Divana Divana

Divana Divana


Ah, selama masih hidup, yang namanya manusia pasti bisa berubah dan bisa dirubah seiring dengan berjalannya waktu.

 

               Di dalam rentang waktu antara semasa diriku masih bersekolah di TK, sampai kira- kira kelas lima SD, hampir setiap tahun aku dirawat di rumah sakit. Kalau ngga gejala demam berdarah, ya gejala tipes. Biasanya sakitku muncul di antara pergantian musim.


               Masih terbayang diriku memakai kemeja kotak-kotak hijau putih dan celana hijau yang sedang ngarengkol di sudut ranjang khusus untuk anak kecil itu.


               Karena ibuku seorang perawat di rumah sakit itu, jadi dia tidak bisa selalu menjagaku selama dirawat. Jadi dia membekali aku dengan sebuah radio kecil.


               Tadinya sih tidak pernah kulirik sedikit pun si radio kecil ini. Boro- boro mau mendengar radio, yang ada pusing dan mual serta badan ini serasa remek karena demam tinggi yang hinggap di badanku sudah hampir mencapai empat puluh derajat celsius.


               Tapi, setelah sayup- sayup suara adzan Isya dari seberang rumah sakit sudah berlalu, kesepian pun mulai datang. Tidak ada perawat yang stand by di ruangan pasien. Hanya ada aku sendiri di dalam bunker bed di  kamar kecil khusus untuk anak- anak itu. Yang terdengar pun hanya suara jangkrik di tengah tebalnya kesunyian yang melandaku kala itu.


               Aku pun tidak tahan dan akhirnya kugapai radio yang masih teronggok di atas lemari kecil di samping ranjang besi tempat teronggoknya diriku juga.


               “Brrrrzzzzzzzzzzzzzzzz…………..”. Awalnya hanya suara gemerisik radio yang tiba- tiba membuat kamarku sedikit berisik. Kukecilkan volume radio itu sedikit dan kuputar gelombang radio.


               Tak lama kemudian, akhirnya kutemukan saluran yang terdengar sangat jelas.


               “Masih bersama saya, mister X di radio RX bandung, langsung saja kita putarkan lagu request dari Akang X juga, lagu romantis dari Kumar Sanu dan Kavita: Divana- divana…!” Suara lembut penyiar radio itu langsung seketika mengenyahkan kesepian itu dari kamar sempitku.


               “Divana- divaana, metera diivaana, tumera jaaneja, apkahi cunemi…” Hanya itu saja lirik yang kuhafal. Ternyata radio itu sedang memutar acara khusus request, seperti acara AMKMnya Sonora FM. Tapi  khusus lagu India saja.


               Tadinya sih mau langsung kupindahkan saja saluran itu, lebih baik ku pindah ke Radio Paramuda, Ardan, atau OZ yang memutar lagu yang lebih “jelas”.


               Entah kenapa, tiba-tiba kuurungkan niatku dan kusimpan kembali tanganku yang sudah terulur ke arah radio itu.


               Karena dingin akhirnya kutarik saja selimut ke atas tubuhku dan kuraih radio itu dan kusimpan di dekat kepalaku. Posisi ngarengkol seperi bayi, memeluk guling dan menghadap ke kanan adalah posisi tidur paling nyaman untukku ketika itu. Kucoba dengarkan lagu itu beberapa saat, dan entah kenapa lagi, lagu itu terdengar sangat adem di telinga dan nyaman di hati.


               Anak seumuranku di kala itu tentu saja belum mengenal apa namanya cinta. Walau pun tentu saja harus aku akui bahwa aku menyukai si teteh tetanggaku yang sering berangkat sekolah bareng itu…hehehe….Itu hanya cinta babon, belum mencapai tahapan cinta monyet sekali pun.


               Tapi semenjak itu dan sepanjang  delapan hari aku di rawat, setiap selepas magrib aku sudah “tetap stay tune” di radio itu. Hanya untuk menunggu lagu Divana- divana itu diputar. O iya, Divana itu artinya kekasihku.


