Merantau Itu Indah


“Hidup merantau akan sangat menyenangkan jika kita bisa membangun hubungan persaudaraan yang baik dengan tetangga dan komunitas kita”

“Om, kata Papah nanti malem gabung ya, ikutan nonton bareng sama penduduk gang Mangga, sekarang kan final!” Ajak seorang gadis belia  yang sudah beranjak remaja sambil ikut melangkahkan tubuh semampainya disampingku.

“Insyaallah ya, Om masih cape nih, tadi abis lembur langsung lanjut kuliah!” Jawabku sambil melangkah sedikit gontai, karena hari itu sangat melelahkan.

“Ohhh..gitu. Ya udah, Neng bilang deh nanti sama Papah. Om istirahat dulu aja, biar nanti malam bisa gabung. Daahhh…!” Gadis anak tetanggaku itu melambaikan jemari lentiknya sambil berlari membawa tikar dan sebuah termos.

Akhirnya hanya sebentar kutengok acara nonton bareng itu, karena mata ini sudah tidak kuat lagi menahan kantuk. Aku pamit pulang kepada semuanya, bahkan sebelum pertandingan dimulai. Ah, bagiku sudah cukup, asal sudah menampakkan diri saja di depan penduduk gang Mangga, sebutan untuk gang tempat tinggalku di komplek perumahan itu.

Ketika sampai di rumah, ternyata rasa kantuk itu malah hilang lenyap tak berbekas.

Ketika riuh rendahnya teriakan histeris dan sorak sorai tetangga- tetanggaku membahana dan bergema sampai ke pintu kamarku, aku hanya teronggok pasrah dan kelelahan di atas sehelai kasur Palembang tipis berwarna biru seharga dua ratus ribu itu.

Ketika teriakan kecewa pendukung Perancis bergema lagi di pintu kamarku karena Italia berhasil menyamakan kedudukan, aku hanya bisa terkaget- kaget dan memandangi screensaver layar monitor CRT 14 inciku dengan tatapan kosong.

Ketika teriakan mereka menderu semakin kencang, karena ternyata pertandingan harus diselesaikan dengan adu penalti, aku hanya terduduk dan mengintip dari balik jendela kamarku yang malam itu terasa gerah luar biasa. Kulihat belasan keluarga berkumpul dan berteriak- teriak histeris karena tegangnya adu pinalti yang akhirnya dimenangi negeri para Gladiator.

Aku tak bisa keluar rumah dan bergabung dengan mereka, karena besok aku sudah harus bekerja lagi. Aku harus memanggil rasa kantukku lagi agar bisa tidur secepatnya.

Ketika sedang melamun dan setengah tidur, tiba tiba ada yang membunyikan pagar depan rumahku. Ternyata si Neng itu lagi.

“Om, ini buat Om!” Katanya sambil menyodorkan baki berisi gorengan, dadar gulung dan segelas teh  manis yang masih mengepulkan asap.

“Waahh…Makasih banyak ya!” Aku ambil saja cemilan dan gelas teh manis itu. Kukembalikan baki itu.

“Italia yang menang Om, adu pinalti loh!” Kata si Neng dengan semangat. Padahal dia juga harus sekolah, tapi aku heran,kuat juga dia begadang sampai hampir subuh.

“Oya, waah..berarti tim jagoan Om menang dong?” Jawabku dengan antusias.

“Iya tuh Om, Italia memang hebat, ada Del Pieeero sih!” Si Neng menjawab lagi dengan suaranya yang sedikit melengking.

“Ya udah deh, met istirahat ya Om, Neng mau bantuin Mamah sama Papah beres-beres dulu!” Pamitnya.

“Iya nih, Om juga harus tidur cepet- cepet nih, besok harus kerja lagi!” Jawabku sambil berlalu ke dalam rumah.

Hampir semua penduduk di kompleks perumahan itu adalah pendatang.

Suasana di sana sudah tidak seperti perumahan yang identik dengan egoisme penduduknya yang tidak mau kenal dengan tetangga sebelah.

Kebanyakan mereka memulai hidup dan beranak pinak di sana sejak tahun delapan puluhan, jadi walau pun strukturnya sama seperti kompleks perumahan lainnya tapi persaudaraan di antara tetangga sudah sangat erat, sudah hampir sama seperti di daerah asal masing- masing saja.

Di gang itu, hanya aku yang bujangan. Karena aku mengontrak rumah sendiri dan tidak ngekos seperti teman- teman kerjaku yang masih belum menikah.

Tapi aku tidak merasa sendirian, aku seperti memiliki keluarga yang sangat besar.

Si Neng depan rumah dan keluarganya sudah seperti keluargaku sendiri. Pak RT sebelah rumah juga sudah seperti ayah sendiri yang selalu membimbing dan mengayomi warga yang lain. Penjual Nasi goreng dan pemilik warung di ujung jalan pun sudah sangat akrab, sudah seperti koki pribadi saja yang bisa dipesan makanan kapan pun aku lapar, bisa diutangin pulsa kapan pun aku mau.

