Bandung Lautan Hot Pants


                Miris, sedih, kecewa. Itu yang kurasakan ketika baru beberapa jam menginjakkan kaki di kota kelahiranku, Bandung.

Masih terbayang beberapa tahun yang lalu, di masjid sebelah rumahku masih ada yang mengaji setiap sehabis sholat magrib. Sekarang sudah sepi.

Masih terbayang ributnya anak-anak kecil yang masih olol leho (ingusan), berjilbab walaupun lusuh, berbaju koko walaupun belel, memakai sarung walaupun milik kakaknya, sehingga harus selalu mereka pegangi agar tidak merosot. Aku yakin mereka lebih dekat ke miskin daripada berkecukupan. Aku masih ingat puluhan anak-anak itu minta diantar olehku, dan sambil berjalan, mereka bersholawat bersama sekencang-kencangnya, atau mengaji, bahkan ada yang sesekali menyelingi dengan lagu Sheila on Tujuh, eh Sheila on 7. Indah dan Kurindukan.

Setelah lebih dari sepuluh tahun berlalu, hal itu tidak kulihat lagi.

Detik pertama aku memasuki kota Bandung, selepas Gerbang Tol Pasir Koja, aku sudah disuguhi pemandangan yang dulu sangat jarang kulihat. Girls with hot pant (gadis dengan celana panas, eh celana super pendek)yang sedang menunggu bis. Waduh, rasa- rasanya baru dua puluh dua bulan aku tidak ke Bandung, kenapa tiba- tiba ada pemandangan seperti ini. Ah, mungkin saja itu hanya kebetulan, mungkin orang luar kota yang sedang mampir ke Bandung.

Beberapa ratus meter kemudian, dugaan “kebetulan” itu mulai hilang, karena ada sepasang muda-mudi, dan tidak mungkin suami istri,  sedang berboncengan. Dan si cewek yang di belakang, mengenakan celana dengan model yang sama persis dengan yang kulihat beberapa ratus meter sebelumnya.

Dan ternyata, itu hanya beberapa saja dari puluhan hal serupa yang kulihat sepanjang jalan dari Gerbang Tol Pasir Koja ke tempat kelahiranku Bonji, yang hanya berjarak beberapa kilometer saja.

Memasuki daerah Bonji, sejujurnya sih aku berharap untuk tidak melihat lagi pemandangan semacam itu.

Dan harapanku itu ternyata hanya bertepuk sebelah tangan.

Baru juga memasuki gerbang jalan, sudah ada tiga orang cewek, di tengah gerimis, memakai “celana panas” itu lagi!

Dan yang paling menyedihkan, mereka itu anak- anak kecil olol leho  yang mengaji ke mesjid setiap hari.

Dan sampai beberapa hari kemudian aku berkeliling di Bandung, pemandangan yang sama masih kuliahat saja. Di BIP, Bandung Supermall, di jalan, Yogya Kepatihan, pasti ada saja kulihat cewek yang memakai celana panas itu.

Duh!

Entah apa penyebabnya. Mungkin banyak orang Bandung yang semakin miskin, sehingga sekarang makin sedikit orang tua yang mampu membelikan baju yang pantas untuk anaknya.

Semoga itu hanya ketidakberuntunganku saja sehingga aku disuguhi pemandangan seprti itu.

Semoga pemandangan semacam itu tidak kulihat lagi di Bandung.

Diday Tea

1207201102:16, ditemani oleh Gipang Super Original

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s