Formula 4E Untuk Tulisan Yang Kuat

 

Ada empat prinsip yang perlu kita perhatikan untuk menghasilkan  karya yang kuat. Inilah yang biasa dikenal dengan Formula 4E, yakni entertainment, escape, esthetic, dan education.

Entertainment

Karya yang baik mengandung unsur hiburan. Artinya, sepelik apapun masalah yang kita bahas atau tema yang kita angkat, seorang penulis hendaknya menyajikan dengan cara yang nyaman. Tulisan kita membuat pembaca senang karena dapat menjadi teman di saat lelah, menemukan semangat saat putus asa, dan memperoleh kegairahan saat mencerna isi bacaan

Alhasil, membuat tulisan menghibur berarti mengemas secara cerdas tema yang kita angkat sehingga menyenangkan saat dibaca. Bukan memaksakan dirimembumbui tulisan dengan hal-hal yang sensual, humor murahan, atau anekdot yang merendahkah orang lain.

Escape

Kemaslah tulisan agar menjadi perhentian sejenak bagi pembaca. Mereka dapat mengambil jarak dari masalah, untuk kemudian mencari titik jernih. Ada semacam celah bagi jiwa yang penat. Ada semacam saluran kecil yang bisa meringankan mereka dalam menghadapi  kejenuhan hidup sehari- hari. Pembaca menemukan exit window. Jalan Keluar

Esthetic

Aspek lain yang membuat tulisan kita terasa dekat di hati adalah nilai estetik yang terkandung di dalamnya. Satu maksud yang sama bisa berbeda rasa keindahannya bila diungkapkan dengan cara yang berbeda, menggunakan pilihan kata yang unik dan dirangkai dalam susunan kalimat yang khas.

Education

Pada akhirnya, ketiga aspek tersebut akan kurang kokoh kekuatannya apabila tulisan itu tidak bernilai mendidik. Secara sederhana, mendidik berarti memberi panduan, menegaskan sikap, dan keberpihakan dengan alasan yang kuat dan dapat diterima, memberi pencerahan, serta membangkitkan dorongan untuk bertindak.

 

(Dikutip dn dirangkum dari buku Dunia Kata, M Fauzhil Adhim, penerbit Dar! Mizan)

Iklan

Adean Ku Kuda Beureum

             Judul tulisan ini adalah salah satu contoh peribahasa Sunda, yang kurang lebih artinya adalah “Bangga Dengan Barang Pinjaman”.

Beberapa minggu yang lalu, saya dan keluarga berwisata ke Taman Safari Bogor dengan menyewa mobil. Mobilnya sih biasa saja, tidak terlalu mewah.

Saya ingin memperlihatkan dan memperkenalkan kepada anak- anak saya, binatang- binatang yang selama ini hanya mereka lihat di televisi. Walau pun mereka sudah mengenali hampir semua binatang- binatang “safari” seperti gajah, kura- kura, kudanil, jerapah, badak, beruang, unta, sapi, buaya, sapi, zebra, ular, kuda, singa, harimau, cheetah, jaguar, puma (mereka hanya bisa membedakan Lion dengan Tiger, yang ada jambangnya, itu lion. Hehehe), tapi mereka sama sekali belum pernah melihat binatang- binatang itu dari dekat.

Di Doha ada juga sih Kebun Binatang, tapi tidak terlalu besar, dan yang menarik buat mereka hanya gajah dan jerapah.

Dan benar saja, ketika pintu pagar gerbang safari mulai terbuka dan para pengunjung mulai ditonton binatang (iya lah, di Taman Safari, selain di Baby Zoo, manusia yang dikandangi di dalam mobil kan?).

Anak- anak mulai heboh.

Mereka melotot kegirangan. Kadang meloncat ke kiri dan ke kanan. Melihat jendela kanan, lalu melihat jendela kiri, atau ke belakang. Ketika ada binatang yang mereka kenali, langsung kompak the mulut- mulut kecil mereka berteriak:

“Itu Jerapaahh..!”

“Itu Singa..!”

“Itu Tiger..Tigerrr…! Hwwaauuw ywuiaawwaauuw..!” Si kecil tak lupa menirukan suara harimau sesuai versinya, sambil tak terlewat tangan mungilnya menirukan gerakan mencakar.

Ada sih beberapa binatang yang mereka tidak kenali.

Berang- berang, Llama, Rusa, dan beberapa binatang yang kadang saya pun tidak tahu namanya, harus saya kenalkan dulu ke mereka.

