Rendang KW1 vs Rendang Original di Qatar


               Ketika masih sekolah di Bandung dulu, boro-boro beli nasi padang, tau aja ngga. Paling banter kalau maen ke anak kos-kosan di cidurian ya warteg Bu Naryo, yang “apapun bahannya, bumbunya selalu sama”  itu.. 😀

Sempet ngedenger sih, tapi kesan yang kudapat, nasi padang itu makanan muahal, harga satu porsinya bisa dua kali lipat makan di warteg bu Naryo.

Sampai akhirnya kukenal nasi padang, atau tepatnya masakan Padang, di Cilegon, tempatku membanting-banting tulang dan memeras-meras keringat selama hampir tujuh tahun. Masakan Padang tiba-tiba menjadi akrab dengan lidahku. Ya iya dong, secara, ibu kosku orang Padang. Tiada hari tanpa sambel balado. Telor rebus digoreng, toppingnya sambel balado. Goreng teri ikan asin, disiram sambal balado, ikan goreng jelas lah, langsung di selimuti oleh….Sambal Balado!

Tahun pertama, aku menjadi saksi dari sebuah proses memasak yang “menurutku” sangat dramatis dan spektakuler dari masakan Padang yang paling terkenal se alam dunya, Rendang.

Bagaimana tidak dramatis, perjalanan bahan- bahan masakan dari berbagai daerah, dari Dumai hingga Pasar Kapling Cilegon sampai menjadi sekilo rendang bisa memakan waktu hingga delapan jam. Ya! Delapan Jam sodara-sodara!

Dimulai dari membeli daging di pasar, sejak setelah subuh Ibu kosku sudah beranjak dari tempat tidurnya untuk memilih daging yang terbaik dan segar tentunya.

Jam tujuh pagi, sang Ibu kos sudah hang out di dapur, di depan kompor minyak tanah tua yang harus dinyalakan dengan sapu lidi yang dibakar korek api itu.

Tak bisa kugambarkan bagaimana dramatisnya proses itu karena diawali dengan mengulek, atau merendos semua bumbu menjadi satu dan memasukkan daging.

Dan bayangkan saja,Ibu kos harus duduk di atas jojodok, atau dingklik di depan kompor minyak tanah selama hampir enam jam. Apinya harus sekecil mungkin dan perjodohan antara daging dan bumbu rendang itu pun harus diaduk terus menerus, tanpa boleh berhenti sedetik pun.

Setelah hampir setengah hari proses ini berlangsung, rendang pun segera terhidang di atas meja makan. Aneh memang, warnanya coklat hampir kehitaman, berbeda dengan rendang di warung Padang yang berwarna coklat muda dan bumbunya masih berupa saus kental itu.

Dan akhirnya rendang yang pembuatannya super dramatis ini segera berpindah ke dalam perut penghuni rumah itu, licin tandas, tidak lebih dari setengah jam saja. Karena rasanya….HMMM…Maknyosss, plokncuy, towew towew, luar biasa, eumeezing, dan seterusnya dan sebagainya. Sungguh lezat luar biasa! Itulah rendang terenak yang pernah kurasakan seumur hidupku.

“Itu rendang asli kang, kalau rendang yang di warung-warung padang itu bikinnya hanya sebentar!” Kata Ibu kosku dengan wajah sumringah penuh kepuasan melihat aku dan teman kosku masih terkejut-kejut dan terbelalak kaget setelah menghabiskan rendangnya sampai ke tetes terakhir. 😀

Setelah aku berpisah dengan ibu kos, masakan Padang pun masih menjadi andalan. Muaro Talang dan Minang Jaya terus menjadi andalanku. Ada alasan lain sih sebenarnya, rumah makan Padang, entah kenapa, porsi bungkusnya lebih banyak, bisa untuk dua kali makan. Untuk anak kos yang nyambi kuliah sepertiku sih, itu bisa menghemat biaya makan. J

Setelah hampir tujuh tahun, aku pun terbang ke tengah gurun, di sebuah negara kecil nan kaya bernama Qatar, tetap dengan kegiatan yang sama, membanting-banting tulang dan memeras-meras keringat..hehehe..

Masakan padang hanya ada dua, Selera Indonesia di Wakrah dan Minang Indonesian Restaurant di Doha.

Untuk masalah rasa sih, ya, tidak begitu jauh lah dengan Muaro Talang dan Minang Jaya. Hanya harganya saja agak berbeda sedikit(sedikit jauh lebih mahal maksudnya, hehehe), kalau di Indonesia, enam ribu bisa dapet nasi+rendang, di Qatar, menu yang sama bisa berharga lima belas Riyal. Kalau di istilah parfum, rendang di Qatar mah termasuk golongan KW1..hehehe..

Hampir tujuh bulan aku tidak menemui rendang asli Padang di Doha ini. Pernah sih, dapet kiriman dari temenku yang orang Padang, tapi ternyata bahan bakunya bukan daging, tapi Jengkol.. 😀

Ini adalah masakan dari Jengkol yang terenak sedunia yang pernah kurasakan. Tekstur dan warnanya persis seperti “Rendang Original”, hanya berbeda rasa dan tentu saja “Aroma” Jengkol yang luar bisa khas. Ngga tega lah, tadinya mau diketik super mega bau luar biasa, tapi ngga jadi, takut ada yang terbayang-bayang sampai mimpi. 😀

O iya, ada temen yang ngasih bekal untuk umroh kemaren, alhamdulilah habis dalam sehari. Kurang puas sih, karena suasana makan yang agak kurang nyaman, karena di hotel ngga ada Microwave.

Hari ini kuputuskan untuk pergi ke Minang Indonesian Restaurant. Aku tahu resikonya susah parkir. Sangat susah malah, lebih susah mencari parkir di daerah Restoran Minang dari pada di Citi Center.

Selama mencari parkir, datanglah lelah, lesu, letoy, lungse, leuleus, lemah, lunglay, letoy, dan sedikit lebay, karena tadi matahari bersinar sangat terik, sehingga cahayanya serasa obor yang langsung memanggang kepalaku yang baru saja bergabung dengan the Botaks setelah umroh.

Akhirnya, dengan jurus pocket parking dari Karwa, kudapatkan parkir yang luar biasa sempit di dekat masjid di daerah Minang Restaurant.

Tapi…semua el yang kusebutkan tadi langsung hilang lenyap tak berbekas ketika suapan pertama rendang telah bersatu dengan nasi, daun singkong dan sambel hijo di atas sendok makanku, mampir di lidahku, dan langsung meluncur ke dalam kerongkonganku…Subhanalloh… Maknyosss, plokncuy, towew towew, luar biasa, eumeezing, dan seterusnya dan sebagainya. Sungguh lezat luar biasa! Itulah rendang (hampir) terenak yang pernah kurasakan seumur hidupku. (ini kalimat ulangan dari paragraf awal tadi..:D). Diriku yang ceking ini sampai habis dua porsi! Kata orang Sunda sih, termasuk warga RW06, alias rewog (rakus-red).

Di Qatar, selain orang Padang asli dan bisa memasak “Rendang Original” hanya di Minang Indonesian Restaurant. Walaupun rendangnya masih KW 1, tapi that is the best available restaurant whose rendang included on their menu.

Didaytea

Yang selalu ingin nambah kalau makan di Rumah Makan Padang… 😀

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s