Biar Cepat Asal Selamat Bagian 2: Naik Kelas Euy!

 

 

Jumlah kegagalan yang kita alami tidak memiliki arti apa-apa, tapi berapa kali kita bisa bangkit setelah mengalami kegagalan-kegagalan tersebut, itu yang luar biasa!”

“Heavy Duty School”

Pada dasarnya sekolahku itu memang “heavy duty school”. Kelas 1 adalah kelas yang terberat untuk semua siswa baru. Dari persaingan dan beban belajar, jauh lebih ketat dari sekolah biasa.

Bayangkan saja, ketika itu satu angkatan hanya terdiri dari dua kelas. Dan dalam satu kelas hanya terdiri dari tiga puluh lima siswa saja. Di sekolah biasa satu angkatan bisa ada Sembilan, bahkan sepuluh kelas. Dan satu kelas bisa terdiri dari minimal lima puluh orang siswa.

Dari sisi persaingan, jelas, hampir semua siswa adalah juara satu ketika di SMP-nya.

Karena sekolahku itu adalah sekolah favorit, kebanyakan siswanya pun berasal dari luar kota Bandung. Siswanya ada yang berasal dari Pulau Bangka sampai ke Tuban.

Beban belajar di sekolah ini aku rasa hampir dua kali lipat lebih berat dari SMK/SMU biasa.

Bagaimana tidak, dalam enam  hari belajar, hanya ada satu hari “tenang”, di mana kami belajar di sekolah hanya sampai jam dua belas siang. Lima hari sisanya, paling cepat kami baru bisa keluar dari Laboratorium atau kelas jam empat sore.

Dan masih ada lagi, waktu setelah sekolah pun ternyata masih menjadi beban belajar untuk para siswanya. Karena harus membuat laporan atau jurnal, yang merupakan syarat untuk bisa menghadiri kelas atau praktikum di keesokan harinya. Lupa atau salah membuat jurnal? Siap-siap saja sang guru atau asisten praktek membuat anda hanya bisa melongo di luar, karena siswa tidak boleh masuk ke dalam ruangan.

“Tidak naik kelas”, hal yang hanya terjadi sebagai kejadian yang langka dan luar biasa di sekolah lain, di sekolah ini adalah hal yang lumrah saja. Tidak ada yang istimewa.

Jangan berharap jumlah siswa yang mendaftar, akan lulus pada waktu yang bersamaan. Karena pasti akan selalu ada yang “menghabiskan waktu untuk belajar” lebih lama dibanding teman- temannya yang lain.

Tahun Ke- Dua Ternyata Tetap Sulit

Hari pertamaku sebagai siswa “senior” di kelas satu awalnya sangat menakutkan bagiku. Sudah terbayang  pandangan  teman-teman sekelasku yang akan mencemooh, menghina karena aku tidak naik kelas. Terbayang pandangan keheranan para siswa baru, karena ada siswa “asing” yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan yang sama dengan mereka.

Ternyata, aku tidak sendirian. Ada siswa lain yang bernasib sama denganku. Dari dua kelas, ada empat orang yang tidak naik kelas.

Pertemuan pertama di kelas, aku diperkenalkan oleh wali kelas sebagai siswa yang “masih betah” belajar dengan beliau. Dan, Alhamdulillah, suasana yang tadinya tegang, karena para siswa baru pun masih keheranan dan terkaget-kaget, karena ada siswa “asing” di antara mereka.

Walaupun aku menyandang status sebagai siswa “senior”, tenyata tidak menjadi jaminan aku bakal menjadi yang terbaik. Seperti yang aku bilang di awal tulisan, sekolah ini mengumpulkan siswa-siswa terbaik di SMP se- Jawa Barat, bahkan dari luar propinsi.

Aku hanya menonjol di beberapa mata pelajaran yang betul-betul memerlukan “pengalaman”, seperti praktikum. Aku malah bisa mengajari teman-temanku trik trik untuk mengatur waktu dan pekerjaan ketika praktikum berlangsung.

Jadwal praktikum kami sangat padat, dan kami harus menyelesaikan banyak topik yang menjadi target untuk memenuhi batas nilai minimal kelulusan mata pelajaran yang bersangkutan.

Di mata pelajaran lain, aku masih berada di level yang tidak jauh berbeda dengan mereka.

