Catatan Ramadhan 3

 

Ketika Ramadhan bertepatan dengan musim panas, otomatis waktu untuk berpuasa pun bertambah panjang.

 

Adzan subuh rata- rata jam setengah empat, dan waktu berbuka sekitar jam setengah tujuh.

 

Alhamdulillah, sejak menikah dan mempunyai istri yang super, makan sahur tidak lagi menjadi kendala seperti ketika saya masih membujang di Cilegon. Selama tujuh kali bulan puasa di Cilegon, saya jarang sekali bisa bangun untuk makan sahur, hampir selalu bangun bertepatan dengan adzan subuh. Walhasil sahur pun selalu seadanya.

 

Hari ini adalah Jum’at pertama di bulan puasa tahun ini.

 

Biasanya sih, saya baru berangkat dari rumah sepuluh menit menjelang adzan zhuhur. Saya

 

Alhamdulillah, walau pun shift malam, tapi bisa ada waktu luang untuk tarawih full delapan ditambah tiga rakaat.

 

Untuk menyediakan waktu sih sangat mudah, karena pekerjaan di shift malam tidak terlalu banyak dan waktu datangnya saya perkirakan.

 

Yang menjadi tantangan sesungguhnya tentu saja, untuk bisa tarawih sendirian. Kalau berjamaah di mesjid kan ada akumulasi energi dari jamaah lain, yang menular ke dalam diri kita ketika rasa lelah dan keinginan untuk berhenti datang.

 

Tapi komitmen saya sejak awal untuk menjadikan Ramadhan ini lebih baik dari tahun kemarin, dan berkat pertolongan Allah, alhamdulillah, saya bisa memaksa diri saya untuk shalat tarawih.

 

Alhamdulillah.

So far so good.

 

Hari Pertama Bagian Dua

“Tantangan untuk melawan hawa nafsu seperti kejadian tadi, seringkali datang tak terhenti, tiba tak tercegah, dan hadir tanpa disadari oleh hati sanubari”

 

            Awal hari pertama puasa saya sudah diuji dengan kejadian yang sangat menjengkelkan.

Hari pertama puasa tadi bertepatan juga dengan hari pertama kerja saya setelah libur rutin.

Seperti biasa, saya sudah menyetir ke tempat jemputan bis jam setengah lima tepat. Dan seperti biasanya juga, saya selalu tiba jauh sebelum jam empat lima puluh lima, jadwal bus jemputan tiba di tempat menunggu jemputan.

Ketika jam di hape saya menunjukkan jam empat lima puluh dua, terlihatlah bis jemputan itu dari kejauhan. Saya ya bersikap biasa saja, tidak berdiri atau bagaimana. Karena tahu bahwa si supir akan otomatis berhenti di situ.

Ehhhh…

Ternyata saya tidak dilirik sama sekali oleh si supir itu.

Dengan kepala lurus ke depan, tidak pake acara melirik dulu ke kanan, untuk memeriksa apakah ada karyawan yang sedang menunggu atau tidak, dia terus saja membawa bus besar itu melaju kencang.

Tepat di depan hidung saya.

Tapi saya masih sempat sih melihat mukanya. Ternyata bukan supir yang biasanya menjemput saya.

Seharusnya, prosedur yang dia ikuti adalah dia harus berhenti di setiap pos tempat menunggu jemputan, walau pun hanya beberapa saat. Untuk memastikan bahwa tidak ada karyawan yang tertinggal.

Untuk karyawan yang mempunyai mobil sih enak, tinggal membawa mobil ke tempat kerja.

Bayangkan jika karywan yang dia tinggalkan itu belum mempunyai mobil. Taksi pun tidak akan diijinkan masuk sampai ke daerah industri tempat saya bekerja.

Walhasil, dengan sangat terpaksa saya harus menyetir ke tempat kerja.

Penuh perjuangan.