Bagian yang paling heboh sih, tentu saja ketika bagian memberi makan Zebra- zebra dan Llama yang sepertinya sudah terbiasa berlalu lalang di sepanjang jalan mobil atau bis para pengunjung.

Tiga kantong plastik wortel merah kecil yang masih ranum, dan masih bertahtakan daun  hijaunya tak lama berpindah dari tangan- tangan kami yang kadang ketakutan, dan kadang geli ketika lidah si Zebra atau Llama hampir menyentuh tangan kami.

Nah, yang paling berkesan dari kunjungan kami itu sih bukan hanya safari, Baby Zoo, Elephant Show, bioskop mini empat dimensi saja.

Ada “kenangan”yang berkaitan dengan judul tulisan ini.

Setelah safarai selesai, kami pun segera menuju ke tempat parkir untuk bersiap- siap makan siang dan sholat Zhuhur.

Ketika menunggu bapak supir, saya melihat ada mobil mewah yang parkir di sebelah mobil saya. Kacanya gelap sih. Dan saya kira pula tidak ada seorang pun yang berada di dalam.

Dengan cueknya saya foto- foto deh itu mobil.

Ceritanya sih, mobil ini akan menjadi target impian saya jika saya akan membeli mobil di Indonesia.

Setelah beberapa jepretan dari balik jendela mobil, saya jadi yakin kalau tidak ada orang di dalam mobil itu.

Ketika supir tiba, langsung saya minta tolong supir itu untuk mengambil foto kami di depan mobil bagus itu.

Istri saya sempat curiga sih, katanya dia mendengar suara orang yang berbicara di dalam mobil itu. Ah, tapi langsung saya bantah. Saya yakin, karena sudah beberapa kali memotret, tidak ada seorang pun yang keluar dari mobil itu

Dan akhirnya, sukses lah kami sekeluarga berfoto dengan latar belakang mobil mewah itu dan sekaligus gerbang di dalam Taman Safari itu memakai kamera digital dan tentunya sebagai warga Blackberry Nation, tak lupa dengan memakai BB juga.

“Lumayan, buat foto profil di bbm sama buat posting Twitter, kan orang mah ngga akan tahu kalau itu mobil orang lain!” Pikirku sambil tersenyum- senyum sendiri.

Ehh…

Ternyata oh ternyata.

Tidak sampai sepuluh detik kami berfoto- foto ria di depan mobil itu, terdengar bunyi “Jeblug!”.

Bunyi pintu mobil yang ditutup.

Ternyata, di dalam mobil itu ada orangnya. Lengkap satu keluarga, yang keluar satu per satu sambil tersenyum dan cekikikan.

Hadeuh…Malu Euy!

Doha 12042013

Bahagia Itu Sederhana

Setiap orang pasti memiliki masalahnya masing- masing.

Hutang, perselisihan antara anggota keluarga, kesehatan, karir, jodoh, harta, kendaraan, ibadah kurang khusyu, atau bahkan malas ibadah, dan beribu jenis masalah lain yang dihadapi oleh seorang manusia, pasti kita semua pernah mengalaminya.

Baik sekaligus, satu per satu, atau naudzubillahimiindzaalik, datang bertubi- tubi.

Lalu hadirlah para motivator di antara kita. Dengan pengalaman, teladan, keilmuan, dan keahlian mereka, mereka hadir bagai embun di tengah padang pasir yang panas membara.

Mereka menghadirkan kesejukan untuk orang- orang yang sedang dirundung masalah kehidupan ini.

Mereka menghadirkan kata- kata yang menyemangati semua orang yang membacanya.

Menyemangati agar menganggap hidup ini mudah, menyemangati agar tidak lelah bermimpi untuk menjadi sukses luar biasa.

Menyemangati agar kita menjadi orang kaya luar biasa, agar bisa bersedekah luar biasa banyak juga, agar kita bisa bermanfaat untuk orang banyak. Agar kita bisa menjadi pengusaha super sukses luar biasa.

Ah, intinya mereka semua pastinya menyarankan hal- hal yang insyaallah menuju kebaikan kita, dunia dan akhirat.

Saya pernah mendengar dan menonton di televisi, Rhenald Kasali pernah berbicara tentang tujuan akhir umat manusia.

