Dobrak Diri

Dobrak Diri

Ya! Setelah beberapa kali memenuhi tantangan diri, saya semakin yakin bahwa tidak ada yang sulit di dalam hidup ini asal kita mau dan dengan izin Allah

Challenge yourself, and lt your life will be full of passion to let you live better here and after” (Diday Tea)

Ketika saya sedang berkonsentrasi penuh untuk melatih intuisi dan ketajaman mata , serta ketelitian dan ketepatan berpikir dengan bermain Angry Birds, tiba- tiba hape Blueberryku (bukan Blackberry) tiba- tiba meraung- raung. Di seberang telepon sana, ternyata salah seorang teman kerja saya meminta tolong untuk memperbaiki laptopnya yang kena virus. Saya kaget lah, tiada angin badai atau hujan apalagi awan mendung yang lewat di depan rumah saya, kenapa tiba- tiba ada orang yang merekomendasikan saya sebagai seorang ahli IT yang bisa memperbaiki semua masalah software di komputer merek apa pun.

Tadinya sih mau saya tolak dan “mengorbankan” teman saya yang saya yakini lebih mumpuni di bidang perkomputeran. Permintaan tolong itu akan saya tolak saja, dengan alasan saya tidak tahu menahu masalah software. Eh, setelah saya pikir ulang,  ternyata ini adalah tantangan baru! Apa salahnya sih kalau dicoba dulu, kan mas Google selalu ada di depan saya setiap saat? Kalau pun ngga bisa ya, kembalikan saja laptop itu. Gitu aja kok repot yah?

Laptop teman saya itu memang berada di dalam masalah besar. Laptop itu sama sekali tidak bisa bertelur, eh, itu mah hayam ya? Maaf, tiba- tiba kepikiran Angry Bird yang egg thrower, hehehe…

Laptop teman saya itu tidak bisa mengeksekusi program apa pun. Bahkan system restore pun tidak bisa.

Berdasarkan pengalaman laptop saya yang pernah mengalami hal yang kurang lebih sama.  Saya coba cari di menu facory reset. Alhamdulillah, ternyata ketemu dan bisa! Laptop itu saya factory reset saja dan tidak lebih dari 20 menit, seresettt…Semua beres, dan laptop itu kembali seperti baru.

Buat saya, kejadian ini adalah pencapaian yang sangat luar biasa. Pencapaian yang meningkatkan percaya diri di dalam diri saya berkali- kali  lipat. Karena ini membuat saya berkata kepada diri saya: “Ternyata saya bisa ya?” “Ternyata mudah ya?” “Ternyata gitu doang lah!”

Saya bisa melakukan hal yang tadinya saya pun tidak yakin apakahbisa melakukannya atau tidak.

Ya! Setelah beberapa kali memenuhi tantangan diri, saya semakin yakin bahwa tidak ada yang sulit di dalam hidup ini asal kita mau dan dengan izin Allah.

Masalahnya sederhana saja, hanya sekedar mau atau tidak mau. Lain tidak.

Jika anda mau dan kalau pun tidak berhasil, anda sudah mendapat pengalaman baru untuk tidak berhasil.

Anda selangkah lebih maju dibanding orang yang jarang mau menerima tantangan atau membuat tantangan dalam hidupnya.

Apakah anda sekarang hidup dengan nyaman? Bangun tidur, sholat, sarapan berangkat kerja, pulang, jalan- jalan ke taman atau mall dengan keluarga tercinta.

Jika anda nyaman sih silahkan saja, dan tidak ada yang salah dengan hal itu.

Tapi percayalah, anda akan merasa lebih cepat tua, hehehe…

Untuk saya, ketika hidup hanya sebatas menjalani rutinitas seperti itu, saya akan merasa seperti Angry Bird di dalam sangkar. Ada perasaan kurang nyaman ketika kejenuhan rutinitas mulai hinggap di atas pikiran kita. Hidup terasa kurang berwarna.

Walau pun tidak sering, tapi saya sering memberikan tantangan untuk diri saya. Hal yang menantang tidak harus selalu sulit. Contohnya menantang diri untuk bisa sholat dhuha dua rakaat setiap hari. Atau merutinkan sholat malam,walaupun hanya satu rakaat witir. Atau memaksa diri untuk bisa mengaji Al Qurán satu ayat setiap hari.

