Tarawih Yang Hening


 

Malam ini adalah pertama kalinya saya bisa sholat tarawih berjamaah di masjid di malam pertama bulan Ramadhan, padahal ini Ramadhan ke enam yang saya jalani di negeri orang. Kebanyakan sih penyebabnya karena jadwal kerja yang pas sekali bertepatan dengan malam pertama Tarawih, atau bertepatan dengan jadwal mudik saya ke Indonesia.

 

Alhamdulillah, delapan rakaat Tarawih dan tiga rakaat sholat witir bisa saya ikuti dengan sempurna.

 

Saya merasakan perbedaan yang sangat signifikan, antara suasana sholat Tarawih, terutama malam pertama di Qatar, dibandingkan dengan di Bandung, atau Cilegon, dua kota tempat saya hidup sebelum hijrah ke sini di tahun 2008.

 

Tarawih di Bandung 

 

Suasana mesjid di Bandung ketika Tarawih malam pertama tidak jauh berbeda dengan pasar malam. Mesjid yang penuh sesak dengan jamaah dari segala kelompok umur dan kelamin. Dari bayi yang masih merah, sampai kakek- kakek dan nenek- nenek yang jalan pun sudah harus memakai iteuk (tongkat), dari ABG- ABG alay yang centil- centil sampai Ibu- ibu jamaah pengajian pun hadir tanpa alpa. Dari anak- anak TPA sampai anak- anak yang sehari- harinya bandel pun anda bisa lihat hadir di mesjid.

 

Di mesjid dekat rumah saya di Bandung, jamaah sholat Isya paling banyak hanya empat atau lima baris.

 

Tapi di awal Ramadhan sampai luber ke halaman luar mesjid, ramainya mengalahkan suasana ketika sholat Jumát. Bahkan setengah jam sebelum adzan Isya, mesjid sudah riuh rendah ribut dan pastinya ribet oleh penuh sesaknya para jamaah tahunan ini.

 

Dan tentu saja jangan lupakan kehadiran pemeriah suasana yang bahkan selalu hadir lebih dulu dibanding jamaah mesjid itu sendiri.

 

Tukang Cuankie.

 

Tukang Batagor.

 

Tukang Cilok.

 

Tukang Bubur sumsum.

 

Tukang Bakso

 

Mereka tanpa dikomando akan berjajar rapi di sepanjang gang di luar pelataran mesjid.

 

Semangat yang sangat luar biasa hebat.

 

Walau pun seiring dengan berlalunya hari- hari di bulan Ramadhan, isi mesjid mulau menyusut, tapi suasana seperti itu tidak pernah saya rasakan dan nikmati lagi, bahkan ketika di Cilegon.

 

Tarawih di Doha

 

Suasana tarawih awal Ramadhan di Doha berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dengan suasana di Bandung.

Tulisan ini saya buat segera setelah saya tiba dari mesjid.

 

Biasanya, sholat Isya berjamaah di sini akan dimulai setengah jam setelah adzan Isya. Cukup lama memang, tidak seperti di Indonesia, yang jarak antara adzan dan iqomah paling lama sepuluh menit, kadang molor sih sampai lima belas menit, untuk menunggu selesainya sholat jamaah tidak tahu diri yang kadang datang terlambat, tapi masih saja memaksakan diri untuk sholat sunah tahiyatul mesjid. Padahal dia seharusnya tahu kalau dia datang terlambat.

Kalau di sini, begitu waktu iqomah tiba, muadzin tak akan terhentikan, walau pun ada jamaah yang masih sholat.

 

Tidak seperti biasanya, kali ini baru seperempat jam, muadzin sudah mengumandangkan iqomah. Mungkin karena terbiasa selama setahun jarak antara adzan Isyadan iqomah selalu dua puluh menit, bahkan kadang setengah jam, banyak jamaah yang terlambat.

 

Ketika imam takbir pun, hanya baris pertama yang terisi, itu pun tidak penuh. Tidak bisa mengalahkan penuhnya mesjid ketika sholat Jumát.

 

Dan ketika salam, mesjid baru terasa ramai karena kali ini ada enam atau tujuh baris yang penuh, dari kapasitas mesjid yang sepuluh atau sebelas baris.

 

Sepi dan sunyi.

Selama delapan rakaat Tarawih dan tiga rakaat sholat witir itu, nyaris hanya suara imam yang terdengar. Hampir tidak ada suara riuh rendah Ibu- ibu yang mengobrol di sela- sela dua rakaat Tarawih.

Walau di mesjid ada tempat khusus untuk wanita, tapi tetap, hanya hening yang ada.

 

Paling ada suara tangis bayi, itu pun tidak terlalu lama.

 

 

Kangen Kampung

 

            Dari sisi kekhusyuan sholat, tentu saja suasana sholat di Doha jauh lebih kondusif dan mendukung, karena jamaah sholat tidak terganggu oleh keributan di dalam dan di luar mesjid.

 

Tapi, dari sisi semangat, jamaah di sini terkesan adem- ayem saja. Tidak terasa kekuatan semangat ketika menghadapi Ramadhan.

 

Tidak terasa semangat luar biasa seperti jamaah sholat Tarawih di Bandung yang saya ceritakan tadi.

 

Di sini Butuh energi dan kekuatan yang lebih untuk bisa mempertahankan semangat sholat Tarawih.

 

Sebenarnya ada sih tempat yang merupakan perpaduan antara semangat di mesjid dekat rumah saya dulu di Bandung, dan kekhusyuan suasana shalat seperti di Doha.

 

Salah satunya di mesjid Daarut Tauhiid Bandung.

 

Ah, jadi kangen weh kangen ka Bandung kalau sudah begini mah!

 

 

Doha, 09012013

1 Ramadhan 1434H

 

http://www.didaytea.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s