Bercerita Sejarah Qatar Dengan Keajaiban Visual dan Desain

Bercerita Sejarah Qatar Dengan Keajaiban Visual dan Desain

Oleh: Diday Tea

The National Museum of Qatar (NMoQ) is dedicated to bringing to life the unique story of Qatar and its people. It actively gives voice to the nation’s rich heritage and culture and demonstrates our extensive network of ties with other nations and people around the world. Designed as a vibrant and immersive space, diverse communities can come together and experience Qatar’s past, present and future.

Inilah yang menjadi kalimat pembuka di website resmi National Museum of Qatar: https://www.nmoq.org.qa/

Museum ini baru saja dibuka di pagi hari ketika tulisan ini dibuat.

Sungguh spektakuler, amazing, awesome dan (jika ada) kata-kata lain  yang bisa lebih menggambarkan kekaguman saya ini kepada bagaimana indahnya Qatar “bercerita”tentang sejarahnya dari sejak ribuan tahun yang lalu. Dari era negara ini belum dikenal dunia, zaman ketika masa keemasan Mutiara di dunia, sampai sekarang menjadi salah satu negara dengan pengaruh besar.

Sekarang Qatar adalah pengekspor LNG terbesar dunia dengan mengirimkan 81 juta ton pada tahun 2017 atau 28% dari jumlah keseluruhan di dunia.

Dari luar saja, sudah sangat menarik perhatian dengan bentuknya yang seperti Pesawat Alien atau UFO.

Di dalam?

Anda bakalan “mind blown”lah kata orang bule mah, karena anda akan menyaksikan keindahan visual yang spektakuler dan sepertinya belum pernah anda saksikan di dalam hidup anda.

Hampir semua dinding di area dalam museum adalah layar raksasa yang menampilkan animasi, dan video yang sangat indah.

Untuk pemegang Qatar Resident permit tidak perlu membayar, tapi untuk pengunjung dari luar Qatar dikenakan biaya 50 Qatari Riyal, sekitar 200 Ribu Rupiah.

Jangan lupa sempatkan untuk transit ke Qatar dan mengunjungi tempat-tempat spektakuler seperti National Museum of Qatar ini ya!

Pemegang paspor Indonesia sekarang sudah bebas visa sampai 30 hari lho!

 

 

Diday Tea

Doha, Qatar

28 Maret 2019

Cover sCREENSHOT

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan
Tak Berkategori

Teh Manis Yang Pahit

Teh Manis Yang Pahit

Cerpen oleh Diday Tea

 

 

Di dalam sebuah rumah mungil di tengah kota Bandung, tahun 2006, terjadilah satu  penggalan kisah kehidupan dua insan  yang mungkin menjadi penyesalan seumur hidup untuk keduanya.

“Mangga A, dileueut teh manisna, mumpung panas keneh, engke mah bakal moal raos” Kata seorang gadis manis yang baru saja menyimpan segelas teh panas di atas sebuah meja jati  tua yang sudah berwarna kehitaman itu.

Kurang lebih artinya “Silakan Mas, teh manisnya diminum, mumpung masih panas, kalau nanti keburu dingin”.

Walau pun tinggal satu jam saja menjelang magrib, tapi hari itu masih terang benderang oleh cahaya Jjingga keunguan sang lembayung senja.

Terang tapi terasa muram. Terpancar tapi mengandung kegelapan.

Ruang tamu mungil yang berisi sofa tua berwarna coklat dan rak buku kosong yang juga berwarna coklat itu juga terasa masih terang, tapi temaram.

Semburat cahaya Ungu dan Jingga seolah sudah bersiap untuk mewarnai kelabunya hatiku sepulang dari rumah itu.

Wajah si gadis yang baru saja menyajikan teh tadi juga seperti sang senja.

Bercahaya tetapi suram.

Dia terduduk layu di sofa seberang tempat aku duduk. Pandangannya pun dia buang jauh-jauh ke bawah, entah apa yang dia pandang, entah apa yang menggelayuti hatinya.

Tak lama setelah gelas itu dia simpan di atas meja, hampir setengah dari segelas teh manis itu sudah melewati kerongkonganku.