Atau bisa juga berupa tantangan fisik. Saya menantang diri saya untuk bisa berlari terus- terusan selama 30 menit di atas treadmill dengan kecepatan 10km/jam (kalau yang ini masih belum kuat..hehehe). Atau memaksakan diri untuk rutin bermain sepakbola setiap minggu. Atau hal kecil seperti menantang diri untuk push up 10 kali dan sit up 10 kali setiap bangun tidur.

Atau kadang saya mencari tips dan trik untuk mengedit foto di Youtube, dan mencoba praktek sendiri. Lalu saya posting di Facebook untuk melihat bagaimana tanggapan teman- teman saya.

Dan tantangan- tantangan kecil ini ternyata berlanjut sampai sekarang. Karena saya belum bisa istiqomah terus- terusan melakukan tantangan- tantangan itu. Kecil atau besar pasti akan selalu sulit. Sulit tapi bisa. Bisa asal mau!

Tuh kan, ujung- ujungnya mah, asal kita mau, pasti kita akan bisa melakukan hal- hal yang sulit sekalipun.

Ketika kita sudah bisa dan berani menantang diri untuk mencapai sesuatu, itu pun sudah sangat bernilai. Itu artinya kita sudah berhasil mendobrak kemalasan di dalam diri.

Setiap pencapaian setelah memenuhi tantangan akan menimbulkan ledakan motivasi dan percaya diri yang luar biasa dari dalam diri kita.

Bukankah malas adalah salah satu musuh terbesar di dalam hidup kita?

Ayo dobrak diri!

Didaytea

21112011

Doha, Qatar

 

Anugerah Terindah

Aku minta istri yang cantik

Aku diberi wanita yang membuatku selalu jatuh cinta ketika melihat wajahnya di awal hari

Aku minta istri yang tidak matre

Aku diberi wanita yang merasa mahar yang kuberikan sudah terlalu banyak untuknya

Aku minta istri yang pandai memasak

Aku diberi wanita yang memasak tongseng paling enak sedunia hanya dengan berbekal resep dari mang Google

Aku minta istri yang cerdas

Aku diberi wanita yang tidak pernah mengeluh bagaimana ruwetnya mengurus rumah, suami dan anak-anaknya

Aku minta istri yang menurut kepada suami

Aku diberi wanita yang bisa melupakan betapa sakitnya luka operasi demi menyiapkan sarapan untuk suaminya

Aku minta istri yang sholehah

Aku diberi wanita yang tidak pernah membangunkan aku, walaupun dia harus menahan kantuk yang luar biasa untuk memberi ASI, menyiapkan susu, dan mengganti popok anak-anakku.

Istriku sayang,

maafkan aku jika aku belum menjadi suami yang kau harapkan pada saat kamu adalah istri yang jauh lebih baik dari harapan tertinggiku dari seorang wanita

I Will Be The Last For You!

The Fabulous Asem Pedes of Korean Garden


Sebelum pindah ke Qatar, paling banter saya makan masakan Jepang di Bandung atau Cilegon, seringnya sih Hok-Ben(Hoka- hoka Bento), walaupun ternyata Hok-Ben ternyata sama sekali tidak berasal dari Jepang.

Lalu ada juga Midori, di daerah Bojong, Anyer, Banten. Kalau ini sih agak sedikit elit, karena menjadi langganan para Manajer expat Jepang di tempat saya bekerja. Beberapa dari mereka hanya mau makan makanan Jepang. 

Di Qatar juga sempat saya kunjungi beberapa restoran yang menyajikan masakan Jepang. Tapi ya begitu- begitu saja, masakan Jepang tidak akan jauh dari Sushi, Tempura, Wasabi, Miso Sup, dan teman- temannya.

Karena alasan itu pula saya pikir nih…masakan Korea tidak akan jauh berbeda dengan masakan Jepang, secara, mereka kan tetanggaan dan kualitas LG, Samsung pun tidak begitu berbeda dengan Sony dan Toshiba. Bahkan harga Kia Cadenza pun sekarang sudah lebih mahal dari Toyota Camry 😀

Saya pun akhirnya tidak begitu tertarik ketika dua tahun lalu, di daerah Ramada signal ada restoran baru bernama Korean Garden. Dan lagi pula restoran ini terletak di jalan utama, hampir mustahil kita bisa mendapatkan parkir tepat di depannya.

