Belajar Memaksa Diri

“Sholat malam itu ternyata tidak susah. Walaupun hanya sebatas satu rakaat witir, tapi jika kita bisa merutinkannya setiap hari, insyaallah bisa mengangkat kita ke derajat yang sangat mulia”

 

                “Kriiinnngg…!!!” Suara melengking tinggi seperti ribuan gelas yang dipecahkan bersama- sama memasuki telinga seperti tusukan tombak yang tembus ke dalam otak. Sakit.

                Hampir saja kulempar weker itu jauh- jauh kalau tidak ingat harganya lumayan mahal. Hehehe…

                Ah, ternyata baru setengah empat. Sengaja kubuat alarm berbunyi jam segitu, niatnya sih ingin sholat malam dulu sebelum sholat subuh ke mesjid.

                Tetapi pada akhirnya alarm mah alarm, tapi yang bangun hanya tanganku saja. Itu pun sekedar mematikan lengkingan super berisik si weker merah kesayanganku itu. Pada akhirnya, sholat malam engga, dan sholat subuh boro- boro bisa ke mesjid. Yang ada malah kesiangan. Dan kadang bablas sampai hampir mepet matahari terbit.

                Apakah ada yang memiliki pengalaman yang sama?

                Mungkin tidak ya? Tidak jauh beda maksudnya kan? 😀

                Begitulah yang terjadi, menjadi rutinitas harian saya. Boro- boro sholat malam atau bisa sholat subuh ke mesjid. Sholat subuh saja kadang masih bisa telat.

                Walaupun tidak sama persis, tapi tahapan- tahapan monolog seperti ini pasti akan kita lalui:

                “Jam berapa sekarang?” Kita pasti langsung terduduk atau masih berbaring tapi dengan mata yang setengah terbuka karena tertutup pulau di ujung mata. Kalau dalam bahasa Prancis, biasanya pulau ini disebut sebagai C’hileuh.

                “Hari apa ya sekarang?” Mulai deh garuk- garuk kepala walau pun tidak gatal.

                “Siapa sih yang nyalain alarm jam segini?” (padahal kita sendiri tuh yang nyalaain, hehehe)

                “Oh alarm ini, tahajud tea geningan yah?” Pada tahap ini mulai sedikit sadar nih. Sampai tiba-tiba:

                “Ah, masih setengah empat ini lah, subuh kan jam lima kurang seperempat, lebih dari sejam” Pertanda buruk pun mulai muncul. 😀

                Dengan diikuti bunyi yang sangat legendaris:

                “ZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZ……………….” Kita pun sukses tidur lagi dan dialog selanjutnya (setelah bangun yang kedua) mungkin kita yang marah- marah kepada diri sendiri, atau bahkan istri kita.

Menyalahkan, kenapa kita tidak dibangunkan.

Sok lihatin geura, berapa kali kita kalah?

                Bukan satu, bukan dua, tapi lima kali kita menyerah di dalam pertarungan terbesar dalam diri seorang manusia.

Baik vs Jahat.

Malas vs Rajin.

Bangun vs Tidur.

Kasur vs Sajadah.

Alhamdulillah, akan tetapi hal itu tidak terjadi lagi sodara- sodaraku yang tercinta!

Setelah melalui tahapan perenungan, pencarian, investigasi dan observasi yang menyeluruh dan berkesinambungan serta super komprehensip, eh, komprehensif, akhirnya saya temukan siasat terbaik untuk bisa melawan lambaian selimut dan panggilan tempat tidur empuk yang bselama bertahun- tahun membuat saya jadi manusia pemalas.

Beberapa minggu ini Alhamdulillah saya akhirnya menemukan jurus paling ampuh untuk bisa bangun tidur, dan tentunya terbukti ampuh untuk diri saya juga. J Sebab tidak mungkin saya membuat tulisan ini kalau diri saya masih belekok, dan tidak mengalami dan melakukan apa yang saya tulis. Semoga ampuh juga buat yang membaca.

                Ternyata nih, penyebab utama kemalasan diri untuk bisa bangun adalah hal yang sangat sederhana sekali.  Kita malas bangun, atau bahkan tidak bisa bangun karena kita sering, bahkan selalu memberi kesempatan kedua kepada diri kita untuk berpikir setelah kita terbangun.

