Cintaku Musnah di Penghujung Tahun


“Kalau kamu memang mencintaiku seperti yang selalu kamu bilang, dan tidak mau aku menikah dengannya,kenapa kamu tidak melamarku sebelum dia?” Sambil tertunduk lesu, aku hanya bisa bilang kepadanya: “ Aku belum siap Teh!”

            Goncangan bus yang direm setengah mendadak membangunkanku tepat di depan gerbang Tol Pasirkoja. Otot dan tulang di sekujur tubuhku serasa mengkerut setelah hampir enam jam berada di dalam dinginnya AC bus jurusan Merak- Bandung. Jam di hape jadulku pun masih menunjukkan jam empat pagi.

Tak lama kemudian, bus yang kutumpangi pun tiba di Terminal Leuwipanjang. Ketika beranjak keluar dari bus itu, aku sebenarnya mengharapkan sedikit kehangatan dari udara kota Bandung.

Eh, ternyata bukannya hangat yang kurasakan. Begitu pintu bis terbuka, malah udara yang dingin, lebih dingin dari AC bus yang kutumpangi semalaman langsung menyusup masuk dan meremas- remas wajahku sampai terasa mengkerut dan seperti ditarik ke belakang. Tapi bersamaan dengan dinginnya udara Bandung, tercium juga bau khas tanah jika sudah dihampiri oleh sang hujan.

Ternyata sang hujan baru saja mampir dan menumpahkan sedikit pesonanya di kota kelahiranku. Sang hujan juga ternyata ingin merayakan tahun baru nanti malam.

Kunikmati saja udara dingin yang kini membelai wajahku dengan lembut dan sejuk di atas Becak sepanjang perjalanan dari terminal Leuwipanjang menuju rumahku.

Begitu tiba di rumah, langsung kupeluk dan kulepas rindu dengan  Ayah, Ibu dan ketiga adik-adikku. Lalu aku bergegas menuju mesjid yang berada tepat di depan rumahku untuk mengejar sholat subuh berjamaah. Seperti biasa, setiap pulang ke Bandung aku selalu meminta si bibi untuk membelikan kami sekeluarga sarapan Kupat Tahu dan Bubur Ayam Mang Ujang yang sudah berjualan sejak aku belum terlahir ke dunia itu.

Tak sampai dua jam kemudian, rumahku  yang tadinya riuh rendah oleh kami berenam yang ngobrol ngalor ngidul sambil menyantap sarapan, langsung sunyi senyap ditinggal oleh penghuninya.

Ayah dan Ibuku masih bekerja di sebuah instansi pemerintah, dan segera disusul oleh adik-adikku pergi kuliah. Aku pun menuju kamar untuk beristirahat, karena nanti siang aku sudah harus bersiap- siap untuk berangkat ke Alun- alun Bandung.

Kemarin, seseorang yang sangat istimewa memintaku untuk bertemu di Alun- alun kota Bandung, di depan Yogya Kepatihan. Dia adalah wanita yang sudah menjadi sahabatku sejak tiga belas tahun yang lalu, sejak kami berdua masih berseragam Merah Putih.

Sejak lulus SD, kami sudah berpisah. Aku masih di Bandung, melanjutkan ke SMP Negeri di dekat rumahku, sedangkan dia pindah ke Tasikmalaya untuk belajar di pesantren yang dipimpin oleh seorang ulama terkenal. Tujuh tahun setelah itu kami baru bertemu lagi, itu pun karena dia sudah pulang ke Bandung dan bekerja di pesantren yang dipimpin oleh seorang Kyai kondang di Kota Kembang. Sampai sekarang, paling sering kami hanya bertemu dua kali dalam satu tahun. Itu pun biasanya aku berkunjung langsung ke rumahnya ketika momen lebaran saja, tidak di luar seperti sekarang.

Entah kenapa kali ini dia tiba- tiba memintaku untuk bertemu di luar. Dia bilang padaku ada sesuatu yang harus dia bicarakan.

Setelah sholat Zhuhur di mesjid Agung Bandung,  langsung kuhela tubuhku agar berjalan secepat mungkin karena aku tidak ingin membuatnya menunggu lama.

Tak sampai dua detik setelah aku tiba di depan Yogya Kepatihan, sudah kukenali sosok wanita tinggi semampai yang sedang berdiri di antara ramainya orang yang lalu lalang berbelanja di malam menjelang tahun baru. Dari belakang pun dia sudah terlihat sangat anggun dan cantik dengan baju gamis berbahan satin berwarna merah muda. Dia semakin cantik lagi dengan menghiasi gamis itu dengan kerudung berwarna dan berbahan sama yang berpadu padan dengan sebuah bros berbentuk kupu- kupu yang berkilauan ketika dijatuhi oleh cahaya lampu neon.