Walau pun dalam sehari minimal saya melewati jalan di depan restoran ini dua kali, tapi tidak pernah terbersit sedikit pun keinginan untuk barang sekali saja berkunjung, untuk sekedar mencicipi bagaimana sih rasanya masakan Korea itu.

Sampai pada suatu siang satu minggu sebelum Ramadhan, saya dan istri entah kenapa tiba- tiba terkena sindrom “Bosen Masakan Indonesia”, dan semakin meluas ke area yang lebih luas. Tidak ada maskan apa pun yang bisa menerbitkan selera makan kami di siang itu. Walau pun sudah kami bayangkan Sukiyaki, Tom Yam, Lamb Chop dan Chicken Barbequenya Antakiya, Ayam Panggang Rotana, Chicken Biryaninya Tandoor, dan bahkan rendang jengkol yang masih tersisa pun harus menerima nasibnya yang sangat tragis; tidak kami tengok sama sekali.

Ah, akhirnya kami putuskan untuk keluar rumah saja mencari makanan yang enak. 

Eh, selepas melewati perempatan Ramada, tak sengaja kami lihat ada satu slot parkir kosong di sebelah kanan. Ya! Parkiran yang kosong itu tepat berada di depan Korean Garden. 

Tanpa ragu lagi, langsung saja kuparkir mobilku di sana. Dan dengan agak setengah hati kami langkahkan kaki ke dalam restoran itu. 

” Yaa setidaknya kali ini kami makan makanan yang berbeda lah dari biasanya.” Dalam pikiran kami.


Begitu memasuki pintu gerbang, hati kami yang sudah tinggal setengah itu malah berkurang jadi seperempat. Iya lah, alangkah kagetnya kami, karena yang  membuka pintu ternyata bewokan (tipis sih) dan berkulit coklat. Katanya restoran Korea, kenapa yang nunggu orang India…??? Hehehe..

Ternyata kekagetan kami tidak bertahan terlalu lama karena ternyata di dalam akhirnya kami lihat ada chef aslinya, kali ini asli bertampang Korea, walau pun tidak mirip Rain atau pun Won Bin, apalagi Wonder Girls (mereka cowo semua..hehehe..).

Enough with the Talking, langsung saja kita tayangkan menu pembuka:
 

Kesan pertama: luar biasa. Yang berwarna oranye di kolom kiri, seperti mie goreng, tapi rasanya asem pedes. Kalau yang di atasnya juga sih sepertinya sawi putih yang walaupun tampilan dan warnanya hampir sama, ternyata rasanya juga tidak jauh beda, asem pedes. Ternyata ini namanya Kimchi.

Yang di tengah bawah, ini  apetizer yang paling berkesan menurut saya, tampak seperti bala-bala (bakwan in Sundanese Language). Tapi memiliki rasa layaknya perkedel jagung. Saya tahu namanya sih karena tidak ada di dalam menu. Tapi yang jelas namanya tidak mungkin Bagong (Bala- bala Jagong) kan… hehehe..

Asem dan pedesnya Kimchi memang membangkitkan selera makan dan menyebabkan air liur pun mengalir deras.. Persis seperti kalau kita mengambil sebuah jeruk nipis yang kecil, lalu kita belah dua dan kita peras perlahan si jeruk nipis yang tinggal setengah itu sampai keluar satu tetes air jeruk nipisnya. Lalu kita jatuhkan tetesan air jeruk nipis yang super asem itu tepat di ujung lidah kita..Dan sreettt dah…air liur pun pasti terbit dari mulut kita..hehehe..

Silahkan telan dulu air liurnya sebelum saya menayangkan gambar dari menu utama…:D
 
 
 
 
 

Ada sedikit kecelakaan nih. Kami berdua tidak pernah menyangka bahwa menu utama di atas, Mie Seafood akan datang dengan ukuran dengan mangkok hampir sebesar baskom. Jadi kami memesan juga Ikan asam manis (posisi arah jam 1). Itu ternyata menu yang cukup untuk empat orang. Tapi kami yakin, pasti si penjaga restoran sudah menduga bahwa kami adalah penduduk RW06 (rewog= rakus, Sundanese), karena cuma berdua+ bayi tapi mesen 3 main course sekaligus.