Jurusnya cuma satu:  Hudang Harita Keneh! Eh, maaf, channelnya berpindah lagi ke bahasa Sunda.

Bangun Saat Itu Juga!

                Ya, begitu anda terbangun karena alarm atau dibangunkan oleh istri, jangan beri waktu otak untuk berpikir. Jangan beri kesempatan sisi malas anda untuk menguasai diri anda. Lempar diri anda keluar dari tempat tidur.

                Tinggalkan tempat tidur, dan langsung ke kamar mandi, siram muka anda dengan air dingin. Ketika muka sudah terbasuh dengan air wudhu, dan nyawa anda sudah terkumpul semua itulah saatnya anda berpikir. Hehehe..

                Kalau pun anda ternyata masih ngotot ingin tidur lagi, insyaallah tidak akan bisa, kecuali  anda memang super kebluk dan bersahabat erat dengan Raja Penidur, tokoh terhebat dunia persilatan di novel karya Bastian Tito: Wiro Sableng. 😀

                Sok atuh, masa masih kalah sama selimut dan kasur?

                Sholat malam itu ternyata tidak susah. Walaupun hanya sebatas satu rakaat witir, tapi jika kita bisa merutinkannya setiap hari, insyaallah bisa mengangkat kita ke derajat yang sangat mulia.

                Dan pastinya akan ada “efek samping” yang lainnya.

                If you managed to do that, eh, kenapa pindah channel lagi ini teh? Maaf. Jika anda berhasil memaksa diri anda untuk mendobrak kemalasan ini, insyaallah anda pasti akan bisa rutin sholat subuh ke mesjid setiap hari.

                Dan insyaallah pasti itu juga akan berakibat anda bisa sholat sunat dua rakaat sebelum subuh, yang “lebih baik dari dunia dan seisinya” kan?

Pada akhirnya saya tetap saja hanya seorang manusia tempatnya salah dan khilaf, yang kadang akhirnya masih juga terlalu lemah untuk mengalahkan kemalasan. Sehingga satu atau dua kali masih bisa terlambat.

                Buat diri saya, untuk bisa menemukan penyebab utama seperti ini sungguh merupakan pencapaian yang luar biasa. Ya seperti di tulisan Dobrak Diri, saya akhirnya bisa mendobrak diri saya untuk bisa sholat malam, walau pun hanya dua rakaat+satu rakaat witir, atau bahkan hanya sholat witir saja.

Lagi- lagi pencapaian ini membuat diri saya memiliki motivasi lebih dalam hidup. Lebih segar dan lebih tenang menjalani hari. Masalah- masalah besar menjadi ringan.

Tidak ada yang susah lah di dunia ini mah, mau urusan ibadah, pekerjaan, sekolah, rumah tangga, dan urusan- urusan lain yang biasanya membikin kita pusing tujuh keliling.

                Bukankah kemalasan itu salah satu sumber malapetaka dan kemiskinan hidup?

                Mari memaksa diri!

 

www.didaytea.com       

271111

               

Dobrak Diri

Dobrak Diri

Ya! Setelah beberapa kali memenuhi tantangan diri, saya semakin yakin bahwa tidak ada yang sulit di dalam hidup ini asal kita mau dan dengan izin Allah

Challenge yourself, and lt your life will be full of passion to let you live better here and after” (Diday Tea)

Ketika saya sedang berkonsentrasi penuh untuk melatih intuisi dan ketajaman mata , serta ketelitian dan ketepatan berpikir dengan bermain Angry Birds, tiba- tiba hape Blueberryku (bukan Blackberry) tiba- tiba meraung- raung. Di seberang telepon sana, ternyata salah seorang teman kerja saya meminta tolong untuk memperbaiki laptopnya yang kena virus. Saya kaget lah, tiada angin badai atau hujan apalagi awan mendung yang lewat di depan rumah saya, kenapa tiba- tiba ada orang yang merekomendasikan saya sebagai seorang ahli IT yang bisa memperbaiki semua masalah software di komputer merek apa pun.

Tadinya sih mau saya tolak dan “mengorbankan” teman saya yang saya yakini lebih mumpuni di bidang perkomputeran. Permintaan tolong itu akan saya tolak saja, dengan alasan saya tidak tahu menahu masalah software. Eh, setelah saya pikir ulang,  ternyata ini adalah tantangan baru! Apa salahnya sih kalau dicoba dulu, kan mas Google selalu ada di depan saya setiap saat? Kalau pun ngga bisa ya, kembalikan saja laptop itu. Gitu aja kok repot yah?

