Missing Tile Syndrome

Oleh: Diday Tea

Jam sepuluh malam, di suatu rumah orang kaya.

“Bibiiiiiiiii..!” Tiba-tiba terdengar suara yang menggelegar di tengah hari bolong. Seperti jurus Auman Singa Ibu kontrakan di film Kung Fu Hustle.

Si Bibi pun dengan tergopoh-gopoh menyeret tubuh kurusnya ke arah ruang tengah.

“Bibi tadi ngepel ruang tengah?!” Tanya sang majikan dengan mata melotot dan wajah mendelik yang jauh dari indah untuk dipandang.

Ya bayangkan saja wajah si Ibu kontrakan di film Kung Fu Hustel tadi.

“Bbbbetul, Bu..!”Jawab si Bibi dengan terbata dan bibirnya hampir tidak bisa terkatup karena bergetar.

“Kenapa ini satu ubin di pojokan ngga bersih? Maassiih kottooor!” Sang majikan langsung menimpali bahkan sebelum mulut si Bibi terkatup.

“Mmmaaaf Bu…sepertinya itu memang terlewat tadi. Karena ruang tengah adalah yang terakhir saya pel. Saya juga mengepel lantai di ruang makan, dan semua lima kamar di rumah.” Si Bibi menjelaskan lagi dengan masih terbata-bata.

Si Majikan ini adalah contoh definisi terbaik salah satu “penyakit jiwa” yang melanda hampir setiap orang, mungkin termasuk kita juga.

Dia fokus kepada satu ubin yang masih kotor di pojok salah satu ruangan.

Dia lupa kalau di rumah itu ada beberapa ruangan, dan ratusan ubin yang sudah si Bibi bersihkan sampai kinclong mengkilat.

Sebegitu banyaknya ubin yang bersih tidak bisa dia syukuri, tidak bisa dia sadari hanya karena satu ubin yang kosong.

Itulah Missing Tile Syndrome.

Pengertian umumnya ya adalah perasaan selalu kurang dengan apa yang dimiliki.

Selalu merasa tidak lengkap.

Lebih fokus kepada yang tidak ada dibanding yang sudah ada. Lebih fokus kepada yang tidak dimiliki dibanding baanyak sekali hal-hal yang sudah dimiliki.

Terlalu sibuk meminta kepada Allah, tapi lupa mensyukuri betapa banyak yang Allah beri tanpa kita minta.

Bukankah syukur akan menambah nikmat?

Dalam bahasa Agama, disebut “kufur nikmat”.

Surah Ibrahim, Ayat 7:

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

#fighter #30dwcjilid15 #Day2 #30dwcjilid15squad7

Doha, 22 Oktober 2018

Iklan

Duh, Doha Banjir!

Oleh: Diday Tea

Doha? Banjir?

Maksudnya Doha ibukota Qatar. Negara yang ada di Timur Tengah, negara yang hampir semua areanya adalah gurun pasir? Gurun pasir kan panas? Mana mungkin bisa banjir? Hujan saja jarang kan?

Temen-temen tidak salah membaca. Memang Doha Banjir.

Secara umum, di wilayah Timur Tengah hanya ada dua musim, musim panas dan musim dingin. Tidak terlalu ekstrim, tapi sangat terasa perbedaannya. Di puncak musim panas, suhu bisa mencapai lima puluh derajat Celcius, dan sangat lembap. Kalau musim dingin, seingat saya temperatur paling rendah di daerah perkotaan mungkin hanya 10 derajat Celcius. Tidak terlalu sulit untuk beradaptasi dibanding musim panas. Hanya yang perlu diwaspadai adalah hembusan angin dingin yang bisa seketika membuat kulit kering dan bibir pecah-pecah, atau badai pasir di musim panas yang bisa sangat berbahaya.

Di antara dua musim ini ada ada semacam musim pancaroba, di mana suhunya sangat enak, sangat mirip seperti suhuh di daerah Indonesia yang sejuk seperi Bandung. Kami yang tinggal di Qatar sangat menikmati suhu yang tiak terlalu dingin dan angin sepoi-sepoi walau pun hanya 1-2 bulan itu.

Entah karena global warming yang memicu anomali cuaca di seluruh dunia, atau penyebab yang lain, beberapa tahun ini memang hampir selalu terjadi banjir di Doha, Qatar, kota tempat saya tinggal hampir selama sebelas tahun ini.

Akhir Oktober seperti sekarang adalah penghujung musim panas, dan biasanya diawali dengan hujan yang hanya gerimis. Semacam salam perpisahan untuk musim panas dan salam pertemuan dengan musim dingin.

