Tarawih Yang Hening

 

Malam ini adalah pertama kalinya saya bisa sholat tarawih berjamaah di masjid di malam pertama bulan Ramadhan, padahal ini Ramadhan ke enam yang saya jalani di negeri orang. Kebanyakan sih penyebabnya karena jadwal kerja yang pas sekali bertepatan dengan malam pertama Tarawih, atau bertepatan dengan jadwal mudik saya ke Indonesia.

 

Alhamdulillah, delapan rakaat Tarawih dan tiga rakaat sholat witir bisa saya ikuti dengan sempurna.

 

Saya merasakan perbedaan yang sangat signifikan, antara suasana sholat Tarawih, terutama malam pertama di Qatar, dibandingkan dengan di Bandung, atau Cilegon, dua kota tempat saya hidup sebelum hijrah ke sini di tahun 2008.

 

Tarawih di Bandung 

 

Suasana mesjid di Bandung ketika Tarawih malam pertama tidak jauh berbeda dengan pasar malam. Mesjid yang penuh sesak dengan jamaah dari segala kelompok umur dan kelamin. Dari bayi yang masih merah, sampai kakek- kakek dan nenek- nenek yang jalan pun sudah harus memakai iteuk (tongkat), dari ABG- ABG alay yang centil- centil sampai Ibu- ibu jamaah pengajian pun hadir tanpa alpa. Dari anak- anak TPA sampai anak- anak yang sehari- harinya bandel pun anda bisa lihat hadir di mesjid.

 

Di mesjid dekat rumah saya di Bandung, jamaah sholat Isya paling banyak hanya empat atau lima baris.

 

Tapi di awal Ramadhan sampai luber ke halaman luar mesjid, ramainya mengalahkan suasana ketika sholat Jumát. Bahkan setengah jam sebelum adzan Isya, mesjid sudah riuh rendah ribut dan pastinya ribet oleh penuh sesaknya para jamaah tahunan ini.

 

Dan tentu saja jangan lupakan kehadiran pemeriah suasana yang bahkan selalu hadir lebih dulu dibanding jamaah mesjid itu sendiri.

 

Tukang Cuankie.

 

Tukang Batagor.

 

Tukang Cilok.

 

Tukang Bubur sumsum.

 

Tukang Bakso

 

Mereka tanpa dikomando akan berjajar rapi di sepanjang gang di luar pelataran mesjid.

 

Semangat yang sangat luar biasa hebat.

 

Walau pun seiring dengan berlalunya hari- hari di bulan Ramadhan, isi mesjid mulau menyusut, tapi suasana seperti itu tidak pernah saya rasakan dan nikmati lagi, bahkan ketika di Cilegon.

 

Tarawih di Doha

 

Suasana tarawih awal Ramadhan di Doha berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dengan suasana di Bandung.

Tulisan ini saya buat segera setelah saya tiba dari mesjid.

 

Biasanya, sholat Isya berjamaah di sini akan dimulai setengah jam setelah adzan Isya. Cukup lama memang, tidak seperti di Indonesia, yang jarak antara adzan dan iqomah paling lama sepuluh menit, kadang molor sih sampai lima belas menit, untuk menunggu selesainya sholat jamaah tidak tahu diri yang kadang datang terlambat, tapi masih saja memaksakan diri untuk sholat sunah tahiyatul mesjid. Padahal dia seharusnya tahu kalau dia datang terlambat.

Kalau di sini, begitu waktu iqomah tiba, muadzin tak akan terhentikan, walau pun ada jamaah yang masih sholat.

 

Tidak seperti biasanya, kali ini baru seperempat jam, muadzin sudah mengumandangkan iqomah. Mungkin karena terbiasa selama setahun jarak antara adzan Isyadan iqomah selalu dua puluh menit, bahkan kadang setengah jam, banyak jamaah yang terlambat.

 

Ketika imam takbir pun, hanya baris pertama yang terisi, itu pun tidak penuh. Tidak bisa mengalahkan penuhnya mesjid ketika sholat Jumát.

 

Dan ketika salam, mesjid baru terasa ramai karena kali ini ada enam atau tujuh baris yang penuh, dari kapasitas mesjid yang sepuluh atau sebelas baris.

 

Sepi dan sunyi.

Selama delapan rakaat Tarawih dan tiga rakaat sholat witir itu, nyaris hanya suara imam yang terdengar. Hampir tidak ada suara riuh rendah Ibu- ibu yang mengobrol di sela- sela dua rakaat Tarawih.

Walau di mesjid ada tempat khusus untuk wanita, tapi tetap, hanya hening yang ada.

 

Paling ada suara tangis bayi, itu pun tidak terlalu lama.

 

 

Kangen Kampung

 

            Dari sisi kekhusyuan sholat, tentu saja suasana sholat di Doha jauh lebih kondusif dan mendukung, karena jamaah sholat tidak terganggu oleh keributan di dalam dan di luar mesjid.

