Dunia Bukan Akherat Bukan Dunia

“Bekerjalah untuk urusan duniamu seolah- olah engkau akan hidup selamanya, dan bekerjalah untuk urusan akheratmu seolah-olah engkau akan mati besok”  (Abdullah bin Amr bin al-Ash)

 

Kalimat di atas, di masa kini sering disalah artikan dan disalahgunakan. Seringkali disalah tafsirkan sehingga membatasi pengertian kita terhadap akherat dan dunia.

Sholat, puasa, zakat, haji, akan hanya bernilai dunia, jika ternyata tujuan kita melakukan  semua hal itu tidak dengan niat yang ikhlas.

Sering disalahartikan dengan memahami bahwa itu bekerja, sekolah, berdagang, kuliah, dan aktifitas- aktifitas kita sehari- hari yang (terlihat) tidak berkaitan dengan akherat kita adalah urusan “dunia”. Dan urusan “akherat” pasti tidak jauh- jauh dari mesjid: sholat, puasa, sedekah, zakat dan haji. Tidak ada urusan antara hal- hal yang disebut “dunia”tadi dengan akherat.

Padahal, mencari nafkah adalah ibadah, karena itu adalah kewajiban seorang kepala keluarga. Berdagang adalah ibadah, jika jujur, dan bisa menjadi teladan untuk orang- orang di sekitar kita. Sekolah adalah ibadah, jika tujuan kita untuk mencari ilmu. Dan walaupun tujuan kita mencari ilmu agar bisa digunakan untuk mencari uang, tetap menjadi ibadah. Jika ketika uang sudah di tangan kita, kita tunaikan zakat, dan berinfaq kepada sebanyak mungkin orang.

Bekerja,mencari uang sebanyak mungkin kadang dianggap ngoyo untuk mengejar urusan dunia.

Padahal, itu bisa menjadi tiket masuk kita ke syurga.

Bayangkan saja, apakah tanpa uang kita bisa mengurus anak yatim?

Apakah tanpa uang kita bisa membangun mesjid di daerah yang belum ada mesjid?

Apakah tanpa uang kita bisa bershodaqoh?

Bagaimana kita bisa membayar zakat, jika kitanya saja wajib dizakati?

Apakah tanpa uang kita bisa naik haji atau menghajikan orang- orang yang sholeh tapi lemah secara finansial?

Apakah tanpa uang kita bisa membuka lapangan kerja dengan membuat perusahaan, untuk menyelamatkan para orang miskin dari kekufuran?

Tidak!

Apa pun profesi anda sekarang ini, bekerjalah lebih keras dan bekerjalah lebih cerdas.

Kita harus kaya, dan janganlah takut menjadi kaya!

Sembilan dari sahabat yang dijanjikan masuk syurga adalah pengusaha.

Uang yang banyak dan halal baru akan terasa manfaatnya untuk umat jika berada di tangan orang yang sholeh.

Ya! Dunia bukan akherat, dan akherat bukan dunia, tergantung niat dan tujuan kita.

www.didaytea.com

240920111027

Di hari yang penuh senyum dan keceriaan, seperti biasanya.

Bersukses- sukses Dahulu, Kini dan Kemudian

” Bahagia itu adalah ketika bisa menikmati proses dengan cara meluruskan niat dan berikhtiar secara maksimal, sukses itu adalah ketika kita bisa mencapai sukses-sukses kecil dalam perjalanan untuk mencapai sukses- sukses besar, bukan harus bersakit-sakit dahulu, baru bersenang-senang kemudian.”

 

Gabungkanlah antara tingginya mimpi dan cita-cita kita, dengan  berusaha maksimal, disertai niat yang lurus dan ikhlas, sambil menikmati suksesnya setiap langkah yang kita ambil. Nikmati juga keberhasilan kita ketika berhasil belajar dari sebuah kegagalan, karena itu adalah pertanda bahwa kita akan bisa melakukan hal yang gagal itu dengan benar dan lebih baik.

 

Beberapa tahun ini, saya sangat meminati buku-buku tentang kesuksesan dan motivasi.

 

Kita harus sukses, bahagia, dunia akherat!

Kita harus menjadi manusia luar biasa!

Kita harus menjadi manusia super!

Kita harus bebas finansial!

Dan puluhan jargon- jargon lainnya…

 

Di tulisan ini saya lebih sering memakai kita. Mohon maaf yang tidak sependapat dan tidak merasa sebagai bagian dari “kita”.

