Memoar Tujuh Tahun Menjadi TKI di Qatar Bagian 1


Memoar Tujuh Tahun Menjadi TKI di Qatar Bagian 1

Oleh: Diday Tea

“Apapun pekerjaan yang anda lakukan saat ini, maksimalkan pengetahuan dan kemampuan. Jadikan diri anda ahli di bidang pekerjaan anda”

MASA LALU

Sebelum hari itu tiba, masa depan yang terbayang di dalam kepalaku adalah diriku yang dua bulan lagi menjadi sebagai seorang mahasiswa salah satu universitas terbaik bangsa.

Hari itu, hari di mana mimpiku buyar, tapi tidak berantakan. Buyar karena terganti oleh mimpi lain. Bayangan diriku yang seorang mahasiswa, tergantikan oleh bayangan diriku yang berbalut seragam berwarna coklat muda, seperti tiga orang yang telah mewawancaraiku di ruang aula sekolah.

Mereka adalah orang- orang yang memilihku, dan empat orang temanku untuk direkrut oleh perusahaan tempat mereka bekerja. Mereka bilang kami adalah yang terbaik dari semua siswa kelas empat yang datang hari itu.

Mimpi dan bayangan tentang diriku di masa depan, berganti menjadi seorang karyawan yang berbakti sampai pensiun di perusahaan yang telah merekrutku itu. Bayanganku sih, paling banter posisiku ketika pensiun sudah jadi manajer.

Di perusahaan itu, aku bertahan empat setengah tahun, dan pindah ke perusahaan di kota yang sama, Cilegon. Hanya kali ini, aku bekerja sesuai dengan ijazahku, seorang Analis Kimia. Profil dan ijazahku dianggap sangat cocok bekerja di perusahaanku yang kedua ini. Layaknya ampibi, mereka membutuhkan seseorang yang bisa bekerja di dalam laboratorium, tapi juga bisa terlibat di dalam proses produksi di lapangan.

Di perusahaanku yang pertama, aku bekerja sebagai operator produksi. Alasannya, hasil dari tes psikologi dan wawancara menunjukkan bahwa aku lebih cocok bekerja di lapangan.

Mimpi, cita- cita dan bayangan yang hampir sama juga masih ada di kepalaku. Aku sudah berniat akan berbakti hingga pensiun di perusahaan ini.

Ah, ternyata kali ini juga semua mimpi itu tidak bertahan lama.

Di perusahaanku yang kedua ini, aku hanya bertahan dua setengah tahun. Ketika itu kondisi finansialku sedang dalam kondisi yang sangat buruk. Hutang sudah menumpuk di mana- mana karena aku harus menalangi modal para penanam modal di usahaku yang tiba- tiba bangkrut. Uang kuliahku sudah tidak terbayar, sehingga kuliahku pun ikut terbengkalai. Usahaku berjualan buku, kaset, vcd, dan bros yang kurintis kembali dari awal pun agak tersendat karena kekurangan modal.

Pada saat itu, aku berada di titik nadir kehidupan, ketika semua masalah, terutama keuangan datang bertubi- tubi dan hampir tak bisa kupikirkan sama sekali solusinya.

Bulan Juli tahun 2007, aku memberanikan diri untuk melamar ke salah satu perusahaan di Qatar. Mereka memasang iklan lowongan di sebuah surat kabar terkemuka. Dan juga ditambah dengan informasi dari salah seorang kakak kelasku di sekolah, yang memberitahukan lowongan ini sebelum diterbitkan di koran itu.

Walau pun bekerja ke Timur Tengah tidak pernah kuinginkan sebelumnya, tapi aku mulai berpikir bahwa itu bisa menjadi solusi. Dan sejujurnya sih, aku juga tidak ingin jika sampai harus meninggalkan keluargaku di Bandung.

Alhamdulillah, ketika niatku melamar hanya sekedar iseng, pada akhirnya malah aku direkrut bersama empat orang lainnya.

Entah kenapa, ketika itu aku sangat yakin dan percaya untuk bisa diterima. Karena ketika itu aku sedang mengalami periode “puncak kesulitan finansial” di dalam hidupku. Secara hitung- hitungan manusia, hanya itu harapanku untuk bisa survive. Sebelum test berlangsung, aku melakukan persiapan habis- habisan demi menghadapi test tersebut. Aku pergi ke warnet setiap hari untuk mengunduh materi- materi yang berhubungan dengan perusahaan yang memanggilku untuk test tulis di Jakarta.

 

Dan Alhamdulillah, Subhanaloh, Allaahu Akbar! Ketika soal test dibagikan, sama sekali tidak ada soal tes tentang hal-hal yang aku unduh dari internet, sama sekali tidak ada pertanyaan mengenai produk perusahaan tersebut. Yang ada hanya soal- soal yang sangat dasar tentang kimia. Dan subyek lainnya, ini yang paling utama menurut perwakilan dari perusahaan tersebut adalah “The Learning Ability”, test kemampuan belajar.

 

Soal- soal yang lebih menyerupai Test IQ dibanding test masuk perusahaan, hanya ini diujikan dalam bahasa Inggris.

 

Soal- soal yang memang bakal menjadi “makanan empuk” untuk kecepatan membaca dan kecepatan berpikirku. Dan benar saja, dari  satu jam yang diberikan oleh penguji, aku bisa menyelesaikannya hanya dalam waktu dua puluh menit!

 

Alhamdulillah.

 

Setelah melalui proses wawancara dan test medis, akhirnya aku pun ditawari kontrak kerja melalui email.

 

Rasanya sungguh mustahil, mengingat persaingan yang sangat ketat ketika itu, dan saingan yang kurasa sangat berat, karena banyak dari mereka yang memiliki pengalaman puluhan tahun. Aku? Bekerja di laboratorium saja baru dua setengah tahun.

Orang tuaku tadinya sangat menentang keputusanku untuk berangkat ke Qatar. Ya, seperti tipikal orang Bandung lainnya yang cenderung memilih untuk tetap di Bandung, Cilegon pun yang jaraknya tidak sampai tiga ratus kilo meter sudah terasa terlalu jauh.  Apalagi Qatar yang berjarak ribuan kilometer, naik pesawat pun perlu delapan jam.

Adu argumen dan tarung pendapat antara aku dan orang tuaku berlangsung sampai beberapa hari.

Mereka akhirnya luluh dan melunak, ketika aku menyebutkan mimpi- mimpi terbesarku untuk aku dan keluargaku: mereka.

Aku bilang sampai kapan pun aku tidak mungkin akan bisa membelikan mereka rumah yang lebih layak ditinggali dibanding rumah yang sering kebanjiran itu. Aku bilang aku tidak akan bisa mengirim mereka untuk naik haji. Aku bilang, aku tidak mungkin bisa membiayai kuliah kedua adik kembarku. Bahkan aku tidak mungkin bisa bermimpi untuk bisa membeli rumah sendiri atau menikah dalam waktu dekat. Aku tidak mungkin melakukan semua itu jika hanya mengandalkan gajiku waktu itu yang pas-pasan. Aku jelaskan kepada mereka bahwa semua itu hanya mungkin kulakukan jika aku menerima gaji puluhan juta di perusahaan Qatar itu.

Akhirnya Bapak dan Ibu pun luluh dan bisa mengikhlaskan kepergianku, walaupun kulihat air mata mereka tak henti-hentinya mengalir sampai kulambaikan tanganku di terminal keberangkatan bandara Soekarno-Hatta.

Bersambung…

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s