Aku masih mengalami kesulitan di tahun ke-duaku di kelas satu. Ternyata tidak semudah seprti yang aku bayangkan sebelumnya.

Kelemahanku yang sangat menonjol adalah di bidang Matematika dan Fisika. Dua mata pelajaran ini yang membuat aku tidak naik kelas. Aku hanya memiliki dua nilai merah di raportku. Sialnya, dua mata pelajaran ini adalah mata pelajaran inti yang merupakan syarat wajib untuk seorang siswa agar bisa naik kelas.

Memang sih, sejak SD dan SMP, aku kurang menyukai dua mata pelajaran ini. Tapi Alhamdulillah, aku bisa mendapatkan nilai yang lumayan baik.

Ternyata,  Matematika di sekolahku ini memang lebih sulit dari Matematika yang diajarkan di sekolah biasa. Kakak- kakak kelasku bahkan bilang, kalau soal dari guru Matematika di sini jauh lebih sulit dibandingkan soal EBTANAS sekalipun!

Dan benar saja, setelah aku putar balik ingatanku, ternyata ada perbedaan kurikulum mata pelajaran di sekolahku itu dengan kurikulum sekolah biasa.

Perbedaan yang paling terasa sih, guruku itu tidak pernah mewajibkan siswanya untuk membeli buku praktek tertentu. Dia hanya menganjurkan beberapa buku untuk latihan saja. Untuk mata pelajaran “Kimia- kimian”, kadang kami harus langsung mencari referensinya ke perpustakaan ITB, atau perpustakaan Puslitbang Teknologi Mineral, jika guru kami menugaskan sesuatu.

Tetapi pada akhirnya, tetap saja, soal-soal yang dia berikan selalu lebih sulit dari soal latihan di buku-buku yang dia anjurkan itu.

Pokoknya, kami serasa mahasiswa yang berseragam putih-abuabu deh!

Matematika tetap menjadi ganjalan utama bagiku di tahun ke dua ini.

Dua Catur Wulan Yang Paling Mendebarkan

Mungkin karena aku sudah merasa takut duluan, dan memang aku sangat lemah di bidang matematika, dua catur wulan pertama aku masih mendapat nilai merah di raportku.

Catur Wulan pertama, ternyata tetap saja ya, Matematika dan Fisika masih menjadi batu sandungan terbesarku. Aku masih saja mendapat nilai lima di buku raport untuk ke-dua mata pelajaran itu. Tak bisa kugambarkan bagaimana takutnya aku ketika itu, ketika mengetahui bahwa aku terancam tinggal kelas dua tahun berturut-turut karena tidak bisa menguasai dua pelajaran itu. Aku juga tidak berani membayangkan bagaimana sedihnya orang tuaku. Dan aku mungkin tidak akan pernah bisa memaafkan diriku yang sudah memutuskan untuk mengambil kesempatan ke-dua dengan bertahan di sekolah ini. Aku pasti akan menyesal, karena memilih untuk bertahan ketimbang pindah saja ke sekolah yang lebih mudah, yang kelulusan dan naik kelas bukanlah sesuatu yang istimewa.

Agak aneh memang, seingatku, hanya dua pelajaran itu yang terasa sangat sulit dan membebani pikiranku. Pelajaran yang lain, walaupun sesulit apa pun, rasa-rasanya masih bisa kutangani, dan aku bisa mendapat nilai yang lumayan, tidak sampai harus berakhir dengan warna merah di buku raportku.

Catur Wulan ke-dua, tak kuduga dan tak kusangka, ternyata aku mendapat nilai yang lumayan, enam untuk Matematika, dan tujuh untuk Fisika. Buatku, dua nilai itu adalah suatu keajaiban terbesar yang kualami pada saat itu!

Kesempatan Ke-dua Akhirnya Berhasil Kulalui

Syarat untuk naik kelas: 1. Tidak boleh mendapat nilai Merah (di bawah 6) lebih dari empat mata pelajaran. 2. Tidak boleh mendapat nilai 4 di mata pelajaran apa pun. 3. Siswa tidak layak naik kelas jika ada satu saja nilai 4, walaupun tidak ada mata pelajaran lainnya yang nilainya Merah.

