AL-GHAFFAAR: Yang Maha Pengampun

AL-GHAFFAAR

Yang Maha Pengampun

Kata Al-Ghafar terambil dari akar kata “ghafara” yang berarti “menutup”. Ada juga yang berpendapat dari kata “Alghafaru” yakni “sejenis tumbuhan yang digunakan mengobati luka”. Jika pendapat pertama yang dipilih, maka Allah Ghaffaar berarti antara lain, Dia menutupi dosa hamba-hamba-Nya karena kemurahan dan anugerah-Nya. Sedang bila yang kedua, maka ini bermakna Allah menganugerahi hamba-Nya penyesalan atas dosa-dosa, sehingga penyesalan ini berakibat kesembuhan dalam hal ini adalah terhapusnya dosa. Kalimat “Allahummagfir liy” juga dipahami dalam arti, “Ya Allah perbaikilah keadaanku”. Demikian pendapat Ibnul Al-A’raby.

Dalam Alqur’an kata “Ghaffaar” terulang sebanyak lima kali, ada yang berdiri sendiri, seperti dalam Q.s. Nuh 71:10 yang mengabadikan ucapan Nabi Nuh A.s. kepada kaumnya, “Beristigfarlah kepada Tuhan-Mu sesungguhnya Dia senantiasa Ghaffaara” dan Q.s. Thaha 20:83, “Sesungguhnya Aku Ghaffaar bagi yang bertaubat, percaya dan beramal shaleh, lalu memperoleh hidayat”. Tiga lainnya dirangkaian dengan sifat Aziz yang mendahuluinya. Yang diragukan ini, dikemukakan bukan dalam konteks pengampunan dosa. Ini memberi kesan bahwa Allah sebagai Ghaffaar, bukan hanya menutupi kesalahan dan dosa-dosa hamba-Nya, tetapi yang ditutup-Nya itu, dapat mencakup banyak hal selain dari dosa.

Allah berfirman, “Sesungguhnya Tuhanmu sangat luas magfirah-Nya” (Q.s. At-Taubah 10:117). Keluasan ini tidak hanya mengantar kepada berulang-ulangnya Yang Maha Pengampun itu mengampuni dosa, tetapi juga mengisyaratkan banyaknya cakupan dari maghfirah-Nya. Allah tidak hanya mengampuni dosa besar atau kecil yang berkaitan dengan pelanggaran perintah dan larangan-Nya, atau yang dinamai hukum syariat tetapi juga yang berkaitan dengan pelanggaran terhadap hukum moral yang boleh jadi tidak dinilai dari segi syariat sebagai dosa, bahkan dapat mencakup pula persoalan-persoalan yang dianggap tidak wajar dari segi cinta dan emosi. Nabi Muhammad Saw bermohon kiranya Allah mengampuni beliau menyangkut “ketidakadilan beliau dalam cinta terhadap isteri-isteri beliau, “Inilah hasil upayaku (dalam cinta) menyangkut hal yang kumampui maka jangan tuntut aku menyangkut yang diluar kemampuanku”.

Dalam hal-hal yang semacam inilah hendaknya dipahami maghfirah Allah kepada para Nabi dan Rasul-Nya, setelah mereka pada hakekatnya terbebaskan dari aneka dosa dari segi pandangan syariat.
Imam Ghazali bahkan mengarah kepada yang lebih jauh dari apa yang dikemukakan diatas. Hujjatul Islam ini menjelaskan bahwa Ghaffaar adalah “Yang menampakkan keindahan dan menutupi keburukan”. Dosa-dosa –tulisnya- adalah bagian dari sejumlah keburukan yang ditutupi-Nya dengan jalan tidak menampakkannya di dunia serta mengesampingkan siksa-Nya di akhirat.

Pertama yang ditutupi oleh Allah dari hamba-Nya adalah sisi dalam jasmani manusia yang tidak sedap dipandang mata. Ini ditutupi-Nya dengan keindahan lahiriah. Alangkah jauh perbedaan antara sisi dalam dan sisi lahir manusia dari segi kebersihan dan kekotoran, keburukan dan keindahan. Perhatikanlah apa yang nampak dan apa pula yang tertutupi dari jasmani anda.

Hal kedua yang ditutupi Allah adalah bisikan hati serta kehendak-kehendak manusia yang buruk. Tidak seorangpun mengetahui isi hati manusia kecuali Allah dan dirinya sendiri. Seandainya terungkap apa yang terlintas dalam pikiran atau terkuak apa yang terbetik dalam hati menyangkut kejahatan atau penipuan, sangka buruk, dengki, dan sebagainya, maka sungguh manusia akan mengalami kesulitan dalam hidupnya. -Begitu kata Al-Ghazali. Penulis dapat menambahkan Allah SWT tidak hanya menutupi apa yang dirahasiakan manusia terhadap orang lain, tetapi juga menutupi sekian banyak pengalaman-pengalaman masa lalunya, kesedihan atau keinginannya, yang dipendam dan ditutupi oleh Allah di bawah sadar manusia sendiri, yang kalau dinampakkan kepada orang lain, atau dimunculkan kepermukaan hati yang bersangkutan sendiri, maka pasti akan mengakibatkan gangguan yang tidak kecil.

Hal ketiga yang ditutpi Allah, selaku Ghaffaar adalah dosa dan pelanggaran-pelanggaran manusia, yang seharusnya dapat diketahui umum. Sedemikian, besar anugerah-Nya sampai-sampai Dia menjanjikan menukar kesalahan dan dosa-dosa itu dengan kebaikan jika yang bersangkutan berupaya untuk kembali kepada-Nya. Ketika berbicara tenatng mereka yang bergelimang di dalam dosa dan yang dilipatgandakan siksa baginya di hari kemudian, Allah mengecualikan “orang yang bertaubat, beriman dan beramal shaleh. Mereka itu yang digantikan Allah kejahatan mereka dengan kebaikan”. (Q.s. Al-Furqan 25:70).

Jika demikian itu cakupan maghfirah Allah, maka ia tidak hanya tertuju kepada orang-orang beriman, tetapi juga tertuju dalam kehidupan dunia ini kepada orang-orang kafir yang tidak percaya adanya hari kebangkitan. Q.s. Ar-Ra’ed 13:6) mengisyaratkan hal tersebut. Firman-Nya, “Mereka meminta kepada-Mu supaya disegerakan (datangnya) siksa sebelum (mereka meminta) kebaikan, padahal telah terjadi bermacam-macam contoh siksa sebelum mereka. Sesungguhnya tuhanmu memiliki maghfirah bagi manusia atas kezaliman mereka, dan sesungguhnya tuhanmu amat pedih siksa-Nya”.