               Dan benar saja, lagu itu memang favorit semua pendengar dan sedang merajai tangga lagu India di radio itu. Hampir semua perawat meledekku: “Anak kecil kok suka lagu India sih?” Tanya mereka dengan heran.

               “Wios weh da enakeun (biarin, lagunya enak kok!)” Jawabku dengan cueuk sambil kembali ngarengkol di ujung kasur besi itu.


               “Infeksi” ini akhirnya berlanjut selama beberapa minggu, hampir setiap magrib aku tunggu lagu itu untuk diputar. Dan bahkan kadang ada acara khusus menjelang tengah malam untuk memutar lagu- lagi India favorit pendengar. Hanya lagu itu saja yang bisa merasukiku sampai tahap seperti ituampai lagu itu sama sekali hilang, dan terhapus oleh kesibukanku bersekolah. Orangtuaku tidak bisa melarang dan juga tidak marah, mereka juga cuek. Kadang Divana- divana ini bersahut-sahutan dengan lagu2 Panbers favorit Bapak dan Ibuku.


               Tak pernah kubayangkan ketika suatu hari kelak aku akan tinggal di negara yang diihuni ribuan, puluhan ribu, eh, bahkan ratusan ribu orang India.


               Ya, kini aku di sini, sebuah negara timur tengah yang mayoritas penghuninya adalah orang India.


               Tapi sayang sekali,walau pun di kantin hampir setiap hari diputar lagu India, sampai sekarang diriku belum terkontaminasi lagi oleh lagu India semacam Divana- Divana itu.


               Dan ketika kucoba cari lagu itu di youtube, ternyata lagu itu tidak terdengar seenak dulu lagi. Sekarang aku malah merasa agak risih. Hanya senyumku dan tawa renyah istriku yang timbul ketika kuingat bahwa aku pernah tidur berbulan-bulan dengan lagu itu. Ngefans abis- abisan.


               Ah, selama masih hidup, yang namanya manusia pasti bisa berubah dan bisa dirubah seiring dengan berjalannya waktu. Kalau tidak berubah sendiri, ya kita akan berubah dan dibentuk oleh lingkungan sekitar kita.


               Jangan takut untuk menerima perubahan-selama itu positif-dan memulai perubahan di dalam diri, keluarga, dan bahkan kehidupan kita. Karena seringkali perubahan kecil akan membuat kita terbang tinggi ke arah yang lebih baik.

               Dijamin!


http://www.didaytea.com 

Kepiting Laut

                 Jalan Banda, itu adalah cabang pusat dari studio photo yang paling terkenal di Bandung. Tadinya mau kusebutkan Jonas Photo, tapi ngga enak lah, takut malah jadi promosi.

Baru saja kami keluar dari studio itu, setelah penantian yang sangat lama untuk mewujudkan mimpi keluargaku untuk bisa berfoto bersama.

Eh, ternyata hujan sodara- sodara! Tiba- tiba ngagebret kata orang Sunda mah.

Yah, apa daya, kami hanya bisa menunggu. Tempat parkir mobil lumayan jauh dari tempat itu, dan kami lupa meminta nomer hp supir pula. Lengkap sudah deh. Kami mau tidak mau harus nagog di pinggir jalan.

Setelah beberapa puluh menit menunggu, akhirnya…. hujan pun tetap tidak mereda..hehehe..

Ya, akhirnya terpaksa kukeluarkan payung yang baru saja kubeli di dalam, dan minta tolong salah seorang dari kami untuk memanggil supir.

Alkisah dan walhasil, kami semua akhirnya sudah berada di dalam mobil.

Tujuan kami selanjutnya sih ke BIP, untuk mencari makan. Maklum lah, setelah hampir tiga jam mengantri untuk difoto, perut kami semua sudah keroncongan dan bertalu- talu, meminta untuk segera diisi.

Aku check GPS , ternyata BIP hanya berjarak 1,5 kilo meter saja dari Jalan Banda. Harusnya aman dong, paling lambat sepuluh atau lima belas menit pasti kita sudah berada di depan meja D’Cost untuk menyantap menu makanan yang luar biasa murah tapi mak nyos itu (katanya sih itu juga…).