Hampir semua bapak- bapak di gang itu kenal denganku.

Setiap Minggu, selalu ada acara pengajian rutin dari gang ke gang, dari blok ke blok di seluruh komplek perumahan itu.

Ah, selain panas dan gerahnya kota Cilegon, selebihnya hampir tidak ada yang berbeda dengan Bandung, kota kelahiranku. Bedanya hanya aku jauh dari Bapak, Ibu dan Adik- adikku. Itu pun hampir setiap minggu aku bisa bertemu mereka.

Orang Sunda cenderung lebih senang tinggal di “kandang”. Ketika akan pergi ke Cilegon pun, orang tuaku pada awalnya kurang setuju.

Bahkan ada sindiran satir kalau hampir semua orang Bandung punya keinginan yang sama, lahir di Bandung, sekolah di Bandung, kerja di Bandung, menikah dengan orang Bandung, punya rumah di Bandung, beranakpinak di Bandung, dan kelak jika sudah meninggal pun ingin dikubur di Bandung.

Sempat ada keraguan yang terbit di hati, dan ketakutan yang timbul di diri, karena aku akan berangkat merantu, bekerja ke tempat yang sama sekali belum pernah kukunjungi sebelumnya.

Alhamdulillah, ternyata merantau itu indah. Allah memberiku jodoh di perantauanku yang pertama.

Alhamdulillah lagi, setelah hampir tujuh tahun di Cilegon, empat tahun lalu Allah mentakdirkan aku merantau lebih jauh lagi, kali ini sampai ke Timur Tengah. Merantau kuadrat, karena kali ini sangat jauh, ribuan kilometer dari Bandung. Dan Allah pun melimpahkan lebih banyak lagi rejeki dan banyak hal yang tidak pernah kumimpikan sebelumnya.

Hidup merantau, jauh dari kampung halaman, berpindah dari tempat kelahiran itu tidak seburuk dan sesulit dari yang kupikirkan sebelumnya.

Merantau itu bagus untuk melakukan akselerasi di kehidupan kita.

Merantau itu sangat bagus untuk mempersiapkan masa tua kita yang lebih baik.

Merantau itu menggoreskan lebih banyak warna untuk cerita kehidupan kita.

Merantau akan selalu menyenangkan jika kita bisa memiliki dan membangun hubungan persaudaraan yang baik dengan tetangga dan komunitas di mana kita berada.

Merantau pasti akan membuat hidup kita lebih hidup.

Mari kita merantau!

 

www.didaytea.com

Customer (Segan) Complain

Customer (Segan) Complain

“Salah satu cara menjadi penjual yang baik, adalah dengan menjadi pembeli yang baik”

 

Sejak beberapa bulan lalu, ujung jari telunjukku semakin rajin saja mengklik mouse di atas tombol “add to basket”. Ya, aku semakin rajin belanja online. Hampir tiap bulan, ada saja yang aku beli dari situs belanja online seperti Amazon dan Ebay. Dari casing ipad, gadget, mainan anakku, buku yang murahnya minta ampun, yang diskonnya lebih besar dari Pasar Buku Palasari, sampai terakhir, sebuah kamera dslr professional.

Ternyata ada masalah untuk pembelian terakhir.

Untuk kamera, walau pun aku beli itu bekas, tapi tidak pernah kuduga bahwa ternyata kamera itu tidak dilengkapi dengan kardus dan  charger orisinil. Bahkan kamera itu tiba di tanganku tidak dengan mas Selamet eh, tidak dengan strap, atau gantungan yang kupikir sih seharusnya ada.

Kubuatlah surat customer complain ke website tempatku membeli kamera tersebut.

Aku komplen berat karena mereka hanya menyebutkan bahwa kamera itu kamera bekas. Mereka tidak menyebutkan bahwa kamera itu sudah tidak bersama- sama lagi dengan kardus dan strap, serta charger orisinilnya lagi.

Ah, pokoknya aku marah- marah deh di email itu.

Eh, tidak sampai satu hari, sudah ada balasan dari departemenet customer complain website tersebut.

Awalnya dia meminta maaf habis- habisan karena aku tidak menerima barang sesuai yang kuharapkan ketika memesan. Pada akhirnya sih mereka menerangkan bahwa mereka punya pengkategorian untuk divisi barang bekas. Dan itu sudah tercantum di definisi barang yang terpampang di website mereka. Dan para kostumer bisa menanyakan langsung kepada customer service jika ada yang ingin ditanyakan mengenai barang yang ditampilkan.

Aku masih tidak terima dan masih komplain, kenapa mereka tidak langsung saja memberi keterangan lengkap bahwa kamera itu sudah tidak ada dusnya dan tanpa strap dan charger original.

