Memoar Tujuh Tahun Menjadi TKI di Qatar Bagian 2


“Apapun pekerjaan yang anda lakukan saat ini, maksimalkan pengetahuan dan kemampuan. Jadikan diri anda ahli di bidang pekerjaan anda”

MASA KINI- ADAPTASI

Aku tiba di Doha tanggal 18 Januari 2008. Sebelum benar- benar menginjakkan kaki di sini, yang terbayang sih cuaca di Timur Tengah ya panas, panas sepanjang tahun.
Ternyata ada musim dinginnya. Waktu pintu pesawat terbuka, dan aku sudah bersiap- siap membuka jaket, eh ternyata malah udara dingin menggigil sampai menusuk tulang yang menyambutku. Pagi itu di Doha, jam 06:00 suhu yang tercatat hanya 12 derajat celsius. Bahkan lebih dingin dari Bandung, atau Lembang sekali pun.
Hari- hari pertama sih, aku masih mengurus formalitas. Tes kesehatan, membuat rekening bank untuk menerima gaji bulanan nanti.
Lima hari pertama kulalui dengan nikmatnya diajak jalan-jalan dan ditraktir oleh teman- teman yang sudah lebih dahulu ada di Qatar.
Perbedaan yang paling terasa di hari- hari pertama di Qatar, adalah kemewahan dunia yang ketika di Indonesia tidak pernah kumimpikan.
Tinggal di hotel yang mewah, bisa mandi di bath tub, makan steak yang sebesar piring.
Tiap sore ada orang hotel yang menawari untuk membersihkan kamar, bahkan membersihkan piring kotor bekas makanku dan teman sekamarku.
Duduk di mobil jemputan selama minggu pertama, serasa jadi Presdir. Jok mobil yang dibalut kulit halus, dengan sang sopir yang jauh lebih ganteng dari Tom Cruise selalu menjadi tumpangan kami.
Urusan makanan juga tidak masalah. Bukan rasanya, tapi ukuran porsi yang luar biasa besar untuk ukuran orang Indonesia. Orang Indonesia yang terbiasa makanan berbumbu sih, tidak akan kesulitan untuk beradaptasi dengan masakan India yang kurang lebih sama. Hanya ada beberapa makanan yang baunya terasa kurang enak di hidung, dan rasanya kurang cocok di lidah karena terlalu tajam.
Hampir tidak ada masalah untuk urusan berkomunikasi dengan warga setempat, karena semua orang bisa berbahasa Inggris dengan lumayan lancar.