Tapi, definisi kebahagiaan dan kesuksesan itu, ternyata masih diindetikkan dengan kesenangan karena banyaknya uang, besarnya penghasilan, jumlah aset, banyaknya kendaraan. Pokoknya  bahagia dan sukses itu banyak uang, titik.

 

Tidak sepenuhnya salah sih.

 

Karena, jika kita ingin banyak beramal sholeh, salah satu cara yang bisa mengakomodir keinginan kita untuk beramal,  ya dengan cara mencapai kondisi finansial yang cukup. Bagaimana kita bisa bersedekah jika kita saja masih pontang- panting dengan urusan dapur dan SPP sekolah anak kita?

 

Uang memang bukan segalanya, tapi dengan uang kita bisa melakukan hampir segalanya.

 

Nahh… Kembali ke topik utama..

 

Masalah yang terbesar adalah ketika ternyata, setelah bertahun-tahun berusaha, kita hampir tidak merasa bahwa si parameter2 kesuksesan itu ternyata tidak pernah kita capai sepenuhnya. Selalu saja ada yang kurang.

 

Kalah kita pikir-pikir sih, di dalam setiap tahapan kehidupan kita, sesungguhnya kita tidak pernah benar- benar sukses dan bahagia.

 

Kita kilas balik saja kehidupan kita ketika masih di kelas enam es de, menjelang ujian.

Kita pasti akan berusaha keras, belajar habis-habisan, ikutan bimbel, menyewa guru privat, minum cerebrovit, mencekoki diri kita dengan susu murni bergelas- gelas, dengan tujuan, agar kita bisa sukses lulus ujian dengan nilai yang tinggi.

 

Ketika kita ternyata berhasil lulus, dengan nilai yang tinggi, apakah kita bahagia?

 

Ternyata tidak!

 

Kebahagiaan kita ternyata hanya berlangsung selama beberapa minggu, karena ternyata, kita sudah dihadapkan lagi dengan masalah baru.

 

Kita sudah berhadapan lagi dengan tantangan hidup yang baru. Kali ini tantangannya adalah: kita harus bisa menembus SMP favorit.

 

Segala strategi, daya, dan upaya dikerahkan agar kita bisa masuk ke SMP favorit tersebut. Eh, ternyata setelah masuk SMP favorit tersebut, masalah hidup bukannay berkurang, malah bertambah. Mata pelajaran baru yang lebih sulit, lingkungan baru, dan segudang persoalan lagi yang harus kita hadapi.

 

Dan paket- paket masalah dalam hidup kita ini tidak  pernah selesai, hal ini ternyata adalah Deja Vu yang terus berulang sepanjang hidup kita.

 

Tantangan hidup seperti ini akan selalu terulang di dalam setiap tahapan kehidupan kita.

 

Setiap ujian datang silih berganti.

 

Setiap tantangan selalu datang menghadang.

 

Dari SMP ke SMA, hal yang sama terulang kembali.

 

Dari SMA ke kuliah, lagi-lagi masalah yang sama.

 

Sudah lulus kuliah, harus dipusingkan lagi dengan masalah mencari pekerjaan.

 

Ketika sudah mendapat pekerjaan, masalah  mencari jodoh yang datang.

 

Ketika sudah menikah, keinginan memiliki keturunan yang baik  juga akan menjadi tantangan yang menghadang.

 

Ketika sudah punya anak, mau disekolahkan di mana?

 

Dan seterusnya sampai maut menjemput kita, ternyata hidup ini adalah perpindahan antara satu masalah kemasalah lainnya.

 

Terus, kapan kita bahagianya dong?

 

Bagi seorang muslim, kebahagiaan dan kesuksesan bukan hanya semata kesenangan karena telah mencapi hasil akhir. Kebahagiaan tertinggi yang bisa dicapai adalah ketika kita diridhoi oleh Allah. Jika sudah diridhoi Allah, kita pasti akan bahagia dan sukses di dunia dan akherat kelak.

 

Bagaimana caranya?

 

Menikmati proses, itu adalah kuncinya.

 

Bagaimana menikmati proses?

 

Dengan cara meluruskan niat dan memaksimalkan ikhtiar.

 

Dengan cara melakukan semua langkah kecil dalam kehidupan kita dengan benar, jauh dari cara yang tidak disukai Allah. Tidak dengan kecurangan, tidak dengan kebohongan, tidak dengan kelicikan.

