AL-WAKIIL: Yang Maha Mewakili/Pemelihara


AL-WAKIIL

Yang Maha Mewakili/Pemelihara

Kata Al-Wakiil terambil dari akar kata “wakala” yang pada dasarnya bermakna “ pengandalan pihak lain tentang urusan yang seharusnya ditangani oleh yang mengandalkan ”. Demikian Ibnu Faris.

Siapa yang diwakilkan atau diandalkan peranannya dalam satu urusan, maka perwakilan tersebut boleh jadi menyangkut hal-hal tertentu dan boleh jadi juga dalam segala hal. Allah dapat diandalkan dalam segala hal. “ Dia (Allah) atas segala sesuatu menjadi wakiil”. (Q.s. Al-An’am 6:102).

Yang diwakilkan boleh jadi wajar untuk diandalkan karena adanya sifat-sifat dan kemampuan yang dimiliki, shingga menjadi tenang hati yang mengandalkannya dan boleh jadi juga yang diandalkan itu tidak sepenuhnya memiliki kemampuan bahkan dia sendiri pada dasarnya masih memerlukan kemampuan dari pihak lain agar dapat diandalkan. Allah adalahwakiil yang paling dapat diandalkan karena Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Yang mewakilkan boleh jadi berhasil memenuhi semua harapan yang diwakilkannya, sehingga yang mewakilkan merasa cukup denganwakiilnya itu, dan boleh jadi juga tidak maka ketika itu yang mewakilkan mendambakanwakiil lain. Allah Maha Kuasa memenuhi semua harapan yang mewakilkan-Nya, karena itu Dia menegaskan bahwa, “Cukuplah Allah sebagaiwakiil”. (Q.s. An-Nisa 4:81).

Bila seseorang mewakilkan orang lain (untuk suatu persoalan), maka ia telah menjadikannya sebagai dirinya sendiri dalam persoalan tersebut, sehingga yang diwakilkan (wakil) melaksanakan apa yang dikehendaki oleh yang menyerahkan kepadanya perwakilan.

Menjadikan Allah sebagai wakiil dengan makna yang digambarkan di atas, berarti menyerahkan kepada-Nya segala persoalan. Dialah yang berkehendak dan bertindak sesuai dengan “kehendak” manusia yang menyerahkan perwakilan itu kepada-Nya.

Makna seperti ini dapat menimbulkan kesalahpahaman jika tidak dijelaskan lebih jauh. Dalam hal ini, pertama sekali yang harus diingat adalah bahwa keyakinan tentang keesaan Allah berarti antara lain bahwa perbuatan-Nya Esa, sehingga tidak dapat dipersamakan denga perbuatan manusia, walaupun penamaannya mungkin sama. Sebagai contoh, Allah Maha Pengasih (Rahim), Maha Pemurah (karim). Kedua sifat ini dapat dinisbahkan kepada manusia, namun hakekat dan kapasitas rahmat dan kemurahan Tuhan tidak dapat dipersamakan dengan apa yang dimiliki oleh manusia, karena mempersamakannya mengakibatkan gugurnya makna keesaan itu.

Allah Swt yang kepada-Nya diwakilkan segala persoalan, adalah Yang Maha Kuasa, Maha Mengetahui, Maha Bijaksana, dan segala Maha yang mengandung makna pujian yang wajar untuk-Nya. Manusia, sebaiknya memiliki keterbatasan-keterbatasan dalam segala hal. Kalau demikian “perwakilan” yang diserahkan kepada-Nya berbeda dengan perwakilan manusia kepada manusia yang lain.

Benar bahwawakiil diharapkan/dituntut untuk dapat memenuhi kehendak dan harapan yang mewakilkan kepadanya. Namun karena dalam perwakilan manusia “seringkali” atau paling tidak “boleh jadi” yang mewakilkan lebih tinggi kedudukan dan atau pengetahuannya dari sangwakiil, maka ia dapat saja tidak menyetujui/membatalkan tindakan sangwakiil atau menarik kembali perwakilannya – bila ia merasa berdasarkan pengetahuan dan keinginannya – bahwa tindakan tersebut merugikan. Ini bentuk perwakilan manusia. Tetapi jika seseorang menjadikan Allah sebagai wakiil, maka hal serupa tidak akan dan tidak wajar terjadi, karena sejak semula seseorang telah harus menyadari keterbatasannya dan menyadari pula kamahamutlakan Alah Swt. Apakah ia tahu atau tidak tahu hikmah satu kebijaksanaan yang ditempuh Allah, ia akan menerimanya dengan sepenuh hati karena, “Allah mengetahui dan kamu sekalian tidak mengetahui”. (Q.s. Al-Baqarah 2:216).

Ini salah satu segi perbedaan antara perwakilan manusia terhadap Tuhan dan terhadap selain-Nya.

