Demam One Day One Juz

“Sejuta alasan bisa kita cari untuk membuat kita tidak melakukan sesuatu, padahal kita hanya perlu satu alasan untuk melakukan hal tersebut: niat.”

Pesimisme     

Biasanya setiba dari kerja shift malam, saya langsung tidur beberapa jam untuk mengganti waktu tidur yang hilang. Tapi tadi pagi saya harus memaksa mata ini agar terus terbuka. Seringnya sih saya berusaha tetap terjaga dengan bermain game sepakbola di komputer. Karena sebelum jam sebelas saya harus menjemput anak ke sekolah.

Ketika jari- jemari saya sedang hut-het menggenggam joystik, berjuang untuk menaklukan Real Madrid dengan memainkan The Blues, ada seorang teman di Indonesia yang mengirim pesan via Whatsapp: “Kang Dedy, apa dah gabung sama ODOJ One Day One Juz?” sambil melampirkan undangan dari koordinator group ODOJ dan tata cara pendaftaran.

Gampang sih, hanya tinggal menghubungi nomor kontak koordinator via Whatsapp.

Jujur sih, saya langsung pesimis duluan.

“Ngga mungkin lah saya bisa ngaji satu juz satu hari.? Saya kan kerja? Saya kan sibuk? Saya kan males? Itu kan butuh komitmen? Saya kan sibuk? Saya kan kerja? Saya kan ngga ada waktu? Ah, pastinya mah ngga mungkin pisan

Pertanyaan- pertanyaan yang melemahkan semangat itu langsung berkecamuk tak beraturan di dalam pikiran saya.

Di bulan puasa saja saya sering luput mencapai target satu juz sehari. Kalau pun akhirnya bisa tamat, itu pun karena saya sering mencuri start beberapa juz sebelum bulan puasa.

Apalagi ini bulan biasa. Pabaliut (bentrok tidak beraturan-Sundanese)  dengan jadwal kerja, jadwal kuliah, jadwal ujian anak. Boro- boro kepikiran ngaji, walau pun seayat. Satu juz satu hari jadi terdengar sebagai ide yang sangat absurd dan mustahil.

Tapi, memang Allah Maha Memberi Hidayah dan Maha Membolak- balik Hati.

Pagi tadi tiba- tiba saya memutuskan untuk mendaftar saja ke nomor kontak yang dikirim oleh teman saya tadi. Niatnya sih tadinya hanya mencoba saja, toh kalau pada akhirnya tidak sanggup, ya tinggal keluar saja dari grup. Gitu aja kok repot.

Tak sampai satu jam, saya sudah mendapat konfirmasi untuk bergabung dengan grup Whatsapp ODOJ nomor ke sekian.

Peraturannya sangat sederhana.

Di dalam satu grup, ada tiga puluh orang anggota. Satu orang kebagian satu juz untuk dibaca. Jadi, setiap hari satu grup ini akan menamatkan Al Qur’an! Dan setiap anggota otomatis akan khatam Al Qur’an setiap bulan.

Dengan tetap memelihara perasaan mustahil yang sudah muncul sejak pertama kali menerima pesan dari teman saya tadi, ya saya putuskan untuk setidaknya mencoba.

Koordinator di grup saya mengatakan bahwa ngaji semampunya saja dulu. Karena nanti ada sistem back up  dan lelang untuk anggota yang tidak bisa memenuhi target membaca satu juz pada hari itu.

Setelah Zhuhur, akhirnya saya paksakan diri membuka lemari buku dan meraih kotak kecil yang sudah mulai berdebu, berisi Al Qur’an saku per juz. Lalu saya coba untuk mulai membaca. Tetap saja si perasaan pesimis itu masih menggelayut erat di pikiran saya.

“Ah sebisanya aja deh, lagian tadi juga saya sudah bilang hari ini masih kerja shift malam” Biasa, hawa nafsu kan memang begitu. Hehehe.

Tadi saya kebagian juz sembilan.

Dan benar saja, baru juga satu halaman, mata langsung terasa sepet dan bibir langsung kering dan terasa menebal. Langsung saya simpan Al Qur’an juz sembilan  tadi di atas keyboard.

