk memenuhi janji kita.

Komitmen untuk memperbaiki ibadah kita.

Komitmen kepada diri sendiri dan keluarga, sebagai tekad untuk berubah ke arah yang lebih baik.

Insyaallah, mari kita berusaha semampunya!

 

http://www.didaytea.com

 

Susah Kuadrat = Senang Pangkat Empat

“Mengingat kesulitan di masa lalu, kadang kita perlukan untuk menyadari bahwa betapa beruntungnya kita saat ini”

            Dinginnya ac di dalam bis sepanjang jalan Anyer hingga ke Cilegon langsung lenyap tak berbekas, terhapus oleh hawa lembab dan panas ketika belum sempat kaki kiriku beranjak ke luar dari bis jemputan itu.

Seperti biasanya, hawa dan lembab dan panas ini memang tipikal suhu dan kondisi udara sehari- hari di Cilegon dan daerah- daerah lainnya yang dekat dengan pantai dan daeran industri.

Dari Ramayana Cilegon, aku harus naik angkot lagi ke rumah kontrakanku.

Di dalam angkot, hawa panas dan lembab itu lumayan berkurang karena kuatnya AG (angin gelebug=angin besar) dari pintu dan jendela angkot yang terbuka lebar, membelai deras wajahku dengan debu yang terbawa dari jalanan, disertai wanginya harum bensin dan solar yang beriringan, serta mengibar-ngibarkan rambutku yang kala itu bergaya persis seperti Andy Lau: cepak dalem dan belah tengah…hehehe.

Tak sampai lima belas menit, angkot berwarna ungu itu pun kuhentikan dengan satu kata sakti jurus andalan para penumpang angkot: “Kiri…!”

Dari situ rumah kontrakanku masih lumayan jauh, kira- kira tiga ratus meter.

Berhubung hari itu tanggal dua puluh, jadi langkah kakiku agak sedikit lemah. Jauh berbeda dibandingkan langkah kakiku ketika tanggal dua puluh enam, ketika uang gaji masih utuh, hehehe..Jadi setelah hampir sepuluh menit baru aku tiba di depan rumah tipe dua satu bercat serba abu- abu yang kukontrak dua ratus lima puluh ribu per bulan sejak dua tahun yang lalu itu.

Tadinya sih aku ingin mampir dulu ke warteg untuk membeli makan, tapi apa daya, karena sindrom tanggal dua puluh sudah sedikit parah, jadi uang di dompetku hanya tinggal dua ribu rupiah, dan itu pun habis untuk membayar ongkos angkot.

Hawa lembab dan panas itu ternyata belum hilang saja, ya karena memang tidak mungkin hilang, secara, di rumahku memang tidak ada ac. Ketika masuk rumah, bukannya hawa dingin yang kunikmati, malah hawa panas yang lebih menyengat keluar dari dalam rumah ketika kubuka pintu.

Langsung kelemparkan tubuhku ke atas kasur Palembang di dalam  kamar. Aku ingin melepas lelah dan penat ini sejenak. Panas dan lembab aku lawan dengan menyalakan sebuah kipas angin, yang selalu menciptakan dilema di dalam hidupku. Jika dinyalakan, aku selalu masuk angin, tapi jika dimatikan aku tidak bisa menahan gerahnya efek panas dan lembab itu.

Tak sampai lima belas menit dan selepas adzan Magrib, aku beranjak untuk sholat dan berwudhu dengan air yang tersisa di bak mandi.

Bulan- bulan itu memang masa- masa tersulit dalam hidupku. Bagaimana tidak, saat itu aku harus mencari- cari uang yang tersisa. Aku merogohi satu- satu saku celana dan bajuku yang sudah kotor. Tapi belum kutemukan juga uang lima ribuan, sepuluh ribuan, atau bahkan sekedar ribuan yang terkumpul dan nyempil di dalam saku.

“Gawat, bisa ngga makan nih malam ini!” Aku mulai panik. Dan perutku pun ikut panik dengan mengeluarkan sekilas bunyi musik keroncong, seolah mengiyakan.

Ketika sedang asyik mengumpulkan baju kotor dan merogoh- rogoh saku- sakunya, tiba- tiba di luar terdengar suara petir yang luar biasa kencang.

“Jelegeeerr….!!!” Dor dar gelap, kalau kata orang Sunda. Suara petir itu sontak membuat aku terkaget- kaget sampai hampir terloncat dari dudukku.

Hujan yang sangat deras turun tiba- tiba tanpa disertai gerimis. Mungkin ini yang namanya hujan bandang, hehehe.

Tapi tak kuhiraukan suara hujan itu, aku langsung fokus lagi untuk mencari uang yang tersisa untuk membeli makan malam. Hujan masih bisa ditanggulangi, tapi lapar? Masih bisa juga sih, tapi perutku sudah keroncongan, dan tadi siang di tempat kerja sibuk luar biasa. Aku harus makan segera.

Eh, tidak lama kemudian, PET, listrik mati.

