Tujuh “Keajaiban” tubuh kita.

Tujuh “Keajaiban” tubuh kita.

Nggak cuma bumi saja yang punya seven wonders of the world. Tubuh manusia pun ternyata menyimpan banyak hal menakjubkan yang susah dijelaskan dengan logika.

#1 The Golden Ratio.

Setiap bagian tubuh manusia ternyata merupakan hitungan matematika. Believe it or not, Fibonacci numbers yang kita jumpai di buku Da Vinci Code, ternyata juga ada di tubuh kita sendiri. Bilangan Phi (1:1,618) adalah angka yang akan kita dapatkan setiap kali kita mengukur setiap inci tubuh kita. Coba deh perhatikan ruas jari tangan kita. Ruas kedua dari ujung berukuran 1,618 kali lebih panjang dari ruas terujung, begitu seterusnya. Rumus phi ini juga kita temui di wajah kita. Panjang hidung kita berbanding 1:1,618 dibanding lebar mulut dari ujung ke ujung. Gigi terdepan dengan gigi di sebelahnya juga berukuran 1,1618 kali lebih besar. Inilah yang disebut dengan The Golden Ratio.

Dr. Stephen Marquardt bahkan telah membuat topeng kecantikan berdasarkan golden ratio ini, dan orang yang mempunyai struktur muka paling mendekati topeng ini adalah cewek yang sudah diakui kecantikannya, seperti Ratu Nefertiti. Tapi wajah kita juga bisa cocok ke dalam topeng golden ratio, kok. Soalnya, setiap kali kita tertawa, maka kita akan semakin mendekati ukuran phi tersebut. Makanya, jangan cemberut!

#2 Sidik Lidah

Selain sidik jari, ternyata lidah kita juga mempunyai pattern unik yang tidak dimiliki orang lain. Hmm, jangan-jangan di masa depan kita akan bikin paspor dengan sidik lidah, nih. Hehehe…

#3 Hidup dan Mati

Saat kita membaca tulisan ini, sebenarnya sedang ada sekitar 50 ribu sel yang mati di dalam tubuh kita. Tapi, di saat yang sama, lahir pula 50 ribu sel baru yang menggantikannya (kecuali di otak, yang tidak bisa menumbuhkan sel baru). Wow, ternyata tubuh kita aktif banget, ya? Di saat yang sama, untuk mencerna isi kalimat ini, pesan tersebut disampaikan ke otak dengan kecepatan mencapai 250 mil per jam!

#4 Tempat Tinggal Bakteri

Satu orang manusia mempunyai organisme hidup yang lebih banyak daripada jumlah seluruh manusia di bumi. Soalnya, dalam 1 inci tubuh manusia, ternyata merupakan tempat tinggal bagi kira-kira 32 juta bakteria!

#5 Kepanasan atau Kedinginan?

Pernah makan makanan panas dan dingin, kan? Seberapa pun panas atau dinginnya makanan tersebut, tapi lidah kita masih bisa menerimanya, tuh. Hal ini disebabkan karena mulut kita menyesuaikan suhu makanan tersebut menjadi suhu normal, sehingga akhirnya bisa kita telan. Maksudnya, si mulut akan mendinginkan si makanan panas, dan menghangatkan si makanan dingin. Wah, ternyata mulut kita tak ubahnya seperti microwave dan kulkas, nih.

#6 Anti Kerriput!

Selain bisa menghilangkan stress, ternyata tertawa juga bisa menguatkan sistem kekebalan tubuh, lho. Dan, menurut penelitian, anak-anak tertawa sekitar 300 kali setiap harinya, sementara orang dewasa cuma 15-100 kali saja tertawa. Ck ck ck, apa hidup mereka sedemikian beratnya, ya? Hehehe… Dan, nggak heran juga kalau orang dewasa itu jadi cepat terlihat tua. Soalnya, setiap 2000 kali wajah kita berkerut (misalnya karena kesal atau cemberut), maka muncullah segaris keriput. Makanya, jangan malas tertawa!

#7 Self-healing

Tubuh kita ternyata tak ubahnya seperti Claire Bennet di serial Heroes yang bisa menyembuhkan dirinya sendiri. Soalnya, setiap luka kita pasti akan sembuh, dan tubuh kita mempunyai ”keajaiban” untuk membentuk bagian tubuh yang baru. Misalnya nih, kaki kita terluka dalam karena terantuk batu. Lama-kelamaan, sel-sel di tubuh akan membentuk jaringan daging dan kulit baru untuk menutupi bekas luka tersebut. Namun demikian, ternyata ada satu bagian tubuh yang nggak bisa menyembuhkan dirinya sendiri lho, yaitu gigi. Kalau gigi tetap kita copot, jangan harap akan tumbuh gigi baru.


didaytea!

Kejayaan Umat Islam Dahulu

Kejayaan Umat Islam Dahulu

Seorang dokter dan sejarawan Amerika, Victor Robinson, membandingkan keadaan kesehatan di Andalusia (Spanyol) di bawah kekuasaan umat Islam dengan keadaan di seluruh Eropa.

Ia berkata, “Ketika itu, Eropa dalam keadaan gelap gulita sedangkan kota Qordova terang-benderang karena cahaya lampu-lampu. Keadaan kota-kota di Eropa sangat kotor, sedangkan di Qordova terdapat seribu tempat pemandian umum. Eropa ketika itu tengelam oleh lumpur sedangkan jalan-jalan di Qordova disusun dengan ubin. Atap gedung-gedung di Eropa penuh dengan cerobong asap sedangkan Qordova dihiasi bangunan-bangunan indah dan arsitektur Arab yang mengagumkan.”

