Pusing Tujuh Keliling Forever

“Manusia memang aneh, suka memikirkan yang tidak perlu dipikirkan tapi tidak memikirkan yang seharusnya dipikirkan”

 

“Pussiiiinnggggg…!” Teriak si Fulan dari teras depan rumahnya.

“Pusing tujuh keliling nih!” Si Fulan menambah variasi tujuh keliling untuk mendramatisir keadaan. Sambil memasang pose standar orang yang sedang pusing tujuh keliling: setengah jongkok, tangan kiri berkacak pinggang, tangan kanan memegang jidat, dan kepala digeleng- geleng.

“Pusing kenapa Mas Bro? Kok sampai tujuh keliling begitu” Tanya si Mamang Tukang Sayur langganan si Fulan yang tiba- tiba hinggap, eh, mampir di depan rumah si Fulan karena terkaget- kaget mendengar teriakan si Fulan.

“Ngga pusing gimana Mang…..” Kata si Fulan sambil menarik nafas panjang.

“Hutang makin banyak, kosan belum bayar, cicilan motor nunggak dua bulan, nilai kuliah jelek- jelek, pacar minta dinikahi secepatnya, orang tua telat ngirim..!” Kata si Fulan, persis seperti burung Cangkurileung yang baru dilepasan dari kandang.

“Hutang, keuangan, masalah keluarga, sekolah, kerjaan mah ya masalah biasa atuh Mas Bro, tiap manusia pasti punya masalah yang berkaitan dengan hal- hal itu…” Jawab Mas Bro, eh, Mamang Tukang Sayur dengan suara bariton yang lembut layaknya penyiar radio yang baru- baru ini mendadak beken di Youtube.

“Iya saya tahu Mang, tapi saya tetep pusing nih mikirin gimana solusinya!” Jawab Si Fulan dengan pose yang masih persis sama seperti tadi, hanya kali ini tangan kirinya yang hinggap di atas jidat. Kepalanya tentu saja tetap menggeleng- geleng.

Eh, tiba- tiba si Mamang malah ngaji dengan suara yang berat tapi lembut, mirip- mirp dengan Syaikh Mishary Al Efasy. Secara, dia kan emang imam di mushola deket rumah si Fulan.

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh)”. QS Hud ayat 6

 

            “Yee..si Mamang kenapa malah ngaji sih? Bukannya ngehibur!” Si Fulan menanggapi dengan sedikit kesal.

“Saya butuh solusi buat masalah saya, bukan pengen didengerin orang ngaji!” Tambahnya lagi.Sambil terduduk lesu, iya lah, masang pose orang pusing tujuh keliling gitu pasti pegel bukan main.

“Mas Bro beneran pusing nih, mikirin masalah- masalah Mas Bro?” Tanya si Mamang dengan lembut, seperti seorang ayah kepada anaknya.

“Iya lah, masa ngga keliatan dari tadi saya pasang pose seperti ini?!” Kata si Fulan yang tiba- tiab tersadar bahwa posisinya sudah berubah, dan memasang pose pusing tujuh keliling lagi.

“Mas Bro, masalah rejeki, uang, jodoh, maut, sudah dijamin oleh Allah. Itu janji-Nya!” Ucap si Mamang.

“Tugas kita bukan untuk memikirkan hal- hal itu.”

“Mas Bro sudah sholat zhuhur belum nih?” Tiba- tiba si Mamang bertanya.

“Masih pusing gini mas, nanti aja lah bentar lagi!” Jawab si Fulan sekenanya.

“Saya mau nanya boleh ngga Mas Bro?” Si Mamang pun tetap menanggapi dengan santai.

“Mau nanya apa?” Jawab si Fulan.

“Mas Bro yakin kalau Allah Maha Pencipta?” Tanya si Mamang.

“Yakin dong, saya kan orang Islam!” Jawab si Fulan.

“Yakin kalau Allah pemilik segala sesuatu di dunia ini?”

“Hmm.itu juga yakin dong! Intinya mau nanya apa nih, kok malah nanya yang aneh- aneh kaya gini!” Si Fulan mulai terlihat kesal.

“Yakin kalau Allah Maha Kuasa atas segala kejadian di dunia ini?

Si Fulan sekarang hanya sekedar menganggukkan kepalanya.