 

Tapi, dari sisi semangat, jamaah di sini terkesan adem- ayem saja. Tidak terasa kekuatan semangat ketika menghadapi Ramadhan.

 

Tidak terasa semangat luar biasa seperti jamaah sholat Tarawih di Bandung yang saya ceritakan tadi.

 

Di sini Butuh energi dan kekuatan yang lebih untuk bisa mempertahankan semangat sholat Tarawih.

 

Sebenarnya ada sih tempat yang merupakan perpaduan antara semangat di mesjid dekat rumah saya dulu di Bandung, dan kekhusyuan suasana shalat seperti di Doha.

 

Salah satunya di mesjid Daarut Tauhiid Bandung.

 

Ah, jadi kangen weh kangen ka Bandung kalau sudah begini mah!

 

 

Doha, 09012013

1 Ramadhan 1434H

 

http://www.didaytea.com

Diary Ramadhan Day 1

Setiap menjelang Ramadhan seperti ini, bahkan berminggu- minggu sebelumnya, pati selalu ada target yang ingin saya capai.

O iya, ramadhan kali ini adalah ramadhan keenam yang insyaallah akan saya lalui di Doha, Qatar.

Sejujurnya sih, selama lima Ramadhan yang telah saya lalui di Qatar, prestasi amalan saya sangat buruk.

Sholat tarawih tidak pernah full tiga puluh hari di mesjid. Membaca Al Qurán tidak pernah sampai setengahnya. Apalagi Itikaf, selama lima kali Ramadhan itu tidak ada satu hari pun.

Sejuta alasan bisa saya cari dan saya buat sih. Dari jadwal shift saya yang dua belas jam. Atau kondisi di rumah yang hanya berempat, dengan istri dan kedua anak-anak saya. Yang menyebabkan kurangnya waktu luang untuk beribadah ketika ada di rumah. Saya malah lebih sering sibuk bermain- main dengan anak- anak, berkumpul, atau jalan- jalan ke mall dan taman di Doha.

Lima kali Ramadhan seperti berlalu begitu saja, terasa hampir tidak bermakna. Tidak seperti ketika di Indonesia. Terkadang saya menyalahkan suasana di sini yang kurang mendukung.

Padahal keadaan dan sarana pendukung yang saya miliki sekarang jauh lebih lengkap dibanding ketika masih di Indonesia.

Al Qurán ada di tablet saya, sehingga seharusnya saya bisa membacanya sepanjang perjalanan dari rumah ke tempat bekerja yang memakan waktu satu jam setengah.

Sudah ada istri yang selalu sigap menyiapkan sahur dan makanan berbuka saya ketika di rumah. Tidak harus pusing- pusing ketika saya hampir tujuh tahun menjadi anak kost di Cilegon, yang melakukan semuanya serba sendirian.

Saya bekerja di lab, sehingga lebih mudah untuk bisa mengambil waktu luang untuk bisa sholat Dhuha sebentar. Atau bisa meluangkan waktu juga untuk sholat tarawih ketika masuk bekerja shift malam.

Ah, lagi- lagi ini kegagalan saya mengalahkan kemalasan. Kali ini saya harus kuat! Saya harus menang mengalahkan kemalasan!

Di senja ini, untuk keenam kalinya, saya menyambut Ramadhan di Qatar, yang jatuh pada hari yang sama dengan di Indonesia.

Selamat datang wahai Ramadhan.

Ku mengharapkan Ramadhan kali ini penuh makna,

Agar dapat kulalui dengan sempurna

 

Doha, Qatar

090113 18:23

1 Ramadhan 1434H

Brute Force Attack Al Qur’an

“Belum berhasilnya kita menggapai keinginan kita, kemungkinan besar karena kita terlalu cepat menyerah dengan keadaan. Belum mencoba segala kemungkinan yang ada”

Hafalan Mentok

Ada salah satu adegan di dalam film Transformers, ketika si robot alien yang menjelma menjadi sebuah boom box, dengan mudahnya menjebol password dan sistem keamanan di  NSA hanya dalam beberapa saat.

“Even though it will do brute force attack to break the our security, it will take thousands of years, but this thing just breached our security wall in a matter of second!” Kata si Teteh berambut pirang dengan logat Britishnya yang sangat kental.

Brute force attack adalah metode untuk memecahkan suatu kode dengan mencoba satu per satu semua kemungkinan yang ada.

Pengertian dari PCMag: “The systematic, exhaustive testing of all possible methods that can be used to break a security system”.

Sederhananya, seperti kita lupa kombinasi kunci koper yang hanya tiga digit. Ada 4960 kemungkinan kombinasi yang harus kita coba satu per satu.

Sudah beberapa tahun ini saya selalu mentargetkan untuk bisa menghafal Juz’Amma. Dengan target jangka panjang, menghafal seluruh 30 Juz Al Qur’an tentunya.

