Komitmen Ketiga

 “Bila kamu tak tahan lelahnya belajar, maka kamu akan menanggung perihnya 

kebodohan.” (Imam Syafi’i)

            Ada salah satu penyesalan terbesar di dalam hidup saya. Ketika saya memutuskan untuk berhenti kuliah.

Sampai hari ini, saya masih merasa nyaman dan aman dengan alibi, bahwa saya memilih untuk mengorbankan kuliah saya demi mendapatkan gaji puluhan kali lipat, demi melunasi hutang- hutang saya, demi membahagiakan orang tua saya, demi impian saya untuk segera menikah, dan masih banyak lagi.

Saya memilih untuk berhenti kuliah, karena banyak sekali SKS yang harus saya ambil untuk setidaknya bisa mengerjakan Tugas Akhir.

Dan baru hari ini, saya menyadari ternyata, alasan- alasan itu tidak terlalu kuat.

Penyebab utama saya tidak pernah berhasil menyelesaikan kuliah saya sebenarnya karena komitmen belajar saya yang lemah. Berjuta alasan telah saya buat untuk menjadi alibi kelemahan saya dalam berkomitmen untuk belajar.

Lemah Komitmen

Di kampus saya yang pertama, hanya ada tiga orang yang berstatus karyawan. Semua mahasiswa yang lainnya adalah mahasiswa reguler. Karena di kampus saya yang pertama belum ada kelas karyawan.

Selama tiga tahun lebih belajar di sana, sangat jelas terlihat, komitmen mereka jauh lebih hebat dan kuat dari saya.

Padahal saya sudah merasa berjuang dan berusaha luar biasa untuk bisa mengikuti jadwal kuliah reguler.

Durasi shift saya di pabrik yang pertama adalah delapan jam. Dengan jadwal 6-2, dua hari kerja pagi jam delapan malam, dua hari kerja siang jam empat sore, dua hari kerja malam jam dua belas malam.

Beberapa kali saya berada di luar rumah saya lebih dari dua puluh empat jam. Bayangkan saja, saya pernah kuliah dari pagi sampai sore. Sorenya harus berangkat bekerja shif siang. Eh, ternyata saya harus lembur sampai shift malam, dan pulang kerja besok paginya.

Padahal besok paginya ada beberapa jadwal kuliah yang tidak bisa ditinggalkan.

Walhasil, hari itu saya terpaksa numpang mandi di tempat kosan teman kuliah yang dekat kampus dan sore harinya sudah harus berangkat lagi bekerja shift siang.

Tapi perjuangan seperti itu ternyata masih kurang dibanding kedua teman saya itu.

Mereka hampir tidak pernah melewatkan setiap kelas atau praktek yang diikuti. Padahal jadwal kerja mereka hampir sama dengan saya. Tapi nilai- nilai mereka lumayan bagus, tidak sampai seperti saya yang harus mengulang Kalkulus 1 sampai tiga kali.

Mereka sering tinggal lebih lama di perpustakaan kampus sekedar untuk mendiskusikan tugas dan prosedur praktek.

Tidak seperti saya yang kadang- kadang hanya mengandalkan keberuntungan dan kecepatan membaca saya, di beberapa mata kuliah, saya dengan hanya muncul satu atau dua kali di kampus, tiba- tiba hadir lagi ketika UTS dan UAS. Parah.

Padahal mereka berdua lebih tua dari saya. Bahkan, sampai ada yang paling tua di antara kita, sudah beranak dua, malah disangka dosen ketika masuk kelas pertama kali. Ya jelas saja, dia tampangnya memang agak sangar, dengan kumis dan brewok di wajahnya, tidak ada seorang pun di dalam kelas itu yang menyangka dia adalah mahasiswa semester pertama?

Saya memutuskan untuk pindah kuliah dari kampus itu karena saya pindah kerja yang jam kerjanya normal, bukan shift. Tidak mungkin lagi saya bisa menghadiri kelas mahasiswa reguler dari pagi hingga sore.

Kampus Dua

 

            Di kampus saya yang kedua, saya mengambil kelas malam khusus karyawan. Dan ditambah hari Sabtu atau Minggu jika ada praktek.

Ternyata jauh lebih melelahkan.

Hampir setiap hari badan ceking saya hampir selalu terasa remuk redam kehabisan tenaga.

Saya bekerja di perusahaan Jepang yang notabene sangat sibuk. Dari jam delapan pagi sampai jam lima sore, hampir tidak ada jam istirahat selain jam makan siang dan waktu sholat.

Belum lagi kalau sering terpaksa lembur karena pekerjaan yang belum selesai.

Hampir setiap hari saya pulang menjelang tengah malam. Saya bekerja di daerah Anyer, ngekos di Cilegon, tapi kuliah di Serang. Sekedar menghabiskan waktu di perjalanan saja sudah sangat melelahkan.

Hampir setiap kali masuk kuliah tubuh terasa tidak nyaman, karena gerah, badan terasa cepel (lengket) dan masih memakai seragam kerja. Ketika mahasiswa lain di kelas berpakaian rapi jali dan harum, saya masuk kelas dalam keadaan kucel kumel kuleuheu (dekil), dan sedikit bau apek. Saya pun tahu diri untuk tidak mengambil tempat duduk di depan, sehingga terpaksa harus duduk mojok di sudut kelas.

Pernah suatu malam, ketika saya baru saja selesai kuliah tiba- tiba diminta untuk datang ke pabrik karena ada masalah. Hanya saya yang bisa datang, karena orang lab yang lain sedang cuti dan tidak bisa datang.

Walhasil, dengan seragam yang sama dengan yang tadi pagi, dan dengan tubuh yang sudah terasa lengket penuh dengan garam dari keringat yang mengering saya harus berangkat lagi ke tempat kerja. Dan kembali bekerja lagi sampai pagi.