Allah SWT menyambut permohonan tulus hamba-hamba-Nya yang berdosa, betapapun besar dan banyak dosanya. “Sampaikanlah kepada hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri: ‘Janganlah berputus asa dari rahmat Allah’. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa, Dialah Al-Gafur Ar-Rahim” (Q.s. Az-Zumar 39:53). Bahkan terbuka kemungkinan bagi yang tidak bermohonpun – selama dosanya bukan mempersekutukan Allah – untuk diampuni oleh-Nya. “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa yang mempersekutukan-Nya dengan sesuatu dan mengampuni dosa selain dari itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (Q.s. An-Nisa’ 4:48 dan 116).
Sahabat Nabi, Anas r.a. berkata, “Aku telah mendengar Rasul Allah Saw. Bersabda, Allah berfirman: ‘Wahai putra (putri) Adam… selama engkau berdoa kepada-Ku dan mengharapkan ampunan-Ku, Aku ampuni untukmu, apa yang telah lakukan dimasa lampau dan Aku tidak peduli (betapapun banyaknya dosamu). Wahai putra (putri) Adam… seandainya dosa-dosamu telah mencapai ketinggian langit, kemudian engkau memohon ampunan-Ku, Aku ampuni untukmu. Seandainya engkau datang menemuiku membawa seluas wadah bumi ini dosa-dosa dan engkau datang menjumpaiku dengan tidak mempersekutukan Aku dengan sesuatu, niscaya Aku datang kepadamu dengan seluas wadah itu pengampunan’” (H.R. At-Tarmizy, demikian juga Ahmad).

“Tidaklah dinamai bertekad mengulangi-ulangi dosa, siapapun yang beristigfhar – walau ia mengulangi dosa tujuh puluh kali sehari”, demikian sebuah riwayat.

“Walaupaun Abu Dzar keberatan”, begitu komentar Nabi Saw kepada sahabatnya Abu Dzar r.a. yang terheran-heran dan merasa keberatan dengan jawaban Nabi Saw atas pertanyaan tentang seorang yang berulang-ulang berdosa kemudian berulang-ulang pula bertaubat, namun tetap diterima Allah taubatnya.

Allah SWT memerintahkan manusia agar meneladani-Nya dalam memberi maghfirah, “Katakanlah kepada orang-orang yang beriman agar yaghfiru, memberi maghfirah/menutupi aib/memaafkan orang-orang yang tidak mengharapkan hari-nari Allah” (Q.s. Al-Jastiyah 45:14). Di tempat lain dinyatakan-Nya bahwa, “Siapa yang bersabar dan menutupi kesalahn orang lain/memaafkan, maka sungguh hal yang demikian termasuk hal yang diutamakan” (Q.s. Asy-Syura 42:43). Ketika Abubakar r.a. bersumpah untuk tidak memaafkan Misthah yang ikut menyebarkan fitnah terhadap putri beliau Aisyah r.a. – padahal selama ini ia disantuni oleh Abubakar r.a. – turun perintah Allah kepada orang-orang mukmin agar memberi maaf dan berlapang dada sambil “menanyakan”, “Apakah kamu tidak menyukai Allah menutupi (kesalahan, aib dan dosa) kamu? Sesungguhnya Allah Maha Ghaffaar dan Rahim” (Q.s. An-Nur 24:22).

Seseorang yang memenuhi tuntunan ini atau meneladani sifat Allah Al-Ghaffaar, akan menutupi keburukan orang lain, tidak membeberkannya dan akan menampakkan kelebihan sesamanya, tidak menampilkan kekurangannya. Rasul Saw menjanjikan mereka yang menutupi aib orang lain, untuk ditutupi pula oleh Allah aibnya di hari kemudian, “Siapa yang menutupi (aib) seorang muslim, Allah menutupi aibnya di dunia dan di akhirat”. Dalam riwayat lain, “Tidak seorang manusiapun menutupi aib orang lain di dunia kecuali Allah menutupi aibnya di hari kemudian” (H.R. Muslim melalui Abu HUrairah). Karena itu, pengumpat, pendendam, pembalas kejahatan dan pembeber kesalahan pada hakekatnya tidak menyandang sedikitpun dari sifat ini.

M Quraish Shihab (Menyingkap Tabir Illahi)

AL-‘ALIIM: Yang Maha Mengetahui

AL-‘ALIIM

Yang Maha Mengetahui

Kata ‘Alim terambil dari akar kata “’ilm” yang menurut pakar-pakar bahasa berarti “menjangkau sesuatu seusai dengan keadaannya yang sebenarnya”. Bahasa Arab menggunakan semua kata yang tersusun dari huruf-huruf “äin”, “lam”, “mim” dalam berbagai bentuknya untuk menggambarkan sesuatu yang sedemikian jelas sehingga tidak menimbulkan keraguan. Perhatikan misalnya kata-kata “alamat” (alamat) yang berarti tanda yang jelas bagi sesuatu atau nama jalan yang mengantar seseorang menuju tujuan yang pasti. “Ïlmu” demikian juga halnya, ia diartikan sebagai suatu pengenalan ayang sangat jelas terhadap suatu objek. Allah SWT dinamai “’’Alim” atau “’Alim” Karena pengetahuan-Nya yang amat jelas sehingga terungkap baginya hal-hal yang sekecil apapun.

Dalam Al-Qurán ditemukan banyak sekali ayat-ayat yang menggunakan akar kata yang sama dengan Asma’AlHusna yang dibahas ini. Kata “’Alim” dalam AL-Qurán ditemukan sebanyak 166 kali. Di samping itu terdapat pula sekian banyak kata “Alim: yang menunjuk kepada Allah SWT, sebagaimana banyak pula yang menunjuk-Nya dengan menggunakan redaksi “A’lam” (Lebih Mengetahui). Banyaknya ayat serta beraneka ragamnya bentuk yang digunakan itu, menunjukkan batap luas dan banyak ilmu Allah SWT.

Ilmu-Nya mencakup seluruh wujud. “Ïlmu Tuhanku meliputi segala sesuatu” (Q.s Al-An’am 6:80). “Pada sisi Allah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula) dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)” (Q.s. Al-An’am 6:59).