Laptop teman saya itu memang berada di dalam masalah besar. Laptop itu sama sekali tidak bisa bertelur, eh, itu mah hayam ya? Maaf, tiba- tiba kepikiran Angry Bird yang egg thrower, hehehe…

Laptop teman saya itu tidak bisa mengeksekusi program apa pun. Bahkan system restore pun tidak bisa.

Berdasarkan pengalaman laptop saya yang pernah mengalami hal yang kurang lebih sama.  Saya coba cari di menu facory reset. Alhamdulillah, ternyata ketemu dan bisa! Laptop itu saya factory reset saja dan tidak lebih dari 20 menit, seresettt…Semua beres, dan laptop itu kembali seperti baru.

Buat saya, kejadian ini adalah pencapaian yang sangat luar biasa. Pencapaian yang meningkatkan percaya diri di dalam diri saya berkali- kali  lipat. Karena ini membuat saya berkata kepada diri saya: “Ternyata saya bisa ya?” “Ternyata mudah ya?” “Ternyata gitu doang lah!”

Saya bisa melakukan hal yang tadinya saya pun tidak yakin apakahbisa melakukannya atau tidak.

Ya! Setelah beberapa kali memenuhi tantangan diri, saya semakin yakin bahwa tidak ada yang sulit di dalam hidup ini asal kita mau dan dengan izin Allah.

Masalahnya sederhana saja, hanya sekedar mau atau tidak mau. Lain tidak.

Jika anda mau dan kalau pun tidak berhasil, anda sudah mendapat pengalaman baru untuk tidak berhasil.

Anda selangkah lebih maju dibanding orang yang jarang mau menerima tantangan atau membuat tantangan dalam hidupnya.

Apakah anda sekarang hidup dengan nyaman? Bangun tidur, sholat, sarapan berangkat kerja, pulang, jalan- jalan ke taman atau mall dengan keluarga tercinta.

Jika anda nyaman sih silahkan saja, dan tidak ada yang salah dengan hal itu.

Tapi percayalah, anda akan merasa lebih cepat tua, hehehe…

Untuk saya, ketika hidup hanya sebatas menjalani rutinitas seperti itu, saya akan merasa seperti Angry Bird di dalam sangkar. Ada perasaan kurang nyaman ketika kejenuhan rutinitas mulai hinggap di atas pikiran kita. Hidup terasa kurang berwarna.

Walau pun tidak sering, tapi saya sering memberikan tantangan untuk diri saya. Hal yang menantang tidak harus selalu sulit. Contohnya menantang diri untuk bisa sholat dhuha dua rakaat setiap hari. Atau merutinkan sholat malam,walaupun hanya satu rakaat witir. Atau memaksa diri untuk bisa mengaji Al Qurán satu ayat setiap hari.

Atau bisa juga berupa tantangan fisik. Saya menantang diri saya untuk bisa berlari terus- terusan selama 30 menit di atas treadmill dengan kecepatan 10km/jam (kalau yang ini masih belum kuat..hehehe). Atau memaksakan diri untuk rutin bermain sepakbola setiap minggu. Atau hal kecil seperti menantang diri untuk push up 10 kali dan sit up 10 kali setiap bangun tidur.

Atau kadang saya mencari tips dan trik untuk mengedit foto di Youtube, dan mencoba praktek sendiri. Lalu saya posting di Facebook untuk melihat bagaimana tanggapan teman- teman saya.

Dan tantangan- tantangan kecil ini ternyata berlanjut sampai sekarang. Karena saya belum bisa istiqomah terus- terusan melakukan tantangan- tantangan itu. Kecil atau besar pasti akan selalu sulit. Sulit tapi bisa. Bisa asal mau!

Tuh kan, ujung- ujungnya mah, asal kita mau, pasti kita akan bisa melakukan hal- hal yang sulit sekalipun.

Ketika kita sudah bisa dan berani menantang diri untuk mencapai sesuatu, itu pun sudah sangat bernilai. Itu artinya kita sudah berhasil mendobrak kemalasan di dalam diri.