Untuk beberapa saat kami berdua hanya terdiam.

Kulihat sesekali dia membetulkan posisi jilbab abu-abunya yang kurang rapi, karena dipakai terburu-buru.

Aku tidak sabar ingin segera memberitahu kabar gembira ini. Sehingga tidak sempat aku mengabari dia, kalau aku baru tiba di Bandung satu jam sebelum aku sudah berada dengannya di ruang tamu mungil itu..

Aku datang hanya untuk memberi kabar gembira ini.

Tetapi melihat wajah suramnya, timbul sedikit keraguan.

O iya, dia adalah temanku sejak aku masih berseragam Putih Abu-Abu dan dia masih berseragam Putih Biru.

Namanya Tamara Wulandari. Tapi dia selalu menolak jika dipanggil Tamara, karena merasa minder luar biasa. Dia tidak mau dibandingkan dengan Tamara yang artis paling cantik pada zamannya itu.

Dia hanya ingin dipanggil dengan sebutan “Ulan”.

Sudah lima tahun aku merantau di Malaysia. Dan dia pun baru saja menyelesaikan kuliahnya tahun kemarin.

Rumah kami sebenarnya berbeda Kelurahan, tapi ada semacam kajian bulanan yang selalu melibatkan panitia gabungan dari beberapa Mesjid yang berbeda. Dan dia adalah salah satu remaja mesjid yang menonjol dari remaja mesjid di wilayah dia tinggal.

Setidaknya menurutku dia yang paling menarik perhatian.

Dan kondisi juga yang mengharuskan kami terus berinteraksi hampir setiap malam Jum’at. Jadwal Ketika semua guru ngaji mengadakan kelas gabungan oleh ustadz di lingkungan kami.

Cara kami berkenalan kami pun tidak akan pernah bisa aku lupakan.

Hanya dengan secarik sobekan kertas bertuliskan “Assalaamuálaikum, kamu sama temen kamu suka beli Surabi di perempatan jalan Pelindung Hewan ya? Perkenalkan, nama saya Dadang. Nama kamu dan temen kamu siapa kalau boleh tahu?”

“Iya. Saya Ulan, dan temen saya Imas. Boleh kenalan, tapi tolong fokus ke pengajian Kang!”

Malam itu pengajian gabungan berlangsung di mesjid wilayahnya yang tidak terlalu besar, sehingga jamaah laki-laki dan perempuan hampir tidak berjarak. Dan karena aku datang terlambat, takdir menunjukkan jalanku duduk tepat di barisan terakhir mesjid di dekat pintu, dan tepat juga di samping dua gadis itu.

Ulan dan Imas.

Sejak saat itu pula hatiku sudah tertambat.

Ternyata, sejak dia lulus SMP, sudah ada yang melamarnya. Seorang laki-laki yang ternyata juga adalah remaja mesjid senior di Mesjid daerahnya.

Lamaran itu diterima dan perjanjiannya dia akan dinikahi oleh laki-laki itu ketika sudah lulus kuliah.

“Sabar banget kalau dia mau beneran nunggu yaa?” Komentar sejenis yang keluar dari mulut orang-orang, hampir serentak terdengar.

Tapi itu wajar, karena laki-laki yang melamarnya itu akan segera berangkat ke Jepang karena mendapat beasiswa untuk kuliah di sana. Dan ada ikatan dinas selama tiga tahun.

Tepat setahun setelah dia lulus, dia berjanji akan langsung menikahinya.

Kabar itu pun hanya kudengar dari teman dekatnya dan tetangganya yang satu sekolahan denganku.

Dengan meredam perasaan kecewa karena dia sudah dilamar, aku masih bisa bergaul dan berteman secara normal.

Setelah aku merantau ke Malaysia, setiap libur lebaran selalu aku sempatkan berkunjung ke rumahnya, atau jika tidak sempat, kami pada akhirnya pasti bertemu ketika dia berziarah ke makam almarhum Ayahnya, dan aku berziarah ke makam almarhumah Ibuku.