Karena mood saya sudah mood untuk tidur di dalam bis dan merebahkan tubuh lemas saya yang semalam hanya tidur tiga jam, saya harus berjuang sangat keras untuk menahan kedua kelopak mata saya agar tetap terbuka sepanjan delapan puluh kilometer perjalanan.

Kalau sudah niat dari awal sih, sama sekali tidak ada masalah kalau saya harus menyetir sejauh itu.

Kadang- kadang pikiran saya langsung terasa segar dan bersemangat tancap gas sampai mobil pun tidak terasa melaju terlalu kencang, melebihi batas kecepatan seratus dua puluh kilometer yang dibolehkan.

Segar dan semangatnya sih, karena didorong amarah, dan ingin segera cepat sampai untuk mendamprat si supir belekok itu.

Dan benar saja, ternyata saya sampai lebih dulu dibanding bis jemputan itu.

Segera setelah supir itu memparkir bisnya, saya langsung hampiri dan saya marahi habis- habisan.

Walau puntidak sampai keluar kata- kata kasar, tapi saya komplen dengan nada tinggi dan mungkin hampir terdengar berteriak di sampign jendela supir itu.

Dia pun berjanji kalau besok dia akan berhenti di tempat saya menunggu jemputan.

Dengan mata yang masih melotot dan mulut yang masih komat- kamit menggerutu dan mengumpat si supir itu, saya tinggalkan dia menuju gedung ganti (Change Room, ruang tempat loker karyawan).

Astaghfirulloh.

Ketika saya terduduk di depan pintu loker saya untuk mengganti sandal saya dengan safety shoes, saya baru teringat kalau itu adalah hari pertama puasa saya.

Untuk muslim seusia saya, yang sudah belasan atau bahkan puluhan kali menjalani ibadah puasa, seharusnya tantangan untuk menahan sekedar lapar dan haus sih sudah tidak menjadi masalah lagi.

Tantangan untuk melawan hawa nafsu seperti kejadian tadi, seringkali datang tak terhenti, tiba tak tercegah, dan hadir tanpa disadari oleh hati sanubari.

Tantangan yang sesungguhnya.

Doha, 10 Juli 2013 19:21

2 Ramadhan 1434 H  

Jujur Itu Indah

JUJUR ITU INDAH

Surat Yang Rumit

Proses seseorang menjadi karyawan di perusahaan saya lumayan berat. Ada beberapa tahapan yang harus dilalui.

Di akhir bulan September, saya mengikuti tes tertulis  dan wawancara dua hari berturut- turut. Sebulan kemudian , saya harus berangkat lagi ke Jakarta untuk mengikuti tes kesehatan.

Di antara tes kesehatan dan tes tertulis dan wawancara, kegiatan paling melelahkan yang harus saya lakukan adalah ketika membuat SKCK (Surat Keterangan Catatan Kepolisian), yaitu surat keterangan dari kepolisian yang menerangkan bahwa seseorang pernah atau tidak pernah berurusan dengan tindak pidana yang tercatat pada instansi kepolisian.

Saya harus meminta surat rekomendasi dari RW, Kelurahan, Kecamatan. Lalu harus ke Polres, Polsek dan sampai Polda.

Dan ini tidak bisa dilakukan dalam satu hari.

Karena saya tidak bekerja shift, jadi setiap keperluan yang berhubungan dengan pembuatan passport, bahkan sejak pembuatan SKCK tadi saya harus mengorbankan cuti saya.

Momennya juga pas sekali menjelang Lebaran.

Proses terakhir pembuatan SKCK adalah tanda tangan dari Kapolda. Dan saya ingat betul bahwa itu adalah bulan Ramadhan hari terakhir. Sampai- sampai saya harus mengorbankan waktu lebaran saya dengan keluarga di Bandung.

Di setiap tahapan ketika saya harus membuat dokumen- dokumen tersebut, setidaknya jatah cuti tahunan saya yang tinggal beberapa hari saja terpakai.