“Nah, itu cukup!” Kata si Mamang dengan muka sumringah.

“Cukup apanya?” Jawab si Fulan yang terlihat agak bingung.

“Di ayat yang tadi Mamang bacakan tercantum jelas bahwa Allah berkata:“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya”

            “Allah sudah menjamin rejeki setiap makhluk yang melata di muka bumi ini, dan itu termasuk manusia” Si mamang meneruskan obrolannya.

“Kita seharusnya tidak usah khawatir tidak dapet makan, tidak usah khawatir tidak bisa pake baju, tidak usah khawatir tidak dapet jodoh, tidak usah khawatir tidak dapet kerjaan, pokoknya mah urusan dunia mah Allah sudah jamin deh” Si Mamang mulai bersemangat menjelaskan.

Si Fulan sepertinya sudah lelah berpose pusing tujuh keliling, dan dia pun duduk ke posisi semula, di sebelah si Mamang sayur. Sambil mendengar si Mamang sayur dia pun menganggukkan kepalanya pelan- pelan, entah karena ngantuk atau karena memang sedang berusaha mengerti si Mamang.

“Cecak aja makanannya nyamuk, tapi mereka tidak pernah pusing!”

“Mas Bro, ada hal- hal yang seharusnya lebih kita khawatirkan dibanding hanya sekedar urusan hutang, keuangan,keluarga, jodoh.” Si Mamang menjelaskan lagi.

“Apa itu mas? Saya sudah cukup pusing nih memikirkan masalah- masalah saya, tolong jangan ditambah pusing!” Jawab si Fulan.

“Tugas kita diciptakan sebagai manusia semata- mata untuk beribadah kepada Allah”

“Mas Bro Sholat, puasa, zakat? Tanya Si Mamang.

“ Ya Iya lah, saya kan Islam Mang, masa ngga sholat, puasa ama zakat?” Jawab si Fulan dengan setengah melotot.

“Tapi Mas Bro yakin 100 persen ngga kalau  ibadah- ibadah Mas Bro itu bakal diterima oleh Allah?” Si Mamang masih bertanya lagi.

“Hmm…” Si Fulan mulai terdiam.

“Gimana ya….? Kalau ini sih sejujurnya saya tidak yakin. Sholat saya masih sering telat, ngga khusyu- khusyu amat, puasa juga ya gitu- gitu aja sih ngga ada yang istimewa, zakat mah pasti lah, minimal zakat fitrah.” Si Fulan menjawab dengan perlahan.

“Nahh..Apakah tiap sehabis sholat Mas Bro suka memikirkan bahwa sholat Mas Bro diterima atau tidak?” Tanya Si Mamang.

“Ngga sih, sholat ya sholat aja…Palingan ya itu, saya berdoa minta solusi untuk masalah- masalah saya” Jawab si Fulan.

“Lalu gimana Allah mau mengabulkan do’anya Mas Bro kalau ternyata sholatnya Mas Bro asal sholat aja, asal sah saja. Sah belum tentu diterima lho!” Si Mamang langsung menanggapi.

“Mas Bro pernah mikirin ngga apakah bacaan Al Qur’an Mas Bro sudah bener atau ngga? Apakah Mas Bro mbaca surat yang itu- itu saja, klo ngga Al Ikhlas ya Al Kautsar? Apakah Mas Bro abis sholat dzikir dulu ngga? Apakah Mas Bro sholat sunah rawatib ngga setelah sholat? Apakah Mas Bro ngerti bacaan sholat dari Takbir sampai Salam? Pertanyaan yang bertubi- tubi berhamburan dari mulut si Mamang, seolah- olah menohok dada si Fulan.

Si Fulan hanya terdiam. Pandangannya langsung kosong seperti sedang memikirkan jawaban untuk pertanyaan pertanyaan si Mamang.

“Ngga pernah Mang…” Jawab Si Fulan dengan lesu.

            “Tuh kan…Hal yang sudah jadi kewajiban ternyata malah Mas Bro ngga pikirin.”