Yang di bawah dengan nasi, itu adalah Nasi Goreng Kimchi. Rasanya sangat-sangat lezat, dan coba tebak rasanya seperti apa? 

Betul sekali! Rasanya asem pedes..hehehe…Ini display setelah dibuka.Display sebelumnyasi telor dadar tipis digunakan sebagai kuli pembungkus nasi goreng.

Di sebelah nasi goreng, itu adalah Kimchi, ya rasanya juga asem pedes. Yang di kanan atas, ini agak berbeda dari yang lainnya, kalau ini bercita rasa asam manis, tapi tentu saja, ternyata ada sedikit bersembunyi rasa asem pedes khas Korea.

Di arah jam sebelas, ada masakan Jepang yang nyempil. Rasanya sih ya standar saja, sama seperti Tempura pada umumnya.


Karena kekenyangan-iya lah menu buat empat orang diembat berdua, :D-kami pun tidak memesan makanan penutup.

Kami hanya memesan Teh Ginseng yang rasanya sangat luar biasa, persis seperti teh Ginseng pada umumnya. Hehehe

Panasnya lidah dan kerongkongan yang beberapa kali dilewati oleh asem dan pedasnya Kimchi dari menu- menu yang kami santap, seketika hilang oleh sepet, pahit manisnya aliran Teh Ginseng yang kami teguk perlahan dari cangkir (yang terlihat seperti) keramik.


Jika suatu saat anda dan keluarga terkena sindrom “Bosen Masakan Indonesia dan India”, boleh lah restoran ini menjadi alternatip.


O iya, total damage di dompet 270 QAR= IDR640000.




16102011

Bekerja di Luar Negeri: Pecundang atau Pemenang?

 “Do What You Love, and Love What You Do!”

 (Penyiar Sebuah Stasiun Radio di Bandung)

 

Pernahkan anda menyesal telah memilih sesuatu?

Saya rasa kita semua pernah mengalami penyesalan dan menyesali sesuatu. Atau menyesali pilihan yang sudah kita ambil.

Menyesal karena salah memilih pekerjaan.

Menyesal karena salah memilih sekolahan.

 

Menyesal karena salah memilih kendaraan.

Menyesal karena salah memilih karyawan.

Menyesal karena telah salah memilih rumah, atau secara global, karena salah memilih langkah hidup.

Bahkan, mungkin ada yang sampai menyesal, karena telah salah memilih pasangan hidup.

 

Sama sekali tidak salah sih, karena itu wajar dan sangat manusiawi. Akan tetapi wajar hanya untuk kesan pertama saja, dan jika tidak sampai terlarut dengan penyesalan yang sangat dramatis sehingga mengganggu pikiran kita.

 

Jika sampai terlarut, biasanya sih akan membuat kinerja kita sebagai manusia yang berhubungan dengan hal yang kita sesali tersebut akan menjadi buruk.

 

Kinerja kita di tempat kerja, sekolah akan asal- asalan. Asal dapet gaji, asal lulus. Kita akan menjalani hidup yang membosankan dan tanpa tantangan. Karena kita menganggap sudah tidak ada nilai tambah lagi yang bisa kita dapatkan.

Kita akan memperlakukan pilihan yang kita sesali ini dengan sangat buruk.

 

Kalau kata orang Prancis bilang, eh, orang Sunda bilang, “Nya dipoyok,nya dilebok”, Artinya kurang lebih: “Ya diejek, tapi tetep dimakan juga”. Selalu mengeluhkan kondisi (yang dianggap) buruk yang dialami walau pun itu terjadi semata- mata karena pilihannya sendiri.

 

 

Ada yang merasa pindah ke luar negeri ini sebagai pecundang, orang buangan, orang yang gagal, orang yang kalah bersaing dengan tenaga kerja di dalam negeri, sehingga ada semacam “have-to” atau keterpaksaan selama bekerja di luar negeri. Tidak salah sih, karena memang banyak yang seperti itu. Akan menjadi salah jika keterpaksaan itu membuat kita tidak bekerja dengan baik, dan tidak membuat kita manusia yang lebih baik.

 

 

Tetapi, ada juga yang menjadikan kerja di luar negeri sebagai sebuah impian besar, dengan iming-iming gaji puluhan kali lipat dan puluhan kemudahan dan hal- hal yang belum tentu bisa didapat di tanah air. Rumah,mobil, modal usaha, hutang dengan bunga kecil, haji lebih mudah, umroh bisa dua kali setahun, bisa beramal lebih banyak, dll.