Dan sampai akhirnya cuti tahunan saya tidak ada yang tersisa, semuanya terpakai untuk pembuatan SKCK tadi, karena prosesnya yang sangat rumit dan menghabiskan waktu, dan juga tidak di satu tempat. Beda kota malah. Saya tinggal di Cilegon. Tapi Kantor Kecamatan, Polres, Polsek dan Polda ada di Serang. Yang paling dramatis ya ketika di Polda itu.

Dari rumah saya harus naik angkot ke tempat bis antar kota. Lalu naik bis sampai ke terminal pakupatan Serang yang sudah sangat jauh. Dan dari terminal ini pun, saya masih harus naik ojek lagi yang ongkosnya sepuluh ribu rupiah. Bayangkan saja jauhnya.

Ongkos ojek dari rumah kontrakan saya ke pangkalan bis yang berjarak sekitar tiga kilo meter saja hanya dua ribu rupiah.

Belum lagi keringat yang tak henti- henti bercucuran di setiap lipatan tubuh saya, yang seketika merubah wangi parfum menjadi bau asem, bahkan sejak duduk di pangkalan bis ke arah Serang.

Belum lagi ketika pembuatan paspor, saya harus bolak- balik Jakarta- Merak untuk mendapatkan surat rekomendasi dari agen perekrutan karyawan.

Cuti Habis         

 

Ada panggilan terakhir untuk mengikuti semacam penataran dari agen yang menjadi perantara perekrutan karyawan oleh perusahaan tempat saya bekerja. Penataran ini kata agen penyalur tenaga kerja itu wajib, karena kalau saya tidak tercatat pernah mengikutinya, kemungkinan besar saya tidak akan bisa berangkat.

Waktu itu saya benar- benar bingung bagaimana caranya agar besoknya bisa berangkat ke Jakarta, padahal cuti saya sudah habis.

Sampai pulang kerja pun kepala saya masih berputar bagaimana caranya agar saya bisa berangkat ke Jakarta besok pagi.

Satu- satunya cara yang mungkin adalah izin tidak masuk karena sakit. Sick Leave. Tapi saya tidak mau berbohong jika harus bilang bahwa saya sakit, padahal saya sama sekali tidak sakit. Saya takut nanti malah benar- benar sakit, dan tidak jadi berangkat ke Jakarta.

Tapi, berhubung pikiran saya sudah mentok dan karena hanya cuti sakit itulah cara agar saya tidak masuk kerja besoknya.

Urusan surat dari dokter, ya saya sudah berniat akan tetap jujur dengan tetap bilang ke dokter kondisi saya yang sebenarnya, hanya memerlukan surat darinya agar bisa cuti sakit, untuk keperluan saya pergi bekerja ke luar negeri.

“Ya sudahlah, Allah kan Maha Mengetahui, kali ini saya kan berbohong demi kebaikan. Saya berniat untuk pergi ke luar negeri agar bisa memperbaiki kehidupan saya dan orang tua saya. Semoga Allah mengampuni dan mengerti.”

 

Walau pun masih menyisakan pergolakan batin, tapi akhirnya tubuh lelah dan pikiran saya yang seharian bekerja dan berpikir keras, akhirnya saya tertidur tanpa sempat berganti baju, mandi, apalagi makan malam.

Allah Memberi Jalan

Saya tidak ingat jam berapa saya terlelap.

Saya ingat betul, waktu itu sekitar jam tiga pagi, ketika saya terbangun dengan perasaan tidak enak di perut, melilit seperti ada yang mengaduk- ngaduk dan diperas- peras.

Sakit luar biasa.

Dengan kelopak mata yang masih terasa sangat berat untuk dibuka, dan tubuh terhuyung- huyung karena masih belum sadar sepenuhnya saya beranjak dari sehelai kasur Palembang di kamar depan ke kamar mandi.

Tangan saya baru saja memegang bingkai pintu, ketika tiba- tiba seluruh isi perut saya tiba- tiba mendesak keluar dengan sangat kuat. Ya, semua yang ada di perut saya keluar dan saya terus muntah- muntah sampai tidak ada yang keluar lagi.

