Tragedi Sate Padang

Ketika cuaca panas, makanan pedas selalu menjadi favoritku.

Selain rendang, sate padang juga salah satu yang jadi andalan untuk disantap, demi menetralisir dan “menyegarkan”, diri, (padahal yang ada malah keringat mengucur deras, tapi puass..:))

Pada suatu hari, tiba-tiba rasa rindu sate Padang datang tak diundang dan tak diduga. Beberapa kali sempat sih, kutemukan sate Padang a la Qatar, tapi ya begitulah, paling mantap kualitasnya hanya KW4.. 😀 Sama sekali jauh dari Sate Padang Pariaman di depan kompleks Pondok Cilegon Indah, atau di depan Kimia Farma Cilegon.

Berhubung (ternyata) tidak ada yang menjual sate Padang yang enak, minimal KW1 lah..akhirnya kuputuskan bersama istriku untuk berusaha membuatnya sendiri.

Mas bro Google menjadi sumber utama resep pembuatan si Sate Padang ini. Proses memasak pun sangat mendebarka, karena  mungkin belum pernah terjadi sebelumnya, ada orang Sunda yang membuat Sate Padang.

Sebetulnya ada sih, temen SMA adikku di Bandung. Ada Rumah Makan Padang, makanannya asli Masakan Padang, tapi alangkah kagetnya ketika kalimat yang terucap dari (kelihatannya) sang Pemilik: “Mangga linggih Kang, bade calik di palih mana?”(silahkan kang, mau duduk di mana?) Jiaahh..Kunaha Rumah Makan Padang able to speak Sundanese ini teh???

Singhoreng, eh, ternyata, si Bapa emang asli Bandung, orang Kiara Condong. Tapi beliau menikah dengan orang Padang Asli.. 😀 Ternyata nama anaknya aja Neneng….hehehe…

Kembali ke Sate Padang a la Diday dan istri…

Setelah memasukkan bahan bahan, dan mengikuti SOP yang didapat dari mas bro Google, akhirnya tersajilah si Sate Padang di meja makan kami.

Sejujurnya, agak deg-degan juga sih, karena pas masih panas sih rasanya (agak sedikit enak).

Gambar di atas hanyalah ilustrasi, karena sate Padang yang kami buat sih ngga gitu- gitu amat, warnanya agak sedikit kehijauan (kehijauan???). Dari warnanya saja, sempat terbersit firasat buruk tentang Sate Padang itu.

“Jangan- jangan ngga enak nih?” Kataku kepada istri. 🙂

Sebelum kusuapkan satu tusuk sate yang sudah dilumuri oleh kuah coklat (agak kehijauan) yang terbayang diotakku adalah pedas dan lembutnya bumbu sate padang di depan PCI (Pondok Cilegon Indah). Kuamati sebentar sih. Sepertinya ada sih tidak ada yang salah dengan sate Padang ini. Daging sudah diiris tipis- tipis sesuai ukuran yang diberi tahu oleh Mas Bro Google, dan ditusuk empat-empat. Dan sudah kami siramkan bumbu yang masih panas di atasnya. So far,, seharusnya tidak ada yang salah dong ?

Masalah mungkin hanya di warna bumbunya yang agak kehijauan.. 😀

Dan…

Ketika gigitan pertama mampir di gigiku, dan beberapa tetes bumbu itu mengalir lambat ke atas lidah depanku, sungguh kaget tak terkira diriku, apalag istriku, karena kami menyuapkannya hampir bersamaan.

Mulutku langsung ternganga, karena lidahku langsung terasa pahit, dan kerongkonganku langsung menutup, menolak untuk dimasuki oleh benda asing yang rasanya..hmmm..ah, beneran aku tidak tega menyebutkannya…. 😀

Ternyata proyek sate Padang a la Diday dan istri gagal sodara -sodara…!

Pahit.

Ya! Ternyata rasa bumbunya pahit, sepahit batrawali, dan ada campuran rasa lain, enek, tidak puguh(tidak jelas) dan…ya begitulah pokoknya mah ngga uenak…boro- boro maknyoss..yang ada malah jadi mual.

Walhasil, 3 hari sesudah tragedi itu, kami sekeluarga ngga bisa makan di rumah. Karena kenangan buruk rasa bumbu Sate Padang yang luar biasa itu selalu menghantui lidah dan perasaan serta pikiran kami.

Orang Sunda ternyata memang ngga cocok masak makanan Padang….

Di mana lagi ya harus kucari Sate Padang original, atau minimal KW1 di Qatar ini?

Didaytea

Yang tiba-tiba ingin Sate Padang.. 😦

Clash of Iklim-itation

Sejak aku bisa mengingat kehidupan, kira-kira umur 3 tahun, dan sampai enam belas tahun setelahnya, aku selalu hidup di tengah sejuknya udara dingin kota Bandung. Selama sembilanbelas tahun itu pula aku tidak pernah mengenal istilah kepanasan, karena sepanas apa pun di Bandung, angin sepoi-sepoi yang dingin akan selalu mengusap lembut kulit ku dengan kesejukannya, menghilangkan teriknya cahaya matahari yang menimpa permukaan kulitku.

                Alangkah kagetnya aku ketika menginjakkan kaki pertama kali di Cilegon. Kota ini hampir ngga ada pisan sejuk-sejuknya, sepanjang hari selalu panas dan lembab.