Mereka akhirnya mengakui bahwa itu adalah sebuah kesalahan, dan mereka menawarkan refund untuk ongkos kirim yang telah aku keluarkan.

Tadinya sih aku masih ingin komplain habis- habisan terus dan kalau bisa kukirim kembali kamera itu dan aku tukar dengan yang lebih lengkap.

Tapi setelah kupikir- pikir, ongkos kirim dari sini ke Amerika pasti mahal. Dan aku sedang membutuhkan kamera itu sekarang. Bisa- bisa bulan depan, atau bahkan lebih lama aku bisa mendapatkan gantinya.

Akhirnya aku berusaha nerimo.

Aku tolak keinginan mereka untuk refund biaya pengiriman dan mengatakan kepada mereka kalau aku akan terima kondisi kamera ini apa adanya. Dan pula setelah ongkos kirim pun, harga kamera itu masih jauh lebih murah dibanding di Qatar. Harga termurah untuk kamera professional sekelas kameraku itu pun masih lebih mahal beberapa juta dibanding harga di website itu, dan sudah termasuk ongkos kirim.

Aku berpikir bahwa aku masih bisa membeli strap untuk kamera itu di sini.

Tapi bersamaan dengan itu aku juga memberi usul agar mereka memberi keterangan yang lebih lengkap di website mereka, terutama untuk barang- barang bekas. Dan tetap berterimakasih bahwa kamera itu tiba jauh lebih cepat dari yang mereka janjikan.

Balasan yang aku dapat sungguh di luar dugaan, mereka ternyata kembali meminta maaf, dan tetap akan meredun uang pengiriman sebagai tanda maaf mereka atas pelayanan yang sangat buruk terhadap konsumen. Dan juga tanda terima kasih mereka atas usul yang sangat baik. Dan mereka juga sangat berterimakasih karena aku telah mencantumkan feedback positif yang mereka terima dariku sesudah pembelian itu.

Mereka mengatakan bahwa itu sangat berarti untuk kelangsungan bisnis mereka.

Selang beberapa hari, uang biaya pengiriman kamera itu pun sudah tiba dengan selamat di kartu kreditku.

Pembeli memang adalah raja.

Tapi pembeli yang baik adalah raja yang tidak hanya bisa komplain terhadap penjual.

Tapi pembeli yang bisa komplain dengan santun dan menempatkan diri sejajar dengan penjual atas nama simbiosis mutualisme.

Pembeli yang bisa membantu penjual untuk melayani pelayanannya kepada kita atau pelanggan lain dengan kritik dan komplain yang membangun.

Untuk para pebisnis, salah satu cara untuk menjadi penjual yang baik adalah terlebih dahulu menjadikan diri kita seorang pembeli yang baik.

 

 

 

Chillax Luar Dalam

Chillax Luar Dalam

“Sebagai seorang muslim, aku merasa sangat beruntung karena memiliki setidaknya lima kali waktu dalam sehari untuk mendinginkan kepala dan menenangkan hati”

Sejujurnya, sih , selalu ada saja saat dan periode di mana aku terikat oleh belenggu kemalasan untuk sholat berjamaah di masjid.

Beberapa tahun ini, hampir tidak pernah ada satu hari pun yang aku bisa lewati sempurna tanpa ada “bolong” sholat berjamaah di mesjid. Selalu ada saja waktu sholat berjamaah yang lolos, sehingga terpaksa aku hanya sholat sendiri di rumah, atau setidaknya berjamaah dengan istriku. Ada saja halangan yang jadi alasanku untuk bisa pergi ke mesjid. Dari kesibukan waktu kerjaku yang shift lah, lagi di mall lah, jalan- jalan, bahkan kalau di rumah alasannya lebih dramatis lagi: menyalahkan panasnya summer dan dinginnya winter di sini. Dan banyak lagi kambing- kambing hitam yang tidak bersalah tapi sering kutunjuk dan kusalahkan.

Padahal sih, alasan yang sesungguhnya cuma satu: MALAS.

Beberapa hari lalu kutemukan kata- kata baru di Twitter ketika ingin mereset passwordku yang hilang.

“Please chillax, and try to log in after one hour. Because your ability to reset password is disabled”. Itu kalimat yang terpampang di halaman utamanya.

Chillax? Kata yang aneh.

Sangat mirip dengan nama makanan dari Bandung yang sangat legendaris: Ciloks. Kalau ini singkatannya Aci dicoloks.

Tapi beberapa saat kemudian langsung kusadari bahwa itu adalah gabungan dua kata Chill dan Relax, dingin dan relaks. Sedikit susah untuk menemukan terjemahan yang tepat untuk gabungan dua kata ini.

Langsung saja itu menyadarkanku bahwa dalam hidup kita, selalu diperlukan Chill and Relax.