Ya, berhubung menu utama PES 2013 masih terbuka di komputer, saya lanjutkan deh dendam perjuangan mengalahkan Real Madrid yang belum tuntas tadi.

Di level World Class, saya hampir selalu dipecundangi. Saya hanya bisa menang ketika memakai Barcelona dan Chelsea, itu pun menang tipis saja, paling 1-0 atau 3-2.

Setelah beberapa kali mencoba, dan masih saja keok lagi keok lagi.

Pokoknya sampai aral subaha (putus asa-Sundanese) deh, karena dibantai terus- terusan.

Saya pun akhirnya menyerah karena jempol kiri sudah hampir keram.

Karena wudhu saya belum batal, ya saya coba lanjutkan lagi program One Day One Juz tadi.

Kali ini lumayan, saya bisa tahan delapan halaman.

Ketika saya tidak kuat, ya saya berjuang lagi untuk mengalahkan Real Madrid.

Dan tetap saja dibantai lagi, dibantai lagi. Dari belasan kali bertanding sejak pagi tadi, saya hanya bisa menang dua kali.

Kalau sudah mentok, ya balik lagi ke Al Qur’an.

Selama waktu itu, sudah ada tiga atau empat orang yang sudah setor ke grup ODOJ saya. Sudah deh, makin pesimis lagi kalau hari ini saya bisa membaca satu juz.

Diselingi oleh sholat Ashar, ada mungkin empat kali saya bolak balik antara joystik  Al Qur’an.

Eh, ternyata!

Tahu- tahu tangan saya tinggal memegang satu lembar saja dari Al Qur’an per-juz itu.

Alhamdulillah!

Dan akhirnya sebelum berangkat kerja, saya sudah bisa konfirmasi di grup ODOJ saya:

“Alhamdulillah, juz 9 selesai. Doha-Qatar”

Optimisme

             Saya tidak menduga sama sekali ternyata saya bisa membaca satu Juz dalam sehari. Eh, tidak sehari. Total waktu yang saya habiskan mungkin sekitar empat puluh lima menit sampai satu jam. Itu pun karena saya masih belum terlalu lancar membaca ayat- ayat yang jarang saya baca.

Ternyata sama sekali tidak menyita banyak waktu seperti yang saya kira.

Saya ternyata hanya memotong sedikit waktu luang yang biasanya saya isi untuk bermain game dengan alibi untuk melatih konsentrasi (Modus).

Perasaan mustahil itu hanya tipu daya hawa nafsu dan kemalasan saya saja.

Ternyata mental block saya yang menjadi penghalang terbesar. Setelah saya coba, dan itu pun tidak susah- susah amat, tidak harus sampai berjuang mandi peluh dan bersimbah keringat serta mengalami perang batin seperti di sinetron- sinetron, saya ternyata bisa membaca satu Juz Al Qur’an. Padahal sejak bulan puasa, membaca satu ayat pun mungkin hanya seminggu sekali. Harap diingat ya, satu juz itu ada dua belas lembar, atau dua puluh halaman, dan pastinya puluhan ayat dong!

Sejuta alasan bisa kita cari untuk membuat kita tidak melakukan sesuatu, padahal kita hanya perlu satu alasan untuk melakukan hal tersebut: niat.

Subhanalloh, Maha Suci Allah Yang Maha Memberi Hidayah, Maha Membolak- balik hati kita.

Sulit memang, tapi pasti bisa. Jika kita sudah berniat, pasti akan Allah mudahkan, akan Allah beri jalan, dan Allah beri kekuatan.

Ayo segera bergabung dengan grup One Day One Juz terdekat!

Dan rasakanlah bagaimana nikmat dan ringannya membaca Al Qur’an satu juz  satu hari.

NB: per tanggal 2 Desember, 17:40 sudah ada total 257 grup ODOJ=7710 member. Dan terus bertambah!

@didaytea 0512132329

Change!