                Jika di Bandung, sepulang sekolah dan kita tiba di depan rumah , selalu ada momen khusus. Momen paling berkesan dan melegakan, ketika membuka pintu, karena langsung terasa kesejukan yang luar biasa yang menghambur dari dalam rumah, layaknya AC 1 pk, menghembus lembut ke muka kita menghilangkan keletihan setelah berada di sekolah seharian (padahal mah sekolahnya cuma sampe jam empat ,maen bola dua jam, plus nunggu bis DAMRI setengah jam, dan perjalanan yang sangat dramatis di dalam bis DAMRI kira-kira satu jam..hehehe).

                Di Bandung, sepanas apapun air akan tetap selalu dingin. Setiap sehabis mandi, kita akan mendapatkan kesegaran luar biasa, seletih apa pun badan kita, akan langsung terasa bersih, segar bugar, sehat wal afiat, dan joss lagi.

                Di Cilegon, setelah seharian dimarahi dan dilengkapi dibentak- bentak, dan tak lupa sedikit bonus “hujan local”,  sama bos yang orang Jepang, sangat bertolak belakang dengan di Bandung. Hati yang sudah panas, badan yang sudah letih, seketika langsung bertambah panas. KArena ketika membuka pintu rumah, wuusssss, udara panas langsung menghembus dari dalam rumah kontrakanku itu. Hampir tidak jauh berbeda panasnya ketika kita membuka rice cooker. Maklum, dengan posisi teknisi junior, gajiku belum mampu untuk membeli ac dan membayar tagihan listrik yang psti berlipat- lipat jika ada ac. :D.

                Itu baru membuka pintu saja. Believe it or not, ketika mandi, ternyata airnya hangat..Sehabis mandi bukannya seger, tapi malahmakin gerah. Hanya daki dan keringat saja bisa hilangkan dari tubuh kita, selebihnya, hanya kegerahan.  Kipas angin sedikit menolong sih, tapi kalau lupa dimatiin, alhasil dijamin besoknya aku langsung masuk angin dan batuk pilek. Lengkap deh pokoknya mah! Panasnya poll..

                Ada sih beberapa hari dalam setahun di mana aku bisa merasakan kedinginan seperti di Bandung, kira-kira setelah tengah malam dan sebelum subuh lah, itu pun di luar ruangan. Di dalam ruangan mah, selama tidak ada ac tetep..gerahhh..!

                Selama hampir tujuh tahun di Cilegon, Alhamdulillah aku bisa beradaptasi dengan semua hal, pekerjaan baru, makanan, budaya Banten, bahasa Banten, kultur kerja orang Jepang, dan hampir semua hal. Hanya satu hal yang masih belum bisa kutanggulangi, bahkan sampai aku meninggalkan kota itu, yaitu cuaca panas dan kelembaban tinggi sepanjang tahun.

                Setelah pindah ke Qatar pun, tidak pernah kusangka, tak pernah kuduga, dan tak pernah kubayangkan sebelumnya kalau ternyata aku akan menghadapi panas dan lembab yang luar biasa. Ya iya lah, secara, aku tiba di Doha bulan Januari. Di sini masih musim dingin. Perpaduan antara dinginnya Rancaupas atau Ciwidey, dengan keringnya udara….aduhhh, di mana ya? (perasaan belum pernah mengalami udara kering kalau di Indonesia mah. :D).

Ternyata kita salah kostum! Kita malah siap-siap untuk musim panas, jadinya ya ngga bawa jaket lah. Di pikiran kita Negara Timur Tengah ya pasti panas. Dan pula ngga ada seorang pun yang ngasih tau kalau di Arab juga ada musim dingin..(ini mah ngeles). Padahal mah memang sedikit kurang inpo, karena sejak menginjakkan kaki di pesawat yang menari- nari di pikiran, dan menggantung di hati, serta terpencet-pencet di kalkulator cuma “gaji Qatar”, “gaji Qatar”, “gaji Qatar”..Dasar cowo matre!

 

Kembali ke pembahasan musim panas, saya tutup dengan dua kalimat untuk menggambarkan kondisi panas di dua kota yang pernah saya tempati selama beberapa tahun, dengan standar kondisi iklim di kota Bandung.

Kalau ingin tahu iklim Cilegon seperti apa, bayangkan saja tengah hari di Bandung, sodara-sodara duduk di teras, sambil ngakeul nasi (mengaduk-ngaduk nasi yang baru diangkat dari rice cooker atau penanak nasi).

Yang paling dramatis jelas di Qatar dong!

Jika ada yang nanya seperti apa Qatar di musim panas, jawab saja begini:

“Bayangkan diri kamu, tengah hari bolong, di terminal Leuwipanjang, berdiri di belakang knalpot bis Damri yang baru nyampe dari Ledeng atau Jatinangor, sambil meniupkan hair dryer yang menyala ke muka kamu, dilengkapi dengan pasir yang berterbangan, terus, jika kamu mandi, bayangkan saja jika kamu mandi dengan  air panas satu banding satu dengan air dingin!” Mantab kan? 😀

Tapi insyaallah, sepanas apa pun Qatar di musim panas, kita harus selalu tersenyum selebar mungkin… J HMMMMMM>>!