Tapi, kalau saya tidak salah menghitung, empat sampai lima tahun belakangan ini salam perkenalan dari sang musim dingin tidak selembut biasanya. Salam perkenalan datang dengan mulai sangat keras. Di beberapa area bahkan sampai terjadi hujan es, seperti di Indonesia.

Kemarin, tanggal 20 Oktober 2018 Hujan langsung turun deras dan lebat hampir seharian hampir di seluruh wilayah Qatar. Kalau hujan lokal sudah datang ke beberapa kota di bagian Selatan dan Utara Qatar.

Banjir akhirnya tetap melanda, walau pun Pemerintah sudah menyiapkan solusi sejak pertama kali banjir melanda Qatar beberapa tahun yang lalu. Hujan kemarin seperti hujan di negara tropis, lebat dan lama, dari pagi sampai sore. Di jalan-jalan utama, Dinas Pekerjaan Umum setempat sudah membuat modifikasi gorong-gorong untuk membuat saluran air hujan. Yang paling keren, mereka menyiapkan banyak sekali truk penyedot air yang siap siaga di titik-titik rawan banjir.

Tidak lama kemudian sudah tak terhitung postingan tentang banjir dan hujan yang sudah berseliweran di group Whatsapp dan sosial media lainnya. Bahkan ada beberapa yang kurang beruntung terkena dampak banjir kemarin, sehingga mobilnya tenggelam di area parkiran atau rumahnya dimasuki banjir sampai betis.

Ada beberapa jalan utama di Doha yang ditutup untuk menanggulangi banjir secepat mungkin.

Tapi kerennya nih, hanya dalam watu semalam, semua titik banjir sudah kering.

Lalu-lintas pun sudah lancar kembali di jalan-jalan utama karena layaknya Sangkuriang, Truk-truk penyedot banjir dan petugas-petugas dari Civil Defense berjibaku semalaman untuk membersihkan titik-titik yang terkena banjir di seluruh penjuru kota.

Jika kita hanya sekedar membaca berita untuk pengetahuan dan informasi saja  tentunya tidak apa-apa.

Tapi, sebagai seorang muslim, kita harus bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian dan episode hidup yang kita alami.

Buat saya sih ini hikmahnya:

  1. Kita harus belajar dari kesalahan agar tidak terulang kembali di masa depan. Ini ditunjukkan dari sigapnya Pemerintah Qatar untuk memodifikasi gorong-gorong dan membuat saluran air jalan-jalan yang rawan banjir.
  2. Manusia hanya bisa berencana. Tapi Allah yang menentukan. Walau pun mitigasi di atas sudah dilakukan, tapi tetap saja masih terjadi banjir dan menyebabkan kekacauan untuk beberapa saat, karena tidak ada yang tahu dan mengira, hujan yang datang akan sederas dan selama seperti kemarin. Padahal sepanjang akhir pekan memang sudah diperkirakan akan terjadi hujan di wilayah Doha dan sekitarnya.
  3. Selalu punya rencana cadangan untuk rencana-rencana kehidupan kita. Semalaman Civil Defense mengerahkan lebih banyak armada truk penyedot air untuk segera menanggulangi banjir di banyak titik di Doha dan sekitarnya.

 

Semoga bermanfaat!

 

 

Doha, Qatar

21 Oktober 2018

Ini adalah tulisan pertama dari #30dwcjilid15

#pejuang30DWC

#30dwcjilid15Tulisan Day 1 Doha Banjir

ORANG KAYA YANG BIKIN IRI

 

Oleh: Diday Teaharta halal yang banyak 3

 

Beberapa hari ini di dunia maya sedang viral tentang kelucuan netizen Indonesia yang membuat parodi status yang berhubungan dengan film Crazy Rich Asian, dengan tagar #crazyrichsurabayan dan #crazyrichkalimantan.

Tulisan ini kurang lebih berkaitan dengan orang kaya, walau pun tidak sekaya tokoh di dalam film itu, apalagi salah satu #crazyrichkalimantan yang dari gerbang depan sampai ke pintu utama rumahnya saja perlu waktu lima belas menit naik mobil, atau yang jalan-jalan ke depan kompleks memakai helikopter.

Di Doha, Qatar, tempat saya tinggal periode antara Juni sampai Oktober adalah musim panas.

Suhu di tengah hari bolong bisa mencapai hampir lima puluh derajat Celcius.