Dua semester awal saya masih bisa memaksa diri untuk mengikuti pola hidup seperti itu.

Tapi setelah itu akhirnya saya mulai menyerah, saya menyerah dengan komitmen saya yang kedua untuk bisa menyelesaikan kuliah saya.

Kuliah mulai jarang. Sampai puncaknya ketika uang SPP juga mulai tidak terbayar. Biaya kuliah di kampus saya yang baru ini hampir tiga kali lipat lebih mahal dari kampus yang sebelumnya yang sudah berstatus Universitas Negeri. Kampus ke dua ini kampus swasta yang kampus pusatnya ada di Jakarta.

Ada tiga teman satu angkatan saya di kampus yang terakhir, pada akhirnya bisa menyusul saya ke Qatar, tapi mereka berhasil menyelesaikan kuliahnya.

Bedanya mereka dengan saya, ya itu tadi, masalah komitmen. Walaupun mereka bekerja di waktu yang sama dengan saya, sibuknya sama dengan saya. Mereka bahkan lebih sibuk karena mengambil jurusan Teknik Kimia, tidak sesibuk jurusan Teknik Industri yang saya ambil.

Toh, pada akhirnya mereka lulus juga.

Dan pada akhirnya juga, mereka bisa menyusul saya ke bekerja di luar negeri.

Hampir dapat dipastikan, peluang mereka untuk mengembangkan karir di perusahaannya lebih terbuka lebar. Dengan posisi saya yang sekarang, dan latar belakang pendidikan yang hanya lulusan SMK, perkembangan karir yang paling mungkin ya hanya sekedar promosi naik Grade. Diperlukan kualifikasi yang lebih untuk menjadi level yang lebih tinggi, bahkan di posisi yang ada di departemen yang lain,  pendidikan setingkat sarjana menjadi syarat yang hampir mutlak.

Secara gelar akademis, tentu saja tidak ada gelar apa pun yang saya dapat, karena sama sekali tidak lulus. Secara keilmuan pun, ilmu yang saya dapat dari kuliah di jurusan Teknik Industri hanya sedikit sekali dibanding lamanya kuliah yang delapan semester.

Pengorbanan energi dan uang, serta perjuangan saya bertahun- tahun seolah- olah menguap habis begitu saja ketika saya memutuskan untuk meninggalkan bangku kuliah.

Memang sih ada alasan yang kuat, karena saya tidak melewatkan kesempatan yang mungkin hanya sekali seumur hidup untuk bisa bekerja ke luar negeri.

Komitmen Ketiga

 

Di pertengahan tahun dua ribu sepuluh, untuk ketiga kalinya saya berkomitmen untuk kuliah lagi. Kali ini saya memilih jurusan Manajemen, di Universitas Terbuka. Selain karena tidak ada jurusan teknik, pertimbangan bahwa jurusan Teknik Industri memiliki banyak mata kuliah yang sama dengan Manajemen juga menjadi faktor penentu.

Alhamdulillah, kali ini hampir tidak ada kendala.

Tidak ada kendala masalah biaya, karena UT tergolong murah.

Tempat ujian dekat dengan rumah saya.

Semua buku kuliah yang saya perlukan sampai lulus sudah saya beli sejak awal masa pendaftaran.

Dan justru karena tidak ada kendala ini, diri saya dituntut untuk memiliki komitmen yang lebih kuat agar bisa menyelesaikannya. Sekarang usaha dan pengorbanan saya tidak terlalu berat,. Tidak seperti ketika saya kuliah di Cilegon- Serang dulu. Semuanya membutuhkan perngorbanan yang sangat besar. Dari biaya kuliah, ongkos bolak- balik Cilegon- Serang, kelelahan yang luar biasa ketika sepulang bekerja seharian, harus langsung kuliah sampai jam sebelas malam, dan tiba di rumah menjelang tengah malam. Dan ongkos bolak- balik ke Jakarta ketika harus ada praktek.

Saya bisa berhenti kapan saja, karena hampir tidak ada beban dan pengorbanan apa pun.

Belajar di Universitas terbuka kali ini lebih menantang, terutama dari sisi komitmen dan penguatan disiplin diri.

Ada tugas online yang harus saya kerjakan setiap minggu selama delapan minggu. Ada forum diskusi, ada tugas makalah. Yang berbeda hanya semuanya bisa saya kerjakan di rumah. Rata- rata saya mengambil 20 SKS satu semester. Jauh lebih singkat dari yang saya perkirakan sebelumnya.

Alhamdulillah, tidak terasa sudah lebih dari 100 SKS yang sudah saya tempuh dari 144 SKS yang ada.

Saya akan merasa malu luar biasa jika kali ini kuliah saya tidak sampai selesai juga.

Insyaallah, semoga Allah menguatkan komitmen saya, agar saya bisa melanjutkan kuliah saya ke jenjang yang lebih tinggi. Jika sudah menyelesaikan tahap ini, tentunya akan memudahkan saya untuk mengambil Master Degree di jurusan yang lain.

Walau pun jurusan yang saya pilih kali ini adalah “Jurusan Sejuta Umat”, yaitu jurusan manajemen, yang secara kasat mata jelas- jelas tidak akan banyak membantu untuk pengembangan karir saya di tempat bekerja sekarang, tapi saya mempunyai keyakinan.

Ini Déjà vu.

Di buku pertama saya, “Oase Kehidupan Dari Padang Pasir”, tulisan pertamanya adalah “Dialog Lima Belas Juta”, yang menceritakan pengalaman saya yang sedikit dicibir karena telah mengumpulan buku senilai lima belas juta. Yang pada akhirnya, dengan pertolongan Allah, buku- buku itulah yang telah mengantarkan saya bekerja di luar negeri.