Chillax.

Tubuh kita perlu istirahat, begitu pun pikiran kita.

Kita harus punya waktu untuk sejenak melakukan relaksasi dan memberikan sedikit waktu untuk tubuh, hati, pikiran, otak, dan jiwa kita dalam kondisi tenang dan “dingin”.

Ada yang chillax menggunakan musik. Dari musik klasik, gamelan, kacapi suling, Kitaro sampai ada juga yang nekad memutar lagu dance dan ngebeat atas nama relaksasi pikiran.

Ada juga yang selalu mengadakan acara keluarga di taman.

Ada juga yang memberlakukan hari tanpa gadget di rumahnya.

Ah, pokoknya mungkin ribuan cara manusia yang manusia lakukan dan cari untuk bisa Chill and Relax.

Sejujurnya lagi sih, kadang, ahem, bahkan sering aku sering berusaha menenangkan diriku dan sedikit menjauh dari penatnya urusan kerja  dengan mendengarkan music. Tidak sampai harus mendengarkan musik- musik yang tidak jelas. Paling banter sekarang sih penyanyi Swedia yang sedang naik daun, akang Maher Zain.

Ah, Maha Suci Allah yang Maha Memberi Hidayah.

Tadi baru saja aku pulang dari sholat Ashar berjamaah di mesjid. Setelah salam tadi, entah kenapa aku tiba- tiba teringat kata- kata tadi, Chillax.

Ternyata perasaan Chillax  terbaik dan paling sempurna bukan setelah merdunya suara Maher Zain, atau lembutnya tiupan kacapi suling, atau megahnya musik sang Maestro New Age: Kitaro, tapi perasaan tenang, penuh kedamaian dan “dingin” yang kita rasakan beberapa saat setelah kita ucapkan salam yang kedua di dalam sholat.

Kondisi ketika kita barang satu atau dua menit beristigfar, bersyukur, bertasbih, dan bersholawat dan dilanjutkan dengan berdo’a itu adalah kondisi chillax yang sesungguhnya, ketika kita tidak mempunyai batas lagi dengan Yang Maha Mencipta.

Ketika sedang sibuk bekerja saja, dan kita break untuk mendirikan sholat, Sensasi chillax akan sangat terasa bahkan sejak sholat itu dimulai. Dinginnya air wudhu, dan beberapa menit waktu yang  kita berikan kepada tubuh dan pikiran kita untuk sejenak beristirahat dan menjauh dari penatnya pekerjaan. Belum sensasi ruhiyahnya, ketika dosa kita akan berguguran dengan air wudhu yang membasuh tubuh kita, dan dihapusnya dosa- dosa kecil di antara dua waktu sholat.

Sensasi dinginnya pikiran dan relaksnya hati akan jauh berlipat ketika kita sholat berjamaah di mesjid.

Paling mantap sih ketika sholat subuh. Bayangkan saja, jika kita bangun lima belas menit saja sebelum sholat subuh, bisa dijamin kita akan bisa mendapatkankan kemuliaan sholat malam, walau pun itu hanya sebatas dua rakaat qiyamul lail dan satu rakaat witir. Lalu sebelum berangkat, seharusnya sih kita bisa mendapatkan kemuliaan yang jauh lebih baik dari dunia dan seisinya dari dua rakaat sholat sunah sebelum subuh.

Ketika tiba di mesjid pun, kita masih mempunyai kesempatan untuk mendapatkan keutamaan sholat tahiyyatul mesjid.

Dan ditutup dengan kemuliaan sholat berjamaah di waktu yang paling utama, sholat subuh berjamaah.

Ah, sungguh bodoh sekali diriku ini yang masih bisa terkalahkan oleh kemalasan, dan melepaskan kesempatan luar biasa itu.

Perjuangan melawan kemalasan akan selalu terjadi di setiap langkah kehidupan kita.

Seharusnya aku merasa sungguh sangat beruntung karena diberi minimal lima kali waktu untuk Chill and Relax luar dalam. Kesempatan untuk menenangkan hati, tubuh, pikiran dan jiwa sejenak dari penatnya kehidupan dan mendekat kepada Yang Maha Pencipta, tujuan akhir kita yang sesungguhnya.

Mari ber-Chillax dengan Sholat  berjamaah di mesjid!

 

 

Bangkrut Pangkat Tiga Kuadrat


“Sukses dalam penjualan tidak akan berarti apa- apa jika ternyata kita memiliki pengelolaan keuangan yang buruk”

SD

Sejak aku masih mengenakan kebesaran seragam Putih-Merahnya Sekolah Dasar, aku sudah memiliki pengalaman berjualan dan berbisnis.