 

Ketika kita bisa melalui ujian dengan jujur,tidak ,mencontek, itu adalah kesuksesan dan kebahagiaan.

 

Ketika kita mendapatkan jodoh kita dengan proses yang baik, itu adalah kebahagiaan dan kesuksesan kita.

 

Ketika kita bekerja,atau berusaha dengan jujur dan amanah, itu adalah kesuksesan dan kebahagiaan kita, berapapun keuntungan dan penghasilan kita.

 

Ketika kita bisa mendidik anak kita dengan baik, itu adalah kesuksesan dan kebahagiaan kita, walau kadang selalu ada kerikil kenakalan dan batu perlawanan yang menghalangi jalan kita.

 

Ketika kita bisa membuat orang-orang di sekitar kita nyaman dan tentram dengan kehadiran kita di dekatnya, itu adalah kesuksesan dan kebahagiaan tak terkira.

 

Sepertinya kita sedang menuju puncak sebuah gedung yang tidak ada liftnya, setiap langkah kecil yang sukses kita lakkan melalui satu buah anak tangga, akan mengantarkan kita lebih dekat puncak tujuan kita.
Seperti kita akan memindahkan segunung batu bata, maka yang kita lakukan pertama kali adalah memindahkan satu buah bata yang terdekat. Setiap batu bata yang berpindah, itu adalah kesuksesan kecil yang akan mengantarkan kita ke kesuksesan besar.
Perjalanan satu juta kilo meter pun akan selalu dimulai dengan satu langkah kecil.

Kesuksesan akbar, bukan hanya sekedar besar, pasti adalah akumulasi dari kesuksesan- kesuksean kecil.

 

Mari kita nikmati proses!

 

(sebuah inspirasi dari salah satu kajian Al Hikam Aa Gym, dan kutipan wawancara Mario Teguh dengan Sufinews)

didaytea.com

170920111721

Doha-Ras Laffan HighWay, diiringi oleh Canon Acoustic Guitar.

 

 

 

Refleksi 10 Tahun Kelulusan

               Pagi hari di 30 Juni 2001.

Hari itu adalah hari paling campur aduk di dalam hidupku selama bersekolah di SMKN 13.

Gembira. Iya lah, karena itu hari kelulusanku.

Sedih, karena aku harus berpisah dengan orang-orang yang sudah sangat dekat selama empat tahun bersekolah. Perpisahanku dengan teman-teman dekatku bahkan diiringi isak tangis oleh beberapa teman yang menjadi secret admirerku, eh, kebalik ketang, teman- teman yanm diam-diam pernah ku secret admirer-i, hehehe…pasti yang kenal mah tahu lah. Kita sama- sama tau aja, jangan bilang- bilang ya!

Lega, eh, tunggu dulu, bukan hanya lega, tapi suueeperrrr lueggaaa! Iya lah, karena aku akhirnya lulus juga setelah lima tahun bersekolah di sana.

Lima tahun? Ya lima tahun. Karena aku pernah tinggal kelas di tahun pertama. Hampir sama lamanya dengan sekolah SD.

Dua tahun terakhir menjadi masa-masa paling berat di kehidupanku selama bersekolah.

Bukan karena beratnya pendidikan di SMKN 13, tapi beratnya beban moral yang harus kutanggung selama mengenakan seragam putih abu-abu. Ketika teman-teman seangkatanku sudah lulus dan kuliah bersemester- semester, aku masih saja setia dengan “Putih Abu-Abu”.

Ledekan dan cemoohan mah sudah tak terhitung lagi.

“Ari ente sakola di mana euy, naha teu lulus lulus?”

“Wiihh…awet ngora euy!” Pujian yang satir.

“Urang mah geus semester dua, naha ente mah masih keneh diseragam?”

Ketika di kelas tiga sih, aku masih bisa menanggapi pertanyaan- pertanyaan dan ledekan itu dengan kalimat andalanku: “Sekolahku di SMKN 13, sekolahnya empat tahun, kaya STM Pembangunan”.

Nah, ketika kelas empat yang sangat berat. Tadinya aku ingin menutupi hal yang tadinya kuanggap aib. Aku berniat untuk berangkat dengan baju bebas lalu berganti seragam di rumah temanku yang dekat dengan sekolah.

Ah, tapi setelah merenung, aku rasa tampil apa adanya lebih baik. Aku akan menghabiskan energi terlalu banyak jika ingin menutupi statusku yang pernah tidak naik kelas ini.