Seperti itu juga pilihan saya untuk kuliah kali ini. Saya yakin, dengan izin Allah, di masa depan, setiap detik yang saya habiskan, setiap riyal uang yang saya bayarkan, setiap kalori energi saya yang terbakar ketika belajar, di masa depan akan Allah ganti dengan sesuatu yang dahsyat.

Insyaallah!

Doha, 3 Juni 2013

http://www.didaytea.com

Satu Riyal Yang Ajaib

Satu Riyal Yang Ajaib


“Jangan pernah meremehkan amalan sekeciil apa pun,  walau hanya sekedar tersenyum, karena kita tidak akan pernah tahu sebesar dan sedahsyat apa balasan yang Allah siapkan untuk kita di masa depan.

Di suatu pagi hari yang panasnya sudah seperti siang itu (Di sini sudah mulai memasuki musim panas, adzan subuh  sudah berkumandang jam setengah empat pagi. Jadi jam setengah lima langit sudah terang benderang) seperti biasanya saya menyetir menuju tempat bis jemputan.

 
Hampir setiap pagi sih, saya melewati sebuah pertigaan jalan. Di atas trotoar tepat di pertigaan itu, ada seorang tukang koran yang bulak- balik dari trotoar itu ke trotoar di seberang jalan di belakangnya. Mungkin di situ adalah tempat agen besar mendrop koran untuk dijual hari itu. Setiap saya melewatinya, dia pasti terlihat sedang sibuk membereskan dagangannya. Pernah saya melewati jalan itu agak siang, sekitar jam tujuh, dia masih ada di sana.

 
Awalnya sih tidak ada yang istimewa atau luar biasa. Ya, tukang Koran kan di Indonesia juga banyak.

 
Setiap saya bekerja shift pagi melewati pertigaan itu, setiap kali itu pula saya melihat pemandangan yang sama di atas trotoar itu. Si Bapak Tua tukang koran yang sedang membereskan beberapa tumpukan koran.

 
Pada suatu pagi, entah kenapa saya tiba- tiba ingin membaca koran.

 
Dari kejauhan saya sudah pasang lampu sein untuk menghampiri trotoar di pertigaan kecil itu.

 
Tepat ketika saya berhenti dan membuka pintu jendela kanan mobil saya, si Bapak Tua langsung menghampiri dan menyapa dengan ramah.

 
“Good Morning Pare!” Sapanya sambil langsung memajang senyum di bibirnya.

 
“You are Muslim?” Dia langsung bertanya lagi, mungkin karena mendengar alunan merdu Syaikh Abdurrahman As Sudais dari dalam mobil.

 
“Good Morning! Yes, alhamdulillah I am Muslim. But I am not Filipino, I am Indonesian, please call me Pak or Mas!” Jawab saya dengan sigap, dan langsung menjelaskan.

 
“Oh Sorry Sir, Sorry, I don’t know you are Indonesian!” Dia menjawab lagi sambil tetap tersenyum.

 
Di sini sudah sering dan lumrah kalau orang Indonesia dikira orang Filipina.

 
O iya, “Pare” itu artinya kurang lebih Masbro lah kalau dalam bahasa Indonesia gaul.

 
“Its okay no problem. You have Gulf Times?” Saya langsung saja bertanya.

 
Di Qatar, Koran yang berbahasa Inggris yang paling terkenal, eh, yang paling saya kenal sih, adalah Gulf Times dan Peninsula.

 
Itu pun jarang sekali saya baca. Kalau pun membaca, paling limpahan dari bekas bacaan para atasan yang sudah kadaluwarsa. Dan lagi pula, saya merasa belum ada urgensinya untuk saya membaca Koran lokal, kan internet sudah dua puluh empat jam dalam genggaman tangan, kapan saja saya bisa mengetahui informasi terbaru dari belahan bumi mana pun.

 
Pernah sih sengaja membeli koran berbahasa Arab, Al Watan.

 

Walau pun tidak intensif, tapi saya juga sedang belajar bahasa Arab. Tadinya sih diniatkan untuk praktek belajar bahasa Arab, dengan membaca situasi aktual, di koarn yang berbahasa Arab. Saya pikir bakal tidak akan terlalu sulit karena sudah ada kamus dan tentunya, Google translate.  Eh, pada kenyataannya, Alhamdulillah, setelah seminggu koran itu saya beli, tidak satu artikel pun yang saya berhasil pahami. Blas, ngga ada yang ngerti dan nyambung terjemahannya. Hehehe.

 
“Have Sir!” Dia langsung dengan gesit dan sigap membawa sehelai koran yang saya maksud. Sedikit tidak terduga, karena hampir tidak ada bagian dari rambut si Bapa Tua itu yang berwarna hitam.

 
“Peninsula I also have Sir! You want?”  Dia menawarkan koran yang satunya lagi.

 
“Okay I will take!” langsung saja saya iyakan tawarannya.

 
Dua eksemplar koran pun tak lama berpindah ke jok di sebelah kanan.

 
Kuulurkan selembar uang berwarna hijau, uang lima riyal kepada si Bapak Tua.

 
“One riyal, for you! Halal! Halal! Okay?” Langsung saja saya klarifikasi, ketika dia lagi- lagi dengan sigap langsung mengeluarkan selembar uang satu riyal dari saku kemeja biru tuanya yang sudah lusuh.

 
“Thank you so much Sir!” Ucapnya dengan wajah yang sumringah, sambil memasukkan lagi uang yang sudah dia pegang tadi.

 
“Wa’alaikumsalaam!” Dia menjawab sambil mengangkat tangan kanannya dan menempelkan tangan itu di atas dadanya ketika aku pamit dan berlalu mengucapkan salam.

 
Sejak saat itu, hampir setiap kali saya masuk pagi, saya pasti akan membeli koran dari si Bapak Tua itu.