 Dan ingatlah angka- angka di slip gaji sesering mungkin…
 

Didaytea

Yang sangat bersyukur sekarang mah sudah bisa masang AC di rumah.. 😀

 

Rendang KW1 vs Rendang Original di Qatar

               Ketika masih sekolah di Bandung dulu, boro-boro beli nasi padang, tau aja ngga. Paling banter kalau maen ke anak kos-kosan di cidurian ya warteg Bu Naryo, yang “apapun bahannya, bumbunya selalu sama”  itu.. 😀

Sempet ngedenger sih, tapi kesan yang kudapat, nasi padang itu makanan muahal, harga satu porsinya bisa dua kali lipat makan di warteg bu Naryo.

Sampai akhirnya kukenal nasi padang, atau tepatnya masakan Padang, di Cilegon, tempatku membanting-banting tulang dan memeras-meras keringat selama hampir tujuh tahun. Masakan Padang tiba-tiba menjadi akrab dengan lidahku. Ya iya dong, secara, ibu kosku orang Padang. Tiada hari tanpa sambel balado. Telor rebus digoreng, toppingnya sambel balado. Goreng teri ikan asin, disiram sambal balado, ikan goreng jelas lah, langsung di selimuti oleh….Sambal Balado!

Tahun pertama, aku menjadi saksi dari sebuah proses memasak yang “menurutku” sangat dramatis dan spektakuler dari masakan Padang yang paling terkenal se alam dunya, Rendang.

Bagaimana tidak dramatis, perjalanan bahan- bahan masakan dari berbagai daerah, dari Dumai hingga Pasar Kapling Cilegon sampai menjadi sekilo rendang bisa memakan waktu hingga delapan jam. Ya! Delapan Jam sodara-sodara!

Dimulai dari membeli daging di pasar, sejak setelah subuh Ibu kosku sudah beranjak dari tempat tidurnya untuk memilih daging yang terbaik dan segar tentunya.

Jam tujuh pagi, sang Ibu kos sudah hang out di dapur, di depan kompor minyak tanah tua yang harus dinyalakan dengan sapu lidi yang dibakar korek api itu.

Tak bisa kugambarkan bagaimana dramatisnya proses itu karena diawali dengan mengulek, atau merendos semua bumbu menjadi satu dan memasukkan daging.

Dan bayangkan saja,Ibu kos harus duduk di atas jojodok, atau dingklik di depan kompor minyak tanah selama hampir enam jam. Apinya harus sekecil mungkin dan perjodohan antara daging dan bumbu rendang itu pun harus diaduk terus menerus, tanpa boleh berhenti sedetik pun.

Setelah hampir setengah hari proses ini berlangsung, rendang pun segera terhidang di atas meja makan. Aneh memang, warnanya coklat hampir kehitaman, berbeda dengan rendang di warung Padang yang berwarna coklat muda dan bumbunya masih berupa saus kental itu.

Dan akhirnya rendang yang pembuatannya super dramatis ini segera berpindah ke dalam perut penghuni rumah itu, licin tandas, tidak lebih dari setengah jam saja. Karena rasanya….HMMM…Maknyosss, plokncuy, towew towew, luar biasa, eumeezing, dan seterusnya dan sebagainya. Sungguh lezat luar biasa! Itulah rendang terenak yang pernah kurasakan seumur hidupku.

“Itu rendang asli kang, kalau rendang yang di warung-warung padang itu bikinnya hanya sebentar!” Kata Ibu kosku dengan wajah sumringah penuh kepuasan melihat aku dan teman kosku masih terkejut-kejut dan terbelalak kaget setelah menghabiskan rendangnya sampai ke tetes terakhir. 😀

Setelah aku berpisah dengan ibu kos, masakan Padang pun masih menjadi andalan. Muaro Talang dan Minang Jaya terus menjadi andalanku. Ada alasan lain sih sebenarnya, rumah makan Padang, entah kenapa, porsi bungkusnya lebih banyak, bisa untuk dua kali makan. Untuk anak kos yang nyambi kuliah sepertiku sih, itu bisa menghemat biaya makan. J

Setelah hampir tujuh tahun, aku pun terbang ke tengah gurun, di sebuah negara kecil nan kaya bernama Qatar, tetap dengan kegiatan yang sama, membanting-banting tulang dan memeras-meras keringat..hehehe..

Masakan padang hanya ada dua, Selera Indonesia di Wakrah dan Minang Indonesian Restaurant di Doha.

Untuk masalah rasa sih, ya, tidak begitu jauh lah dengan Muaro Talang dan Minang Jaya. Hanya harganya saja agak berbeda sedikit(sedikit jauh lebih mahal maksudnya, hehehe), kalau di Indonesia, enam ribu bisa dapet nasi+rendang, di Qatar, menu yang sama bisa berharga lima belas Riyal. Kalau di istilah parfum, rendang di Qatar mah termasuk golongan KW1..hehehe..

Hampir tujuh bulan aku tidak menemui rendang asli Padang di Doha ini. Pernah sih, dapet kiriman dari temenku yang orang Padang, tapi ternyata bahan bakunya bukan daging, tapi Jengkol.. 😀

Ini adalah masakan dari Jengkol yang terenak sedunia yang pernah kurasakan. Tekstur dan warnanya persis seperti “Rendang Original”, hanya berbeda rasa dan tentu saja “Aroma” Jengkol yang luar bisa khas. Ngga tega lah, tadinya mau diketik super mega bau luar biasa, tapi ngga jadi, takut ada yang terbayang-bayang sampai mimpi. 😀

O iya, ada temen yang ngasih bekal untuk umroh kemaren, alhamdulilah habis dalam sehari. Kurang puas sih, karena suasana makan yang agak kurang nyaman, karena di hotel ngga ada Microwave.