Orang-orang yang bekerja di dalam ruangan seperti saya sangatlah beruntung, tidak harus berjuang menghadapi panas yang sangat menyengat itu. Hanya pada momen-momen tertentu saja  harus berkontak langsung dengan sang musim panas yang masih saja menakutkan. Even for orang like me yang sudah almost sebelas tahun working di daerah Middle East yang which is seharusnya sudah biasa dong, tapi still very difficult banget untuk adjusting myself to the summer yang sangat panas dan torturing banget. Aduh maaf, saya agak sedikit terpengaruh dengan #bahasaanakjaksel.

Di bulan September seperti sekarang ada bonus yang datang mengiringi suhu yang sangat panas itu. Kelembapan udara yang sangat tinggi.

Sehingga, efek panasnya akan berganda. Ya panas, ya lembap.

Rasanya seperti anda ditiup oleh hair dryer, lalu membuka Rice Cooker yang uapnya langsung membelai panas wajah dan leher anda. Kurang lebih seperti itu. Seperti setiap saat anda akan merasa menjadi bolu kukus atau kue putu. Perawatan dan pemutihan kulit semahal apa pun tidak akan berguna. Karena kulit saya memang berwarna sawo terlalu matang yang jatuh dari pohon tetangga. Coklat Tua.

Periode musim panas seperti ini memang tidak lama, tapi sangat “bermakna”.

Sampai-sampai kami orang Indonesia yang bekerja di Qatar punya peribahasa sendiri: “Winter setahun terhapus oleh Summer Empat Bulan”.

Agak sedikit maksa sih, tapi itu memang sangat mewakili tantangan yang harus kami hadapi yang  bekerja di tengah gurun.

Salah satu waktu ketika saya harus menghadapi suasana seperti itu adalah ketika berangkat Sholat Jumát.

Demi mendapatkan keutamaan datang awal waktu di awal Sholat Jumát, saya selalu mengusahakan datang setengah jam sebelum waktu Zhuhur. Selain keutamaan pahala, saya juga sejujurnya mengincar tempat parkir yang dekat mesjid. Karena ada atapnya. Sehingga mobil tidak akan terasa terlalu panas. Karena walaupun bermesin 5.7 Liter, tetap saja kalau diparkir di bawah sinar matahari langsung, pendingin mobil tetap memerlukan waktu yang lumayan lama untuk bisa menurunkan suhu agar sedingin kantor bank di Indonesia.

Tetapi, setiap saya datang bersama si sulung, baris  pertama hampir selalu terisi pernuh, dan tempat parkir di dekat mesjid yang ada atapnya itu juga sudah penuh terisi.

Baris pertama sudah hampir penuh oleh beberapa pria setengah baya dan dewasa berumur 40-50an. Ada beberapa yang sepertinya berusia lanjut tapi terlihat masih segar dan mereka seperti sudah janjian sebelumnya. Selalu mengisi tempat yang sama. Baris pertama pojok kiri.

“Jam berapa mereka datangnya ya?” Tanyaku pada si sulung,

“Mungkin mereka datang earlier than us Pih, which is maybe much more lebih cepet dari half an hour” Jawabnya dengan #bahasaanakjaksel yang sedang sangat happening di dunia maya itu.

Ya wajar sih, soalnya sejak TK enol besar dia sudah bersekolah di sini, yang bahasa pengantarnya bukan Bahasa Indonesia apalagi bahasa Sunda seperti orangtuanya.

“Oke A, kita coba datang earlier next Friday!” Kataku dengan semangat.

Jumát depannya, saya dan si sulung datang empat puluh lima menit sebelum Zhuhur.

Eh, ternyata, masih seperti itu juga. Parkiran penuh dan shaf pertama hampir penuh.

Tapi hari itu kami beruntung. Kami bisa duduk di shaf pertama.

Ketika saya dan si sulung baru saja selasai shalat tahiyyatul mesjid, tiba- tiba tercium khas parfum Arab Oud yang wanginya mengalahkan parfum biasa-biasa saja yang aku dan si sulung pakai.

Sesosok pria dewasa, berumur pertengahan empat puluhan berdiri sholat  di sebelahku dengan pakaian khas berwarna putih dari ujung kaki sampai ke ujung rambut. Mungkin tinggi badannya sekitar 185 centimeter. Ya tipikal sosok orang Arab pada umumnya deh, yang pasti kalau dibandingkan langsung dengan saya jauh sekali bagaikan bumi dan Galaxy Andromeda. Jauh banget.

Ketika tahiyyat akhir, tak sengaja mataku tertuju kepada jam tangan yang melekat di tangannya.