Segala aktivitas lahir dan bathin manusia diketahui-Nya. “Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati”(Q.s. Ghafir 40:19), bahkan jangankan rahasia, yang “lebih tersembunyi dari rahasia”, yakni hal-hal yang telah dilupakan oleh manusia dan yang berada di bawah sadarnyapun diketahui oleh Allah SWT. “Jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia (mengetahuinya serta) mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi (dari rahasia)” (Q.s Thaha 20:19).

Apapun yang terjadi, telah diketahui-Nya sebelum terjadi, “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Q.s. Al-Hadid 57:22).

Pengetahuan semua makhluk bersumber dari pengetahuan-Nya, “Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya” (Q.s. Al-Baqarah 2:255).

Allah “mengajar dengan qalam”, yakni mengajar manusia melalui upaya mereka dan “mengajar apa yang mereka tidak diketahui”, tanpa usaha mereka, tetapi langsung sebagai curahan rahmat-Nya. Begitu informasi-Nya dalam Q.s. Al-Alaq.

Manusia tentu saja dapat meraih ilmu berkat bantuan Allah, bahkan istilah “’Alim” pun dibenarkan Al-Qur’an untuk disandang manusia (Q.s. Az-Zariyat 51:28) tetapi betapa pun dalam dan luasnya ilmu manusia, terdapat sekian perbedaan antara ilmunya dan ilmu Allah.

Pertama, dalam hal objek pengetahuan; Allah mengetahui segala sesuatu, manusia tidak mungkin dapat mendekati pengetahuan Allah. Pengetahuan mereka hanya bagian kecil dari setets samudera ilmu-Nya. “Tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan seidkit” (Q.s. Al-Isra 17:85). “Katakanlah, kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis)kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)” (Q.s. Al-Kahfi 18:109).

Kedua, kejelasan pengetahuan manusia tidak mungkin dapat mencapai kejelasan ilmu Allah. Pensaksian manusia yangpaling jelas terhadap sesuatu, hanya bagaikan melihatnya di balik tabir yang halus, tidak dapat menembus objek yang disaksikan sampai ke batas terakhir.

Ketiga, ilmu Allah bukan hasil dari sesuatu, tetapi sesuatu itulah yang merupakan hasil dari ilmu-Nya. Sedangkan ilmu manusia dihasilkan dari adanya sesuatu. Untuk hal yang ketiga ini, Al-Ghazali member contoh dengan pengetahuan pemain catir dan pengetahuan pencipta permainan catur. Sang pencipta adalah penyebab adanya catur, sedang keberadaan catur adalah sebab pengetahuan pemain. Pengetahuan Pencipta mendahului pengetahuan pemain, sedang pengetahuan pemain diperoleh jauh sesudah pengetahuan pencipta catur. Demikianlah ilmu Allah dan ilmu manusia.

Keempat, ilmu tidak berubah dengan perubahan objek yang diketahui-Nya. Itu berarti tidak ada kebetulan di sisi Allah, karena pengetaaahuan-Nya tentang apa yang akan terjadi dan saat kejadiannya sama saja di sisi-Nya.

Kelima, Allah mengetahui tanpa alat, sedang ilmu manusia diraihnya dengan panca indra, akal dan hatinya, dimana semuanya didahului oleh ketidaktahuan, “Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur dengan menggunakannya untuk meraih ilmu)”. (Q.s. An-Nahl 16:78).

Keenam, ilmu Allah kekal, tidak hilang dan tidak pula dilupakan-Nya. Tuhanmu sekali-kali tidak lupa. Q.s. Maryam 19:64.

Manusia memperoleh kehormatan karena ilmu yang dianugerahkan Allah kepadanya. “Dia (Allah) mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman, ‘Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama benda itu jika kamu memang yang benar!’ Mereka menjawab, ‘Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (Q.s. Al-Baqarah 2:30-31).

Dalam meneladani sifat Al’Alim, manusia hendaknya terus menerus berupaya menambah ilmunya. Rasul Saw setelah diperintahkan pada wahyu pertama untuk membaca, diperintahkan juga untuk berdoa. “(Bermohonlah wahai Muhammad) Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan”. (Q.s. Thaha 20:114).

Dalam upaya tersebut manusia dituntut agar dapat menggunakan secara maksimal seluruh potensi yang dianugerahkan Allah kepadanya – mata, telinga, akal dan kalbu – untuk meraih sebanyak mungkin ilmu yang bermanfaat, bukan hanya menyangkut “seluruh benda-benda” –yakni “seluruh alam raya” – yang telah dianugerahkan Allah potensi untuk mengetahuinya sejak kelahiran manusia pertama, tetapi juga ilmu yang bersifat non empiris yang hanya dapat diraih dengan kesucian jiwa dan kejernihan kalbu.

Lebih jauh dapat dikatakan bahwa pengetahuan yang hakiki tentang sesuatu adalah pengetahuan yang menimbulkan dampak dalam kehidupan. Karena itu Ja’far Ash-Shadiq misalnya menggarisbawahi bahwa, “pengetahuan, bukanlah apa yang diperoleh melalui proses belajar-mengajar, tetapi ia adalah cahaya yang dinampakkan Tuhan ke dalam hati orang-orang yang dikehendaki-Nya”

Pengetahuan atau mengetahui sesuatu nenurut Rasul Saw bukan hanya terbatas sampai pada kemampuan mengekpresikannya dalam bentuk kata tetapi ada pula yang menyentuh hati sehingga melahirkan amal-amal yang sesuai dengan petunjuk-petunjuk Ilahi. Pengetahuan dalam arti yang kedua inilah yang pada akhirnya menimbulkan kesadaran akan jati diri manusia sebagai makhluk yang dhaif di hadapan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

Ilmu seseorang harus membawanya kepada iman, selanjutnya ini mengantarnya kepada keikhlasan dan ketundukan kepada Allah. “Supaya orang-orang yang yang mempunyai ilmu mengetahui bahwa dia (Al-Qur’an) adalah benar-benar dari Tuhanmu, lalu mereka beriman, kemudian hati mereka tunduk kepada-Nya” (Q.s. Al-Haj 22:54). Demikian terlihat, ilmu mengantar kepada iman dan iman menghasilkan ketundukan kepada Allah SWT. “Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Alqur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud. Mereka berkata, ‘Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti terlaksana’, dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu”. (Q.s. Al-Isra 17:107-108-109).

Ilmu juga harus mengantar ilmuwan kepada amal dan karya-karya nyata bermanfaat. Rasul Saw berdoa memohon perlindungan Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat.

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari diri (perut) yang tidak kenyang dan dari doa yang tidak diterima” (H.R. Muslim).