Tapi entah kenapa, selalu mentok, bahkan di surat pertama: An Naba.

Dan biasanya, begitu mentok, ya sudah saya menyerah deh. Paling banyak yang bisa saya hafal, sepuluh ayat, itu pun timbul tenggelam. Kadang tidak hafal sebagian, kadang ingat sebagian. 😀

Takdir Allah, saya mendengar ceramah  Kajian Makrifatullah Aa Gym yang terbaru, di tahun  2013, ada bagian yang membahas tentang menghafal Al Qur’an, ada juga tweet dari ustadz Yusuf Mansur, dan @HapalQuran.

Intinya ya seperti Bruce Force Attack  tadi, ketika kita sudah berniat menghafal Al Qur’an, ya kita harus mencoba setiap langkah, daya dan upaya.

Kalau kata Aa Gym sih, hikmahnya ketika kita sudah berusaha keras tapi belum hafal- hafal juga, mungkin Allah ingin kita lebih sering lagi membaca Al Qur’an. Kan, makin susah hafal, kita seharusnya makin banyak membacanya. Dan ada sepuluh kebaikan dari setiap huruf yang kita baca.

Mungkin jika kita langsung hafal, kita malah jadi malas lagi membacanya, karena mentang- mentang sudah hafal.

Selama empat tahun, ya, empat tahun, saya selalu menyerah. Boro- boro bisa menghafal full 30 Juz, Juz Amma saja, di luar surat- surat pendek yang sudah biasa kita hafal sejak TPA sepulang sekolah SD dulu, aku sudah menyerah. Surat paling panjang yang saya hafal paling, Al Fajr, dan itu juga masih “belang- betong”, masih sering ada ayat yang terlewat. Kalau Al A’Laa dan Al Ghasyiyah mah Alhamdulillah, akurasinya sudah 99%. Ketiga surat ini pun, baru tahun- tahun ini saja bisa saya hafal.

Masih kalah sama anak- anak TPA atau SD Islam, yang rata- rata sudah hafal Juz 30.

Tadinya mau saya acak saja urutannya. Karena An Naba ngga hafal- hafal, coba yang lain. Al Bayyinah. Eh, ternyata walaupun Cuma delapan ayat, tapi sama aja, panjang.

Tapi ya kenyaataannya seperti itu.

Pada akhirnya, saya memilih untuk bersembunyi di balik alibi bahwa masih banyak orang Islam yang belum bisa membaca Al Qur’an, masih banyak orang Islam yang jarang mengaji Al Qur’an.

Keinginan saya kembali berakhir sebatas niat.

Saya menyerah. Dan di dalam sholat pun, surat yang saya baca tidak pernah beranjak dari At Takatsur, Alam Nasyrah, Al Maa’un, At Tiin, dan tentu saja trio “Qul”, Al Ikhlas, Al Falaq dan An Naas. :D.

Niat Lagi

Di Awal tahun 2013 ini, saya bertekad  untuk mencoba lagi menghafal Juz ‘Amma. Kali ini serius saudara- saudara. Apalagi setelah sering membaca tweetnya Ustadz Yusuf Mansur dan @HapalQuran tentang One Day One Ayat, makin kuatlah tekad saya tersebut.

Kembali ke adegan film Transformer tadi. Adegan pendek di film itu menginspirasi saya untuk melakukan hal yang sama: Brute Force Attack.

Tapi kali ini targetnya adalah Al Quran.

Target utama yang terdekat saya empat bulan yang lalu tentunya seperti biasanya: Surat An Naba.

Saya beli CD murottal yang per Juz.

Ketika mudik dua bulan yang lalu, saya membeli Al Qur’an hafalan.

Tidak satu atau dua, tapi tiga!

Satu saya simpan di tas. Satu di dekat komputer, dan satu lagi di rak buku. Agar setiap saat, ketiadaan Al Qur’an di dekat saya tidak menjadi alasan.

Di iQuran, saya book mark surat An Naba.

Di telepon genggam, saya buat playlist khusus untuk Juz 30.

Sepanjang perjalanan ke tempat pekerjaan yang menghabiskan waktu selama satu jam, saya hampir selalu menyetel Surat An Naba. Di bis Surat An Naba. Sholat, surat An Naba.

Sebelum tidur, hampir selalu surat An Naba yang saya putar. Dengan harapan akan masuk ke dalam alam bawah sadar saya, seperti yang dibilang di dalam buku Quantum Learning. Apa yang kita dengar sebelum tidur, dan selama tidur, akan lebih mudah masuk ke dalam pikiran dan otak kita.

Pokoknya mah, tiada hari tanpa Surat An Naba deh!

Eh ternyata setelah dua bulan, masih belum hafal juga.

Terus lagi nyoba.

