Indahnya Hidayah

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”.

(QS Ali Imran ayat 8)

Pasang Surut

Seperti halnya lautan luas yang terikat dengan pasang dan surutnya, begitulah juga kondisi keimanan kita.

Ketika iman sedang pasang memenuhi hati, semangat diri ini sangatlah tinggi. Tak pernah sekali pun sholat- sholat rawatib setelah sholat berjamaah di mesjid terlewati, tubuh pun terasa sangat berat ketika hendak beranjak pergi. Sehari pun sedekah tak pernah terhenti. Munajat setelah sholat malam selalu dinanti. Delapan rakaat sholat dhuha pun tanpa lelah kita jalani.

Tapi, jika iman di dalam relung hati kita sedang surut, kita sudah tak sabar ingin segera mengucap salam ketika bibir pun belum sepenuhnya tertutup selepas takbir,.

Sangat jarang kita bisa merasakan lezatnya menghadap Allah di dalam sholat- sholat kita.

Sholat hanya menjadi sebatas kewajiban yang rutin layaknya mengisi absensi di sekolah.

Hanya sekedar hadir.

Hanya sekedar sah.

Hanya sekedar melakukan.

Kita tidak melewatkan satu kali pun sholat berjamaah di mesjid untuk dua hari, tapi kemudian berminggu- minggu tidak nampak sekali pun di sana.

Sebuah pertandingan sepakbola, atau sekedar film yang sebenarnya bisa kita hentikan sejenak pun seringkali sudah cukup hebat untuk bisa menunda dan memberatkan langkah kita untuk mengambil air wudhu.

Pantang Menyerah

Kesalahan kita ketika iman kita sedang surut, kita seringkali menyerahkan diri kepada kesanggupan diri semata. Kita seringkali menyalahkan kelemahan jiwa kita yang tidak sanggup melawan hawa nafsu kemalasan.

Kita merasa nyaman bersembunyi di balik alibi kelemahan itu, yang membuat kita malah semakin terpuruk ke dasar jurang kemalasan.

Kita sering menyerah ketika sudah mencoba segala macam cara agar bisa menjadi orang yang lebih baik, untuk mendekat kepada Allah.

Kita lupa untuk berserah diri kepada Allah.

Kita lupa, bahwa Allah Yang Maha Kuasa dan membolak- balik hati manusia.

Kita lupa bahwa minimal tujuh belas kali di dalam sholat dalam satu hari, kita sudah meminta kepada Allah agar ditunjukkan jalan yang lurus.

Kita lupa untuk berdoa agar diberi hidayah.

Walau pun kita sudah tak sanggup lagi untuk menahan kuatnya cengkeraman kemalasan, tetap janganlah pernah menyerah.

Mungkin itu adalah jalan dari Allah yang sedang menguji kesungguhan kita untuk berubah menjadi lebih baik.
Teruslah berdoá.

Hidayah Dari Hal- hal Kecil

Sering- seringlah berdoa kepada Allah agar diberi hidayah. Bahkan walau pun keadaan iman kita sedang terpuruk ke dasar kelemahan iman yang paling dalam.
Allah seringkali memberi hidayah melalui hal- hal yang kecil dan tidak pernah kita sadari keberadaannya.

Hidayah untuk bisa merasakan nikmatnya sholat malam di sepertiga malam terakhir, kadang datang dengan hanya berupa desakan untuk pergi ke kamar kecil yang membangunkan nyenyaknya tidur kita.

 Hidayah untuk bisa merasakan nikmatnya sholat Dhuha dan tadarus,  kadang datang ketika kita sedang mengantar anak- anak kita sekolah Al Qurán, dan tidak ada tempat lain untuk menunggu selain di mushola.

 Hidayah untuk kita agar bisa diam lebih lama di mesjid setelah sholat Jum’at kadang Allah datangkan melalui orang- orang yang langsung berdiri untuk sholat di belakang kita. Sehingga kita “terpaksa” untuk sholat sunah juga.

  Allah kadang mengundang kita ke rumah-Nya dengan mengirimkan seorang tamu yang sholeh, dan dia ditakdirkan untuk mengajak kita untuk sholat berjamaah di mesjid.

 Satu- satunya jalan yang tersisa untuk mengundang hidayah, adalah jangan pernah terputus untuk memohon kepada Allah Yang Maha Memberi Hidayah, Yang Maha Membolak- balik hati kita, agar kita segera terbebas dari ikatan belenggu kelemahan iman.