Dasar perut kita memang kurang beruntung, ternyata baru saja keluar dari perempatan, bukannya lancar, yang terhampar di depan mata malah kemacetan (hampir) total.

Duh! Hampir setengah jam keluar dari perempatan Jalan Banda, kami masih saja terjebak di tengah ratusan mobil yang seolah sedang bernyanyi, membunyikan klakson bersahut-sahutan.

Apalagi di pinggir jalan hampir semuanya kafe, makanan, warung, kios Klappertart, tukang Gehu Jeletot, Seripik Kingkong dan teman-temannya yang malah membuat air kita terus terbit ke atas bibir, walaupun tidak sampai mengalir ke samping pipi. Dan lantunan musik keroncong di perut kami semua pun semakin dahsyat. 😀

“Pak, tolong nyalain radionya dong!” Adikku setengah berteriak ke supir.

“Siap Neng!” Jawab si Bapak Supir sambil dengan sigap memijat, eh, memijit, aduhhh, memencet tombol on di tape mobil.

Dasar kamu kepiting laut

Banyak cewek bertekuk lutut

Guk Angguk Angguuk

Gut Manggut Mangguut

Semua kepincut

 

Waduh, ternyata begitu radio menyala, langsung deh terlantun lagu dangdut yang belum pernah kudengar sebelumnya. Dari warnanya sih, yaa sejenis “Basah- Basah”-nya Hesti Damara atau “SMS” gitu lah.

“Pindahin aja Pak, lagu kieu kok didengerin sih!” Kataku kepada supir.

Malah kedua adikku yang heboh.

“Jangan dipindahih A, itu enakeun geura, Judulnya Kepiting Laut!” Teriak kedua adikku dengan semu rada histeris tea geningan.

                 Risih juga lah dengernya, lha wong musik jedak jedug, dan sedikit tidak puguh gitu. Langsung kupindah lagi ke saluran sebelumnya deh. Dan juga entah kenapa, si kembar malah suka lagu semacam itu.

Selama perjalanan 1.5 kilo meter yang rasa-rasanya perjalanan terpanjang dan terlama di Bandung itu, si Kepiting Laut itu terus saja mengiang- ngiang di telingaku.

Dasar kamu kepiting laut

Banyak cewek bertekuk lutut

Guk Angguk Angguuk

Gut Manggut Mangguut

Semua kepincut

 

 

Duh, kenapa Bandung semakin macet dan lagu- lagu kaya gitu malah semakin laku aja ya?

Didaytea

130720111627

Yang masih merasa ada di Bandung

 

Refleksi 10 Tahun Kelulusan

               Pagi hari di 30 Juni 2001.

Hari itu adalah hari paling campur aduk di dalam hidupku selama bersekolah di SMKN 13.

Gembira. Iya lah, karena itu hari kelulusanku.

Sedih, karena aku harus berpisah dengan orang-orang yang sudah sangat dekat selama empat tahun bersekolah. Perpisahanku dengan teman-teman dekatku bahkan diiringi isak tangis oleh beberapa teman yang menjadi secret admirerku, eh, kebalik ketang, teman- teman yanm diam-diam pernah ku secret admirer-i, hehehe…pasti yang kenal mah tahu lah. Kita sama- sama tau aja, jangan bilang- bilang ya!

Lega, eh, tunggu dulu, bukan hanya lega, tapi suueeperrrr lueggaaa! Iya lah, karena aku akhirnya lulus juga setelah lima tahun bersekolah di sana.

Lima tahun? Ya lima tahun. Karena aku pernah tinggal kelas di tahun pertama. Hampir sama lamanya dengan sekolah SD.

Dua tahun terakhir menjadi masa-masa paling berat di kehidupanku selama bersekolah.

Bukan karena beratnya pendidikan di SMKN 13, tapi beratnya beban moral yang harus kutanggung selama mengenakan seragam putih abu-abu. Ketika teman-teman seangkatanku sudah lulus dan kuliah bersemester- semester, aku masih saja setia dengan “Putih Abu-Abu”.

Ledekan dan cemoohan mah sudah tak terhitung lagi.