Hari ini kuputuskan untuk pergi ke Minang Indonesian Restaurant. Aku tahu resikonya susah parkir. Sangat susah malah, lebih susah mencari parkir di daerah Restoran Minang dari pada di Citi Center.

Selama mencari parkir, datanglah lelah, lesu, letoy, lungse, leuleus, lemah, lunglay, letoy, dan sedikit lebay, karena tadi matahari bersinar sangat terik, sehingga cahayanya serasa obor yang langsung memanggang kepalaku yang baru saja bergabung dengan the Botaks setelah umroh.

Akhirnya, dengan jurus pocket parking dari Karwa, kudapatkan parkir yang luar biasa sempit di dekat masjid di daerah Minang Restaurant.

Tapi…semua el yang kusebutkan tadi langsung hilang lenyap tak berbekas ketika suapan pertama rendang telah bersatu dengan nasi, daun singkong dan sambel hijo di atas sendok makanku, mampir di lidahku, dan langsung meluncur ke dalam kerongkonganku…Subhanalloh… Maknyosss, plokncuy, towew towew, luar biasa, eumeezing, dan seterusnya dan sebagainya. Sungguh lezat luar biasa! Itulah rendang (hampir) terenak yang pernah kurasakan seumur hidupku. (ini kalimat ulangan dari paragraf awal tadi..:D). Diriku yang ceking ini sampai habis dua porsi! Kata orang Sunda sih, termasuk warga RW06, alias rewog (rakus-red).

Di Qatar, selain orang Padang asli dan bisa memasak “Rendang Original” hanya di Minang Indonesian Restaurant. Walaupun rendangnya masih KW 1, tapi that is the best available restaurant whose rendang included on their menu.

Didaytea

Yang selalu ingin nambah kalau makan di Rumah Makan Padang… 😀

Biar Cepat Asal Selamat (4): Selamat Tinggal Sholat Belang Betong


Ibadahlah untuk beryukur dan berterima kasih kepada Allah, bukan sebagai beban rutinitas belaka

Sholat Belang Betong

Belang-betong, istilah yang untuk orang yang tidak berbahasa Sunda pasti akan terasa asing dan membuat dahi sedikit berkerenyit, karena kata-kata yang terdengar sangat aneh ini.

Belang-betong, oleh orang Sunda adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan ketidak-konsistenan seseorang dalam melakukan sesuatu. Sholat, puasa, menghadiri pengajian, sekolah, apapun yang seharusnya dilakukan secara rutin, tapi tidak.

Begitu jugalah kondisiku sebelum kelas tiga di sekolah. Aku bisa dikategorikan sebagai sibelang-betong. Karena saya hanya sholat jika sempat dan bisa (dalam pengertian saya waktu itu). Kalau sempat ya sholat, tapi kalaupun terlewat yaa sudahlah, besok juga kan masih ada waktu sholatmah.

Semoga saya diampuni.

Mendaftar SSG

Aa Gym belum begitu dikenal orang pada tahun 2000. Beliau masih terkenal di kalangan terbatas saja, terutama orang Bandung.  Orang yang datang ke pengajian rutinnya-Kamis malam dan Minggu pagi-pun masih belum banyak, jamaah tidak sampai memenuhi halaman mesjid.

Ini adalah kutipan penjelasan tentang Santri Siap Guna dari website pesantren Daarut Tauhid Bandung:

“Santri Siap Guna (SSG) Daarut Tauhiid, pada awal pendiriannya dicetuskan oleh K.H. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) pada tanggal 25 April 1999 yang pendekatan visinya lebih dititikberatkan sebagai pelayan masyarakat baik di bidang dakwah, ekonomi, maupun soslal kemasyarakatan.

Selaln itu, Santri Siap Guna juga disiapkan sebagai sarana pengkaderan dan pembinaan generasi muda mandiri yang mampu untuk menjadi motivator, stabilisator dan integrator bagi masyarakat. Santri Siap Guna Menuju Generasi Ahli Dzikir, Ahli Pikir, dan Ahli Ikhtiar.”

Ketika itu aku  masih kelas tiga, dan mulai mendengarkan ceramah- ceramah Aa Gym yang terdengar sangat “menyenangkan”, tidak penuh retorika seperti para ulama-ulama yang biasa saya dengarkan atau lihat sebelumnya.

Setelah beberapa bulan, aku pun mulai rutin mendatangi kajian di pesantren Daarut Tauhiid di Geger Kalong. Sejujurnya, itu pun karena diajak oleh teman-teman sebaya di lingkunganku  yang memang sudah lebih dahuu mengenal Aa Gym. Dan juga, ternyata ada “motivasi plus”. Kata mereka sih,cewek-cewek berjilbab yang cantik-cantik, atau kita sering menyebut mereka sebagai Akhwat-akhwat Ceria .Dasar anak sekolah!

Aku  putuskan untuk mendaftarkan diri, walaupun sih, awalnya hanya sekedar ikut-ikutan teman. Toh, pendaftarannya masih gratis, aku tidak akan merugi apa-apa selain waktu.

Kegiatan

Kegiatan selama pelatihan itu sih, tidak jauh berbeda dengan ekstra kurikuler di sekolah.  Yang istimewa, ya itu, ketika konsep Manajemen Qolbu-nya Aa Gym menjiwai hampir setiap orang yang terlibat di dalam pelatihan tersebut.