Setiap ilmuwan dituntut untuk memberi nilai-nilai spiritual bagi ilmu yang diraihnya, sejak motivasi hingga tujuan dan pemanfaatannya. Memang boleh jadi tidak berbeda cara dan alat-alat meraih ilmu antara seorang dengan yang lain, hakekat ilmiahpun yang mereka raih tidak berbeda karena cara, alat dan hakekat ilmiah bersifat universal dan bebas nilai; tetapi motivasi, tujuan dan pemanfaatan ilmu, bagi ilmuwan yang meneladani Allah dalam sifat-Nya, tidaklah bebas nilai, ia harus “Bismi Rabbika”.

“Siapa yang mencari ilmu untuk memamerkan diri/menunjukkan kebolehan di hadapan cendekiawan, atau untuk berbantah-bantahan dengan yang jahil, maka dia di neraka” (Q.s. At-Thabarany dari Ummi Salamah).

Tidak etis melupakan peranan Allah atau menutup-nutupinya dalam setiap peristiwa alam, apalagi mengingkarinya. Ketika benih tumbuh, jangan berkata bahwa alam menumbuhkannya atau karena unsur ini dan kondisi itu, -kalaupun harus berkata demikian, jangan tutupi atau tidak mengingatkan peranan Allah, karena yang demikian dapat merupakan salah satu bentuk kedurhakaan terhadap Allah. Hukum sebab dan akibat, jangan pisahkan ia dari penyebab pertamanya yakni Allah SWT, karena jika dipisahkan, ia merupakan pengingkaran dan kekufuran paling sedikit dalam arti mengkufuri nikmat-Nya.

Suatu ketika Rasulullah Saw mengimani sahabat-sahabat beliau shalat subuh di Hudaibiyah, setelah pada malamnya hujan turun. Seusai shalat beliau mengarah kepada hadirin dan bersabda, “Tahukah kamu apa yang dikatakan Tuhan (Pemelihara) kamu?”. Mereka berkata, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”, “Allah berfirman – sabda Rasul menjelaskan – ‘pagi (ini) ada hamba-Ku yang percaya pada-Ku dan kafir dan ada juga yang kafir pada-Ku dan percaya (pada selain-Ku). Adapun yang berkata: “Kami memperoleh curahan hujan atas anugerah Allah dan rahmat-Nya, maka itulah yang percaya pada-Ku serta kafir terhadap bintang’, sedangkan yang berkata, “kami memperoleh curahan hujan oleh bintang ini dan itu, maka itulah yang kafir pada-ku dan percaya pada bintang”. (H.R. Al-Bukhari melalui Zaid bin Khalid Al-Juhani).

Dahulu ketika para arsitektur muslim membangun rumah-rumah tempat tinggal, mereka membangunnya dengan memperhatikan nilai-nilai agama. Memang bahan-bahan yang mereka gunakan, pengetahuan yang mereka terapkan dapat diketahui oleh muslim dan non muslim, tetapi yang meneladani Allah dalam ilmu-Nya, membangun rumah dengan memperhatikan nilai-nilai yang diamanatkan oleh Allah Penganugerah Ilmu. Sehingga sambil memperhatikan ventilasi udara, pencahayaan, keamanan dan kenyamanan penghuni dan tetangga, mereka juga sangat mengindahkan privasi dan terhalangnya pandangan yang bukan mahram melihat apa yang dilarang Allah untuk dilihat. Demikian, wa Allah A’lam.

M Quraish Shihab (Menyingkap Tabir Illahi)

AL-WAHHAB: Yang Maha Pemberi

AL-WAHHAB

Yang Maha Pemberi

Al-Wahhab, terambil dari akar kata “wahaba” yang berarti “memberï” dan “memberikan sesuatu tanpa imbalan”.

Dalam Al-Quran kata Al-Wahhabb ditemukan dalam tiga ayat, kesemuanya merupakan sifat Allah dan satu yang dirangkaikan dengan sifat-Nya yang lain yakni Al-Aziz yaitu dalam Q.s. Shad 38:9.

Al-Wahhab adalah yang memberi –walau tanpa dimintai- banyak dari miliknya. Dia memberi berulang-ulang, bahkan berkesinambungan tanpa mengharapkan imbalan, baik duniawai maupun ukhrawi. Al-Ghazali ketika menjelaskan makna kata Al-Wahhab menekankan bahwa pada hakekatnya tidak mungkin tergambar dalam benak adanya yang memberi setiap yang butuh tanpa imbalan atau tujuan duniawi atau ukhrawi, kecuali Allah SWT. karena siapa yang memberi disertai tujuan duniawi atau ukhrawi, baik tujuan itu berupa pujian, meraih persahabatan, menghindari celaan atau guna mendapatkan kehormatan, maka dia sebenarnya telah mengharapkan imbalan dan dengan demikian dia bukanlah Wahhab, karena yang dimaksud dengan imbalan dalam konteks makna kata ini, bukan sekedar sesuatu yang material. Melakukan sesuatu, yang bila tidak dilakukan dinilai buruk, pada hakekatnya adalah imbalan yang menjadikan pelakunya tidak berhak menyandang sifat ini. Di sisi lain, makhluk tidak mungkin akan dapat memberi secara bersinambungan atau terus menerus dan dalam keadaan apapun, karena makhluk tidak dapat luput dari kekurangan. Bukan juga Wahhab namanya, kecuali apa yang diberikannya dalam bentuk yang disebut di atas, merupakan nikmat dan bertujuan baik untuk yang diberi, kini dan masa datang. Demikian Ibnul Árabi. Karena itu anugerah-Nya yang diberikan kepada orang kafir tidak menjadikan-Nya dinamai wahhab, karena anugerah itu dapat menjadi bencana untuknya kini atau masa datang. Kata Al-Wahhab yang ditemukan sebanyak tiga kali dalam Al-Quran selalu mengisyaratkan adanya rahmat, atau kesinambungan. Perhatikan ketiga ayat yang menggunakan kata AL-Wahhab berikut ini:

“Atau apakah ada di sisi mereka perbendaharaan rahmat Tuhanmu Yang Maha Mulia lagi Wahhab (Maha Pemberi)?” (Q.s. Shad 38:9). Bukankah Allah memiliki pula perbendaharaan siksa? Tetapi karena yang dikemukakan adalah rahmat-Nya, maka sifat Wahhab-Nya yang disebut.