Kalau bahasa Sundanya mah, utah uger. Hehehe.

Saat itu juga saya langsung ganti baju dan bergegas menuju ke pangkalan ojek yang selalu ada dua puluh empat di komplek rumah kontrakan saya, menuju ke klinik terdekat yang buka non stop.

Alhamdulillah, saya bisa langsung bertemu dokter jaga di klinik itu.

Kata dia maag saya kambuh, kemungkinan pemicunya dari stress dan saya semalam lupa makan malam.

Sesaat sebelum saya beranjak keluar, tiba- tiba saya teringat sesuatu.

Surat Izin Sakit!” Teriakku di dalam hati.

Tanpa banyak bertanya si dokter muda yang umurnya paling lebih tua lima tahun saja segera mengambil secarik kertas blanko Surat Izin Sakit dari sudut mejanya. Dan segera membubuhkan tulisan khas dokter yang tidak pernah saya mengerti, dan tanda tangannya.

Surat itu pun akhirnya berpindah ke tangan saya setelah dimasukkan ke dalam amplop putih kecil, setelah saya menandatangani form tanda terima dari asuransi.

Walau pun perut masih terasa agak mual, tapi pikiran saya tiba- tiba menjadi tenang dan riang gembira, karena Allah sudah melindungi saya dari berbohong.

Setibanya di rumah kontrakan, saya langsung menelepon atasan saya, bahwa saya tidak bisa masuk karena sakit, dan utah uger sejak jam dua pagi. Tanpa banyak bertanya lagi dia pun mengiyakan, dan langsung memberikan izin setelah saya bilang bahwa saya baru saja pulang dari klinik.

Selepas sholat subuh berjamaah di mesjid, saya langsung mandi dan memakai baju setelan “melamar kerja”: celana panjang hitam+kemeja lengan panjang+sabuk yang gespernya mengkilat+sepatu vantopel yang baru saja disemir kemarin. Hehehe.

Alhamdulillah, sakit dan mual di perut saya sudah mulai reda. Mungkin karena obat yang tadi langsung saya minum di klinik dan sepotong roti cokat yang tersisa di dalam kulkas mungil saya.

Dan sakit serta mual itu akhirnya hilang sama sekali ketika tiga jam kemudian, saya sudah duduk dengan manis mendengar pengarahan dari agen tenaga kerja itu bersama teman- teman yang juga akan berangkat ke Qatar.

Jujur itu indah!

Diday Tea

12062013

http://www.didaytea.com

Toga Biru

 

Sekolah Mahal

Di Qatar, sampai tulisan ini dibuat, belum ada sekolah khusus untuk orang Indonesia seperti di beberapa negara lain.

Alhamdulillah, akhirnya saya bisa memasukkan si sulung ke salah satu sekolah yang ada, dan termasuk ke dalam sekolah yang termasuk ke dalam daftar yang ditanggung langsung oleh perusahaan.

O iya, perusahaan saya, dan perusahaan Oil & Gas atau Petrokimia lainnya di Qatar biasanya menanggung biaya pendidikan hingga anak ke-empat. Fasilitas ini juga yang menjadi salah satu pertimbangan saya untuk membubuhkan tanda tangan saya di atas surat penawaran dari perusahaan tempat saya bekerja sekarang.

Biaya pendidikan di sini super muahhall.

Biaya pendidikan per bulan sekolah setingkat TK Nol Besar saja bisa mencapai hampir lima juta rupiah! Padahal sekolah itu bukan termasuk sekolah yang elit, masih sekolah yang tingkatnya biasa- biasa saja. Salah satu sekolah elit yang ada di Doha, malah ada yang biaya per bulannya mencapai hampir delapan belas juta rupiah. Ya, anda tidak salah membaca dan saya juga tidak salah mengetik, delapan belas juta rupiah per bulan!

Di Indonesia, TK yang paling elit pun tidak akan memungut biaya sebegitu besar, bahkan bisa membiayai kuliah S2.