Didaytea

Doha, 12 Oktober 2013

Iklan

Bahagia Itu Sederhana

Setiap orang pasti memiliki masalahnya masing- masing.

Hutang, perselisihan antara anggota keluarga, kesehatan, karir, jodoh, harta, kendaraan, ibadah kurang khusyu, atau bahkan malas ibadah, dan beribu jenis masalah lain yang dihadapi oleh seorang manusia, pasti kita semua pernah mengalaminya.

Baik sekaligus, satu per satu, atau naudzubillahimiindzaalik, datang bertubi- tubi.

Lalu hadirlah para motivator di antara kita. Dengan pengalaman, teladan, keilmuan, dan keahlian mereka, mereka hadir bagai embun di tengah padang pasir yang panas membara.

Mereka menghadirkan kesejukan untuk orang- orang yang sedang dirundung masalah kehidupan ini.

Mereka menghadirkan kata- kata yang menyemangati semua orang yang membacanya.

Menyemangati agar menganggap hidup ini mudah, menyemangati agar tidak lelah bermimpi untuk menjadi sukses luar biasa.

Menyemangati agar kita menjadi orang kaya luar biasa, agar bisa bersedekah luar biasa banyak juga, agar kita bisa bermanfaat untuk orang banyak. Agar kita bisa menjadi pengusaha super sukses luar biasa.

Ah, intinya mereka semua pastinya menyarankan hal- hal yang insyaallah menuju kebaikan kita, dunia dan akhirat.

Saya pernah mendengar dan menonton di televisi, Rhenald Kasali pernah berbicara tentang tujuan akhir umat manusia.

Tujuan paling akhir, ultimate goal dari seorang manusia itu ternyata, bukan kekayaaan, bukan kesholehan, bukan kesuksesan, bukan kesehatan, bukan kemuliaan hidup, bukan keilmuan yang banyak, bukan karir yang cemerlang, bukan keberhasilan menjadi pengusaha yang bersedekah milyaran rupiah, bukan seseorang yang bisa menginspirasi jutaan orang, dan berjuta parameter kebahagiaan lainnya.

Menurut beliau, tujuan hidup seorang manusia adalah kebahagiaan.

Dengan berjubelnya para motivator ini, ada sisi gelap yang kurang tersorot. Ketika hampir setiap hari kita bertubi- tubi dihujani kata- kata motivasi, terkadang kita menjadi seperti dikejar target.

Kehidupan kita terkadang menjadi seperti robot, dan selalu dihantui oleh parameter- parameter kesuksekan yang terus terngiang- ngiang di dalam otak kita.

Harus sukses!

Harus kaya!

Harus bermanfaat!

Harus bisa shodaqoh satu milyar!

Dan harus- harus lainnya.

Seolah terprogram otomatis, di kepala saya pun langsung terpasang dan terpatri target- target yang luar biasa.

Saya ingin menjadi penulis novel best seller, seperti JK Rowling, dan royaltinya akan saya sedekahkan.

Saya ingin kuliah setinggi mungkin, agal bisa menjadi bekal saya di masa depan kelak, ketika sudah tidak bekerja lagi di Qatar.

Saya ingin menjadi hafizh Qurán, agar bisa mengajarkan sebanyak mungkin orang agar bisa dekat kepada Allah.

Saya ingin menjadi pengusaha sukses luar biasa, agar saya bisa shodaqoh menghajikan orang.

Saya ingin menjadi konglomerat super kaya, sehingga jika ada orang yang memerlukan bantuan, saya tidak akan berpikir panjang berapa pun jumlahnya.

Saya kadang, sejujurnya sih sering lupa bahwa itu semua ternyata hanya PERANTARA. Tak tersadar bahwa saya merasa bahwa menjadi kaya, sholeh, dan sukses dunia akhirat itu bukan tujuan akhir kehidupan saya.

Seolah- olah, saya tidak akan bahagia dulu sampai semua mimpi itu bisa saya raih.

Kalau masalah sekedar bahagia, seringkali bahagia itu sangat sederhana.

Senyum dua anak balita yang berlarian menyambutku ketika pintu rumah terbuka, itu sudah merupakan kebahagiaan.

Kita masih bisa sehat saja, itu sudah merupakan kebahagiaan.

Ultimate goal seorang manusia itu adalah Ridho Allah.

Bahagianya seorang muslim adalah ketika Allah ridho akan apa yang diperbuatnya.

Bahagianya seorang muslim adalah ketika Allah ridho kita berkumpul dengan keluarga kita di syurga-Nya kelak.

Bahagianya seorang muslim Allah haramkan dari api neraka-Nya.