Tujuan paling akhir, ultimate goal dari seorang manusia itu ternyata, bukan kekayaaan, bukan kesholehan, bukan kesuksesan, bukan kesehatan, bukan kemuliaan hidup, bukan keilmuan yang banyak, bukan karir yang cemerlang, bukan keberhasilan menjadi pengusaha yang bersedekah milyaran rupiah, bukan seseorang yang bisa menginspirasi jutaan orang, dan berjuta parameter kebahagiaan lainnya.

Menurut beliau, tujuan hidup seorang manusia adalah kebahagiaan.

Dengan berjubelnya para motivator ini, ada sisi gelap yang kurang tersorot. Ketika hampir setiap hari kita bertubi- tubi dihujani kata- kata motivasi, terkadang kita menjadi seperti dikejar target.

Kehidupan kita terkadang menjadi seperti robot, dan selalu dihantui oleh parameter- parameter kesuksekan yang terus terngiang- ngiang di dalam otak kita.

Harus sukses!

Harus kaya!

Harus bermanfaat!

Harus bisa shodaqoh satu milyar!

Dan harus- harus lainnya.

Seolah terprogram otomatis, di kepala saya pun langsung terpasang dan terpatri target- target yang luar biasa.

Saya ingin menjadi penulis novel best seller, seperti JK Rowling, dan royaltinya akan saya sedekahkan.

Saya ingin kuliah setinggi mungkin, agal bisa menjadi bekal saya di masa depan kelak, ketika sudah tidak bekerja lagi di Qatar.

Saya ingin menjadi hafizh Qurán, agar bisa mengajarkan sebanyak mungkin orang agar bisa dekat kepada Allah.

Saya ingin menjadi pengusaha sukses luar biasa, agar saya bisa shodaqoh menghajikan orang.

Saya ingin menjadi konglomerat super kaya, sehingga jika ada orang yang memerlukan bantuan, saya tidak akan berpikir panjang berapa pun jumlahnya.

Saya kadang, sejujurnya sih sering lupa bahwa itu semua ternyata hanya PERANTARA. Tak tersadar bahwa saya merasa bahwa menjadi kaya, sholeh, dan sukses dunia akhirat itu bukan tujuan akhir kehidupan saya.

Seolah- olah, saya tidak akan bahagia dulu sampai semua mimpi itu bisa saya raih.

Kalau masalah sekedar bahagia, seringkali bahagia itu sangat sederhana.

Senyum dua anak balita yang berlarian menyambutku ketika pintu rumah terbuka, itu sudah merupakan kebahagiaan.

Kita masih bisa sehat saja, itu sudah merupakan kebahagiaan.

Ultimate goal seorang manusia itu adalah Ridho Allah.

Bahagianya seorang muslim adalah ketika Allah ridho akan apa yang diperbuatnya.

Bahagianya seorang muslim adalah ketika Allah ridho kita berkumpul dengan keluarga kita di syurga-Nya kelak.

Bahagianya seorang muslim Allah haramkan dari api neraka-Nya.

Seperti kata Steven Covey, tools yang sangat penting di dalam melakukan sesuatu adalah Start From The End.

Mulailah dari tujuan akhir kita. Tujuan yang benar- benar akhir.

Kaya, sholeh, sukses, sehat, itu hanya perantara.

Sama sekali bukan tujuan akhir.

Kita masuk syurga bukan karena amalan sholeh kita, tapi semata- mata karena ridho Allah semata.

Wah, tulisan ini berarti menafikan perjuangan para motivator- motivator itu dong?

Tulisan ini berarti malah akan mendiscourage orang- orang yang sedang terpuruk dong.

Sama sekali tidak!

Saya justru menjadi lebih bersemangat untuk mencapi mimpi- mimpi saya yang tadi sudah disebutkan tadi. Karena saya mereset ulang diri saya ke tujuan akhir, tujuan yang paling akhir.

Ridho Allah.

Ketika kembali ke mimpi- mimpi saya tadi, sekarang saya memiliki energi yang jauh lebih kuat. Energi motivasi yang jauh lebih kuat dari energi para motivator yang tidak pernah lelah, tidak pernah letih, selalu berbagi dan menyebar “virus” kebaikan.

Mari kita mulai dari tujuan akhir! Semoga Allah Ridho terhadap kita.

The Beginning is The End is The Beginning.

Rekor Cuti

Empat puluh enam hari, total liburanku tahun ini di Indonesia. Keluargaku malah lebih lama lagi, mereka tinggal di Indonesia hampir dua bulan.

Dua kali lipat menyenangkan.

Dua kali lipat melelahkan.

Dua kali lipat membetahkan.

Dua kali lipat biaya mudik juga…Hehehe..