Jelas dong, seperti yang saya duga sebelumnya kalau dia adalah orang yang berada, merek jamnya bukan semahal Richard Mille sih, atau Q & Q (euh maaf, kalau ini jam seratus ribuan sejuta umat zaman saya masih berseragam Putih-Abu), tapi yang pasti tidak akan terbeli oleh saya walaupun ada uangnya. Jamnya Rolex. Yang jelas dia dan teman-temannya yang satu rombongan itu jauh lebih kaya dari saya deh. Karena saya jamnya masih sekelas Casio atau Suunto. Itu pun jarang dipakai.

Ternyata si bapak ini satu rombongan dengan bapak-bapak yang lain, adalah penghuni baris pertama pojok kiri di kala sholat Jumát itu. Mungkin hari itu dia ada urusan atau sesuatu yang menyebabkan saya dan si sulung bisa mengisi tempatnya.

Ternyata lagi, mobil-mobil yang selalu memenuhi tempat paling nyaman dan damai di parkiran di mesjid itu adalah kebanyakan mobil mereka itu.

Mobilnya apa dong?

Ini bagian yang paling keren. Di area parkiran yang paling dekat dengan mesjid itu selalu ada sekelompok mobil yang parkir, dan itu-itu saja.

Tidak ada satu pun mobil- mobil itu yang mobil biasa. Dari 10 mobil, 4 di antaranya adalah Lexus LX570 yang kalau di Indonesia harganya sekitar 3 Milyar Rupiah. Sisanya? Tentunya bukan mobil LGCC, tapi BMW X6 dan Toyota Land Cruiser yang plastik pembalut jok tempat duduknya belum dibuka sama sekali. Entah karena masih baru, atau entah setiap tahun mereka membeli mobil baru. Karena setiap saya lihat dari dekat, kondisinya mobil-mobil itu masih saja bening dan kinclong.

Entah mereka datang jam berapa, karena ketika saya datang satu jam sebelum waktu Zhuhur pun, mobil-mobil itu sudah parkir dengan tenang dan para pemiliknya sudah sibuk dengan Al Qurán di baris pertama.

Tetiba saya teringat kepada hadits tentang dua orang yang layak kita cemburui:

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Tidak boleh hasad (ghibtoh) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al Qur’an dan As Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya.”        (HR. Bukhari no. 73 dan Muslim no. 816).

Maksud “iri/cemburu” dalam hadits ini adalah iri yang benar dan tidak tercela, yaitu al-gibthah, yang artinya menginginkan nikmat yang Allah berikan kepada orang lain tanpa mengharapkan hilangnya nikmat itu dari orang tersebut. (Hadits dan keterangan saya kutip dari www.rumaysho.com)

Kita wajib iri kepada orang- orang seperti ini, orang kaya dan sholeh.

Kejadian itu selalu memotivasi saya jika sedang malas beribadah. Orang-orang kaya yang sholeh itu sangat konsisten menjadi penghuni baris pertama.

Kalau kita malas beribadah, tidak sekaya mereka tapi tidak serajin mereka beribadah, ya apa lagi dong yang mau dibanggakan?

Apa lagi yang bisa kita tukar dengan pahala atau syurga?

Bisa jadi itu adalah bentuk kesombongan kita dan kemalasan yang sudah stadium akhir.

Mari kita jangan pernah melewatkan doá  agar kita diberi rejeki dan umur oleh Allah untuk menjadi orang kaya yang sholeh.

Karena insyaallah dengan kondisi seperti itu kita akan menjadi manusia yang lebih bermanfaat untuk orang lain.

Seperti kata ustadz Abu Syauqi, pendiri Rumah Zakat-semoga Allah merahmati dan menyayangi beliau-: “Harta halal yang banyak akan terasa manfaatnya untuk umat Islam, jika berada di tangan orang yang sholeh”.

 

Doha, 18 September 2018

www.didaytea.com

Twitter: @didaytea

IG: didaytea

FB: Oase Kehidupan Dari Padang Pasir

 

Gigih

Oleh Diday Tea

Di dalam bahasa Sunda, Gigih artinya adalah nasi dalam fase setengah matang. Jauh sebelum ada rice cooker, memasak nasi adalah sebuah proses yang dramatis. Ada dua fase. Fase gigih dan fase nasi. Fase gigih adalah ketika kita harus merebus beras dengan patokan airnya jangan lebih dari setengah buku jari tengah kita. Itu yang Ibu saya selalu ajarkan ketika akan memasak nasi. Nah jika airnya sudah surut dan beras terlihat berkembang, baru gigih tersebut kita olah dengan fase selanjutnya.

Dikukus.
Setelah matang baru memasuki tahap finishing yang bernama “diakeul”.

Fase nasi ketika sudah matang dan kita aduk- aduk perlahan dengan cukil(Centong Nasi) di dalam boboko(Bakul) sambil dikipasi dengan kipas bambu.