Pengalaman pertamaku adalah membuka membuka usaha taman bacaan. Ketika masih kecil aku sering dirawat. Setiap yang menengok, tidak ada permintaan yang kuucapkan kepada mereka yang berupa makanan. Aku tidak pernah meminta jeruk, apel Amerika, martabak, biskuit, atau makanan apa pun. Aku hanya meminta majalah Siswa, Donal Bebek, atau Bobo.

Karena saking seringnya aku dirawat, tanpa terasa akhirnya majalah- majalah itu pun menumpuk di kamarku. Tiba- tiba saja terpikir untuk membuka taman bacaan kecil- kecilan.

Mulailah aku membuka lapak di teras depan rumah, dengan membuat tulisan “Taman Bacaan, 100 Rupiah/hari” di depan pagar rumahku. Kugelar lapak Taman Bacaanku itu setiap pulang sekolah sampai menjelang Magrib.

Ah, sebenarnya sih sama sekali tidak mirip taman bacaan, hanya puluhan koleksi majalahku yang kutumpuk beberapa baris di teras rumah.

Eh, ternyata usaha Taman Bacaanku ini lumayan sukses! Tiap hari ada saja yang menyewa.

Tapi sayang, uang yang kudapat bukannya kutabung, malah aku belikan gambar apung (maaf, tak dapat kutemukan terjemahannya ke dalam Bahasa Indonesia), dan kelereng yang kuadu bersama- teman-temanku. Karena sering kalah bermain adu gambar, dan skillku dalam ngadu kaleci (ngadu kelereng) di bawah teman- temanku. Jadinya ya gitu deh, aku lebih sering membeli gambar apung dan kelereng.

SMP

Ternyata setelah aku sudah berseragam Putih-Biru pun bakat dan insting berjualanku ternyata masih tajam saja. Aku kali ini berjualan bordiran dan kartu nama lusinan untuk teman- teman di sekolahku. Untungnya luar biasa besar. Di sekolah, harga Nama Bordir, lokasi untuk di seragam bisa dua ribu lima ratus rupiah. Sedangkan aku bisa menjual ke mereka paling mahal seribu lima ratus, itu pun jika mereka meminta desain macam- macam seperti warna border yang berbeda- beda, atau ingin dibentuk seperti plat nomer mobil/motor.

Kalau hanya bentuk standar dengan latar belakang putih dan tulisan hitam atau sebaliknya sih, aku bisa kasih mereka harga seribu dua ratus saja.

Dan dari harga itu pun, aku masih punya untung paling sedikit lima ratus, karena kadang jika pesenan yang datang banyak, si tukang bordir akan memberiku diskon tambahan.

Bayangkan saja dengan jumlah siswa di SMP ku itu, ada sebelas kelas per angkatan. Dan ada minimal empat puluh lima orang murid di satu kelas. Tiap hari ada saja teman- teman yang datang memesan.

Benar- benar simbiosis mutualisme yang sempurna antara aku, teman-temanku dan tukang bordir.

Selain bisnis bordiran, aku juga menjadi makelar bisnis kartu nama. Ya, aku hanya membawa brosur, menawarkan ke teman- teman yang ingin membuat kartu nama. Harganya dua ribu lima ratus per lusin. Aku mendapat diskon juga lima ratus rupiah per set kartu yang dipesan.

Pesanan kartu nama ini tidak terlalu banyak, tapi sangat lumayan. Minimal tiap minggu ada dua atau tiga orang yang datang memesan kartu nama dengan desain yang lucu- lucu dan unik itu.

Tapi sayang lagi, uang hasil usaha ku itu selama tiga –tahun tidak menjadi sesuatu yang besar, hanya sebatas barang- barang yang kubeli karena orang tuaku tidak bisa membelikannya. Sepatu Eagle yang sedikit mahal, dan Celana Merek Cardinal yang ketika itu rasanya sueper kwureen.

Dan satu lagi, aku hampir setiap hari bermain ding-dong (video gamne koin) yang harus membayar dengan koin seratus rupiah.

Jadi kadang, eh, malah sering sekali uang hasil usahaku itu akhirnya bukan berakhir di celangan, tapi malah berakhir di dalam mesin ding- dong Street Fighter atau Strikers 1945.

SMK

Kisah berjualan/wirausahaku di Masaku berseragam Putih-Abu-abu  ternyata tidak semeriah dan seramai kisah berjualan yang terus berlanjut sejak masa Putih- Merah dan Putih-Biru.

Di periode ini aku kurang intens berjualan, karena sekolahku yang sangat sibuk.

Mungkin hanya di sekolahku itu murid bisa pulang jam 5 dari sekolah. Karena katanya sih, itu SMK yang lumayan berkualitas dan lulusannya sangat didambakan oleh dunia kerja, hehehe..

Ternyata tidak sepenuhnya berhenti. Instingku untuk berbisnis masih saja kuat. Ada divisi wira usaha di sekolah yang baru saja dibentuk. Mereka membuat tender untuk pembuatan papan nama sekolah dan Mading (Majalah-Dinding) sekolah.

