Bangun Tidur Inget Apa?

Bangun Tidur Inget Apa

 

Oleh: Diday Tea

 

Pernah ngga sih, temen-temen mengalami hari di mana kita merasa kalau semua yang kita lakukan tidak ada yang berhasil?

Pernah ngga sih, temen-temen mengalami hari di mana ketika perasaan sama sekali tidak nyaman di aktifitas apa pun?

Pernah ngga sih, temen-temen mengalami hari ketika hal sekecil apa pun bisa memicu kemurkaan yang meletus seperti gunung berapi yang memuntahkan laarnya hingga ke seberang lautan? Hari yang super sensi abis.

Hari yang gagal total.

Hari penuh kebingungan dan keputusasaaan.

Hari yang galau suralau kata orang Sunda mah.

Gagal secara fisik dan gagal juga secara kejiwaan.

Hari yang melelahkan tanpa ada pencapaian apa pun.

Hari yang menyedot habis energi fisik dan pikiran kita, tanpa ada secuilpun manfaat dan kebaikan yang bisa kita ambil.

Kalau saya sih sejujurnya sering.

Ternyata penyebabnya mungkin adalah hadits ini:

“Barangsiapa yang bangun di pagi hari dan hanya (harta) dunia yang dipikirkannya,sehingga seolah-olah ia tidak melihat hak Allah dalam dirinya maka Allah akan menanamkan 4 penyakit di dalam dirinya: Kebingungan yang tiada putus-putusnya, kesibukan yang tidak pernah ada ujungnya,kebutuhan yang tidak pernah terpenuhi, keinginan yang tidak akan pernah tercapai.”(H.R. Imam Thabrani)

Apa sih yang kita ingat pertama kali pada detik pertama ketika kita tiba kembali ke dunia nyata dari dunia mimpi?

Do’a bangun tidur?

Atau, cicilan hutang yang jatuh tempo?

Peer yang belum selesai?

Atau presentasi yang hari ini akan anda lakukan di depan para manager kantor di tempat anda bekerja?

Ini juga adalah pengingat untuk saya sendiri yang masih sering lalai dan menjadi contoh paling nyata dari hadits yang sangat makjleb itu.

Tanyalah ini ke hati nurani anda setiap bangun tidur, dan teruslah memohon perlindungan kepada Allah agar dilindungi dari empat penyakit yang ada di dalam hadits yang tadi dikutip.

Jangan pernah melewatkan do’a sebelum tidur dan do’a bangun tidur, bergegaslah sholat malam semampunya jika masih ada waktu, seretlah diri anda yang digelayuti beban kemalasan untuk melangkah ke mesjid.

Sehingga, hari itu dan hari-hari selanjutnya sepanjang hayat anda adalah hari yang anda awali dengan luar biasa.

Insyaallah.

Doha, 26 Oktober 2018

#day6 #30dwcjilid15 #30dwcjilid15squad7 #30dwc

 

 

Di Balik Kekurangan Ada Kelebihan

Oleh: Diday Tea

Saya berbicara terlalu cepat, dan sedikit gagap, seringkali teman- teman, dan bahkan istri pun mengeluh bahwa mereka tidak bisa mengerti apa yang saya ucapkan. Karena menurut mereka saya berbicara terlalu cepat dan seperti orang yang meracau.

Padahal sudah saya coba untuk berbicara sepelan mungkin. Tapi dengan bicara pelan seperti itu masalah baru timbul.

Saya malah sering tergagap.
Akhinya ya di beberapa situasi yang genting malah jadi permasalahan yang lumayan besar.

Setiap ada kesempatan yang mengharuskan saya berbicara di depan umum, selain gugup, dan kegagapan saya itu sering menjadi penghalang.

Qodarullah, setelah saya mengikuti kelas menulis Rumah Dunia, yang waktu itu dipimpin oleh mas Gol A Gong, penulis Balada Si Roy, akhirnya saya menemukan kemampuan baru.

Menulis.

Dan digabungkan dengan kemampuan membaca cepat yang sudah saya pelajari sejak masih berseragam Putih-Abu, semakin meningkatkan kemampuan menulis saya.