Seperti kata Steven Covey, tools yang sangat penting di dalam melakukan sesuatu adalah Start From The End.

Mulailah dari tujuan akhir kita. Tujuan yang benar- benar akhir.

Kaya, sholeh, sukses, sehat, itu hanya perantara.

Sama sekali bukan tujuan akhir.

Kita masuk syurga bukan karena amalan sholeh kita, tapi semata- mata karena ridho Allah semata.

Wah, tulisan ini berarti menafikan perjuangan para motivator- motivator itu dong?

Tulisan ini berarti malah akan mendiscourage orang- orang yang sedang terpuruk dong.

Sama sekali tidak!

Saya justru menjadi lebih bersemangat untuk mencapi mimpi- mimpi saya yang tadi sudah disebutkan tadi. Karena saya mereset ulang diri saya ke tujuan akhir, tujuan yang paling akhir.

Ridho Allah.

Ketika kembali ke mimpi- mimpi saya tadi, sekarang saya memiliki energi yang jauh lebih kuat. Energi motivasi yang jauh lebih kuat dari energi para motivator yang tidak pernah lelah, tidak pernah letih, selalu berbagi dan menyebar “virus” kebaikan.

Mari kita mulai dari tujuan akhir! Semoga Allah Ridho terhadap kita.

The Beginning is The End is The Beginning.

Syurga Untuk Istriku

Oleh: Diday Tea

Kisah Fatimah Az Zahra dan Gilingan Gandum

Beberapa jam yang lalu saya membaca sebuah kisah Fatimah Az Zahra dan Gilingan Gandum. Di website tersebut dicantumkan sumbernya dari Syarah ‘Uquudil lijjaiin karya Syaikh Muhammad Nawawi Al-Bantani.

Saya rangkum kisah tersebut dan saya interpretasikan sendiri dengan salah satu ceramah dari Ust. Abu Syauqi, tentang kisah yang sama.

Pada suatu waktu Rasulullah SAW menemui putrinya Fatimah yang sedang  menggiling sejenis padi-padian dengan gilingan yang terbuat dari batu sambil menangis.

Ketika Rasulullah SAW bertanya kenapa dia menangis, Fatimah pun curhat kepada beliau.

“Ayahanda, aku ini anak Rasulullah SAW, anak seorang pemimpin negara, tapi lihatlah tanganku ini, sampai lecet- lecet karena harus menggiling gandum dengan gilingan batu!” Dengan diiringi isak tangis.

Kemudian Rasulullah S.A.W bersabda kepada putrinya:

“Jika Allah menghendaki wahai Fatimah, niscaya penggilingan itu akan berputar dengan sendirinya untukmu, akan tetapi Allah telah menghendaki menuliskan beberapa kebaikan dan menghapus beberapa kesalahanmu dan mengngkat beberapa derajat untukmu, Ya Fatimah… Perempuan mana yang apabila menggiling gandum/tepung untuk suami dan anak-anaknya maka Allah SWT menuliskan untuknya dari setiap biji gandum yang digilingnya satu kebaikan(pahala) dan mengangkatnya satu derajat.

Rasulullah SAW masih melanjutkan dengan menyebutkan banyak sekali keutamaan dan ganjaran yang akan didapat oleh seorang wanita yang menjadi istri dan ibu.

Silahkan langsung ditanyakan saja kepada mas Google untuk membaca kisah lengkapnya yang lumayan panjang.

Hikmah

Kisah di atas tentunya masih sangat relevan dengan kondisi yang dialami oleh kita yang hidup empat belas abad setelah periode Rasulullah SAW.

Kisah ini akan memiliki hikmah yang lebih istimewa dengan para istri yang suaminya bekerja di negeri orang. Ada paradox yang terjadi. Ketika penghasilan suami dan taraf hidup suami mereka sangat berlebih jika dibandingkan dengan bekerja di negeri sendiri, sama sekali tidak mengurangi beban pekerjaan rumah tangga yang mereka lakukan. Sama sekali tidak mengurangi kesibukan dan beban mereka mengurus suami dan anak- anak. Yang ada malah bertambah dan berlipat- lipat, karena mereka harus melakukan segala sesuatunya sendirian.

Jika kita melihat sekilas memang seperti tidak adil untuk para wanita yang menjadi seorang istri dan Ibu. Saya yakin sekali yang paling syok adalah mereka yang sebelumnya terbiasa memiliki pembantu di rumahnya dan belum terbiasa melakukan pekerjaan rumah tangga. Apalagi mereka yang tadinya pernah bekerja, sebelum ikut hijrah mendampingi suami mereka.