“Wahai Tuhan kami, jangan Engkau sesatkan hati kami sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami dan anugerahilah kami rahmat dari sisi-Mu, Karena sesungguhnya Engkaulah al-Wahhab Yang Maha Pemberi”(Q.s. Ali Imran 3:8). Permohonan di sini adalah bersinambungnya petujuk yang selama ini telah diterima dan yang sekaligus merupakan bagian dari rahmat Allah SWT.

Ayat ketig aadalah doa Nabi Sulaeman yang diabadikan Al-Qurán: “Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak patut bagi seorangpun sesudahku. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi”. (Q.s. Shad 38:35).

Kerajaan yang dimohonkannya itu adalah kerajaan yang tiada taranya, sehingga terus menerus dikenang sepanjang masa.

Sekali lagi, seorang manusia tidak dapat menjadi Wahhab, karena tidak ada satu aktifitaspun yang dilakukannya yang luput dari tujuan, walaupun aktivitas tersebut berupa ibadah. Dalam beribadah tujuan untuk menghindar dari neraka-Nya, atau meraih surga-Nya merupakan dua tujuan yang sering kali menghiasi jiwa setiap pelaku ibadah. Peringkat tujuan yang lebih tinggi pun dari kedua tujuan diatas, -yakni bukan karena takut atau mengharap tapi karena cinta dan syukur kepada-Nya, belum juga menjadikan sang árif yang beribadah terlepas dari tujuan-tujuan atau harapan meraih imbalan karena kemampuan manusia hanya sampai di sana, maka Allah mentoleransi pemberian yang bertujuan untuk menjalin persahabatan atau menghindar dari cela atau bencana, selama itu diberikan dalam batas kewajaran yang benar dalam beribadah. Allah juga mentoleransi mereka yang beribadah untuk meraih surga atau menghindar dari neraka, selama ibadah yang dilakukannya karena Allah. Bukankah Allah merangsang manusia dengan take and give (mengambil dan memberi)?. Äpakah mereka tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah menerima taubat hamba-hamba-Nya (memberi mereka pengampunan) dan mengambil sedekah?” (Q.s. At-Taubah 9:104).

Bukankah Allah sendiri dalam AL-Qurán menggunakan kata –kata “tijarah” (perniagaan), “baí” (jual beli), “qardh” (kredit) dan sebagainya.

“Wahai orang-orang yang beriman maukah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari siksa pedih?” (Q.s. Ash-Shaf 61:10). Tahukah anda perniagaan apa itu? Dengarkan lanjutan ayat tersebut, “Hendaklah kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjuang di jalan Allah dengan harta dan jiwa kamu…”. Anda boleh bertanya apa imbalan bahkan keuntungan yang diraih dari perniagaan ini?.

Dengarkan jawabannya pada ayat selanjutnya, “Dia (Allah) akan mengampuni dosa-dosa kamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang sungai-sungai mengalir dibawahnya serta tempat-tempat tinggi yang baik di surga Aden. Itulah keberuntungan yang besar.” (Q.s. Ash-Shaf 61:12). Bahkan ada juga panjar yang diterima di dunia, karena firman-Nya sesudah janji ini, “Masih ada yang lain yang kamu sukai yaitu pertolongan Allah dan kemenangan yang dekat (dalam kehidupan dunia ini)” (Q.s. Ash-Shaf 61:13).

Memang, masyarakat umum memahami ketiadaan pamrih sebagai melakukan sesuatu demi karena Allah semata, sehinga siapa yang melakukan sesuatu untuk tujuan yang lain bukan untuk-Nya semata, maka itulah pamrih. Tetapi ini tidak sepenuhnya benar, karena suatu tujuan di samping dapat merupakan tujuan utama dapat juga sebagai “jalan yang mengantar” ke tujuan yang lebih utama dan ketika itu, jalan tersebut tidak lagi menjadi tujuan. Seseorang yang bekerja untuk mendapatkan uang, pada hakekatnya tujuannya bukanlah uang, tetapi ketenangan hidup dan kenyamanannya. Yang membedakan tujuan yang “merupakan jalan”dan “tujuan yang sesungguhnya” adalah bahwa yang “merupakan jalan”, akan diabaikan, jika yang menjadi tujuan sesungguhnya telah dicapai. Namun keduanya adalah tujuan. Yang beribadah untuk meraih surga atau menghindar dari neraka –tujuannya adalah Allah, walau tujuan yang mengantarnya ke sana adalah meraih surga atau menghindar dari neraka.

Jika demikian dapatlah seseorang meneladani Allah dalam sifat ini? Kita menjawab ; mengapa tidak? Bukankah Allah –seperti telah diuraikan diatas – telah memberi toleransi? Karena hanya sampai disana kemampuan manusia. Bukankah sejak semula telah ditegaskan bahwa, “Laisa ka mistilihi Syaiun?” Tidak ada yang serupa dengan-Nya? Bukankah sejak dini pula telah ditekankan bahwa meneladani-Nya adalah sesuai dengan kemampuan dan kedudukan manusia sebagai makhluk? Tentu saja semakin banyak toleransi yang diterima atau diambil, semakin rendah tingkat penerima atau pengambilnya. Pemberi yang motivasinya memperoleh imbalan serupa lebih rendah tingkatnya, dibanding dengan yang tidak mandapat imbalan yang serupa. Äpa yang kamu berikan dari riba supaya bertambah banyak harta manusia, maka tidaklah bertambah banyak di sisi Allah “ (Q.s. Ar-Rum 30:39). Walau itu tidak dilarangnya, namun sejak wahyu ketiga Dia berpesan kepada Rasul-Nya: “Jangan memberi dengan mengharap imbalan yang lebih banyak”. (Q.s. Al-Muddasttsir 74:6).

Menanti ucapan terima kasih tidak dilarangnya, tetapi yang memberi tanpa mengharapkan terima kasih atau balasan, dipuji bahkan diabadikan ucapanya – walau ketika memberi mengharapkan keselamatan di hari kemudian. “Mereka berkata ‘Kami memberi makan kepada kamu demi karena Allah, kami tidak mengkehendaki diri kami balasan dan tidak pula terima kasih. Sesungguhnya kami takut kepada Tuhan kami, pada hari yang sangat bermuka masam”. (Q.s. AL-Insan 76:9-10).

