Satria Bergitar


Image

“Seringkali, keinginan untuk sekedar dipuji oleh orang lain membuat kita tidak lagi berhitung dengan logika dan berpikir dengan menggunakan akal sehat” 

Jaman SMP dahulu, cowok yang dianggap paling keren sedunia adalah cowok yang bisa bermain gitar. Sehingga bisa mengiringi cewek- cewek itu untuk bernyanyi. Sangat dimaklum sekali , karena cewek- cewek SMP umur belasan tahun masih sedang masanya menggemari artis, penyanyi, yang ganteng, cantik, dan bersuara bagus. Ah, tapi sampai sekarang pun rasanya para ababil (abg labil) itu masih seperti itu. Hanya berbeda tempat dan waktu saja.

Pada saat itu lagu yang sedang in adalah lagunya Gigi yang berjudul “Janji”.

Saat ini ku mencoba 

Lingkari hari

Dengan janji

Untuk
wujudkan

Semua impian

Yang slalu menggoda

Slalu menggoda haaa..

 

Hampir setiap hari di jam istirahat antar mata pelajaran, dan jam pulang, ketika aku berjalan melewati belasan kelas di lorong sekolahku itu, hanya genjrengan gitar dan nyanyian si “Janji” ini yang kudengar.

“Modus Operandi”-nya selalu sama. Cowok bergitar dikelilingi beberapa orang lawan jenisnya dan kadang diiringi oleh gitaris lain.

Untuk diriku yang belum pernah menjadi pusat perhatian seperti cowok bergitar itu, hal tersebut hanya ada dalam mimpi dan khayalan tingkat tinggi saja. Hampir mustahil itu akan terjadi.

Pada suatu hari, ketika aku sedang bergegas berjalan melewati lorong kelas anak- anak yang baru masuk, ada salah satu adik kelas yang kalau dilihat, menimbulkan semacam perasaan aneh yang tiba- tiba merambat di sekujur tubuhku. Seperti perasaan nyetrum- nyetrum gitu deh. Yang kata Si Boim, dari mata turun ke hati. Mungkin itu ya, yang namanya cinta Babon. Kalau cinta monyet kan sudah terlalu umum. Cinta Babon ini versiku sendiri, untuk menggambarkan cinta monyet yang masih sangat mentah.

Aku lihat ternyata dia juga suka bergabung di kumpulan “genjreng- genjreng” itu.

Naluri puber remajaku ternyata mulai menyala. Naluri yang mendorong keinginan untuk  diperhatikan oleh lawan jenis.

Kayanya bakal keren banget, kalau misalnya aku tiba- tiba bawa gitar dan bisa duduk di teras depan kelas, lalu mengiringi si Neng Geulis itu ya?” Aku berbicara sendirian dalam hati sambil cengar- cengir ngga jelas.

Pokoknya sepanjang perjalanan dari sekolah ke rumah, aku tidak berhenti mengatur siasat, strategi dan SOP yang akan aku siapkan agar rencanaku bisa berjalan mulus.

Mencari gitar. Belajar main gitar, minimal lagunya Gigi yang judulnya Janji itu. Bawa  ke sekolah. Keluar pas jam istirahat. Pura- pura mau ke arah kantin, padahal berhenti di depan teras kelas anak si Neng Geulis itu. Pasang aksi nyetel gitar, dan genjreng- genjreng deh lagu Janji buat umpan. Dan si Neng Geulis dan teman- temannya pasti akan sukses terpesona oleh kelihaianku. “Hihihi, passti keren banget…!” Lagi- lagi aku melamun sambil cengar-cengir sendirian.

Langkah pertama, mencari gitar.

Ternyata ada salah satu tetanggaku yang mempunyai gitar yang sangat bagus. Berwarna keperakan, dan dengan bentuk yang tidak biasa seperti gitar biasa pada umumnya yang berwarna coklat muda, atau tua dan berbentuk Spanish Guitar. Salah satu ujungnya meruncing, berbentuk seperti tanduk. Dan yang paling keren, gitar ini dicat berwarna perak mengkilat, yang akan terlihat sangat mengkilat jika diterpa sinar matahari.

Karena dia teman mengajiku di mesjid, dia langsung memberikan gitar itu setelah kujawab pertanyaannya.

“Emang kamu bisa main gitar?” Tanya temanku itu.

“Ya engga lah, justru ini minjem gitar kamu ini ya mau mulai belajar” Jawabku sambil berpose dengan sok keren seperti anggota The Eagles yang sedang membawakan Hotel California.

“Ya udah atuh bawa aja gitar itu, tapi jangan lama- lama ya! Takutnya mau dipake tuh!” Jawab dia lagi.

Aku melangkah keluar dengan rasa bangga dan pede luar biasa. Padahal sampai detik itu aku belum bisa sedikit pun bermain gitar.

Dasar ababil!

Hari demi hari kuhabiskan waktuku berjam- jam hanya untuk mempelajari cord dan genjrengan lagu Janji. Seringkali aku ditegur oleh kedua orang tua dan adikku karena suara gitar yang terlalu bising.

Ah, ternyata tidak semudah yang aku duga.

Setelah hampir dua minggu belajar, belum ada perkembangan yang berarti.

Ternyata menghafal cord saja tidak cukup. Yang paling sulit belajar gitar itu ya cara menggenjreng dan memetiknya.

Akhirnya lagu itu malah terdengar lucu.

Genjrengan gitar dan syairnya sama sekali tidak sinkron dan tentu saja sama sekali jauh dari penyanyi aslinya.