“Assalaamu’alaikum Teteh! Kumaha damang?” Sapaku dengan lembut dan tanpa sadar menatap matanya dalam- dalam. Ah, rindu berbulan- bulan tak bertemu dia pun lenyap seketika hanya dengan satu detik memandang matanya.  Walau pun dia memang lebih tua tiga tahun dariku, panggilan Teteh bukan karena itu, tapi itu adalah panggilan sayangku untuknya.

“Eh, wa’alaikumsalaam. Alhamdulillah, pangestu” Dia pun menjawab sambil membalikkan tubunya ke arahku dengan suaranya yang khas, serak tapi lembut, perpaduan sempurna antara suara Nicky Astria dan Siti Nurhaliza.

“Langsung ke sini dari kantor? Mobil diparkir di mana? Udah makan siang belum? Udah sholat?” Tanyaku bertubi- tubi. “Iya atuh, tadi harus lembur setengah hari. Lagian kalau pulang dulu ke Cimahi mah ngga akan bisa nyampe jam segini meureuun! Tuh, mobil mah diparkir di basement aja lah, da susah kalau diluar mah.” Jawabnya dengan logat Sunda yang sangat kental.

Kupandangi lagi dia selama beberapa saat. Si Tetehku ini memang sungguh unik, berkulit putih kemerahan layaknya orang bule, berambut pirang kecoklatan, tapi bermata sipit seperti orang Jepang. Perpaduan unik yang menyebabkan kecantikkannya melebihi siapa pun yang pernah kukenal di dunia ini. Setidaknya menurutku.

“Hei! Kok malah ngelamun? Makan dulu yuk? Teteh lapar nih!” Si Teteh setengah berteriak sambil mengibas- ngibaskan tangannya di depan mukaku.

Selama makan siang, tidak ada obrolan yang istimewa di antara kami selain menanyakan kabar keluarga, pekerjaan dan kuliahku di Cilegon, dan pekerjaannya di pesantren seorang kyai kondang di Bandung.

“Nonton Yuk! Ada film James Bond Baru, Casino Royale!” Ajakan yang sama sekali tidak kuduga sebelumnya. Walau pun mukaku melongo terkaget- kaget, hatiku langsung berbunga- bunga, karena aku bakal lebih lama lagi bisa dekat dengan si Teteh tercinta. Sebelumnya kami tidak pernah nonton ke bioskop hanya berdua, kami selalu pergi beramai- ramai bersama kakaknya dan adik- adikku. Jangankan ke bioskop, untuk pergi ke luar rumahnya pun ayahnya akan melarang keras jika aku hanya datang sendiri, tidak dengan adik- adikku. Walau pun bisa, itu harus dengan kakaknya atau si mbok pengasuh di rumahnya.

Kami pun bergegas mengayunkan langkah ke King’s Kepatihan, tempat bioskop terdekat.

Aku tidak memikirkan apa- apa lagi sejak film diputar selain betapa bahagianya hatiku bisa sedekat ini dengan si Teteh.  Setelah film diputar selama beberapa menit, entah kenapa tiba-tiba dia menyandarkan kepalanya di bahuku. Sebagai seorang lelaki normal tentunya jantungku langsung berdegup luar biasa kencang ketika berada sedekat itu dengan lawan jenis. Aku akhirnya tidak kuasa menahan tanganku untuk menyentuhnya. Si Teteh pun yang entah memang tertidur atau sekedar pura- pura tidur  membiarkan saja aku membelai pipinya dan membelai kepalanya berulang- ulang.

Aku tidak pernah sedekat itu dengan wanita mana pun sebelumnya. Aroma parfumnya yang sangat segar tanpa malu-malu merasuk ke dalam hidungku menyebabkan aku tidak tahan lagi untuk mendaratkan bibirku tepat di atas ubun- ubunnya.

Tidak pernah kuduga jika beberapa lama kemudian aku akan mendengar hal yang sangat mengguncangkan jiwaku.

Selama belasan tahun aku mengenalnya, jangankan membuat adegan semacam itu, ketika aku secara refleks menggamit tangannya untuk menyeberang jalan saja, dia langsung melayangkan tinjunya ke perutku. Kadang aku berpikir kalau dia jauh lebih kuat dan lebih cepat dariku, karena tak pernah bisa kutangkis kepalan tangannya yang mungil itu. Dan selalu terasa sakit.

“Ngapain kamu pegang- pegang?! Jangan macem- macem! Lain kali tinju ini mampir di tempat yang lebih menyakitkan!” Ancamnya sambil mengepalkan tangan mungilnya tepat di depan wajahku.