Walau pun suami mereka sudah berusaha membantu pekerjaan rumah, selalu ada hal- hal yang tidak tergantikan perannya.

Ada sih pengecualian, untuk mereka yang sudah menempati posisi yang lumayan tinggi, bisa mengusahakan PRT di rumahnya. Itu pun tidak bisa merekrut PRT dari Indonesia, karena ada peraturan yang melarangnya.

Tetapi, untuk TKI dengan posisi teknisi biasa seperti saya, hampir mustahil bisa mendapatkan hal yang sama. Di samping prosesnya memang sulit dan memerlukan biaya yang tidak sedikit.

Malah pernah kudengar seorang istri berucap bahwa dia lebih baik tinggal di tanah air, gaji pas- pasan tapi bisa punya pembantu dan bisa hidup seperti seorang ratu yang tidak harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga sendiri. Daripada berlimpah harta di negeri orang, tapi tetap harus “nginem” di rumah.

 

Lelah Tak Terbayangkan

Bayangkan saja, istri saya sudah bangun dari jam setengah empat pagi untuk menyiapkan seragam, bekal sarapan dan hal- hal yang saya perlukan untuk bekerja.

Setelah saya berangkat pun, dia masih harus menyiapkan sarapan, baju dan lain- lainnya untuk anak lelakiku yang sekolah.

Selepas si sulung berangkat ke sekolah, dia pun masih harus berlelah- lelah dan menghabiskan berjam- jam waktunya untuk merapikan hampir setiap sudut rumah yang berantakannya seperti kapal dibom, sisa- sisa anak- anak bermain semalaman.

Sarapan pun kadang tidak sempat ketika rumah masih acak- acakan, tapi si kecil sudah terduduk bangun di atas kasur kecilnya dan merengek- rengek meminta susu coklat kegemarannya.

Ketika si kecil bangun pun , rumah yang sudah rapi jali, kembali menjelma menjadi kapal pecah hanya dalam hitungan menit saja.

Pada hari- hari saya bekerja dan si sulung sekolah, sejak bangun tidur, hingga tidur lagi, istriku selalu terlihat sibuk. Hanya sesekali saja kulihat dia bisa bersantai.

Hanya ketika aku dan si sulung libur saja, dan ketika kami sekeluarga pergi keluar rumah kulihat dia bisa sepenuhnya bebas dari pekerjaannya sehari- hari.

Ketika dia masih bekerja pun, tidak mungkin dia sampai selelah itu. Jam kerja kan sudah pasti, dan dia bisa kapan saja beristirahat di antara pekerjaannya.

Di rumah? Jam kerjanya hampir dua puluh empat jam. Istirahat pun tidak menentu, karena harus selalu siap sedia ketika anak- anak membutuhkannya.

Hebatnya lagi, dia sangat jarang mengeluh.

Ahem, terlalu berlebihan dan sangat mustahil banget ya kalau memang istri saya tidak mengeluh. Padahal sih sering banget. Hehehe…

Tapi periode dramatis yang diwarnai tangisan, keluhan, ratapan dan terkadang pertengkaran itu hanya terjadi di periode beberapa bulan pertama istriku tiba di Qatar.

 

Sebuah Jawaban

Berikut adalah curahan hati yang saya edit dan saya dramatisir dari seorang Istri merangkap Ibu Rumah Tangga yang menemani suaminya yang bekerja di Qatar.

Suamiku tercinta, kalau hanya menggugu nafsu ingin hidup seperti seorang ratu, atau sekedar menghindari beratnya tugas seorang ibu rumah tangga, aku pasti sudah minta pulang sejak dulu, sejak hari pertama aku menginjakkan kaki di negeri padang pasir ini. Karena sejak dari pesawat sejauh mata memandang hanya pasir saja yang nampak di pelupuk mataku ini.

Suamiku, sejujurnya aku tadinya sangat keberatan untuk meninggalkan pekerjaanku karena aku sudah bertahun- tahun terbiasa ditunggu di rumah, bukan menunggu seseorang di rumah.

Suamiku, sejujurnya dulu aku sedih tak terhingga karena harus kukubur dalam- dalam impianku untuk menjadi wanita karir dan meraih posisi setinggi mungkin di perusahaan tempatku bekerja.