“Assalaamu’alaikum!” Kesunyian di ruang tamu mungil itu tiba-tiba terpecah oleh suara anak perempuan.

“Wa’alaikumsalaam!” Aku dan dia serempak menjawab salam dari adik bungsu Ulan yang masih memakai seragam Putih Biru.

“Eh, Aa Dadang, udah lama? Sapa gadis remaja berseragam Putih Biru yang dulu masih aku ajari  belajar Iqro satu itu.

“Iya Neng, baru setengah jaman yang lalu” Jawabku sambil melihat dia berlalu masuk ke dalam.

“Bagus Aa dateng, semoga bisa menghilangkan kesedihan si Teteh. Udah beberapa hari ini dia selalu mengurung diri di kamar. Naannggiisss mulu! Ngga mau makan ngga mau ngapa-ngapain sama sekali. Untung ada Aa nih. Tolong kasih tau dia ya biar melupakan masalahnya dan segera move on!” Kalimat beruntun meluncur cepat dari bibir mungilnya sambil berlalu masuk ke kamarnya.

“Apaan sih Neng, udah sana!” Ulan mengomel sambil merengut.

“Jangan dianggap A, si Neng mah emang gitu bercandanya. Ngga asik!” Katanya lagi sambil kembali memandangi meja kaca di depan kami.

Dan setelah si Neng berlalu, kesunyian itu kembali lagi.

Hampir setiap 20 detik kulihat jam bundar berwarna Colat Tua yang menempel di dinding belakangnya yang masih saja tertunduk layu seperti tidak ada gairah hidup.

“Kenapa Lan, keliatannya seperti kalut banget?” Tanyaku perlahan.

“Ah, engga Aa, Ulan cuma baru sembuh dari sakit, jadi masih kerasa lemes mau ngapa-ngapain juga. Ngga ada apa-apa Kok!” Jawabnya dengan senyum getir.

“O iya A, katanya ada kabar yang sangat menggembirakan? Saking menggembirakannya sampai Aa dari airport langsung meluncur ke rumah Ulan, bukannya ke rumah Aa dulu!” Kali ini wajahnya terlihat lebih segar. Wajah putih pucatnya seperti mendapat tambahan aliran darah sehingga agak mulai merona.

 

Tak bisa kubohongi hatiku yang memangsudah menaruh hati sejak pertama kali melihat dia yang sedang membeli Surabi di pertigaan dekat lapangan Tegal Lega itu.

 

Bahkan setelah aku tahu bahwa dia sudah dilamar, tetap saja aku selalu mengintip peluang sekecil apa pun untuk bisa merebut hatinya. Bukankah selama Janur Kuning belum berkembang, peluang masih selalu ada? Kalimat yang selalu menghantui kepalaku selama beberapa lama.

 

Tapi seiring berjalannya waktu dan kepergianku ke Malaysia untuk bekerja di sebuah perusahaan Petrokimia terbesar di sana, aku sudah bisa menghapus perasaan itu. Masih kujaga hubungan baik dengan dia dan keluarganya karena dua adikku kebetulan bersekolah di SMA yang sama.

 

Dan tentunya bukan kebetulan juga kalau dokter yang merawat ayahnya sebelum meninggal karena sakit diabetes yang menahun adalah Ibuku.

“Iya Lan, kabar yang menggembirakan banget ini teh!” Kataku yang dengan bersemangat

“Alhamdulillah Minggu kemarin Aa melamar Imas, dan alhamdulillah ternyata diterima!” Kataku lagi dengan semangat yang berlipat ganda.

O iya, Imas adalah sahabat dekatnya Ulan yang baru saja masuk bekerja di Rumah Sakit tempat Ibuku bekerja. Pokoknya saking dekatnya, di mana ada Ulan, di situ pasti ada Imas. Bahkan sejak kejadian perkenalan sobekan kertas itu, aku sudah meyakini kalau mereka adalah BFF.

Best Friend Forever.

Tapi setahun yang lalu mereka sempat jarang saling menghubungi, dan tidak ada seorang pun yang tahu kenapa penyebabnya.