Tulisan-tulisan pun mulai mengalir lancar di blog pribadi saya (www.didaytea.com) , website, Facebook, dan beberapa mailing list komunitas.

Saya bisa lebih bisa “berbicara” dengan tulisan-tulisan saya dibanding lisan saya yang memang mungkin kegagapannya sangat sulit untuk disembuhkan.

Dan salah satu tulisan saya tentang dunia literasi pun akhirnya bisa dimuat di Koran Tempo. Dan puncaknya, akhirnya tulisan-tulisan saya pun terkumpul menjadi dua buku yang diterbitkan oleh penerbit Quanta Elexmedia. “Oase Kehidupan Dari Padang Pasir”, dan “Apa Yang Paling Berkesan Hari Ini?”.

Allah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan.

Begitu juga dengan kita. Setiap kekurangan yang kita miliki, pasti ada kompensasi kelebihan yang Allah berikan, datangsatu paket bersamaan dengan kekurangan itu.

Masalahnya hanya kita belum menemukan, dan mungkin terlalu fokus meratapi dan mengeluhkan kekurangan tersebut.

Biarkanlah kekurang itu apa adanya jika belum atau tidak bisa diperbaiki.

Cobalah temukan, dan gali potensi diri dengan lebih sering berfikir mendalam, menyelami diri ketika bermunajat sendiri di sepertiga malam terakhir.

Insyaallah Allah akan segera memberikan petunjuk dan tanda yang luar biasa.

Petunjuk kelebihan yang Allah berikan kepada kita agar bisa menjadi manusia yang lebih bermanfaat untuk manusia-manusia lain di muka bumi.

Insyaallah.

Doha, 25 Oktober 2018
#Day 5 #30dwcjilid15 #30dwc #fighter

Tidak Punya Waktu?

Sebaik-baik Manusia

 

Oleh: Diday Tea

 

“Saya tidak punya waktu!”

Itu adalah alasan klasik dari orang-orang pemalas. Baik pemalas duniawi atau pemalas ukhrowi. Pemalas urusan dunia, atau pun pemalas urusan akhirat.

Buat saya, itu adalah pernyataan yang sangat bisa dibantah. Bagaimana bisa dia tidak punya waktu? Setiap orang, tanpa kecuali, pasti diberi “jatah” yang sama, dua puluh empat jam per harinya. Orang-orang besar di dunia ini memiliki jatah waktu yang sama, dua puluh empat jam. Orang-orang biasa seperti kita pada umumnya juga tentunya memiliki jatah waktu yang sama tanpa berbeda sedikit pun.

Perbedaaan mereka dengan kita orang-orang yang biasa-biasa saja ini hanyalah takdir Allah dan bagaimana mereka mengatur waktu mereka.

Ada orang yang dalam waktu dua puluh empat jam bisa mengurus negara.

Tapi ada juga orang, dengan jatah waktu yang sama mengurus dirinya sendiri tidak bisa.

Ada orang yang jauh lebih sibuk dari kita tapi dia bisa membaca minimal satu Juz Al Qurán, tapi ada orang yang sekedar mendirikan sholat tepat waktu saja sudah berjuang mati-matian. Dengan alasan itu tadi, “sibuk”.

Masalah sesungguhnya bukan pada jumlah waktu yang tersedia, akan tetapi melulu hanya kemalasan dan kekurangmampuan untuk mengelola waktunya dengan benar.

Ada konglomerat yang sejak baligh sampai sekarang hampir tidak pernah melewatkan sekali pun sholat Dhuha.

Tapi ada orang-orang yang secara duniawi juga kesusahan, tapi boro-boro sholat Dhuha, sholat wajib pun kadang terlewatkan.

Ada pengacara kondang yang sudah sejak pagi-pagi buta memulai aktifitas dan seharian bisa mengurus urusan klien seabrek-abrek. Tapi ada juga orang biasa saja yang bangun tidur pagi saja sudah merupakan keajaiban.

