Mimpi Kosong


Moto GP adalah salah satu hal yang tidak boleh dilewatkan oleh penggemar dan pemerhati olahraga.

Sejak zaman keemasan Valentino Rossi, sampai zaman now di mana dia masih membalap walaupun tidak begitu superior lagi, saya selalu memendam mimpi.

“Kapan ya saya bisa melihat dengan mata kepala saya sendiri balapan Moto GP atau Balapan Formula 1?”

Ketika saya membaca berita Moto GP di tabloid Bola yang sekarang sudah tidak terbit lagi, selalu terbayang ketika saya sedang berdiri dan bersorak sorai dengan penonton di tribun penonton sirkuit Moto GP.

Tapi ya, tetap saja ujungnya hanya berakhir di depan televisi.

Seperti sepakbola saja, sehari setelahnya di sekolah akan terjadi obrolan yang tidak ada manfaatnya tapi seru sekali.

Serunya balapan atau pertandingan semalam. Kejadian-kejadian yang terlewatkan. Pokoknya bisa setiap istirahat di antara jam pelajaran saya dan sesama penggemar olahraga menghabiskan waktu untuk bersahutan membahasnya.

Eh, tak disangka tak diduga, takdir Allah menunjukkan jalannya.

Tahun 2008 saya mendapatkan pekerjaan di Qatar, sebuah negara di Timur Tengah yang ternyata adalah tuan rumah salah satu balapan MotoGP!

Dan tak lama mimpi itu juga segera terwujud.

Bagaimana rasanya?

Kapok.

Lho, kok kapok?

Iya lah. Ternyata nonton langsung di sirkuit tidak seindah yang dibayangkan.

Suara deruan mesin motor-motor balap itu sungguh berisik memekakkan telinga. Kalau tidak memakai ear plug, atau pelindung telinga, bisa-bisa kita bisa langsung tuli.

Kita hanya bisa melihat pembalap secara langsung selama beberapa menit sebelum balapan dimulai dan ketika acara podium. Itupun dari kejauhan. Sangat jaauuuh…

Selebihnya, hanya melihat kelebatan siluet motor yang melintas di jalur lurus sepanjang area di depan tribun penonton.

Belum lagi ketika keluar sirkuit, macet total.

Saya lebih lama menghabiskan waktu bermacet ria dibanding dengan menonton balapannya.

Di kehidupan juga begitu, jika mimpi kita sebatas mimpi yang berbentuk keinginan, kebendaan duniawi, ketika kita berhasil mendapatkannya rasanya tidak terlalu bahagia.

Hanya euforia sesaat.

Kurangilah mimpi yang bersifat duniawi, bermimpilah yang berorientasi akhirat.

Mimpi menjadi ahli Al Qur’an, ahli ibadah, dan akhirnya menjadi penduduk syurga yang abadi.

Aamiin.

Doha, 7 November 2018

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s