Hal yang paling pertama diajarkan adalah Ice Breaking. Kita diminta untuk membawa satu buah genteng dari rumah dan, di pelatihan disuruh untuk memecahkan geneng itu dengan tangan kosong secara bersama-sama. Ini untuk menghilangkan ketakutan dalam diri, membuat kita berani untuk memulai sesuatu yang kita anggap sulit dan mungkin juga tidak berhasil. Menumbuhkan inisiatif dan kemauan untuk berbuat. Itu hikmah yang paling tepat kurasa.

Apa Yang Paling Berkesan?

Apa sih, yang didapatkan di pelatihan SSG itu?

Aku hanya menghadiri dua bulan saja pelatihan dari empat bulan yang diajarkan.

Pelatihan ini berlangsung dua hari seminggu, dari sabtu sore sampai minggu sore. Rutinitasnya sih, tidak jauh berbeda dengan ekstra kulikuler di sekolah seperti Pramuka, PKS, dan PMR. Tentu saja SSG lebih lengkap, karena memberikan juga materi Team Building, Problem Solving, P3K, di samping materi standar lainnya seperti mengaji, atau kita dilibatkan sebagai sukarelawan jika ada kegiatan yang melibatkan orang banyak di pengajian.

Yang istimewa, ya itu, ketika konsep Manajemen Qolbu-nya Aa Gym menjiwai hampir setiap orang yang terlibat di dalam pelatihan tersebut.

Hal yang paling  pertama diajarkan adalah Ice Breaking. Kita diminta untuk membawa satu buah genteng dari rumah dan, di pelatihan disuruh untuk memecahkan geneng itu dengan tangan kosong secara bersama-sama. Ini untuk menghilangkan ketakutan dalam diri, membuat kita berani untuk memulai sesuatu yang kita anggap sulit dan mungkin juga tidak berhasil. Menumbuhkan inisiatif dan kemauan untuk berbuat. Itu hikmah yang paling tepat kurasa.

Yang paling berkesan buatku sih sebenarnya bukan pelatihan-pelatihan seperti ekstrakulikuler di sekolah-sekolah.

Yang benar-benar membuat perubahan besar dalam diriku adalah sesi jeda di antara kegiatan-kegiatan yang sudah dilakukan.

Setiap selesai melakukan kegiatan, akan diadakan sesi “Apa Yang Paling Berkesan?”

Para peserta akan ditanya terlebih dahulu, apa hikmah apa yang bisa diambil dari kegiatan ang sudah dilakukan oleh mereka beberapa saat sebelumnya. Biasanya sih yang menjadi pemandu sesi ini adalah Abdurahman Yuri, adik Aa Gym yang akrab disapa A Deda. Ternyata dia jauh lebih humoris dibandingkan Aa Gym. Padahal, Aa Gym saja kan sudah sangat sering bercanda untuk menghilangkan jarak antara “ulama dan umat” ketika sedang berceramah. A Deda, memberikan pendekatan yang lebih “segar”,cenderung ke arah lebih humoris. Mungkin karena beliau lebih muda dari Aa Gym.

Aa Gym juga mempunyai porsi tersendiri di pelatihan SSG. Biasanya beliau yang memimpin apel pertama di Sabtu sore, dan apel penutupan di Minggu sore. Serasa mimpi, biasanya aku hanya mendengar beliau di radio, kali ini aku bisa bertemu dan bertatap muka langsung dengan beliau minimal dua kali seminggu.

Tidak jauh berbeda dengan A Deda, materi yang diberikan oleh Aa Gym tidak jauh dari hikmah yang kita dapatkan dari pelatihan yang sudah dilalui minggu itu.

Jika ada acara bersama A Deda, kita akan mendapat kesan seperti sedang menonton campuran antara kelompencapir dan srimulat, karena pasti selalu berlangsung ramai dengan diskusi dan acungan tangan peserta yang ingin mengungkapkan pendapatnya untuk menjawab pertanyaan “Apa Yang Paling Berkesan?”

Paradigma Baru

Paradigma baru, ini yang paling berkesan selama menjalani pelatihan SSG. Setelah beberapa pertemuan, kita sudah mulai terbiasa dengan bertanya kepada diri sendiri: “Apa Yang Paling Berkesan Hari Ini?

Perubahan paradigma lain yang terjadi pada pikiranku adalah paradigma tentang ibadah dan tentang melakukan kebaikan.

Apa yang kita lakukan akan berbalik kepada diri kita sendiri, baik kebaikan atau pun keburukan.

Apa pun yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari ternyata bisa menjadi ladang amal untuk kita, semuanya hanya masalah niat saja. Ibadah tidak sebatas hanya sholat, puasa, zakat, sedekah dan haji.

Ibadah Untuk Bersyukur

Sebelum pelatihan, sholatku masih belang-betong, kadang- kadang masih bisa meninggalkan sholat dengan alasan yang tidak terlalu penting, seperti kesiangan bangun, ada tugas sekolah, atau membuat laporan praktikum.

Di pelatihan itu , aku sama sekali tidak pernah mendapat kalimat perintah: “Sholatlah kamu lima kali sehari!” Atau “Kamu harus sholat tahajud setiap hari!”. Yang ada hanya teladan dari para pelatih, santri dan ustadz yang memberi pelatihan dengan langsung memberi aksi dan mencontohkan.