Ada ulama besar yang setiap perjalanan ke luar kota pasti bisa menyelesaikan satu naskah buku untuk umat, tapi ada juga orang yang bermimpi menjadi penulis, tapi selalu menyalahkan kesibukan dan kegiatan sebagai alibi kemalasan dirinya untuk menulis setiap hari.

Mereka adalah yang belum bisa mengatur skala prioritas.

Dan malas.

Penyebab utama seseorang menjadi malas untuk memasuki “dunia baru”, atau mempelajari sesuatu yang baru, atau belajar, adalah kurangnya motivasi. Ketika seseorang sudah berada di dalam zona nyaman di dalam kehidupannya, akan semakin kurang pula keinginannya untuk belajar.

Padahal, Kata Jim Collins, yang dikutip oleh Rhenald Kasali dalam bukunya, Change! “Good is The Enemy of The Great”. Kondisi bagus adalah lawan dari kejayaan. Orang yang sudah puas akan berhenti belajar dan menjadi angkuh. Pada saat itulah kita menghadapi ujian yang sesungguhnya di dalam kehidupan kita.

Segeralah keluar dari “tempurung” anda, buka mata anda terhadap dunia yang sekarang. Hiduplah di masa kini. Jangan lekas berpuas diri dengan kesuksesan diri anda di masa lalu, karena bisa menjebak anda di dalam pandangan sempit tentang kehidupan anda yang sebenarnya sangat luas tak terhingga.

Di masa kini kita hidup di dunia tanpa batas, di dunia yang memanjakan kita dengan kemajuan teknologi yang terus berkembang dengan kecepatan yang sulit kita bayangkan.

Semua orang bisa menjadi ahli dalam bidang apa pun. Hanya dengan memanfaatkan dahsyatnya kecepatan dan ketersediaan informasi dan ilmu di dunia maya.

Segala macam ilmu bisa kita pelajari. Dari ilmu duniawi sampai ilmu akhirat, semua terhampar dengan luas di dunia yang sudah hampir tanpa batas.

Kenapa sih, kita harus repot-repot menambah skill, menambah kemampuan, menambah wawasan?

Jawabannya adalah salah satu hadits Rasulullah SAW:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR Ahmad).

 

Yakinlah bahwa masih banyak yang bisa kita lakukan untuk terus menjadi lebih baik!

Belajarlah ilmu dunia dan ilmu agama sebanyak-banyaknya agar bisa menjadi manusia yang lebih bermanfaat untuk sebanyak mungkin orang lain di muka bumi.

 

Doha, 24 Oktober 2018

#30dwcjilid15 #30dwc #30dwcjilid15squad7

 

 

 

Luar Biasa Tapi Hampir Tak Bisa

Oleh: Diday tea

Walau pun kelopak mata masih terasa berat, tapi karena saya sudah terbiasa, dengan sedikit usaha saja saya bisa beranjak dari tempat tidur menuju ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.

Padahal waktu Subuh masih dua jam lagi.

Setelah melakukan sholat dua rokaat pemanasan akhirnya selesai juga sholat tahajud dan witir sebelas rokaat. Setelah bermunajat dan mengaji Al Qur’an sampai kira-kira setengah jam sebelum waktu Subuh, saya bergegas mandi agar bisa segera tiba di mesjid sebelum adzan.

Setelah sholat subuh berjamaah di mesjid, selalu saya rutinkan berdzikir dan mengaji Al Qur’an sampai waktunya sang Mentari terbit. Agar saya tidak melewatkan pahala setara haji dan umroh.

Di sela-sela pekerjaan, saya selalu sempatkan sholat Dhuha minimal delapan rokaat, agar hajat saya selalu terpenuhi.

Tidak pernah saya lewatkan sholat berjamaah di mesjid, berikut sholat Rawatibnya.

Dari Maghrib sampai Isya, saya sekeluarga hampir tak pernah melewatkan mengaji dan menghafal Al Qur’an.

Di perjalanan berangkat dan pulang dari pekerjaan pun saya hampir selalu menyempatkan diri untuk mengaji, minimal One Day One Juz.

Dan sebagai penutup, sebelum tidur saya tidak pernah melewatkan sholat sunnah dua rokaat.