Setiap pencapaian setelah memenuhi tantangan akan menimbulkan ledakan motivasi dan percaya diri yang luar biasa dari dalam diri kita.

Bukankah malas adalah salah satu musuh terbesar di dalam hidup kita?

Ayo dobrak diri!

Didaytea

21112011

Doha, Qatar

 

Cara Untuk Bahagia Setiap Saat

Perspektif  Ideal Terhadap Waktu

“If happines is always in the future, then you’ll never be happy”(Dr. Philip Zimbardo)

 

Seorang psikolog bernama Philip Zimbardo membuat wacana tentang bagaimana perspektif kita terhadap waktu akan mempengaruhi keputusan kita dalam kehidupan.

Waktu yang dimaksud beliau adalah waktu relatif yang berada di dalam pikiran manusia, bukan waktu yang ditunjukan oleh jam di sekeliling kita.

Perspektif terhadap waktu akan mempengaruhi kebiasaan seorang manusia dalam menjalani hidup mereka.

Beliau mengatakan ada enam jenis perspektif waktu: dua di masa lalu(past), dua di masa kini(present), dan dua di masa depan (future).

Sebagian orang selalu mengenang bagaimana indah dan suksesnya masa lalu mereka, sering sekali mengungkit- ngungkit kesuksesan masa lalu yang belum tentu adalah kesuksesannya di masa kini. Ini adalah golongan orang dengan perspektif waktu Past Positive.

Sebagian orang hanya fokus pada kegagalan di masa lalu, masa lalu yang kelam. Dia akan hidup di masa lalunya yang negatif dan terlarut di dalamnya, sehingga melupakan fakta bahwa dsemua itu sudah berlalu dan tidak akan ada yang bisa dilakukan lagi untuk merubah masa lalu tersebut. Ini adalah golongan Past Negative.

Ada orang yang menginginkan kesenangan saat ini juga, mereka menikmati hari- harinya dengan enjoy, menikmati hidup, dan berprinsip bahwa mereka harus menikmati hidup sepuas- puasnya. Ini adalah golongan Present Hedonistic.

Ada juga orang yang membenci perencanaan. Mereka menjalani hidup dengan metode “mengalir seperti air”. It doesn’t pay to plan, my live is fated by the condition that I am living under. Kehidupan saya sudah ditakdirkan seperti ini, tidak akan bisa dirubah lagi walau apa pun yang saya lakukan.  Ini adalah golongan Present Fatalistic.

Ada juga orang yang selalu memiliki perencanaan dalam hidup mereka. Mereka berorientasi masa depan, berorientasi tujuan. Mereka memlih untuk belajar dan bekerja daripada menikmati hidup. Mereka lebih memilih untuk hidup menderita hari ini demi kebahagiaan di masa depan. Bagi mereka kebahagiaan selalu ada di masa depan. Ini adalah golongan Future Oriented.

Golongan terakhir menurut beliau adalah Future: Trancendental-Life after death of the human body. Kehidupan sesungguhnya adalak kehidupan setelah kematian. Untuk yang muslim, ini adalah akhirat kita.

Lalu, seperti apakah perspektif kita terhadap waktu yang ideal untuk dijalani?

Kita tidak bisa menanggalkan masa lalu kita walau pun itu hanya ada berada di dalam pikiran kita. Kita juga tidak bisa melupakan fakta bahwa masa depan itu ada dan kematian itu pasti akan datang. Secara fisik, kita sedang hidup di masa kini, The Present.

Ini adalah profil ideal menurut Dr. Zimbardo:

Past Negative

Low

Past Positive

High

Present Hedonism

Selected, self-rewarding, not impulsive

Present Fatalism

Low

Future

Moderately high, not a workaholic

Lupakanlah masa lalu yang negatif, hapus sama sekali dari memori anda. Kalau pun sampai harus diingat, jadikan sebagai pelajaran yang sangat berharga agar kita tidak mengulangi dan mengalaminya lagi.

Ingatlah kisah positif di masa lalu, untuk memotivasi diri kita ketika sedang terpuruk.