“Ari ente sakola di mana euy, naha teu lulus lulus?”

“Wiihh…awet ngora euy!” Pujian yang satir.

“Urang mah geus semester dua, naha ente mah masih keneh diseragam?”

Ketika di kelas tiga sih, aku masih bisa menanggapi pertanyaan- pertanyaan dan ledekan itu dengan kalimat andalanku: “Sekolahku di SMKN 13, sekolahnya empat tahun, kaya STM Pembangunan”.

Nah, ketika kelas empat yang sangat berat. Tadinya aku ingin menutupi hal yang tadinya kuanggap aib. Aku berniat untuk berangkat dengan baju bebas lalu berganti seragam di rumah temanku yang dekat dengan sekolah.

Ah, tapi setelah merenung, aku rasa tampil apa adanya lebih baik. Aku akan menghabiskan energi terlalu banyak jika ingin menutupi statusku yang pernah tidak naik kelas ini.

Dan ternyata benar saja, pertanyaan dan ledekan itu tidak bertahan lama, selesai dengan jawaban yang apa adanya: “Saya pernah tinggal kelas!”

Sampai tanggal 30 Juni itu, alhamdulillah, sekolahku lancar-lancar saja.

Dan Alhamdulillah, tinggal kelasnya aku ternyata menyimpan hikmah tersembunyi yang sangat luar biasa besar di masa depan.

Aku lulus dengan nilai rata-rata 7.55, entah ini peringkat ke berapa, tapi itu adalah hal yang sangat luar biasa di tengah persaingan yang super ketat, layaknya Petir atau Big Brother.

Tanggal 30 Juni aku memang masih siswa SMK, tapi beberapa bulan sebelumnya aku dan empat temanku sudah menandatangani kontrak dengan sebuah perusahaan Petrokimia di Merak, Cilegon.

Tanggal 30 Juni adalah hari Sabtu, dan hari Senin, tanggal 2 Juli 2001 satu adalah hari pertama kerjaku.

Alhamdulilah, kami berlima tidak pernah mengalami satu hari pun dengan menyandang status tidak punya pekerjaan.

Dan hikmah terbesar yang disembunyikan oleh Allah selama bertahun-tahun, ya kondisiku sekarang ini.

Kondisiku yang menjadi impian banyak orang yang belum bisa menggapainya. Bekerja di luar negeri, Allah menganugerahkan kepadaku wanita yang luar biasa dan bisa mencintaiku apa adanya, dan telah memberiku sepasang malaikat kecil yang lucu- lucu.

Aku akhirnya bisa melunasi impianku untuk membelikan rumah untuk orangtuaku.

Aku akhirnya bisa memulai kuliah lagi.

Ah, Allah mah memang Maha Adil ya!

Kitanya saja yang sok tahu tuh, sok bisa mengatur kehidupan kita sendiri. Sok tahu mana yang paling baik untuk kehidupan kita.

Dia tidak akan pernah mentakdirkan suatu keburukan untuk hamba-Nya. Tidak naik kelas yang Allah takdirkan, ternyata adalah “tiket” untuk hal-hal luar biasa yang telah kucapai, dan untuk menggapai impianku yang jauh lebih besar untuk masa depanku kelak.

Diday Tea

120720111221, Setelah sepuluh tahun lulus. J

 

Bandung Lautan Hot Pants

                Miris, sedih, kecewa. Itu yang kurasakan ketika baru beberapa jam menginjakkan kaki di kota kelahiranku, Bandung.

Masih terbayang beberapa tahun yang lalu, di masjid sebelah rumahku masih ada yang mengaji setiap sehabis sholat magrib. Sekarang sudah sepi.

Masih terbayang ributnya anak-anak kecil yang masih olol leho (ingusan), berjilbab walaupun lusuh, berbaju koko walaupun belel, memakai sarung walaupun milik kakaknya, sehingga harus selalu mereka pegangi agar tidak merosot. Aku yakin mereka lebih dekat ke miskin daripada berkecukupan. Aku masih ingat puluhan anak-anak itu minta diantar olehku, dan sambil berjalan, mereka bersholawat bersama sekencang-kencangnya, atau mengaji, bahkan ada yang sesekali menyelingi dengan lagu Sheila on Tujuh, eh Sheila on 7. Indah dan Kurindukan.