Dan tentunya pembaca semua setuju bahwa nasi yang dimasak dengan cara seperti ini rasanya jauh lebih lezat dibandingkan dengan nasi zaman now yang dimasak hanya dengan satu sentuhan kecil di tombol cook di sebuah rice cooker.

Setuju kan?

Tapi walau pun satu paragraf di atas sudah panjang lebar membahas tentang metamorfosa gigih yang menjadi nasi pulen hangat yang masih berasap didalam bakul dan centong bambu itu, tulisan ini bukan tulisan tentang kuliner.

Banyak sekali pelajaran, hikmah dan teladan selalu bisa kita dapatkan dari kehidupan kita, hanya kadang mata hati kita saja yang masih tertutup atau teralihkan.

Sehingga seringkali kejadian yang kita alami dan amati sehari-hari hanya berlalu begitu saja sebagai sesuatu yang rutin tak berarti.

Hikmah selalu terhampar di mana pun kita berada.

Tulisan ini akan memberi kita contoh dari judul tulisan ini: Gigih. Di dalam bahasa Inggris ada dua kata yang sering diterjemahkan ke dalam kata “Gigih”, Tenacious dan Persistent.

Tenacious dan Persistent artinya kurang lebih adalah tetap berusaha keras untuk mencapai sesuatu. Dan tidak akan berhenti atau menyerah sebelum sesuatu itu tercapai. Begitu juga kira-kira arti kata “gigih” di dalam bahasa Indonesia.

Di dunia nyata, salah satu orang yang paling gigih adalah orang yang sedang mules (maaf) kebelet BAB.

Bayangkan saja ketika kita yang mengalaminya sendiri. Perasaan yang mengaduk-ngaduk perut kita itu tanpa diundang biasanya tiba-tiba datang tak tahu waktu. Mules itu seperti jatuh cinta, bisa datang tiba-tiba kapan saja dan di mana saja.

Ketika sedang bekerja, sekolah, belajar, menyetir, mengemudikan sepeda (euh, maksudnya sesepedahan), lari pagi, mengobrol, browsing-browsing hal-hal lucu ngga jelas di internet, atau apa pun kegiatan kita. Kita pasti akan segera menjadikan si mules ini menjadi prioritas utama.

Seketika langsung terbentuk mental image pintu WC atau mungkin bentuk WCnya sendiri yang langsung menjadi fokus target kita.

Kita tidak akan pernah menyerah untuk mencari WC. Tidak akan ada yang bisa ada yang menghalangi kita untuk segera menunaikan hajat besar tersebut.

Jika di rumah, kita akan segera menggedor pintu WC tanpa memikirkan atau mempertimbangkan siapa pun yang sedang berada di dalam.

Jika sedang menyetir di tengah jalan tol pun, kita kan segera mencari rest area terdekat tanpa peduli sedang berada di jalur tol mana dan kilometer berapa.

Pokoknya apa pun yang kita lakukan, saat si mules datang semua akan terlupakan dan tersisihkan.

Biasanya adrenalin juga akan terpicu, berbarengan dengan keringat dingin karena ada rasa takut ketika rasa mules itu akan meledak di tempat dan waktu yang tidak tepat.

Adrenalin akan memicu energi baru di dalam tubuh kita yang kadang akan memicu ambang batas tubuh kita.

Kita akan berlari lebih cepat, bergerak lebih cepat, berpikir lebih fokus dan sangat terpadu.

Secara luar biasa, hampir sepenuhnya fokus dan perhatian kita akan tertuju hanya kepada satu hal itu: WC.

Pasti dan pasti, segala cara akan kita lakukan agar tujuan itu tercapai.

Apa sih hikmahnya dari kegigihan kita yang sedang mules tadi?

Prioritas.
Fokus Terhadap target.
Maksimum Effort.

Satu hal yang harus kita yakini di dalam menjalani kehidupan ini bahwa kewajiban kita di dalam hidup ini jauh lebih banyak dari waktu yang tersedia.

Jadi kita harus sesegera mungkin merevisi prioritas kita di dalam kehidupan. Targetkan dan fokuslah hanya kepada hal-hal yang ada kaitannya dengan ibadah dan akherat kita. Insyaallah dengan fokus dan target yang tepat kita akan bisa meraih pencapaian-pencapaian baru.

Jika anda merasa lemah, dan hampir menyerah ketika berusaha untuk meraih dan menggapai target kita, segeralah ingat kondisi ketika kita sedang mules, maksimalkan usaha kita dibantu dengan do’a.