Ah, tapi ya sudahlah, ilustrasi biaya tadi hanya untuk pembuka tulisan saya saja.

Hari Pertama Sekolah

Langsung saja ke intinya deh, walau pun pasti untuk pembaca yang berada di Indonesia masih terkaget- kaget begitu mengetahui biaya sekolah di sini yang super mahal luar biasa.

Hari pertama anak saya sekolah adalah hari di mana saya benar- benar merasa menjadi orang tua yang sesungguhnya. Bahkan perasaan campur aduk antara bangga, taku, khawatir, perasaan menjadi tua, dan perasaan lain yang bertumpuk dan bercampur di dalam pikiran dan hati itu sudah muncul sejak hari pendaftaran.

Berlanjut ke persiapan sekolahnya. Dari mulai membeli seragam, peralatan sekolah, sepatu. Kami biarkan dia memilih sendiri model dan warna yang dia inginkan untuk peralatan sekolah. Walau pun ada efek sampingnya juga sih. Adik perempuannya yang baru beranjak dua tahun, ternyata ikut- ikutan seperti kakaknya. Pada akhirnya hanya satu anak yang sekolah, tapi belanjaan jadi dua kali lipat, karena si kecil meniru kakaknya dengan memasukkan benda- benda yang dia inginkan ke dalam kereta belanjaan.

Di hari pertama itu, perasaan kami berdua sudah campur aduk seperti bubur ayam yang sudah diaduk, tadinya rapih dengan topping kerupuk, daging ayam suwir, irisan seledri, kacang kedelai yang sudah digoreng garing, taburan merica, dan sedikit tetelan tulang ayam yang tenggelam di tengah adonan bubur, dilengkapi dengan sambel super pedas berwarna Jingga teronggok di sudut salah satu lekukan kerupuk

Gembira, karena kami akhirnya menaiki salah satu tangga fase kehidupan di dalam kehidupan berumah tangga, mengantar anak ke sekolah.

Sedih, karena sejak hari itu dan dua belas tahun, atau mungkin lebih, di hari selain hari libur kami sudah tidak akan mungkin lagi bisa mendengar canda tawanya di dalam rumah ketika matahari terbit.

Di hari itu pula kami bisa membayangkan perasaan orang tua kami ketika dulu melepas kami di hari pertama sekolah.

Entah apa yang ada dibenaknya, tapi di benak saya dan istri hanya ada satu perasaan: khawatir.

Khawatirnya cuma satu, tapi hal- hal kami khawatirkan banyak sekali.

Khawatir dia tidak akan bisa mengikuti pelajaran di sekolahnya, dan harus mengulang lagi di TK Nol Kecil tahun depan.

Khawatir dia tidak akan mengerti gurunya, yang tidak mungkin bisa berbahasa Indonesia.

Eh, tanpa terasa, serasa baru kemarin kami mengantarkannya ke sekolah.

Serasa baru kemarin kami dengar tangis dan teriakannya yang masih terdengar sampai gerbang sekolah, karena tidak ingin ditinggal. Hanya hari pertama sekolah saja kami boleh mengantarnya sampai ke dalam kelas . Besoknya, kami sudah tidak boleh melangkah lebih jauh dari garis pintu gedung kelasnya.

Pada hari pertama itu, gedung anak kelas Reception riuh rendah oleh tangis anak- anak TK yang tidak ingin ditinggal oleh orang tuanya. Ada yang berteriak- teriak. Ada yang bertahan sekuat tenaga memegang pintu kelasnya agar tidak tertutup. Ada yang menangis meraung- raung tak henti- henti. Gedung itu penuh sesak oleh para orang tua yang khawatir meninggalkan anaknya yang masih menangis.

“Don’t worry Sir, Maam, please leave now. This is normal. We are used to it already. We will take care of your children!” Ujar gurunya dengan memasang wajah yang sangat manis.