When you change your thinking
You change your beliefs

When you change your beliefs
You change your expectations

When you change your expectations
You change your attitude

When you change your attitude
You change your behavior

When you change your behavior
You change your performance

When you change your performance
You change your destiny

When you change your destiny
You change your life

(Rhenald Kasali)

SIGMA KEPUASAN: MENJUAL PENGALAMAN, BUKAN MENJUAL BARANG

Seorang Ibu setengah baya, melangkahkan kakinya menuju sebuah klinik di dekat rumahnya dengan niat untuk mengobati sakit kepalanya yang tidak kunjung sembuh dari pagi . Tak berapa lama tibalah dia di depan klinik tersebut. Ternyata di depan pintu gerbang, tepat di sebelah papan nama klinik tersebut terpampang poster yang terlihat sangat mengerikan; “AWAS ANJING GALAK!” Lengkap dengan foto close up seorang anjing K-9.

  Dengan agak ketakutan, si ibu ini membuka pintu gerbang klinik tersebut. Ternyata pintunya susah dibuka, si ibu ini dengan susah payah berhasil membuka pintu itu, walaupun harus menggunakan seluruh badannya untuk mendorong pintu itu. “Krieeettttt…….” Pintu itupun terbuka perlahan-lahan dengan suara yang membuat telinga ibu itu ngilu, serasa disayat silet. Dan sakit kepala ibu itu pun meningkat menjadi stadium tiga, plus sesak napas, hehehe…

  Baru saja pintu itu terbuka setengahnya, dan si ibu masih kelelahan mendorong pintu berat itu, tiba tiba “GUK…GUK..GUK….GUK..GUK…!!!” Jantung si Ibu serasa copot, karena tiba-tiba anjing K-9 itu muncul di hadapannya sambil menyalak-nyalak dengan semangat empat lima.

  Dan sakit kepala si ibu pun naik lagi menjadi stadium tiga…

 Akhirnya tibalah si ibu ini di depan pintu klinik, dan dia pun langsung menuju ke meja resepsionis.

 Ibu ini langsung terkejut ketika melihat kondisi klinik yang kotor, bau apek, dan orang-orang mengantri dengan asal-asalan. Terkesan seperti terminal. Dia lalu menuju meja resepsionis, dan langsung dia pun berbicara kepada resepsionis tersebut: “Permisi mba, saya mau berobat”.

 “Saya juga tahu bu, masa ibu ke sini mau belanja sayur?!” Jawab si resepsionis setengah memekik dan dengan muka yang luar biasa judes.

 “Ya sudah, tulis nama Ibu di situ dan ambil nomor di mesin tiket di ujung ruangan sana!” Lanjutnya.

 “Bbb..baik mba!” Si Ibu menjawab dengan penuh kekecewaan dan penyesalan, kenapa harus datang ke klinik itu. Tapi bagaimana lagi, klinik itu memang yang paling dekat ke rumahnya.

 

Dan kekecewaan Ibu itu pun mulai berubah menjadi penderitaan, ketika di dari mesin tiket tersebut keluar nomer tiket Sembilan puluh delapan! Padahal di ruang tunggu itu paling banyak hanya ada sepuluh pasien.

 Tenang saudara- saudara, ternyata penderitaan si Ibu ini belumlah berakhir, masih terus berlanjut…

 Setelah menunggu sangat lama dan sakit kepalanya makin parah, akhirnya dipanggillah si Ibu untuk menemui sang Dokter.

 “Assalaamu’alaikum Dok!” Sapa si Ibu dengan ramah dan tersenyum , walaupun harus menahan sakit kepalanya.

 “Sudah, ngga usah salam-salaman lah, saya buru-buru nih!” Si Dokter ternyata tidak jauh berbeda dengan para anak buahnya di luar.

 “Ibu sakit apa?” Tanya si Dokter dengan ketus, dan sambil sibuk menulis sesuatu, dan sama sekali tidak melihat ke wajah si Ibu.

 “Anu..Dok, saya sakit kepala dari tadi pagi..sampai sekarang masih terasa” Kata si Ibu.

“Ahh..itu mah sakit biasa Bu, mungkin karena ibu sudah tua saja itu mah!”

Si Ibu pun menghela nafas panjang dan tak henti-hentinya beristighfar serta berdo’a agar diberi kesabaran.

 “Okelah kalau begitu, ibu saya suntik ya!” Kata si dokter sambil beranjak dari tempat duduknya ke lemari obat, untuk mengambil obat suntik.

 “Kok harus disuntik Dok?” Tanya si Ibu.