 

Adalah sebuah kebanggaan yang sangat luar biasa ketika berhasil mengeliminasi puluhan, ratusan, bahkan ribuan saingan dari seluruh Indonesia untuk mendapatkan sebuah status sosial baru: “Bekerja di Luar Negeri”.

 

 

Untuk kondisi pertama, tidak ada pilihan lain lagi untuk kita untuk menikmati saja apa- pun yang kita alami sekarang. Karena itu adalah pilihan kita, walaupun sekedar terpaksa. Setidaknya kita bisa menjalani dengan wajar, dan perlahan- lahan mulai menghilangkan penyesalan yang mungkin masih tersisa di dalam hati dan pikiran.

 

Untuk kondisi yang kedua, sih saya rasa tidak akan ada isu yang negatif dengan masalah, karena ya itu memang impian mereka. Mereka adalah juara dari kompetisi yang super ketat untuk bisa menyisihkan puluhan, ratusan, bahkan ribuan orang yang melamar kerja ke luar negeri. Mereka adalah pemenang.

 

Sejujurnya, pada awalnya saya terpaksa harus memilih untuk ke luar negeri, saya sudah tidak punya pilihan lain lagi untuk bisa survive secara finansial. Saya sama sekali tidak berminat untuk bekerja di luar negeri,karena sering mendengar cerita tidak enak. Saya terpaksa harus mengambil resiko untuk pulang dengan status pengangguran jika gagal di tes kesehatan tahap ke dua. Karena ketika itu saya langsung resign dari perusahaan yang lama, bukan mengambil cuti.

 

Tapi pada pada akhirnya, saya merasa sungguh beruntung karena telah ditakdirkan untuk bisa bekerja di luar negeri seperti sekarang. Sehingga saya bisa meraih banyak hal yang sebelumnya tidak pernah saya mimpikan. Saya bisa menjadi jalan untuk membantu banyak orang di sekitar saya.

 

Kembali ke masalah pilih memilih, sejak bangun tidur hingga tidur lagi, hidup kita ini kan selalu dihadapkan pada pilihan- pilihan. Bangun atau tidak, mandi atau tidak, sarapan atau tidak, mau pake baju yang mana, celana yang mana, naik mobil atau jalan kaki, sarapan nasi atau roti, minumnya susu atau air putih. Hampir setiap langkah kehidupan kita adalah piilihan- pilihan.

 

Kalau misalnya anda ternyata merasa salah memilih jalan hidup, yaa tinggal memilih lagi jalan lain. Kalau pun belum ada jalan lain, ya kita tinggal menyesuaikan diri kita dengan jalan yang kita pilih. Coba untuk menikmati, atau setidaknya memproduksi hormon kenyamanan dalam melakukan peran yang kita jalani sekarang.

 

Selama membuat kita mendekat ke arah kebaikan, sekarang dan nanti, bekerja dan tinggal di mana pun akan selalu menjadi pilihan yang baik.

 

Kata penyiar salah satu stasiun radio di Bandung sih: “Do What You Love, and Love What You Do!”

 

 

didaytea.com

021020111109

 

 

Cara Untuk Bahagia Setiap Saat

Perspektif  Ideal Terhadap Waktu

“If happines is always in the future, then you’ll never be happy”(Dr. Philip Zimbardo)

 

Seorang psikolog bernama Philip Zimbardo membuat wacana tentang bagaimana perspektif kita terhadap waktu akan mempengaruhi keputusan kita dalam kehidupan.

Waktu yang dimaksud beliau adalah waktu relatif yang berada di dalam pikiran manusia, bukan waktu yang ditunjukan oleh jam di sekeliling kita.

Perspektif terhadap waktu akan mempengaruhi kebiasaan seorang manusia dalam menjalani hidup mereka.

Beliau mengatakan ada enam jenis perspektif waktu: dua di masa lalu(past), dua di masa kini(present), dan dua di masa depan (future).

Sebagian orang selalu mengenang bagaimana indah dan suksesnya masa lalu mereka, sering sekali mengungkit- ngungkit kesuksesan masa lalu yang belum tentu adalah kesuksesannya di masa kini. Ini adalah golongan orang dengan perspektif waktu Past Positive.