Padahal di saat yang sama, kaki kanannya sedang menghalangi pintu yang sedang didorong paksa oleh seorang anak, tangan kirinya memegangi tangan seorang anak laki- laki yang hendak lari keluar, dan mulutnya langsung berteriak kepada guru yang lain:

 “I need somebody here, please!” 

Karena dia melihat seorang anak berhasil berlari dari hadangan para guru dan lolos ke halaman kelas. Ketika dia tidak menemukan orang tuanya di sana, stadium kedua dimulai untuk anak itu.

Kali ini aktifitasnya bertambah. Tidak hanya menangis dan meraung- raung, tapi juga dilengkapi dengan teriakan dan kokosehan (duduk sambil menendang-nendangkan kaki), dan bahkan ada yang sampai berguling- guling.

Tadinya sih kami kira anak kami tidak akan sampai seperti itu.

Eh, ternyata di dalam kelas ada beberapa anak yang juga sudah mencapai stadium dua. Padahal, satu kelas yang hanya berisi dua puluh orang anak, dijaga oleh tiga orang guru.

Ah, pokoknya seru deh hari pertama itu.

Kalau di Indonesia kan jauh berbeda kondisinya.

Bukan hanya anak TK, bahkan seringkali anak sudah berseragam Putih- Merah pun masih ditunggui oleh Ibunya di kelas.

Mungkin hari yang “seru” itu sudah sering dihadapi oleh para guru, tapi bagi kami yang baru pertama kali mengalami chaos dan keseruan seperti itu, sangatlah luar biasa.

Luar biasa karena pertama kalinya.

Dan yang utama, luar biasa menambah lagi kekhawatiran kami terhadap si sulung yang masih menangis dan berteriak- teriak ketika kami tinggalkan di dalam.

Akhirnya kami tenang- tenangkan saja pikiran kami. Dan kami serahkan kepada Allah dan gurunya saja.

Ternyata periode seperti itu hanya berlangsung satu atau dua minggu saja.

Alhamdulillah, si sulung tidak susah dibangunkan. Walau pun dengan mata yang masih tertutup, dia tetap bangun untuk berdoá kala bangun tidur dan beranjak dari tempat tidur mungilnya untuk mandi. Dan ketika air sudah menyiram tubuhnya yang kini tidak super montok lagi, langsung segar bugar seketika. Masalahnya paling hanya tidak mau sarapan, tidak mau sekolah dengan berjuta alasan, atau tidak mau memakai seragam.

Alhamdulillah, setelah periode itu berlalu, kami sendiri yang malah terkaget- kaget dengan perkembangannya.

Ternyata kekhawatiran kami tidak terbukti sama sekali. Dia berhasil beradaptasi dengan hebat di lingkungan yang tadinya sama sekali asing baginya. Dan lagi dia langsung kami masukkan ke TK Nol Besar, bukan TK Nol kecil. Pertimbangannya sih ya itu tadi, perusahaan baru menanggung biaya sekolah anak karyawan di tingkat Nol Besar.

Bayi super montok itu kini sudah mempelajari tiga bahasa asing: Arab, Inggris, dan Prancis. Dan setelah term (Catur Wulan atau semester) pertama, dia sudah mulai cas-cis-cus berbahasa Inggris, dan dia mulai sering protes kalau diajak berbahasa Indonesia di rumah.

English, please!” Mulut mungilnya berucap dan mata belonya semakin besar karena sambil melotot.

Tidak berbeda jauh sih dengan orang tuanya, sama- sama tiga bahasa.

Hanya bahasa yang kami pelajari adalah Indonesia, Inggris dan Sundanese.

Hehehe.

Wisuda TK

Bayi super montok yang menjadi “mainan” sehari- hari kami sejak tiba di sini kini sudah tumbuh tinggi, kemarin berbaris melangkah masuk gedung ke tempat acara wisuda, memakai toga dan seragam kebesaran kain satin berwarna Biru sambil melambai- lambaikan tangannya yang masih montok dan pejal itu ke semua orang. Tentu saja bibirnya tidak lupa dia sejajarkan dengan pipinya yang masih tembem untuk membentuk senyum yang mungkin di masa depan akan membuat lawan jenisnya kelepek- kelepek. Hehehe.