Setelah lebih dari sepuluh tahun berlalu, hal itu tidak kulihat lagi.

Detik pertama aku memasuki kota Bandung, selepas Gerbang Tol Pasir Koja, aku sudah disuguhi pemandangan yang dulu sangat jarang kulihat. Girls with hot pant (gadis dengan celana panas, eh celana super pendek)yang sedang menunggu bis. Waduh, rasa- rasanya baru dua puluh dua bulan aku tidak ke Bandung, kenapa tiba- tiba ada pemandangan seperti ini. Ah, mungkin saja itu hanya kebetulan, mungkin orang luar kota yang sedang mampir ke Bandung.

Beberapa ratus meter kemudian, dugaan “kebetulan” itu mulai hilang, karena ada sepasang muda-mudi, dan tidak mungkin suami istri,  sedang berboncengan. Dan si cewek yang di belakang, mengenakan celana dengan model yang sama persis dengan yang kulihat beberapa ratus meter sebelumnya.

Dan ternyata, itu hanya beberapa saja dari puluhan hal serupa yang kulihat sepanjang jalan dari Gerbang Tol Pasir Koja ke tempat kelahiranku Bonji, yang hanya berjarak beberapa kilometer saja.

Memasuki daerah Bonji, sejujurnya sih aku berharap untuk tidak melihat lagi pemandangan semacam itu.

Dan harapanku itu ternyata hanya bertepuk sebelah tangan.

Baru juga memasuki gerbang jalan, sudah ada tiga orang cewek, di tengah gerimis, memakai “celana panas” itu lagi!

Dan yang paling menyedihkan, mereka itu anak- anak kecil olol leho  yang mengaji ke mesjid setiap hari.

Dan sampai beberapa hari kemudian aku berkeliling di Bandung, pemandangan yang sama masih kuliahat saja. Di BIP, Bandung Supermall, di jalan, Yogya Kepatihan, pasti ada saja kulihat cewek yang memakai celana panas itu.

Duh!

Entah apa penyebabnya. Mungkin banyak orang Bandung yang semakin miskin, sehingga sekarang makin sedikit orang tua yang mampu membelikan baju yang pantas untuk anaknya.

Semoga itu hanya ketidakberuntunganku saja sehingga aku disuguhi pemandangan seprti itu.

Semoga pemandangan semacam itu tidak kulihat lagi di Bandung.

Diday Tea

1207201102:16, ditemani oleh Gipang Super Original

Biar Cepat Asal Selamat (4): Selamat Tinggal Sholat Belang Betong


Ibadahlah untuk beryukur dan berterima kasih kepada Allah, bukan sebagai beban rutinitas belaka

Sholat Belang Betong

Belang-betong, istilah yang untuk orang yang tidak berbahasa Sunda pasti akan terasa asing dan membuat dahi sedikit berkerenyit, karena kata-kata yang terdengar sangat aneh ini.

Belang-betong, oleh orang Sunda adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan ketidak-konsistenan seseorang dalam melakukan sesuatu. Sholat, puasa, menghadiri pengajian, sekolah, apapun yang seharusnya dilakukan secara rutin, tapi tidak.

Begitu jugalah kondisiku sebelum kelas tiga di sekolah. Aku bisa dikategorikan sebagai sibelang-betong. Karena saya hanya sholat jika sempat dan bisa (dalam pengertian saya waktu itu). Kalau sempat ya sholat, tapi kalaupun terlewat yaa sudahlah, besok juga kan masih ada waktu sholatmah.

Semoga saya diampuni.

Mendaftar SSG

Aa Gym belum begitu dikenal orang pada tahun 2000. Beliau masih terkenal di kalangan terbatas saja, terutama orang Bandung.  Orang yang datang ke pengajian rutinnya-Kamis malam dan Minggu pagi-pun masih belum banyak, jamaah tidak sampai memenuhi halaman mesjid.

