Mendobrak Kryptonite Kemalasan

Oleh Diday Tea

Rasanya tidak akan ada yang tidak tahu kalau kelemahan terbesar Superman adalah Kryptonite.

Jangankan menyentuhnya, berdekatan saja sudah cukup untuk membuat Lex Luthor bisa membuat Mas Clark Kent yang sedang menyamar dengan membuka kacamata dan memakai baju ketat berjubah Merah itu tak berdaya upaya dan tak bertenaga.

Tapi tentunya saya tidak akan membahas panjang lebar tentang tokoh-tokoh khayalan itu, karena saya hanya ingin menyampaikan analogi yang sederhana saja.

Setiap orang punya kelemahan seperti lemahnya Superman oleh Kryptonite.

Para pecandu narkoba, walaupun sudah sembuh dan direhabilitasi, bisa terjebak menjadi pecandu lagi, dengan seketika, jika terpapar lagi dengan candunya.

Kemalasan juga sebenarnya adalah candu.

Malas ibadah, malas mengaji, malas bangun pagi, malas membaca, malas ngapain aja, dan segala bentuk kemalasan lainnya itu laksana candu.

Segala bentuk kemalasan bisa membuat ketagihan jika kita selalu menurutinya.

“Ah, nanti aja bangunnya lima menit lagi!” Kita bergumam sambil menekan tombol Snooze alarm berlabel “Tahajud Woy!” di layar handphone yang speakernya meraung-raung memekakkan telinga siapapun yang mendengarnya.

“Ah, sibuk,ngga ada waktu!” Adalah kalimat yang sering menjadi alibi kuat bagi para pemalas.

Belajar dong mendobrak kemalasan di dalam diri anda.

Umur kita terbatas, tapi ternyata kewajiban kita di dunia ini jauh lebih banyak loh!

Kita lebih kuat dari Superman yang tidak bisa melakukan apa pun karena Kryptonite.

Kemalasan bisa kita dobrak dengan mudah.

Lawan dan terjang segala bentuk kemalasan.

Malas bangun pagi? Paksa diri untuk langsung bangun, pasang alarm tiap dua menit kalau perlu.

Malas mengaji? Install aplikasi Nakhtim yang akan membuat HP kita memunculkan sayu ayat Al Qur’an di layarnya setiap kita unlock HP kita.

Malas belajar? Ingat orang tua yang sudah bersusah-payah demi kita bisa sekolah.

Malas bekerja? Ingat, kita punya tanggung jawab.

Banyak jalan menuju ke Milan, eh, Roma. Maaf, karena saya fans Milan, jadi kurang nyaman kalau menyebut nama klub rival.

Banyak cara untuk mendobrak dan menghancurkan Kryptonite kemalasan.

Banyak berdo’a, kuatkan niat, bulatkan tekad, dan saksikan diri anda dua puluh tahun lagi, tiga puluh tahun lagi yang akan bangga kepada diri anda hari ini!

Doha, 22 November 2018

Iklan

Mendobrak Diri Dengan 30 DWC

 

Mendobrak Diri Dengan 30DWC

 

Oleh: Diday Tea

Walaupun saya sudah menerbitkan dua buku solo dari penerbit mayor, tapi empat tahun berlalu begitu saja tanpa ada satu karyapun yang diterbitkan, sudah terlalu lama.

Selama itu pula saya bersembunyi di balik alasan yang paling keren sebagai alibi, untuk berhentinya produksi tulisan yang lahir dari tarian jari jemari saya di atas keyboard: “Writer’s Block”.

Padahal sih, alasan aslinya memang sayanya yang belum bisa mengatur waktu, meluangkan waktu khusus untuk rutin menulis.

Sehingga, puluhan draft novel, dan draft buku non fiksi di dalam folder “Proyek Buku Diday Tea” statusnya begitu-begitu saja.

Masih saja sebagai draft.

Tentunya saya tidak akan menyebutkan kalau game FIFA 15, FIFA 16, dan FIFA 17, serta FIFA 18 di Playstation 4 adalah salah satu penyita terbesar jatah waktu menulis saya. Karena sejujurnya itu memalukan dan memilukan.

Sudah beranak tiga kok masih main FIFA, apa kata dunia? Hehehe.

Ketika keasyikan menerima tantangan bermain online dari teman-teman selama berjam-jam, hilang lenyap sudah kekhawatiran saya yang masih belum menghasilkan tulisan “serius” untuk buku saya yang ketiga.