Gelap gulita lah kamarku seketika.

“Waduh! Gimana mau nyari duit, gimana mau makan? Cemilan pun sudah habis? Aku langsung mengutuk diri sendiri, kenapa tadi pake tiduran segala, bukannya langsung mencari uang. Kucek pulsa di hapeku pun sudah kosong total.

Aku pun langsung terduduk pasrah. Ya, ngga pasrah gimana, lha wong kamarku gelap gulita. Tangan sendiri pun tidak bisa kulihat.

Sambil duduk, aku masih berpikir positif, mungkin hujan ini bakal cuma sebentar. Walau pun ada sisi lain dari diriku yang berpikir lebih logis, bahwa hujan seperti ini biasanya lama.

Dan benar saja, ternyata sampai beberapa jam, ternyata hujan itu belum berhenti. Posisi tidurku mulai menggelosor menjadi setengah tidur dan akhirnya aku pun terlentang tanpa tertidur dalam kegelapan.

Penderitaanku malam itu makin lengkap ketika tiba- tiba aku merasa sesuatu yang dingin mengalir di punggungku.

Ya Allah, banjir! Lengkap lah sudah penderitaanku saat itu. Kebanjiran dan kelaparan di tengah kegelapan.

Eh, ternyata belum lengkap, ada satu lagi yang melengkapi kejadian malam itu.

Tiba-tiba terdengar suara bercuit yang lumayan kencang dari arah dapur. Aku pun mulai panik karena aku yakin itu adalah suara wirog (wirog=tikus got yang besar). Kalau aku digigit bisa kena penyakit pes nih.

Aku tutup pintu kamar dan kubendung banjir sebisanya dengan apa pun yang ada di dekatku, walau pun tidak terlihat. Kupaksakan diriku untuk berbaring dekat jendela dan kubuka gorden lebar- lebar agar setidaknya ada cahaya yang masuk, walau pun hanya kelebatan petir.

Sejujurnya pada saat itu aku ingin menangis dan meratap. “Ya Allah, kenapa lengkap sekali kau beri aku penderitaan kali ini? Dosa apa aku?” Kataku dalam hati.

Setelah itu aku langsung minta ampun, karena kupikir pasti ada hikmahnya dibalik penderitaan luar biasa, ah, sebenarnya sih tidak begitu luar biasa, hanya lumayan lengkap saja dan sangat menyedihkan. Hehehe..

Karena tidak kuat menahan lapar, dan keletihan, tidak terasa aku pun tertidur.

Ketika terbangun oleh suara adzan subuh, ternyata listrik sudah menyala kembali dan banjir pun sudah surut, walau pun menyisakan lumpur tebal yang menumpuk di depan pintu kamar.

Kupejamkan mata ini setelah membayangkan salah satu momen paling sulit dan menyedihkan dalam hidupku itu.

Ketika kubuka kembali kedua kelopak mataku pelan- pelan, kulihat ada sepasang anak kecil yang luar biasa lucu sedang tertidur pulas di kursi belakang dan seorang wanita cantik di antara mereka sedang tersenyum manis penuh cinta, dia sedang memegang sesendok nasi goreng yang aromanya luar biasa segar, sambil berkata: “Sayang, kenapa ngelamun? Ayo berangkat? Makannya sambil nyetir aja ya?”

Alhamdulillah, Maha Suci Engkau Ya Allah, Yang Maha Kaya, Yang Maha Memberi, engkau telah cabut aku dari kesulitan hidup semacam itu dan kau beri aku kenikmatan dunia yang luar biasa besar.

Divana Divana

Divana Divana


Ah, selama masih hidup, yang namanya manusia pasti bisa berubah dan bisa dirubah seiring dengan berjalannya waktu.

 

               Di dalam rentang waktu antara semasa diriku masih bersekolah di TK, sampai kira- kira kelas lima SD, hampir setiap tahun aku dirawat di rumah sakit. Kalau ngga gejala demam berdarah, ya gejala tipes. Biasanya sakitku muncul di antara pergantian musim.


               Masih terbayang diriku memakai kemeja kotak-kotak hijau putih dan celana hijau yang sedang ngarengkol di sudut ranjang khusus untuk anak kecil itu.


               Karena ibuku seorang perawat di rumah sakit itu, jadi dia tidak bisa selalu menjagaku selama dirawat. Jadi dia membekali aku dengan sebuah radio kecil.


               Tadinya sih tidak pernah kulirik sedikit pun si radio kecil ini. Boro- boro mau mendengar radio, yang ada pusing dan mual serta badan ini serasa remek karena demam tinggi yang hinggap di badanku sudah hampir mencapai empat puluh derajat celsius.


               Tapi, setelah sayup- sayup suara adzan Isya dari seberang rumah sakit sudah berlalu, kesepian pun mulai datang. Tidak ada perawat yang stand by di ruangan pasien. Hanya ada aku sendiri di dalam bunker bed di  kamar kecil khusus untuk anak- anak itu. Yang terdengar pun hanya suara jangkrik di tengah tebalnya kesunyian yang melandaku kala itu.


