Belajar Memaksa Diri

“Sholat malam itu ternyata tidak susah. Walaupun hanya sebatas satu rakaat witir, tapi jika kita bisa merutinkannya setiap hari, insyaallah bisa mengangkat kita ke derajat yang sangat mulia”

 

                “Kriiinnngg…!!!” Suara melengking tinggi seperti ribuan gelas yang dipecahkan bersama- sama memasuki telinga seperti tusukan tombak yang tembus ke dalam otak. Sakit.

                Hampir saja kulempar weker itu jauh- jauh kalau tidak ingat harganya lumayan mahal. Hehehe…

                Ah, ternyata baru setengah empat. Sengaja kubuat alarm berbunyi jam segitu, niatnya sih ingin sholat malam dulu sebelum sholat subuh ke mesjid.

                Tetapi pada akhirnya alarm mah alarm, tapi yang bangun hanya tanganku saja. Itu pun sekedar mematikan lengkingan super berisik si weker merah kesayanganku itu. Pada akhirnya, sholat malam engga, dan sholat subuh boro- boro bisa ke mesjid. Yang ada malah kesiangan. Dan kadang bablas sampai hampir mepet matahari terbit.

                Apakah ada yang memiliki pengalaman yang sama?

                Mungkin tidak ya? Tidak jauh beda maksudnya kan? 😀

                Begitulah yang terjadi, menjadi rutinitas harian saya. Boro- boro sholat malam atau bisa sholat subuh ke mesjid. Sholat subuh saja kadang masih bisa telat.

                Walaupun tidak sama persis, tapi tahapan- tahapan monolog seperti ini pasti akan kita lalui:

                “Jam berapa sekarang?” Kita pasti langsung terduduk atau masih berbaring tapi dengan mata yang setengah terbuka karena tertutup pulau di ujung mata. Kalau dalam bahasa Prancis, biasanya pulau ini disebut sebagai C’hileuh.

                “Hari apa ya sekarang?” Mulai deh garuk- garuk kepala walau pun tidak gatal.

                “Siapa sih yang nyalain alarm jam segini?” (padahal kita sendiri tuh yang nyalaain, hehehe)

                “Oh alarm ini, tahajud tea geningan yah?” Pada tahap ini mulai sedikit sadar nih. Sampai tiba-tiba:

                “Ah, masih setengah empat ini lah, subuh kan jam lima kurang seperempat, lebih dari sejam” Pertanda buruk pun mulai muncul. 😀

                Dengan diikuti bunyi yang sangat legendaris:

                “ZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZ……………….” Kita pun sukses tidur lagi dan dialog selanjutnya (setelah bangun yang kedua) mungkin kita yang marah- marah kepada diri sendiri, atau bahkan istri kita.

Menyalahkan, kenapa kita tidak dibangunkan.

Sok lihatin geura, berapa kali kita kalah?

                Bukan satu, bukan dua, tapi lima kali kita menyerah di dalam pertarungan terbesar dalam diri seorang manusia.

Baik vs Jahat.

Malas vs Rajin.

Bangun vs Tidur.

Kasur vs Sajadah.

Alhamdulillah, akan tetapi hal itu tidak terjadi lagi sodara- sodaraku yang tercinta!

Setelah melalui tahapan perenungan, pencarian, investigasi dan observasi yang menyeluruh dan berkesinambungan serta super komprehensip, eh, komprehensif, akhirnya saya temukan siasat terbaik untuk bisa melawan lambaian selimut dan panggilan tempat tidur empuk yang bselama bertahun- tahun membuat saya jadi manusia pemalas.

Beberapa minggu ini Alhamdulillah saya akhirnya menemukan jurus paling ampuh untuk bisa bangun tidur, dan tentunya terbukti ampuh untuk diri saya juga. J Sebab tidak mungkin saya membuat tulisan ini kalau diri saya masih belekok, dan tidak mengalami dan melakukan apa yang saya tulis. Semoga ampuh juga buat yang membaca.

                Ternyata nih, penyebab utama kemalasan diri untuk bisa bangun adalah hal yang sangat sederhana sekali.  Kita malas bangun, atau bahkan tidak bisa bangun karena kita sering, bahkan selalu memberi kesempatan kedua kepada diri kita untuk berpikir setelah kita terbangun.

Jurusnya cuma satu:  Hudang Harita Keneh! Eh, maaf, channelnya berpindah lagi ke bahasa Sunda.