Kabar yang beredar sih, ada selentingan kalau tunangan Ulan itu pernah memiliki hubungan khusus ketika mereka masih SMA. Ulan bersekolah di SMA, tapi Imas dan Andri bersekolah di SMK Kimia.

Mungkin karena saking seringnya bertemu, akhirnya timbul perasaan khusus di antara mereka yang berujung memburuknya hubungan Ulan dan Imas.

Tapi setelah Andri resmi melamar Ulan dan Imas pun meneruskan kuliah ke Akademi Keperawatan di Rumah Sakit tempat Ibuku bekerja, segala sesuatu kembali menjadi normal.

“Appppaaaahh???” Ulan yang tadinya seperti pohon kering dan layu itu hampir seperti terloncat dari sofa.

“Yang bener A? Kok bisa? Kok Imas? Kok Ulan ngga tau? Ko Mamah ngga pernah cerita? Kok Imas ngga pernah bilang?” Dan beberapa pertanyaan lainnya yang terus berhamburan dari bibir mungilnya yang masih pucat itu.

“Semuanya berjalan begitu cepat , Lan” Jawabku dengan semangat.

“Wahh, alhamdulillah atuh, Ulan ikut bahagia. Jangan lupa undangannya ya? Ulan menimpali lagi dilengkapi senyuman. Tapi, senyuman di bibirnya kali ini hanya singkat. Setelah kalimat itu, wajahnya langsung kembali tertunduk.

“Iya atuh pastinya, pasti Aa undang!” Jawabku lagi.

Setelah itu, beberapa saat kami hanya terdiam lagi.

Baru saja kuhela nafas panjang, kumandang adzan Magrib sudah memasuki ruang tamu kecil tempat kami duduk berhadapan itu.

Baru sedetik adzan berhenti, dengan sigap aku berdiri dan langsung minta izin pamit ke mesjid.

Ulan dan Ibunya melepasku dengan lambaian tangan mereka. Tak sampai sepuluh kuayunkan kakiku, aku balikkan badanku. Kulambaikan tanganku lagi. Seolah itu adalah perpisahan terakhir.

Padahal baru saja aku memberitahukan bahwa aku akan segera melepas masa lajangku, dan tentunya tidak mungkin dia dan keluarganya tidak akan aku undang.

Ternyata dia masih berdiri di bingkai pintu.

Tangannya sudah turun, tapi dia masih memandangiku dari jauh.

Tak sampai dua detik kupandang lekat mata bulatnya, tak mungkin aku salah melihat, tapi selintas aku lihat ada kilauan cahaya berkilau dari sudut matanya.

Setelah beres sholat Magrib berjamaah, aku sempatkan bertemu dan mengobrol dengan remaja mesjid setempat yang selalu menjadi rekan panita bersama kajian gabungan antar mesjid.

Ya basa basi kerinduan biasa setelah lama tak bertemu. Sampai ketika pembicaraan tiba pada satu pembahasan yang akan mengguncang perasaanku.

“Eh, kang, tadi dari rumah Ulan ya? Kasian banget dia ya?” Kalimat ini meluncur dari kang Dudi, ketua remaja Mesjid yang sekarang sudah menjadi ketua DKM.

“Kasian kenapa Kang?” Tanyaku segera dengan wajah terkembang penasaran.

“Emang tadi ngga dibahas sama dia ya?” Jawabnya.

“Engga, saya Cuma sebentar tadi. Keburu Magrib. Itu pun cuma ngasih tau kalau lamaran saya diterima oleh Imas! Ceritanya panjang lebar dan tinggi deh, nanti saya ceritain” Jawabku lagi.

“Tau ngga kalau dia ditinggal nikah sama si Andri? Tega banget ya, ngebatalin tunangan seminggu sebelum dia pulang dari Jepang. Itu pun setelah keluarganya ada yang melihat undangan pernikahan dia dengan perempuan lain. Ngga nyangka banget!”