Ini adalah kutipan penjelasan tentang Santri Siap Guna dari website pesantren Daarut Tauhid Bandung:

“Santri Siap Guna (SSG) Daarut Tauhiid, pada awal pendiriannya dicetuskan oleh K.H. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) pada tanggal 25 April 1999 yang pendekatan visinya lebih dititikberatkan sebagai pelayan masyarakat baik di bidang dakwah, ekonomi, maupun soslal kemasyarakatan.

Selaln itu, Santri Siap Guna juga disiapkan sebagai sarana pengkaderan dan pembinaan generasi muda mandiri yang mampu untuk menjadi motivator, stabilisator dan integrator bagi masyarakat. Santri Siap Guna Menuju Generasi Ahli Dzikir, Ahli Pikir, dan Ahli Ikhtiar.”

Ketika itu aku  masih kelas tiga, dan mulai mendengarkan ceramah- ceramah Aa Gym yang terdengar sangat “menyenangkan”, tidak penuh retorika seperti para ulama-ulama yang biasa saya dengarkan atau lihat sebelumnya.

Setelah beberapa bulan, aku pun mulai rutin mendatangi kajian di pesantren Daarut Tauhiid di Geger Kalong. Sejujurnya, itu pun karena diajak oleh teman-teman sebaya di lingkunganku  yang memang sudah lebih dahuu mengenal Aa Gym. Dan juga, ternyata ada “motivasi plus”. Kata mereka sih,cewek-cewek berjilbab yang cantik-cantik, atau kita sering menyebut mereka sebagai Akhwat-akhwat Ceria .Dasar anak sekolah!

Aku  putuskan untuk mendaftarkan diri, walaupun sih, awalnya hanya sekedar ikut-ikutan teman. Toh, pendaftarannya masih gratis, aku tidak akan merugi apa-apa selain waktu.

Kegiatan

Kegiatan selama pelatihan itu sih, tidak jauh berbeda dengan ekstra kurikuler di sekolah.  Yang istimewa, ya itu, ketika konsep Manajemen Qolbu-nya Aa Gym menjiwai hampir setiap orang yang terlibat di dalam pelatihan tersebut.

Hal yang paling pertama diajarkan adalah Ice Breaking. Kita diminta untuk membawa satu buah genteng dari rumah dan, di pelatihan disuruh untuk memecahkan geneng itu dengan tangan kosong secara bersama-sama. Ini untuk menghilangkan ketakutan dalam diri, membuat kita berani untuk memulai sesuatu yang kita anggap sulit dan mungkin juga tidak berhasil. Menumbuhkan inisiatif dan kemauan untuk berbuat. Itu hikmah yang paling tepat kurasa.

Apa Yang Paling Berkesan?

Apa sih, yang didapatkan di pelatihan SSG itu?

Aku hanya menghadiri dua bulan saja pelatihan dari empat bulan yang diajarkan.

Pelatihan ini berlangsung dua hari seminggu, dari sabtu sore sampai minggu sore. Rutinitasnya sih, tidak jauh berbeda dengan ekstra kulikuler di sekolah seperti Pramuka, PKS, dan PMR. Tentu saja SSG lebih lengkap, karena memberikan juga materi Team Building, Problem Solving, P3K, di samping materi standar lainnya seperti mengaji, atau kita dilibatkan sebagai sukarelawan jika ada kegiatan yang melibatkan orang banyak di pengajian.

Yang istimewa, ya itu, ketika konsep Manajemen Qolbu-nya Aa Gym menjiwai hampir setiap orang yang terlibat di dalam pelatihan tersebut.

Hal yang paling  pertama diajarkan adalah Ice Breaking. Kita diminta untuk membawa satu buah genteng dari rumah dan, di pelatihan disuruh untuk memecahkan geneng itu dengan tangan kosong secara bersama-sama. Ini untuk menghilangkan ketakutan dalam diri, membuat kita berani untuk memulai sesuatu yang kita anggap sulit dan mungkin juga tidak berhasil. Menumbuhkan inisiatif dan kemauan untuk berbuat. Itu hikmah yang paling tepat kurasa.

