Godaan Gadget

Kata temanku sih, salah satu godaan terbesar kaum Adam itu ialah gadget dan barang- barang elektronik.

We have to keep our mind ocupied, kalau sedang berkeliling di Duty Free.

Kalau tidak, rak- rak penuh gadget, tablet, telepon genggam, headseat, casing- casing unik, itu seperti memanggil-manggil dan seperti magnet yang menarik paku yang masih baru.

Daya tariknya sungguh kuat.

Belum lagi rayuan si penjaganya. Akan membuat kita betah berlama- lama di situ, dan kalau tidak tahan dengan godaan, sangat mungkin tiba- tiba ada gadget yang tiba- tiba dibeli.

Alhamdulillah, walau pun Galaxy S3, Beats Power, atau Bose Headset itu serasa lengket di tanganku, Allah masih membantuku untuk berpikir jernih, bahwa sebenarnya aku tidak begitu memerlukan itu semua. 

gadget- gadget yang ada masih berfungsi dengan baik, dan dibanding gadget penggoda itu, tidak terlalu kalah update.

Doha International Airport

24-320132147

Puncak Kerinduan

Tidak sampai dua minggu aku berpisah dengan anak2 dan istriku. Semakin dekat waktu keberangkatanku ke Jakarta dari Doha International Airport ini, semakin memuncak kerinduanku kepada mereka bertiga.

Waktu  menunggu boarding yang hanya kurang dari dua puluh menit lagi ini pun terasa sangat lama.

Karena kondisi kesehatan istriku, sehingga sampai dirawat dua minggu kemari itu, sebenernya sih sempat terpikir untuk membujang saja, dan aku bisa pulang 3 atau 4 kali dalam setahun.

Secara finansial sih memang tidak jauh berbeda, hampir tidak ada yang berkurang, karena ada variable- variable yang bisa diperhitungkan untuk menyeimbangkan neraca keuangan keluarga.

Yang paling sulit itu ya, menahan kerinduan. Sulit sekali untuk bisa berkonsentrasi penuh untuk apa pun yang aku lakukan ketika mereka tidak ada bersamaku di rumah.

Walau pun ketka bekerja, mereka tetap kutinggalkan di rumah, tapi tetap saja, momen jeritan kedua anak-anak yang lucu dan senyuman manis istriku selalu menyambut.

Melelehkan hati.

Dua minggu ini, setiap pulang kerja, yang menyambutku hanya kegelapan dan kekosongan, serta sedikit bau makanan basi dari meja makan nun jauh di dapur sana.

Sungguh hebat teman- temanku yang memutuskan untuk hidup sendiri di Doha, dan meninggalkan keluarganya di Indonesia.

Mereka memiliki ketabahan tingkat tinggi.

Jujur saja, aku mah tidak sanggup sama sekali untuk jauh- jauh dari mereka. Setidaknya sampai anak- anak sudah bisa mandiri, dan sudah punya ” teritori sendiri di kehidupan mereka.

Semoga istriku segera dipulihkan dari segala penyakitnya dan Allah memberi kesehatan, agar kami sekeluarga tidak usah lagi berpisan seperti dua minggu ini.

Doha International Airport, 240220132141

(Menjelang boarding ke pesawat)

Paya dan Porotta

Paya dan Porotta

Sarapan rutin orang Indonesia, terutama orang Sunda seperti saya tidak akan jauh- jauh dari Bubur Ayam, Nasi Udux, Nasi Kuning, Lontong Sayur, dan Kupat Tahu. Kalau pun agak telat, ya tidak akan jauh juga dari Mie Ayam.

Di Qatar, biasanya menu- menu ini hanya tersedia di hari libur kerja resmi, Jumát dan Sabtu saja.

Tapi…

Lama- lama, kalau terlalu sering juga, pasti rasa bosan akan melanda lidah kita.

Kadang- kadang kita perlu alternative, sekedar untuk mengkalibrasi lidah kita.

Nah, beberapa bulan ini, sudah saya temukan alternative sarapan yang rasanya maknyos sekali. Untuk “pemula” masakan India, paling yang diketahui hanya sebatas Porotta+ Chicken Curry + Sabji.

Untuk orang Indonesia pun, ketiga makanan dasar ini seringkali malah membuat eneg dan mual, jauh dari nikmat atau sedap, apalagi sampai ke tahap berucap “Maknyuusss..!” seperti Bondan Winarno.

Ada satu menu yang ternyata hanya tersaji di Jumát pagi, itu pun tidak semua restoran India menyajikannya. Di teman- teman satu pekerjaan, menu ini sangat populer. Jika hari Jumat pagi bertepatan dengan waktu pulang shift malam, pasti orang- orang Indonesia langsung mampir ke restoran ini.