               Aku pun tidak tahan dan akhirnya kugapai radio yang masih teronggok di atas lemari kecil di samping ranjang besi tempat teronggoknya diriku juga.


               “Brrrrzzzzzzzzzzzzzzzz…………..”. Awalnya hanya suara gemerisik radio yang tiba- tiba membuat kamarku sedikit berisik. Kukecilkan volume radio itu sedikit dan kuputar gelombang radio.


               Tak lama kemudian, akhirnya kutemukan saluran yang terdengar sangat jelas.


               “Masih bersama saya, mister X di radio RX bandung, langsung saja kita putarkan lagu request dari Akang X juga, lagu romantis dari Kumar Sanu dan Kavita: Divana- divana…!” Suara lembut penyiar radio itu langsung seketika mengenyahkan kesepian itu dari kamar sempitku.


               “Divana- divaana, metera diivaana, tumera jaaneja, apkahi cunemi…” Hanya itu saja lirik yang kuhafal. Ternyata radio itu sedang memutar acara khusus request, seperti acara AMKMnya Sonora FM. Tapi  khusus lagu India saja.


               Tadinya sih mau langsung kupindahkan saja saluran itu, lebih baik ku pindah ke Radio Paramuda, Ardan, atau OZ yang memutar lagu yang lebih “jelas”.


               Entah kenapa, tiba-tiba kuurungkan niatku dan kusimpan kembali tanganku yang sudah terulur ke arah radio itu.


               Karena dingin akhirnya kutarik saja selimut ke atas tubuhku dan kuraih radio itu dan kusimpan di dekat kepalaku. Posisi ngarengkol seperi bayi, memeluk guling dan menghadap ke kanan adalah posisi tidur paling nyaman untukku ketika itu. Kucoba dengarkan lagu itu beberapa saat, dan entah kenapa lagi, lagu itu terdengar sangat adem di telinga dan nyaman di hati.


               Anak seumuranku di kala itu tentu saja belum mengenal apa namanya cinta. Walau pun tentu saja harus aku akui bahwa aku menyukai si teteh tetanggaku yang sering berangkat sekolah bareng itu…hehehe….Itu hanya cinta babon, belum mencapai tahapan cinta monyet sekali pun.


               Tapi semenjak itu dan sepanjang  delapan hari aku di rawat, setiap selepas magrib aku sudah “tetap stay tune” di radio itu. Hanya untuk menunggu lagu Divana- divana itu diputar. O iya, Divana itu artinya kekasihku.


               Dan benar saja, lagu itu memang favorit semua pendengar dan sedang merajai tangga lagu India di radio itu. Hampir semua perawat meledekku: “Anak kecil kok suka lagu India sih?” Tanya mereka dengan heran.

               “Wios weh da enakeun (biarin, lagunya enak kok!)” Jawabku dengan cueuk sambil kembali ngarengkol di ujung kasur besi itu.


               “Infeksi” ini akhirnya berlanjut selama beberapa minggu, hampir setiap magrib aku tunggu lagu itu untuk diputar. Dan bahkan kadang ada acara khusus menjelang tengah malam untuk memutar lagu- lagi India favorit pendengar. Hanya lagu itu saja yang bisa merasukiku sampai tahap seperti ituampai lagu itu sama sekali hilang, dan terhapus oleh kesibukanku bersekolah. Orangtuaku tidak bisa melarang dan juga tidak marah, mereka juga cuek. Kadang Divana- divana ini bersahut-sahutan dengan lagu2 Panbers favorit Bapak dan Ibuku.


               Tak pernah kubayangkan ketika suatu hari kelak aku akan tinggal di negara yang diihuni ribuan, puluhan ribu, eh, bahkan ratusan ribu orang India.


               Ya, kini aku di sini, sebuah negara timur tengah yang mayoritas penghuninya adalah orang India.


               Tapi sayang sekali,walau pun di kantin hampir setiap hari diputar lagu India, sampai sekarang diriku belum terkontaminasi lagi oleh lagu India semacam Divana- Divana itu.


               Dan ketika kucoba cari lagu itu di youtube, ternyata lagu itu tidak terdengar seenak dulu lagi. Sekarang aku malah merasa agak risih. Hanya senyumku dan tawa renyah istriku yang timbul ketika kuingat bahwa aku pernah tidur berbulan-bulan dengan lagu itu. Ngefans abis- abisan.


               Ah, selama masih hidup, yang namanya manusia pasti bisa berubah dan bisa dirubah seiring dengan berjalannya waktu. Kalau tidak berubah sendiri, ya kita akan berubah dan dibentuk oleh lingkungan sekitar kita.


               Jangan takut untuk menerima perubahan-selama itu positif-dan memulai perubahan di dalam diri, keluarga, dan bahkan kehidupan kita. Karena seringkali perubahan kecil akan membuat kita terbang tinggi ke arah yang lebih baik.

               Dijamin!


http://www.didaytea.com