Suamiku, sejujurnya aku panik ketika harus memasak dan mencuci piring, karena sebelumnya aku hampir tidak pernah memasak. Selalu ada yang memasakkan untukku sepulang dari pekerjaan.Apalagi mencuci piring. Tanganku saja langsung gatal- gatal ketika pertama kali mencuci piring dengan sabun pembersih khusus piring itu. Sampai sekarang pun aku masih harus memakai sarung tangan ketika mencuci piring.

Suamiku, Aku sudah bertekad bulat meniatkan diri untuk beribadah kepada Allah dengan cara berbakti kepada suami, sejak  Aku memutuskan untuk menerima pinanganmu dan menyerahkan surat pengunduran diriku kepada atasanku. Tidak kupedulikan lagi berjuta bujuk rayu atasanku yang berusaha mencegahku untuk mengundurkan diri.

Sambil bersabar ketika sepenat apa pun kepala ini harus menahan kantuk dan letih ketika berusaha memisahkan kedua anak kita bertengkar memperebutkan sesuatu, aku selalu berdoa semoga itu menjadi pahala kebaikan untukku dan untukmu.

Sekuat tenaga Aku tahan tangisku, agar tidak ada air mata yang jatuh menetes di depanmu ketika menahan betapa pedihnya luka sayatan bekas operasi caesar sehabis melahirkan si kecil, agar engkau bisa tenang pergi bekerja.

Aku buka cakrawala pikiranku dengan membuka jendela internet yang terbuka lebar- lebar ketika aku merasakan kejenuhan yang luar biasa, merasakan kesendirian dan kesepian yang luar biasa ketika seharian dan semalaman kamu tidak ada di rumah.

Aku paksakan diriku untuk membaca salah satu buku di antara ratusan buku yang kau bawa dari Indonesia, walau pun sebenarnya sejak dulu aku sama sekali tidak suka membaca, ketika aku tidak tahu apa yang aku harus lakukan di waktu luangku.

Aku temui keluargaku dan keluargamu di dunia maya dan melalui pulsa telepon, jika rinduku kepada mereka sudah tak tertahan lagi.

Kubuka- buka saja jadwal mudik, dan foto- foto ketika kita sedang berliburan di Indonesia dan website maskapai penerbangan yang selalu menerbangkan kami pulang, ketika aku dilanda rindu setengah mati kepada kampung halaman.

Selalu kuajak kamu pergi ke taman- taman yang luar biasa indahnya di Qatar, ketika aku kangen indahnya pemandangan hijaunya tanah airku.

Selalu kupandang mobil yang kau kemudikan berlalu keluar garasi dari balik celah sempit tirai di ruang ruang tamu, dan selalu kuingat betapa mudahnya kamu memberikan apa yang istri dan anak- anaknya inginkan ketika musim SALE dan diskon melanda mall- mall di Qatar, jika aku sedang tergoda utuk meratapi dan mengeluh betapa melelahkannya mengurus anak- anak jika kamu tidak ada di rumah.

Selalu kuingatkan diriku bahwa sabarku ini bisa menjadi tiket ke syurga, ketika kuhapus setiap tetes keringat yang menetes di pelipisku ketika aku sudah sampai di puncak kelelahan membereskan “hasil karya” kedua anak- anakku di setiap sudut rumah.

Tapi maafkan aku suamiku sayang, aku melakukan semua itu bukan untuk kamu.

Aku bersabar karena itu semua adalah ibadahku kepada Allah..

Aku ingin menjadi seperti Fatimah Az Zahrah,  yang ditemani oleh batu gilingan gandumnya ke Syurga.

Kupersembahkan tulisan ini untuk para Istri dan Ibu luar biasa yang berada di Qatar, serta di mana pun di muka bumi ini. Semoga Allah menghadiahkan syurga sebagai ganjaran dari setiap detik waktu yang kalian habiskan, dan setiap titik keringat yang menetes untuk mengurus suami dan anak- anak kalian.

Doha, 3 Januari 2013

Chillax Luar Dalam

Chillax Luar Dalam

“Sebagai seorang muslim, aku merasa sangat beruntung karena memiliki setidaknya lima kali waktu dalam sehari untuk mendinginkan kepala dan menenangkan hati”

Sejujurnya, sih , selalu ada saja saat dan periode di mana aku terikat oleh belenggu kemalasan untuk sholat berjamaah di masjid.