Ketika pada akhirnya kita tidak mencapainya, tentunya tahap selanjutnya adalah kita harus mengingat bahwa Allah mempunyai 3 cara untuk mengabulkan do’a kita:

1. Langsung dikabulkan
2. Ditunda sampai waktu yang kita tidak pernah tahu
3. Allah ganti dengan yang lebih baik.

Selalu kuatkan tekad dan luruskan niat!

Doha, 6 Agustus 2018

Strawberry Man

Strawberry Man
Cerpen oleh Diday Tea

Sejak masih berseragam Putih-Biru, sampai sekarang aku bekerja di kota yang berjarak hampir tiga ratus kilometer dari kota kelahiranku, ada kebiasaan yang oleh sebagian besar orang di sekitarku adalah kebiasaan yang aneh.

Aku sangat menggemari makanan yang berperisa Strawberry.

Biskuit, Minuman Bersoda, susu Strawberry selalu masuk daftar belanja bulananku. Tentunya sangat tidak pantas kalau saya harus menyebutkan Selai Olai, Fanta Strawberry, Susu Ultra Jaya Strawberry, atau Nyam Nyam Strawberry, karena tulisan ini adalah cerita pendek, bukan endorse atau pun Paid Promotion seperti selebgram zaman now.

Begitu pula ketika sudah menikah.

Ketika momen bersejarah ketika aku dan istriku pertama kali berbelanja untuk keperluan dapur.

Di antara puluhan barang yang kami masukkan ke dalam trolli belanjaan, beberapa kali istriku bertanya dengan alis dan kening di atas wajahnya yang kuning bercahaya seperti selebgram Korea yang berjilbab itu.

“Pah, ini siapa yang masukkin? Ngga salah? Ini kan makanan anak kecil? Buat para keponakan ya?” Dia bertanya sambil kedua tangannya menggenggam dua kemasan berisi dua lusin biskuit yang berasa Strawberry. Dan tak lupa matanya yang sipit itu tiba-tiba berdelik disudut rongga mata.

Kalau di sinetron yang berseason-season itu, adegannya kurang lebih ketika wajah setiap tokoh di close up dan kamera bergerak ke depan dan ke belakang diirini musik dramatis yang agak menyeramkan. Jreng jreng jreeeng.

Sejenak kemudian adegan dramatis terjadi ketika pandanganku, istriku dan Mba- mba kasir berkemeja Kuning dan bercelana Biru, tentunya tidak sampai lama mencapai sepeminuman teh seperti skala waktu yang sering diungkapkan di novel silat zaman dahulu.

Saya tidak mungkin menyebutkan jka judul novel tersebut adalah Wiro Sableng, karena para pembaca cerpen ini tentunya akan mengetahui dan mengira-ngira setua apa penulis cerpen ini.

“Iya Mah, itu Papah yang masukkin. Bukan buat keponakan-keponakan, tapi buat cemilan Papah!” Aku menjawab dengan nada datar dan tanpa sedikit pun merasa ada yang aneh.

“Udah Mah, lanjutin ngitung belanjaannya, kasian di belakang sudah ada yang ngantri” kataku lagi sambil membantu dia memindahkan belanjaan kami dari troli belanjaan ke atas conveyor di atas meja kasir untuk dihitung.
Istriku tidak menjawab apa-apa. Dia hanya terdiam.

Kira-kira dua puluh detik kemudian, dia bertanya lagi. Adegannya kurang lebih seperti tiga paragraf di atas. Yang berbeda hanya yang dia genggam kali ini adalah Fanta Strawberry, Selai Olai Strawberry, Susu Ultra Strawberry,dan Nyam Nyam.

Kita semua tentunya sudah tahu bahwa Nyam Nyamnya pasti rasa Strawberry bukan?

Ternyata bukan.

Saya sudah cari di sepanjang rak cemilan itu, ternyata rasa Strawberry sedang kosong. Jadi yang saya ambil yang rasa coklat saja.

Pokoknya setiap ada sesuatu yang berbau Strawberry, adegan di tiga paragraf di atas akan terulang lagi deh. Setiap itu pula aku menjawab bahwa itu memang aku yang mengambil, bukan salah ambil atau barang orang lain yang ada di troli belanjaan kami.

Tenang para pembaca, cerpen ini masih panjang. Hehehe.

Tetap stay tune.

Singkat cerita, eh tidak terlalu singkat, karena perjalanan dari Supermarket ke rumah mungil yang kami yang baru berisi kulkas, tempat tidur dan karpet itu lumayan jauh, sekitar tiga puluh menit.

Mobil kantor yang kukendarai selama tiga puluh menit itu melaju mulus seperti di atles ski yang sedang meluncur di atas es.