Menu ini tidak tersedia di semua restoran- restoran India yang biasa. Hanya restoran tertentu saja. Salah satunya restoran Kasar Kana.

Image

Restoran kecil ini berada di daerah Sana Roundout, tepat di belakang Sana Store.

Selain restoran ini ada juga sih, tapi kata mereka, Paya di sini paling pas pedasnya, dan paling maknyus rasanya.

Menu sarapan spesial super maknyus itu bernama Paya.

Entah bagaimana penulisannya yang benar, pokoknya terdengarnya Paya deh.

Image

Seperti menu India pada umumnya, wujud Paya tidak jauh dari bumbu kuning kekemasan a la kari atau gulai yang sangat pedas.

Pasangan sejati, atau soul matenya si Paya ini sudah pasti Porotta (ini juga entah benar atau tidak penulisan yang aslinya, hehehe).

Bahan dasar Paya ini adalah kaki kambing.

Tidak seperti Bulalo, menu sup khas Filipina yang terbuat dari kaki sapi, Paya lebih sedikit mengandung daging.

Bentuknya cenderung seperti tetelan.

Kemungkinan besar sih, memang sisa setelah dagingnya habis dibuat kari kambing, dan menu- menu daging kambing lainnya.

Rasanya, jelas lah tidak seperti daging. Yang akan kita makan kebanyakan adalah otot ligamen dan lemak yang masih tertinggal.

Entah kenapa, perpaduan renyahnya otot ligamen di seputar sendi- sendi kaki- kaki kambing yang mungil itu ngeblend dengan sangat sempurna dengan legitnya sobekan Porotta yang sudah dicelupkan dahulu ke dalam kuah kari Paya ini.

Sama sekali tidak ada bau perengus khas kambing, karena tertutup oleh maknyusnya kari pedas si Paya.

Hampir bisa dipastikan, kita tidak akan berhenti hanya di satu Paya dan satu Porotta.

Kebanyakan yang memesan menu ini, akan memesan lagi satu paket, Paya+Porotta.

Dan kalau masih kesengsem juga, kemungkinan besar juga bakal ngebungkus.

Karena kalau harus nambah lagi, pastinya agak sedikit malu. Kita bakal diledek sebagai penduduk RW06. Atau Rewog (Sundanese=gembul, banyak makan).

Seperti di foto sebelah kiri inilah, kondisi meja di depan anda akan berakhir.

Pokoknya percaya saya deh, enak banget!

Image

Ditambah perut kenyang dan posisi duduk yang agak menggelosor, lengkap dengan perasaan cepel dan lengket dari lemak sumsum tulang.

Sensasi menyobek Porotta yang masih panas, lalu dicelupkan ke kuah pedas paya, dan renyahnya ketika menggigit lepas otot ligamen kaki kambing dari tulang- tulang mungil ini, plus kedua tangan dan mulut yang agak cumang cemong sehabis menyedot sumsum di dalam potongan tulang- tulang mungil itu tentunya tidak akan lengkap tanpa kehangatan segelas Cay.

Sampai jumpa Jumát pagi di acara Paya Party!

Diday Tea

Doha, 220320130908

Paradoks Kemalasan

Kemalasan selalu menjadi musuh terbesar bagi umat manusia.

Ada paradoks yang tidak akan terjelaskan selain hanya dengan menyinggung si malas ini.

Di dalam jangka waktu yang sama, seringkali kita bisa melakukan lebih banyak hal jika memang banyak hal yang dibebankan kepada kita.

Ada ungkapan yang sering saya baca, entah hadits, entah ungkapan dari siapa, bahwa waktu yang paling berbahaya adalah waktu luang.

Biasanya, terutama saya nih, kalau di awal hari jadwal pekerjaan hanya sedikit, saya akan cenderung menunda- nunda pekerjaan itu.

Saya cenderung langsung pergi ke pantry, minum teh, ngemil basreng (baso goreng), atau memasak mie instan dulu.

Ketika acara sarapan hampir beres, datang deh teman- teman yang lain dan, terjadilah sarapan berantai, karena selalu ada saja yang membawa cemila atau makanan yang bisa dinikmati beramai- ramai.

Dan ujung- ujungnya, pekerjaan yang hanya sedikit itu, ya bisa selesai mepet ke waktunya makan siang.

Padahal, pekerjaan yang hanya sedikit ini, karena di tempat saya bekerja jadwal pekerjaan selalu berbeda setiap harinya, tergantung permintaan dari user, seharusnya bisa selesai dalam waktu satu atau dua jam saja.

Paradoksnya, kalau begitu melihat daftar pekerjaan  yang terpampang di layar monitor itu jauh lebih banyak dari biasanya.