Jangan jadi orang yang terlalu gila kerja, selalu sempatkan waktu anda untuk menikmati kebahagiaan di masa kini. Luangkan waktu untuk keluarga, berekreasi. Jangan biarkan diri anda menderita dan memilih untuk menjalani hidup serba hemat dan serba sulit, demi untuk “kebahagiaan” di masa depan. Memang sih, porsi untuk itu selalu ada. Tapi jika semua kebahagiaan itu berada di masa depan, maka kita pasti tidak akan pernah bisa bahagia. Dengan terlalu sering melihat ke masa depan, berarti anda tidak menghargai masa kini, anda tidak menghargai hari- hari anda yang seharusnya dihiasi oleh kebahagiaan- kebahagiaan.

Bisa saja kita puluhan tahun untuk mengejar karir yang tinggi, tapi pada akhirnya malah menghadapi kenyataan bahwa posisi itu ternyata tidak cokcok dengan kita.

Past gives you root-to connect to your identity & family, to be grounded

Future give you wings- To soar to new destination and challenges

Present gives you energy- to explore people, places, self and sensuality

Manusia hanya bisa berusaha dan bertawakkal, tetap pada akhirnya Allah yang menentukan segalanya.

Nikmatilah sukses kecil di masa sekarang untuk bayangan sukses di masa depan bahkan sampai akherat kelak.

Diekstrak dari video Professor Philip Zimbardo: The Perspective of Time dan berbagai sumber di Internet.Thank you for Professor Philip Zimbardo for his permission to translate his presentation.  www.theTimeParadox.com

www.didaytea.com

13102011

Pusing Tujuh Keliling Forever

“Manusia memang aneh, suka memikirkan yang tidak perlu dipikirkan tapi tidak memikirkan yang seharusnya dipikirkan”

 

“Pussiiiinnggggg…!” Teriak si Fulan dari teras depan rumahnya.

“Pusing tujuh keliling nih!” Si Fulan menambah variasi tujuh keliling untuk mendramatisir keadaan. Sambil memasang pose standar orang yang sedang pusing tujuh keliling: setengah jongkok, tangan kiri berkacak pinggang, tangan kanan memegang jidat, dan kepala digeleng- geleng.

“Pusing kenapa Mas Bro? Kok sampai tujuh keliling begitu” Tanya si Mamang Tukang Sayur langganan si Fulan yang tiba- tiba hinggap, eh, mampir di depan rumah si Fulan karena terkaget- kaget mendengar teriakan si Fulan.

“Ngga pusing gimana Mang…..” Kata si Fulan sambil menarik nafas panjang.

“Hutang makin banyak, kosan belum bayar, cicilan motor nunggak dua bulan, nilai kuliah jelek- jelek, pacar minta dinikahi secepatnya, orang tua telat ngirim..!” Kata si Fulan, persis seperti burung Cangkurileung yang baru dilepasan dari kandang.

“Hutang, keuangan, masalah keluarga, sekolah, kerjaan mah ya masalah biasa atuh Mas Bro, tiap manusia pasti punya masalah yang berkaitan dengan hal- hal itu…” Jawab Mas Bro, eh, Mamang Tukang Sayur dengan suara bariton yang lembut layaknya penyiar radio yang baru- baru ini mendadak beken di Youtube.

“Iya saya tahu Mang, tapi saya tetep pusing nih mikirin gimana solusinya!” Jawab Si Fulan dengan pose yang masih persis sama seperti tadi, hanya kali ini tangan kirinya yang hinggap di atas jidat. Kepalanya tentu saja tetap menggeleng- geleng.

Eh, tiba- tiba si Mamang malah ngaji dengan suara yang berat tapi lembut, mirip- mirp dengan Syaikh Mishary Al Efasy. Secara, dia kan emang imam di mushola deket rumah si Fulan.

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh)”. QS Hud ayat 6

 

            “Yee..si Mamang kenapa malah ngaji sih? Bukannya ngehibur!” Si Fulan menanggapi dengan sedikit kesal.

“Saya butuh solusi buat masalah saya, bukan pengen didengerin orang ngaji!” Tambahnya lagi.Sambil terduduk lesu, iya lah, masang pose orang pusing tujuh keliling gitu pasti pegel bukan main.

“Mas Bro beneran pusing nih, mikirin masalah- masalah Mas Bro?” Tanya si Mamang dengan lembut, seperti seorang ayah kepada anaknya.

“Iya lah, masa ngga keliatan dari tadi saya pasang pose seperti ini?!” Kata si Fulan yang tiba- tiab tersadar bahwa posisinya sudah berubah, dan memasang pose pusing tujuh keliling lagi.