Ah, pokoknya mah entah kenapa aku jadi siswa yang terpilih untuk membuat papan nama dan Mading itu.

Tender ini sangat menguntungkan. Karena pihak sekolah selalu memberi uang lebih dari setiap nota pembelian bahan baku yang aku ajukan ke bendahara sekolah. Paling sedikit aku bisa mendapat lima ribu rupiah per satu papan nama kelas yang kubuat. Ada puluhan kelas dan enam laboratorium. Belum ditambah uang konsumsi yang kudapat jika aku bekerja setelah jam sekolah. Lumayan bisa untuk membeli satu porsi nasi rames plus sayur dan segelas teh manis hangat di warteg depan sekolahku.

Bisnisku yang ke dua sih, tidak sepenuhnya bisnis. Karena ini berkaitan dengan posisiku yang diangkat sebagai sekretaris panitia untuk acara perpisahan atau semacam pentas seni. Maaf, aku lupa acara tepatnya yang mana.

Aku ditugasi untuk membuat proposal acara tersebut dengan sangat detail.

Tapi, karena ternyata sang Ibu Kepala Sekolah ketika itu baru menjabat, jadi beliau aaga “cerewet”. Hampir sepuluh kali proposal yang kubuat itu ditolak oleh beliau. Dari kesalahan ketik sampai kesalahan konteks dan kesalahan budget.

Hal itu malah menjadi berkah tersembunyi buatku. Karena masih jarang yang punya komputer, jadi tiap membuat proposal, aku harus pergi ke warnet dan mengajukan anggaran khusus. Aku tentu saja tidak mau rugi. Kuminta lah, ongkos angkot dari Kiaracondong ke Inhoftank, ditambah konsumsi.

Lumayan, selama hampir sebulan, minimal aku tiga kali seminggu berangkat ke warnet. Dan pulangnya langsung deh makan Batagor Kuah gratis di dekat stasiun Kiaracondong dan pulang naik angkot gratis.

Dua usaha itu tidak begitu menguntungkan secara finansial, karena tidak ada yang bisa kukumpulkan dalam bentuk tabungan. Hanya skill komputerku saja yang meningkat pesat, secara, bulak- kalik ke warnet hampir tiap hari. Dan sedikit kecanduan Batagor Kuah..hehehe..

Cilegon: Bagian 1

Tahun pertamaku kerja di Cilegon, aku masih menikmati masa- masa “menghasilkan uang sendiri”. Iya lah, ketika sekolah, paling banyak aku memegang uang dua ribu sehari. Gaji pertamaku ketika itu tuuh ratus delapan puluh lima ribu. Gimana mau mikir bisnis atau berjualan ketika masih bingung uang sebanyak itu mau dipakai apa?

Walau pun lama vakum berjualan, tapi bakat dan instingku ternyata masih tetap tajam.

Tahun kedua aku mulai kuliah lagi. Dan mulai kurasakan pertama kalinya yang namanya kesulitan keuangan. Aku membiayai sendiri kuliah ku yang lumayan mahal itu.

Jadi, mau tidak mau aku harus mencari uang tambahan di luar gaji.

Kali ini aku berjualan ditambah oleh satu bakat lagi: “Bakat Ku Butuh” (Istilah dalam bahasa Sunda yang artinya, karena sangat butuh, atau kepepet, hehehe).

Kuputuskan untuk mulai lagi berjualan.

Kali ini komoditas pertamaku adalah Buku dan VCD ceramah- ceramah Aa Gym. Ketika itu Aa Gym dan Manajemen Qolbunya sedang booming di Banten, bahkan seluruh Indonesia. Dan di daerah Cilegon-Banten belum ada yang berjualan produk- produk Manajemen Qolbu.

Aku langsung membeli ke agen Manajemen Qolbu di Mesjid Daarut Tauhiid Bandung, dengan diskon bervariasi, antara sepuluh sampai dua puluh persen.

Bulan- bulan pertama berjalan sangat berat karena aku sudah mulai kuliah. Dan aku bukan mengambil kuliah di kelas karyawan, tapi sebagai mahasiswa regular. Ditambah dengan jadwal kerja shiftku yang delapan jam, membuat waktuku sebagian besar habis di luar rumah. Kerja, kuliah, dagang.

Bahkan pernah aku menggelar lapak di depan Mesjid Agung Cilegon, walaupun hanya beberapa saat, karena ketika itu aku sudah tidak mempunyai uang sama sekali.

Konsumenku tadinya masih sebatas tetangga dan teman-teman satu pekerjaan. Aku masih harus turun sendiri menjajakan daganganku. Mereka boleh membayar setelah gajian, dan bahkan ada yang aku beri kemudahan untuk mencicil, tanpa tambahan harga sepeser pun.