Pemicu utama, ketika akhirnya aku bisa dan mau melakukansholat lima waktu tanpa merasa dipaksa, ternyata adalah isi dari salah satu ceramah Aa Gym ketika mengisi materi di SSG.

“Allah sama sekali tidak memerlukan sholat dan ibadah kita!” Ujar beliau dengan penuh semangat.

“Jika kita hanya menganggap sholat dan ibadah yang lain hanya sebatas rutinitas dan kewajiban, kita pasti akan jenuh, bosan, dan merasa terbebani ketikamelakukannya, tapi jika kita melakukan ibadah sebagai ungkapan rasa syukur kita, rasa terima kasih kita kepada Allah, yang tidak pernah berhenti memberikan semua yang kita perlukan tanpa kita minta!” Beliau menambahkan dengan lebih berapi-api, dengan kobaran mata yang membara, layaknya api yang ikut membakar semua yang mendengar untuk segera memutuskan hari itu juga, untuk merubah paradigma.

Ya! Paradigma baru,  bahwa kita melakukan ibadah untuk menunjukkan rasa syukur dan terima kasih kita kepada Allah. Bukan sebatas rutinitas belaka.

Terlepas dari apa yang sedang dibicarakan orang tentang Aa Gym sekarang,dan aku juga tidak begitu sering lagi mendengar atau melihat ceramahnya,  tapi setidaknya aku ingat, beberapa tahun yang lalu, beliau pernah mendapatkan gelar Tokoh Perubahan dari Republika.

Dan terbukti, akhirnya semenjak hari itu, aku tidak pernah berani meninggalkan sholat. Bahkan, aku jadi lebih sering sholat berjamaah di mesjid dekat rumahku.

Tahajud  pun, yang tidak pernah aku bayangkan akan kulakukan, ternyata bisa kulakukan dengan ringan, tanpa beban ngantuk, atau malas, ataupun perasaan berat.

Kuncinya hanya satu. Ya itu tadi, hanya tinggal merubah pikiran kita ke mode “bersyukur”, bukan ke mode “harus melakukan”.

Kalaupun  , setelah beberapa tahun berlalu dan ternyata aku tidak segiat dan serajin dahulu, itu adalah semata disebabkan oleh diriku sendiri.

Uang Yang Habis Untuk Kepentingan Belajar Adalah Investasi, Bukan Konsumsi

Satu lagi paradigma baru yang kudapat selama dipelatihan itu. Sebelumnya, aku masih memiliki paradigma secara umum, bahwa membeli buku adalah konsumsi, bagian dari sebuah pemborosan. Untuk beberapa kasus sih memang seperti itu, karena aku masih sekolah dan belum mempunyai penghasilan.

Cerita yang paling berkesan adalah ketika ada seorang pengusaha, dia biasa saja, tidak terlalu kaya atau pun sangat sukses. Suatu hari dia melihat iklan dari sebuah pelatihan di koran. Biaya pelatihan ini, sangat mahal, sekitar tujuh puluh lima juta. Ya! Tujuh puluh lima juta rupiah, hanya untuk training selama tiga hari.

Teman, sudara, bahkan keluarganya berpikir dia gila, sableng, sinting, ngga waras, dan sebagainya dan seterusnya, mencela dia kenapa bisa “sebodoh” itu menghabiskan uang untuk sebuah pelatihan yang hanya tiga hari.

Orang ini tetap pantang mundur dan akhirnya mengikuti pelatihan seharga tujuh puluh lima juta ini. Yang mengikuti training ini pun ternyata hanya beberapa orang. Karena mahal dan belum banyak orang yang mengerti dan tahu mengenai materi training ini.

Sepulang pelatihan, sikap mereka tetap sama.

Sampai akhirnya, dimulai beberapa minggu setelah training yang super mahal itu, orang ini tiba-tiba menerima beberapa undangan seminar dari sebuah universita ternama. Dia diundang sebagai pembicara, karena pihak universitas tersebut menerima rekomendasi dari perusahaan yang mengadakan pelatihan untuk mengundang orang ini.

Dan ternyata,   untuk berbicara satu jam saja, orang ini diberi honor setidaknya tiga puluh juta. Ya! Tiga puluh juta hanya untuk berbicara dan presentasi selama satu jam saja.

Akhirnya tidak sampai satu minggu, uang yang tujuh puluh lima juta itu telah balik modal dan sudah untung puluhan juta!

Kelak, di masa depan, kisah yang luar biasa itu akhirnya malah terjadi juga pada diriku, seperti yang kutulis di Dialog Lima Belas Juta. Terbukti bahwa uang yang dibelanjakan buku, dan “membeli” ilmu, akan mendatangkan keuntungan yang luar biasa besar.

Bersambung…

Biar Cepat Asal Selamat (3): Quantum Learning

Bagian 3: Quantum Learning

Membaca seperti bermain ski, akan sulit mencapai tujuan dan mengalami kesulitan jika dilakukan dengan lambat

Buku Yang Aneh

Aku masih terduduk kelelahan sehabis menyelesaikan praktikum yang paling menyita waktu dan energiku, ketika dua orang  temanku duduk di sebelahku sambil berebut sebuah buku.