Pernah beberapa kali, karena sudah terlambat, saya tidak sempat berhenti di pertigaan itu. Tampak sekali wajahnya yang penuh dengan harapan ketika dia langsung berdiri sambil memegang dua koran, ketika dia mulai melihat mobil biru saya dari kejauhan.

Saya hanya bisa mengangkat tangan dan menunjuk ke arah jam tangan saya, dengan harapan dia akan mengerti bahwa saya sudah terlambat mengejar bis jemputan.

 

Ketika besoknya saya berhenti di tempatnya, senyumnya selalu lebih lebar dari biasanya. Seolah ingin menunjukkan terimakasihnya karena saya sudah membeli korannya.

 

Satu riyal bernilai sekitar dua ribu enam ratus rupiah.

 

Tentunya nilai itu tidak seberapa. Di Qatar, satu riyal hanya  bisa membeli satu botol air mineral berukuran lima ratus mililiter.

 

Hampir terasa tidak ada nilainya.

 
Tapi, bayangkan apa yang bisa uang satu riyal ini lakukan ketika saya sedekahkan.

 
Si Bapak Tua ini sangat mungkin menanggung nafkah keluarganya dengan jauh- jauh pergi ke luar dari negerinya. Dan menafkahi keluarga tentunya adalah pahala yang luar biasa besar.

 
Terus, bagaimana dengan koran yang saya beli tadi?

 
Oh, ini tentu saja bakal bermanfaat.

 
Teman- teman saya, termasuk saya sendiri  di tempat kerja kan tidak semuanya punya akses ke koran baru.

 
Kadang- kadang kami sampai berebut ketika ada koran yang tergeletak.

 
Setidaknya ini membuat saya jadi melek informasi dan bisa memberi kebahagiaan kecil bagi teman- teman di kantor saya.

 
Siapa tahu , mungkin di akhirat kelak uang satu riyal ini yang menjadi tiket saya masuk ke Surga kan?

 
Siapa tahu, sedikit kebahagiaan kecil karena teman- teman saya bisa membaca koran tanpa harus membeli, adalah pembuka jalan bagi saya untuk mendapatkan rejeki yang luar biasa di masa depan?

 
Ganjaran dari Allah memang tidak selalu instan atau seperti memakan keripik pedas. Jam tujuh makan keripiknya, seketika seperti ada api unggun yang menyala di dalam perut kita.

 
Tapi disitulah The Art of Giving, kata ustadz Yusuf Mansur.

 
Bersedekahlah walau pun satu sen.

 
Memberilah walau pun itu hanya sekedar benda- benda yang sudah kita anggap sampah.

 
Berbagilah walau pun dengan barang- barang yang kita anggap tidak berharga.

 
Jangan pernah meremehkan amalan sekeciil apa pun,  walau hanya sekedar tersenyum, karena kita tidak akan pernah tahu sebesar dan sedahsyat apa balasan yang Allah siapkan untuk kita di masa depan.

Doha, 1 Juni 2013
www.didaytea.com

Brute Force Attack Al Qur’an

“Belum berhasilnya kita menggapai keinginan kita, kemungkinan besar karena kita terlalu cepat menyerah dengan keadaan. Belum mencoba segala kemungkinan yang ada”

Hafalan Mentok

Ada salah satu adegan di dalam film Transformers, ketika si robot alien yang menjelma menjadi sebuah boom box, dengan mudahnya menjebol password dan sistem keamanan di  NSA hanya dalam beberapa saat.

“Even though it will do brute force attack to break the our security, it will take thousands of years, but this thing just breached our security wall in a matter of second!” Kata si Teteh berambut pirang dengan logat Britishnya yang sangat kental.

Brute force attack adalah metode untuk memecahkan suatu kode dengan mencoba satu per satu semua kemungkinan yang ada.

Pengertian dari PCMag: “The systematic, exhaustive testing of all possible methods that can be used to break a security system”.

Sederhananya, seperti kita lupa kombinasi kunci koper yang hanya tiga digit. Ada 4960 kemungkinan kombinasi yang harus kita coba satu per satu.

Sudah beberapa tahun ini saya selalu mentargetkan untuk bisa menghafal Juz’Amma. Dengan target jangka panjang, menghafal seluruh 30 Juz Al Qur’an tentunya.

Tapi entah kenapa, selalu mentok, bahkan di surat pertama: An Naba.

Dan biasanya, begitu mentok, ya sudah saya menyerah deh. Paling banyak yang bisa saya hafal, sepuluh ayat, itu pun timbul tenggelam. Kadang tidak hafal sebagian, kadang ingat sebagian. 😀

Takdir Allah, saya mendengar ceramah  Kajian Makrifatullah Aa Gym yang terbaru, di tahun  2013, ada bagian yang membahas tentang menghafal Al Qur’an, ada juga tweet dari ustadz Yusuf Mansur, dan @HapalQuran.

Intinya ya seperti Bruce Force Attack  tadi, ketika kita sudah berniat menghafal Al Qur’an, ya kita harus mencoba setiap langkah, daya dan upaya.

Kalau kata Aa Gym sih, hikmahnya ketika kita sudah berusaha keras tapi belum hafal- hafal juga, mungkin Allah ingin kita lebih sering lagi membaca Al Qur’an. Kan, makin susah hafal, kita seharusnya makin banyak membacanya. Dan ada sepuluh kebaikan dari setiap huruf yang kita baca.

Mungkin jika kita langsung hafal, kita malah jadi malas lagi membacanya, karena mentang- mentang sudah hafal.