Hikmah Dalam Humor Kisah dan Pepatah, A. Aziz Salim Basyarahil.

KEMATIAN HATI

KEMATIAN HATI

Banyak orang yang tertawa tanpa (mau) menyadari sang maut mengintainya. Banyak orang yang cepat datang ke shaf laiknya orang yang amat merindukan kekasih. Sayang ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera pergi.

Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan Tuhannya. Ada yang datang sekedar memenuhi tugas rutin mesin agama. Dingin, kering dan hampa, tanpa penghayatan. Hilang tak dicari, dan tak disyukuri.

Dari jahil engkau disuruh berilmu dan tak ada idzin untuk berhenti hanya pada ilmu. Engkau dituntut beramal dengan ilmu yang Allah berikan. Tanpa itu alangkah besar kemurkaan Allah atasmu.

Tersanjungkah engkau yang pandai bercakap tentang keheningan senyap ditingkah rintih istigfhar, kecupak air wudhu di dingin malam, lapar perut karena shiam atau kedalaman munajat dalam rakaat-rakaat panjang.

Tersanjungkah engkau dengan licin lidahmu bertutur, sementara dalam hatimu tak ada apa-apa. Kau kunyah mitos pemberian masyarakat dan sangka baik orang-orang berhati jernih. Bahwa engkau adalah seorang saleh, alim, abid lagi mujahid, lalu puas meyakini itu tanpa rasa ngeri.

Asshidiq Abu BAkar Ra selalu gemetar saat dipuji orang.”Ya Allah, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka. Janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidaktahuan mereka.” ucapnya lirih.

Ada orang berkerja keras dengan mengorbankan begitu banyak harta dan dana, lalu ia lupakan semua itu dan tak pernah mengenangnya lagi. Ada orang beramal besar dan selalu mengingat-ingatnya, bahkan sebagian menyebut-nyebutkannya. Ada orang yang beramal sedikit dan mengklain amalnya sangat banyak.

Ada juga orang yang sama sekali tidak pernah beramal tetapi merasa banyak amal dan menyalahkan orang yang beramal karena kekurangan atau ketidaksesuaian amal mereka dengan lamunan pribadinya, atau tidak mau kalah dan tertinggal di belakang para pejuang. Mereka telah menukar kerja dengan kata. Dimana kau letakkan dirimu?

Saat kecil, engkau begitu takut gelap, suara dan segala yang asing. Begitu kerap engkau bergetar dan takut. Sesudah pengalaman dan ilmu makin bertambah, engkaupun berani tampil didepan seorang kaisar tanpa rasa gentar. Semua sudah jadi biasa, tanpa rasa.

Telah beberapa hari engkau hidup dalam lumpur yang membunuh hatimu sehingga getarannya tak terasa lagi saat ma’siat menggodamu dan engkau menikmatinya?

Malam-malam berharga berlalu tanpa satu rakaat pun kau kerjakan. Usia berkurang banyak tanpa jenjang kedewasaan ruhani meninggi. Rasa malu kepada Allah, dimana kau kubur Dia?

Di luar sana rasa malu tak punya harga. Mereka jual harga diri secara terbuka lewat layar kaca, sampul majalah atau bahkan melalui penawaran langsung. Ini potret negerimu: 228.000 remaja mengidap putau. Dari 1500 responden usia SMP & SMU, 25% mengaku telah berzina dan hampir separuhnya setuju remaja berhubungan seks diluar nikah asal jangan dengan perkosaan.

Mungkin engkau mulai berfikir “Jamaklah, bila kau main mata dengan aktifis perempuan bila engkau laki-laki atau sebaliknya di celah-celah rapat atau berdialog dalam jarak sangat dekat atau bertelepon menambah waktu yang tak diperlukan sekedar melepas kejenuhan dengan canda jarak jauh”. Betapa jamaknya ‘dosa kecil’itu dalam hatimu.

Kemana getarannya yang gelisah dan terluka dulu, data ‘TV Thaghut’menyiarkan segala ‘kesombongan jahiliyah dan maksiat’? saat engkau muntah melihat laki-laki (banci) berpakaian perempuan, karena engkau sangat mendukung ustadzmu yang mengatakan “Jika Allah melaknat laki-laki berbusana perempuan dan perempuan berpakaian laki-laki, apa tertawa riang menonton akting mereka tidak dilaknat?”

Ataukah taqwa berlaku saat berkumpul bersama, lalu yang berteriak paling lantang ïni tidak islami”berarti ia paling islami. Sesudah itu urusan tinggallah antara engkau dengan dirimu, tak ada Allah disana?

Sekarang kau telah jadi kader hebat. Tidak lagi malu-malu tampil. Justru engkau akan dihadang tantangan: sangat malu untuk menahan tanganmu dari jabatan tangan lembut lawan jenismu yang muda dan segar. Hati yang berbunga-bunga didepan ribuan masa. semua gerak harus ditakar dan jadilah pertimbanganmu tergadai pada kesukaan atau kebencian orang, walaupun harus mengorbankan nilai terbaik yang engkau miliki.