“Katanya sih, beberapa bulan yang lalu mereka sempat bertengkar hebat karena Andri mendapat kabar bahwa sebenarnya Ulan tidak pernah mencintai Andri. Dan sebenarnya Ulan memiliki perasaan sama kang Dadang. Tapi karena Andri lebih dahulu melamarnya, dan kang Dadang pun tidak pernah tahu, dan Ulan tidak pernah sempat mengemukakan perasaannya, maka terjadilah pertunangan itu.”

Mendengar itu dadaku serasa tersambar petir.

“O Iya, dan ternyata yang memberitahukan hal itu ke Andri adalah Imas. Dia tidak sengaja membaca diarynya Ulan ketika menginap di rumahnya. Ketika”

Teh manis yang tadi teguk habis menjelang Magrib, tiba-tiba terasa pahit.

 

Doha, 27 Maret 2019

 

Teh Pahit

Tak Berkategori

Mendobrak Kryptonite Kemalasan

Oleh Diday Tea

Rasanya tidak akan ada yang tidak tahu kalau kelemahan terbesar Superman adalah Kryptonite.

Jangankan menyentuhnya, berdekatan saja sudah cukup untuk membuat Lex Luthor bisa membuat Mas Clark Kent yang sedang menyamar dengan membuka kacamata dan memakai baju ketat berjubah Merah itu tak berdaya upaya dan tak bertenaga.

Tapi tentunya saya tidak akan membahas panjang lebar tentang tokoh-tokoh khayalan itu, karena saya hanya ingin menyampaikan analogi yang sederhana saja.

Setiap orang punya kelemahan seperti lemahnya Superman oleh Kryptonite.

Para pecandu narkoba, walaupun sudah sembuh dan direhabilitasi, bisa terjebak menjadi pecandu lagi, dengan seketika, jika terpapar lagi dengan candunya.

Kemalasan juga sebenarnya adalah candu.

Malas ibadah, malas mengaji, malas bangun pagi, malas membaca, malas ngapain aja, dan segala bentuk kemalasan lainnya itu laksana candu.

Segala bentuk kemalasan bisa membuat ketagihan jika kita selalu menurutinya.

“Ah, nanti aja bangunnya lima menit lagi!” Kita bergumam sambil menekan tombol Snooze alarm berlabel “Tahajud Woy!” di layar handphone yang speakernya meraung-raung memekakkan telinga siapapun yang mendengarnya.

“Ah, sibuk,ngga ada waktu!” Adalah kalimat yang sering menjadi alibi kuat bagi para pemalas.

Belajar dong mendobrak kemalasan di dalam diri anda.

Umur kita terbatas, tapi ternyata kewajiban kita di dunia ini jauh lebih banyak loh!

Kita lebih kuat dari Superman yang tidak bisa melakukan apa pun karena Kryptonite.

Kemalasan bisa kita dobrak dengan mudah.

Lawan dan terjang segala bentuk kemalasan.

Malas bangun pagi? Paksa diri untuk langsung bangun, pasang alarm tiap dua menit kalau perlu.

Malas mengaji? Install aplikasi Nakhtim yang akan membuat HP kita memunculkan sayu ayat Al Qur’an di layarnya setiap kita unlock HP kita.

Malas belajar? Ingat orang tua yang sudah bersusah-payah demi kita bisa sekolah.

Malas bekerja? Ingat, kita punya tanggung jawab.

Banyak jalan menuju ke Milan, eh, Roma. Maaf, karena saya fans Milan, jadi kurang nyaman kalau menyebut nama klub rival.

Banyak cara untuk mendobrak dan menghancurkan Kryptonite kemalasan.

Banyak berdo’a, kuatkan niat, bulatkan tekad, dan saksikan diri anda dua puluh tahun lagi, tiga puluh tahun lagi yang akan bangga kepada diri anda hari ini!

Doha, 22 November 2018

Tak Berkategori

Mendobrak Diri Dengan 30 DWC

 

Mendobrak Diri Dengan 30DWC

 

Oleh: Diday Tea

Walaupun saya sudah menerbitkan dua buku solo dari penerbit mayor, tapi empat tahun berlalu begitu saja tanpa ada satu karyapun yang diterbitkan, sudah terlalu lama.