 “Ehhh..gimana sih, Ibu mau sembuh ngga nih? Kalau ibu mau sembuh ya harus saya suntik sekarang!” Bentak si Dokter.

 Si Ibu pun pasrah dan harus menahan sakit ketika jarum suntik sang Dokter menembus kulitnya.

“Berapa yang harus saya bayar Dok?” Tanya si Ibu.

 “Biaya kunjungan, biaya konsultasi dan biaya obat tadi, semuanya dua ratus ribu!” Jawab si Dokter

“DUA RATUS RIBU…??? Mahal sekali Dok…!” Tanya si Ibu dengan terkaget-kaget mendengar uang yang harus keluarkan.

 “Biaya untuk sehat itu mahal Bu! Kalau ngga mau bayar segitu ya jangan ke sini, dpergi saja ke puskesmas! Silahkan bayar di Kasir!” Perintah sang Dokter.

 Si ibu pun melangkah dengan lemas, letih, lesu dan lunglai keluar dari ruangan dokter tersebut menuju kasir.

 Dengan kurang ikhlas-kalau tidak bisa dibilang menyesal-si Ibu pun mengeluarkan uang dua ratus ribu itu dari dompetnya.

 Apa yang si Ibu dapatkan dari “penderitaannya”? SIGMA KEKECEWAAN.

 Sejak membuka pintu si Ibu sudah kecewa karena sudah “digogog” anjing, ruang tunggu yang sangat tidak nyaman, pelayanan resepsionis yang tidak ramah, mendapatkan nomor yang besar, menunggu sangat lama, Dokter yang judes dan tidak ramah, disuntik sakit, dan puncaknya ketika dia harus membayar sangat mahal untuk pelayanan semacam itu, semuanya mengecewakan.

 Apa yang bakal si Ibu bilang?

 Pasti si Ibu akan bilang seperti ini ke semua orang yang dikenalnya: “Aing mah moal deui-deui berobat ka klinik eta, nista maja utama…! Lainnya cageur, nu aya malah nambah gering…!” (“Saya tidak akan pernah lagi menginjakkan kaki saya di klinik itu, saya kecewa, kecewa, dan kecewa! Bukannya sembuh, yang ada malah sakit saya malah tambah parah…!!!”

 

Bandingkan jika apa yang dialami Ibu itu berlawanan.

 Ketika melihat pintu gerbang klinik, si Ibu sudah disambut dengan poster berwarna cerah bertuliskan “SELAMAT DATANG DI KLINIK KAMI”. Pintu gerbangnya terbuka sebelum si Ibu itu sempat menyentuhnya, karena ada seorang karyawan yang bertugas khusus untuk membukakan pintu.

Dari pintu gerbang ke arah klinik, terhampar pemandangan indah dari taman yang didesain dengan sangat indah dan bersih.

  Di pintu ruang tunggu,yang terlihat sangat bersih, rapi dan wangi, ada lagi yang membukakan pintu.

Dan seorang suster langsung datang menyambut dan menghampiri, “Assalaamu’alaikum Ibu, silahkan masuk, dan langsung saja menuju meja resepsionis untuk mengambil nomor antrian”. Kata si suster sambil tersenyum dan luar biasa ramahnya.

 Dari mesin tiket keluar nomer “1F”..”Wahhhh, aku dapat nomor satu!” Kata si Ibu dalam hati. Padahal sih, si Ibu giliran ke enam.

 Tak berapa lama, si Ibu dipanggil ke ruangan Dokter.

 Ternyata si Dokter sendiri yang menyambut di depan pintu ruangannya.

 

“Assalaamu’alaikum Ibu, silahkan duduk!” Kata si Dokter dengan ramah.

 “Ibu sakit apa?” Tanya sang Dokter.

 “Ini Dok, saya sakit kepala dari tadi pagi. Sampai sekarang masih belum hilang.” Jawab si Ibu.

 “Ohh…mungkin Ibu kelelahan, atau belum sarapan?”

 “Mungkin juga Dok, soalnya kemarin saya sibuk masak untuk Ibu- Ibu pengajian, sampai tidak sempat makan malam”.

 “Ibu, saya ada obat yang cocok, tapi obat ini harus disuntikkan, sepertinya bakalan agak sakit”

 “Ohh..ya sudah Dok, tidak apa- apa!” Pungkas si Ibu.

