Wabah Jam Karet


 

Orang yang disiplin terhadap waktu, malah akan terlihat sangat bodoh dan aneh jika membuat janji dengan orang yang memakai jam karet”

            Sejak kecil, kedua orangtuaku terbiasa bersikap sangat ketat terhadap waktu. Bahkan menurutku kadang terlalu berlebihan dan terkesan paranoid.

            Masa acara mulai jam 10 aku sudah harus siap- siap dari jam 6? Dan aku harus berangkat jam 8?

            Mereka terus mengatakan bahwa lebih baik datang lebih awal daripada datang terlambat. Dan mereka selalu marah jika aku terlambat datang ke sebuah acara, atau jika diajak oleh mereka ke suatu tempat, dan aku belum siap pada waktunya.

Disiplin waktu seperti itu semakin menjadi ketika aku mengikuti acara SSG di Daarut Tauhiid Bandung.

Aku mengalami pengalaman yang berkesan hingga hari ini. Bukan kesan yang baik sih. Karena aku dihukum langsung oleh Aa Gym

Aku dan kedua kawanku terlambat datang 10 menit, karena berbagai alasan. Kalau aku sih, alasannya karena tidak keburu menaiki bus Damri pada waktu yang biasanya, karena sudah terlalu penuh sesak. Dua temanku yang lain tidak jauh berbeda, kalau tidak macet ya terlambat bangun.

Ketika itu kami dihukum push up sesuai dengan keterlambatan kami. Dan ternyata kami bukan yang paling terlambat, ada yang lebih parah, terlambat hingga setengah jam.

Dan masih belum selesai. Santri yang datang terlambat diberi hukuman tambahan yang sama: memindahkan puluhan genteng yang ditumpuk ke area di dekat tempat kami biasa latihan.

Sebagian dari kami ada yang tidak terima, masa hukuman yang telat 5 menit sama dengan hukuman yang telat setengah jam?

            “Terlambat setengah jam itu terlambat, terlambat lima belas menit juga namanya terlambat, terlambat lima menit juga terlambat!” Kata Aa Gym waktu itu berapi- api.

            Sejak itulah aku tahu dan memahami salah satu konsep dasar yang sangat penting dalam kehidupan.

            Disiplin waktu.

            Menunda acara yang sudah dijadwalkan hanya karena alasan menunggu yang belum datang/terlambat, sama saja dengan tidak menghormati orang- orang yang sudah datang tepat waktu.

            Sudah menjadi tabiat umum masyarakat Indonesia di mana pun untuk datang In Time, bukan On Time.

            Ternyata kebiasaan memakai jam karet ini masih terbawa walau pun sudah tinggal di negeri orang.

            Tak terhitung berapa kali pengalaman buruk yang kualami di Qatar, yang berkaitan dengan jam karet ini.

            Yang paling “berkesan” sih ketika ada acara arisan rutin yang diadakan di daerah Corniche (daerah garis pantai skyline Doha, tempat favorit orang- orang yang tinggal di sana untuk berkumpul). Aku adalah salah satu pemenang bulan sebelumnya, sehingga aku otomatis jadi penyelenggara acara pertemuan bulan berikutnya.

            Di email undangan yang dikirim, sangat jelas tercantum bahwa acara arisan akan diadakan pada jam 14:00 waktu Qatar.

            Sebagai penyelenggara, sudah seharusnya aku datang lebih awal dari orang lain.

            Jadi, jam 13:30 tepat, aku sudah tiba di tempat yang sudah disepakati.

            Ternyata tidak ada satu orang pun yang sudah datang.

            Kucoba untuk menghubungi pemenang arisan yang lain.

            “Cepet amat datengnya, kan masih jam setengah dua?” Dia malah seperti orang kebingungan.

            “Tampil amat nih, jam segini sudah dateng?” Jawab teman lain yang juga kuhubungi.

            “Halaah..kaya ngga tahu orang Indonesia aja…jam 14:00 itu kan buat ancer- ancer doang kali. Panitia tahu kalau orang- orang bakal dateng telat. Paling mereka bakal dateng jam tigaan..!” Kata temanku yang lain sambil terkekeh- kekeh.

            Haddeeuuuh….Cappe Deeh..

            “Kenapa jadi gua yang keliatan bodo ya?” Omelku dalam hati.

            Ketika jam dua siang tiba pun, ternyata belum ada satu pun orang yang datang.

            Aku masih berputar- putar di tempat parkiran. Dan ketika ada tempat parkir yang kosong, langsung saja kuparkir mobilku, sambil tetap  melihat situasi, siapa tahu ada yang datang.

            Ternyata, setelah hampir dua jam berlalu dari semenjak aku datang, dan jam sudah menunjukkan jam tiga sore, masih saja ada yang belum datang. Jangankan peserta, panitia yang lain saja belum ada yang datang. Istriku sudah kesal menunggu di dalam mobil. Kami tidak bisa meninggalkan mobil, karena takut jika ada panitia lain yang datang dan kami tidak bisa membantu mereka untuk membongkar makanan dan peralatan lainnya.

            Akhirnya ada satu dua orang panitia yang datang.  Itu pun waktu sudah menunjukkan setengah empat. Walau pun kesal, tapi aku sedikit lega juga karena akhirnya bisa keluar dari mobil.

            “Udah lama nunggu??” Tanya salah seorang dari mereka dengan wajah tanpa merasa bersalah.

            “Engga, baru dua jam..!” Kataku dengan sedikit ketus.

            Ketika semua makanan sudah tersaji, dan tempat pun sudah kami siapkan untuk acara arisan yang dijadwalkan jam 14:00 itu, ternyata masih saja belum ada yang datang.

            Akhirnya kami meminta ijin kepada panitia yang lain untuk sholat Ashar dahulu.

            Sepulang dari sholat Ashar, yang menghabiskan waktu kira- kira lima belas menit itu, ternyata masih belum ada yang datang.

            Kami masih harus menunggu.

            Dan akhirnya, para teman- teman peserta arisan mulai berdatangan jam empat sore. Padahal jelas- jelas acara arisan hari itu dijadwalkan pada jam dua siang. Molor dua jam. Tanpa rasa bersalah sedikit pun.

            Telatnya super kompak.

            Yang lebih parah, bahkan ada peserta yang datang jam lima!

            Ketika aku komplain kepada beberapa orang di antara mereka, jawaban dari mereka adalah kalimat sakti itu:

            “Kamu tuh kaya ngga tau orang Indonesia aaajjaa..!”

             

Iklan

2 pemikiran pada “Wabah Jam Karet

  1. Astagfirullah, malah jadi menggambarkan orang Indonesia itu jam karet semua sepertinya,
    tidak bisa tepat waktu, tidak bisa di percaya, tidak konsisten, koruptor, dan hal2 negatif lainnya yang terlintas dalam fikiran saya mengenai orang Indonesia atas apa yang timbul dari kebiasaan beberapa orang saja.
    sungguh di sayangkan. Seandaikan kita memulai segalanya tepat waktu Indonesia adalah negara yang sangat maju.
    -_-
    mengalami ini saat akan berangkat ijab kabul, malah disalahkan. ada yg bicara : “tuh kan kenapa buru”
    padahal saya berangkat sesuai rencana awal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s