Selama empat tahun, ya, empat tahun, saya selalu menyerah. Boro- boro bisa menghafal full 30 Juz, Juz Amma saja, di luar surat- surat pendek yang sudah biasa kita hafal sejak TPA sepulang sekolah SD dulu, aku sudah menyerah. Surat paling panjang yang saya hafal paling, Al Fajr, dan itu juga masih “belang- betong”, masih sering ada ayat yang terlewat. Kalau Al A’Laa dan Al Ghasyiyah mah Alhamdulillah, akurasinya sudah 99%. Ketiga surat ini pun, baru tahun- tahun ini saja bisa saya hafal.

Masih kalah sama anak- anak TPA atau SD Islam, yang rata- rata sudah hafal Juz 30.

Tadinya mau saya acak saja urutannya. Karena An Naba ngga hafal- hafal, coba yang lain. Al Bayyinah. Eh, ternyata walaupun Cuma delapan ayat, tapi sama aja, panjang.

Tapi ya kenyaataannya seperti itu.

Pada akhirnya, saya memilih untuk bersembunyi di balik alibi bahwa masih banyak orang Islam yang belum bisa membaca Al Qur’an, masih banyak orang Islam yang jarang mengaji Al Qur’an.

Keinginan saya kembali berakhir sebatas niat.

Saya menyerah. Dan di dalam sholat pun, surat yang saya baca tidak pernah beranjak dari At Takatsur, Alam Nasyrah, Al Maa’un, At Tiin, dan tentu saja trio “Qul”, Al Ikhlas, Al Falaq dan An Naas. :D.

Niat Lagi

Di Awal tahun 2013 ini, saya bertekad  untuk mencoba lagi menghafal Juz ‘Amma. Kali ini serius saudara- saudara. Apalagi setelah sering membaca tweetnya Ustadz Yusuf Mansur dan @HapalQuran tentang One Day One Ayat, makin kuatlah tekad saya tersebut.

Kembali ke adegan film Transformer tadi. Adegan pendek di film itu menginspirasi saya untuk melakukan hal yang sama: Brute Force Attack.

Tapi kali ini targetnya adalah Al Quran.

Target utama yang terdekat saya empat bulan yang lalu tentunya seperti biasanya: Surat An Naba.

Saya beli CD murottal yang per Juz.

Ketika mudik dua bulan yang lalu, saya membeli Al Qur’an hafalan.

Tidak satu atau dua, tapi tiga!

Satu saya simpan di tas. Satu di dekat komputer, dan satu lagi di rak buku. Agar setiap saat, ketiadaan Al Qur’an di dekat saya tidak menjadi alasan.

Di iQuran, saya book mark surat An Naba.

Di telepon genggam, saya buat playlist khusus untuk Juz 30.

Sepanjang perjalanan ke tempat pekerjaan yang menghabiskan waktu selama satu jam, saya hampir selalu menyetel Surat An Naba. Di bis Surat An Naba. Sholat, surat An Naba.

Sebelum tidur, hampir selalu surat An Naba yang saya putar. Dengan harapan akan masuk ke dalam alam bawah sadar saya, seperti yang dibilang di dalam buku Quantum Learning. Apa yang kita dengar sebelum tidur, dan selama tidur, akan lebih mudah masuk ke dalam pikiran dan otak kita.

Pokoknya mah, tiada hari tanpa Surat An Naba deh!

Eh ternyata setelah dua bulan, masih belum hafal juga.

Terus lagi nyoba.

Lebih sering, lebih sering, beli CD lagi, Syaikh Abdurrahman As Sudais, 17 CD, biar jelas suaranya.

Sebelumnya CD yang saya selalu putar adalah dari Syeikh Khalifa At Tunaiji, ini sangat lambat. Tapi bagusnya, ada dua kali bacaan. Yang pertama membaca adalah Syeikhnya sendiri, terus diulang oleh seorang muridnya, anak kecil.

Ketika shift malam, bisa digeder, diputar semalaman sambil bekerja. Eh, ngomong- ngomong, digeder apa ya bahasa Indonesianya?

Dikeureuyeuh?

Ini juga masih bahasa Sunda ya? Hehehe

Diikuti dengan membaca terjemah per katanya.

Kurang lebih, artinya melakukan pekerjaan yang sama berulang- ulang sesering mungkin.

Saya pecah hafalan menjadi dua bagian, halaman pertama (halaman 582) dan halaman ke dua (halaman 583). Biasanya sih, saya baca ketika sholat rawatib atau tahiyatul masjid.

Saya juga membaca tafsir surat An Naba.

Ah, pokoknya, semua alternatif dan langkah serta tips untuk menghafal Al Qur’an tadi saya lakukan semuanya.

Alhamdulillah, ada perkembangan yang signifikan walau pun masih “apal cangkem” (hafal saja, tanpa mengetahui artinya).

Ini sudah sangat lumayan, dibanding “niat- niat” saya yang sebelumnya. Walau pun masih sering nge-blank  ketika di dalam sholat, tapi mulai sering saya bisa membaca terus hingga halaman pertama hampir habis.

Tadinya saya ingin membuat sibuk sebagai alasan. Kenapa masih belum hafal juga, padahal sudah dua bulan.

Memang pastinya kasus akan berbeda dengan lingkungan yang sengaja dibentuk seperti Daarul Quran, atau Rumah Hafiz. Mereka minimal bisa menghafal satu halaman dalam satu hari. Tujuh sampai delapan jam waktu mereka dalam sehari sepenuhnya digunakan untuk menghafal.

Tapi tidak bisa jadi alibi. Waktu luang bisa kita buat dan usahakan, bukan kita yang menunggu waktu luang. Yang lebih penting adalah niat.

Kalau niat menghafal saja tidak ada, bagaimana mau rutin membaca Al Qur’an kan?

Untuk orang seperti saya, yang bekerja shift,  kadang ketika sudah berkomitmen kuat pun, selalu saja ada kendala untuk mengkhususkan waktu. Sangat sulit untuk bisa menghafal pada waktu yang sama.