Lebih sering, lebih sering, beli CD lagi, Syaikh Abdurrahman As Sudais, 17 CD, biar jelas suaranya.

Sebelumnya CD yang saya selalu putar adalah dari Syeikh Khalifa At Tunaiji, ini sangat lambat. Tapi bagusnya, ada dua kali bacaan. Yang pertama membaca adalah Syeikhnya sendiri, terus diulang oleh seorang muridnya, anak kecil.

Ketika shift malam, bisa digeder, diputar semalaman sambil bekerja. Eh, ngomong- ngomong, digeder apa ya bahasa Indonesianya?

Dikeureuyeuh?

Ini juga masih bahasa Sunda ya? Hehehe

Diikuti dengan membaca terjemah per katanya.

Kurang lebih, artinya melakukan pekerjaan yang sama berulang- ulang sesering mungkin.

Saya pecah hafalan menjadi dua bagian, halaman pertama (halaman 582) dan halaman ke dua (halaman 583). Biasanya sih, saya baca ketika sholat rawatib atau tahiyatul masjid.

Saya juga membaca tafsir surat An Naba.

Ah, pokoknya, semua alternatif dan langkah serta tips untuk menghafal Al Qur’an tadi saya lakukan semuanya.

Alhamdulillah, ada perkembangan yang signifikan walau pun masih “apal cangkem” (hafal saja, tanpa mengetahui artinya).

Ini sudah sangat lumayan, dibanding “niat- niat” saya yang sebelumnya. Walau pun masih sering nge-blank  ketika di dalam sholat, tapi mulai sering saya bisa membaca terus hingga halaman pertama hampir habis.

Tadinya saya ingin membuat sibuk sebagai alasan. Kenapa masih belum hafal juga, padahal sudah dua bulan.

Memang pastinya kasus akan berbeda dengan lingkungan yang sengaja dibentuk seperti Daarul Quran, atau Rumah Hafiz. Mereka minimal bisa menghafal satu halaman dalam satu hari. Tujuh sampai delapan jam waktu mereka dalam sehari sepenuhnya digunakan untuk menghafal.

Tapi tidak bisa jadi alibi. Waktu luang bisa kita buat dan usahakan, bukan kita yang menunggu waktu luang. Yang lebih penting adalah niat.

Kalau niat menghafal saja tidak ada, bagaimana mau rutin membaca Al Qur’an kan?

Untuk orang seperti saya, yang bekerja shift,  kadang ketika sudah berkomitmen kuat pun, selalu saja ada kendala untuk mengkhususkan waktu. Sangat sulit untuk bisa menghafal pada waktu yang sama.

Jadi cara yang agak berhasil sih, ya itu tadi brute force attack, karena tidak terikat jadwal. Harus seperti striker oportunis, yang pandai memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Ada momen sedikit saja, langsung deh saya eksekusi. Jika kuat, dan niat sholat sunat, tidak ada surat lain yang saya baca selain An Naba.

Berhasil!

Dan lima hari yang lalu, Alhamdulillah, Allahuakbar! Empat puluh ayat Surat An Naba berhasil saya baca dari awal sampai akhir di dalam sholat tahiyyatul masjid. Setelah empat tahun berniat menghafal Juz Amma.

Alhamdulillah,  walau pun tidak sepenunya lancar, dan hanya 60 persen artinya yang mengikuti bacaaan saya, tapi ini pertamax kalinya saya bisa membaca Surat An Naba di luar kepala.

Dengan karunia Allah, dan Brute Force Attack tadi akhirnya saya berhasil.

Belum berhasilnya kita menggapai keinginan kita, kemungkinan besar karena kita terlalu cepat menyerah dengan keadaan. Belum mencoba segala kemungkinan yang ada.

Semoga setelah ini jalan saya untuk menjadi penghafal Al Qur’an menjadi lebih mudah, lebih luas dan lebih lapang.

Mari menghafal Al Qur’an!

(Terima kasih kepada Ustadz Yusuf Mansur, Aa Gym dan @HapalQuran)

http://www.didaytea.com

Menghargai Keringat

“Tetesan keringat dan kucuran peluh yang keluar dari hasil jerih payahseorang ayah atau suami ketika mencari nafkah untuk anak dan istrinya, bisa jadi bernilai syurga karena itu dihitung sebagai sedekah”


Sudah jadi peraturan dan keinginan dasar di dalam hukum ekonomi untuk meraih keuntungan sebesar- besarnya dengan modal yang sekecil- kecilnya.

Prinsip ini juga yang aku lakukan ketika aku masih tinggal dan bekerja di Cilegon.

Sewaktu aku masih membanting- banting tulang dan memeras- meras keringat di Cilegon, aku menjalani berbagai peran. Seorang karyawan swasta, seorang mahasiswa juga, dan seorang pedagang juga.