Lupakah engkau, jika bidikanmu ke sasaran tembak meleset 1 milimeter, maka pada jarak 300 meter dia tidak melenceng 1 milimeter lagi? Begitu jauhnya inhiraf (penyimpangan) dikalangan awam, sedikit banyak karena para elitenya telah salah melangkah lebih dulu. Siapa yang mau menghormati umat yang “kiayi”nya membayar perempuan beberapa ratus ribu kepada seorang perempuan yang beberapa menit sebelumnya ia telah disetubuhi disebuah kamar hotel berbintang. Lalu dengan enteng ia mengatakan Itu maharku, Allah waliku dan malaikat itu saksiku”dan sesudah itu segalanya selesai. Berlalu tanpa rasa bersalah.

Siapa yang akan memandang ummat yang daínya berpose lekat dengan seorang perempuan muda artis penyanyi lalu mengatakan “Ini anakku karena, karena kedudukan guru dalam islam adalah ayah, bahkan lebih dekat daripada ayah kandung dan ayah mertua”. Akankah engkau juga menambah barisan kebingungan ummat lalu mendaftar diri sebagai álimullisan (alim di lidah)? Apa kau fikir sesudah semua kedangkalan ini kau masih aman dari kemungkinan jatuh ke lembah yang sama?

Apa beda seorang remaja yang menzinahi teman sekolahnya dengan seorang alim yang merayu rekan perempuan dalam aktifitas da’wahnya? Akankah kau andalkan penghormatan masyarakat awam karena statusmu lalu kau serang maksiat mereka yang semakin tersudut oleh retorikamu yang menyihir? Bila demikian, koruptor macam apa engkau ini?

Pernah kau lihat sepasang mami dan papi dengan anak remaja mereka. Tengoklah langkah besar mereka ke mall. Betapa besar sumbangan mereka kepada modernisasi dengan banyak-banyak mengkonsumsi produk junk food, semata-mata karena nuansa “western”nya.

Engkau akan menjadi faqih pendebat yang tangguh saat engkau tenggak minuman halal itu, dengan perasaan “Lihatlah, betapa Amerikanya aku”. Memang, bukan Amerika atau bukan Amerika, melainkan apakah engkau punya harga diri.

(alm.KH. Rahmat Abdullah, Ketua Yayasan Iqro’Bekasi)

Kemampuan Manajemen Diri

Kemampuan Manajemen Diri

Kemampuan yang mungkin anda perlukan untuk mencapai keteraturan hidup (al hayatul munazhamah) :
1. Menerima ide orang lain, berlapang dada dan bersikap objektif.
2. Mengelola tukar pikiran, sangat baik untuk mengumpulkan banyak kemungkinan dan banyak ide.
3. Selalu lebih kreatif untuk mencari solusi baru dalam memecahkan masalah.
4. Menyeleksi alternatif dan mengembangkannya untuk mencari solusi.
5. Mengatasi kerumitan dalam pekerjaan dengan melakukan pengelompokan dan penentuan skala prioritas.
6. Berpikir cepat, praktis, dan taktis.
7. Mengembangkan kemampuan pola piker helicopter, yaitu memiliki banyak pandangan, wawasan dan sudut pandang dalam berbagai masalah.
8. Mandiri, berusaha sekuat mungkin untuk tidak menjadi beban bagi orang lain.
9. Memahami cara dan pola terbaik untuk belajar.
10. Memiliki keterampilan membuat kurikulum pribadi, belajar cepat, dan belajar mandiri.

di edit dari SHOOT (Sharpening Our Concept and Tools), by TRUSTCO, Asy Syamiil

AL-WAHHAB: Yang Maha Pemberi

AL-WAHHAB

Yang Maha Pemberi

Al-Wahhab, terambil dari akar kata “wahaba” yang berarti “memberï” dan “memberikan sesuatu tanpa imbalan”.

Dalam Al-Quran kata Al-Wahhabb ditemukan dalam tiga ayat, kesemuanya merupakan sifat Allah dan satu yang dirangkaikan dengan sifat-Nya yang lain yakni Al-Aziz yaitu dalam Q.s. Shad 38:9.

Al-Wahhab adalah yang memberi –walau tanpa dimintai- banyak dari miliknya. Dia memberi berulang-ulang, bahkan berkesinambungan tanpa mengharapkan imbalan, baik duniawai maupun ukhrawi. Al-Ghazali ketika menjelaskan makna kata Al-Wahhab menekankan bahwa pada hakekatnya tidak mungkin tergambar dalam benak adanya yang memberi setiap yang butuh tanpa imbalan atau tujuan duniawi atau ukhrawi, kecuali Allah SWT. karena siapa yang memberi disertai tujuan duniawi atau ukhrawi, baik tujuan itu berupa pujian, meraih persahabatan, menghindari celaan atau guna mendapatkan kehormatan, maka dia sebenarnya telah mengharapkan imbalan dan dengan demikian dia bukanlah Wahhab, karena yang dimaksud dengan imbalan dalam konteks makna kata ini, bukan sekedar sesuatu yang material. Melakukan sesuatu, yang bila tidak dilakukan dinilai buruk, pada hakekatnya adalah imbalan yang menjadikan pelakunya tidak berhak menyandang sifat ini. Di sisi lain, makhluk tidak mungkin akan dapat memberi secara bersinambungan atau terus menerus dan dalam keadaan apapun, karena makhluk tidak dapat luput dari kekurangan. Bukan juga Wahhab namanya, kecuali apa yang diberikannya dalam bentuk yang disebut di atas, merupakan nikmat dan bertujuan baik untuk yang diberi, kini dan masa datang. Demikian Ibnul Árabi. Karena itu anugerah-Nya yang diberikan kepada orang kafir tidak menjadikan-Nya dinamai wahhab, karena anugerah itu dapat menjadi bencana untuknya kini atau masa datang. Kata Al-Wahhab yang ditemukan sebanyak tiga kali dalam Al-Quran selalu mengisyaratkan adanya rahmat, atau kesinambungan. Perhatikan ketiga ayat yang menggunakan kata AL-Wahhab berikut ini:

“Atau apakah ada di sisi mereka perbendaharaan rahmat Tuhanmu Yang Maha Mulia lagi Wahhab (Maha Pemberi)?” (Q.s. Shad 38:9). Bukankah Allah memiliki pula perbendaharaan siksa? Tetapi karena yang dikemukakan adalah rahmat-Nya, maka sifat Wahhab-Nya yang disebut.

“Wahai Tuhan kami, jangan Engkau sesatkan hati kami sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami dan anugerahilah kami rahmat dari sisi-Mu, Karena sesungguhnya Engkaulah al-Wahhab Yang Maha Pemberi”(Q.s. Ali Imran 3:8). Permohonan di sini adalah bersinambungnya petujuk yang selama ini telah diterima dan yang sekaligus merupakan bagian dari rahmat Allah SWT.

Ayat ketig aadalah doa Nabi Sulaeman yang diabadikan Al-Qurán: “Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak patut bagi seorangpun sesudahku. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi”. (Q.s. Shad 38:35).

Kerajaan yang dimohonkannya itu adalah kerajaan yang tiada taranya, sehingga terus menerus dikenang sepanjang masa.

Sekali lagi, seorang manusia tidak dapat menjadi Wahhab, karena tidak ada satu aktifitaspun yang dilakukannya yang luput dari tujuan, walaupun aktivitas tersebut berupa ibadah. Dalam beribadah tujuan untuk menghindar dari neraka-Nya, atau meraih surga-Nya merupakan dua tujuan yang sering kali menghiasi jiwa setiap pelaku ibadah. Peringkat tujuan yang lebih tinggi pun dari kedua tujuan diatas, -yakni bukan karena takut atau mengharap tapi karena cinta dan syukur kepada-Nya, belum juga menjadikan sang árif yang beribadah terlepas dari tujuan-tujuan atau harapan meraih imbalan karena kemampuan manusia hanya sampai di sana, maka Allah mentoleransi pemberian yang bertujuan untuk menjalin persahabatan atau menghindar dari cela atau bencana, selama itu diberikan dalam batas kewajaran yang benar dalam beribadah. Allah juga mentoleransi mereka yang beribadah untuk meraih surga atau menghindar dari neraka, selama ibadah yang dilakukannya karena Allah. Bukankah Allah merangsang manusia dengan take and give (mengambil dan memberi)?. Äpakah mereka tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah menerima taubat hamba-hamba-Nya (memberi mereka pengampunan) dan mengambil sedekah?” (Q.s. At-Taubah 9:104).

Bukankah Allah sendiri dalam AL-Qurán menggunakan kata –kata “tijarah” (perniagaan), “baí” (jual beli), “qardh” (kredit) dan sebagainya.

“Wahai orang-orang yang beriman maukah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari siksa pedih?” (Q.s. Ash-Shaf 61:10). Tahukah anda perniagaan apa itu? Dengarkan lanjutan ayat tersebut, “Hendaklah kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjuang di jalan Allah dengan harta dan jiwa kamu…”. Anda boleh bertanya apa imbalan bahkan keuntungan yang diraih dari perniagaan ini?.

Dengarkan jawabannya pada ayat selanjutnya, “Dia (Allah) akan mengampuni dosa-dosa kamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang sungai-sungai mengalir dibawahnya serta tempat-tempat tinggi yang baik di surga Aden. Itulah keberuntungan yang besar.” (Q.s. Ash-Shaf 61:12). Bahkan ada juga panjar yang diterima di dunia, karena firman-Nya sesudah janji ini, “Masih ada yang lain yang kamu sukai yaitu pertolongan Allah dan kemenangan yang dekat (dalam kehidupan dunia ini)” (Q.s. Ash-Shaf 61:13).

Memang, masyarakat umum memahami ketiadaan pamrih sebagai melakukan sesuatu demi karena Allah semata, sehinga siapa yang melakukan sesuatu untuk tujuan yang lain bukan untuk-Nya semata, maka itulah pamrih. Tetapi ini tidak sepenuhnya benar, karena suatu tujuan di samping dapat merupakan tujuan utama dapat juga sebagai “jalan yang mengantar” ke tujuan yang lebih utama dan ketika itu, jalan tersebut tidak lagi menjadi tujuan. Seseorang yang bekerja untuk mendapatkan uang, pada hakekatnya tujuannya bukanlah uang, tetapi ketenangan hidup dan kenyamanannya. Yang membedakan tujuan yang “merupakan jalan”dan “tujuan yang sesungguhnya” adalah bahwa yang “merupakan jalan”, akan diabaikan, jika yang menjadi tujuan sesungguhnya telah dicapai. Namun keduanya adalah tujuan. Yang beribadah untuk meraih surga atau menghindar dari neraka –tujuannya adalah Allah, walau tujuan yang mengantarnya ke sana adalah meraih surga atau menghindar dari neraka.