“Ngga usah khawatir mikirin masalah rejeki and jodoh mas, atau masalah- masalah lainnya. Allah mah Maha Kuasa Atas Segala Sesuatu. Kalau ibadah kita sudah benar, dan diterima oleh Allah, Allah pasti akan dekat dengan kita. Kalau Allah sudah deket sama kita, kita pasti dimudahkan dan diberi jalan dari jalan yang tidak di duga- duga selama kita beikhtiar sekuat tenaga dengan benar dan dengan niat yang lurus.” Si Mamang menjelaskan lagi dengan perlahan.”

“Iya juga Mang, eh..Iya ya Mang..” Si Fulan menjawab.

“Selama ini saya selalu ruwet mikirin urusan dan masalah hidup saya, tapi malah sama sekali ngga pernah mikirin gimana kualitas ibadah saya. Padahal sudah puluhan tahun saya sholat, puasa, zakat. Tapi saya ngga pernah kepikiran untuk mikirin kalau ibadah saya itu sudah benar atau tidak, bakalan diterima oleh Allah atau tidak…” Ucap si Fulan dengan sedikit terisak.

“Astaghfirullohal’azhiim…ampun ya Allah” Si Fulan beristighfar dengan lirih..

“Tidak pernah ada kata terlambat untuk tobat Mas Bro” Kata si Mamang.

“Alhamdulillah kalau Mas Bro sudah sadar mah, ini juga sebagai koreksi untuk diri saya gar bisa memperbaiki kualitas ibadah saya lebih baik lagi” Si Mamang menambahkan lagi.

“Saya pamit dulu ya Mas Bro…semoga sukses! Saya tunggu di mesjid Ashar nanti Ya!” Ucap si Mamang Tukang Sayur sambil berlalu dengan motor yang sudah dimodifikasi dengan keranjang sayurnya.

“Wa’alaikumsalaam. Terima kasih Mang, sudah mengingatkan..” Jawab si Fulan yang mulai terisak lagi.

Tak lama kemudian si Fulan pun bergegas mengambil wudhu.

Kali ini dia merasa wudhunya terasa sangat berbeda. Dia sangat menikmati setiap bilasan air dingin yang mengalir dari keran plastik di kamar mandinya. Tanpa terasa air matanya pun mengalir pelan, terbilas oleh air wudhu yang membasuh mukanya. Hatinya pun berdetak kencang, tak sabar ingin segera mendirikan sholat, agar dia bisa taubat sepuasnya.

     لا إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحانَكَ إِنّى‏ كُنْتُ مِنَ الظَّالِمينَ

Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.”

 

www.didaytea.com

131011

 

 

 

 

 

Minder Itu Bermanfaat

“Setiap manusia yang lahir ke dunia, adalah satu sel sperma yang berhasil mengalahkan ratusan juta sel lainnya untuk membuahi satu sel telur”

 

Setiap manusia memiliki kecenderungan untuk berbuat baik dan pasti ingin berubah lebih baik untuk menjadi baik.

Salah satu kondisi, atau perasaan yang bisa menjadi pemicu keinginan seseorang untuk berubah menjadi lebih baik adalah perasaan minder. Ya, minder.

Pernahkah Anda merasa minder? Ah, Itu sih perasaan yang biasa kita alami.

Perasaan yang sering, bahkan selalu timbul ketika kita dihadapkan dengan orang lain yang memiliki kondisi yang lebih baik daripada kita.

Kita akan merasa minder jika berada di samping orang yang lebih tampan atau lebih cantik daripada kita.

Kita akan cenderung merasa inferior jika berada di dekat orang yang kita tahu jauh lebih tinggi jabatannya, jauh lebih banyak hartanya daripada kita.

Kita akan merasa jadi orang yang paling berdosa sedunia ketika kita berkenalan dengan seseorang yang sholeh luar biasa.

Kita akan menjadi orang yang paling pelit, medit, koret, kopet, buntut kasiran, keked mengkene, merege hese, cap jahe (Maaf, bahasa Sunda memang lebih dramatis untuk menggambarkan kata- kata “pelit”) sedunia ketika mendengar ada milyuner yang bisa menyumbangkan sebagian besar hartanya untuk membantu orang miskin dan anak yatim.

Minder tidak melulu menjadi sifat negatif bisa menjadi sebuah pemicu dari agen perubahan.

Selama perasaan minder itu terkonversi menjadi iri yang positif, dan tidak berlarut- larut tumbuh menjadi perasaan dengki dan berburuk sangka, itu adalah wajar.