Di Catur Wulan  ke tiga, aku berusaha lebih keras untuk bisa menaklukkan si “Matematika” ini. Karena materi yang diberikan sang Guru kali ini jauh lebih sulit. Aku sering menginap di kost-kostan teman- teman sekelasku menjelang ujian mingguan. Alhamdulillah, materi yang luar biasa sulit itu sedikit bisa kutangani, setidaknya ada tempat buatku untuk bertanya.

Ujian Catur Wulan terakhir pun akhirnya tiba. Ujian yang akan menentukan apakah aku akan bisa melewati kesempatan ke-dua ini, atau aku akan gagal lagi untuk kedua kalinya, dan mau tidak mau harus angkat kaki dari sekolah itu.

Masa ujian ketika itu, adalah ujian terberat selama aku bersekolah. Aku harus menanggung beban yang dua kali lebih berat. Beban ujian itu sendiri, dan beban kenyataan bahwa aku masih berpeluang untuk tinggal kelas lagi.

Akhirnya, ketika hari pembagian raport tiba, sang wali kelas memanggil namaku: “Dedy Mulyadi!”

Bangku beliau yang hanya berjarak kurang dari sepuluh meter tiba-tiba terasa sangat jauh. Setiap langkahku terasa sangat berat, seperti dibebani oleh besi puluhan kilogram. Detak jantungku pun berdegup kencang, bertalu-talu seperti musik kopi dangdut hard rock.

Otakku terus menerus membuat skenario kehidupan, membayangkan kemungkinan- kemungkinan terburuk, membuat rencana dan langkah yang akan kuambil setelah kulihat hasil belajarku setelah setahun berlalu.

“Silahkan duduk!” Suara lembut tapi tegas beliau tiba-tiba membuyarkan lamunanku.

“Iya Pak!” Kusimpan tubuhku dengan perlahan di atas kursi yang di kala itu, entah kenapa terasa panas.

“Masih betah di kelas satu?” Tanya guruku itu dengan mimik serius.

“Pastinya nggadong Pak!” Jawabku dengan tersenyum kecut, dan mata langsung memandang kosong ke arah depan, karena “film” yang tadi berputar di pikiranku tiba-tiba muncul lagi.

“Bagus, berarti kamu setahun ini belajar dengan serius.” Jawab guruku, kali ini wajahnya agak sedikit berubah.

“Selamat Ded, kamu kali ini naik kelas!” Kata beliau sambil berdiri dan menyodorkan kedua tangannya; yang kanan mengajak untuk bersalaman, dan yang kiri memegang buku raport biruku dilengkapi seyuman lebarnya, yang ketika itu terasa lebih manis dari biasanya.

“Alhamdulillah..!” Hanya kata itu yang bisa kuucapkan ketika itu.

Kujabat tangan guruku itu dengan wajah sumringah, dan kuambil buku raportku, sambil menahan tubuhku yang seperti ingin menghentak-hentakkan diri, untuk terbang dan meloncat. Ingin rasanya aku berteriak sekencang-kencangnya karena saking gembiranya diriku saat itu.

Tapi tetap saja, akhirnya aku tidak bisa menahan diri lagi, dan sesaat setelah mejabat tangan guruku, tubuhku pun meloncat sambil mengepalkan kedua tanganku di depan teman-teman sekelasku:

“Yeesssss…..!!!”

Urang naek kelas euy!”

Bersambung




Biar Cepat Asal Selamat! Menuju Sukses Dunia Akhirat Dengan Membaca Lebih Cepat, Bagian 1

Bagian 1: Tidak naik kelas? Mustahil!

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu;Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”.(QS Al Baqarah, 2:216).

 

Kabar Mengejutkan

“Kriiiiiinnggg…!!!” Kedua telingaku hampir pecah rasanya ketika telepon di ruang depan tiba- tiba menjerit, memanggil siapa pun yang didekatnya untuk segera mengangkatnya.

 

“Halo, Assalaamu’alaikum, siapa ini, Aa ya?” Suara seorang wanita paruh baya terdengar dengan lirih dari gagang telepon di telingaku.

 

“Wa’alaikumsalaam, iya Bu, ini Aa!” Jawabku, tanpa sedikit pun khawatir bahwa Ibuku akan segera menyampaikan berita yang tidak akan pernah aku ingin dengar seumur hidupku.