Jika demikian dapatlah seseorang meneladani Allah dalam sifat ini? Kita menjawab ; mengapa tidak? Bukankah Allah –seperti telah diuraikan diatas – telah memberi toleransi? Karena hanya sampai disana kemampuan manusia. Bukankah sejak semula telah ditegaskan bahwa, “Laisa ka mistilihi Syaiun?” Tidak ada yang serupa dengan-Nya? Bukankah sejak dini pula telah ditekankan bahwa meneladani-Nya adalah sesuai dengan kemampuan dan kedudukan manusia sebagai makhluk? Tentu saja semakin banyak toleransi yang diterima atau diambil, semakin rendah tingkat penerima atau pengambilnya. Pemberi yang motivasinya memperoleh imbalan serupa lebih rendah tingkatnya, dibanding dengan yang tidak mandapat imbalan yang serupa. Äpa yang kamu berikan dari riba supaya bertambah banyak harta manusia, maka tidaklah bertambah banyak di sisi Allah “ (Q.s. Ar-Rum 30:39). Walau itu tidak dilarangnya, namun sejak wahyu ketiga Dia berpesan kepada Rasul-Nya: “Jangan memberi dengan mengharap imbalan yang lebih banyak”. (Q.s. Al-Muddasttsir 74:6).

Menanti ucapan terima kasih tidak dilarangnya, tetapi yang memberi tanpa mengharapkan terima kasih atau balasan, dipuji bahkan diabadikan ucapanya – walau ketika memberi mengharapkan keselamatan di hari kemudian. “Mereka berkata ‘Kami memberi makan kepada kamu demi karena Allah, kami tidak mengkehendaki diri kami balasan dan tidak pula terima kasih. Sesungguhnya kami takut kepada Tuhan kami, pada hari yang sangat bermuka masam”. (Q.s. AL-Insan 76:9-10).

Pemberian yang tertinggi yang dapat dilakukan manusia adalah memberi tanpa takut neraka atau tanpa mengharap surga, namun sekali lagi – itupun tidak menjadikannya Wahhab, karena hanya Allah Al-Wahab, namun, yang demikian ditoleransi oleh Yang Maha Pemberi anugerah- lahir dan batin itu. Karena itu meneladani sifat ini menuntut upaya terus menerus untuk memberi sekuat kemampuan. Ciri orang bertaqwa menurut Q.s. Ali Imran 3:134 antara lain adalah “Menafkahkan (miliknya) baik dalam keadaan senang (lapang) maupun susah (sempit)”. Itu dilakukanya dengan rela karena dia takut merasa bahwa Allah telah membiasakan hidupnya dengan curahan serta kesinambungan anugerah-Nya.

M Quraish Shihab (Menyingkap Tabir Illahi)

AR RASYIID: Yang Maha Tepat Tindakannya

AR RASYIID

Yang Maha Tepat Tindakannya

Kata “Ar Rasyiid, terambil dari kata yang terdiri dari rangkaian huruf-huruf ra’, syin, dan dal. Makna dasarnya adalah “ketepatan dan kelurusan jalan”. Dari sini lahir kata “Ruusyd” yang bagi manusia adalah “kesempurnaan akal dan jiwa”, yang menjadikannya mampu bersikap dan bertindak setepat mungkin. “Mursyid” adalah pemberi petunjuk/bimbingan yang tepat. Sementara pakar bahasa berpendapat bahwa kata ini mengandung makna kekuatan dan keteguhan. Dari sini kata “Rasyaadah” diartikan “batu karang”

Dalam Alquran kata “Rasyiid” ditemukan sebanyak tiga kali. Tidak satupun menunjuk kepada Allah SWT; kesemuanya menunjuk kepada manusia. Bentuk jamaknya, Raasyiduun, hanya ditemukan sekali, juga menunjuk kepada manusia. Namun demikian, ditemukan ayat yang dapat dipahami sebagai menunjuk bahwa sifat ini disandang oleh Allah SWT, yaitu firman-Nya, “Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tak akan mendapatkan seorang mursyidaa/pemimpin yang dapat member petunjuk kepadanya” (Q.s. Al-Kahfi 18:17).

Demikian juga firman-Nya yang mengabadikan do’a “Ashaab Alkahfi”, sekelompok pemuda yang menghindar dari kekejaman penguasa masanya dan ditidurkan Allah selama 309 tahun, “Wahai Tuhan (kami) berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan tunjukkanlah bagi kami Rasyadaa dalam urusan kami (jalan kemaslahatan untuk melakukannya)”.(Q.s. Al Kahfi 18:10).

Siapa yang menganugerahkan rasyadaa pastilah dia Rasyiid.

Menurut Imam Ghazali, Rasyiid adalah “Dia yang mengarahkan penanganan dan usahanya ke tujuan yang tepat, tanpa petunjuk, berupa pembenaran atau bimbingan dari siapapun”. Sifat ini hanya sempurna disandang oleh Allah SWT.

Sifat ini-menurut sementara ulama, mirip dengan sifat Hakiim, karena Al Hakim adalah yang menempatkan segala sesuatu pada tempatnya, dan demikian pula Ar Rasyiid, yakni yang benar lagi tepat dalam perbuatannya serta lurus penanganannya. Namun keduanya berbeda, karena sifat rusyd yang disandang oleh Rasyiid memberi kesan terpenuhinya sifat ini dalam diri penyandangnya, bermula dari dirinya sebelum yang lain.