Seringkali, kondisi seperti ini malah membuat kita cenderung berputus asa karena kita memasang standar yang terlalu tinggi untuk memulai sebuah perubahan ke arah yang lebih baik.

Seringkali keinginan untuk langsung berubah jauh lebih baik, malah menjadi bumerang, dan menyebabkan kita langsung menyerah, ketika baru saja akan melangkah.

Hei, perubahan itu perlu waktu!

Hanya kondisi luar biasa yang bisa membuat orang berubah drastis dalam semalam.

Hanya kondisi yang di luar nalar manusia ketika ada orang yang jarang super pemarah, tiba- tiba jadi orang yang super penyabar.

Perubahan yang tiba- tiba, seringkali tidak mempunyai pijakan yang kuat, sehingga cenderung lebih mudah untuk goyah, dan lebih beresiko untuk kembali ke arah kondisi sebelumnya.

Perubahan yang baik seharusnya bertahap, agar bisa berkesinambungan dalam periode waktu yang lebih lama.

Kita harus memulai dengan standar yang tidak terlalu sulit, walaupun tetap dengan mimpi yang tinggi. Standar yang mudah akan lebih mudah dicapai.

Contoh yang sederhana: Lebih baik memulai mengaji satu ayat setiap hari, tapi rutin, dan tidak pernah kita lewatkan, daripada kita tiba- tiba sholeh dalam satu malam, membaca beberapa juz Al Qur’an,tapi setelah itu, tidak melakukannya lagi setelah berbulan- bulan.

Lebih  baik memulai sholat malam, walaupun hanya satu rakaat, tapi rutin setiap hari daripada kita tiba- tiba melakukan sholat malam semalaman, dan berhenti berbulan- bulan.

Kita harus realistis untuk melakukan perubahan.

Jika sudah melakukan hal- hal yang mudah, dan lebih baik dari kondisi sebelumnya, seperti contoh sholat dan mengaji tadi, kita pasti akan sampai pada tahap konsisten.

Dan otomatis, kondisi yang konsisten ini akan memicu kita untuk lebih baik.

Mungkin setelah sebulan, dua bulan atau setahun, kita memulai perubahan kecil akan terjadi perubahan lebih besar.

Dan tanpa terasa, kita akan sampai pada tahap yang sama, atau bahkan lebih baik dari kondisi yang kita inginkan sebelumnya.

Mentalitas dan pemikiran seperti ini sih seharusnya bisa dipraktekkan di seluruh aspek kehidupan: sekolah, bekerja, mengajar, dan bidang- bidang lainnya.

Ingat, untuk memindahkan segunung batu bata apa yang harus kita lakukan? Bukan pusing, bukan panik, bukan frustasi, bukan menggerutu, bukan syok.

Ya! Mulailah dengan memindahkan satu buah batu bata terdekat. Dan batu- bata lainnya, satu demi satu.

Perjalanan jutaan tahun cahaya, selalu akan dimulai dengan satu langkah kecil.

 

Selamat menikmati langkah kecil anda yang pertama untuk memindahkan segunung batu- bata.

 

www.didaytea.com

Jangan Mudah Menyerah

“Tidak mungkin itu kata manusia, jika kata Allah jadi, ya jadilah!”

               Seperti hari- hari Jumát lainnya, aku sudah bersiap- siap untuk pergi ke mesjid sebelum adzan zhuhur. Mandi, tiga semprot Calvin Klein sudah cukup untuk menyelimuti tubuhku dengan kesegaran wanginya. Just like the ordinary days, hari ini sih kupikir tidak akan ada cara atau even spesial yang akan terjadi.

Kejadian istimewa itu terjadi, dan tidak pernah kuperkirakan, setidaknya sampai hari ini.

Setelah siap, ku pun berpamitan kepada istri dan anak- anakku untuk pergi sholat Jumát. Aku berjalan dengan sigap, semangat dan tegap, karena Jumát selalu menjadi hari yang istimewa. Terutama di Qatar , karena itu adalah hari libur kerja.

Kuhempaskan perlahan tubuhku ke atas kursi pengemudi. Sudah terbayang ketika khotib sedang khutbah dengan berapi- api di atas mimbar. Dan terbayang juga diriku yang masih belum bisa mengerti khutbah dalam bahasa Arab…hehehe..