Peran pedagang, aku jalani sebagai kebutuhan, untuk menggeser kesetimbangan keuanganku ke arah kanan, demi untuk menambal kekurangan biaya kuliah. Peran ini juga aku jalani sebagai pemenuhan naluri dan insting berdagangku yang sudah muncul sejak masih bersekolah. Hampir setiap mudik dari Bandung, aku selalu membawa barang dagangan.

Dari buku, VCD ceramah atau nasyid, bahkan baju- baju distro yang baru ngetrend di Bandung sampai jagung pop dalam kemasan, serta deterjen tanpa busa pun tak luput menjadi komoditas daganganku juga.

Di tahun terakhir, sebelum aku berangkat ke Qatar, aku “menemukan” barang dagangan baru yang untungnya jauh lebih besar dibanding komoditas yang biasanya aku jual.

Awalnya sih hanya iseng, ketika aku bersama Ibuku berjalan- jalan ke daerah Cibadak. Di sana banyak toko grosir aksesoris untuk wanita, seperti bros, pin, jepit rambut dan lain lain. Di salah satu toko, ada yang menawarkan bros untuk para jilbaber. Bentuknya lucu- lucu, dari yang berbentuk Kaligrafi, atau tokoh kartun yang berjilbab, atau hanya sekedar rangkaian kata- kata bernuansa Islami.

Waktu itu aku langsung memborong beberapa lusin bros yang sudah dikemas rapi secara satuan.

Di luar dugaan, ternyata hampir semua bros- bros ini ludes tak bersisa hanya dalam waktu kurang dari satu minggu. Itu pun pembelinya baru teman- teman kerja, teman kuliah  dan anak- anak tetanggaku.

Ternyata insting aku tepat. Di daerah Cilegon Serang, bros- bros Islami itu ternyata masih sangat jarang. Untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar, aku membeli bros itu dalam bentuk curah. Satu kantung plastik besar berisi ratusan bros berbagai macam bahan dan jenis.

Kendalanya adalah aku harus mengemas satu per satu setiap bros itu dengan plastik bening. Berjam- jam aku habiskan  untuk mengemas bros itu satu – persatu. Ditambah dengan waktu yang kuhabiskan juga untuk membuat proposal kerjasama dengan toko buku, malam itu aku hampir
tidak tidur sama sekali.

Dan aku juga harus membeli sendiri semacam rak pajang, yang bisa memuat puluhan bros, untuk “display” barang di toko-toko yang rencananya nantinya akan aku ajak kerja sama.

Dengan membeli secara curah langsung dari pembuatnya, untung yang kudapat dari setiap keping bros jauh lebih besar dibandingkan dengan ketika aku harus membeli secara lusinan, apalagi satuan.

Dengan harga beli yang bermacam- macam, aku membuat satu harga untuk semua bros yang aku jual, waktu itu harga satu bros adalah tiga ribu lima ratus rupiah.

Di daerah Cilegon-Serang, setidaknya ada lima toko buku yang aku datangi, dua di Cilegon, dan dua di Serang.

Dengan waktu kerja aku yang shift, dan jadwal kuliah yang lumayan padat, waktu luang aku pada waktu itu hanya tengah hari saja, antara waktu Zhuhur dan Ashar.

Selepas shalat Zhuhur, aku bergegas melangkahkan kaki dari rumah dengan membawa dua rak pajangan yang penuh berisi bros yang sudah siap tayang. Tas punggung kesayanganku yang penuh dengan bros, dan bertambah berat karena berisi buku- buku kuliah dan seragam kerja, tanpa lupa kuajak menemani. Waktu itu aku berniat untuk menawarkan kerjasama dengan toko- toko buku di Serang, agar mereka mau dititipi bros- bros jualanku.

Seperti daerah pesisir laut pada umumnya, cuaca Cilegon- Serang sangat lembab dan panas. Dan kondisi itu sangat menyiksa orang- orang yang terbiasa hidup di iklim sejuk seperti Bandung. Aku termasuk orang yang sangat sulit untuk berkeringat, tapi baru beberapa menit saja berjalan
menuju tempat menunggu angkot, keringat sudah mengucur deras di pelipis kanan dan kiri aku.

Di dalam angkot, semua orang di dalam sana melihat barang bawaanku dengan penasaran.

Bahkan ada beberapa anak sekolah yang langsung ingin membeli pada saat itu juga.

“Lumayan, baru juga keluar rumah, sudah ada yang membeli nih..!”

Untuk pergi ke Serang, seturun dari angkot, aku masih harus menumpang bus antar kota ke terminal Serang. Dan untuk mencapai toko buku yang aku ingin ajak kerjasama itu, aku masih harus naik angkot lagi.

Perjalanan waktu itu memang penuh tantangan dan perjuangan. Sudah mah ribet dengan rak pajangan bros, tas yang berat, aku masih harus berjuang dengan rasa gerah dan mengusap peluh yang semakin deras mengucur ketika aku harus berjalan di tengah hari bolong.