Cilegon: Bagian 2

Sampai akhirnya bala bantuan datang.

Akhirnya ada empat orang teman- temanku yang membantu berjualan. Ada guru TPA tetangga, dan sisanya teman- teman mengajiku di Remaja Islam Mesjid. Aku beri mereka sistem konsinyasi (hanya membayar harga setelah diskon untuk barang yang laku).

Alhamdulillah, berkat ijin Allah dan bantuan dari teman- temanku itu usahaku mulai berkembang.

Aku bisa melebarkan sayap ke produk lain.

Kali ini aku bisa menambah jenis produk yang aku jual. Aku mulai menjalin kerjasama dengan agen- agen produk Islami di Tanggerang dan Bandung.

Tahun ke dua berjalan sangat mulus seperti mulusnya jalan dari Doha ke Al Khor.

Bahkan di tahun ini, ada tujuh orang temanku yang membantu menanam modal.

Perputaran uang yang kutangani ketika itu hampir empat belas juta.

Puncaknya adalah ketika aku bisa mengikuti sebuah pameran di Banten: Banten Islamic Fair. Di pameran ini, aku mencatat rekor penjualan tertinggi dalam satu minggu. Total pendapatanku kala itu setidaknya delapan juta setengah.

Biaya sewa stand yang cukup mahal, lima ratus ribu rupiah untuk tujuh hari saja, dan tujuh hari aku cuti ternyata setimpal dengan apa yang aku dapatkan.

Aku mendapat rejeki nomplok dan investor pun tersenyum lebar.

Lagi- lagi usaha ini pun akhirnya gagal. Tadi nya sih aku ingin bilang usahaku ini hancur lebur, tapi sedikit tidak tega… hehehe..

Ya, usaha ini ambruk dalam sekejap, hanya beberapa minggu setelah mencatat keuntungan tertinggi.

Sebenarnya faktor yang menyebabkan ambruknya usahaku ini tidak hanya satu.

Tapi penyebab utamanya lagi- lagi lagi karena pengelolaan uang yang kurang baik.

Dengan kondisiku yang harus membayar kuliah yang lumayan mahal, seringkali uang yang terkumpul dari bisnisku itu terpakai. Dan uang modal yang harusnya selalu ada yang stand by untuk membeli barang pesanan pun terpakai.

Kondisi bisnisku semakin limbung ketika salah satu investor mendadak ingin menarik investasinya di kala kondisi bisnis sedang bagus- bagusnya. Dia beralasan karena dia akan menikah dan butuh dana invesasinya untuk menambah biaya pernikahannya.

Aku dan para rekan- rekanku sedang menerima pesanan yang lumayan banyak ketika itu. Karena kekurangan dana untuk membeli barang, dengan sangat terpaksa kami tolak.

Ditambah lagi faktor, teman- temanku yang membantu bisnisku mundur teratur dengan alasan menjelang UAS di kampus dan sekolahnya.

Beberapa minggu kemudian para investor lain juga melakukan hal yang sama.

Mereka juga menarik modalnya.

Mereka beralasan bahwa, kenapa si A bisa melanggar perjanjian yang menyatakan bahwa dana investasi tidak bisa ditarik sebelum dua tahun.

Karena aku sudah tidak mempunyai dana, yang ada hanya stok barang, aku pun kelimpungan mencari dana untuk mengembalikan dana para investor yang kini sudah berkembang lumayan besar.

Kala itu aku harus mengembalikan setidaknya tujuh juta rupiah.

Akhirnya ada jalan yang kutemukan, walaupun tadinya ingin kuhindari.

Aku pun berhutang ke bank.

Dan, pada akhirnya runtuhlah bisnis yang sudah dua tahun kurintis bersama teman- teman itu, ketika sudah tidak ada lagi dana untuk membeli pesanan para pembeli dan barang yang ada pun menumpuk di kamarku.

Kali ini aku sah mengalami kebangkrutan dalam berbisnis.

Cilegon: Bagian 3

            Selama beberapa minggu, aku sempat kaget dan syok, karena masih belum percaya, bisnisku bisa bangkrut dan membuatku berhutang jutaan rupiah bangkrut dalam hitungan minggu, tepat setelah mencetak rekor pendapatan tertinggi.

Setelah kurenungkan, kuresapi, kupertimbangkan, kutimang- timang, kutafakuri, kupikirkan, ah pokoknya segala hal yang terdefinisikan sebagai evaluasi pemikiranku atas pengalaman bangkrut itu, akhirnya aku mendapat satu benang merah.

Ya, benang merah kenapa walau pun aku cukup lihai untuk berdagang, berjualan dan berbisnis, tapi selalu, yaa tidak selalu sih, hampir selalu gagal. Dan bahkan kasus yang terakhir, memiliki akibat yang sangat lama. Aku harus mencicil bertahun- tahun ke bank.