Pemberian yang tertinggi yang dapat dilakukan manusia adalah memberi tanpa takut neraka atau tanpa mengharap surga, namun sekali lagi – itupun tidak menjadikannya Wahhab, karena hanya Allah Al-Wahab, namun, yang demikian ditoleransi oleh Yang Maha Pemberi anugerah- lahir dan batin itu. Karena itu meneladani sifat ini menuntut upaya terus menerus untuk memberi sekuat kemampuan. Ciri orang bertaqwa menurut Q.s. Ali Imran 3:134 antara lain adalah “Menafkahkan (miliknya) baik dalam keadaan senang (lapang) maupun susah (sempit)”. Itu dilakukanya dengan rela karena dia takut merasa bahwa Allah telah membiasakan hidupnya dengan curahan serta kesinambungan anugerah-Nya.

M Quraish Shihab (Menyingkap Tabir Illahi)

AR RASYIID: Yang Maha Tepat Tindakannya

AR RASYIID

Yang Maha Tepat Tindakannya

Kata “Ar Rasyiid, terambil dari kata yang terdiri dari rangkaian huruf-huruf ra’, syin, dan dal. Makna dasarnya adalah “ketepatan dan kelurusan jalan”. Dari sini lahir kata “Ruusyd” yang bagi manusia adalah “kesempurnaan akal dan jiwa”, yang menjadikannya mampu bersikap dan bertindak setepat mungkin. “Mursyid” adalah pemberi petunjuk/bimbingan yang tepat. Sementara pakar bahasa berpendapat bahwa kata ini mengandung makna kekuatan dan keteguhan. Dari sini kata “Rasyaadah” diartikan “batu karang”

Dalam Alquran kata “Rasyiid” ditemukan sebanyak tiga kali. Tidak satupun menunjuk kepada Allah SWT; kesemuanya menunjuk kepada manusia. Bentuk jamaknya, Raasyiduun, hanya ditemukan sekali, juga menunjuk kepada manusia. Namun demikian, ditemukan ayat yang dapat dipahami sebagai menunjuk bahwa sifat ini disandang oleh Allah SWT, yaitu firman-Nya, “Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tak akan mendapatkan seorang mursyidaa/pemimpin yang dapat member petunjuk kepadanya” (Q.s. Al-Kahfi 18:17).

Demikian juga firman-Nya yang mengabadikan do’a “Ashaab Alkahfi”, sekelompok pemuda yang menghindar dari kekejaman penguasa masanya dan ditidurkan Allah selama 309 tahun, “Wahai Tuhan (kami) berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan tunjukkanlah bagi kami Rasyadaa dalam urusan kami (jalan kemaslahatan untuk melakukannya)”.(Q.s. Al Kahfi 18:10).

Siapa yang menganugerahkan rasyadaa pastilah dia Rasyiid.

Menurut Imam Ghazali, Rasyiid adalah “Dia yang mengarahkan penanganan dan usahanya ke tujuan yang tepat, tanpa petunjuk, berupa pembenaran atau bimbingan dari siapapun”. Sifat ini hanya sempurna disandang oleh Allah SWT.

Sifat ini-menurut sementara ulama, mirip dengan sifat Hakiim, karena Al Hakim adalah yang menempatkan segala sesuatu pada tempatnya, dan demikian pula Ar Rasyiid, yakni yang benar lagi tepat dalam perbuatannya serta lurus penanganannya. Namun keduanya berbeda, karena sifat rusyd yang disandang oleh Rasyiid memberi kesan terpenuhinya sifat ini dalam diri penyandangnya, bermula dari dirinya sebelum yang lain.

Manusia yang menyandang sifat ini dijelaskan oleh Q.s. Al-Hujurat 49:7 “Ketahuilah olehmu bahwa ditengah kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan, benar-benarlah kamu akan mendapat kesulitan, tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah Ar-Rasyidun yang benar lagi tepat dalam perbuatannya serta lurus penanganannya.

Ayat ini mengkonfirmasikan bahwa Ar-Rasyidun adalah mereka yang memperoleh anugerah Allah berupa rasa cinta kepada keimanan sehingga mentaati Rasulullah Saw dan konsisten dalam ketaatannya, disertai rasa kagum kepada beliau yang menghasilkan dorongan untuk meneladaninya. Mereka adalah yang menilai keimanan sebagai hiasan hidupnya, sehingga tidak ada sesuatu bagi mereka yang lebih indah dan berharga bahkan menyamai dan mendekati nilai keimanan. Di sisi lain mereka sangat benci kekufuran, yakni segala sesuatu yang menutupi kusucian fitrah dan kemurnian ahlak, juga kepada kefasiqan yaitu sikap dan ucapan yang dapat mengantar kepada pengingkaran agama dan terbebaskan pula dia dari kedurhakaan, yakni keengganan melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya. Demikian Al-Biqa’iy dalam tafsirnya menjelaskan ayat diatas.

Anda lihat bahwa sifat ini disandang oleh manusia atas bantuan Allah, karena itu tidak heran jika Allah SWT memerintahkan untuk menyampaikan bahwa, “Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudharatan kepadamu dan tidak (pula) rasyada”. Q.s. Al-Jin 72:21). Yang menganugerahkannya hanya Allah, atas pilihan dan kebijaksanaan-Nya, “Sesungguhnya telah kami anugerahkan kepada Ibrahim Rusyda-hu sebelum (Musa dan Harun) dan adalah Kami mengetahui (keadaan)nya.” (Q.s. Al-Anbiya 21:51). Nabi Musa pernah memohon melalui hamba Allah yang dianugerahi-Nya rusyda dengan berucap, “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepada rusydaa yang telah diajarkan (Allah) kepadamu?”. (Q.s. Al-Kahfi 18:66), namun Musa gagal dalam ujian yang diikutinya. Nabi Muhammad Saw dituntun agar berdoa, “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat dari ini rusyda.” (Q.s. Al-Kahfi 18:24).

Jalan menuju rusyd jelas, “Sesungguhnya telah jelas Ar-Rusyd dari jalan yang sesat” (Q.s Al-Baqarah 2:256). Jinpun mengetahuinya, ucap mereka, “Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Qur’an yang menkjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada Ar-rusyd, maka kamu beriman kepadanya” (Q.s Al-Jin 72:1-2). Karena itu pula bagi yang bermaksud meraihnya, Allah berpesan, “Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka yarsyudun (mengetahui yang benar dan manangani segala persoalan dengan tepat)” (Q.s. Al-Baqarah 2:186).