Dia kemarin dengan lincahnya mentas di panggung bersama- puluhan teman- teman sekelasnya,  menari dan menyanyikan lagu “Transportation Song” dan “Graduation Song.”

Dia kemarin sudah berfoto dengan ijazah pertamanya dengan Toga Biru yang membalut tubuh mungilnya.

Padahal bapaknya seumur- umur belum pernah memakai Toga. Hehehe.

Selamat ya Nak! Kamu sudah lulus TK!

Kami sangat bangga kamu berhasil melewati tantangan besar pertama di awal kehidupanmu.

Doha, 11 Juni 2013

http://www.didaytea.com

INGIN VS BUTUH

“Keinginan seringkali mengalahkan kebutuhan, jika kita tidak bisa menahan diri”

 

Lupa Antena

 

Di zaman sekarang, sangat jarang sekali orang rumah yang tidak ada televisi di dalamnya.

 

Ketika masih di Cilegon dulu, saya mengontrak rumah tipe 21.

Saya ingat betul suatu malam ketika saya melakukan perbuatan konyol, dan perbuatan konyol itu juga memancing saya untuk melakukan perbuatan konyol yang lainnya.

Malam itu adalah jadwal semi final Piala Dunia 2006 antara Italia vs Jerman. Tentunya kita sudah tahu bersama bahwa pada akhirnya Italia yang menang dengan dua gol Fabio Grosso dan Alessandro Del Piero di penghujung perpanjangan waktu. Akhirnya pun mereka berhasil menjadi juara dunia dengan susah payah mengalahkan Prancis dengan tos- tosan adu pinalti.

 

Walau pun saya sudah memiliki komputer, tapi saya belum mampu menghadirkan koneksi internet . Untuk up to date  dengan informasi saya harus menyengajakan diri pergi ke warnet atau membeli koran. Sehingga kadang- kadang hati ini merindukan acara- acara televisi. Terutama siaran berita dan siaran langsung sepakbola.

 

Setelah menghabiskan hampir seluruh energi di tubuh saya karena sudah bekerja seharian, saya malam itu meminta supir jemputan untuk menurunkan saya di depan Supermall Cilegon.

Untuk kepentingan menonton tim favorit saya Italia, saya malam itu berniat akan membeli TV Tuner. Karena dengan penghasilan yang pas- pasan untuk menutup biaya kuliah dan juga modal usaha dagang saya, saya belum mampu membeli Televisi. Cara mengakalinya agar murah ya dengan cara membeli TV Tuner untuk komputer saya.

 

Harganya hanya dua ratus lima puluh ribu, jauh lebih murah dibanding harus membeli Televisi 21 inch yang waktu itu masih berharga dua jutaan.

Dengan semangat empat lima, karena sudah membayangkan kemenangan Italia atas Jerman, saya tersenyum- senyum sendiri dipojok angkot berwarna ungu menuju rumah kontrakan saya. Pandangan mata saya tidak pernah lepas dari kantong plastik berwarna hitam yang berisi TV Tuner itu.

“Kiri Pak!” Ucap saya dengan lantang menggunakan password untuk menghentikan angkot.

Saya masih harus berjalan sekitar dua ratus meter dari tempat turun tadi ke rumah kontrakan saya. Dan masih saja, setiap ayunan kaki- kaki lelah yang membawa tubuh lemas saya, selama itu pula mata saya tertuju kepada si kantong plastik hitam.

 

Sesampainya di rumah pun tidak saya pedulikan tubuh saya yang lemah letih lunglai. Saya langsung bongkar CPU karena tidak sabar untuk memasang TV Tuner, agar nanti subuh bisa melihat tim favorit saya Italia beraksi mengalahkan Jerman.

 

Saya buka kotak kertas tempat TV Tuner, dan saya keluarkan buku mungil panduan pemasangannya.