Sebagian orang hanya fokus pada kegagalan di masa lalu, masa lalu yang kelam. Dia akan hidup di masa lalunya yang negatif dan terlarut di dalamnya, sehingga melupakan fakta bahwa dsemua itu sudah berlalu dan tidak akan ada yang bisa dilakukan lagi untuk merubah masa lalu tersebut. Ini adalah golongan Past Negative.

Ada orang yang menginginkan kesenangan saat ini juga, mereka menikmati hari- harinya dengan enjoy, menikmati hidup, dan berprinsip bahwa mereka harus menikmati hidup sepuas- puasnya. Ini adalah golongan Present Hedonistic.

Ada juga orang yang membenci perencanaan. Mereka menjalani hidup dengan metode “mengalir seperti air”. It doesn’t pay to plan, my live is fated by the condition that I am living under. Kehidupan saya sudah ditakdirkan seperti ini, tidak akan bisa dirubah lagi walau apa pun yang saya lakukan.  Ini adalah golongan Present Fatalistic.

Ada juga orang yang selalu memiliki perencanaan dalam hidup mereka. Mereka berorientasi masa depan, berorientasi tujuan. Mereka memlih untuk belajar dan bekerja daripada menikmati hidup. Mereka lebih memilih untuk hidup menderita hari ini demi kebahagiaan di masa depan. Bagi mereka kebahagiaan selalu ada di masa depan. Ini adalah golongan Future Oriented.

Golongan terakhir menurut beliau adalah Future: Trancendental-Life after death of the human body. Kehidupan sesungguhnya adalak kehidupan setelah kematian. Untuk yang muslim, ini adalah akhirat kita.

Lalu, seperti apakah perspektif kita terhadap waktu yang ideal untuk dijalani?

Kita tidak bisa menanggalkan masa lalu kita walau pun itu hanya ada berada di dalam pikiran kita. Kita juga tidak bisa melupakan fakta bahwa masa depan itu ada dan kematian itu pasti akan datang. Secara fisik, kita sedang hidup di masa kini, The Present.

Ini adalah profil ideal menurut Dr. Zimbardo:

Past Negative

Low

Past Positive

High

Present Hedonism

Selected, self-rewarding, not impulsive

Present Fatalism

Low

Future

Moderately high, not a workaholic

Lupakanlah masa lalu yang negatif, hapus sama sekali dari memori anda. Kalau pun sampai harus diingat, jadikan sebagai pelajaran yang sangat berharga agar kita tidak mengulangi dan mengalaminya lagi.

Ingatlah kisah positif di masa lalu, untuk memotivasi diri kita ketika sedang terpuruk.

Jangan jadi orang yang terlalu gila kerja, selalu sempatkan waktu anda untuk menikmati kebahagiaan di masa kini. Luangkan waktu untuk keluarga, berekreasi. Jangan biarkan diri anda menderita dan memilih untuk menjalani hidup serba hemat dan serba sulit, demi untuk “kebahagiaan” di masa depan. Memang sih, porsi untuk itu selalu ada. Tapi jika semua kebahagiaan itu berada di masa depan, maka kita pasti tidak akan pernah bisa bahagia. Dengan terlalu sering melihat ke masa depan, berarti anda tidak menghargai masa kini, anda tidak menghargai hari- hari anda yang seharusnya dihiasi oleh kebahagiaan- kebahagiaan.

Bisa saja kita puluhan tahun untuk mengejar karir yang tinggi, tapi pada akhirnya malah menghadapi kenyataan bahwa posisi itu ternyata tidak cokcok dengan kita.

Past gives you root-to connect to your identity & family, to be grounded

Future give you wings- To soar to new destination and challenges

Present gives you energy- to explore people, places, self and sensuality

Manusia hanya bisa berusaha dan bertawakkal, tetap pada akhirnya Allah yang menentukan segalanya.

Nikmatilah sukses kecil di masa sekarang untuk bayangan sukses di masa depan bahkan sampai akherat kelak.

Diekstrak dari video Professor Philip Zimbardo: The Perspective of Time dan berbagai sumber di Internet.Thank you for Professor Philip Zimbardo for his permission to translate his presentation.  www.theTimeParadox.com

www.didaytea.com

13102011