Yang paling berkesan buatku sih sebenarnya bukan pelatihan-pelatihan seperti ekstrakulikuler di sekolah-sekolah.

Yang benar-benar membuat perubahan besar dalam diriku adalah sesi jeda di antara kegiatan-kegiatan yang sudah dilakukan.

Setiap selesai melakukan kegiatan, akan diadakan sesi “Apa Yang Paling Berkesan?”

Para peserta akan ditanya terlebih dahulu, apa hikmah apa yang bisa diambil dari kegiatan ang sudah dilakukan oleh mereka beberapa saat sebelumnya. Biasanya sih yang menjadi pemandu sesi ini adalah Abdurahman Yuri, adik Aa Gym yang akrab disapa A Deda. Ternyata dia jauh lebih humoris dibandingkan Aa Gym. Padahal, Aa Gym saja kan sudah sangat sering bercanda untuk menghilangkan jarak antara “ulama dan umat” ketika sedang berceramah. A Deda, memberikan pendekatan yang lebih “segar”,cenderung ke arah lebih humoris. Mungkin karena beliau lebih muda dari Aa Gym.

Aa Gym juga mempunyai porsi tersendiri di pelatihan SSG. Biasanya beliau yang memimpin apel pertama di Sabtu sore, dan apel penutupan di Minggu sore. Serasa mimpi, biasanya aku hanya mendengar beliau di radio, kali ini aku bisa bertemu dan bertatap muka langsung dengan beliau minimal dua kali seminggu.

Tidak jauh berbeda dengan A Deda, materi yang diberikan oleh Aa Gym tidak jauh dari hikmah yang kita dapatkan dari pelatihan yang sudah dilalui minggu itu.

Jika ada acara bersama A Deda, kita akan mendapat kesan seperti sedang menonton campuran antara kelompencapir dan srimulat, karena pasti selalu berlangsung ramai dengan diskusi dan acungan tangan peserta yang ingin mengungkapkan pendapatnya untuk menjawab pertanyaan “Apa Yang Paling Berkesan?”

Paradigma Baru

Paradigma baru, ini yang paling berkesan selama menjalani pelatihan SSG. Setelah beberapa pertemuan, kita sudah mulai terbiasa dengan bertanya kepada diri sendiri: “Apa Yang Paling Berkesan Hari Ini?

Perubahan paradigma lain yang terjadi pada pikiranku adalah paradigma tentang ibadah dan tentang melakukan kebaikan.

Apa yang kita lakukan akan berbalik kepada diri kita sendiri, baik kebaikan atau pun keburukan.

Apa pun yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari ternyata bisa menjadi ladang amal untuk kita, semuanya hanya masalah niat saja. Ibadah tidak sebatas hanya sholat, puasa, zakat, sedekah dan haji.

Ibadah Untuk Bersyukur

Sebelum pelatihan, sholatku masih belang-betong, kadang- kadang masih bisa meninggalkan sholat dengan alasan yang tidak terlalu penting, seperti kesiangan bangun, ada tugas sekolah, atau membuat laporan praktikum.

Di pelatihan itu , aku sama sekali tidak pernah mendapat kalimat perintah: “Sholatlah kamu lima kali sehari!” Atau “Kamu harus sholat tahajud setiap hari!”. Yang ada hanya teladan dari para pelatih, santri dan ustadz yang memberi pelatihan dengan langsung memberi aksi dan mencontohkan.

Pemicu utama, ketika akhirnya aku bisa dan mau melakukansholat lima waktu tanpa merasa dipaksa, ternyata adalah isi dari salah satu ceramah Aa Gym ketika mengisi materi di SSG.

“Allah sama sekali tidak memerlukan sholat dan ibadah kita!” Ujar beliau dengan penuh semangat.

