Biar Cepat Asal Selamat! Menuju Sukses Dunia Akhirat Dengan Membaca Lebih Cepat, Bagian 1


Bagian 1: Tidak naik kelas? Mustahil!

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu;Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”.(QS Al Baqarah, 2:216).

 

Kabar Mengejutkan

“Kriiiiiinnggg…!!!” Kedua telingaku hampir pecah rasanya ketika telepon di ruang depan tiba- tiba menjerit, memanggil siapa pun yang didekatnya untuk segera mengangkatnya.

 

“Halo, Assalaamu’alaikum, siapa ini, Aa ya?” Suara seorang wanita paruh baya terdengar dengan lirih dari gagang telepon di telingaku.

 

“Wa’alaikumsalaam, iya Bu, ini Aa!” Jawabku, tanpa sedikit pun khawatir bahwa Ibuku akan segera menyampaikan berita yang tidak akan pernah aku ingin dengar seumur hidupku.

 

Ibuku hari ini pergi ke sekolah untuk mengambil raportku. Raport itu seharusnya diambil dua hari yang lalu, di acara pembagian yang resmi oleh wali kelas. Hari itu aku tetap datang ke sekolah, walau pun sudah diberitahu bahwa siswa yang belum melunasi uang SPP tidak akan diijinkan untuk mengambil raport.

 

Dan ternyata benar saja, hari itu aku pulang dengan tangan hampa. Ibu wali kelas betul- betul menepati janjinya. Siswa yang belum membayar SPP tidak bisa mengambil raportnya. Raport itu harus diambil langsung oleh orang tua siswa yang bersangkutan.

 

“Aa, Aa yang sabar ya!” Ibuku berkata dengan lirih, dan terdengar seperti terisak menahan tangis.

“Sabar? Sabar kenapa Bu? Kenapa Aa harus sabar?” Jawabku segera, dengan perasaan yang mulai tidak enak.

“Hiks…..” Di ujung sana tidak terdengar kata- kata apapun, selain isak tangis ibuku yang rupanya sudah tidak tertahankan lagi.

 

“Ada apa Bu? Ada apa..?” Aku makin khawatir.

 

“Aa,  Aa ternyata tidak naik kelas…!” Dan tangis ibuku pun sudah tidak tertahan lagi setelah mengucapkan kata- kata yang mungkin tidak pernah ingin dia sampaikan kepada anak sulungnya ini. Selanjutnya yang terdengar hanya isak tangis dan suara sesenggukan ibuku di ujung sana.

 

Aku hanya bisa terdiam. Otakku seketika beku dan tidak bisa memikirkan apa pun setelah mendengar berita yang terdengar jauh lebih dahsyat dari petir yang menggelegar ketika Bandung dilanda hujan lebat. Berita yang menusuk hatiku jauh lebih sakit daripada berita bahwa siswa tercantik di angkatanku ternyata sudah dijodohkan oleh orang tuanya.

 

Aku coba berpikir jernih dan kuhela nafasku dalam- dalam. Aku masih setengah tidak percaya dengan apa yang sudah aku dengar langsung.

 

“Mustahil! Mustahil aku tidak naik kelas!” Kata- kata itu terus bergumam di bibirku dan berkecamuk di dalam hatiku.

 

Aku adalah anak paling pintar di kelurahanku. Aku sudah bisa membaca ketika berumur empat setengah tahun sampai “ditendang” keluar dari TK agar langsung masuk ke SD. Dan aku jadi siswa termuda ketika itu, karena umurku baru empat setengah tahun. NEM-ku ketika SD dan SMP paling besar di kelurahanku. Selama sembilan tahun menginjakkan kaki di sebuah institusi yang bernama sekolah, aku tidak pernah sekali pun terlempar dari peringkat 10 besar.

 

Tidak naik kelas adalah hal yang tidak pernah sekalipun terbayangkan. Otak kiriku mengatakan kejadian ini  mustahil terjadi, sama seperti mustahilnya seperti mengalahkan terangnya matahari dengan sebuah lampu senter. Sama mustahilnya dengan Barcelona atau Real Madrid terdegradasi ke Segunda Division!

 

“Sekarang rencana Aa gimana?” Isak Ibuku dengan masih sesengukan karena menahan tangis.

 

“Mau tinggal di sekolah ini saja, atau mau pindah ke sekolah biasa?”

 

Aku masih terdiam dan tergumam.

 

“Kalau Aa misalnya mau pindah, harus segera diurusin hari ini juga, karena hari ini adalah hari terakhir penerimaan siswa baru di SMA atau SMK selain sekolah yang sekarang!” Pungkas Ibuku yang terdengar sudah mulai menguasai kesedihannya.

 

“Menurut Ibu gimana baiknya?” Aku malah menjawab pertanyaan Ibuku dengan pertanyaan lagi.

 

“Ya terserah Aa, Aa kan yang akan menjalani bukan Ibu.” Jawab Ibuku.