Dan ternyata benar saja, pertanyaan dan ledekan itu tidak bertahan lama, selesai dengan jawaban yang apa adanya: “Saya pernah tinggal kelas!”

Sampai tanggal 30 Juni itu, alhamdulillah, sekolahku lancar-lancar saja.

Dan Alhamdulillah, tinggal kelasnya aku ternyata menyimpan hikmah tersembunyi yang sangat luar biasa besar di masa depan.

Aku lulus dengan nilai rata-rata 7.55, entah ini peringkat ke berapa, tapi itu adalah hal yang sangat luar biasa di tengah persaingan yang super ketat, layaknya Petir atau Big Brother.

Tanggal 30 Juni aku memang masih siswa SMK, tapi beberapa bulan sebelumnya aku dan empat temanku sudah menandatangani kontrak dengan sebuah perusahaan Petrokimia di Merak, Cilegon.

Tanggal 30 Juni adalah hari Sabtu, dan hari Senin, tanggal 2 Juli 2001 satu adalah hari pertama kerjaku.

Alhamdulilah, kami berlima tidak pernah mengalami satu hari pun dengan menyandang status tidak punya pekerjaan.

Dan hikmah terbesar yang disembunyikan oleh Allah selama bertahun-tahun, ya kondisiku sekarang ini.

Kondisiku yang menjadi impian banyak orang yang belum bisa menggapainya. Bekerja di luar negeri, Allah menganugerahkan kepadaku wanita yang luar biasa dan bisa mencintaiku apa adanya, dan telah memberiku sepasang malaikat kecil yang lucu- lucu.

Aku akhirnya bisa melunasi impianku untuk membelikan rumah untuk orangtuaku.

Aku akhirnya bisa memulai kuliah lagi.

Ah, Allah mah memang Maha Adil ya!

Kitanya saja yang sok tahu tuh, sok bisa mengatur kehidupan kita sendiri. Sok tahu mana yang paling baik untuk kehidupan kita.

Dia tidak akan pernah mentakdirkan suatu keburukan untuk hamba-Nya. Tidak naik kelas yang Allah takdirkan, ternyata adalah “tiket” untuk hal-hal luar biasa yang telah kucapai, dan untuk menggapai impianku yang jauh lebih besar untuk masa depanku kelak.

Diday Tea

120720111221, Setelah sepuluh tahun lulus. J

 

Al Hasiib Yang Maha Mencukupi

Definisi

Kata Al Hasiib terdiri dari huruf  ha’ , siin, dan ba, mempunyai empat kisaran makna, yakni “menghitung”, “mencukupkan”, “bantal kecil”, dan “penyakit yang menimpa kulit sehingga memutih”.


Tentu saja makna ketiga dan keempat mustahil disandang oleh Allah SWT.


Di dalam Al Qur’an kata Hasiib terulang empat kali. Tiga di antaranya menjadi sifat Allah dan yang keempat tertuju kepada manusia. Yaitu QS Al-Israa 17:14 “”Bacalah kitab(amal)mu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu”.


Kata Hasiib yang menjadi sifat Allah, dua diantaranya di dahului oleh kata “kafaa” yang berarti “cukup”, sehingga “hasiiba” lebih cenderung dipahami dalam arti “Yang Memberi Kecukupan”


QS An-Nisa 4:6 “Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. Dan janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barangsiapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. Kemudian apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. Dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian itu).


QS Al-Ahzaab 33:39: “(yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang(pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan.


Sedangkan ayat ketiga bersifat umum: QS An-Nisaa 4:86 “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah Hasiiba (Maha Memperhitungkan) atas segala sesuatu.


Imam Ghazali menguraikan bahwa Al Hasiib bermakna “Dia yang mencukupi siapapun yang mengandalkannya”.


Sifat ini tidak dapat disandang kecuali oleh Allah sendiri, karena hanya Allah saja yang dapat mencukupi semua kebutuhan makhluknya.


Allah sendiri yang dapat mencukupi semua makhluk, mewujudkan kebutuhan mereka, melanggengkan bahkan menyempurnakannya.


Kenapa kita harus mengandalkan Allah?


Kalau kita hanya mengandalkan Allah, Allah pasti mengetahui hati kita.

Dan siapapun yang mengandalkan Allah, Allah pasti akan mencukupinya. Dan yang tidak mengandalkan Allah, tapi hanya mengandalkan kemampuan dirinya, kecerdasan dirinya, pasti akan selalu merasa dalam kekurangan dan kesulitan ketika menjalani hidup.