“Mas Bro, masalah rejeki, uang, jodoh, maut, sudah dijamin oleh Allah. Itu janji-Nya!” Ucap si Mamang.

“Tugas kita bukan untuk memikirkan hal- hal itu.”

“Mas Bro sudah sholat zhuhur belum nih?” Tiba- tiba si Mamang bertanya.

“Masih pusing gini mas, nanti aja lah bentar lagi!” Jawab si Fulan sekenanya.

“Saya mau nanya boleh ngga Mas Bro?” Si Mamang pun tetap menanggapi dengan santai.

“Mau nanya apa?” Jawab si Fulan.

“Mas Bro yakin kalau Allah Maha Pencipta?” Tanya si Mamang.

“Yakin dong, saya kan orang Islam!” Jawab si Fulan.

“Yakin kalau Allah pemilik segala sesuatu di dunia ini?”

“Hmm.itu juga yakin dong! Intinya mau nanya apa nih, kok malah nanya yang aneh- aneh kaya gini!” Si Fulan mulai terlihat kesal.

“Yakin kalau Allah Maha Kuasa atas segala kejadian di dunia ini?

Si Fulan sekarang hanya sekedar menganggukkan kepalanya.

“Nah, itu cukup!” Kata si Mamang dengan muka sumringah.

“Cukup apanya?” Jawab si Fulan yang terlihat agak bingung.

“Di ayat yang tadi Mamang bacakan tercantum jelas bahwa Allah berkata:“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya”

            “Allah sudah menjamin rejeki setiap makhluk yang melata di muka bumi ini, dan itu termasuk manusia” Si mamang meneruskan obrolannya.

“Kita seharusnya tidak usah khawatir tidak dapet makan, tidak usah khawatir tidak bisa pake baju, tidak usah khawatir tidak dapet jodoh, tidak usah khawatir tidak dapet kerjaan, pokoknya mah urusan dunia mah Allah sudah jamin deh” Si Mamang mulai bersemangat menjelaskan.

Si Fulan sepertinya sudah lelah berpose pusing tujuh keliling, dan dia pun duduk ke posisi semula, di sebelah si Mamang sayur. Sambil mendengar si Mamang sayur dia pun menganggukkan kepalanya pelan- pelan, entah karena ngantuk atau karena memang sedang berusaha mengerti si Mamang.

“Cecak aja makanannya nyamuk, tapi mereka tidak pernah pusing!”

“Mas Bro, ada hal- hal yang seharusnya lebih kita khawatirkan dibanding hanya sekedar urusan hutang, keuangan,keluarga, jodoh.” Si Mamang menjelaskan lagi.

“Apa itu mas? Saya sudah cukup pusing nih memikirkan masalah- masalah saya, tolong jangan ditambah pusing!” Jawab si Fulan.

“Tugas kita diciptakan sebagai manusia semata- mata untuk beribadah kepada Allah”

“Mas Bro Sholat, puasa, zakat? Tanya Si Mamang.

“ Ya Iya lah, saya kan Islam Mang, masa ngga sholat, puasa ama zakat?” Jawab si Fulan dengan setengah melotot.

“Tapi Mas Bro yakin 100 persen ngga kalau  ibadah- ibadah Mas Bro itu bakal diterima oleh Allah?” Si Mamang masih bertanya lagi.

“Hmm…” Si Fulan mulai terdiam.

“Gimana ya….? Kalau ini sih sejujurnya saya tidak yakin. Sholat saya masih sering telat, ngga khusyu- khusyu amat, puasa juga ya gitu- gitu aja sih ngga ada yang istimewa, zakat mah pasti lah, minimal zakat fitrah.” Si Fulan menjawab dengan perlahan.

“Nahh..Apakah tiap sehabis sholat Mas Bro suka memikirkan bahwa sholat Mas Bro diterima atau tidak?” Tanya Si Mamang.

“Ngga sih, sholat ya sholat aja…Palingan ya itu, saya berdoa minta solusi untuk masalah- masalah saya” Jawab si Fulan.

“Lalu gimana Allah mau mengabulkan do’anya Mas Bro kalau ternyata sholatnya Mas Bro asal sholat aja, asal sah saja. Sah belum tentu diterima lho!” Si Mamang langsung menanggapi.