 

“Tapi kalau boleh Ibu memberi saran, bidang kimia masih menjadi favorit.Lulusannya akan lebih mudah bekerja. Coba saja berjuang satu tahun lagi di sekolah yang sekarang. Jika ternyata masih tidak naik, ya mau tidak mau Aa harus pindah sekolah.” Jawab Ibuku dengan lirih.

 

“Jika Aa rasa Aa masih mampu menjalani sekolah yang sekarang, sebaiknya Aa tidak usah pindah. Dan lagi pula pendaftaran sudah mepet. Kita tidak akan sempat menyiapkan surat- surat yang diperlukan untuk bisa pindah sekolah.” Kata Ibuku.

 

Aku masih belum bisa menjawab.

 

“Aa butuh waktu untuk berpikir dulu Bu, supaya keputusan yang diambil benar- benar matang dan tepat untuk kehidupan Aa. Sebaiknya Ibu pulang dulu, dan kita bicarakan masalah ini di rumah.” Jawabku  setelah beberapa menit melamun dengan pandangan kosong ke luar rumah melalui jendela ruang tengah yang menutupi setengah dari dinding ruangan itu.

 

“Iya A, sebaiknya memang seperti itu. Ya sudah Ibu langsung pulang sekarang ya!”

 

Bertahan Atau Menyerah?


Beberapa lama setelah Ibuku menutup telepon, hatiku langsung berkecamuk, otakku langsung seperti mendidih dan pikiranku berputar, terus memikirkan pilihan apa yang harus aku ambil hari ini.

 

Pindah sekolah?

 

Atau bertahan, dengan status siswa yang tinggal kelas?

 

Walaupun sekolah itu memang berat, tapi aku rasa aku masih mampu menjalaninya. Toh, nilaiku pun tidak jelek-jelek amat. Hanya ada dua nilai merah di raportku. Penyebab utamanya, nilai matematikaku sangat di bawah standar, tidak hanya “nilai merah” biasa.

 

Terdengar sangat memalukan memang. Tapi itulah, sekolahku memang menerapkan standar yang sepintas terlihat sangat mudah. Padahal dibalik standar yang mudah terdapat perjuangan yang sangat berat.

 

Kuyakinkan diriku bahwa aku masih bisa memperbaiki ini, aku masih mampu melewati perjuangan yang sangat berat di sekolah itu. Aku harus menuruti saran Ibuku. Bukankah dia dan Ayahku jauh lebih tahu yang terbaik untukku yang baru lulus SMP ini?

 

Tak berapa lama, Ibuku pun tiba di rumah. Tampak bagiku sekarang kondisinya sudah jauh lebih tenang.

 

“Gimana, sudah ada keputusan?” Tanya Ibuku.

 

Dengan yakin, akupun menjawab: “Insyaalah, Aa akan menuruti saran Ibu, Aa akan bertahan di sekolah ini”.

 

Yakin hanya ungkapan ini yang bisa mewakili perasaanku ketika akhirnya mengambil keputusan untuk bertahan. Aku berjanji kepada diriku dan orangtuaku untuk berusaha lebih baik. Alasanku yang utama ketika itu adalah ingin menuruti saran Ibuku yang masih ingin aku bertahan di sekolah favorit itu.

 

Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kedua-pilihan yang aku ambil-untuk bisa melalui beratnya pendidikan di sekolah itu.

 

Dan Alhamdulillah, ternyata keputusan yang aku ambil ketika itu adalah pilihan yang tepat. Karena keputusan inilah yang mendasari perubahan-perubahan besar dalam hidupku di masa depan.

 

Hikmah


Akhir-akhir ini, ternyata baru kusadari hikmah dari kejadian itu.

 

Sangat sering sekali aku membanggakan diriku yang mulai masuk SD ketika masih berumur empat setengah tahun. Aku sering menyombongkan diri ketika memasuki sekolah itu, karena aku bisa menembus seleksi yang sangat ketat, ditambah dengan umurku yang paling muda dari seluruh siswa baru yang berhasil diterima di sekolah itu.

 

Mungkin ini adalah teguran dari Allah untuk kesombonganku.

 

Hikmah positifnya, tentu saja adalah keadaan diriku yang sekarang ini.

 

Allah ternyata menyiapkan kondisi yang tidak pernah aku mimpikan sebelumnya, kondisi ketika aku bisa mencapai impian-impian yang tidak kalah mustahilnya dengan takdir bahwa aku tidak naik kelas.

Subhanallah!

Bersambung….

Iklan

3 pemikiran pada “Biar Cepat Asal Selamat! Menuju Sukses Dunia Akhirat Dengan Membaca Lebih Cepat, Bagian 1

  1. Ceritanya bagus, Kang …. jujur terutama.
    Mungkin kalau bisa lebih digambarkan dengan lebih detail, bagaimana emosi Akang di dalam menghadapi itu semua , bagaimana perjuangan akang “bangun” lagi sesudah gagal, cerita ini akan lebih menyentuh, akan lebih memberi pelajaran bagaimana bangun sesudah terjatuh. Terus menulis Kang, semoga sukses. Amien.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s