 

Ibuku hari ini pergi ke sekolah untuk mengambil raportku. Raport itu seharusnya diambil dua hari yang lalu, di acara pembagian yang resmi oleh wali kelas. Hari itu aku tetap datang ke sekolah, walau pun sudah diberitahu bahwa siswa yang belum melunasi uang SPP tidak akan diijinkan untuk mengambil raport.

 

Dan ternyata benar saja, hari itu aku pulang dengan tangan hampa. Ibu wali kelas betul- betul menepati janjinya. Siswa yang belum membayar SPP tidak bisa mengambil raportnya. Raport itu harus diambil langsung oleh orang tua siswa yang bersangkutan.

 

“Aa, Aa yang sabar ya!” Ibuku berkata dengan lirih, dan terdengar seperti terisak menahan tangis.

“Sabar? Sabar kenapa Bu? Kenapa Aa harus sabar?” Jawabku segera, dengan perasaan yang mulai tidak enak.

“Hiks…..” Di ujung sana tidak terdengar kata- kata apapun, selain isak tangis ibuku yang rupanya sudah tidak tertahankan lagi.

 

“Ada apa Bu? Ada apa..?” Aku makin khawatir.

 

“Aa,  Aa ternyata tidak naik kelas…!” Dan tangis ibuku pun sudah tidak tertahan lagi setelah mengucapkan kata- kata yang mungkin tidak pernah ingin dia sampaikan kepada anak sulungnya ini. Selanjutnya yang terdengar hanya isak tangis dan suara sesenggukan ibuku di ujung sana.

 

Aku hanya bisa terdiam. Otakku seketika beku dan tidak bisa memikirkan apa pun setelah mendengar berita yang terdengar jauh lebih dahsyat dari petir yang menggelegar ketika Bandung dilanda hujan lebat. Berita yang menusuk hatiku jauh lebih sakit daripada berita bahwa siswa tercantik di angkatanku ternyata sudah dijodohkan oleh orang tuanya.

 

Aku coba berpikir jernih dan kuhela nafasku dalam- dalam. Aku masih setengah tidak percaya dengan apa yang sudah aku dengar langsung.

 

“Mustahil! Mustahil aku tidak naik kelas!” Kata- kata itu terus bergumam di bibirku dan berkecamuk di dalam hatiku.

 

Aku adalah anak paling pintar di kelurahanku. Aku sudah bisa membaca ketika berumur empat setengah tahun sampai “ditendang” keluar dari TK agar langsung masuk ke SD. Dan aku jadi siswa termuda ketika itu, karena umurku baru empat setengah tahun. NEM-ku ketika SD dan SMP paling besar di kelurahanku. Selama sembilan tahun menginjakkan kaki di sebuah institusi yang bernama sekolah, aku tidak pernah sekali pun terlempar dari peringkat 10 besar.

 

Tidak naik kelas adalah hal yang tidak pernah sekalipun terbayangkan. Otak kiriku mengatakan kejadian ini  mustahil terjadi, sama seperti mustahilnya seperti mengalahkan terangnya matahari dengan sebuah lampu senter. Sama mustahilnya dengan Barcelona atau Real Madrid terdegradasi ke Segunda Division!

 

“Sekarang rencana Aa gimana?” Isak Ibuku dengan masih sesengukan karena menahan tangis.

 

“Mau tinggal di sekolah ini saja, atau mau pindah ke sekolah biasa?”

 

Aku masih terdiam dan tergumam.

 

“Kalau Aa misalnya mau pindah, harus segera diurusin hari ini juga, karena hari ini adalah hari terakhir penerimaan siswa baru di SMA atau SMK selain sekolah yang sekarang!” Pungkas Ibuku yang terdengar sudah mulai menguasai kesedihannya.

 

“Menurut Ibu gimana baiknya?” Aku malah menjawab pertanyaan Ibuku dengan pertanyaan lagi.

 

“Ya terserah Aa, Aa kan yang akan menjalani bukan Ibu.” Jawab Ibuku.

 

“Tapi kalau boleh Ibu memberi saran, bidang kimia masih menjadi favorit.Lulusannya akan lebih mudah bekerja. Coba saja berjuang satu tahun lagi di sekolah yang sekarang. Jika ternyata masih tidak naik, ya mau tidak mau Aa harus pindah sekolah.” Jawab Ibuku dengan lirih.