Perbedaan yang kedua adalah dalam keterlibatan yang mewakilkan. Jika anda mewakilkan orang lain untuk melaksanakan sesuatu, maka anda telah menugaskannya melaksanakan hal tersebut. Anda tidak perlu atau tidak harus lagi melibatkan diri. Dalam kamus-kamus bahasa, makna ini secara jelas digarisbawahi. Dalam Kamus Almunjid misalnya diuraikan makna “mewakilkan” antara lain berarti “menyerahkan, membiarkan serta merasa cukup” (pekerjaan tersebut dikerjakan oleh seorang wakiil).

Dalam hal menjadikan Allah Swt sebagai “wakil”, maka manusia masih tetap dituntut untuk melakukan sesuatu yang berada dalam batas kemampuannya. Allah, jangan dibiarkan bekerja sendiri selama masih ada upaya yang dapat dilakukan manusia.

Kata “tawakkal” yang juga berakar kata sama dengan “wakil, bukanya berarti penyerahan secara mutlak kepada Allah, tetapi penyerahan tersebut harus didahului dengan usaha manusiawi. Seorang sahabat Nabi menemui beliau di masjid tanpa terlebih dahulu menambatkan untanya. Ketika Nabi Saw menanyakan tentang untanya, dia menjawab, Äku telah bertawakkal kepada Allah”. Nabi meluruskan kekeliruannya tentang arti “tawakal” dengan bersabda, “’iqilha Tsumma Tawakkal” (Tambatkanlah terlebih dahulu (untamu) kemudian setelah itu bertawakkallah) (H.R. Attirmizi).

Dalam Alqurán kata wakiila terulang sebanyak 13 kali, Sembilan diantaranya merupakan perintah tegas atau tersirat untuk menjadikan Allah wakiila. Di sisi lain perlu dikemukakan bahwa perintah menjadikan-Nya wakiil, kesemuanya dapat dikatakan didahului oleh perintah melakukan sesuatu, baru disusul dengan perintah bertawakkal. Perhatikan misalnya Q.s. Al-Anfal 8:61; “Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepada-Nya dan bertawakkallah kepada Allah.” Demikian juga Q.s. Hud 11:123; “Kepada-Nya dikembalikan segala persoalan maka sembahlah Dia dan bertawakkallah kepada-Nya.” Dan yang lebih jelas lagi adalah Q.s. Al-Maidah 5:23; “Serbulah mereka melalui pintu gerbang (kota), maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal jika kamu benar-benar orang yang beriman.”

Dari sini jelas bahwa agama bukannya menganjurkan perintah bertawakkal atau menjadikan Allah sebagai “wakiil” agar seseorang tidak berusaha atau mengabaikan hukum-hukum sebab akibat. Tidak! Islam hanya menginginkan agar ummatnya hidup dalam realita, realita yang menunjukkan bahwa tanpa usaha tak mungkin tercapai harapan dan tak ada gunanya berlarut dalam kesedihan jika realita tidak dapat diubah lagi. “Hadapilah kenyataan, jika kenyataan itu tidak berkenan di hati anda atau tidak sesuai dengan harapan anda, maka usahakanlah agar anda menerimanya.”

Menjadikan-Nya sebagai “wakiil”, berarti seseorang harus meyakini bahwa Allah yang mewujudkan segala sesuatu yang terjadi di alam raya ini. Juga mengharuskan yang mengangkat-Nya sebagai wakiil agar menjadikan kehendak dan tindakannya sejalan dengan kehendak dan ketentuan Allah Swt. karena dengan menjadikan-Nya “Wakiil”, manusia tadi terlebih dahulu telah sadar bahwa pilihan Allah adalah pilihan terbaik.

Seorang muslim dituntut untuk berusaha, tapi dalam saat yang sama ia dituntut untuk berserah diri kepada Allah, ia dituntut melaksanakan kewajibannya, kemudian menanti hasilnya sebagaimana kehendak dan ketetapan Allah.

Anda boleh berusaha dalam batas-batas yang dibenarkan disertai dengan ambisi yang meluap-luap untuk meraih sesuatu, tetapi jangan ketika anda gagal meraihnya anda meronta atau berputus asa serta melupakan anugerah Tuhan yang selama ini telah anda capai.

Seorang muslin berkewajiban menimbang dan memperhitungkan segala segi sebelum ia melangkah kaki. Tetapi bila pertimbangannya keliru atau perhitungannya meleset, maka ketika itu akan tampillah di hadapannya Alah Swt yang dijadikannya “Wakiil”, sehingga ia tidak larut dalam kesedihan dan keputusasaan, karena ketika itu ia sungguh yakin bahwa “Wakilnya” telah bertindak dengan sangat bijaksana dan menetapkan untuknya pilihan yang terbaik. “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi (pula sebaliknya) kamu mencintai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.s. Al-Baqarah 2:216).

Meneladani sifat Allah ini, menuntut anda untuk tidak menerima perwakilan, jika anda merasa tidak akan mampu melaksanakannya, sehingga tidak wajar anda diandalkan. Sebaliknya jika menerimanya maka hendaknya segala daya yang anda miliki anda gunakan untuk meraih yang terbaik untuk yang mewakilkan anda. Demikian Wa Allah Álam.

M Quraish Shihab, Menyingkap Tabir Illahi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s