The Fabulous Asem Pedes of Korean Garden



Sebelum pindah ke Qatar, paling banter saya makan masakan Jepang di Bandung atau Cilegon, seringnya sih Hok-Ben(Hoka- hoka Bento), walaupun ternyata Hok-Ben ternyata sama sekali tidak berasal dari Jepang.

Lalu ada juga Midori, di daerah Bojong, Anyer, Banten. Kalau ini sih agak sedikit elit, karena menjadi langganan para Manajer expat Jepang di tempat saya bekerja. Beberapa dari mereka hanya mau makan makanan Jepang. 

Di Qatar juga sempat saya kunjungi beberapa restoran yang menyajikan masakan Jepang. Tapi ya begitu- begitu saja, masakan Jepang tidak akan jauh dari Sushi, Tempura, Wasabi, Miso Sup, dan teman- temannya.

Karena alasan itu pula saya pikir nih…masakan Korea tidak akan jauh berbeda dengan masakan Jepang, secara, mereka kan tetanggaan dan kualitas LG, Samsung pun tidak begitu berbeda dengan Sony dan Toshiba. Bahkan harga Kia Cadenza pun sekarang sudah lebih mahal dari Toyota Camry 😀

Saya pun akhirnya tidak begitu tertarik ketika dua tahun lalu, di daerah Ramada signal ada restoran baru bernama Korean Garden. Dan lagi pula restoran ini terletak di jalan utama, hampir mustahil kita bisa mendapatkan parkir tepat di depannya.

Walau pun dalam sehari minimal saya melewati jalan di depan restoran ini dua kali, tapi tidak pernah terbersit sedikit pun keinginan untuk barang sekali saja berkunjung, untuk sekedar mencicipi bagaimana sih rasanya masakan Korea itu.

Sampai pada suatu siang satu minggu sebelum Ramadhan, saya dan istri entah kenapa tiba- tiba terkena sindrom “Bosen Masakan Indonesia”, dan semakin meluas ke area yang lebih luas. Tidak ada maskan apa pun yang bisa menerbitkan selera makan kami di siang itu. Walau pun sudah kami bayangkan Sukiyaki, Tom Yam, Lamb Chop dan Chicken Barbequenya Antakiya, Ayam Panggang Rotana, Chicken Biryaninya Tandoor, dan bahkan rendang jengkol yang masih tersisa pun harus menerima nasibnya yang sangat tragis; tidak kami tengok sama sekali.

Ah, akhirnya kami putuskan untuk keluar rumah saja mencari makanan yang enak. 

Eh, selepas melewati perempatan Ramada, tak sengaja kami lihat ada satu slot parkir kosong di sebelah kanan. Ya! Parkiran yang kosong itu tepat berada di depan Korean Garden. 

Tanpa ragu lagi, langsung saja kuparkir mobilku di sana. Dan dengan agak setengah hati kami langkahkan kaki ke dalam restoran itu. 

” Yaa setidaknya kali ini kami makan makanan yang berbeda lah dari biasanya.” Dalam pikiran kami.


Begitu memasuki pintu gerbang, hati kami yang sudah tinggal setengah itu malah berkurang jadi seperempat. Iya lah, alangkah kagetnya kami, karena yang  membuka pintu ternyata bewokan (tipis sih) dan berkulit coklat. Katanya restoran Korea, kenapa yang nunggu orang India…??? Hehehe..

Ternyata kekagetan kami tidak bertahan terlalu lama karena ternyata di dalam akhirnya kami lihat ada chef aslinya, kali ini asli bertampang Korea, walau pun tidak mirip Rain atau pun Won Bin, apalagi Wonder Girls (mereka cowo semua..hehehe..).

Enough with the Talking, langsung saja kita tayangkan menu pembuka:
 

Kesan pertama: luar biasa. Yang berwarna oranye di kolom kiri, seperti mie goreng, tapi rasanya asem pedes. Kalau yang di atasnya juga sih sepertinya sawi putih yang walaupun tampilan dan warnanya hampir sama, ternyata rasanya juga tidak jauh beda, asem pedes. Ternyata ini namanya Kimchi.