Bus AC yang biasa kunaiki pun ternyata tidak ada yang kosong, karena jam segitu memang jamnya anak sekolah bubaran dan mahasiswa pergi kuliah ke Serang dari Cilegon. Sehingga dengan sangat terpaksa aku harus menaiki bus yang sudah sesak penuh dengan penumpang. Tidak ada
pilihan lain, karena aku harus mengejar kuliah di sore harinya. Setelah hampir satu jam aku berdiri di dalam bis itu.

Tapi,  setiap tetes kucuran keringatku terbayar lunas, bahkan sebelum kering di pelipisku, ketika semua pemilik toko buku di Serang yang kuajak kerja sama terkesan dengan proposal kerjasama yang kubuat. Aku buat proposal kerjasama dengan mereka secara konsinyasi, dan diskon yang lumayan besar. Artinya, mereka tidak usah membeli dulu brosnya. Mereka hanya akan membayar produk yang laku saja. Dan mereka bersedia untuk menjalin kerjasama untuk menjual produk- produk bros yang kubawa.

Dan sesuai perjanjian pula, setiap awal bulan aku akan mengumpulkan uang hasil penjualan. Serta, tiap dua minggu aku akan memperbaharui produk yang didisplay di toko dengan yang produk- produk yang terbaru.

Alhamdulillah, untung dari berjualan bros ini sangat bisa menolongku untuk bisa membiayai kuliahku selama beberapa bulan.

Aku pernah mendengar dari seorang ustadz, kalau ternyata tetesan keringat dan kucuran peluh yang keluar dari hasil jerih payah seorang ayah atau suami ketika mencari nafkah untuk keluarganya, bisa jadi bernilai syurga karena itu dihitung sebagai sedekah.

Keringat itu juga yang membuat aku tanpa berpikir panjang lagi untuk membeli ensiklopedia yang ditawarkan oleh seorang pemuda yang bersimbah peluh dan keringat di parkiran sebuah  supermarket di Doha.

Aku bukan membeli ensiklopedianya, karena sejujurnya aku tidak terlalu
memerlukannya. Tapi aku ingin menghargai keringat hasil dan perjuangan usaha si pemuda ini untuk menghampiri hampir setiap mobil yang baru parkir. Sebelum dia menghampiri, aku sudah mengamatinya lumayan lama. Di tengah teriknya cuaca panas dan lembab, dia pantang menyerah dan tak kenal lelah, dan masih tabah menawarkan menerangkan produk ensiklopedia tersebut. Walau pun ada beberapa pemilik mobil yang sama sekali tidak menghiraukannya.

Aku tahu sekali bagaimana rasanya jerih payah “menukar” tetesan keringat dengan selembar uang untuk sekedar menyambung hidup di hari itu.

Doha, 12 Oktober 2012

Usus Buntu Gadungan

 

“Kondisi tubuh seringkali bergantung kepada suasana hati. Hati yang galau akan membuat tubuh menimbulkan penyakit yang tidak jelas.

Diagnosa Awal

Baru saja kurebahkan tubuh kerempengku yang sudah kelelahan sepulang dari shift malam itu di atas kasur palembang berwarna biru yang sudah lepek , ketika tiba- tiba perutku sebelah kanan bawah terasa sakit luar biasa. Sakit dan pedih seperti ada puluhan jarum yang menusuk- nusuk. Seperti ada yang meregangkan otot- otot di dalam sana.

Sakit itu tidak seperti biasanya. Kalau hanya mules dan pedih di ulu hati sih, itu sudah biasa. Dengan statusku sebagai anak kos, tentu saja makan sering tidak teratur.

Ketika sakit ini tiba, aku sedikit khawatir, karena aku pernah membaca bahwa sakit perut kanan bawah itu mungkin adalah gejala dari infeksi usus buntu.

Gawat..! Aku harus segera ke klinik nih!”

Sambil menahan sakit, kupaksa tubuhku untuk berdiri. Dan kubawa tubuh ini menuju ke pangkalan angkot terdekat.

Untungnya tidak lama kemudian sudah ada angkot berwarna Ungu yang selalu setia mengantarku ke mana pun tujuanku di Cilegon itu yang menghampiri.

Setibanya di klinik itu, aku langsung mendaftar ke dokter jaga, karena di situ tidak ada dokter spesialis penyakit dalam.

“Selamat pagi Dokter!” Sapaku sambil meringis dan memegang perut dengan kedua tangan, dan agak sedikit membungkuk.

“Selamat pagi! Sini langsung berbaring!” Dokter muda yang mengenakan jilbab berwarna pink itu langsung terlihat khawatir ketika melihatku meringis kesakitan.

“Kenapa perutnya?’ Tanyanya.