Selintas, aku bisa melihat judul buku tersebut: “Quantum Learning”. Learning kan artinya belajar, kalau Quantum aku sih belum begitu memahami artinya. Mendengar pun sangat jarang. Yang terlintas di dalam pikiranku ketika itu sih, serial Quantum Leap, yang menceritakan seorang laki-laki yang melompat-lompat dari kehidupan seseorang ke kehidupan orang lain, dengan menjadi orang tersebut.

“Maaf, boleh saya tahu judul bukunya?” Sapaku kepada dua gadis berjilbab yang sedang asyik berebut untuk membaca buku tersebut.

“Sepertinya buku itu sangat menarik ya, sampai kalian harus berebut untuk membacanya?” Tanyaku lagi.

Mereka langsung berhenti, seolah-olah baru menyadari bahwa ada orang di dekat mereka.

“Iya Kang, buku ini bagus banget!” Jawab salah satu dari mereka yang berusaha mempertahankan buku itu dari temannya.

“Dia curang tuh, harusnya aku dulu yang minjem buku itu!” Jawab yang satunya lagi.

Setelah beberapa saat aku perhatikan, mereka pun akhrinya terdiam, dan mengakhiri “perebutan” buku tersebut.

“Buku itu memangnya bukan milik salah satu di antara kalian?” Tanyaku keheranan.

“Bukan, Kang, ini milik teman satu kelas kami”. Jawab salah satu dari mereka.

“Boleh saya lihat sebentar bukunya?” Pintaku.

“Iya, sok, silahkan!” Katanya sambil menyodorkan tangannya yang memegang buku itu.

 

Buku itu pun berpindah tangan.

 

Judul buku itu Quantum Learning, ditulis Oleh Bobbi DePorter dan Mike Hernacki.

Ternyata buku itu terlihat aneh. Desain sampul yang tidak umum, dan desain lay-out buku itu sangat menarik. Sangat berbeda dari buku-buku pada umumnya. Buku ini “aneh” Karena tidak melulu hanya teks, tetapi di beri ilustrasi yang sangat menarik juga. Halaman sebelah kiri selalu merupakan gambar dan tulisan yang disertai ilustrasi dengan ukuran besar-besar. Sedangkan halaman kiri adalah penjelasan dari gambar dan ilustrasi dari halaman sebelah kiri. Walaupun penuh gambar dan ilustrasi, buku ini tidak tampak seperti buku untuk anak-anak. Banyak gambar dan ilustrasi di dalam buku itu adalah diagram, tetapi disajikan layaknya komik.

 

Aku hanya membaca sekilas tulisan dari si penulis: “Jika anda hanya mempunyai sedikit waktu untuk membaca buku ini, bacalah hanya halaman sebelah kiri, halaman yang hanya berupa gambar. Mereka akan memiliki isi yang kurang lebih sama dengan halaman sebelah kanan.

 

Karena waktuku sangat sedikit, jadi aku langsung membuka daftar isinya.

 

Dan, AHA! Ada satu bab yang sangat menarik buatku. Bab tentang membaca cepat.

 

Diriku sudah hampir tenggelam ke dalam gambar-gambar dan ilustrasi yang sangat menarik di dalam buku itu ketika tiba- tiba saja aku terkaget oleh tepukan halus dipundakku.

 

“Akang! Sudah dong baca bukunya. Kita juga kan mau baca!” Ujar salah satu dari mereka.

 

“Ehh, iya, maaf, maaf, soalnya buku ini bagus banget. Isinya ngga membosankan!” Jawabku sambil mesem-mesem dan menyodorkan buku itu kembali kepada mereka.

 

Kutemukan Ilmu Baru

Seperti diinstruksikan, yang aku baca hanya halaman sebelah kiri saja. Hanya dua poin penting saja yang aku bisa ingat dari bab itu: Tentang pandangan feriferal dan analogi membaca yang diungkapkan oleh si penulis buku tersebut.

 

Pandangan Feriferal

Pandangan periferal adalah luas area yang masih terlihat jelas di sekitar titik fokus mata anda.

 

Contoh yang sangat sederhana, jika anda melihat sebuah keramaian, dan anda memfokuskan pandangan pada salah satu orang. Luas area yang masih bisa anda kenali dengan baik, tanpa harus menggerakkan leher ataupun memmindahkan fokus mata anda, itulah pandangan periferal anda.

 

Semakin luas area ini, maka semakin baguslah kualitas pandangan periferal anda.

 

Dalam konteks membaca, daripada membaca kata perkata atau bahkan huruf per huruf, ternyata ada cara sederhana untuk langsung menambah kecepatan membaca kita. Kita hanya tinggal “menjatuhkan” fokus pada titik- titik kosong di antara kata-kata. Walaupun anda tidak pernah melatihnya, minimal dua kata akan langsung terbaca.

Intisari inilah yang aku betul-betul bisa praktekkan dari buku Quantum Learning.

 

Membaca=Bermain Ski

Pernahkah anda melihat orang yang bermain ski? Setidaknya melalui televisi? Anggap saja jawaban anda semua adalah Ya!

 

Apakah ada pemaiin ski yang meluncur dengan perlahan, selangkah demi selangkah, meluncur dari puncak bukit ke dasar lembah arena ski?

 

Apakah mungkin bermain ski tetapi anda melaju pelan?

 

Bagaimana pergerakan pemain ski ketika meluncur cepat di atas salju?

 

Pertanyaan- pertanyaan itu yang diutarakan oleh si penulis di dalam salah satu halaman ilustrasi yang aku baca.

