Bekerja di Luar Negeri: Pecundang atau Pemenang?


 “Do What You Love, and Love What You Do!”

 (Penyiar Sebuah Stasiun Radio di Bandung)

 

Pernahkan anda menyesal telah memilih sesuatu?

Saya rasa kita semua pernah mengalami penyesalan dan menyesali sesuatu. Atau menyesali pilihan yang sudah kita ambil.

Menyesal karena salah memilih pekerjaan.

Menyesal karena salah memilih sekolahan.

 

Menyesal karena salah memilih kendaraan.

Menyesal karena salah memilih karyawan.

Menyesal karena telah salah memilih rumah, atau secara global, karena salah memilih langkah hidup.

Bahkan, mungkin ada yang sampai menyesal, karena telah salah memilih pasangan hidup.

 

Sama sekali tidak salah sih, karena itu wajar dan sangat manusiawi. Akan tetapi wajar hanya untuk kesan pertama saja, dan jika tidak sampai terlarut dengan penyesalan yang sangat dramatis sehingga mengganggu pikiran kita.

 

Jika sampai terlarut, biasanya sih akan membuat kinerja kita sebagai manusia yang berhubungan dengan hal yang kita sesali tersebut akan menjadi buruk.

 

Kinerja kita di tempat kerja, sekolah akan asal- asalan. Asal dapet gaji, asal lulus. Kita akan menjalani hidup yang membosankan dan tanpa tantangan. Karena kita menganggap sudah tidak ada nilai tambah lagi yang bisa kita dapatkan.

Kita akan memperlakukan pilihan yang kita sesali ini dengan sangat buruk.

 

Kalau kata orang Prancis bilang, eh, orang Sunda bilang, “Nya dipoyok,nya dilebok”, Artinya kurang lebih: “Ya diejek, tapi tetep dimakan juga”. Selalu mengeluhkan kondisi (yang dianggap) buruk yang dialami walau pun itu terjadi semata- mata karena pilihannya sendiri.

 

 

Ada yang merasa pindah ke luar negeri ini sebagai pecundang, orang buangan, orang yang gagal, orang yang kalah bersaing dengan tenaga kerja di dalam negeri, sehingga ada semacam “have-to” atau keterpaksaan selama bekerja di luar negeri. Tidak salah sih, karena memang banyak yang seperti itu. Akan menjadi salah jika keterpaksaan itu membuat kita tidak bekerja dengan baik, dan tidak membuat kita manusia yang lebih baik.

 

 

Tetapi, ada juga yang menjadikan kerja di luar negeri sebagai sebuah impian besar, dengan iming-iming gaji puluhan kali lipat dan puluhan kemudahan dan hal- hal yang belum tentu bisa didapat di tanah air. Rumah,mobil, modal usaha, hutang dengan bunga kecil, haji lebih mudah, umroh bisa dua kali setahun, bisa beramal lebih banyak, dll.

 

Adalah sebuah kebanggaan yang sangat luar biasa ketika berhasil mengeliminasi puluhan, ratusan, bahkan ribuan saingan dari seluruh Indonesia untuk mendapatkan sebuah status sosial baru: “Bekerja di Luar Negeri”.

 

 

Untuk kondisi pertama, tidak ada pilihan lain lagi untuk kita untuk menikmati saja apa- pun yang kita alami sekarang. Karena itu adalah pilihan kita, walaupun sekedar terpaksa. Setidaknya kita bisa menjalani dengan wajar, dan perlahan- lahan mulai menghilangkan penyesalan yang mungkin masih tersisa di dalam hati dan pikiran.

 

Untuk kondisi yang kedua, sih saya rasa tidak akan ada isu yang negatif dengan masalah, karena ya itu memang impian mereka. Mereka adalah juara dari kompetisi yang super ketat untuk bisa menyisihkan puluhan, ratusan, bahkan ribuan orang yang melamar kerja ke luar negeri. Mereka adalah pemenang.

 

Sejujurnya, pada awalnya saya terpaksa harus memilih untuk ke luar negeri, saya sudah tidak punya pilihan lain lagi untuk bisa survive secara finansial. Saya sama sekali tidak berminat untuk bekerja di luar negeri,karena sering mendengar cerita tidak enak. Saya terpaksa harus mengambil resiko untuk pulang dengan status pengangguran jika gagal di tes kesehatan tahap ke dua. Karena ketika itu saya langsung resign dari perusahaan yang lama, bukan mengambil cuti.

 

Tapi pada pada akhirnya, saya merasa sungguh beruntung karena telah ditakdirkan untuk bisa bekerja di luar negeri seperti sekarang. Sehingga saya bisa meraih banyak hal yang sebelumnya tidak pernah saya mimpikan. Saya bisa menjadi jalan untuk membantu banyak orang di sekitar saya.

 

Kembali ke masalah pilih memilih, sejak bangun tidur hingga tidur lagi, hidup kita ini kan selalu dihadapkan pada pilihan- pilihan. Bangun atau tidak, mandi atau tidak, sarapan atau tidak, mau pake baju yang mana, celana yang mana, naik mobil atau jalan kaki, sarapan nasi atau roti, minumnya susu atau air putih. Hampir setiap langkah kehidupan kita adalah piilihan- pilihan.

 

Kalau misalnya anda ternyata merasa salah memilih jalan hidup, yaa tinggal memilih lagi jalan lain. Kalau pun belum ada jalan lain, ya kita tinggal menyesuaikan diri kita dengan jalan yang kita pilih. Coba untuk menikmati, atau setidaknya memproduksi hormon kenyamanan dalam melakukan peran yang kita jalani sekarang.

 

Selama membuat kita mendekat ke arah kebaikan, sekarang dan nanti, bekerja dan tinggal di mana pun akan selalu menjadi pilihan yang baik.

 

Kata penyiar salah satu stasiun radio di Bandung sih: “Do What You Love, and Love What You Do!”

 

 

didaytea.com

021020111109

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s