Yang di tengah bawah, ini  apetizer yang paling berkesan menurut saya, tampak seperti bala-bala (bakwan in Sundanese Language). Tapi memiliki rasa layaknya perkedel jagung. Saya tahu namanya sih karena tidak ada di dalam menu. Tapi yang jelas namanya tidak mungkin Bagong (Bala- bala Jagong) kan… hehehe..

Asem dan pedesnya Kimchi memang membangkitkan selera makan dan menyebabkan air liur pun mengalir deras.. Persis seperti kalau kita mengambil sebuah jeruk nipis yang kecil, lalu kita belah dua dan kita peras perlahan si jeruk nipis yang tinggal setengah itu sampai keluar satu tetes air jeruk nipisnya. Lalu kita jatuhkan tetesan air jeruk nipis yang super asem itu tepat di ujung lidah kita..Dan sreettt dah…air liur pun pasti terbit dari mulut kita..hehehe..

Silahkan telan dulu air liurnya sebelum saya menayangkan gambar dari menu utama…:D
 
 
 
 
 

Ada sedikit kecelakaan nih. Kami berdua tidak pernah menyangka bahwa menu utama di atas, Mie Seafood akan datang dengan ukuran dengan mangkok hampir sebesar baskom. Jadi kami memesan juga Ikan asam manis (posisi arah jam 1). Itu ternyata menu yang cukup untuk empat orang. Tapi kami yakin, pasti si penjaga restoran sudah menduga bahwa kami adalah penduduk RW06 (rewog= rakus, Sundanese), karena cuma berdua+ bayi tapi mesen 3 main course sekaligus.

Yang di bawah dengan nasi, itu adalah Nasi Goreng Kimchi. Rasanya sangat-sangat lezat, dan coba tebak rasanya seperti apa? 

Betul sekali! Rasanya asem pedes..hehehe…Ini display setelah dibuka.Display sebelumnyasi telor dadar tipis digunakan sebagai kuli pembungkus nasi goreng.

Di sebelah nasi goreng, itu adalah Kimchi, ya rasanya juga asem pedes. Yang di kanan atas, ini agak berbeda dari yang lainnya, kalau ini bercita rasa asam manis, tapi tentu saja, ternyata ada sedikit bersembunyi rasa asem pedes khas Korea.

Di arah jam sebelas, ada masakan Jepang yang nyempil. Rasanya sih ya standar saja, sama seperti Tempura pada umumnya.


Karena kekenyangan-iya lah menu buat empat orang diembat berdua, :D-kami pun tidak memesan makanan penutup.

Kami hanya memesan Teh Ginseng yang rasanya sangat luar biasa, persis seperti teh Ginseng pada umumnya. Hehehe

Panasnya lidah dan kerongkongan yang beberapa kali dilewati oleh asem dan pedasnya Kimchi dari menu- menu yang kami santap, seketika hilang oleh sepet, pahit manisnya aliran Teh Ginseng yang kami teguk perlahan dari cangkir (yang terlihat seperti) keramik.


Jika suatu saat anda dan keluarga terkena sindrom “Bosen Masakan Indonesia dan India”, boleh lah restoran ini menjadi alternatip.


O iya, total damage di dompet 270 QAR= IDR640000.




16102011

Iklan

2 pemikiran pada “The Fabulous Asem Pedes of Korean Garden

  1. Persis seperti kalau kita mengambil sebuah jeruk nipis yang kecil, lalu kita belah dua dan kita peras perlahan si jeruk nipis yang tinggal setengah itu sampai keluar satu tetes air jeruk nipisnya. Lalu kita jatuhkan tetesan air jeruk nipis yang super asem itu tepat di ujung lidah kita..Dan sreettt dah…air liur pun pasti terbit dari mulut kita..

    ini adegan yang paling ane suka om. . .

  2. Pasti air liurnya terbit juga kan… ? 😀
    Terima kasih sudah berkunjung ya…silahkan masuk, baca- baca..komen, kritik, pasti banyak salah dan kurangnya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s