Jadi cara yang agak berhasil sih, ya itu tadi brute force attack, karena tidak terikat jadwal. Harus seperti striker oportunis, yang pandai memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Ada momen sedikit saja, langsung deh saya eksekusi. Jika kuat, dan niat sholat sunat, tidak ada surat lain yang saya baca selain An Naba.

Berhasil!

Dan lima hari yang lalu, Alhamdulillah, Allahuakbar! Empat puluh ayat Surat An Naba berhasil saya baca dari awal sampai akhir di dalam sholat tahiyyatul masjid. Setelah empat tahun berniat menghafal Juz Amma.

Alhamdulillah,  walau pun tidak sepenunya lancar, dan hanya 60 persen artinya yang mengikuti bacaaan saya, tapi ini pertamax kalinya saya bisa membaca Surat An Naba di luar kepala.

Dengan karunia Allah, dan Brute Force Attack tadi akhirnya saya berhasil.

Belum berhasilnya kita menggapai keinginan kita, kemungkinan besar karena kita terlalu cepat menyerah dengan keadaan. Belum mencoba segala kemungkinan yang ada.

Semoga setelah ini jalan saya untuk menjadi penghafal Al Qur’an menjadi lebih mudah, lebih luas dan lebih lapang.

Mari menghafal Al Qur’an!

(Terima kasih kepada Ustadz Yusuf Mansur, Aa Gym dan @HapalQuran)

http://www.didaytea.com

Menghargai Keringat

“Tetesan keringat dan kucuran peluh yang keluar dari hasil jerih payahseorang ayah atau suami ketika mencari nafkah untuk anak dan istrinya, bisa jadi bernilai syurga karena itu dihitung sebagai sedekah”


Sudah jadi peraturan dan keinginan dasar di dalam hukum ekonomi untuk meraih keuntungan sebesar- besarnya dengan modal yang sekecil- kecilnya.

Prinsip ini juga yang aku lakukan ketika aku masih tinggal dan bekerja di Cilegon.

Sewaktu aku masih membanting- banting tulang dan memeras- meras keringat di Cilegon, aku menjalani berbagai peran. Seorang karyawan swasta, seorang mahasiswa juga, dan seorang pedagang juga.

Peran pedagang, aku jalani sebagai kebutuhan, untuk menggeser kesetimbangan keuanganku ke arah kanan, demi untuk menambal kekurangan biaya kuliah. Peran ini juga aku jalani sebagai pemenuhan naluri dan insting berdagangku yang sudah muncul sejak masih bersekolah. Hampir setiap mudik dari Bandung, aku selalu membawa barang dagangan.

Dari buku, VCD ceramah atau nasyid, bahkan baju- baju distro yang baru ngetrend di Bandung sampai jagung pop dalam kemasan, serta deterjen tanpa busa pun tak luput menjadi komoditas daganganku juga.

Di tahun terakhir, sebelum aku berangkat ke Qatar, aku “menemukan” barang dagangan baru yang untungnya jauh lebih besar dibanding komoditas yang biasanya aku jual.

Awalnya sih hanya iseng, ketika aku bersama Ibuku berjalan- jalan ke daerah Cibadak. Di sana banyak toko grosir aksesoris untuk wanita, seperti bros, pin, jepit rambut dan lain lain. Di salah satu toko, ada yang menawarkan bros untuk para jilbaber. Bentuknya lucu- lucu, dari yang berbentuk Kaligrafi, atau tokoh kartun yang berjilbab, atau hanya sekedar rangkaian kata- kata bernuansa Islami.

Waktu itu aku langsung memborong beberapa lusin bros yang sudah dikemas rapi secara satuan.

Di luar dugaan, ternyata hampir semua bros- bros ini ludes tak bersisa hanya dalam waktu kurang dari satu minggu. Itu pun pembelinya baru teman- teman kerja, teman kuliah  dan anak- anak tetanggaku.

Ternyata insting aku tepat. Di daerah Cilegon Serang, bros- bros Islami itu ternyata masih sangat jarang. Untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar, aku membeli bros itu dalam bentuk curah. Satu kantung plastik besar berisi ratusan bros berbagai macam bahan dan jenis.

Kendalanya adalah aku harus mengemas satu per satu setiap bros itu dengan plastik bening. Berjam- jam aku habiskan  untuk mengemas bros itu satu – persatu. Ditambah dengan waktu yang kuhabiskan juga untuk membuat proposal kerjasama dengan toko buku, malam itu aku hampir
tidak tidur sama sekali.

Dan aku juga harus membeli sendiri semacam rak pajang, yang bisa memuat puluhan bros, untuk “display” barang di toko-toko yang rencananya nantinya akan aku ajak kerja sama.

Dengan membeli secara curah langsung dari pembuatnya, untung yang kudapat dari setiap keping bros jauh lebih besar dibandingkan dengan ketika aku harus membeli secara lusinan, apalagi satuan.

Dengan harga beli yang bermacam- macam, aku membuat satu harga untuk semua bros yang aku jual, waktu itu harga satu bros adalah tiga ribu lima ratus rupiah.

Di daerah Cilegon-Serang, setidaknya ada lima toko buku yang aku datangi, dua di Cilegon, dan dua di Serang.

Dengan waktu kerja aku yang shift, dan jadwal kuliah yang lumayan padat, waktu luang aku pada waktu itu hanya tengah hari saja, antara waktu Zhuhur dan Ashar.

Selepas shalat Zhuhur, aku bergegas melangkahkan kaki dari rumah dengan membawa dua rak pajangan yang penuh berisi bros yang sudah siap tayang. Tas punggung kesayanganku yang penuh dengan bros, dan bertambah berat karena berisi buku- buku kuliah dan seragam kerja, tanpa lupa kuajak menemani. Waktu itu aku berniat untuk menawarkan kerjasama dengan toko- toko buku di Serang, agar mereka mau dititipi bros- bros jualanku.