“Mas Bro pernah mikirin ngga apakah bacaan Al Qur’an Mas Bro sudah bener atau ngga? Apakah Mas Bro mbaca surat yang itu- itu saja, klo ngga Al Ikhlas ya Al Kautsar? Apakah Mas Bro abis sholat dzikir dulu ngga? Apakah Mas Bro sholat sunah rawatib ngga setelah sholat? Apakah Mas Bro ngerti bacaan sholat dari Takbir sampai Salam? Pertanyaan yang bertubi- tubi berhamburan dari mulut si Mamang, seolah- olah menohok dada si Fulan.

Si Fulan hanya terdiam. Pandangannya langsung kosong seperti sedang memikirkan jawaban untuk pertanyaan pertanyaan si Mamang.

“Ngga pernah Mang…” Jawab Si Fulan dengan lesu.

            “Tuh kan…Hal yang sudah jadi kewajiban ternyata malah Mas Bro ngga pikirin.”

“Ngga usah khawatir mikirin masalah rejeki and jodoh mas, atau masalah- masalah lainnya. Allah mah Maha Kuasa Atas Segala Sesuatu. Kalau ibadah kita sudah benar, dan diterima oleh Allah, Allah pasti akan dekat dengan kita. Kalau Allah sudah deket sama kita, kita pasti dimudahkan dan diberi jalan dari jalan yang tidak di duga- duga selama kita beikhtiar sekuat tenaga dengan benar dan dengan niat yang lurus.” Si Mamang menjelaskan lagi dengan perlahan.”

“Iya juga Mang, eh..Iya ya Mang..” Si Fulan menjawab.

“Selama ini saya selalu ruwet mikirin urusan dan masalah hidup saya, tapi malah sama sekali ngga pernah mikirin gimana kualitas ibadah saya. Padahal sudah puluhan tahun saya sholat, puasa, zakat. Tapi saya ngga pernah kepikiran untuk mikirin kalau ibadah saya itu sudah benar atau tidak, bakalan diterima oleh Allah atau tidak…” Ucap si Fulan dengan sedikit terisak.

“Astaghfirullohal’azhiim…ampun ya Allah” Si Fulan beristighfar dengan lirih..

“Tidak pernah ada kata terlambat untuk tobat Mas Bro” Kata si Mamang.

“Alhamdulillah kalau Mas Bro sudah sadar mah, ini juga sebagai koreksi untuk diri saya gar bisa memperbaiki kualitas ibadah saya lebih baik lagi” Si Mamang menambahkan lagi.

“Saya pamit dulu ya Mas Bro…semoga sukses! Saya tunggu di mesjid Ashar nanti Ya!” Ucap si Mamang Tukang Sayur sambil berlalu dengan motor yang sudah dimodifikasi dengan keranjang sayurnya.

“Wa’alaikumsalaam. Terima kasih Mang, sudah mengingatkan..” Jawab si Fulan yang mulai terisak lagi.

Tak lama kemudian si Fulan pun bergegas mengambil wudhu.

Kali ini dia merasa wudhunya terasa sangat berbeda. Dia sangat menikmati setiap bilasan air dingin yang mengalir dari keran plastik di kamar mandinya. Tanpa terasa air matanya pun mengalir pelan, terbilas oleh air wudhu yang membasuh mukanya. Hatinya pun berdetak kencang, tak sabar ingin segera mendirikan sholat, agar dia bisa taubat sepuasnya.

     لا إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحانَكَ إِنّى‏ كُنْتُ مِنَ الظَّالِمينَ

Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.”

 

www.didaytea.com

131011

 

 

 

 

 

Minder Itu Bermanfaat

“Setiap manusia yang lahir ke dunia, adalah satu sel sperma yang berhasil mengalahkan ratusan juta sel lainnya untuk membuahi satu sel telur”

 

Setiap manusia memiliki kecenderungan untuk berbuat baik dan pasti ingin berubah lebih baik untuk menjadi baik.

Salah satu kondisi, atau perasaan yang bisa menjadi pemicu keinginan seseorang untuk berubah menjadi lebih baik adalah perasaan minder. Ya, minder.

Pernahkah Anda merasa minder? Ah, Itu sih perasaan yang biasa kita alami.