 “Berapa yang harus saya bayar Dok?” Tanya si Ibu.

 “Ibu, obat yang tadi itu agak mahal, jadi Ibu harus membayar agak banyak, sekitar dua ratus ribu. Silahkan bayar di kasir” Jawab si Dokter.

 “Ohh..tidak apa – apa Dok, segitu mah murah. Karena sekarang pun saya sudah sembuh, berkat obat yang Dokter berikan tadi!” Jawab si Ibu.

 “Tidak bu, Allah Yang Maha Menyembuhkan, bukan saya. Saya hanya menjadi jalan usaha ibu untuk menyembuhkan sakit.” Jawab si Dokter.

 Akhirnya, setelah membayar dua ratus ribu di kasir, Ibu ini pun meninggalkan klinik tersebut dengan tersenyum sangat lebar, dan penuh kelegaan karena sakitnya sudah sembuh.

 Apa yang si Ibu dapatkan di kasus kedua? SIGMA KEPUASAN.

Sejak tiba di gerbang si Ibu sudah puas, ada yang membukakan pintu, taman yang indah, keramahan suster, nomor tiket yang dimodifikasi, ruang tunggu yang bersih, Dokter yang ramah dan Sholeh. Si Ibu ini pun mengeluarkan dua ratus ribu dengan penuh keikhlasan, sangat berbeda dengan kasus yang pertama, walaupun jumlah uang yang dikeluarkan sama.

 Di kasus pertama, Ibu ini membayar obat suntik dan biaya dokter, tapi di kasus ke dua, Ibu ini membayar “pengalaman” dan kepuasan berobat yang memuaskan.

 Bisa dipastikan, si Ibu ini akan berpromosi kepada teman- temannya mengenai bagaimana memuaskannya pelayanan klinik ini.

  MENJUAL PENGALAMAN, BUKAN MENJUAL BARANG/PELAYANAN

  Kesalahan yang sangat sering terjadi pada wirausahawan, pedagang, pemberi pelayanan, atau apapun yang bersifat “menjual”, adalah mereka hanya menjual produk/barang/pelayanan/jasa mereka, bukannya menjual “pengalaman membeli” kepada “pembeli”.

 Orang yang menjual makanan, tapi hanya “menjual makanan”, siap-siap saja akan sepi pembeli yang bosan dan bakal kecewa dengan anda.

 Jika anda berjualan, tapi ruangan tempat anda berjualan kotor, tidak rapih, sempit, pelayannya judes, barang yang anda pesan selalu “pake lama”. Ketika membayar dengan uang yang agak besar, tidak ada kembalian, bisa dijamin pembeli anda akan sedikit, kecuali anda hanya “The Only One in The Town”. Pembeli yang sudah ada pun, bisa dipastikan tidak akan merekomendasikan tempat anda kepada orang- orang yang dia kenal, walaupun sebenarnya produk yang anda jual kualitasny sangat baik.

 Bandingkan jika anda membuat tempat anda senyaman mungkin untuk pembeli( Bersih, wangi, tata ruang proporsional, semua barang tertata rapi, melatih karyawan anda untuk seramah mungkin kepada pembeli, melayani dengan cepat, tepat dan gesit-sehingga pembeli segera mendapatkan apa yang dia pesan-ngga Pake lama-), dan anda tidak pernah kehabisan stok kembalian untuk pembeli, insyaallah, orang yang sudah berkunjung ke tempat anda akan merekomendasikan tempat anda kepada orang lain. Dan bersiap-siaplah untuk kewalahan melayani pembeli yang mengantri ke tempat anda. Walaupun barang yang anda jual, sebenarnya biasa-biasa saja, atau masih banyak toko lain yang menjual produk yang sama.

 

(Disarikan dari pengalaman penulis berjualan di Indonesia, ceramah Aa Gym dan Rhenald Khasali, serta beberapa buku Hermawan Kertajaya).

 

 

Didaytea!

In the best moments of my Life in Doha, 25 June 2010.

 

 

Hari Pertama Bagian Dua

“Tantangan untuk melawan hawa nafsu seperti kejadian tadi, seringkali datang tak terhenti, tiba tak tercegah, dan hadir tanpa disadari oleh hati sanubari”

 

            Awal hari pertama puasa saya sudah diuji dengan kejadian yang sangat menjengkelkan.