Mereka yang angkuh tidak mungkin menyandang sifat ini, karena “Mereka jika melihat tiap-tiap ayat (Allah) mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan Ar-rusyd, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus menempuhnya” (Q.s Al-araf 7:146). Mereka yang tidak bertaqwa, yang bergelimang dalam dosa yang tidak bermoral atau mempermalukan tuan rumah dihadapan tamunya, adalah orang-orang yang jauh dari sifat Ar-Rusyd (Q.s Hud 11:78). Demikian juga penguasa yang otoriter, durhaka lagi bejat (Q.s Hud 11:97). Kemampuan mengelola harta adalah tahap awal dan tanda pertama dari ada tidaknya sifat ini pada seseorang. Karena itu Allah memerintahkan kepada para wali yang diamanati harta anak yatim, “Ujilah anak yatim itu samapi mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah memiliki rusyd-an (yakni kemampuan memelihara dan mengelola harta dengan baik), maka serahkanlah kepada mereka harta-harta mereka” (Q.s An-Nisa’ 4:6).

Demikian ayat-ayat Al-Quran menggambarkan sifat ini bagi manusia. Mereka yang mampu menghiasi dirinya dengan tuntunan diatas, wajar untuk dinamai Rasyiid, sekaligus telah meneladani Allah dalam sifat-Nya ini, sesuai dengan kemampuannya sebagai makhluk. Demikian Wa Allah’ Alam.

AR-RAZZAQ:Maha Pemberi Rezeki

AR-RAZZAQ

Maha Pemberi Rezeki

M Quraish Shihab (Menyingkap Tabir Ilahi)

Kata Ar-Razzaq, terambil dari akar kata “Razaqa” atau “rizq” yakni rezeki. Yang pada mulanya – sebagaimana ditulis oleh pakar bahasa Arab Ibnu Faris – berarti “pemberian untuk waktu tertentu”. Di sini terlihat perbedaannya dengan “Alhibah” dan disini pula dapat dipahami perbedaan antara “Ar-Razzaq” dan “Al-Wahhab”. Namun demikian, arti asal ini berkembang, sehingga rezeki antara lain diartikan pangan, pemenuhan kebutuhan, gaji, hujan dan lain-lain, bahkan sedemikian luas dan berkembang pengertiannya sehingga “anugerah kenabian” pun dinamai rezeki. Nabi Syuaib yang berkata kepada kaumnya, “Wahai kaumku bagaimana fikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan Dia menganugerahi aku dari-Nya rezeki yang baik? (yakni kenabian)” (Q.S Hud 11:88).

Dalam Alqur’an kata Ar-razaaq hanya ditemukan sekali, yakni pada Q.s Az-Zariyat 51:58, tetapi bertebaran ayat-ayat yang menggunakan akar kata ini, yang menunjuk kepada Allah AWT.

Ar-Razzaq adalah Allah yang berulang-ulang dan banyak sekali memberi rezeki kepada mahluk-mahluk-Nya. Imam Ghazali ketika menjelaskan arti Ar-Razzaq menulis bahwa, “Dia yang menciptakan rezeki dan menciptakan yang mencari rezeki, serta Dia yang mengantarnya kepada mereka dan menciptakan sebab-sebab sehingga mereka dapat menikmatinya”.

Rezeki oleh sementara pakar hanya dibatasi pada pemberian yang bersifat halal, sehingga haram tidak dinamai rezeki. Tetapi pendapat ini ditolak oleh mayoritas ulama dan karena itulah – Alqur’an dalam beberapa ayat menggunakan istilah “rizqan hasanan” (rezeki yang baik), untuk mengisyaratkan bahwa ada rezeki yang “tidak baik” yakni yang haram. Berdasar keterangan di atas, dapat dirumuskan bahwa “rezeki” adalah “segala pemberian yang dapat dimanfaatkan, baik material maupun spiritual”.

Setiap mahluk telah dijamin Allah rezeki mereka. Yang memperoleh sesuatu secara tidak sah/haram dan memanfaatkannya pun telah disediakan oleh Allah rezekinya yang halal, tetapi ia enggan mengusahakannya atau tidak puas dengan perolehannya, atau terhalangi oleh satu dan hal lain sehingga tidak dapat meraihnya. Karena itu, agama menekankan perlunya berusaha dan bila tidak dapat karena terhalangi oleh satu dan lain sebab, maka manusia diperintahkan berhijrah. Di sisi lain manusia juga harus memiliki sifat “qana’ah”, tetapi ini bukan sekedar “puas dengan apa yang telah diperoleh”, tetapi kepuasan tersebut harus didahului oleh tiga hal. 1)Usaha maksimal yang halal, 2)Keberhasilan memiliki hasil usaha maksimal itu dan 3) Dengan suka cita menyerahkan apa yang telah dihasilkan karena puas dengan apa yang telah diperoleh sebelumnya. Dengan demikian usaha maksimal tanpa keberhasilan serta kemampuan kepemilikikan, belum lagi mengantar seseorang memiliki sifat yang dianjurkan agama ini. Lebih-lebih jika ia tidak dengan suka hati menyerahkan apa yang telah dihasilkannya itu.

Selanjutnya, jaminan rezeki yang dijanjikan Allah kepada mahluk-Nya bukan berarti memberinya tanpa usaha. Kita harus sadar bahwa yang menjamin itu adalah Allah yang menciptakan mahluk serta hukum-hukum yang mengatur mahluk dan kehidupannya. Bukankah manusia telah terikat dengan hukum-hukum yang ditetapkan-Nya? Kemampuan tumbuh-tumbuhan untuk memperoleh rezekinya, serta organ-organ yang menghiasi tubuh manusia dan binatang, insting yang mendorongnya untuk hidup dan makan, semuanya adalah bagian dari jaminan rezeki Allah. Kehendak manusia, instingnya, perasaan dan kecenderungannya, selera dan keinginannya, rasa lapar dan hausnya sampai kepada naluri mempertahankan hidupnya, adalah bagian dari jaminan rezeki Allah kepada mahluk-Nya. Karena tanpa itusemua, maka tidak akan ada dalam diri manusia dorongan untuk mencari makan, tidak pula akan terdapat pada manusia dan binatang pencernaan, kelezatan, kemampuan membedakan rasa dan sebagainya.