Perasaan yang sering, bahkan selalu timbul ketika kita dihadapkan dengan orang lain yang memiliki kondisi yang lebih baik daripada kita.

Kita akan merasa minder jika berada di samping orang yang lebih tampan atau lebih cantik daripada kita.

Kita akan cenderung merasa inferior jika berada di dekat orang yang kita tahu jauh lebih tinggi jabatannya, jauh lebih banyak hartanya daripada kita.

Kita akan merasa jadi orang yang paling berdosa sedunia ketika kita berkenalan dengan seseorang yang sholeh luar biasa.

Kita akan menjadi orang yang paling pelit, medit, koret, kopet, buntut kasiran, keked mengkene, merege hese, cap jahe (Maaf, bahasa Sunda memang lebih dramatis untuk menggambarkan kata- kata “pelit”) sedunia ketika mendengar ada milyuner yang bisa menyumbangkan sebagian besar hartanya untuk membantu orang miskin dan anak yatim.

Minder tidak melulu menjadi sifat negatif bisa menjadi sebuah pemicu dari agen perubahan.

Selama perasaan minder itu terkonversi menjadi iri yang positif, dan tidak berlarut- larut tumbuh menjadi perasaan dengki dan berburuk sangka, itu adalah wajar.

Seringkali, kondisi seperti ini malah membuat kita cenderung berputus asa karena kita memasang standar yang terlalu tinggi untuk memulai sebuah perubahan ke arah yang lebih baik.

Seringkali keinginan untuk langsung berubah jauh lebih baik, malah menjadi bumerang, dan menyebabkan kita langsung menyerah, ketika baru saja akan melangkah.

Hei, perubahan itu perlu waktu!

Hanya kondisi luar biasa yang bisa membuat orang berubah drastis dalam semalam.

Hanya kondisi yang di luar nalar manusia ketika ada orang yang jarang super pemarah, tiba- tiba jadi orang yang super penyabar.

Perubahan yang tiba- tiba, seringkali tidak mempunyai pijakan yang kuat, sehingga cenderung lebih mudah untuk goyah, dan lebih beresiko untuk kembali ke arah kondisi sebelumnya.

Perubahan yang baik seharusnya bertahap, agar bisa berkesinambungan dalam periode waktu yang lebih lama.

Kita harus memulai dengan standar yang tidak terlalu sulit, walaupun tetap dengan mimpi yang tinggi. Standar yang mudah akan lebih mudah dicapai.

Contoh yang sederhana: Lebih baik memulai mengaji satu ayat setiap hari, tapi rutin, dan tidak pernah kita lewatkan, daripada kita tiba- tiba sholeh dalam satu malam, membaca beberapa juz Al Qur’an,tapi setelah itu, tidak melakukannya lagi setelah berbulan- bulan.

Lebih  baik memulai sholat malam, walaupun hanya satu rakaat, tapi rutin setiap hari daripada kita tiba- tiba melakukan sholat malam semalaman, dan berhenti berbulan- bulan.

Kita harus realistis untuk melakukan perubahan.

Jika sudah melakukan hal- hal yang mudah, dan lebih baik dari kondisi sebelumnya, seperti contoh sholat dan mengaji tadi, kita pasti akan sampai pada tahap konsisten.

Dan otomatis, kondisi yang konsisten ini akan memicu kita untuk lebih baik.

Mungkin setelah sebulan, dua bulan atau setahun, kita memulai perubahan kecil akan terjadi perubahan lebih besar.

Dan tanpa terasa, kita akan sampai pada tahap yang sama, atau bahkan lebih baik dari kondisi yang kita inginkan sebelumnya.

Mentalitas dan pemikiran seperti ini sih seharusnya bisa dipraktekkan di seluruh aspek kehidupan: sekolah, bekerja, mengajar, dan bidang- bidang lainnya.

Ingat, untuk memindahkan segunung batu bata apa yang harus kita lakukan? Bukan pusing, bukan panik, bukan frustasi, bukan menggerutu, bukan syok.

Ya! Mulailah dengan memindahkan satu buah batu bata terdekat. Dan batu- bata lainnya, satu demi satu.

Perjalanan jutaan tahun cahaya, selalu akan dimulai dengan satu langkah kecil.

 

Selamat menikmati langkah kecil anda yang pertama untuk memindahkan segunung batu- bata.

 

www.didaytea.com