Selama itu pula saya bersembunyi di balik alasan yang paling keren sebagai alibi, untuk berhentinya produksi tulisan yang lahir dari tarian jari jemari saya di atas keyboard: “Writer’s Block”.

Padahal sih, alasan aslinya memang sayanya yang belum bisa mengatur waktu, meluangkan waktu khusus untuk rutin menulis.

Sehingga, puluhan draft novel, dan draft buku non fiksi di dalam folder “Proyek Buku Diday Tea” statusnya begitu-begitu saja.

Masih saja sebagai draft.

Tentunya saya tidak akan menyebutkan kalau game FIFA 15, FIFA 16, dan FIFA 17, serta FIFA 18 di Playstation 4 adalah salah satu penyita terbesar jatah waktu menulis saya. Karena sejujurnya itu memalukan dan memilukan.

Sudah beranak tiga kok masih main FIFA, apa kata dunia? Hehehe.

Ketika keasyikan menerima tantangan bermain online dari teman-teman selama berjam-jam, hilang lenyap sudah kekhawatiran saya yang masih belum menghasilkan tulisan “serius” untuk buku saya yang ketiga.

Saya bisa betah memegang Dual Shock Controller tanpa jeda selama hampir semalaman tanpa pegal ataupun diserang rasa ngantuk.

Lelahpun tak saya hiraukan demi meraih kemenangan demi kemenangan.

Itupun, kemenangan yang sebenarnya jarang terjadi, karena level permainan saya masih belum bisa mengejar teman-teman saya yang sudah lebih jago.

Hadeuh. Parah ya?

Tapi, ketika akan menulis, sepuluh menit pun mata sudah terasa berat, pinggang sudah pegal, kepala langsung terasa berat, jari jemari pun serasa mau lepas dari sendinya.

Tulisan yang lahir dari tarian jari jemari saya dengan penuh perjuangan, masih sekedar status-status singkat di Facebook, atau caption-caption pendek di desain poster dakwah saya di Instagram @didaytea.

Nah, pada akhirnya pucuk dicinta ulam tiba, yang dinanti telah tiba, yang ditunggu akhirnya malah dilamar orang, eh, maaf. Tetiba saya teringat video klip kepedihan seorang tamu undangan yang menyanyi lagu “Menjaga Jodoh Orang” di pernikahan kekasihnya.

Kasihan ya?

Maksud saya tadi, titik balik yang ditunggu selama bertahun-tahun itu akhirnya tiba ketika saya dengan sengaja “mencemplungkan” diri saya ke dalam sebuah tantangan bernama 30 Days Writing Challenge.

Saya tadinya Nothing to Lose, alias tanpa beban.

Karena kalaupun saya pada akhirnya tidak bisa menyelesaikan tantangan itu, toh biayanya juga tidak terlalu mahal.

Dan hari ini saya berhasil membuktikan bahwa saya bisa mendobrak kemalasan di dalam diri saya.

Saya bisa memaksa diri untuk menulis selama tiga puluh hari tanpa berhenti!

Tidak ada lagi dinding belenggu lelah, malas, pusing, ide mentok, atau tidak ada waktu.

Saya dobrak itu semua dengan menulis kapan saja, di mana saja dengan media apa saja.

Di dalam perjalanan menuju tempat bekerja, di mall ketika sedang menemani anak-anak bermain.

Menulis hanya dengan dua jari, jempol kiri dan telunjuk kanan, di atas handphone android jadul saya ketika bersantai di taman-taman yang indah di Qatar, sambil melihat anak-anak gembira memacu sepeda baru mereka di seantero area taman yang luasnya seperti hutan dan bukit di serial televisi Telle Tubbies itu, kini terasa jauh lebih mudah.

Saya bisa menulis ketika saya ingin menulis dan ketika saya harus menulis.

Tulisan ini pun hanya saya tulis dalam waktu tidak lebih sambil mengawasi pemasangan pengantar rak buku dan rak sepatu yang saya pesan kemarin.

Dan yang lebih ajaib lagi, naskah buku non fiksi ketiga saya yang sudah mangkrak dan teronggok pasrah tak terjamah di dalam folder-folder yang tidak kalah terbengkalai juga, akhirnya bisa saya selesaikan.