 

“Jika Aa rasa Aa masih mampu menjalani sekolah yang sekarang, sebaiknya Aa tidak usah pindah. Dan lagi pula pendaftaran sudah mepet. Kita tidak akan sempat menyiapkan surat- surat yang diperlukan untuk bisa pindah sekolah.” Kata Ibuku.

 

Aku masih belum bisa menjawab.

 

“Aa butuh waktu untuk berpikir dulu Bu, supaya keputusan yang diambil benar- benar matang dan tepat untuk kehidupan Aa. Sebaiknya Ibu pulang dulu, dan kita bicarakan masalah ini di rumah.” Jawabku  setelah beberapa menit melamun dengan pandangan kosong ke luar rumah melalui jendela ruang tengah yang menutupi setengah dari dinding ruangan itu.

 

“Iya A, sebaiknya memang seperti itu. Ya sudah Ibu langsung pulang sekarang ya!”

 

Bertahan Atau Menyerah?


Beberapa lama setelah Ibuku menutup telepon, hatiku langsung berkecamuk, otakku langsung seperti mendidih dan pikiranku berputar, terus memikirkan pilihan apa yang harus aku ambil hari ini.

 

Pindah sekolah?

 

Atau bertahan, dengan status siswa yang tinggal kelas?

 

Walaupun sekolah itu memang berat, tapi aku rasa aku masih mampu menjalaninya. Toh, nilaiku pun tidak jelek-jelek amat. Hanya ada dua nilai merah di raportku. Penyebab utamanya, nilai matematikaku sangat di bawah standar, tidak hanya “nilai merah” biasa.

 

Terdengar sangat memalukan memang. Tapi itulah, sekolahku memang menerapkan standar yang sepintas terlihat sangat mudah. Padahal dibalik standar yang mudah terdapat perjuangan yang sangat berat.

 

Kuyakinkan diriku bahwa aku masih bisa memperbaiki ini, aku masih mampu melewati perjuangan yang sangat berat di sekolah itu. Aku harus menuruti saran Ibuku. Bukankah dia dan Ayahku jauh lebih tahu yang terbaik untukku yang baru lulus SMP ini?

 

Tak berapa lama, Ibuku pun tiba di rumah. Tampak bagiku sekarang kondisinya sudah jauh lebih tenang.

 

“Gimana, sudah ada keputusan?” Tanya Ibuku.

 

Dengan yakin, akupun menjawab: “Insyaalah, Aa akan menuruti saran Ibu, Aa akan bertahan di sekolah ini”.

 

Yakin hanya ungkapan ini yang bisa mewakili perasaanku ketika akhirnya mengambil keputusan untuk bertahan. Aku berjanji kepada diriku dan orangtuaku untuk berusaha lebih baik. Alasanku yang utama ketika itu adalah ingin menuruti saran Ibuku yang masih ingin aku bertahan di sekolah favorit itu.

 

Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kedua-pilihan yang aku ambil-untuk bisa melalui beratnya pendidikan di sekolah itu.

 

Dan Alhamdulillah, ternyata keputusan yang aku ambil ketika itu adalah pilihan yang tepat. Karena keputusan inilah yang mendasari perubahan-perubahan besar dalam hidupku di masa depan.

 

Hikmah


Akhir-akhir ini, ternyata baru kusadari hikmah dari kejadian itu.

 

Sangat sering sekali aku membanggakan diriku yang mulai masuk SD ketika masih berumur empat setengah tahun. Aku sering menyombongkan diri ketika memasuki sekolah itu, karena aku bisa menembus seleksi yang sangat ketat, ditambah dengan umurku yang paling muda dari seluruh siswa baru yang berhasil diterima di sekolah itu.

 

Mungkin ini adalah teguran dari Allah untuk kesombonganku.

 

Hikmah positifnya, tentu saja adalah keadaan diriku yang sekarang ini.

 

Allah ternyata menyiapkan kondisi yang tidak pernah aku mimpikan sebelumnya, kondisi ketika aku bisa mencapai impian-impian yang tidak kalah mustahilnya dengan takdir bahwa aku tidak naik kelas.

Subhanallah!

Bersambung….

Mengalir Seperti Air? Ke Laut Aje!