Beberapa tahun ini, hampir tidak pernah ada satu hari pun yang aku bisa lewati sempurna tanpa ada “bolong” sholat berjamaah di mesjid. Selalu ada saja waktu sholat berjamaah yang lolos, sehingga terpaksa aku hanya sholat sendiri di rumah, atau setidaknya berjamaah dengan istriku. Ada saja halangan yang jadi alasanku untuk bisa pergi ke mesjid. Dari kesibukan waktu kerjaku yang shift lah, lagi di mall lah, jalan- jalan, bahkan kalau di rumah alasannya lebih dramatis lagi: menyalahkan panasnya summer dan dinginnya winter di sini. Dan banyak lagi kambing- kambing hitam yang tidak bersalah tapi sering kutunjuk dan kusalahkan.

Padahal sih, alasan yang sesungguhnya cuma satu: MALAS.

Beberapa hari lalu kutemukan kata- kata baru di Twitter ketika ingin mereset passwordku yang hilang.

“Please chillax, and try to log in after one hour. Because your ability to reset password is disabled”. Itu kalimat yang terpampang di halaman utamanya.

Chillax? Kata yang aneh.

Sangat mirip dengan nama makanan dari Bandung yang sangat legendaris: Ciloks. Kalau ini singkatannya Aci dicoloks.

Tapi beberapa saat kemudian langsung kusadari bahwa itu adalah gabungan dua kata Chill dan Relax, dingin dan relaks. Sedikit susah untuk menemukan terjemahan yang tepat untuk gabungan dua kata ini.

Langsung saja itu menyadarkanku bahwa dalam hidup kita, selalu diperlukan Chill and Relax.

Chillax.

Tubuh kita perlu istirahat, begitu pun pikiran kita.

Kita harus punya waktu untuk sejenak melakukan relaksasi dan memberikan sedikit waktu untuk tubuh, hati, pikiran, otak, dan jiwa kita dalam kondisi tenang dan “dingin”.

Ada yang chillax menggunakan musik. Dari musik klasik, gamelan, kacapi suling, Kitaro sampai ada juga yang nekad memutar lagu dance dan ngebeat atas nama relaksasi pikiran.

Ada juga yang selalu mengadakan acara keluarga di taman.

Ada juga yang memberlakukan hari tanpa gadget di rumahnya.

Ah, pokoknya mungkin ribuan cara manusia yang manusia lakukan dan cari untuk bisa Chill and Relax.

Sejujurnya lagi sih, kadang, ahem, bahkan sering aku sering berusaha menenangkan diriku dan sedikit menjauh dari penatnya urusan kerja  dengan mendengarkan music. Tidak sampai harus mendengarkan musik- musik yang tidak jelas. Paling banter sekarang sih penyanyi Swedia yang sedang naik daun, akang Maher Zain.

Ah, Maha Suci Allah yang Maha Memberi Hidayah.

Tadi baru saja aku pulang dari sholat Ashar berjamaah di mesjid. Setelah salam tadi, entah kenapa aku tiba- tiba teringat kata- kata tadi, Chillax.

Ternyata perasaan Chillax  terbaik dan paling sempurna bukan setelah merdunya suara Maher Zain, atau lembutnya tiupan kacapi suling, atau megahnya musik sang Maestro New Age: Kitaro, tapi perasaan tenang, penuh kedamaian dan “dingin” yang kita rasakan beberapa saat setelah kita ucapkan salam yang kedua di dalam sholat.

Kondisi ketika kita barang satu atau dua menit beristigfar, bersyukur, bertasbih, dan bersholawat dan dilanjutkan dengan berdo’a itu adalah kondisi chillax yang sesungguhnya, ketika kita tidak mempunyai batas lagi dengan Yang Maha Mencipta.

Ketika sedang sibuk bekerja saja, dan kita break untuk mendirikan sholat, Sensasi chillax akan sangat terasa bahkan sejak sholat itu dimulai. Dinginnya air wudhu, dan beberapa menit waktu yang  kita berikan kepada tubuh dan pikiran kita untuk sejenak beristirahat dan menjauh dari penatnya pekerjaan. Belum sensasi ruhiyahnya, ketika dosa kita akan berguguran dengan air wudhu yang membasuh tubuh kita, dan dihapusnya dosa- dosa kecil di antara dua waktu sholat.

Sensasi dinginnya pikiran dan relaksnya hati akan jauh berlipat ketika kita sholat berjamaah di mesjid.

Paling mantap sih ketika sholat subuh. Bayangkan saja, jika kita bangun lima belas menit saja sebelum sholat subuh, bisa dijamin kita akan bisa mendapatkankan kemuliaan sholat malam, walau pun itu hanya sebatas dua rakaat qiyamul lail dan satu rakaat witir. Lalu sebelum berangkat, seharusnya sih kita bisa mendapatkan kemuliaan yang jauh lebih baik dari dunia dan seisinya dari dua rakaat sholat sunah sebelum subuh.