Nyaris tak terdengar.

Tapi di dalamnya terdengar dialog yang sangat sengit di antara pasangan suami istri. Dialog yang seru. Kira- kira seperti pertandingan terakhir Persib melawan Persebaya.

Walau pun terjadi banyak gol, tapi hanya ada satu kartu kuning dan tidak banyak pelanggaran yang terjadi.

Tidak ada yang tersakiti.
Kira-kira ada enam puluh tujuh pertanyaan yang terhambur dari bibir mungil istriku. Untung suaranya merdu bak penyanyi dari Malaysia yang baru lahiran itu.

Pertanyaanya ya tidak jauh dari kejadian di Supermarket tadi.
Seputar Strawberry.

Intinya dia kurang nyaman karena selera cemilanku itu.
Kenapa pria yang menjadi suaminya ternyata punya kegemaran yang menurut dia aneh.

Ya aku jelaskan saja bahwa itu kegemaranku sejak masih SMP.
Ya, karena kami hanya bertemu dua kali sebelum menikah.

Ketika dikenalkan oleh temanku. Dan ketika aku melamarnya satu minggu kemudian. Jadi pacarannya ya dimulai sejak ijab kabul itu.

Akhirnya sesi tanya jawab seru seperti di acaranya mas Deddy Corbuzier, diselingi oleh candaan seperti Kang Sule di Ini TalkShow pun berakhir damai tanpa ada pertikaian yang berarti,tepat ketika kami tiba di parkiran.

Dan rutininas berumah tangga pun berlanjut seperti biasa.
Tapi cerita ini belum berakhir. Masih ada satu bagian lagi!
Semua orang punya rahasia.
Sebenarnya ada kisah yang sangat pilu di balik betapa aku tergila-gila kepada apa pun yang berrasa Strawberry.

Jauh di masa kecilku, dua tahun sebelum aku pindah rumah dan pindah sekolah ke Bandung, aku punya sahabat dekat.

Tadinya kami berempat, hanya aku yang laki-laki. Kami bersahabat karena kami satu tim Cerdas Cermat yang mewakili sekolah untuk mengikuti lomba Cerdas Cermat seprovinsi Jawa barat.

Tapi yang tersisa sampai kami hampir lulus hanya aku dan Maya. Tapi waktu itu bukan hal yang aneh. Karena anak SD zaman tahun 90an tidak seperti anak SD zaman Now yang baru kelas 3 SD sudah bisa membuat video viral patah hati sambil bercucuran air mata, karena dikhianati pacarnya dengan diiringi lagu Asal Kau Bahagia.
Hadeuh pokoknya dramatis dan tragis tapi sangat miris.

Setiap hari Minggu pagi kami punya kegiatan rutin. Aku akan bersepeda sampai rumahnya dan dari rumahnya kami akan bersepeda bersama ke area taman di perumahan elit tempat dia tinggal.

Lalu kami akan bermain Bulutangkis sampai kelelahan.
Walau pun rumah kami berdekatan tapi berbeda kelas. Dipisahkan oleh sungai besar di daerah Karasak, Selatan. Ruang tamunya saja sudah lebih besar dari luas rumahku.

Rumahku hanya rumah di area penduduk biasa yang mobil pun tidak masuk, sedangkan dia tinggal di perumahan elit.

Setelah puas bermain Bulutangkis, aku akan selalu diundang mampir olehnya.

Naah, ini bagian yang mulai mengungkap kenapa aku menjadi “Strawberry Man”.

Tak lama setelah kami menyenderkan sepeda kami ke tembok dekat parkiran yang berisi tiga mobil mewah milik ayahnya, kami akan ngobrol seru di teras rumahnya sambil melepas lelah sehabis bersepedah dan bermain Bulutangkis tadi.

Tak sampai lima belas menit kemudian, jurus masak keluarga Maya keluar membawa trolli kecil seperti di restoran.
Horang kaya mah bebas. Hehehe.
Ayahnya Maya adalah dan pengusaha sukses. Dia membuat dan menjual ayunan mewah untuk diekspor ke luar negeri.

Waktu itu saja satu buah ayunannya sudah berharga dua setengah juta Rupiah.

Jadi ya wajar saja kalau sampai ada juru masak khusus di rumahnya.

Sambil duduk mensejajarkan pandangannya dengan kami berdua yang masih bertubuh mungil itu, dengan sopan Mba Mar-panggilan keluarga Maya kepada juru masak itu-berkata:
“Mba Maya, Mas Deni , Mie Gorengnya sudah siap, dan Susu Strawberrynya sudah dingin juga. Kalau sudah selesai Fanta Strawberry, dan Nyam Nyam Strawbery kesukaan Mba Maya juga sudah Mba Mar beli, tinggal panggil saya saja nani Ya!” Mba Mar berkata sambil dengan cekatan menyajikan Mie Goreng di depanku dan Maya. Lalu segelas besar susu Strawberry dingin dia turunkan dari trolli kecil yang tadi dia dorong dari dalam.