Seperti daerah pesisir laut pada umumnya, cuaca Cilegon- Serang sangat lembab dan panas. Dan kondisi itu sangat menyiksa orang- orang yang terbiasa hidup di iklim sejuk seperti Bandung. Aku termasuk orang yang sangat sulit untuk berkeringat, tapi baru beberapa menit saja berjalan
menuju tempat menunggu angkot, keringat sudah mengucur deras di pelipis kanan dan kiri aku.

Di dalam angkot, semua orang di dalam sana melihat barang bawaanku dengan penasaran.

Bahkan ada beberapa anak sekolah yang langsung ingin membeli pada saat itu juga.

“Lumayan, baru juga keluar rumah, sudah ada yang membeli nih..!”

Untuk pergi ke Serang, seturun dari angkot, aku masih harus menumpang bus antar kota ke terminal Serang. Dan untuk mencapai toko buku yang aku ingin ajak kerjasama itu, aku masih harus naik angkot lagi.

Perjalanan waktu itu memang penuh tantangan dan perjuangan. Sudah mah ribet dengan rak pajangan bros, tas yang berat, aku masih harus berjuang dengan rasa gerah dan mengusap peluh yang semakin deras mengucur ketika aku harus berjalan di tengah hari bolong.

Bus AC yang biasa kunaiki pun ternyata tidak ada yang kosong, karena jam segitu memang jamnya anak sekolah bubaran dan mahasiswa pergi kuliah ke Serang dari Cilegon. Sehingga dengan sangat terpaksa aku harus menaiki bus yang sudah sesak penuh dengan penumpang. Tidak ada
pilihan lain, karena aku harus mengejar kuliah di sore harinya. Setelah hampir satu jam aku berdiri di dalam bis itu.

Tapi,  setiap tetes kucuran keringatku terbayar lunas, bahkan sebelum kering di pelipisku, ketika semua pemilik toko buku di Serang yang kuajak kerja sama terkesan dengan proposal kerjasama yang kubuat. Aku buat proposal kerjasama dengan mereka secara konsinyasi, dan diskon yang lumayan besar. Artinya, mereka tidak usah membeli dulu brosnya. Mereka hanya akan membayar produk yang laku saja. Dan mereka bersedia untuk menjalin kerjasama untuk menjual produk- produk bros yang kubawa.

Dan sesuai perjanjian pula, setiap awal bulan aku akan mengumpulkan uang hasil penjualan. Serta, tiap dua minggu aku akan memperbaharui produk yang didisplay di toko dengan yang produk- produk yang terbaru.

Alhamdulillah, untung dari berjualan bros ini sangat bisa menolongku untuk bisa membiayai kuliahku selama beberapa bulan.

Aku pernah mendengar dari seorang ustadz, kalau ternyata tetesan keringat dan kucuran peluh yang keluar dari hasil jerih payah seorang ayah atau suami ketika mencari nafkah untuk keluarganya, bisa jadi bernilai syurga karena itu dihitung sebagai sedekah.

Keringat itu juga yang membuat aku tanpa berpikir panjang lagi untuk membeli ensiklopedia yang ditawarkan oleh seorang pemuda yang bersimbah peluh dan keringat di parkiran sebuah  supermarket di Doha.

Aku bukan membeli ensiklopedianya, karena sejujurnya aku tidak terlalu
memerlukannya. Tapi aku ingin menghargai keringat hasil dan perjuangan usaha si pemuda ini untuk menghampiri hampir setiap mobil yang baru parkir. Sebelum dia menghampiri, aku sudah mengamatinya lumayan lama. Di tengah teriknya cuaca panas dan lembab, dia pantang menyerah dan tak kenal lelah, dan masih tabah menawarkan menerangkan produk ensiklopedia tersebut. Walau pun ada beberapa pemilik mobil yang sama sekali tidak menghiraukannya.

Aku tahu sekali bagaimana rasanya jerih payah “menukar” tetesan keringat dengan selembar uang untuk sekedar menyambung hidup di hari itu.

Doha, 12 Oktober 2012

Merantau Itu Indah


“Hidup merantau akan sangat menyenangkan jika kita bisa membangun hubungan persaudaraan yang baik dengan tetangga dan komunitas kita”

“Om, kata Papah nanti malem gabung ya, ikutan nonton bareng sama penduduk gang Mangga, sekarang kan final!” Ajak seorang gadis belia  yang sudah beranjak remaja sambil ikut melangkahkan tubuh semampainya disampingku.

“Insyaallah ya, Om masih cape nih, tadi abis lembur langsung lanjut kuliah!” Jawabku sambil melangkah sedikit gontai, karena hari itu sangat melelahkan.

“Ohhh..gitu. Ya udah, Neng bilang deh nanti sama Papah. Om istirahat dulu aja, biar nanti malam bisa gabung. Daahhh…!” Gadis anak tetanggaku itu melambaikan jemari lentiknya sambil berlari membawa tikar dan sebuah termos.

Akhirnya hanya sebentar kutengok acara nonton bareng itu, karena mata ini sudah tidak kuat lagi menahan kantuk. Aku pamit pulang kepada semuanya, bahkan sebelum pertandingan dimulai. Ah, bagiku sudah cukup, asal sudah menampakkan diri saja di depan penduduk gang Mangga, sebutan untuk gang tempat tinggalku di komplek perumahan itu.

Ketika sampai di rumah, ternyata rasa kantuk itu malah hilang lenyap tak berbekas.

Ketika riuh rendahnya teriakan histeris dan sorak sorai tetangga- tetanggaku membahana dan bergema sampai ke pintu kamarku, aku hanya teronggok pasrah dan kelelahan di atas sehelai kasur Palembang tipis berwarna biru seharga dua ratus ribu itu.