“Tidak tahu Dok, tadi tiba- tiba perut saya, bagian kanan bawah terasa sakit banget, pedih!” Kataku sambil membaringkan badanku di atas ranjang pemeriksaan.

Ibu Dokter tidak menjawab. Dia hanya mengambil stetoskop dan alat pengukur tekanan darah, lalu melakukan prosedur rutin.

“Tolong buka kausnya!” Pinta Ibu Dokter.

Setelah itu dia langsung menekan perutku, tepat di bagian yang sakit.

“Ahhh…..!” Aku langsung bangkit, dan hampir terduduk.

“Maaf. Sakit banget ya?” Tanya Ibu Dokter.

“Saya harus memeriksa dengan cara seperti ini. Karena saya takutkan kamu terkena infeksi usus buntu” Katanya lagi.

“Tahan ya!” Katanya sambil menekan lagi perutku.

“Ketika ditekan sakit?” Tanyanya lagi.

“Sakit banget…” Jawabku lemas.

“Ketika tekanannya dilepas, sakit juga?” Dia bertanya lagi.

“Iya Dok, sakit juga..” Kujawab lagi.

Kali ini muka Ibu Dokter mulai terlihat khawatir.

“Saya cek satu parameter lagi ya!” Katanya sambil mengangkat kaki kananku, sampai paha kananku hampir menempel ke perutku.

“Ahhhh….!” Aku hampir berteriak, karena sakit di perutku hampir sama dengan ketika perutku ditekan.

“Waduh, gawat Pak! Ini positif usus buntu!” Katanya dengan sedikit panik.

“Langsung saya rujuk ke rumah sakit ya! Ini harus segera dioperasi, kalau tidak bisa berakibat fatal!” Katanya dengan sedikit panik, dan sambil terburu- buru menulis surat rujukan ke rumah sakit terbesar di kota Cilegon.

Aku tidak bisa berkata- kata dan hanya menatap kosong langit- langit ruangan periksa.

“Ini suratnya, silahkan langsung saja ke rumah sakit ya! Ingat, ini ini harus dioperasi sekarang juga, kalau tidak bisa gawat!” Kata Ibu Dokter itu, masih dengan raut muka yang panik dan cemas.

“Iya Dok, makasih banyak ya..” Jawabku dengan lemas dan melangkah gontai ke luar dari ruangan periksa itu.

Untuk beberapa saat, aku biarkan tubuhku mematung di atas kursi halte di depan klinik. Tatapanku kosong menatap kertas rekomendasi rawat inap dari dokter di kliniktadi. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.

“Waduuh, gawat ini mah euy! Aku kena usus buntu..!” Umpatku dalam hati sambil tetap meringis menahan pedih di perutku yang tak kunjung reda.

Yang ada di pikiranku saat itu hanya Ibuku. Ibuku adalah seorang perawat di sebuah rumah sakit swasta di Bandung. Minimal dia bisa bertanya kepada dokter di sana. Secepat kilat kupijit nomor hape ibu.

Second Opinion

            Alhamdulillah, ternyata keputusanku untuk menelepon ibuku sangat tepat. Ternyata bukannya langsung menyuruhku untuk pergi ke rumah sakit untuk dioperasi sesuai rujukan dokter di klinik, aku malah disuruh untuk mencari second opinion. Ibuku menyuruhku untuk berobat ke dokter spesialis penyakit dalam.

Akhirnya aku tetap pergi ke rumah sakit.

Anehnya, rasa pedih di dalam perutku agak berkurang. Sepanjang perjalanan di dalam angkot berwarna Ungu itu, rasa sakitku sedikit demi sedikit mulai menghilang.

Sesampainya di rumah sakit, langsung saja aku mendaftar di bagian spesialis penyakit dalam.

Tidak pake lama, giliranku pun tiba.

Aku terangkan saja pada dokter spesialis itu kejadian tadi pagi dan termasuk rekomendasi untuk “operasi dengan segera” dari sang dokter di klinik dekat rumah kontrakanku.

Dokter yang perawakannya tidak jauh beda seperti dokter selebritis spesialis kandungan, dokter Boyke itu, melakukan prosedur pemeriksaan yang sama. Dari tes nyeri tekan dan nyeri lepas, sampai lutut kananku yang diangkat ke arah perut. Alhamdulillah, pada saat pemeriksaan kali ini, rasa sakit itu sudah jauh berkurang. Tapi tetap saja masih ada sakit dan pedih.

Walau pun begitu, tapi aku tetap harus menjalani prosedur pemeriksaan yang lengkap, untuk memastikan apa penyebab rasa nyeri yang melanda begitu hebat di dalam perutku itu.

            Aku harus menjalani semua tes laboratorium, dari urine, darah hingga feses.

Kata pak Dokter, hasilnya akan bisa diketahui setelah dua hari. Tapi, hari itu juga aku harus menjalani tes yang lain, tes Ultrasonografi (USG). Ya! Anda tidak salah baca.Aku harus menjalani USG, layaknya ibu- ibu hamil saja.