Ath Thalaaq 2-3“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.


Kenapa kita harus mengandalkan Allah?

Karena hanya allah yang memiliki segalanya. Milik Allahlah semua yang ada di langit dan di bumi.


Kenapa kita harus mengandalkan Allah?

Karena hanya Allah pemilik segala sesuatu yang kita butuhkan dan Allah Maha Tahu apapun yang kita butuhkan keperluan kita lebih tahu dari diri kita sendiri. Kita hanya tahu sedikit saja apa yang kita butuhkan. Sinar matahari yang masuk kebumi, kadar Oksigen di udara, kadar kelembaban di bumi ini adalah sedikit contoh ketepatan Allah yang mencukupi kebutuhan kita secara sempurna. Belum lagi sistem tubuh kita yang sangat luar biasa, hanya Allah yang mencukupi semua kebutuhan setiap sel tubuh secara sempurna.


Kenapa kita harus mengandalkan Allah?

Karena tidak ada apapun yang bisa terjadi tanpa ijin Allah.


Tidak Setiap Keinginan Harus Terwujud


Jangan anggap pencukupan Allah untuk kita bakal selalu cocok dengan keinginan kita. Tidak selalu yang kita inginkan harus terjadi.

Keinginan kita, lebih banyak adalah versi dari kebodohan kita, versi nafsu, yaa kita nganggap kaya itu bakal baik, kita nganggap popular itu bakal baik, kita menganggap sukses dan bahagia itu cersi nafsu kita, padahal kita tahu sedikit sekali, dan Allah tahu mana yang baik dan mana yang membahayakan kita.

Allah tahu persis kalau kita diberi kekayaan banyak, kita akan cenderung maksiat, sombong. Oleh karena itu Allah tidak memberi banyak kepada kita, tapi Allah selalu memberi pada waktu yang tepat, pada saat kita betul-betul memerlukannya.

Kadang kita minta kesehatan, tapi Allah malah memberi sakit.

Apakah Allah Zhaliim kepada kita? Mungkin dengan sakit, kita akan bisa memiliki waktu untuk merenung dan tafakur untuk mengevaluasi diri, dosa-dosa yang telah dilakukan. Dan akhirnya bisa bertobat dan menjadi dekat dengan Allah.


Kita ingin untung usaha, tapi malah tertipu. Padahal Allah tahu orang yang akan menipu? Karena Allah akan memberikan pelajaran sebelum Allah memberi dititipi usaha keuntungan yang lebih besar. KArena Allah memberikan pengalaman untuk merugi agar kita bisa berhati-hati dan waspada dengan  merasakan perihnya ditipu, sehingga kita tidak mengalami kerugian yang lebih besar di masa depan.


Kita ingin kaya, tapi Allah malah membuat kondisi hidup kita pas-pasan, bahkan kita selalu merasa kesulitan menjalani kehidupan. Karena Allah tahu, jika kita kaya, kita akan lupa kepada Allah, kita akan  menjauh dari Allah, kita akan terjatuh ke lembah kemaksiatan karena kekayaan kita. Atau Allah membuat kita dalam keadaaan sangat susah dan sulit, agar kita tidak lupa bersyukur, karena Allah sedang mempersiapkan kondisi yang jauh lebih baik, kekayaan yang jauh lebih banyak dari yang kita inginkan.

Seringkali kita mengeluhkan sulitnya kita menjalani hidup,susah uang, banyak hutang, susah makan, harga barang-barang naik, harga rumah naik. Tapi subhanallah, sampai sekarang kita masih hidup,masih makan, masih survive, masih sehat, masih bisa tidur nyenyak. Mungkin kita lupa untuk mensyukuri apa yang ada, malah lebih fokus pada apa yang tidak ada.


Sedikit mencukupi jauh lebih baik daripada banyak tapi melalaikan.


Tidak ada tapi mendekatkan diri kepada Allah, lebih baik daripada ada tapi menjauhkan kita dari Allah.

Habiskan energi kita untuk bersyukur kepada Allah, pasti Allah akan menambah nikmat kepada kita.

QS Ibrahim 14:7 ”Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.


QS Al Baqarah 2:216 “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.


Sering kita “maksa” kepada Allah agar mengabulkan keinginan kita. Padahal Allah tahu bahwa keinginan kita dikabulkan malah akan menjadi keburukan. Atau mungkin kita kurang berusaha lebih keras dan maksimal ketika kita ingin mewujudkan keinginan kita tersebut.