Pemain ski akan meluncur dengan sangat cepat di atas salju, dari atas bukit ke dasar lembah arena ski, dengan melakukan pergerakan yang menyerupai huruf “S” yang terpelintir. Itu adalah jawaban dari pertanyaan- pertanyaan dari si penulis.

 

Bobbi DePorter menganalogikan bahwa kegiatan membaca memiliki “sifat” yang sama dengan bermaiin ski. Jika dilakukan secara perlahan, tidak akan mampu memberikan hasil yang maksimal dan optimal.

 

Kita akan sering mentok, sehingga memerlukan energi dan waktu tambahan untuk sekedar memulai kembali “meluncur”.

 

Dengan mengintegrasikan pandangan periferal dan konsep membaca=bermain ski, akhirnya kutemukanlah skill baru, membaca cepat. Dengan ukuran kasar kecepatan membacaku sebelum mempraktekkan ilmu ini tidak jauh berbeda seperti orang lain, berada di kisaran angka 200-300 kata per menit.

 

Setelah mempraktekkannya, dalam waktu beberapa jam saja, rata- rata kecepatan membacaku sudah meningkat pesat menjadi 600-700 kata per menit!

 

Dan Alhamdulillah, proses “penginstallan” kemampuan yang berlangsung sangat singkat ini ternyata menjadi kunci utama dari perubahan-perubahan besar yang terjadi di dalam kehidupanku sampai saat buku ini ditulis.

 

Berburu Buku Quantum Learning

Aku lupa berapa harga buku itu tepatnya, yang jelas sih, pada waktu itu rasa- rasanya tidak mungkin aku bisa membeli buku semahal itu.

 

Perpustakaan Daerah Jawa Barat pun menjadi solusinya.

 

Sebelumnya aku sudah menjadi anggota, tapi yang aku baca sih paling- paling sebatas komik yang lucu-lucu dan seru-seru semacam Kenji, Doraemon, Kung Fu Boy, dan teman-temannya. Aku ingin menghilangkan kejenuhan belajar di sekolahku dengan bersantai dan membaca hal-hal yang lucu dan menyenangkan saja ketika itu. Atau meminjam buku- buku untuk bahan mengerjakan tugas dari sekolah saja. Aku tidak pernah terpikir untuk menyengajakan diri meminjam buku-buku “serius” seperti sastra novel.

 

Kali ini aku serius, ingin meminjam buku yang sebenarnya sih serius juga, walau kali ini buku ini aku bilang sih cenderung menyenangkan, karena aku langsung bisa mendapatkan kemampuan baru yang efeknya ternyata lumayan hebat.

 

Beberapa waktu setelah itu, aku baru tahu ternyata buku-buku ini dikategorikan sebagai buku- buku How-To. Buku- buku yang berisi panduan- panduan untuk melakukan hal- hal di dalam kehidupan sehari- hari manusia.

 

Kembali ke proses “perburuan” buku.

 

Banyak anggota perpustakaan daerah yang berminat untuk meminjam buku tersebut, sehingga walaupun ada beberapa buku yang disediakan, tetap saja buku itu selalu tidak ada di dalam rak kategoriHow-To. Dan ada ketentuan lain, tidak seperti buku yang lain, yang bisa diperpanjang masa peminjamannya lebih dari dua minggu, tidak dengan buku ini. Buku ini hanya boleh dipinjam satu periode, hanya dua minggu saja.

 

Setelah beberapa kali datang, dan sempat pula berebut dengan aggota yang lain, akhirnya aku pun berhasil meminjam buku tersebut.

 

Kali ini aku benar- benar memfokuskan diri untuk membaca buku ini. Aku hanya fokus pada bab Membaca Cepat.

Alhamdulillah, setelah dua minggu aku mendalami dan berlatih dengan petunjuk buku tersebut, kemampuanku meningkat semakin pesat.

Kecepatan membacaku yang tadinya 600-700 kata per menit, kini melaju semakin kenjang dengan kecepatan maksimal yang pernah kucatat adalah 1346 kata per menit!

 

Berhasil, Berhasil!

Aku memiliki kelemahan di beberapa mata pelajaran yang memerlukan pemahaman(selain Matematika dan Fisika tentunya). Kalau orang lain bisa memahami sebuah subyek dengan hanya dua kali membaca, aku harus 3 atau 4 kali membaca untuk mendapatkan pemahaman yang sama dengan mereka. Ternyata kemampuan membaca cepatku sangat membantu.

 

Nilai- nilai ujianku mulai meningkat seiring waktu aku mempraktekkan ilmu baruku untuk belajar.

Sangat wajar, karena dengan  kecepatan membacaku, aku mempunyai waktu yang lebih banyak dibanding orang lain untukku melakukan proses review dan menganalisa jawaban dari soal-soal ujian yang diberikan.

Walaupun tidak sampai menjadi bintang kelas, tapi Alhamdulillah peringkatku tidak berada di kelas “menengah ke bawah” di antara teman-teman sekelasku.

 

Kelak, kemampuan baruku ini, yang walau sampai saat ini pun belum aku kuasai sepenuhnya,-dalam pengertian aku bisa mencapai pengertian yang baik dan menyeluruh hanya dengan sekali membaca tulisan-akan menjadi penolong terbesarku ketika aku menghadapi kesulitan dan kondisi yang aku tidak akan pernah mau mengalaminya lagi.

 

 

Bersambung..

www.didaytea.com