Eh, alangkah terkejutnya diriku ketika ternyata mobilku tidak bisa distart!

Yaahh…alamat buyar deh rencana hari ini, awalnya hanya itu yang ada di pikiranku.

Setelah kucoba utak – atik, ternyata sesuai perkiraan, aki mobilku soak. Sebenarnya wajar sih, karena sudah dua tahun lebih. Tapi aku tidak mengira secepat itu, karena terakhir service, tukang servicenya bilang bahwa aki mobilku masih bagus.

Akhirnya kutelepon tetanggu ku untuk membawa mobilnya agar bisa men-jump start, mobilku.

Alhamdulillah, akhirnya mobil pun bisa kuhidupkan dengan bantuan temanku itu.

Tapi masalah belum selesai nih, karena acara pertemuan dengan komunitas fotografer itu akan berlangsung setelah Ashar, masih beberapa jam lagi. Aku tidak mungkin menyalakan mobilku selama itu.

Di Qatar, jangankan di hari libur, di hari biasa saja, semua toko akan tutup antara jam dua belas siang sampai jam empat sore, tanpa kecuali.

Mau tidak mau, sehabis sholat Jum’at tadi aku haru pergi mencari aki untuk mobilku.

Ada sih, bagian dari diriku yang langsung menyerah dan lebih memilih untuk menyerah saja dengan menyalakan mobilku sampai sore nanti.

Akhirnya sih kupilih untuk meluncur saja ke area aksesoris mobil dekat rumahku, sambil berharap ada satu toko yang ternyata sudah buka setelah sholat Jumát.

Eh, ternyata benar saja, dari puluhan toko yang berjejer itu, tidak ada satu pun yang sudah buka. Huff…harapanku mulai hilang tuh…

Kuhubungi beberapa orang teman- temanku untuk menanyakan toko yang kira- kira tetap buka walaupun di hari Jumát siang. Mereka semua ternyata kompak, tidak ada yang tahu.

Mereka semua bilang bahwa di Qatar ini  tidak mungkin ada toko yang bakalan buka tengah hari bolong, di hari Jumát pula. Impossible, no way, you will not be able to find, ngga bakalan ada, ah pokonya mah, walau pun berbeda- beda tapi tetap satu jawaban.

Harapanku semakin menipis tuh!

Ah, tapi masih ada satu tempat yang belum ku coba di daerah Salwa road, kalau tidak salah sih ada pom bensin yang lumayan lengkap, dengan all service in one place.

Ketika tiba di sana, kulihat pom bensinnya sih buka. Dan aku masuk lebih ke dalam lagi ke arah tempat service mobilnya. Dan percakapan yang sangat mencerahkan pun terjadi.

Kutanya salah seorang penjaganya: “Are you open?”

“Yeah, we are open”! Dia pun menjawab dengan ramah.

“ You can change battery?”Tanyaku dengan muka yang sudah agak ceria, karena harapanku ternyata tidak sia-sia.

“If inside have battery same- same your car, I will fix to you!”Jawab dia. Wah, mulai deh, dialog Inggris tarzan terjadi kataku dalam hati.

“Your car where? Aswad sayara? Superman Car?” Tanya dia sambil menunjuk sebuah Chevrolet Corvette.

Jiah..Aku sih alhamdulillah saja kalau disangka empunya si neng Corvette itu. 😀

“No, my car there, that side, yamin ila aswad syara”Jawabku dengan bahasa Arab-Inggris Tarzan yang tidak kalah ngga nyambungnya dengan si doi.

Karena dialog Arab- Inggris yang sangat tidak nyambung ini terus berlangsung selama beberapa kalimat, akhirnya aku akhir saja dengan langsung menuju ruangan kantor bengkel itu.

Singkat cerita, digantilah aki mobilku dan mobilku bisa menyala seperi biasanya.

Walaupun hanya hal kecil dan tidak sedramatis kisah- kisah hidup di buku- buku motivasi, atau di dalam cerita- cerita Chicken Soup Series, tapi hikmah yang kudapat sangat besar.