Hari pertama puasa tadi bertepatan juga dengan hari pertama kerja saya setelah libur rutin.

Seperti biasa, saya sudah menyetir ke tempat jemputan bis jam setengah lima tepat. Dan seperti biasanya juga, saya selalu tiba jauh sebelum jam empat lima puluh lima, jadwal bus jemputan tiba di tempat menunggu jemputan.

Ketika jam di hape saya menunjukkan jam empat lima puluh dua, terlihatlah bis jemputan itu dari kejauhan. Saya ya bersikap biasa saja, tidak berdiri atau bagaimana. Karena tahu bahwa si supir akan otomatis berhenti di situ.

Ehhhh…

Ternyata saya tidak dilirik sama sekali oleh si supir itu.

Dengan kepala lurus ke depan, tidak pake acara melirik dulu ke kanan, untuk memeriksa apakah ada karyawan yang sedang menunggu atau tidak, dia terus saja membawa bus besar itu melaju kencang.

Tepat di depan hidung saya.

Tapi saya masih sempat sih melihat mukanya. Ternyata bukan supir yang biasanya menjemput saya.

Seharusnya, prosedur yang dia ikuti adalah dia harus berhenti di setiap pos tempat menunggu jemputan, walau pun hanya beberapa saat. Untuk memastikan bahwa tidak ada karyawan yang tertinggal.

Untuk karyawan yang mempunyai mobil sih enak, tinggal membawa mobil ke tempat kerja.

Bayangkan jika karywan yang dia tinggalkan itu belum mempunyai mobil. Taksi pun tidak akan diijinkan masuk sampai ke daerah industri tempat saya bekerja.

Walhasil, dengan sangat terpaksa saya harus menyetir ke tempat kerja.

Penuh perjuangan.

Karena mood saya sudah mood untuk tidur di dalam bis dan merebahkan tubuh lemas saya yang semalam hanya tidur tiga jam, saya harus berjuang sangat keras untuk menahan kedua kelopak mata saya agar tetap terbuka sepanjan delapan puluh kilometer perjalanan.

Kalau sudah niat dari awal sih, sama sekali tidak ada masalah kalau saya harus menyetir sejauh itu.

Kadang- kadang pikiran saya langsung terasa segar dan bersemangat tancap gas sampai mobil pun tidak terasa melaju terlalu kencang, melebihi batas kecepatan seratus dua puluh kilometer yang dibolehkan.

Segar dan semangatnya sih, karena didorong amarah, dan ingin segera cepat sampai untuk mendamprat si supir belekok itu.

Dan benar saja, ternyata saya sampai lebih dulu dibanding bis jemputan itu.

Segera setelah supir itu memparkir bisnya, saya langsung hampiri dan saya marahi habis- habisan.

Walau puntidak sampai keluar kata- kata kasar, tapi saya komplen dengan nada tinggi dan mungkin hampir terdengar berteriak di sampign jendela supir itu.

Dia pun berjanji kalau besok dia akan berhenti di tempat saya menunggu jemputan.

Dengan mata yang masih melotot dan mulut yang masih komat- kamit menggerutu dan mengumpat si supir itu, saya tinggalkan dia menuju gedung ganti (Change Room, ruang tempat loker karyawan).

Astaghfirulloh.

Ketika saya terduduk di depan pintu loker saya untuk mengganti sandal saya dengan safety shoes, saya baru teringat kalau itu adalah hari pertama puasa saya.

Untuk muslim seusia saya, yang sudah belasan atau bahkan puluhan kali menjalani ibadah puasa, seharusnya tantangan untuk menahan sekedar lapar dan haus sih sudah tidak menjadi masalah lagi.

Tantangan untuk melawan hawa nafsu seperti kejadian tadi, seringkali datang tak terhenti, tiba tak tercegah, dan hadir tanpa disadari oleh hati sanubari.

Tantangan yang sesungguhnya.