“Ke Laut aje!” Itu yang saya bilang jika ada seseorang yang menjawab pertanyaan tentang apa targetnya di dalam kehidupan dengan kalimat: “Saya akan menjalani kehidupan saya seperti air saja, terserah mau dibawa ke mana…”

Jika kehidupan kita ini adalah sebuah perjalanan mendayung di sebuah sungai, apakah anda akan memilih untuk hanya sekedar “mengikuti aliran air saja, terserah dibawa mau ke mana”, atau anda akan mengambil sebuah dayung agar anda bisa mengendalikan perahu anda ke sebuah muara tujuan yang ingin anda capai?

Saya akan memilih untuk mengambil dayung.

Kenapa? Jelas lah! Karena saya tidak mau terbawa arus air sungai.

Jika saya hanya sekedar mengikuti aliran air, dan di tengah perjalanan ada batu besar, bisa dipastikan saya akan menabrak batu tersebut dan tidak akan pernah sampai ke tujuan.

Akan tetapi, jika kita memiliki dayung, kita bisa memiliki kendali sepenuhnya terhadap perahu yang kita naiki. Walapun terkadang arus yang menerjang sangat kuat dan hampir tidak terkendali, tapi kita akan tetap memiliki kendali yang kuat terhadap ke mana arah perahu menuju.

“Dayung” inilah yang tidak ada dalam diri orang- orang yang berprinsip “Mengalir Seperti Air”.

Prinsip yang tidak sepenuhnya salah, karena ada juga beberapa orang yang bisa meraih kesuksesan dalam kehidupan ini tanpa harus repot- repot merencakanan apapundalam kehidupannya.

Lalu, apa sih hal nyata yang bisa kita lakukan dan kita adakan, agar kita memiliki dayung yang kuat untuk mengarungi kehidupan kita ini?

Tujuan sejati kehidupan kita tentunya adalah kebahagiaan dunia akhirat. Langkah- langkah berikut ini tentunya hanya merupakan tujuan antara menuju kebahagiaan yang sejati di akhirat kelak.

Langkah 1:

Galilah ukuran utama kehidupan anda: karir, hubungan dekat dengan seseorang dan keluarga, keuangan, kondisi fisik, kehidupan spriritual, dan intelektualitas. Dan identifikasi area mana yang harus segera ada perbaiki dan kembangkan.

Langkah 2:

Segera tekadkan dalam diri anda, bulat sebulat- bulatnya dengan semangat pantang menyerah untuk merubah kehidupan anda dan memenuhi impian- impian anda, walau rintangan apapun akan menghadang di depan anda.

Langkah 3:

Buatlah desain kehidupan anda dengan “memproklamasikan” apa yang anda inginkan. Jadikan hidup anda lebih hidup dan penuh warna dan aroma kesuksesan dengan menuliskan keinginan anda, dan mereviewnya secara rutin. Hiduplah dengan tujuan. Dan buatlah setiap hari anda adalah selangkah lebih maju untuk mencapai impian anda. Sebesar apapun langkah anda, jika anda tidak mempunyai tujuan, anda tidak akan pernah sampai ke manapun. Tapi, jika anda sudah mempunyai tujuan, sekecil apapun langkah yang anda ambil, itu adalah kemajuan menuju tercapainya tujuan anda.

Langkah 4:

Akan jadi apakah anda 5 tahun lagi? 10 Tahun lagi? 30, 40, atau bahkan 50 tahun lagi? Ingin seperti apakah orang mengenang anda? Visualisasikanlah akan jadi apa anda di masa depan. Anda di masa kini adalah hasil dari langkah- langkah yang anda ambil di masa lalu. Ini sudah tidak bisa kita rubah. Tetapi anda di masa depan, adalah, tergantung dari langkah yang anda lakukan di masa kini.

Langkah 5:

Berusahalah sekuat tenaga untuk melawan kemalasan dan menghilangkan kebiasaan buruk yang anda sering tolerir selama ini, dan raihlah kedisiplinan dalam hidup yang anda butuhkan untuk hidup dengan menggunakan potensi luar biasa yang ada pada diri anda sepenuhnya.

Langkah 6:

Nikmati proses. Lakukan setiap langkah yang anda ambil dengan baik dan benar.

Langkah 7:

Fokus. Selalu berjalanlah di jalan yang anda telah putuskan untuk ambil. Jangan mudah tergoda oleh belokan –belokan kecil yang menggoda di sepanjang jalur kehidupan anda.