Setelah seminggu lagi berjuang untuk mempelajari lagu tersebut, akhirnya aku menyerah. Tapi kali ini agak mendingan, setidaknya bait pertama agak mendekati lagu Janji yang aslinya.

Hari Senin, hari pertama sekolah, adalah hari yang kuputuskan untuk mengkerenkan diriku di hadapan para adik- adik kelas, terutama si Neng Geulis, yang sampai detik itu pun aku tidak tahu namanya.

Dengan berjalan seperti satria berkuda yang sedang membawa tombak untuk berperang, siang itu aku berangkat ke sekolah.

Entah kenapa, sepanjang jalan aku merasa seperti semua orang yang kutemui di perjalanan seolah seperti memperhatikanku, mengagumiku. Bagaimana tidak, gitar itu seolah berkilauan diterpa oleh teriknya sinar matahari. Dari jauh pun orang akan bisa melihat kilauan gitar pinjaman itu.

Dan benar saja. Persis seperti yang kubayangkan.

Baru saja melangkahkan kaki di depan gerbang sekolah, sudah ada beberapa teman satu kelasku yang menghampiriku karena terkagum- kagum oleh gitar yang kubawa.

Begitu tiba di kelas, langsung kusimpan gitar itu di bawah meja belajar dengan sedikit terburu- buru agar tidak menjadi pusat perhatian lagi seperti di depan gerbang tadi.

Pokoknya, dua mata pelajaran pertama kujalani dengan sama sekali tidak fokus.

Aku hanya fokus pada gitar dan lagu yang akan kunyanyikan di depan anak- anak kelas baru nanti.

Begitu bel istirahat pergantian antar mata pelajaran itu berhenti, dengan sigap aku genggam leher gitar itu dan aku bergegas menuju arah kantin, agar segera bisa duduk di teras depan kelas si Neng Geulis yang kukagumi itu.

Beberapa temanku terlihat mengikutiku.

“Hmm..mungkin mereka ingin melihat kelihaianku bermain gitar…!” Gumamku dengan tatapan yang super pede.

Tak sampai satu menit, aku sudah berada di depan kelas si Neng Geulis.

Tanpa ba bi bu lagi, aku langsung duduk dan memasang pose keren seperti Eric Clapton yang bersiap-siap untuk mentas. Teman- teman sekelasku pun ikut- ikutan duduk di sampingku.

Seperti penari pendamping saja.

Dan lagi- lagi perkiraanku benar. Tak berapa lama kemudian, si Neng Geulis dan teman- temannya mulai berkumpul di sekitarku. Jelas saja, aku duduk menghadap sianr matahari, sehingga si gitar pinjaman itu pasti akan memantulkan kilauan cahayanya kemana-mana dan menarik perhatian.

“Janji dong, Janjii..!” Salah satu dari mereka mulai berteriak. Tidak histeris sih, dia berteriaknya juga biasa saja. Hehehe…

“Ahem..” Aku berdehem dengan sangat percaya diri, sambil mulai memasang pose yang sekeren mungkin.

Penonton pun terdiam, menunggu suara emas dari gitar itu, dan mungkin mereka bertanya- tanya, apakah suara gitar tersebut sekeren penampakkannya.

“Croeng…croeng…”

“Croeng..croeng…” Alih- alih suara merdu gitarnya Dewa Budjana yang keluar, malah suara aneh yang terdengar ketika gitar itu kugenjreng.

Mukaku langsung merah padam. Malu luar biasa.

“Adduuuhh…Kenapa ya? Perasaan tadi pagi suara gitar ini masih bagus?” Tanyaku dalam hati sambil menundukkan mukaku, karena tidak ingin dilihat.

Kucoba lagi beberapa kali, dan suara yang keluar tetap sama. Jelek banget. Malah mirip kecapi.

Penonton pun langsung bubar dan kompak ber-huuuu ria.

Tiba- tiba salah satu teman sekolahku menghampiri.

“Itu gitarnya belum disetem kali?” Tanyanya sambil mengambil gitar itu dari tanganku.

“Disetem? Apa itu?” Tanyaku dengan wajah kebingungan.

Dasar gitaris amatir.

“Ya senarnya ada yang terlalu kencang atau terlalu kendor. Mungkin tadi kamu tadi nyimpen gitarnya sembarangan. Atau tadi pagi ada yang iseng muter- muter senarnya.” Katanya sambil tangannya sibuk memutar- mutar kunci di gagang gitar itu.

Tak sampai lima menit, setelah dia memperbaiki gitarku, suarnya kembali seperti sebelumnya, bagus dan merdu.

Eh, ternyata temanku ini tidak langsung memberikan gitar itu kepadaku.

Dia malah memainkan gitar itu di depan mukaku.

Dan tidak sopannya, dia malah memainkan lagu yang tadinya akan kumainkan dengan niat ingin dipuji sama si Neng Geulis di depan kelasnya itu.

Waduuuh…ternyata dia sangat mahir memainkan lagu itu. Hampir sama seperti penyanyi aslinya. Dan bahkan dia juga bersuara bagus, hampir sama dengan Armand Maulana.

Dan tentu saja, akhirnya rencanaku gagal total.

Akhirnya aku harus menanggung malu dan menanggung perasaan gondok.

Malu karena aku ketahuan tidak bisa bermain gitar dan gondok karena akhirnya malah temanku itu yang dikerubuti oleh si Neng Geulis dan teman- temannya.

Ternyata ingin dipuji itu melelahkan dan malah membuat sengsara. Dan jika ternyata pada akhirnya kita mendapatkan pujian pun ternyata sama sekali tidak mendatangkan manfaat apa pun buat kita.

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s