Doha, 10 Juli 2013 19:21

2 Ramadhan 1434 H  

Tarawih Yang Hening

 

Malam ini adalah pertama kalinya saya bisa sholat tarawih berjamaah di masjid di malam pertama bulan Ramadhan, padahal ini Ramadhan ke enam yang saya jalani di negeri orang. Kebanyakan sih penyebabnya karena jadwal kerja yang pas sekali bertepatan dengan malam pertama Tarawih, atau bertepatan dengan jadwal mudik saya ke Indonesia.

 

Alhamdulillah, delapan rakaat Tarawih dan tiga rakaat sholat witir bisa saya ikuti dengan sempurna.

 

Saya merasakan perbedaan yang sangat signifikan, antara suasana sholat Tarawih, terutama malam pertama di Qatar, dibandingkan dengan di Bandung, atau Cilegon, dua kota tempat saya hidup sebelum hijrah ke sini di tahun 2008.

 

Tarawih di Bandung 

 

Suasana mesjid di Bandung ketika Tarawih malam pertama tidak jauh berbeda dengan pasar malam. Mesjid yang penuh sesak dengan jamaah dari segala kelompok umur dan kelamin. Dari bayi yang masih merah, sampai kakek- kakek dan nenek- nenek yang jalan pun sudah harus memakai iteuk (tongkat), dari ABG- ABG alay yang centil- centil sampai Ibu- ibu jamaah pengajian pun hadir tanpa alpa. Dari anak- anak TPA sampai anak- anak yang sehari- harinya bandel pun anda bisa lihat hadir di mesjid.

 

Di mesjid dekat rumah saya di Bandung, jamaah sholat Isya paling banyak hanya empat atau lima baris.

 

Tapi di awal Ramadhan sampai luber ke halaman luar mesjid, ramainya mengalahkan suasana ketika sholat Jumát. Bahkan setengah jam sebelum adzan Isya, mesjid sudah riuh rendah ribut dan pastinya ribet oleh penuh sesaknya para jamaah tahunan ini.

 

Dan tentu saja jangan lupakan kehadiran pemeriah suasana yang bahkan selalu hadir lebih dulu dibanding jamaah mesjid itu sendiri.

 

Tukang Cuankie.

 

Tukang Batagor.

 

Tukang Cilok.

 

Tukang Bubur sumsum.

 

Tukang Bakso

 

Mereka tanpa dikomando akan berjajar rapi di sepanjang gang di luar pelataran mesjid.

 

Semangat yang sangat luar biasa hebat.

 

Walau pun seiring dengan berlalunya hari- hari di bulan Ramadhan, isi mesjid mulau menyusut, tapi suasana seperti itu tidak pernah saya rasakan dan nikmati lagi, bahkan ketika di Cilegon.

 

Tarawih di Doha

 

Suasana tarawih awal Ramadhan di Doha berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dengan suasana di Bandung.

Tulisan ini saya buat segera setelah saya tiba dari mesjid.

 

Biasanya, sholat Isya berjamaah di sini akan dimulai setengah jam setelah adzan Isya. Cukup lama memang, tidak seperti di Indonesia, yang jarak antara adzan dan iqomah paling lama sepuluh menit, kadang molor sih sampai lima belas menit, untuk menunggu selesainya sholat jamaah tidak tahu diri yang kadang datang terlambat, tapi masih saja memaksakan diri untuk sholat sunah tahiyatul mesjid. Padahal dia seharusnya tahu kalau dia datang terlambat.

Kalau di sini, begitu waktu iqomah tiba, muadzin tak akan terhentikan, walau pun ada jamaah yang masih sholat.

 

Tidak seperti biasanya, kali ini baru seperempat jam, muadzin sudah mengumandangkan iqomah. Mungkin karena terbiasa selama setahun jarak antara adzan Isyadan iqomah selalu dua puluh menit, bahkan kadang setengah jam, banyak jamaah yang terlambat.

 

Ketika imam takbir pun, hanya baris pertama yang terisi, itu pun tidak penuh. Tidak bisa mengalahkan penuhnya mesjid ketika sholat Jumát.

 

Dan ketika salam, mesjid baru terasa ramai karena kali ini ada enam atau tujuh baris yang penuh, dari kapasitas mesjid yang sepuluh atau sebelas baris.

 

Sepi dan sunyi.