Setelah film selesai, aku bingung harus bersikap seperti apa setelah kejadian di dalam tadi. Kejadian yang seperti mimpi. Gembira? Pasti lah, aku kan masih laki- laki yang normal. Tapi aku juga sedih, karena tidak cukup kuat untuk bisa menahan diri untuk tidak sampai menyentuhnya seperti tadi. Sangat bertolak belakang dengan materi ceramah tentang menjaga pandangan dan pergaulan dengan lawan jenis yang sering kudengar dari seorang kyai kondang di Bandung.

“Duuh, dosa itu the Cep…!” Umpatku di dalam hati.

“Duduk dulu di sini yuk?” Si Teteh memintaku sambil menggamit tanganku  dan menarik tubuhku ke kursi tunggu di depan loket bioskop itu. Aku tak kuasa menolak.

“Teteh bilang kan, kemarin, mengajak kamu ketemuan di sini untuk membicarakan sesuatu?”

Ujarnya sambil sedikit memiringkan tubuhnya ke arahku sehingga kedua ujung lututnya menempel di kaki kiriku.

“Iya Teh, ada apa sih? Meni asa rareuwas ini teh “ Jawabku sambil bercanda. Entah kenapa, bukannya tersenyum, tapi dia malah terdiam beberapa saat. Dan beberapa kali menarik nafas panjang. Perasaanku mulai tidak enak.

“Emmmm…” Dia hanya menggumam. Dan beberapa kali kembali menarik nafas panjang sambil memilin- milin ujung jarinya.

“Ikhlasin Teteh yah?” Sebuah pertanyaan aneh terlontar dari bibirnya yang merah walaupun tanpa lipstik itu.

“Ikhlasin? Ikhlasin apa ini teh? Tanyaku dengan muka kebingungan.

“Emmm…Teteh…Teteh bulan depan akan menikah.” Walau pun sempat mengulang adegan bergumam lagi selama beberapa saat, akhirnya dia membuka mulutnya dengan sedikit tergagap dan sambil sedikit menggigit bibir.

“Menikah?! Sama siapa? Kok bisa? Kapan?” Belum saja kedua bibirnya tertutup dengan sempurna, aku sudah memberondongnya dengan pertanyaan.

“Sama orang Bogor, Ustadz di pesantren tempat Teteh belajar” Si Teteh menjawab lagi dengan perlahan.  “Bulan kemarin, dia datang bersama orangtuanya dari Bogor untuk melamarku.”

“Aku tidak punya alasan yang Syar’i untuk menolak lamarannya.” Timpalnya lagi sambil meluruskan tubuhnya. Kali ini dia sedikit menggeser posisi duduknya, agak menjauh dariku.

Hampir setiap kali aku menghubungi si Teteh, aku selalu bilang padanya bahwa aku  mencintainya sejak belasan tahu yang lalu dan aku ingin menikahinya. Tapi selama ini pula dia hanya menjawab pertanyaanku dengan senyum dan tawanya yang renyah. Tak pernah ada tanggapan langsung yang keluar dari mulutnya.

“Aku tidak punya alasan untuk menolak lamarannya.” Dia mengulang lagi pernyataannya.

“Ayah Ustadz yang melamar adalah teman Abi sejak mereka masih kuliah di Mesir.” Ujar si Teteh lagi sambil menarik nafas panjang.

“Tapi Teh, Teteh tahu kan kalau Aku ingin menikahi Teteh, Aku cinta sama Teteh, Aku sayang sama Teteh! Ucapku dengan nada yang sedikit meninggi.

“Ngga mungkin kan Teteh ngga tau dan ngga merasakan perasaan saya kaya gimana kan? “ Tanyaku lagi.

“Kalau kamu memang mencintaiku seperti yang selalu kamu bilang, dan tidak mau aku menikah dengannya, kenapa kamu tidak melamarku sebelum dia? Dia bertanya dengan bibir yang bergetar menahan jatuhnya air mata yang sudah berkumpul di kedua sudut matanya.

“Kenapa..? Kenapa? Kenapa kamu tidak melamarku sebelum dia..? ” Dia bertanya lagi karena aku tidak kunjung memberi jawaban. Pertanyaan yang dia lemparkan seperti tombak tajam yang langsung menghujam ke dalam hatiku.  Kali ini Dia bertanya sambil terisak menahan tangis.

Sambil tertunduk lesu, akhirnya aku hanya bisa bilang:

“Aku belum siap Teh!” Akhirnya aku menjawab dengan bibir yang bergetar karena menahan kekecewaan yang luar biasa besar. Sebagai seorang laki- laki, Aku pantang untuk menangis. Tapi kali ini rasanya sulit sekali untuk menahan setetes airt mata yang sudah diambang jatuh di ujung mataku.

“Berarti keputusanku untuk menerima lamarannya tepat kan?” Dia bertanya lagi sambil meraih daguku yang sedang tertunduk dan memalingkan wajahku ke arahnya. Kali ini matanya sudah memerah. Tak ada air mata di ujung sana, mungkin sudah dia seka.