Saya bisa betah memegang Dual Shock Controller tanpa jeda selama hampir semalaman tanpa pegal ataupun diserang rasa ngantuk.

Lelahpun tak saya hiraukan demi meraih kemenangan demi kemenangan.

Itupun, kemenangan yang sebenarnya jarang terjadi, karena level permainan saya masih belum bisa mengejar teman-teman saya yang sudah lebih jago.

Hadeuh. Parah ya?

Tapi, ketika akan menulis, sepuluh menit pun mata sudah terasa berat, pinggang sudah pegal, kepala langsung terasa berat, jari jemari pun serasa mau lepas dari sendinya.

Tulisan yang lahir dari tarian jari jemari saya dengan penuh perjuangan, masih sekedar status-status singkat di Facebook, atau caption-caption pendek di desain poster dakwah saya di Instagram @didaytea.

Nah, pada akhirnya pucuk dicinta ulam tiba, yang dinanti telah tiba, yang ditunggu akhirnya malah dilamar orang, eh, maaf. Tetiba saya teringat video klip kepedihan seorang tamu undangan yang menyanyi lagu “Menjaga Jodoh Orang” di pernikahan kekasihnya.

Kasihan ya?

Maksud saya tadi, titik balik yang ditunggu selama bertahun-tahun itu akhirnya tiba ketika saya dengan sengaja “mencemplungkan” diri saya ke dalam sebuah tantangan bernama 30 Days Writing Challenge.

Saya tadinya Nothing to Lose, alias tanpa beban.

Karena kalaupun saya pada akhirnya tidak bisa menyelesaikan tantangan itu, toh biayanya juga tidak terlalu mahal.

Dan hari ini saya berhasil membuktikan bahwa saya bisa mendobrak kemalasan di dalam diri saya.

Saya bisa memaksa diri untuk menulis selama tiga puluh hari tanpa berhenti!

Tidak ada lagi dinding belenggu lelah, malas, pusing, ide mentok, atau tidak ada waktu.

Saya dobrak itu semua dengan menulis kapan saja, di mana saja dengan media apa saja.

Di dalam perjalanan menuju tempat bekerja, di mall ketika sedang menemani anak-anak bermain.

Menulis hanya dengan dua jari, jempol kiri dan telunjuk kanan, di atas handphone android jadul saya ketika bersantai di taman-taman yang indah di Qatar, sambil melihat anak-anak gembira memacu sepeda baru mereka di seantero area taman yang luasnya seperti hutan dan bukit di serial televisi Telle Tubbies itu, kini terasa jauh lebih mudah.

Saya bisa menulis ketika saya ingin menulis dan ketika saya harus menulis.

Tulisan ini pun hanya saya tulis dalam waktu tidak lebih sambil mengawasi pemasangan pengantar rak buku dan rak sepatu yang saya pesan kemarin.

Dan yang lebih ajaib lagi, naskah buku non fiksi ketiga saya yang sudah mangkrak dan teronggok pasrah tak terjamah di dalam folder-folder yang tidak kalah terbengkalai juga, akhirnya bisa saya selesaikan.

Draft itu kini sudah menjadi naskah mentah yang tinggal dipoles, dijahit, digosok, dan dipermak agar segera memendarkan pesonanya untuk segera dikirim ke penerbit terbesar di Indonesia.

Insyaallah Best Seller tahun depan!

Terimakasih 30 Days Writing Challenge!

Doha, 19 November 2018

Hati Laksana Kuburan

Hati Laksana Kuburan

Oleh: Diday Tea

Tanggal 17 November 2018 adalah salah satu tanggal keberuntungan untuk saya.

Hari Sabtu pagi kemarin, Saya sangat beruntung karena bisa menghadiri kajian bersama Ustadz Oemar Mitta yang diadakan di Fanar Building, Doha, Qatar.

Itulah salah satu keberuntungan kami orang Indonesia yang tinggal di Qatar, bisa lebih dekat menghadiri kajian-kajian dari ustadz kondang tanah air.

Tentunya masalah selfie dam bisa berfoto bersama dengan Ustadz-ustadz tersebut tidak akan saya sebutkan secara gamblang, karena walaupun saya bisa berfoto, tentunya sudah lebih banyak teman-teman saya di Qatar yang bisa lebih akrab dan lebih dekat dengan para ustadz tersebut.

Ustadz Khalid Basalamah, Ustadz Safiq Basalamah, Aa Gym, Ustadz Adi Hidayat, Ustadz Felix Siauw, Ustadz Agus Setiawan, Ustadz Hanan Attaki, dan beberapa ustadz terkenal lainnya pernah berkunjung ke Qatar.