Luar biasa bukan?

Begitulah contoh rutinitas yang menjadi keinginan dan impian saya sejak masih berseragam Putih-Abu.

Walau pun sesekali dalam setahun bisa seperti itu, tapi tidak istiqomah.

Sayang sekali, rutinitas seperti di atas hampir tidak mungkin atau mustahil untuk saya seorang pekerja shift.

Dan untuk orang umum dengan profesi sebagai karyawan seperti saya sepertinya sangat sulit untuk melakukan rutinitas ibadah sedahsyat itu.

Kendalanya ya seputar pengaturan waktu, energi yang terlanjur habis dihisap oleh lelahnya tekanan pekerjaan, dan banyak lagi.

Sering-seringlah berdo’a dan minta dido’akan agar kita diberi keluasan rejeki menjadi orang kaya yang sholeh, sehingga kita bisa mendapatkan kesempatan melakukan rutinitas ibadah yang lebih baik.

Selama itu belum terwujud, maksimalkan waktu ketika iman kita sedang naik. Maksimalkan energi untuk ibadah ketika tidak sedang kepayahan sehabis bekerja.

Maksimalkan kebersamaan bersama keluarga selagi kita tidak berada di dalam kubangan dan tumpukan pekerjaan.

Insyaallah kita bisa!

Doha, 23 Oktober 2018

#30dwcjilid15 #fighter #30dwcjilid15squad7

Missing Tile Syndrome

Oleh: Diday Tea

Jam sepuluh malam, di suatu rumah orang kaya.

“Bibiiiiiiiii..!” Tiba-tiba terdengar suara yang menggelegar di tengah hari bolong. Seperti jurus Auman Singa Ibu kontrakan di film Kung Fu Hustle.

Si Bibi pun dengan tergopoh-gopoh menyeret tubuh kurusnya ke arah ruang tengah.

“Bibi tadi ngepel ruang tengah?!” Tanya sang majikan dengan mata melotot dan wajah mendelik yang jauh dari indah untuk dipandang.

Ya bayangkan saja wajah si Ibu kontrakan di film Kung Fu Hustel tadi.

“Bbbbetul, Bu..!”Jawab si Bibi dengan terbata dan bibirnya hampir tidak bisa terkatup karena bergetar.

“Kenapa ini satu ubin di pojokan ngga bersih? Maassiih kottooor!” Sang majikan langsung menimpali bahkan sebelum mulut si Bibi terkatup.

“Mmmaaaf Bu…sepertinya itu memang terlewat tadi. Karena ruang tengah adalah yang terakhir saya pel. Saya juga mengepel lantai di ruang makan, dan semua lima kamar di rumah.” Si Bibi menjelaskan lagi dengan masih terbata-bata.

Si Majikan ini adalah contoh definisi terbaik salah satu “penyakit jiwa” yang melanda hampir setiap orang, mungkin termasuk kita juga.

Dia fokus kepada satu ubin yang masih kotor di pojok salah satu ruangan.

Dia lupa kalau di rumah itu ada beberapa ruangan, dan ratusan ubin yang sudah si Bibi bersihkan sampai kinclong mengkilat.

Sebegitu banyaknya ubin yang bersih tidak bisa dia syukuri, tidak bisa dia sadari hanya karena satu ubin yang kosong.

Itulah Missing Tile Syndrome.

Pengertian umumnya ya adalah perasaan selalu kurang dengan apa yang dimiliki.

Selalu merasa tidak lengkap.

Lebih fokus kepada yang tidak ada dibanding yang sudah ada. Lebih fokus kepada yang tidak dimiliki dibanding baanyak sekali hal-hal yang sudah dimiliki.

Terlalu sibuk meminta kepada Allah, tapi lupa mensyukuri betapa banyak yang Allah beri tanpa kita minta.

Bukankah syukur akan menambah nikmat?

Dalam bahasa Agama, disebut “kufur nikmat”.

Surah Ibrahim, Ayat 7:

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

#fighter #30dwcjilid15 #Day2 #30dwcjilid15squad7

Doha, 22 Oktober 2018