Hikmah yang mengingatkan bahwa seringkali kita lebih mendengarkan ucapan manusia yang bilang tidak mungkin, tidak ada harapan. Bahwa seringkali kita mengalami atau mendapatkan kejadian yang kita alami dan orang- orang di sekitar kita yang sebenarnya tidak mungkin, tapi toh akhirnya tetap terjadi, dan sudah terjadi.

Jangan menyerah, walaupun sudah ada kalimat “tidak mungkin”keluar dari mulut seorang, atau bahkan beberapa, atau bahkan semua orang di sekitar kita.

Mungkin kita hanya kurang berusaha lebih keras, dan dengan sengaja menghapus harapan kecil yang seharusnya selalu ada ketika kita sedang berusaha, atau bahakn hanya sekedar berniat untuk berusaha.

Tidak ada yang mungkin kata Allah, jika kata Allah, jadi, maka jadilah!

 

www.didaytea.com

300920111457

Setelah bersimbah keringat di tengah teriknya matahari Doha

 

Dunia Bukan Akherat Bukan Dunia

“Bekerjalah untuk urusan duniamu seolah- olah engkau akan hidup selamanya, dan bekerjalah untuk urusan akheratmu seolah-olah engkau akan mati besok”  (Abdullah bin Amr bin al-Ash)

 

Kalimat di atas, di masa kini sering disalah artikan dan disalahgunakan. Seringkali disalah tafsirkan sehingga membatasi pengertian kita terhadap akherat dan dunia.

Sholat, puasa, zakat, haji, akan hanya bernilai dunia, jika ternyata tujuan kita melakukan  semua hal itu tidak dengan niat yang ikhlas.

Sering disalahartikan dengan memahami bahwa itu bekerja, sekolah, berdagang, kuliah, dan aktifitas- aktifitas kita sehari- hari yang (terlihat) tidak berkaitan dengan akherat kita adalah urusan “dunia”. Dan urusan “akherat” pasti tidak jauh- jauh dari mesjid: sholat, puasa, sedekah, zakat dan haji. Tidak ada urusan antara hal- hal yang disebut “dunia”tadi dengan akherat.

Padahal, mencari nafkah adalah ibadah, karena itu adalah kewajiban seorang kepala keluarga. Berdagang adalah ibadah, jika jujur, dan bisa menjadi teladan untuk orang- orang di sekitar kita. Sekolah adalah ibadah, jika tujuan kita untuk mencari ilmu. Dan walaupun tujuan kita mencari ilmu agar bisa digunakan untuk mencari uang, tetap menjadi ibadah. Jika ketika uang sudah di tangan kita, kita tunaikan zakat, dan berinfaq kepada sebanyak mungkin orang.

Bekerja,mencari uang sebanyak mungkin kadang dianggap ngoyo untuk mengejar urusan dunia.

Padahal, itu bisa menjadi tiket masuk kita ke syurga.

Bayangkan saja, apakah tanpa uang kita bisa mengurus anak yatim?

Apakah tanpa uang kita bisa membangun mesjid di daerah yang belum ada mesjid?

Apakah tanpa uang kita bisa bershodaqoh?

Bagaimana kita bisa membayar zakat, jika kitanya saja wajib dizakati?

Apakah tanpa uang kita bisa naik haji atau menghajikan orang- orang yang sholeh tapi lemah secara finansial?

Apakah tanpa uang kita bisa membuka lapangan kerja dengan membuat perusahaan, untuk menyelamatkan para orang miskin dari kekufuran?

Tidak!

Apa pun profesi anda sekarang ini, bekerjalah lebih keras dan bekerjalah lebih cerdas.

Kita harus kaya, dan janganlah takut menjadi kaya!

Sembilan dari sahabat yang dijanjikan masuk syurga adalah pengusaha.

Uang yang banyak dan halal baru akan terasa manfaatnya untuk umat jika berada di tangan orang yang sholeh.

Ya! Dunia bukan akherat, dan akherat bukan dunia, tergantung niat dan tujuan kita.

www.didaytea.com

240920111027

Di hari yang penuh senyum dan keceriaan, seperti biasanya.

Manusia Digital

“Akan datang suatu masa di mana pelajar /mahasiswa tidak akan membawa satu pun buku untuk belajar, mereka cukup hanya membawa satu komputer tablet”

 

            Selama belasan tahun, dari Sekolah Dasar sampai Kuliah, saya selalu mengalami proses belajar- mengajar di sebuah kelas “tradisional”.