Bangun Saat Itu Juga!

                Ya, begitu anda terbangun karena alarm atau dibangunkan oleh istri, jangan beri waktu otak untuk berpikir. Jangan beri kesempatan sisi malas anda untuk menguasai diri anda. Lempar diri anda keluar dari tempat tidur.

                Tinggalkan tempat tidur, dan langsung ke kamar mandi, siram muka anda dengan air dingin. Ketika muka sudah terbasuh dengan air wudhu, dan nyawa anda sudah terkumpul semua itulah saatnya anda berpikir. Hehehe..

                Kalau pun anda ternyata masih ngotot ingin tidur lagi, insyaallah tidak akan bisa, kecuali  anda memang super kebluk dan bersahabat erat dengan Raja Penidur, tokoh terhebat dunia persilatan di novel karya Bastian Tito: Wiro Sableng. 😀

                Sok atuh, masa masih kalah sama selimut dan kasur?

                Sholat malam itu ternyata tidak susah. Walaupun hanya sebatas satu rakaat witir, tapi jika kita bisa merutinkannya setiap hari, insyaallah bisa mengangkat kita ke derajat yang sangat mulia.

                Dan pastinya akan ada “efek samping” yang lainnya.

                If you managed to do that, eh, kenapa pindah channel lagi ini teh? Maaf. Jika anda berhasil memaksa diri anda untuk mendobrak kemalasan ini, insyaallah anda pasti akan bisa rutin sholat subuh ke mesjid setiap hari.

                Dan insyaallah pasti itu juga akan berakibat anda bisa sholat sunat dua rakaat sebelum subuh, yang “lebih baik dari dunia dan seisinya” kan?

Pada akhirnya saya tetap saja hanya seorang manusia tempatnya salah dan khilaf, yang kadang akhirnya masih juga terlalu lemah untuk mengalahkan kemalasan. Sehingga satu atau dua kali masih bisa terlambat.

                Buat diri saya, untuk bisa menemukan penyebab utama seperti ini sungguh merupakan pencapaian yang luar biasa. Ya seperti di tulisan Dobrak Diri, saya akhirnya bisa mendobrak diri saya untuk bisa sholat malam, walau pun hanya dua rakaat+satu rakaat witir, atau bahkan hanya sholat witir saja.

Lagi- lagi pencapaian ini membuat diri saya memiliki motivasi lebih dalam hidup. Lebih segar dan lebih tenang menjalani hari. Masalah- masalah besar menjadi ringan.

Tidak ada yang susah lah di dunia ini mah, mau urusan ibadah, pekerjaan, sekolah, rumah tangga, dan urusan- urusan lain yang biasanya membikin kita pusing tujuh keliling.

                Bukankah kemalasan itu salah satu sumber malapetaka dan kemiskinan hidup?

                Mari memaksa diri!

 

www.didaytea.com       

271111

               

Dobrak Diri

Dobrak Diri

Ya! Setelah beberapa kali memenuhi tantangan diri, saya semakin yakin bahwa tidak ada yang sulit di dalam hidup ini asal kita mau dan dengan izin Allah

Challenge yourself, and lt your life will be full of passion to let you live better here and after” (Diday Tea)

Ketika saya sedang berkonsentrasi penuh untuk melatih intuisi dan ketajaman mata , serta ketelitian dan ketepatan berpikir dengan bermain Angry Birds, tiba- tiba hape Blueberryku (bukan Blackberry) tiba- tiba meraung- raung. Di seberang telepon sana, ternyata salah seorang teman kerja saya meminta tolong untuk memperbaiki laptopnya yang kena virus. Saya kaget lah, tiada angin badai atau hujan apalagi awan mendung yang lewat di depan rumah saya, kenapa tiba- tiba ada orang yang merekomendasikan saya sebagai seorang ahli IT yang bisa memperbaiki semua masalah software di komputer merek apa pun.

Tadinya sih mau saya tolak dan “mengorbankan” teman saya yang saya yakini lebih mumpuni di bidang perkomputeran. Permintaan tolong itu akan saya tolak saja, dengan alasan saya tidak tahu menahu masalah software. Eh, setelah saya pikir ulang,  ternyata ini adalah tantangan baru! Apa salahnya sih kalau dicoba dulu, kan mas Google selalu ada di depan saya setiap saat? Kalau pun ngga bisa ya, kembalikan saja laptop itu. Gitu aja kok repot yah?