Secara luar biasa, sarapan menjadi lebih cepat, tidak ada acara ngemil bersama atau ngerumpi lagi. Begitu beres sarapan, minum sebentar, langsung pekerjaan saya mulai.

Dan anehnya, dengan pekerjaan yang jumlahnya berlipat- lipat dan jauh lebih banyak dari biasanya, ternyata tetap saja selesai sebelum waktunya makan siang.

Jika kita bisa menaklukan kemalasan sebentar dan sedikit saja di dalam periode kehidupan kita, ternyata kita bisa melakukan hal yang luar biasa.

Apalagi jika kita bisa istiqomah (konsisten) terus- menerus berusaha menaklukan dan mengendalikan kemalasan, pasti luar biasa!

Doha 210320132121

Rindu Lagi

Semakin dekat ke tanggal keberangkatanku ke Indonesia, semakin hebat rasa rindu ini melanda.

Kalau ada istri dan anak- anakku, sepulang kerja shift pagi sih, pasti kami akan makan malam bersama. Walau pun kadang- kadang acara sesungguhnya adalah, aku dan istriku makan bersama, dan diganggu oleh dua balita yang berlari- lari ke sana kemari sambil berteriak- teriak. Bukan hanya sekali gelas tertendang oleh kaki- kaki mungil itu.

Atau pinggiran piring yang terinjak sehingga jungkir balik dan menumpahkan semua makanan yang sedang disantap ke atas lantai.

Kata ibunya sih, mereka sedang kangen sama papihnya. Lha wong mereka seharian kalem- kalem aja kok!

Begitu aku tiba di rumah ya begitu.

Awalnya sih kadang kesal, ketika badan ini luar biasa letih dan lunglai.

Tapi..

Walau pun hanya tidak sampai dua minggu aku jauh dengan mereka, momen seperti itu sangat kurindukan setengah mati tanpa henti.

Makan tak enak,tidur tak nyenyak. Pikiran pun selalu terbagi.

Sabar ya nak, tinggal empat hari lagi papih akan datang menjemput kalian.

Disiksa Kerinduan

Seharusnya saya tidak boleh mengungkapkan hal ini, karena hanya Allah-lah sumber ketenangan sejati.

Tapi, faktanya secara de facto, hidup saya tidak tenang disiksa kerinduan kepada istri dan anak- anak saya.

Sejak tiba di Qatar, dan tidak bersama mereka, tidur saya tidak pernah nyenyak. Waktu saya sehari- hari jadi teu paruguh kata orang Sunda mah. Saya tidak hadir sepenuhnya di setiap hal yang saya lakukan.

Ada bagian jiwa saya yang tertinggal di Indonesia bersama mereka.

Walau pun saya tidak memikirkan mereka, tapi mereka selalu hadir di dalam kepala.

Hanya kepada Allah saya meminta pertolongan agar diberi kekuatan untuk bisa sabar menghadapi siksa kerinduan yang sangt berat ini.

Doha, 19 Maret 2013

Mighty Wife

Sudah lima hari ini istri dan anak- anak saya tinggalkan di Indonesia. Istri saya sakit, dan sempat dirawat beberapa hari karena sakit punggung, dan leukosit di dalam rendahnya di bawah batas normal.

Notabene, saya ingin dia harus bebas tugas dahulu dari semua urusan rumah tangga. Terutama mengurus dua anak- anak saya yang balita. Mereka tentunya memerlukan penanganan khusus yang sangat melelahkah.

Alhamdulillah, di rumah mertuaku banyak bala bantuan. Ada beberapa orang yang bisa menangani mereka.

Jadi aku bisa memastikan bahwa istriku bisa beristirahat total, dan bisa memulihkan dirinya secepat mungkin.

Di Qatar, saya harus melakukan segalanya sendiri.

Ternyata, hal yang paling melelahkan adalah housekeeping. Beres- beres rumah.

Sudah sejak matahari terbit, dan sampai saat tulisan ini ditulis, jam 10:33, baru sebagian kecil sudut kamar (bukan sudut rumah lho!) yang terlihat agak mendingan, dibanding ketika saya baru pertama kali tiba.

Padahal saya sudah mengalami bertahun- tahun hidup mengontrak rumah sendiri, dan bisa survive.

Tapi kali ini berbeda.

Bukan hanya area yang harus dibereskan lebih luas, tapi lebih cenderung ke mental dan perasaan.

Setelah menikah, saya terbiasa mengandalkan istri saya untuk mengurus segalanya di dalam rumah.

Sejujurnya sih, jarang membantu juga.hehehe.

Hilang deh, skill mumpuni saya untuk bisa hidup sendirian setelah menikah.

Wanita itu memang hebat.

Ibu itu super hebat.

Istri itu super mega big match, eh, super mega hebat sekali!