 

Awalnya sih tidak ada yang salah, dan tidak ada yang susah. Karena cara memasang TV Tuner itu sangat mudah, hanya tinggal memasang beberapa baut pada slot yang tepat di motherboard, selesai deh

Tapi…

Ada hal kecil yang saya lupakan, dan saya juga tidak pernah terpikir sebelumnya, tapi ternyata menjadi masalah besar.

Saya lupa membeli antenanya!

 

Ternyata saya tidak tahu kalau ternyata TV Tuner itu hanya membuat layar monitor kita seperti  Televisi. Tetap memerlukan antena TV, UHF dan VHF seperti televisi pada umumnya.

 

Kegembiraan saya yang saya rasakan dari sejak membeli TV Tuner itu pun berubah seratus delapan puluh derajat.

Jika tidak ingat harganya, hampir saja saya lempar TV Tuner itu karena saking kesalnya menyesali kebodohan saya.

 

Waktu sudah jam setengah sepuluh malam, semua toko antena di Cilegon pasti sudah tidak ada yang buka lagi. Kalau pun saya cukup beruntung, saya sudah tidak mempunyai uang lagi untuk membeli antena, yang pasti harganya lumayan mahal.

Hampir setengah jam saya termenung, mareh menyesali kebodohan diri yang bisa melupakan hal sepenting itu.

 

Walau pun pada akhirnya saya bisa menyaksikan pertandinngan semi final itu, tapi tetap saja ada dongkol yang tersisa, ada kesal yang tertinggal di dalam hati.

 

Balas Dendam

 

            Entah setan dari mana, besoknya, sepulang kerja saya langsung bergegas menuju sebuah toko elektronik yang menyediakan fasilitas cicilan.

Dengan pertimbangan yang singkat, tanpa perhitungan yang matang, waktu itu saya memutuskan untuk menyicil sebuah televisi 21 inch dan sebuah DVD sebagai satu paket cicilan.

Saya harus mencicil kurang lebih tiga ratus ribu per bulan, selama satu tahun.

Secara hitung- hitungan kasar sih, memang neraca keuangan saya bergeser ke kiri, alias jadi minus.

Tapi, keinginan saya untuk tidak melewatkan final Piala Dunia yang melibatkan tim favorit saya Italia dengan nyaman dan sendirian di rumah, telah berhasil mengalahkan logika saya yang bertanya bagaimana uang cicilan itu akan bisa saya bayar? Ketika itu bisnis saya masih berjalan, jadi masih ada keuntungan sekitar dua ratus ribu per bulan. Uang keuntungan itulah yang saya rencanakan untuk menambal “lubang” di neraca keuangan saya karena menyicil televisi dan DVD player itu.

 

Tekor

 

            Ternyata, pada kenyataannya, keputusan saya itu malah mebuat kondisi keuangan semakin acak- acakan.

Hampir setiap bulan saya harus berhutang untuk bisa membayar cicilan.

Dua kali debt collector pernah mendatangi rumah saya untuk menagih, karena cicilan yang saya tunggak.

 

Yang konyolnya lagi, pembelian televisi dan DVD Player itu saya niatkan untuk menonton final Piala Dunia. Tapi pada akhirnya saya malah tidak bisa menontonnya karena harus lembur shift malam selama dua minggu.

Dan setelah final Piala Dunia itu pun lewat, kedua benda yang saya cicil itu jarang sekali saya pakai.

 

Paling sering saya tonton hari Sabtu atau minggu, itu pun jika tidak ada jadwal lembur atau jadwal kuliah, dan saya hanya diam saja di rumah, tidak berada di warnet hampir seharian seperti biasanya.

 

Keinginan sesaat yang didukung “alasan yang logis” yang tiba-tiba muncul akhirnya harus kubayar dengan penderitaan finansial selama setahun, bahkan lebih lama lagi.

 

 

Diday Tea

7 Juni 2013

http://www.didaytea.com