Manusia yang menyandang sifat ini dijelaskan oleh Q.s. Al-Hujurat 49:7 “Ketahuilah olehmu bahwa ditengah kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan, benar-benarlah kamu akan mendapat kesulitan, tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah Ar-Rasyidun yang benar lagi tepat dalam perbuatannya serta lurus penanganannya.

Ayat ini mengkonfirmasikan bahwa Ar-Rasyidun adalah mereka yang memperoleh anugerah Allah berupa rasa cinta kepada keimanan sehingga mentaati Rasulullah Saw dan konsisten dalam ketaatannya, disertai rasa kagum kepada beliau yang menghasilkan dorongan untuk meneladaninya. Mereka adalah yang menilai keimanan sebagai hiasan hidupnya, sehingga tidak ada sesuatu bagi mereka yang lebih indah dan berharga bahkan menyamai dan mendekati nilai keimanan. Di sisi lain mereka sangat benci kekufuran, yakni segala sesuatu yang menutupi kusucian fitrah dan kemurnian ahlak, juga kepada kefasiqan yaitu sikap dan ucapan yang dapat mengantar kepada pengingkaran agama dan terbebaskan pula dia dari kedurhakaan, yakni keengganan melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya. Demikian Al-Biqa’iy dalam tafsirnya menjelaskan ayat diatas.

Anda lihat bahwa sifat ini disandang oleh manusia atas bantuan Allah, karena itu tidak heran jika Allah SWT memerintahkan untuk menyampaikan bahwa, “Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudharatan kepadamu dan tidak (pula) rasyada”. Q.s. Al-Jin 72:21). Yang menganugerahkannya hanya Allah, atas pilihan dan kebijaksanaan-Nya, “Sesungguhnya telah kami anugerahkan kepada Ibrahim Rusyda-hu sebelum (Musa dan Harun) dan adalah Kami mengetahui (keadaan)nya.” (Q.s. Al-Anbiya 21:51). Nabi Musa pernah memohon melalui hamba Allah yang dianugerahi-Nya rusyda dengan berucap, “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepada rusydaa yang telah diajarkan (Allah) kepadamu?”. (Q.s. Al-Kahfi 18:66), namun Musa gagal dalam ujian yang diikutinya. Nabi Muhammad Saw dituntun agar berdoa, “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat dari ini rusyda.” (Q.s. Al-Kahfi 18:24).

Jalan menuju rusyd jelas, “Sesungguhnya telah jelas Ar-Rusyd dari jalan yang sesat” (Q.s Al-Baqarah 2:256). Jinpun mengetahuinya, ucap mereka, “Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Qur’an yang menkjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada Ar-rusyd, maka kamu beriman kepadanya” (Q.s Al-Jin 72:1-2). Karena itu pula bagi yang bermaksud meraihnya, Allah berpesan, “Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka yarsyudun (mengetahui yang benar dan manangani segala persoalan dengan tepat)” (Q.s. Al-Baqarah 2:186).

Mereka yang angkuh tidak mungkin menyandang sifat ini, karena “Mereka jika melihat tiap-tiap ayat (Allah) mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan Ar-rusyd, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus menempuhnya” (Q.s Al-araf 7:146). Mereka yang tidak bertaqwa, yang bergelimang dalam dosa yang tidak bermoral atau mempermalukan tuan rumah dihadapan tamunya, adalah orang-orang yang jauh dari sifat Ar-Rusyd (Q.s Hud 11:78). Demikian juga penguasa yang otoriter, durhaka lagi bejat (Q.s Hud 11:97). Kemampuan mengelola harta adalah tahap awal dan tanda pertama dari ada tidaknya sifat ini pada seseorang. Karena itu Allah memerintahkan kepada para wali yang diamanati harta anak yatim, “Ujilah anak yatim itu samapi mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah memiliki rusyd-an (yakni kemampuan memelihara dan mengelola harta dengan baik), maka serahkanlah kepada mereka harta-harta mereka” (Q.s An-Nisa’ 4:6).

Demikian ayat-ayat Al-Quran menggambarkan sifat ini bagi manusia. Mereka yang mampu menghiasi dirinya dengan tuntunan diatas, wajar untuk dinamai Rasyiid, sekaligus telah meneladani Allah dalam sifat-Nya ini, sesuai dengan kemampuannya sebagai makhluk. Demikian Wa Allah’ Alam.

AR-RAZZAQ:Maha Pemberi Rezeki

AR-RAZZAQ

Maha Pemberi Rezeki

M Quraish Shihab (Menyingkap Tabir Ilahi)

Kata Ar-Razzaq, terambil dari akar kata “Razaqa” atau “rizq” yakni rezeki. Yang pada mulanya – sebagaimana ditulis oleh pakar bahasa Arab Ibnu Faris – berarti “pemberian untuk waktu tertentu”. Di sini terlihat perbedaannya dengan “Alhibah” dan disini pula dapat dipahami perbedaan antara “Ar-Razzaq” dan “Al-Wahhab”. Namun demikian, arti asal ini berkembang, sehingga rezeki antara lain diartikan pangan, pemenuhan kebutuhan, gaji, hujan dan lain-lain, bahkan sedemikian luas dan berkembang pengertiannya sehingga “anugerah kenabian” pun dinamai rezeki. Nabi Syuaib yang berkata kepada kaumnya, “Wahai kaumku bagaimana fikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan Dia menganugerahi aku dari-Nya rezeki yang baik? (yakni kenabian)” (Q.S Hud 11:88).