Setiap bulan Ramadhan pun IMSQA mengadakan safari kajian untuk komunitas Warga Indonesia di Qatar.

Pemerintah Qatar pun sangat mempermudah dengan memberikan fasilitas tempat yang sangat nyaman untuk kami peserta kajian.

Ada salah satu bagian dari ceramah Ustadz Oemar tentang seorang kakek-kakek yang sudah sangat sepuh, ingin menghafal Al-Qur’an, tapi ditolak secara halus oleh sang Syeikh di mesjid tersebut.

“Kenapa Kakek ingin menghafal Al Qur’an? Padahal Kakek sudah setua ini?” Syeikh bertanya sambil keheranan dan mungkin sedikit meragukan.

“Yaa Syeikh! Bukankah rumah yang di dalamnya tidak pernah dibacakan ayat-ayat Al Qur’an adalah seperti kuburan? Aku juga tidak ingin diriku seperti kuburan, yang tidak ada ayat-ayat Al Qur’an yang tersimpan di dalamnya!” Jawab si kakek dengan tegas dan yakin.

“Saya tidak ingin mati dengan kondisi hati saya seperti kuburan, kosong dari hafalan Al Qur’an!” Si Kakek berkata lagi dengan tegas.

Akhirnya syeikh mengabulkan keinginan kakek itu untuk menghafal.

Setiap hari dia dengan istiqomah dan penuh semangat menyetorkan hafalannya kepada Syeikh pengajar itu.

Dan secara luar biasa, ternyata hanya dalam waktu kurang tiga tahun saja dia sudah hafal tiga puluh juz Al Qur’an.

Allahuakbar!

Seharusnya kita-kita yang masih muda ini malu dan merasa tercambuk oleh kisah ini. Tidak ada kata terlambat.

Tidak ada orang yang sibuk. Yang ada hanyalah orang yang tidak bisa mengatur prioritas di dalam kehidupannya.

Berapapun usia anda sekarang, mulailah sekarang juga dengan niat dan tekad yang kuat, untuk menghafal Al Qur’an.

Hafalkan walaupun tidak hafal-hafal, karena insyaallah setiap detik perjuangan kita akan menjadi kebaikan di dunia dan akhirat nanti.

Hafalkan Al Qur’an sebagai rasa syukur kepada Allah yang masih memberikan kita kesehatan penglihatan dan kecemerlangan pikiran.

Semoga berhasil!

Sadar Untuk Sabar

Oleh: Diday Tea

Tidak ada anak yang nakal, yang ada hanyalah orang tua yang kurang sabar.

Salah satu hal yang paling menjengkelkan adalah ketika anak-anak bertengkar memperebutkan sesuatu yang tidak perlu.

Dari remote TV, Controller PS4, berebut saluran TV yang ingin ditonton, atau memperebutkan video Youtube mana yang mereka pilih untuk ditonton.

Dari berebut makanan, berebut gelas minuman sampai berebut kursi di dalam mobil.

Pokoknya apa saja bisa jadi bahan untuk bertengkar untuk anak laki-laki berumur sebelas tahun dan anak perempuan berumur delapan tahun itu.

Respon saya biasanya sih, ya marah dan jengkel.

Karena kejadian itu berlangsung hampir setiap hari.

Ya, setiap hari!

Kadang sampai saya hukum mereka dengan kekerasan, saya getok jidat mereka berdua dengan remote TV. Hehehe.

Tapi tetap saja tidak berpengaruh, pertengkaran seputar memperebutkan sesuatu yang tidak perlu masih saja terulang hampir setiap hari.

Dan respon saya dan istri pun masih sama: marah, jengkel, bentak dan getok. Atau kami potong jatah mereka bermain game dan kami paksa mereka untuk menambah waktu menghafal Al Qur’annya lebih lama .

Sampai akhirnya saya mendengar ceramah Aa Gym dan ustadz lain yang saya lupa namanya tentang anak-anak.

Intinya anak-anak adalah titipan dari Allah, titipan yang luar biasa berharga. Karena tidak setiap pasangan suami istri bisa beruntung dikaruniai anak-anak.

Dan anak-anak juga tentunya adalah ujian bagi orang tuanya. Apakah bisa bersabar selama proses mendidik anak sampai dewasa dan berpisah dengan orang tua.

Dan ada kalimat yang sangat menohok untuk kami berdua.