Sebuah kelas yang memiliki suasana yang selalu sama. Seorang guru berdiri di depan kelas, untuk guru/dosen yang rajin, akan lebih sering menulis di atas papan tulis untuk menerangkan materi pelajaran.

Di saat yang bersamaan, puluhan murid duduk di atas bangku yang berderet rapi, duduk manis. Untuk murid yang rajin, mereka akan selalu menulis poin- poin penting yang guru/dosen ajarkan.

Apa pun mata pelajaran/mata kuliah yang diajarkan, pasti akan ada situasi belajar dan mengajar seperti ini.

Ketika saya mulai mengenal komputer dan internet, entah kenapa saya tiba- tiba merasa sangat bosan duduk di kelas. Saya lebih senang jika “berselancar” di dunia maya, karena lebih interaktif, tidak kaku seperti guru dan murid yang sama- sama duduk di dalam kelas yang saking sunyinya, bunyi sebuah jarum yang jatuh pun akan terdengar sangat nyaring. Belajar lewat internet buat saya lebih “berwarna” dibanding hanya putihnya tulisan kapur atau boardmarker sang guru/dosen di atas papan tulis.

Ada sih beberapa guru/dosen yang kreatif. Mereka mulai berinovasi dengan membuat slide-show ketika mengajar.

Ketika sudah menginjak bangku kuliah, para dosen sudah lebih canggih lagi, (beberapa) dari mereka sudah mulai membawa laptop dan proyektor untuk mengajar.

Di dalam buku The Learning Revolution disebutkan, bahkan sudah ada sekolah yang hanya berbasiskan multimedia dan jaringan. Ada kampus digital yang belajar hanya melalui dunia maya, dengan tele conference.

Di era internet ini, saya rasa sudah saatnya kita mendesain ulang metode belajar mengajar yang sudah puluhan tahun.

Di era ketika semua orang di dunia sudah tidak memiliki batasan lagi, ketika semua orang bisa berbicara dan bertatap dengan orang di benua lain secara langsung, melalui bantuan jaringan komunikasi ini, sudah seharusnya para pembuat kurikulum dan para pemegang kebijakan di dunia pendidikan mulai “bangun”.

Tanpa sadar kita semua yang terhubung dengan jaringan internet ini sudah “Digitaly Re-Wired” kata Dr. Philip Zimbardo, di videonya yang berjudul The Secret Power of Time.

Kita sedang dan bahkan mungkin sudah sepenuhnya bertransformasi dari manusia analog menjadi manusia- manusia digital.

Hampir seluruh aspek kehidupan kita sudah terdigitalisasi.

Kita harus menyadari bahwa cepat atau lambat, cara belajar tradisional seperti ini akan segera usang. Papan tulis, spidol, buku tulis, buku- buku paket yang super berat itu, akan segera punah dan tergantikan oleh versi digitalnya. Perpustakaan akan (bahkan mungkin sudah) menjadi sekedar museum untuk menyimpan buku-buku antik.

Kita sudah tidak cocok lagi dengan cara belajar tradisional.

Tanpa kita sadari.

Kita sudah menjadi manusia era baru. Manusia yang memegang kendali penuh atas dirinya sendiri. Manusia yang bisa mencari apa pun yang dia mau melalui internet. Manusia yang bisa mempelajari apa pun dari internet.

Kita sudah menjadi manusia yang tidak bisa hidup tanpa internet, bahkan hanya sekedar untuk sekedar belajar atau mencari informasi, kita sudah sangat bergantung kepada internet. Dengan internet juga kita menjadi manusia yang sudah bisa berinteraksi dan bersosialisasi dengan manusia di seluruh dunia melalui jejaring sosial.

Kita sudah menjadi manusia yang memiliki ratusan, dan bahkan ribuan teman di dunia maya, yang mungkin kebanyakan dari mereka tidak pernah bertemu secara langsung dengan kita.

Jadi, jangan kaget jika nanti di masa depan, anak- anak kita berangkat ke sekolah hanya membawa komputer tablet, ya, hanya itu!

www.didaytea.com

1909110046

Di tengah debu debur intan, eh, pasir…