MASA KINI- MENUJU SUKSES
Dulu, jangankan untuk membeli, untuk bermimpi punya mobil saja aku tidak berani. Sekedar menumpang mobil sedan milik bos di tempat kerja saja, itu sudah sangat luar biasa. Jangankan membeli mobil, untuk membiayai kuliahku saja aku sudah sangat kewalahan dan sampai harus berhutang kanan- kiri- atas- bawah.
Alhamdulillah, kini di garasi kami ada dua mobil yang tergolong mewah di Indonesia selalu siap untuk mengantar kami sekeluarga ke mana pun di Qatar.
Dulu, jangankan membeli rumah besar, sedangkan untuk membayar kontrakan rumahku yang hanya dua ratus lima puluh ribu sebulan saja aku sering menunggak. Alhamdulillah, Allah memberiku keluasan rezeki sehingga aku bisa membelikan sebuah rumah yang lebih dari layak untuk orang tua dan keluargaku di Bandung.
Dulu, jangankan membiayai kuliah kedua adik kembarku, untuk biaya hidup sehari- hari saja aku sudah kewalahan.
Alhamdulillah, aku bisa membiayai mereka sampai lulus dari sebuah universitas yang ternama di Bandung.
Kata temanku sih, perusahaan- perusahaan di Timur Tengah ini berani membayar karyawan dengan gaji yang sangat tinggi karena bahan baku yang sangat melimpah. Karena ditemukannya deposit gas alam dan minyak bumi yang sangat banyak di wilayah mereka.
Adaptasi yang paling sulit untuk keluarga dan diriku juga adalah dengan cuaca ekstrim ketika. Ketika musim panas, suhu di luar bisa mencapai lima puluh derajat Celsius. Pernah kugambarkan bagaimana panasnya di dalam salah satu tulisanku.
Bayangkan saja, di tengah hari bolong, ketika matahari tepat berada di atas kepala kita, berdiri di belakang knalpot bis kota antar provinsi yang baru tiba, sambil meniupkan hairdryer ke muka kita, dan membuka penanak nasi yang masih mengeluarkan asap panas, hehehe.
Musim panas berlangsung dari April sampai Oktober.
Musim dingin biasanya dimulai dari November sampai Maret.
Dan sebaliknya ketika musim dingin tiba, suhu akan turun drastis sampai tujuh derajat Celsius. Kami tidak bisa mandi selain dengan air panas. Karena air dingin akan terasa menusuk- nusuk kulit seperti ratusan jarum yang ditusukkan bersamaan.
Dingin menusuk tulang.
Untuk masalah sehari- hari seperti rekreasi, olahraga, pusat perbelanjaan, atau supermarket keluargaku sangat cepat menyesuaikan diri. Di Doha banyak taman- taman buatan yang sangat nyaman untuk dikunjungi. Kami tidak merasa seperti berada di tengah gurun, kecuali di saat musim panas tentunya. Itu pun hanya karena panas yang terik. Selebihnya, padang rumput, kolam, burung, air mancur, pohon- pohon besar, membuat kami lupa bahwa kami sedang berada di tengah gurun pasir nan gersang.
Untuk urusan sosialisasi, Alhamdulilah di Qatar hampir tidak ada masalah. Aku tidak pernah merasa sendiri. Di tempatku bekerja saja ada lebih dari seratus orang Indonesia. Bahkan di departemenku, ada empat orang Indonesia, dan mereka semua berasal dari Jawa Barat. Walhasil, sehari- hari pun kami berkomunikasi menggunakan bahasa Priangan.
Bermain bola, tenis, bola basket, badminton, futsal, semua ada fasilitasnya. Dan dengan kualitas yang sangat bagus.
Kata teman- temanku, lapangan bola yang dibuka untuk umum saja, masih lebih baik dari rumput stadion Gelora Bung Karno.
Urusan hiburan, walau pun tidak sebanyak Bandung atau Jakarta, tapi di Qatar insyaallah tidak akan terlalu membosankan. Karena mulai ada beberapa pusat perbelanjaan megah dan mewah sedang dibangun dengan fasilitas yang sangat mewah.
Ada salah satu pusat perbelanjaan paling besar yang bisa menghabiskan seharian penuh waktu kami sekeluarga. Waktu itu kami iseng dan penasaran untuk mengunjungi setiap toko yang ada di City Center, nama pusat perbelanjaan tersebut. Maksud kami sih waktu itu sekalian ngabuburit juga, karena saat itu adalah bulan puasa.
Kami baru keluar dari pusat perbelanjaan tersebut hampir jam sebelas malam, padahal kami sudah tiba sejak jam sepuluh pagi.
Bahan makanan Indonesia saja lumayan lengkap, ada tiga supermarket yang khusus menjual makanan Indonesia, dan setidaknya lima restoran Indonesia di Qatar. Dari mie instan, kepuruk kulit, saos pedas, makanan ringan, camilan untuk anak kecil, sampai daun salam, bahkan jengkol dan pete pun lengkap, ada hampir di semua toko- toko ini.
Bahkan, tahu dan tempe pun ada yang menjual. Dan percaya atau tidak rasanya malah lebih enak dari tahu dan tempe di Cilegon!
Dengan koneksi internet yang lumayan cepat, kami bisa leluasa menjelajahi sebanyak apa pun halaman web yang kami suka.
Di hari libur, jadwal rutin kami sih, tidak begitu istimewa, taman, supermarket, silaturahmi ke rumah teman, arisan bulanan dengan komunitas- komunitas yang kami ikuti.
Walau pun tidak rutin, tapi aku lumayan sering membuat tulisanku di blog http://www.didaytea.com. Alhamdulillah, sudah dua buku yang terbit dari tulisan- tulisanku itu..
Tentunya tidak ada yang ingin selamanya tinggal di negeri orang sebagai perantau. Selalu ada keinginan untuk bisa mudik ke kota kelahiran.
Aku masih ingin menabung dan sekolah.
Sekarang aku memulai lagi menjalani kuliah, walau pun hanya di Universitas Terbuka. Semoga kali ini tidak terbengkalai seperti kuliah- kuliahku sebelumnya. Kali ini tidak ada alasan bahwa aku tidak kuat membayar uang kuliah. Hanya kemalasan yang bisa menjadi penghambatku. Semoga aku bisa melanjutkan pendidikan minimal sampai ke tingkat Master, untuk bekal aku di Indonesia kelak.
Rencananya sih, target minimalku adalah menabung sampai cukup untuk membeli rumah yang cukup besar dan kendaraan yang layak, serta sudah terkumpul cukup uang untuk menjamin sekolah anak- anakku sampai lulus kuliah kelak.
Dengan tabungan yang cukup, materil dan modal latar belakang pendidikanku, insyaallah aku akan pulang dan mengisi hari- hari tuaku dengan mengajar dan menjadi penulis.