Allah sebagai “Ar-Raazaq” juga menjamin rezeki dengan menghamparkan bumi dan langit dengan segala isinya. Dia menciptakan seluruh wujud dan melengkapinya dengan apa yang mereka butuhkan sehingga mereka dapat memperoleh rezeki yang dijanjikan Allah itu. Rezeki dalam pengertiannya yang lebih umum tidak lain kecuali upaya mahluk untuk meraih kecukupan hidupnya dari dan melalui mahluk lain. Semua mahluk yang membutuhkan rezeki diciptakan Allah dengan kebutuhan atas mahluk lain agar dimakannya agar dapat melanjutkan hidupnya, demikian sehingga rezeki dan yang diberi rezeki selalu tidak dapat dipisahkan. Setiap yang diberi rezeki dapat menjadi rezeki untuk yang lain, dapat makan dan menjadi makanan buat yang lain.

Jarak antara rezeki dan manusia, lebih jauh dari jarak rezeki dengan binatang, apalagi tumbuhan. Ini bukan saja karena adanya aturan hukum-hukum dalam cara perolehan dan jenis yang dibenarkan bagi manusia, tetapi juga karena seleranya yang lebih tinggi. Oleh sebab itu manusia dianugerahi Allah sarana yang lebih sempurna, akal, ilmu, pikiran dan sebagainya, sebagai bagian dan jaminan rezeki Allah. Tetapi sekali-kali jaminan rezeki yang dijanjikan Allah bukan berarti memberinya tanpa usaha.

Jarak antara rezeki bayi dengan rezeki orang dewasapun berbeda. Jaminan rezeki Allah, berbeda dengan jaminan rezeki orang tua kepada bayi-bayi mereka. Bayi menunggu makanan yang siap dan menanti untuk disuapi. Manusia dewasa tidak demikian. Allah menyiapkan sarana dan manusia diperintahkan mengolahnya, “Dia yang menjadikan bagi kamu bumi itu mudah (untuk dimanfaatkan) maka berjalanlah dia segala penjurunya dan makanlah dari rezeki-Nya” (Q.s Al-Mulk 67:15). Karena itu ketika Allah Ar-Razzaq itu menguraikan pemberian rezeki-Nya dikemukakannya dengan menyatakan bahwa, “Nahnu narzuqukum Wa Iyyahum” (Kami memberi rezeki kepada kamu dan kepada mereka anak-anak kamu (Q.s Al-An’am 6:151). Penggunaan kata Kami – sebagaimana pernah diuraikan sebelum ini – adalah untuk menunjukkan keterlibatan selain Allah dalam pemberian/perolehan rezeki itu. Dalam hal ini adalah keterlibatan mahluk-mahluk yang bergerak itu mencarinya.

Itu sebabnya ketika menyampaikan jaminan-Nya, Allah mengisyaratkan bahwa jaminan itu untuk semua “dabat” (Yang bergerak). Perhatikanlah Firman-Nya, “Wa Ma Min Dabaten Fil Ardhi Illa’Ala Alahi Rizquha (Tidak satu dabat [binatang melata yang bergerak] pun di bumi, kecuali Allah yang menjamin rezekinya” (Q.s. Hud 11:6). Lima kali dalam Alqur’an, Allah mensifati diri-Nya dengan Khairur Raziqin (sebaik-baik pemberi rezeki) dari enam kali kata “Raaziqin”.

Hanya sekali Alqur’an mensifati Allah dengan Ar-Razzaq, yaitu dalam Q.S. Az-Zariyat 51:58, “Tiada Aku menghendaki pemberian (rezeki) dari mereka tidak pula Aku menghendaki diberi makan oleh mereka. Sesunguhnya Allah adalah Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki) yang memiliki kekuatan yang kukuh”. Agaknya itu untuk mengisyaratkan bahwa dalam perolehan rezeki harus ada keterlibatan mahluk bersama Allah. Alllah adalah sebaik-baik pemberi rezeki, antara lain karena Dia yang menciptakan rezeki beserta sarana dan prasarana perolehannya, sedang manusia hanya mencari dan mengolah apa yang telah diciptakan-Nya itu. Bukankah yang dimanfaatkan manusia dalah bahan mentah yang disiapkan Allah atau hasil olahan dari bahan mentah yang telah tersedia itu?

Sementara orang berkata bahwa Rasul Saw pernah memuji burung-burung –dengan maksud agar diteladani- dalam perolehan rezeki mereka,.. “Burung-burung keluar lapar di waktu pagi dan kembali kenyang disore hari”. Apa yang disabdakan Rasul ini benar adanya, tetapi harus diingat dan diteladani bahwa burung-burung tidak tinggal diam di sarang mereka, tetapi terbang keluar untuk meraih rezekinya. Demikian pula seharusnya manusia.

Yang meneladani Allah dalam sifat-Nya ini terlebih dahulu harus menyadari makna-makna di atas. Ia harus menyadari sepenuhnya bahwa tiada Pemberi Rezeki kecuali Allah SWT. Kesadaran tentang jaminan rezeki Allah itu –dengan pengertian diatas- harus sedemikian kukuh, tidak kurang dari kukuhnya keyakinan seorang tentang kemampuannya mengucapkan kata-kata. “Dan dari langit ada rezeki kamu dan apa-apa yang dijanjikan kepadamu. Demi Tuhan Pencipta langit dan bumi, yang itu adalah benar, seperti ucapan (yang kamu mampu ucapkan)”. (Q.s. AZ-Zariyat 51:22-23).

Setelah itu sebagai peneladanan Allah Ar-Razzaq (Yang menganugerahkan rezeki material dan spiritual) dia berkewajiban menjadi penyebab sampainya rezeki Allah yang diterimanya kepada orang lain, baik dengan ucapan maupun perbuatannya. Semakin banyak mahluk yang diantarkan kepada rezeki, semakin tinggi keteladannya kepada Ar-Razzaq.

Memang, menyangkut rezeki yang bersifat material seseorang tidak harus atau menghabiskan seluruhnya. Camkanlah Firman-Nya yang menjelaskan sifat-sifat orang bertaqwa Q.s. Al-Baqarah 2:3 “dan dari sebagian apa yang Kami rezekikan kepada mereka, mereka nafkahkan” atau perintah-Nya yang berbunyi, “Dan nafkahkanlah sebagian dari apa yang kami rezekikan kepadamu” (Q.s. Al-Baqarah 2:54). Ayat-ayat tersebut mengandung makna bahwa sebagian yang direzekikan dan tidak dinafkahkan itu, hendaknya ditabung untuk keperluan yang tidak terduga. Adapun rezeki immaterial, berupa ilmu pengetahuam, maka ini terlarang menyembunyikannya, apalagi “ilmu bertambah bila dinafkahkan berbeda dengan harta yang dapat berkurang karena diberikan”. Ilmu memelihara manusia, sedang harta harus dipelihara manusia.