“Tidak ada anak yang nakal, yang ada hanyalah orang tua yang kurang sabar”.

Kalimat itu membuat kami sadar, sebenarnya masalah terbesarnya ada di kami sebagai orang tua yang kurang sabar.

Ternyata, ketika kami berdua lebih bersabar ketika mereka bertengkar situasi menjadi lebih baik.

Kami hanya membiarkan saja mereka bertengkar dan berebut seperti biasanya.

Pertengkaran itu ternyata tidak pernah berlangsung lama. Ujung-ujungnya akhirnya mereka rukun damai tanpa ada drama tambahan.

Ya, untuk bisa sabar kita memang harus sadar.

Sakitnya Disalip di Tikungan Terakhir

Black White Pink Children International Friendship Day Quote Instagram Post

Oleh: Diday Tea

 

Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.

(HR. Muslim, no. 2999)

Ketika masih bekerja di Cilegon, saya dan sahabat saya mendapatkan panggilan untuk tes masuk di sebuah perusahaan yang lebih besar. Perusahaan itu masih berada di daerah Cilegon juga.

Semalam sebelum hari yang bersejarah itu, kami berdua berjuang mempersiapkan diri untuk ujian masuk. Kami bersama mengumpulkan materi dan bahan ujian masuk yang konon sangat sulit. Hampir seperti soal ujian nasional.

Di waktu subuh pada hari ujian itu, kami duduk berdoá dan berdzikir lebih lama dari biasanya.

Sejujurnya saya pasti berdoá agar bisa diterima di perusahaan yang lebih besar itu. Saya niatkan dengan penghasilan yang lebih besar saya bisa lebih banyak menabung untuk persiapan masa depan saya. Tapi ada doá yang terselip, doá agar diberi kesabaran jika ternyata saya gagal bekerja di perusahaan itu.

Di sepanjang  perjalanan di dalam bus antar kota dari Cilegon ke Jakarta kami berdua lebih banyak diam dan merenung memandangi jendela dengan pandangan kosong dan perasaan gugup yang berkecamuk mengaduk-ngaduk pikiran.

Akhirnya ujian pada hari itu pun kami jalani dengan lancar dan kami tiba kembali di rumah kontrakan masing-masing pada malam harinya.

Seminggu setelah hari itu, pada suatu pagi ketika langit masih gelap karena matahari belum terbit, saya sedang duduk santai di teras loteng kamar kontrakan saya, ketika terdengar terdengar seseorang yang memanggil sayup-sayup sambil berjalan tergesa-gesa:”Day, hayuu! Kok kamu belum siap-siap? Udah jam berapa ini woy!”

Dengan wajah kebingungan saya pun bertanya balik: “Ke mana? Kok kamu rapi amat bajunya, kaya mau ke kondangan!” Jawab saya dengan setengah berteriak juga.

“Iya tandatangan kontrak lah, di pabrik yang kemaren kita tes bareng itu lho! Emang kamu ngga ditelepon ya?” Dia menjawab dan bertanya dengan wajah sumringah, serta senyum penuh kemenangan selebar lima senti menghiasi wajahnya.

“Oh, saya mah ngga ditelepon euy!”Saya jawab dengan suara yang agak tercekat.

“Oh gitu? Ya udah saya berangkat deh kalau gitu, udah telat nih!” Katanya lagi sambil melambaikan tangannya dan mengayunkan langkahnya semakin cepat sampai setengah berlari ke arah tukang ojek yang sudah menunggu di pangkalan ojek pertigaan dekat rumah.

Mendengar itu tadinya langit serasa runtuh. Ternyata dia diterima dan saya tidak.

Sakit ya sakit. Sesakit VR46 yang terjatuh di tikungan terakhir balapan.

Kecewa ya jelas lah kecewa, terutama karena ternyata penyebab saya diterima adalah karena saya terlalu polos memberitahu penguji bahwa saya sedang kuliah lagi. Padahal mereka memerlukan karyawan yang bisa siap setiap waktu untuk bekerja.

Tapi saya teringat dengan hadits yang saya cantumkan di awal tulisan ini.

Pasti ada hikmah terbaik yang Allah akan berikan kepada saya di balik kegagalan saya bergabung dengan perusahaan itu.

Dan ternyata benar saja.

Jika saya waktu itu berhasil masuk ke perusahaan itu, belum tentu saya bisa mendapat kesempatan untuk tes di perusahaan tempat saya bekerja sekarang. Yang jauh lebih baik.

Alhamdulillah. Janji Allah itu pasti nyata!