Langkah 8:

Istirahatlah, nikmati momen- momen dalam kehidupan anda. Dan ukurlah perkembangan anda. Sejauh mana anda telah memenuhi impian- impian yang anda proklamasikan di masa lalu. Evaluasi pencapaian anda dan belajarlah dari kesalahan dan “kegagalan” anda.

Diday Tea

24 Februari 2011

2010 in review

The stats helper monkeys at WordPress.com mulled over how this blog did in 2010, and here’s a high level summary of its overall blog health:

Healthy blog!

The Blog-Health-o-Meter™ reads This blog is doing awesome!.

Crunchy numbers

Featured image

A helper monkey made this abstract painting, inspired by your stats.

A Boeing 747-400 passenger jet can hold 416 passengers. This blog was viewed about 2,000 times in 2010. That’s about 5 full 747s.

 

In 2010, there were 7 new posts, growing the total archive of this blog to 129 posts. There were 3 pictures uploaded, taking up a total of 71kb.

The busiest day of the year was July 24th with 45 views. The most popular post that day was Hidup Ini Adalah Ujian Yang Menyenangkan!.

Where did they come from?

The top referring sites in 2010 were id.wordpress.com, google.co.id, facebook.com, deltapapa.wordpress.com, and mail.yahoo.com.

Some visitors came searching, mostly for doa penenang jiwa, kalimat penenang hati, pengertian ar razzaq, kalimat penenang jiwa, and penyejuk hati dan jiwa.

Attractions in 2010

These are the posts and pages that got the most views in 2010.

1

Hidup Ini Adalah Ujian Yang Menyenangkan! July 2010

2

AR-RAZZAQ:Maha Pemberi Rezeki July 2009

3

AR-RAHMAN WA AR-RAHIM: Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang July 2009
1 comment

4

AL-GHAFUUR: Yang Maha Pengampun July 2009

5

AL-LATHIIF: Yang Maha Lembut July 2009

Al Hasiib Yang Maha Mencukupi

Definisi

Kata Al Hasiib terdiri dari huruf  ha’ , siin, dan ba, mempunyai empat kisaran makna, yakni “menghitung”, “mencukupkan”, “bantal kecil”, dan “penyakit yang menimpa kulit sehingga memutih”.


Tentu saja makna ketiga dan keempat mustahil disandang oleh Allah SWT.


Di dalam Al Qur’an kata Hasiib terulang empat kali. Tiga di antaranya menjadi sifat Allah dan yang keempat tertuju kepada manusia. Yaitu QS Al-Israa 17:14 “”Bacalah kitab(amal)mu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu”.


Kata Hasiib yang menjadi sifat Allah, dua diantaranya di dahului oleh kata “kafaa” yang berarti “cukup”, sehingga “hasiiba” lebih cenderung dipahami dalam arti “Yang Memberi Kecukupan”


QS An-Nisa 4:6 “Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. Dan janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barangsiapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. Kemudian apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. Dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian itu).


QS Al-Ahzaab 33:39: “(yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang(pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan.


Sedangkan ayat ketiga bersifat umum: QS An-Nisaa 4:86 “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah Hasiiba (Maha Memperhitungkan) atas segala sesuatu.


Imam Ghazali menguraikan bahwa Al Hasiib bermakna “Dia yang mencukupi siapapun yang mengandalkannya”.


Sifat ini tidak dapat disandang kecuali oleh Allah sendiri, karena hanya Allah saja yang dapat mencukupi semua kebutuhan makhluknya.


Allah sendiri yang dapat mencukupi semua makhluk, mewujudkan kebutuhan mereka, melanggengkan bahkan menyempurnakannya.


Kenapa kita harus mengandalkan Allah?


Kalau kita hanya mengandalkan Allah, Allah pasti mengetahui hati kita.

Dan siapapun yang mengandalkan Allah, Allah pasti akan mencukupinya. Dan yang tidak mengandalkan Allah, tapi hanya mengandalkan kemampuan dirinya, kecerdasan dirinya, pasti akan selalu merasa dalam kekurangan dan kesulitan ketika menjalani hidup.


Ath Thalaaq 2-3“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.


Kenapa kita harus mengandalkan Allah?

Karena hanya allah yang memiliki segalanya. Milik Allahlah semua yang ada di langit dan di bumi.


Kenapa kita harus mengandalkan Allah?