Dan benar saja, ketika antri di bagian USG, aku mengantri bersamaan dengan para ibu- ibu hamil. Hanya aku saja pria yang duduk di situ.

Walau pun aku memasang pose yang sama dengan ibu- ibu itu-duduk menyender di kursi, muka menunduk, dan tangan sesekali mengelus- ngelus perut-tapi tetap saja, aku tetap terlihat mencolok di dalam antrian itu. Ibu- ibu hamil itu malah cekikikan dan berbisik- bisik tidak jelas melihatku yang berwajah muram, sambil mengusap- ngusap perutku yang sebenarnya sudah tidak terasa sakit lagi.

Hasil USG pun ternyata tidak menunjukkan masalah apa- apa.

Dan setelah semua hasil selesai pun, dokter belum bisa memutuskan apa yang menyebabkan rasa sakit di perutku. Walau pun pada akhirnya dia mengambil kesimpulan, itu pun hanya sebatas kemungkinan, bahwa (mungking) ada otot di dalam perutku yang robek.

Kutinggalkan rumah sakit dengan kepala dipenuhi keraguan.

“Otot yang robek..?” Ah, benar- benar tidak jelas.

            Malam itu juga, kuputuskan untuk pulang ke Bandung.

Dr Li

Sebelum subuh, aku sudah tiba di terminal Leuwipanjang dan di sambut oleh sejuknya udara kota Bandung ketika pintu bis terbuka dengan perlahan. Setiap kali udara sejuk kuhela masuk ke dalam paru- paruku, badanku terasa semakin segar.

Setelah beristirahat sebentar, sholat subuh dan sarapan bubur ayam idolaku di kampung halaman, Ibu segera mengajakku ke rumah sakit.

Tidak lupa kubawa juga sebundel hasil Xray, USG, Hasil tes darah, urine dan feses kubawa dengan untuk diperlihatkan ke dokter Li.

Dokter Li ini adalah dokter yang sudah merawatku sejak bayi. Tongkrongannya sih menurutku lebih mirip ahli kungfu. Tubuh yang tinggi besar, tatapan mata yang tajam, serta sepasang tangan yang kokoh tidak menampakkan kalau dia sudah berumur lebih dari 80 tahun (kata ibuku sih). Tadinya sih aku tidak percaya, karena kulihat dia setiap tahun selalu mengikuti acara lomba lari 10 kilometer yang diadakan oleh rumah sakit tempat ibuku bekerja. Dan tidak hanya sekedar berpartisipasi, dokter Li betul- betul berlomba dengan peserta yang lain.

“Aa, ayo, itu sudah dipanggil sama dokter Li!” Tak sampai lima menit, aku sudah dipanggil oleh ibu ke dalam ruangan dokter Li.

Ketika aku dan Ibu memasuki ruangan, kulihat dokter Li sedang membolak- balik lembar demi lembar hasil testku di rumah sakit Cilegon.

Semoga tidak ada yang serius..” Gumamku perlahan.

“Tolong suruh anak kamu tiduran di ranjang periksa..!” Kata dokter Li sambil menyimpan setumpuk kertas dan hasil X-Ray dan USGku di atas meja kerjanya yang mungil.

Tak berapa lama, dokter Li menghampiriku dan memegang pergelangan tanganku. Persis seperti adegan ketika Wong Fei Hung memeriksa denyut nadi muridnya yang cedera. Dan ternyata hanya itu saja yang dia lakukan.

Aku heran.

Kali ini dia sama sekali tidak menggunakan stetoskopnya, apalagi melakukan pemeriksaan gejala usus buntu seperti dokter di Cilegon.

Seperti biasanya, dokter Li hampir tidak pernah bicara secara langsung kepadaku, selalu saja dia berbicara kepada ibuku.

“Gimana Dok, anak saya kenapa?” Tanya Ibuku penasaran.

Dokter Li, tidak menjawab. Hanya matanya saja yang menatapku tajam, tapi segurat senyum tiba- tiba terbit di ujung bibirnya, walau pun tidak sampai bisa mengangkat pipinya yang sudah keriput dimakan umur.

Neng, anak maneh mah lain gering apendisitis, mun henteu keur patah hati, pasti keur hayang kawin..!” Katanya dengan kencang, sambil tiba- tiba tertawa terkekeh- kekeh dan setengah melemparkan tumpukan dokumen hasil testku di Cilegon ke arah aku dan ibuku.

(Neng, anak kamu itu bukannya sakit apendisitis/usus buntu, kalau ngga lagi patah hati, pasti dia lagi pengen kawin..!)

Hadeuuh, dari mana dokter Li tahu kalau sejak seminggu yang lalu aku sedang galau karena gadis yang kucintai dinikahi sama orang lain ya?