Ketika tiba di mesjid pun, kita masih mempunyai kesempatan untuk mendapatkan keutamaan sholat tahiyyatul mesjid.

Dan ditutup dengan kemuliaan sholat berjamaah di waktu yang paling utama, sholat subuh berjamaah.

Ah, sungguh bodoh sekali diriku ini yang masih bisa terkalahkan oleh kemalasan, dan melepaskan kesempatan luar biasa itu.

Perjuangan melawan kemalasan akan selalu terjadi di setiap langkah kehidupan kita.

Seharusnya aku merasa sungguh sangat beruntung karena diberi minimal lima kali waktu untuk Chill and Relax luar dalam. Kesempatan untuk menenangkan hati, tubuh, pikiran dan jiwa sejenak dari penatnya kehidupan dan mendekat kepada Yang Maha Pencipta, tujuan akhir kita yang sesungguhnya.

Mari ber-Chillax dengan Sholat  berjamaah di mesjid!

 

 

Pusing Tujuh Keliling Forever

“Manusia memang aneh, suka memikirkan yang tidak perlu dipikirkan tapi tidak memikirkan yang seharusnya dipikirkan”

 

“Pussiiiinnggggg…!” Teriak si Fulan dari teras depan rumahnya.

“Pusing tujuh keliling nih!” Si Fulan menambah variasi tujuh keliling untuk mendramatisir keadaan. Sambil memasang pose standar orang yang sedang pusing tujuh keliling: setengah jongkok, tangan kiri berkacak pinggang, tangan kanan memegang jidat, dan kepala digeleng- geleng.

“Pusing kenapa Mas Bro? Kok sampai tujuh keliling begitu” Tanya si Mamang Tukang Sayur langganan si Fulan yang tiba- tiba hinggap, eh, mampir di depan rumah si Fulan karena terkaget- kaget mendengar teriakan si Fulan.

“Ngga pusing gimana Mang…..” Kata si Fulan sambil menarik nafas panjang.

“Hutang makin banyak, kosan belum bayar, cicilan motor nunggak dua bulan, nilai kuliah jelek- jelek, pacar minta dinikahi secepatnya, orang tua telat ngirim..!” Kata si Fulan, persis seperti burung Cangkurileung yang baru dilepasan dari kandang.

“Hutang, keuangan, masalah keluarga, sekolah, kerjaan mah ya masalah biasa atuh Mas Bro, tiap manusia pasti punya masalah yang berkaitan dengan hal- hal itu…” Jawab Mas Bro, eh, Mamang Tukang Sayur dengan suara bariton yang lembut layaknya penyiar radio yang baru- baru ini mendadak beken di Youtube.

“Iya saya tahu Mang, tapi saya tetep pusing nih mikirin gimana solusinya!” Jawab Si Fulan dengan pose yang masih persis sama seperti tadi, hanya kali ini tangan kirinya yang hinggap di atas jidat. Kepalanya tentu saja tetap menggeleng- geleng.

Eh, tiba- tiba si Mamang malah ngaji dengan suara yang berat tapi lembut, mirip- mirp dengan Syaikh Mishary Al Efasy. Secara, dia kan emang imam di mushola deket rumah si Fulan.

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh)”. QS Hud ayat 6

 

            “Yee..si Mamang kenapa malah ngaji sih? Bukannya ngehibur!” Si Fulan menanggapi dengan sedikit kesal.

“Saya butuh solusi buat masalah saya, bukan pengen didengerin orang ngaji!” Tambahnya lagi.Sambil terduduk lesu, iya lah, masang pose orang pusing tujuh keliling gitu pasti pegel bukan main.

“Mas Bro beneran pusing nih, mikirin masalah- masalah Mas Bro?” Tanya si Mamang dengan lembut, seperti seorang ayah kepada anaknya.

“Iya lah, masa ngga keliatan dari tadi saya pasang pose seperti ini?!” Kata si Fulan yang tiba- tiab tersadar bahwa posisinya sudah berubah, dan memasang pose pusing tujuh keliling lagi.

“Mas Bro, masalah rejeki, uang, jodoh, maut, sudah dijamin oleh Allah. Itu janji-Nya!” Ucap si Mamang.

“Tugas kita bukan untuk memikirkan hal- hal itu.”

“Mas Bro sudah sholat zhuhur belum nih?” Tiba- tiba si Mamang bertanya.

“Masih pusing gini mas, nanti aja lah bentar lagi!” Jawab si Fulan sekenanya.