Selama dua tahun, hampir tidak ada hari Minggu pagi yang terlewatkan dengan rutinitas yang sama.

Bersepeda, Bulutangkis, ditutup dengan sajian Mie Goreng dan Susu Strawberry,dan teman-temannya.

Sampai suatu Minggu pagi itu datang.

Pagi yang paling menyedihkan selama hidupku.

Ketika aku tiba, ada dua truk besar yang sedang parkir di depan rumahnya. Ada beberapa orang yang sedang sibuk mengangkut perabotan rumah dari dalam rumah yang sangat besar itu.

“Deni ya?” Suara berat terdengar dari samping kananku. Ternyata Mas Tomi, kakaknya Maya yang bertanya sambil menepuk pelan pundakku.

“Kemarin Maya menitip pesan, dia minta maaf katanya tidak sempat untuk berpamitan.”
Dia berkata perlahan.

“Kami akan pindah rumah ke Surabaya, karena Ayahnya Maya harus memindahkan pabrik perajinan ayunannya ke sana. Dan Maya akan dikirim ke Pondok Pesantren di Sidoarjo. Seharusnya Minggu depan Maya baru berangkat ke Pondok Pesantrennya, tapi mendadak ada perubahan jadwal. Santri baru ternyata harus datang satu minggu lebih awal.”
“Jadi semalam Ayah, Ibu dan Maya sudah terbang ke Surabaya” Kata Mas Tomi lagi.
Mas Tomi terus menjelaskan sambil sesekali mengatur pekerja yang mengangkut perabotan dari dalam rumah.
“Maya juga minta maaf kalau dia tidak pernah bercerita kalau dia akan langsung Ayah kirim ke Pondok Pesantren. Dia tidak ingin Deni sedih. Dia yakin pasti Deni akan punya sahabat yang lebih baik dari Maya.”

“Semalam sebelum berangkat, Maya juga sempat memaksa ingin ke rumah Deni untuk pamitan, tapi ternyata Maya belum pernah dan tidak tahu rumah Deni ada di mana walau pun hanya di seberang sungai Karasak itu.”

“Dan ternyata di rumah Deni juga belum ada telepon rumah. Jadi tidak ada cara untuk menghubungi Deni semalam.”
Selama Mas Tomi menjelaskan dan menyampaikan pesan dari Maya, aku tidak bisa berkata apa-apa. Otakku masih mencerna dan memutuskan aku harus bersikap bagaimana.

Akhirnya aku hanya meraih tangan mas Tomi untuk bersalaman dan segera berpamitan tanpa menengok lagi ke belakang. Sama sekali tidak terpikirkan untukku untuk meminta alamt rumahnya di Surabaya atau alamat Pondok Pesantren.

Aku kayuh sepedaku kencang-kencang menjauh dari rumah itu agar setiap tetesan air mata yang jatuh dari sudut mataku segera terbang menjauh dan musnah dan tidak ada orang yang tahu.

Perasaan sedih dan kehilangan yang aneh, tapi sungguh dahsyat membuat dadaku sungguh sesak seperti dihimpit oleh dua tembok besar.

“Selamat tinggal Maya, semoga di masa depan kita bisa bertemu lagi!” Aku berbisik kepada diriku sendiri sambil sesekali mengusap aliran air mata kehilangan dan kesedihan yang sangat mendalam.

“Apakah perasaan ini adalah kesedihan dan derita karena cinta seperti yang sering aku dengar, aku baca dan aku tonton? Aku kan masih kelas 6 SD?” Aku bergumam sambil membayangkan wajah tokoh di serial Kera Sakti yang berkata:
“Beginilah cinta, derita tiada akhir”.

“Paaaah!” Tiba-tibaTerdengar suara yang aku kenal dari kejauhan.

“Papaaaaahhhh!” Suara itu terdengar semakin jelas.
“Papaaah, ngelamun aja ih! Sampe melongo gitu. Lagi mikirin apa sih?” Ternyata istriku dengan senyum manis seribu wattnya sudah berada di depanku. Membuyarkan flashback lamunanku yang sedang seru-serunya itu.

“Ini makan siang sudah siap sesuai pesanan tadi:Mie goreng dan minumnya Susu Strawberry kan?”

Selesai.

Doha, 29 July 2018