Laptop teman saya itu memang berada di dalam masalah besar. Laptop itu sama sekali tidak bisa bertelur, eh, itu mah hayam ya? Maaf, tiba- tiba kepikiran Angry Bird yang egg thrower, hehehe…

Laptop teman saya itu tidak bisa mengeksekusi program apa pun. Bahkan system restore pun tidak bisa.

Berdasarkan pengalaman laptop saya yang pernah mengalami hal yang kurang lebih sama.  Saya coba cari di menu facory reset. Alhamdulillah, ternyata ketemu dan bisa! Laptop itu saya factory reset saja dan tidak lebih dari 20 menit, seresettt…Semua beres, dan laptop itu kembali seperti baru.

Buat saya, kejadian ini adalah pencapaian yang sangat luar biasa. Pencapaian yang meningkatkan percaya diri di dalam diri saya berkali- kali  lipat. Karena ini membuat saya berkata kepada diri saya: “Ternyata saya bisa ya?” “Ternyata mudah ya?” “Ternyata gitu doang lah!”

Saya bisa melakukan hal yang tadinya saya pun tidak yakin apakahbisa melakukannya atau tidak.

Ya! Setelah beberapa kali memenuhi tantangan diri, saya semakin yakin bahwa tidak ada yang sulit di dalam hidup ini asal kita mau dan dengan izin Allah.

Masalahnya sederhana saja, hanya sekedar mau atau tidak mau. Lain tidak.

Jika anda mau dan kalau pun tidak berhasil, anda sudah mendapat pengalaman baru untuk tidak berhasil.

Anda selangkah lebih maju dibanding orang yang jarang mau menerima tantangan atau membuat tantangan dalam hidupnya.

Apakah anda sekarang hidup dengan nyaman? Bangun tidur, sholat, sarapan berangkat kerja, pulang, jalan- jalan ke taman atau mall dengan keluarga tercinta.

Jika anda nyaman sih silahkan saja, dan tidak ada yang salah dengan hal itu.

Tapi percayalah, anda akan merasa lebih cepat tua, hehehe…

Untuk saya, ketika hidup hanya sebatas menjalani rutinitas seperti itu, saya akan merasa seperti Angry Bird di dalam sangkar. Ada perasaan kurang nyaman ketika kejenuhan rutinitas mulai hinggap di atas pikiran kita. Hidup terasa kurang berwarna.

Walau pun tidak sering, tapi saya sering memberikan tantangan untuk diri saya. Hal yang menantang tidak harus selalu sulit. Contohnya menantang diri untuk bisa sholat dhuha dua rakaat setiap hari. Atau merutinkan sholat malam,walaupun hanya satu rakaat witir. Atau memaksa diri untuk bisa mengaji Al Qurán satu ayat setiap hari.

Atau bisa juga berupa tantangan fisik. Saya menantang diri saya untuk bisa berlari terus- terusan selama 30 menit di atas treadmill dengan kecepatan 10km/jam (kalau yang ini masih belum kuat..hehehe). Atau memaksakan diri untuk rutin bermain sepakbola setiap minggu. Atau hal kecil seperti menantang diri untuk push up 10 kali dan sit up 10 kali setiap bangun tidur.

Atau kadang saya mencari tips dan trik untuk mengedit foto di Youtube, dan mencoba praktek sendiri. Lalu saya posting di Facebook untuk melihat bagaimana tanggapan teman- teman saya.

Dan tantangan- tantangan kecil ini ternyata berlanjut sampai sekarang. Karena saya belum bisa istiqomah terus- terusan melakukan tantangan- tantangan itu. Kecil atau besar pasti akan selalu sulit. Sulit tapi bisa. Bisa asal mau!

Tuh kan, ujung- ujungnya mah, asal kita mau, pasti kita akan bisa melakukan hal- hal yang sulit sekalipun.

Ketika kita sudah bisa dan berani menantang diri untuk mencapai sesuatu, itu pun sudah sangat bernilai. Itu artinya kita sudah berhasil mendobrak kemalasan di dalam diri.

Setiap pencapaian setelah memenuhi tantangan akan menimbulkan ledakan motivasi dan percaya diri yang luar biasa dari dalam diri kita.

Bukankah malas adalah salah satu musuh terbesar di dalam hidup kita?

Ayo dobrak diri!

Didaytea

21112011

Doha, Qatar