Naluri berdagang dan kelihaianku berjualan ternyata tidak diimbangi dengan kemampuan manajemen uang yang baik.

Uang pribadi, uang modal, uang barang, keuntungan, dan uang lain, selama ini berada di dalam satu dompet. Mereka tidak pernah kupisahkan.

Padahal tidak seharusnya mereka semua memiliki tempat yang sama. Ya itu, untuk mencegah silang kepentingan dan silang pemakaian yang menjadi penyebab aku sama sekali tidak punya dana segar jika ada kejadian yang tidak terduga seperti yang kualami terakhir kali.

Selihai apa pun kita dalam berbisnis, tidak akan berarti apa- apa jika kita memiliki pengelolaan keuangan yang buruk.

http://www.didaytea.com

Insyallah+Semampunya: Komitmen atau Kemalasan?

Insyaallah dan Semampunya, kata- kata yang sering disalahgunakan untuk menyembunyikan kemalasan”

 

“Insyaallah”,arti sebenarnya sangat baik, dengan ijin Allah. Kata ini jika dirangkaikan dengan sebuah rencana, seharusnya digunakan untuk menunjukkan bahwa rencana itu sudah pasti akan dilakukan. Hanya Allah yang bisa menggagalkan rencana kita itu dengan menciptakan kejadian luar biasa.

Tapi kata ini sering disalahgunakan.

Bukan definisi diatas yang digunakan. Kata Insyaallah seringkali diucapkan jika seseorang sebenarnya tidak niat datang ke sebuah undangan. Atau diucapkan seseorang ketika sebenarnya dia tidak mau melakukan sesuatu, tapi karena merasa tidak enak dengan yang meminta tolong, dia pakai lah kata “Insyaallah” ini sebagai alat untuk menyembunyikan hal itu, agar seolah- olah dia sudah berkeinginan untuk melakukan hal yang diminta.

“Insyaallah lah saya dateng ya!” atau

“Insyaallah deh, kalau bisa saya nanti ke sana!”

“Insyaallah nanti kalau sempat saya sampaikan!”

“Insyaallah saya kerjakan abis Ashar deh!”

Insyaallah yang seharusnya diucapkan ketika kita ingin memastikan sesuatu, dan hanya Allah saja lah yang bisa membuat kita tidak dapat memenuhi janji tersebut, ternyata malah menjadi sebaliknya. Insyaallah malah dijadikan sebagai alat untuk menunjukkan kemalasan kita untuk memenuhi janji, dan bersembunyi di balik “izin Allah”.

Begitu juga dengan “semampunya”.

Di kala seseorang meminta kita untuk melakukan sesuatu, dan kita menjawab dengan mengucapkan semampunya, kadang itu bukan ekspresi kesanggupan kita.

Seringkali itu malah menunjukkah bahwa kita sebenarnya malas untuk melakukannya dan tidak enak untuk bilang tidak. Semampunya dan “kalau mampu” juga akhirnya menjadi tempat kita berlindung.

Kata “Semampunya” seharusnya digunakan untuk menunjukkan bahwa kita siap berusaha seratus persen untuk melakukan hal itu. Untuk menunjukkan bahwa kita sudah siap dan akan memberikan semua sumber daya yang ada pada diri kita sekuat tenaga untuk berusaha melakukan hal tersebut.

Contohnya jika kita berkomitmen berusaha semampunya untuk bisa bangun di sepertiga malam terakhir. Dalam prakteknya semampunya ini didefinisikan sebagai sebisanya atau sebangunnya. Kalau bangun syukur, ya kalau tidak bangun juga ya tidak apa- apa.

Kita tidak membeli beberapa weker yang super kencang agar bisa membangunkan tidur kita. Menyetel alarm pun hanya satu kali, yang kalau pun kita terbangun, itu pun hanya untuk mematikan alarm tersebut sebelum akhirnya kembali ke pangkuan selimut hangat yang sudah memeluk kita semalaman. Atau sebelum tidur kita tidak memaksa diri untuk bisa sholat dua rakaat dan berdoa mati-matian kepada Allah agar bisa dibangunkan untuk bisa mendapatkan kemuliaan sholat malam.

Sudah saatnya kita keluar dari belenggu kemalasan dan bersembunyi di balik dua kata sakti: Insyaallah dan semampunya.

Sudah saatnya kita menggunakan kedua kata itu sebagai komitmen seratus satu persen untuk memperbaiki kualitas diri dan ibadah kita.

Komitmen untuk memenuhi janji kita.

Komitmen untuk memperbaiki ibadah kita.

Komitmen kepada diri sendiri dan keluarga, sebagai tekad untuk berubah ke arah yang lebih baik.

Insyaallah, mari kita berusaha semampunya!

 

http://www.didaytea.com