Aku hanya bisa terdiam. Dia benar, tidak ada alasan untuknya buat menolak lamaran si Ustadz. Dan walau pun ternyata dia bisa meyakinkan ayahnya untuk menolak, entah kapan aku bisa melamarnya. Menikah memang tidak selalu butuh uang, tapi jika tidak ada uang, bagaimana aku bisa menikahinya dan membiayai rumah tangga kami, jika gaji bulananku saja selalu kurang untuk biaya kuliahku, dan biaya sekolah adik- adikku yang masih kecil? Walau pun orang tua Dia kaya raya, dan dia pun sudah bekerja di Bandung rasanya tidak mungkin, jika aku harus memboyongnya ke Cilegon. Atau aku harus meninggalkan kuliah dan pekerjaanku demi menikahinya.

Untuk beberapa saat, kami berdua hanya mematung dan terdiam seribu bahasa.

“Sudah sore Teh, sholat Ashar dulu yuk?” Tanyaku untuk mencairkan suasana yang tiba- tiba terasa garing itu. Si Teteh masih hanya diam dan hanya mengiyakan ajakanku dengan bangkit dari duduknya dan mengayunkan kakinya ke arah pintu mushola wanita.

Setelah selesai sholat Ashar, kami pun berjalan meninggalkan King’s menuju ke Yogya, tempatnya memarkir mobil. Jalan yang sangat dekat itu kali ini terasa sangat jauh, karena kaki- kakiku ini terasa berat luar biasa. Berat seperti diganduli oleh bola besi yang dirantai ke pergelangan kakiku.

“Teh, selamat ya!”Aku mengulurkan tanganku untuk memberi selamat kepadanya sambil tersenyum getir.

Untuk beberapa saat, dia hanya terdiam, dan hanya memandangi tanganku yang sudah terulur di depannya.

“Iya, alhamdulillah. Doain Teteh ya!” Dia menjawab, kali ini sambil tersenyum lebih lepas. Tapi kali ini dia tidak membalas uluran tanganku.

“Semoga kamu juga mendapatkan jodoh yang lebih baik dari Teteh!”Ucapnya.

“Amiin…” Aku mengaminkan doánya dengan perlahan.

Kami pun kembali hanya bisa terdiam lagi.

“Hufff….ya sudah deh…Teteh kira ini adalah saatnya kita harus berpisah” Ucap si Teteh dengan kalimat yang benar- benar membuatku merasa tidak akan pernah lagi akan bertemu dengannya.

“Iya Teh, lagian sudah malam. Sebentar lagi pasti jalanan penuh sama yang pawai Tahun Baruan” Jawabku dengan datar.

“Hati- hati di jalan ya! Assalaamuálaikum!”Ucapku sambil membalikkan badan.

“Waálaikumsalaam..” Aku masih sempat mendengar suaranya yang lirih, setengah terisak.

Baru lima langkah aku menjauh, tiba- tiba aku berbalik dan memanggilnya:

“Teteh…!” Aku berteriak keras- keras sambil setengah berlari menghampirinya yang sedang berjalan menjauh. Begitu dia membalikkan badannya, entah setan apa yang tiba- tiba merasukiku sehingga tanpa aba- aba apa pun aku langsung memeluk dia erat- erat.

Si Teteh terkejut bukan main, karena dipeluk di depan puluhan orang yang lalu- lalang di depan pintu mall tanpa sempat melawan atau berontak. Selama beberapa detik kemudian dia pun hanya bisa terdiam. Yang terdengar hanya riuh-rendahnya tiupan terompet yang mulai dibunyikan oleh para pedagang dadakan di pinggiran jalan Kepatihan itu.

Tidak ada kata- kata apa pun yang terucap ketika aku memeluknya. Hanya kurasakan kedua mataku terasa pedas dan bibirku yang sedang bergetar tiba- tiba terasa asin.  Ketika kulepas pelukanku, kulihat wajahnya yang masih terlihat kaget menjadi semakin merah, Dia terisak untuk menahan butir air mata yang sudah berkumpul di sudut mata coklatnya yang sipit itu.

Aku tak kuasa lagi menahan jatuhnya tetesan air mata yang mulai mengalir di pipiku.  Kubalikkan badanku lagi dan kuhela kedua kakiku untuk mengayunkan langkah secepat mungkin agar aku bisa segera pergi menjauh dari tempat itu. Sekuat tenaga kutahan leherku agar tidak lagi menengok ke belakang. Dengan bodohnya kupukuli kepalaku agar semua ingatanku tentangnya bisa hilang saat itu juga.

Cintaku musnah di penghujung tahun.

Doha 28 Oktober 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s