“Jika kita hanya menganggap sholat dan ibadah yang lain hanya sebatas rutinitas dan kewajiban, kita pasti akan jenuh, bosan, dan merasa terbebani ketikamelakukannya, tapi jika kita melakukan ibadah sebagai ungkapan rasa syukur kita, rasa terima kasih kita kepada Allah, yang tidak pernah berhenti memberikan semua yang kita perlukan tanpa kita minta!” Beliau menambahkan dengan lebih berapi-api, dengan kobaran mata yang membara, layaknya api yang ikut membakar semua yang mendengar untuk segera memutuskan hari itu juga, untuk merubah paradigma.

Ya! Paradigma baru,  bahwa kita melakukan ibadah untuk menunjukkan rasa syukur dan terima kasih kita kepada Allah. Bukan sebatas rutinitas belaka.

Terlepas dari apa yang sedang dibicarakan orang tentang Aa Gym sekarang,dan aku juga tidak begitu sering lagi mendengar atau melihat ceramahnya,  tapi setidaknya aku ingat, beberapa tahun yang lalu, beliau pernah mendapatkan gelar Tokoh Perubahan dari Republika.

Dan terbukti, akhirnya semenjak hari itu, aku tidak pernah berani meninggalkan sholat. Bahkan, aku jadi lebih sering sholat berjamaah di mesjid dekat rumahku.

Tahajud  pun, yang tidak pernah aku bayangkan akan kulakukan, ternyata bisa kulakukan dengan ringan, tanpa beban ngantuk, atau malas, ataupun perasaan berat.

Kuncinya hanya satu. Ya itu tadi, hanya tinggal merubah pikiran kita ke mode “bersyukur”, bukan ke mode “harus melakukan”.

Kalaupun  , setelah beberapa tahun berlalu dan ternyata aku tidak segiat dan serajin dahulu, itu adalah semata disebabkan oleh diriku sendiri.

Uang Yang Habis Untuk Kepentingan Belajar Adalah Investasi, Bukan Konsumsi

Satu lagi paradigma baru yang kudapat selama dipelatihan itu. Sebelumnya, aku masih memiliki paradigma secara umum, bahwa membeli buku adalah konsumsi, bagian dari sebuah pemborosan. Untuk beberapa kasus sih memang seperti itu, karena aku masih sekolah dan belum mempunyai penghasilan.

Cerita yang paling berkesan adalah ketika ada seorang pengusaha, dia biasa saja, tidak terlalu kaya atau pun sangat sukses. Suatu hari dia melihat iklan dari sebuah pelatihan di koran. Biaya pelatihan ini, sangat mahal, sekitar tujuh puluh lima juta. Ya! Tujuh puluh lima juta rupiah, hanya untuk training selama tiga hari.

Teman, sudara, bahkan keluarganya berpikir dia gila, sableng, sinting, ngga waras, dan sebagainya dan seterusnya, mencela dia kenapa bisa “sebodoh” itu menghabiskan uang untuk sebuah pelatihan yang hanya tiga hari.

Orang ini tetap pantang mundur dan akhirnya mengikuti pelatihan seharga tujuh puluh lima juta ini. Yang mengikuti training ini pun ternyata hanya beberapa orang. Karena mahal dan belum banyak orang yang mengerti dan tahu mengenai materi training ini.

Sepulang pelatihan, sikap mereka tetap sama.

Sampai akhirnya, dimulai beberapa minggu setelah training yang super mahal itu, orang ini tiba-tiba menerima beberapa undangan seminar dari sebuah universita ternama. Dia diundang sebagai pembicara, karena pihak universitas tersebut menerima rekomendasi dari perusahaan yang mengadakan pelatihan untuk mengundang orang ini.

Dan ternyata,   untuk berbicara satu jam saja, orang ini diberi honor setidaknya tiga puluh juta. Ya! Tiga puluh juta hanya untuk berbicara dan presentasi selama satu jam saja.

Akhirnya tidak sampai satu minggu, uang yang tujuh puluh lima juta itu telah balik modal dan sudah untung puluhan juta!

Kelak, di masa depan, kisah yang luar biasa itu akhirnya malah terjadi juga pada diriku, seperti yang kutulis di Dialog Lima Belas Juta. Terbukti bahwa uang yang dibelanjakan buku, dan “membeli” ilmu, akan mendatangkan keuntungan yang luar biasa besar.

Bersambung…