Draft itu kini sudah menjadi naskah mentah yang tinggal dipoles, dijahit, digosok, dan dipermak agar segera memendarkan pesonanya untuk segera dikirim ke penerbit terbesar di Indonesia.

Insyaallah Best Seller tahun depan!

Terimakasih 30 Days Writing Challenge!

Doha, 19 November 2018

Tak Berkategori

Hati Laksana Kuburan

Hati Laksana Kuburan

Oleh: Diday Tea

Tanggal 17 November 2018 adalah salah satu tanggal keberuntungan untuk saya.

Hari Sabtu pagi kemarin, Saya sangat beruntung karena bisa menghadiri kajian bersama Ustadz Oemar Mitta yang diadakan di Fanar Building, Doha, Qatar.

Itulah salah satu keberuntungan kami orang Indonesia yang tinggal di Qatar, bisa lebih dekat menghadiri kajian-kajian dari ustadz kondang tanah air.

Tentunya masalah selfie dam bisa berfoto bersama dengan Ustadz-ustadz tersebut tidak akan saya sebutkan secara gamblang, karena walaupun saya bisa berfoto, tentunya sudah lebih banyak teman-teman saya di Qatar yang bisa lebih akrab dan lebih dekat dengan para ustadz tersebut.

Ustadz Khalid Basalamah, Ustadz Safiq Basalamah, Aa Gym, Ustadz Adi Hidayat, Ustadz Felix Siauw, Ustadz Agus Setiawan, Ustadz Hanan Attaki, dan beberapa ustadz terkenal lainnya pernah berkunjung ke Qatar.

Setiap bulan Ramadhan pun IMSQA mengadakan safari kajian untuk komunitas Warga Indonesia di Qatar.

Pemerintah Qatar pun sangat mempermudah dengan memberikan fasilitas tempat yang sangat nyaman untuk kami peserta kajian.

Ada salah satu bagian dari ceramah Ustadz Oemar tentang seorang kakek-kakek yang sudah sangat sepuh, ingin menghafal Al-Qur’an, tapi ditolak secara halus oleh sang Syeikh di mesjid tersebut.

“Kenapa Kakek ingin menghafal Al Qur’an? Padahal Kakek sudah setua ini?” Syeikh bertanya sambil keheranan dan mungkin sedikit meragukan.

“Yaa Syeikh! Bukankah rumah yang di dalamnya tidak pernah dibacakan ayat-ayat Al Qur’an adalah seperti kuburan? Aku juga tidak ingin diriku seperti kuburan, yang tidak ada ayat-ayat Al Qur’an yang tersimpan di dalamnya!” Jawab si kakek dengan tegas dan yakin.

“Saya tidak ingin mati dengan kondisi hati saya seperti kuburan, kosong dari hafalan Al Qur’an!” Si Kakek berkata lagi dengan tegas.

Akhirnya syeikh mengabulkan keinginan kakek itu untuk menghafal.

Setiap hari dia dengan istiqomah dan penuh semangat menyetorkan hafalannya kepada Syeikh pengajar itu.

Dan secara luar biasa, ternyata hanya dalam waktu kurang tiga tahun saja dia sudah hafal tiga puluh juz Al Qur’an.

Allahuakbar!

Seharusnya kita-kita yang masih muda ini malu dan merasa tercambuk oleh kisah ini. Tidak ada kata terlambat.

Tidak ada orang yang sibuk. Yang ada hanyalah orang yang tidak bisa mengatur prioritas di dalam kehidupannya.

Berapapun usia anda sekarang, mulailah sekarang juga dengan niat dan tekad yang kuat, untuk menghafal Al Qur’an.

Hafalkan walaupun tidak hafal-hafal, karena insyaallah setiap detik perjuangan kita akan menjadi kebaikan di dunia dan akhirat nanti.

Hafalkan Al Qur’an sebagai rasa syukur kepada Allah yang masih memberikan kita kesehatan penglihatan dan kecemerlangan pikiran.

Semoga berhasil!

Tak Berkategori