Karena hanya Allah pemilik segala sesuatu yang kita butuhkan dan Allah Maha Tahu apapun yang kita butuhkan keperluan kita lebih tahu dari diri kita sendiri. Kita hanya tahu sedikit saja apa yang kita butuhkan. Sinar matahari yang masuk kebumi, kadar Oksigen di udara, kadar kelembaban di bumi ini adalah sedikit contoh ketepatan Allah yang mencukupi kebutuhan kita secara sempurna. Belum lagi sistem tubuh kita yang sangat luar biasa, hanya Allah yang mencukupi semua kebutuhan setiap sel tubuh secara sempurna.


Kenapa kita harus mengandalkan Allah?

Karena tidak ada apapun yang bisa terjadi tanpa ijin Allah.


Tidak Setiap Keinginan Harus Terwujud


Jangan anggap pencukupan Allah untuk kita bakal selalu cocok dengan keinginan kita. Tidak selalu yang kita inginkan harus terjadi.

Keinginan kita, lebih banyak adalah versi dari kebodohan kita, versi nafsu, yaa kita nganggap kaya itu bakal baik, kita nganggap popular itu bakal baik, kita menganggap sukses dan bahagia itu cersi nafsu kita, padahal kita tahu sedikit sekali, dan Allah tahu mana yang baik dan mana yang membahayakan kita.

Allah tahu persis kalau kita diberi kekayaan banyak, kita akan cenderung maksiat, sombong. Oleh karena itu Allah tidak memberi banyak kepada kita, tapi Allah selalu memberi pada waktu yang tepat, pada saat kita betul-betul memerlukannya.

Kadang kita minta kesehatan, tapi Allah malah memberi sakit.

Apakah Allah Zhaliim kepada kita? Mungkin dengan sakit, kita akan bisa memiliki waktu untuk merenung dan tafakur untuk mengevaluasi diri, dosa-dosa yang telah dilakukan. Dan akhirnya bisa bertobat dan menjadi dekat dengan Allah.


Kita ingin untung usaha, tapi malah tertipu. Padahal Allah tahu orang yang akan menipu? Karena Allah akan memberikan pelajaran sebelum Allah memberi dititipi usaha keuntungan yang lebih besar. KArena Allah memberikan pengalaman untuk merugi agar kita bisa berhati-hati dan waspada dengan  merasakan perihnya ditipu, sehingga kita tidak mengalami kerugian yang lebih besar di masa depan.


Kita ingin kaya, tapi Allah malah membuat kondisi hidup kita pas-pasan, bahkan kita selalu merasa kesulitan menjalani kehidupan. Karena Allah tahu, jika kita kaya, kita akan lupa kepada Allah, kita akan  menjauh dari Allah, kita akan terjatuh ke lembah kemaksiatan karena kekayaan kita. Atau Allah membuat kita dalam keadaaan sangat susah dan sulit, agar kita tidak lupa bersyukur, karena Allah sedang mempersiapkan kondisi yang jauh lebih baik, kekayaan yang jauh lebih banyak dari yang kita inginkan.

Seringkali kita mengeluhkan sulitnya kita menjalani hidup,susah uang, banyak hutang, susah makan, harga barang-barang naik, harga rumah naik. Tapi subhanallah, sampai sekarang kita masih hidup,masih makan, masih survive, masih sehat, masih bisa tidur nyenyak. Mungkin kita lupa untuk mensyukuri apa yang ada, malah lebih fokus pada apa yang tidak ada.


Sedikit mencukupi jauh lebih baik daripada banyak tapi melalaikan.


Tidak ada tapi mendekatkan diri kepada Allah, lebih baik daripada ada tapi menjauhkan kita dari Allah.

Habiskan energi kita untuk bersyukur kepada Allah, pasti Allah akan menambah nikmat kepada kita.

QS Ibrahim 14:7 ”Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.


QS Al Baqarah 2:216 “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.


Sering kita “maksa” kepada Allah agar mengabulkan keinginan kita. Padahal Allah tahu bahwa keinginan kita dikabulkan malah akan menjadi keburukan. Atau mungkin kita kurang berusaha lebih keras dan maksimal ketika kita ingin mewujudkan keinginan kita tersebut.

Selamat berjuang untuk selalu mensyukuri!

Didaytea!

Diekstrak dari Menyingkap Tabir Illahi dan Kajian Asmaul Husna Aa Gym 14102010.

http://www.didaytea.com

Selasa26102010