Dalam Alqur’an kata Ar-razaaq hanya ditemukan sekali, yakni pada Q.s Az-Zariyat 51:58, tetapi bertebaran ayat-ayat yang menggunakan akar kata ini, yang menunjuk kepada Allah AWT.

Ar-Razzaq adalah Allah yang berulang-ulang dan banyak sekali memberi rezeki kepada mahluk-mahluk-Nya. Imam Ghazali ketika menjelaskan arti Ar-Razzaq menulis bahwa, “Dia yang menciptakan rezeki dan menciptakan yang mencari rezeki, serta Dia yang mengantarnya kepada mereka dan menciptakan sebab-sebab sehingga mereka dapat menikmatinya”.

Rezeki oleh sementara pakar hanya dibatasi pada pemberian yang bersifat halal, sehingga haram tidak dinamai rezeki. Tetapi pendapat ini ditolak oleh mayoritas ulama dan karena itulah – Alqur’an dalam beberapa ayat menggunakan istilah “rizqan hasanan” (rezeki yang baik), untuk mengisyaratkan bahwa ada rezeki yang “tidak baik” yakni yang haram. Berdasar keterangan di atas, dapat dirumuskan bahwa “rezeki” adalah “segala pemberian yang dapat dimanfaatkan, baik material maupun spiritual”.

Setiap mahluk telah dijamin Allah rezeki mereka. Yang memperoleh sesuatu secara tidak sah/haram dan memanfaatkannya pun telah disediakan oleh Allah rezekinya yang halal, tetapi ia enggan mengusahakannya atau tidak puas dengan perolehannya, atau terhalangi oleh satu dan hal lain sehingga tidak dapat meraihnya. Karena itu, agama menekankan perlunya berusaha dan bila tidak dapat karena terhalangi oleh satu dan lain sebab, maka manusia diperintahkan berhijrah. Di sisi lain manusia juga harus memiliki sifat “qana’ah”, tetapi ini bukan sekedar “puas dengan apa yang telah diperoleh”, tetapi kepuasan tersebut harus didahului oleh tiga hal. 1)Usaha maksimal yang halal, 2)Keberhasilan memiliki hasil usaha maksimal itu dan 3) Dengan suka cita menyerahkan apa yang telah dihasilkan karena puas dengan apa yang telah diperoleh sebelumnya. Dengan demikian usaha maksimal tanpa keberhasilan serta kemampuan kepemilikikan, belum lagi mengantar seseorang memiliki sifat yang dianjurkan agama ini. Lebih-lebih jika ia tidak dengan suka hati menyerahkan apa yang telah dihasilkannya itu.

Selanjutnya, jaminan rezeki yang dijanjikan Allah kepada mahluk-Nya bukan berarti memberinya tanpa usaha. Kita harus sadar bahwa yang menjamin itu adalah Allah yang menciptakan mahluk serta hukum-hukum yang mengatur mahluk dan kehidupannya. Bukankah manusia telah terikat dengan hukum-hukum yang ditetapkan-Nya? Kemampuan tumbuh-tumbuhan untuk memperoleh rezekinya, serta organ-organ yang menghiasi tubuh manusia dan binatang, insting yang mendorongnya untuk hidup dan makan, semuanya adalah bagian dari jaminan rezeki Allah. Kehendak manusia, instingnya, perasaan dan kecenderungannya, selera dan keinginannya, rasa lapar dan hausnya sampai kepada naluri mempertahankan hidupnya, adalah bagian dari jaminan rezeki Allah kepada mahluk-Nya. Karena tanpa itusemua, maka tidak akan ada dalam diri manusia dorongan untuk mencari makan, tidak pula akan terdapat pada manusia dan binatang pencernaan, kelezatan, kemampuan membedakan rasa dan sebagainya.

Allah sebagai “Ar-Raazaq” juga menjamin rezeki dengan menghamparkan bumi dan langit dengan segala isinya. Dia menciptakan seluruh wujud dan melengkapinya dengan apa yang mereka butuhkan sehingga mereka dapat memperoleh rezeki yang dijanjikan Allah itu. Rezeki dalam pengertiannya yang lebih umum tidak lain kecuali upaya mahluk untuk meraih kecukupan hidupnya dari dan melalui mahluk lain. Semua mahluk yang membutuhkan rezeki diciptakan Allah dengan kebutuhan atas mahluk lain agar dimakannya agar dapat melanjutkan hidupnya, demikian sehingga rezeki dan yang diberi rezeki selalu tidak dapat dipisahkan. Setiap yang diberi rezeki dapat menjadi rezeki untuk yang lain, dapat makan dan menjadi makanan buat yang lain.

Jarak antara rezeki dan manusia, lebih jauh dari jarak rezeki dengan binatang, apalagi tumbuhan. Ini bukan saja karena adanya aturan hukum-hukum dalam cara perolehan dan jenis yang dibenarkan bagi manusia, tetapi juga karena seleranya yang lebih tinggi. Oleh sebab itu manusia dianugerahi Allah sarana yang lebih sempurna, akal, ilmu, pikiran dan sebagainya, sebagai bagian dan jaminan rezeki Allah. Tetapi sekali-kali jaminan rezeki yang dijanjikan Allah bukan berarti memberinya tanpa usaha.