Selama delapan rakaat Tarawih dan tiga rakaat sholat witir itu, nyaris hanya suara imam yang terdengar. Hampir tidak ada suara riuh rendah Ibu- ibu yang mengobrol di sela- sela dua rakaat Tarawih.

Walau di mesjid ada tempat khusus untuk wanita, tapi tetap, hanya hening yang ada.

 

Paling ada suara tangis bayi, itu pun tidak terlalu lama.

 

 

Kangen Kampung

 

            Dari sisi kekhusyuan sholat, tentu saja suasana sholat di Doha jauh lebih kondusif dan mendukung, karena jamaah sholat tidak terganggu oleh keributan di dalam dan di luar mesjid.

 

Tapi, dari sisi semangat, jamaah di sini terkesan adem- ayem saja. Tidak terasa kekuatan semangat ketika menghadapi Ramadhan.

 

Tidak terasa semangat luar biasa seperti jamaah sholat Tarawih di Bandung yang saya ceritakan tadi.

 

Di sini Butuh energi dan kekuatan yang lebih untuk bisa mempertahankan semangat sholat Tarawih.

 

Sebenarnya ada sih tempat yang merupakan perpaduan antara semangat di mesjid dekat rumah saya dulu di Bandung, dan kekhusyuan suasana shalat seperti di Doha.

 

Salah satunya di mesjid Daarut Tauhiid Bandung.

 

Ah, jadi kangen weh kangen ka Bandung kalau sudah begini mah!

 

 

Doha, 09012013

1 Ramadhan 1434H

 

http://www.didaytea.com

Diary Ramadhan Day 1

Setiap menjelang Ramadhan seperti ini, bahkan berminggu- minggu sebelumnya, pati selalu ada target yang ingin saya capai.

O iya, ramadhan kali ini adalah ramadhan keenam yang insyaallah akan saya lalui di Doha, Qatar.

Sejujurnya sih, selama lima Ramadhan yang telah saya lalui di Qatar, prestasi amalan saya sangat buruk.

Sholat tarawih tidak pernah full tiga puluh hari di mesjid. Membaca Al Qurán tidak pernah sampai setengahnya. Apalagi Itikaf, selama lima kali Ramadhan itu tidak ada satu hari pun.

Sejuta alasan bisa saya cari dan saya buat sih. Dari jadwal shift saya yang dua belas jam. Atau kondisi di rumah yang hanya berempat, dengan istri dan kedua anak-anak saya. Yang menyebabkan kurangnya waktu luang untuk beribadah ketika ada di rumah. Saya malah lebih sering sibuk bermain- main dengan anak- anak, berkumpul, atau jalan- jalan ke mall dan taman di Doha.

Lima kali Ramadhan seperti berlalu begitu saja, terasa hampir tidak bermakna. Tidak seperti ketika di Indonesia. Terkadang saya menyalahkan suasana di sini yang kurang mendukung.

Padahal keadaan dan sarana pendukung yang saya miliki sekarang jauh lebih lengkap dibanding ketika masih di Indonesia.

Al Qurán ada di tablet saya, sehingga seharusnya saya bisa membacanya sepanjang perjalanan dari rumah ke tempat bekerja yang memakan waktu satu jam setengah.

Sudah ada istri yang selalu sigap menyiapkan sahur dan makanan berbuka saya ketika di rumah. Tidak harus pusing- pusing ketika saya hampir tujuh tahun menjadi anak kost di Cilegon, yang melakukan semuanya serba sendirian.

Saya bekerja di lab, sehingga lebih mudah untuk bisa mengambil waktu luang untuk bisa sholat Dhuha sebentar. Atau bisa meluangkan waktu juga untuk sholat tarawih ketika masuk bekerja shift malam.

Ah, lagi- lagi ini kegagalan saya mengalahkan kemalasan. Kali ini saya harus kuat! Saya harus menang mengalahkan kemalasan!

Di senja ini, untuk keenam kalinya, saya menyambut Ramadhan di Qatar, yang jatuh pada hari yang sama dengan di Indonesia.

Selamat datang wahai Ramadhan.

Ku mengharapkan Ramadhan kali ini penuh makna,

Agar dapat kulalui dengan sempurna

 

Doha, Qatar

090113 18:23

1 Ramadhan 1434H