Selamat berjuang untuk selalu mensyukuri!

Didaytea!

Diekstrak dari Menyingkap Tabir Illahi dan Kajian Asmaul Husna Aa Gym 14102010.

http://www.didaytea.com

Selasa26102010


 

AL ‘AFUW Allah Yang Maha Pemaaf

AL  ‘AFUW

Allah Yang Maha Pemaaf

Kata Al ‘Afuw, terambil dari akar kata yang terdiri dari huruf-huruf ‘ain, fa, dan wauw. Maknanya berkisar pada dua hal, yaitu “meninggalkan sesuatu” dan “memintanya”. Dari sini, lahir kata “afwu”, yang berarti “meninggalkan sangsi terhadap yang bersalah)memaafkan””.

Perlindungan Allah dari keburukan, juga dinamai “Aafiat”. Perlindungan mengandung makna “ketertutupan”.Dari sini, kata “afwu” juga diartikan “menutupi”, bahkan dari rangkaian ketika huruf itu juga lahir makna terhapus  atau habis tak berbekas, karena yang terhapus dan habis tidak berbekas pasti ditinggalkan.

Dalam beberapa kamus dinyatakan bahwa pada dasarnya kata “afwu”, berarti “menghapus dan membinasakan serta mencabut sesuatu sampai ke akar-akarnya”.

Di dalam Al Qur’an kata ‘Afwu dalam berbagai bentuknya ditemukan sebanyak 35 kali dengan berbagai makna. Kata’Afuw ditemukan sebanyak tiga kali, di mana kesemuanya merujuk kepada AllahSWT.

An Nisa 43:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalamkeadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci);sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah ‘Afuwwan Maha Pemaaf lagi MahaPengampun.

An Nisa 98-99:

kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anakyang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah), merekaitu, mudah-mudahan Allah memaafkannya. Dan adalah Allah ‘Afuwwun Maha Pemaaflagi Maha Pengampun.

An Nisa 149:

Jika kamu menyatakan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan ataumemaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa.(QS An Nisa 4:149).

Sifat Allah Al ‘Afuw, yakni Dia yang menghapus kesalahan hamba-hambaNya serta memafkan pelanggaran-pelanggaranmereka.

Sifat ini mirip dengan AlGhafuur. Hanya saja menurut Imam Al Ghazali, pemaafan Allah lebih tinggi tingkatannya dari maghfirah.

Kata ‘afwu berarti “menghapus”, “mencabut sesuatu sampai ke akar-akarnya”, membinasakan dan sebagainya. Sedangkan kata ghafuur terambil dari akar kata yang berarti “menutup”.

Sesuatu yang tertutupi, pada hakekatnya tetap ada, hanya dibuat tidak terlihat.

Sedangkan sesuatu yang dihapus, akan hilang. Kalaupun ada, itu hanya sisa dan bekas-bekasnya saja.

Jika Allah sudah memaafkan hambanya,  seperti menghapus tidak ada lagi jejak dosanya. Seperti pohon yag dicabut sampai ke akar-akarnya.

Betapa hebatnya ampunan Allah!

Jika kamu menyatakan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaflagi Maha Kuasa.(QS An Nisa 4:149).

Pemaafan Allah terbuka lebar bagi siapapun yang bersedia memberi kebaikan secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi dan bersedia memaafkan orang lain.

Jangan menduga pemaafan Allah hanya tertuju kepada mereka yang bersalah secara tidak sengaja atau kepada mereka yang bersalah secara tidak sengaja.

Jangan menduga bahwa Allah selalu menunggu yang bersalah dan berdosa untuk meminta maaf.

Tidak!

Sebelum manusia meminta maaf, Allah telah memaafkan banyak hal.

Jangan berputus asa dari rahmat Allah. Sebanyak apapun dosa kita.

Allah memerintahkan kita untukmenjadi pemaaf: Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari padaorang-orang yang bodoh. (QS Al A’raaf 7:199)

Sebesar apapun dosa kita, itu adalah masa lalu, jangan jadikan itu penghalang untuk kita melakukan ibadah yang terbaik sejak hari ini dan  seterusnya,untuk mendekat kepadaNya.

Karena Allah, Dialah Al ‘Afuw,Yang Maha Pemaaf.

(Dirangkum dari buku Menyingkap TabirIllahi dan ceramah Aa Gym tanggal 29 July 2010).

Didaytea!