Jarak antara rezeki bayi dengan rezeki orang dewasapun berbeda. Jaminan rezeki Allah, berbeda dengan jaminan rezeki orang tua kepada bayi-bayi mereka. Bayi menunggu makanan yang siap dan menanti untuk disuapi. Manusia dewasa tidak demikian. Allah menyiapkan sarana dan manusia diperintahkan mengolahnya, “Dia yang menjadikan bagi kamu bumi itu mudah (untuk dimanfaatkan) maka berjalanlah dia segala penjurunya dan makanlah dari rezeki-Nya” (Q.s Al-Mulk 67:15). Karena itu ketika Allah Ar-Razzaq itu menguraikan pemberian rezeki-Nya dikemukakannya dengan menyatakan bahwa, “Nahnu narzuqukum Wa Iyyahum” (Kami memberi rezeki kepada kamu dan kepada mereka anak-anak kamu (Q.s Al-An’am 6:151). Penggunaan kata Kami – sebagaimana pernah diuraikan sebelum ini – adalah untuk menunjukkan keterlibatan selain Allah dalam pemberian/perolehan rezeki itu. Dalam hal ini adalah keterlibatan mahluk-mahluk yang bergerak itu mencarinya.

Itu sebabnya ketika menyampaikan jaminan-Nya, Allah mengisyaratkan bahwa jaminan itu untuk semua “dabat” (Yang bergerak). Perhatikanlah Firman-Nya, “Wa Ma Min Dabaten Fil Ardhi Illa’Ala Alahi Rizquha (Tidak satu dabat [binatang melata yang bergerak] pun di bumi, kecuali Allah yang menjamin rezekinya” (Q.s. Hud 11:6). Lima kali dalam Alqur’an, Allah mensifati diri-Nya dengan Khairur Raziqin (sebaik-baik pemberi rezeki) dari enam kali kata “Raaziqin”.

Hanya sekali Alqur’an mensifati Allah dengan Ar-Razzaq, yaitu dalam Q.S. Az-Zariyat 51:58, “Tiada Aku menghendaki pemberian (rezeki) dari mereka tidak pula Aku menghendaki diberi makan oleh mereka. Sesunguhnya Allah adalah Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki) yang memiliki kekuatan yang kukuh”. Agaknya itu untuk mengisyaratkan bahwa dalam perolehan rezeki harus ada keterlibatan mahluk bersama Allah. Alllah adalah sebaik-baik pemberi rezeki, antara lain karena Dia yang menciptakan rezeki beserta sarana dan prasarana perolehannya, sedang manusia hanya mencari dan mengolah apa yang telah diciptakan-Nya itu. Bukankah yang dimanfaatkan manusia dalah bahan mentah yang disiapkan Allah atau hasil olahan dari bahan mentah yang telah tersedia itu?

Sementara orang berkata bahwa Rasul Saw pernah memuji burung-burung –dengan maksud agar diteladani- dalam perolehan rezeki mereka,.. “Burung-burung keluar lapar di waktu pagi dan kembali kenyang disore hari”. Apa yang disabdakan Rasul ini benar adanya, tetapi harus diingat dan diteladani bahwa burung-burung tidak tinggal diam di sarang mereka, tetapi terbang keluar untuk meraih rezekinya. Demikian pula seharusnya manusia.

Yang meneladani Allah dalam sifat-Nya ini terlebih dahulu harus menyadari makna-makna di atas. Ia harus menyadari sepenuhnya bahwa tiada Pemberi Rezeki kecuali Allah SWT. Kesadaran tentang jaminan rezeki Allah itu –dengan pengertian diatas- harus sedemikian kukuh, tidak kurang dari kukuhnya keyakinan seorang tentang kemampuannya mengucapkan kata-kata. “Dan dari langit ada rezeki kamu dan apa-apa yang dijanjikan kepadamu. Demi Tuhan Pencipta langit dan bumi, yang itu adalah benar, seperti ucapan (yang kamu mampu ucapkan)”. (Q.s. AZ-Zariyat 51:22-23).

Setelah itu sebagai peneladanan Allah Ar-Razzaq (Yang menganugerahkan rezeki material dan spiritual) dia berkewajiban menjadi penyebab sampainya rezeki Allah yang diterimanya kepada orang lain, baik dengan ucapan maupun perbuatannya. Semakin banyak mahluk yang diantarkan kepada rezeki, semakin tinggi keteladannya kepada Ar-Razzaq.

Memang, menyangkut rezeki yang bersifat material seseorang tidak harus atau menghabiskan seluruhnya. Camkanlah Firman-Nya yang menjelaskan sifat-sifat orang bertaqwa Q.s. Al-Baqarah 2:3 “dan dari sebagian apa yang Kami rezekikan kepada mereka, mereka nafkahkan” atau perintah-Nya yang berbunyi, “Dan nafkahkanlah sebagian dari apa yang kami rezekikan kepadamu” (Q.s. Al-Baqarah 2:54). Ayat-ayat tersebut mengandung makna bahwa sebagian yang direzekikan dan tidak dinafkahkan itu, hendaknya ditabung untuk keperluan yang tidak terduga. Adapun rezeki immaterial, berupa ilmu pengetahuam, maka ini terlarang menyembunyikannya, apalagi “ilmu bertambah bila dinafkahkan berbeda dengan harta yang dapat berkurang karena diberikan”. Ilmu memelihara manusia, sedang harta harus dipelihara manusia.