SOLUSI
Indonesia mempunyai reputasi yang buruk karena kasus- kasus yang melibatkan TKI/TKW di luar negeri.
Sebaiknya pemerintah mulai membuat lembaga pelatihan khusus yang menaungi seluruh PJTKI di Indonesia untuk meningkatkan kualitas Tenaga Kerja kita yang berangkat ke luar negeri. Dari kemampuan berkomunikasi sampai pengenalan mereka kepada teknologi.
Dengan meningkatkan kualitas tenaga kerja, seharusnya tidak ada lagi terdengar kasus- kasus negatif yang melibatkan Tenaga Kerja dari Indonesia.
Dengan sendirinya juga reputasi Tenaga Kerja Indonesia akan meningkat dan jauh lebih dihargai seperti Tenaga Kerja yang berasal dari negara tetangga kita di ASEAN: Filipina.
Dengan hanya berbekal ijazah SMK dan pengalaman tidak sampai lima tahun, aku bisa menembus persaingan yang sangat ketat ke Timur Tengah. Dukungan yang lebih maksimal dari pemerintah untuk memfasilitasi SMK- SMK yang sudah berdiri, tentunya akan bisa menambah jumlah tenaga kerja yang siap pakai. Dan pastinya akan menambah angkatan kerja baru yang bisa menembus pasar tenaga kerja di luar negeri.
Proses adaptasi setiap orang akan berbeda- beda.
Akan selalu ada halangan, tantangan dan rintangan selama bekerja di luar negeri. Hal- hal yang sangat unik dan tidak pernah kita dapati di negara sendiri, akan sering muncul di hadapan kita.
Apapun pekerjaan yang pembaca lakukan di saat ini, maksimalkan pengetahuan dan kemampuan. Jadikan diri anda ahli di bidang pekerjaan anda.
Tingkatkan kemampuan komunikasi, terutama dengan menguasai bahasa asing. Tidak hanya bahasa Inggris, walau pun sampai sekarang ini masih menjadi bahasa yang paling penting.
Masih banyak kesempatan untuk bekerja di Timur Tengah.
Jika memang tujuan anda ingin kelak ingin bekerja di Timur Tengah, persiapkan diri anda sejak sekarang.
Pilih bidang yang beberapa tahun lagi akan booming.
Di Qatar saja, perusahaan- perusahaan petrokimia masih saja melakukan ekpansi. Belum lagi proyek kontruksi yang luar biasa besar, karena terpilihnya Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022.
Dunia Teknologi Informasi dan komunikasi, perminyakan dan gas, petrokimia, serta konstruksi tentunya masih akan terus berkembang dengan pesat, bahkan sejak beberapa tahun yang lalu.
Semoga sukses mencapai mimpi anda dan mimpi kita semua!
Doha, 16 Februari 2015

Iklan

13 pemikiran pada “Memoar Tujuh Tahun Menjadi TKI di Qatar Bagian 2

  1. inspiring, saya kerja di karawang bag engeneering usia 26 th, tapi sudah berumah tangga, apa bisa menembus pasar kerja qatar,

  2. Halo Pak Didaytea, salam kenal. Saya Arnol, bekerja di Kentz di project SIDRA hospital…yang selesai2 itu 🙂
    Bapak tinggal dimana?

  3. Halo mas, salken
    Klo boleh tau mas bekerja di bidang apa ya? Dulu waktu bekerja ke qatar menggunakan agent atau independen? Saya juga berminat sekali bisa bekerja di qatar seperti mas, saat ini bekerja di perusahaan lokal sebagai creative designer.

  4. Halo mas. Di qatar tinggalnya di mana ya? Di doha??Soalnya keluargaku tinggal di alkhor. Mana tau kalo aku pulang bisa meet up sama orang indo yang lain juga yang tinggalnya di doha. Selama ini aku kalo pulang seringnya jalannya sama keluarga. Dan lebih seringnya di rumah. Aku berharapnya ada temen kalo pulang. Jadi ya salam kenal yah mas.

  5. Salam . Salam kenal . Saya Muh Yusron Surahman .
    Boleh saya minta nomor mbak di?
    Kirim saja via wa ke nomor 082324563588 atau email my.surahman@gmail.com .
    Saya juni ini akan berangkat ke Doha mbak tapi belum ada kenalan orang indo disana . Thanks .

  6. Assalamualaikum

    adakah whatsapp? saya mau nanya2 perihal kerja di Qatar, terima kasih. whatssap 087835065330

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s