Ketika teriakan kecewa pendukung Perancis bergema lagi di pintu kamarku karena Italia berhasil menyamakan kedudukan, aku hanya bisa terkaget- kaget dan memandangi screensaver layar monitor CRT 14 inciku dengan tatapan kosong.

Ketika teriakan mereka menderu semakin kencang, karena ternyata pertandingan harus diselesaikan dengan adu penalti, aku hanya terduduk dan mengintip dari balik jendela kamarku yang malam itu terasa gerah luar biasa. Kulihat belasan keluarga berkumpul dan berteriak- teriak histeris karena tegangnya adu pinalti yang akhirnya dimenangi negeri para Gladiator.

Aku tak bisa keluar rumah dan bergabung dengan mereka, karena besok aku sudah harus bekerja lagi. Aku harus memanggil rasa kantukku lagi agar bisa tidur secepatnya.

Ketika sedang melamun dan setengah tidur, tiba tiba ada yang membunyikan pagar depan rumahku. Ternyata si Neng itu lagi.

“Om, ini buat Om!” Katanya sambil menyodorkan baki berisi gorengan, dadar gulung dan segelas teh  manis yang masih mengepulkan asap.

“Waahh…Makasih banyak ya!” Aku ambil saja cemilan dan gelas teh manis itu. Kukembalikan baki itu.

“Italia yang menang Om, adu pinalti loh!” Kata si Neng dengan semangat. Padahal dia juga harus sekolah, tapi aku heran,kuat juga dia begadang sampai hampir subuh.

“Oya, waah..berarti tim jagoan Om menang dong?” Jawabku dengan antusias.

“Iya tuh Om, Italia memang hebat, ada Del Pieeero sih!” Si Neng menjawab lagi dengan suaranya yang sedikit melengking.

“Ya udah deh, met istirahat ya Om, Neng mau bantuin Mamah sama Papah beres-beres dulu!” Pamitnya.

“Iya nih, Om juga harus tidur cepet- cepet nih, besok harus kerja lagi!” Jawabku sambil berlalu ke dalam rumah.

Hampir semua penduduk di kompleks perumahan itu adalah pendatang.

Suasana di sana sudah tidak seperti perumahan yang identik dengan egoisme penduduknya yang tidak mau kenal dengan tetangga sebelah.

Kebanyakan mereka memulai hidup dan beranak pinak di sana sejak tahun delapan puluhan, jadi walau pun strukturnya sama seperti kompleks perumahan lainnya tapi persaudaraan di antara tetangga sudah sangat erat, sudah hampir sama seperti di daerah asal masing- masing saja.

Di gang itu, hanya aku yang bujangan. Karena aku mengontrak rumah sendiri dan tidak ngekos seperti teman- teman kerjaku yang masih belum menikah.

Tapi aku tidak merasa sendirian, aku seperti memiliki keluarga yang sangat besar.

Si Neng depan rumah dan keluarganya sudah seperti keluargaku sendiri. Pak RT sebelah rumah juga sudah seperti ayah sendiri yang selalu membimbing dan mengayomi warga yang lain. Penjual Nasi goreng dan pemilik warung di ujung jalan pun sudah sangat akrab, sudah seperti koki pribadi saja yang bisa dipesan makanan kapan pun aku lapar, bisa diutangin pulsa kapan pun aku mau.

Hampir semua bapak- bapak di gang itu kenal denganku.

Setiap Minggu, selalu ada acara pengajian rutin dari gang ke gang, dari blok ke blok di seluruh komplek perumahan itu.

Ah, selain panas dan gerahnya kota Cilegon, selebihnya hampir tidak ada yang berbeda dengan Bandung, kota kelahiranku. Bedanya hanya aku jauh dari Bapak, Ibu dan Adik- adikku. Itu pun hampir setiap minggu aku bisa bertemu mereka.

Orang Sunda cenderung lebih senang tinggal di “kandang”. Ketika akan pergi ke Cilegon pun, orang tuaku pada awalnya kurang setuju.

Bahkan ada sindiran satir kalau hampir semua orang Bandung punya keinginan yang sama, lahir di Bandung, sekolah di Bandung, kerja di Bandung, menikah dengan orang Bandung, punya rumah di Bandung, beranakpinak di Bandung, dan kelak jika sudah meninggal pun ingin dikubur di Bandung.

Sempat ada keraguan yang terbit di hati, dan ketakutan yang timbul di diri, karena aku akan berangkat merantu, bekerja ke tempat yang sama sekali belum pernah kukunjungi sebelumnya.

Alhamdulillah, ternyata merantau itu indah. Allah memberiku jodoh di perantauanku yang pertama.

Alhamdulillah lagi, setelah hampir tujuh tahun di Cilegon, empat tahun lalu Allah mentakdirkan aku merantau lebih jauh lagi, kali ini sampai ke Timur Tengah. Merantau kuadrat, karena kali ini sangat jauh, ribuan kilometer dari Bandung. Dan Allah pun melimpahkan lebih banyak lagi rejeki dan banyak hal yang tidak pernah kumimpikan sebelumnya.

Hidup merantau, jauh dari kampung halaman, berpindah dari tempat kelahiran itu tidak seburuk dan sesulit dari yang kupikirkan sebelumnya.

Merantau itu bagus untuk melakukan akselerasi di kehidupan kita.

Merantau itu sangat bagus untuk mempersiapkan masa tua kita yang lebih baik.

Merantau itu menggoreskan lebih banyak warna untuk cerita kehidupan kita.

Merantau akan selalu menyenangkan jika kita bisa memiliki dan membangun hubungan persaudaraan yang baik dengan tetangga dan komunitas di mana kita berada.

Merantau pasti akan membuat hidup kita lebih hidup.

Mari kita merantau!

 

www.didaytea.com