“Saya mau nanya boleh ngga Mas Bro?” Si Mamang pun tetap menanggapi dengan santai.

“Mau nanya apa?” Jawab si Fulan.

“Mas Bro yakin kalau Allah Maha Pencipta?” Tanya si Mamang.

“Yakin dong, saya kan orang Islam!” Jawab si Fulan.

“Yakin kalau Allah pemilik segala sesuatu di dunia ini?”

“Hmm.itu juga yakin dong! Intinya mau nanya apa nih, kok malah nanya yang aneh- aneh kaya gini!” Si Fulan mulai terlihat kesal.

“Yakin kalau Allah Maha Kuasa atas segala kejadian di dunia ini?

Si Fulan sekarang hanya sekedar menganggukkan kepalanya.

“Nah, itu cukup!” Kata si Mamang dengan muka sumringah.

“Cukup apanya?” Jawab si Fulan yang terlihat agak bingung.

“Di ayat yang tadi Mamang bacakan tercantum jelas bahwa Allah berkata:“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya”

            “Allah sudah menjamin rejeki setiap makhluk yang melata di muka bumi ini, dan itu termasuk manusia” Si mamang meneruskan obrolannya.

“Kita seharusnya tidak usah khawatir tidak dapet makan, tidak usah khawatir tidak bisa pake baju, tidak usah khawatir tidak dapet jodoh, tidak usah khawatir tidak dapet kerjaan, pokoknya mah urusan dunia mah Allah sudah jamin deh” Si Mamang mulai bersemangat menjelaskan.

Si Fulan sepertinya sudah lelah berpose pusing tujuh keliling, dan dia pun duduk ke posisi semula, di sebelah si Mamang sayur. Sambil mendengar si Mamang sayur dia pun menganggukkan kepalanya pelan- pelan, entah karena ngantuk atau karena memang sedang berusaha mengerti si Mamang.

“Cecak aja makanannya nyamuk, tapi mereka tidak pernah pusing!”

“Mas Bro, ada hal- hal yang seharusnya lebih kita khawatirkan dibanding hanya sekedar urusan hutang, keuangan,keluarga, jodoh.” Si Mamang menjelaskan lagi.

“Apa itu mas? Saya sudah cukup pusing nih memikirkan masalah- masalah saya, tolong jangan ditambah pusing!” Jawab si Fulan.

“Tugas kita diciptakan sebagai manusia semata- mata untuk beribadah kepada Allah”

“Mas Bro Sholat, puasa, zakat? Tanya Si Mamang.

“ Ya Iya lah, saya kan Islam Mang, masa ngga sholat, puasa ama zakat?” Jawab si Fulan dengan setengah melotot.

“Tapi Mas Bro yakin 100 persen ngga kalau  ibadah- ibadah Mas Bro itu bakal diterima oleh Allah?” Si Mamang masih bertanya lagi.

“Hmm…” Si Fulan mulai terdiam.

“Gimana ya….? Kalau ini sih sejujurnya saya tidak yakin. Sholat saya masih sering telat, ngga khusyu- khusyu amat, puasa juga ya gitu- gitu aja sih ngga ada yang istimewa, zakat mah pasti lah, minimal zakat fitrah.” Si Fulan menjawab dengan perlahan.

“Nahh..Apakah tiap sehabis sholat Mas Bro suka memikirkan bahwa sholat Mas Bro diterima atau tidak?” Tanya Si Mamang.

“Ngga sih, sholat ya sholat aja…Palingan ya itu, saya berdoa minta solusi untuk masalah- masalah saya” Jawab si Fulan.

“Lalu gimana Allah mau mengabulkan do’anya Mas Bro kalau ternyata sholatnya Mas Bro asal sholat aja, asal sah saja. Sah belum tentu diterima lho!” Si Mamang langsung menanggapi.

“Mas Bro pernah mikirin ngga apakah bacaan Al Qur’an Mas Bro sudah bener atau ngga? Apakah Mas Bro mbaca surat yang itu- itu saja, klo ngga Al Ikhlas ya Al Kautsar? Apakah Mas Bro abis sholat dzikir dulu ngga? Apakah Mas Bro sholat sunah rawatib ngga setelah sholat? Apakah Mas Bro ngerti bacaan sholat dari Takbir sampai Salam? Pertanyaan yang bertubi- tubi berhamburan dari mulut si Mamang, seolah- olah menohok dada si Fulan.

Si Fulan hanya terdiam. Pandangannya langsung kosong seperti sedang memikirkan jawaban untuk pertanyaan pertanyaan si Mamang.

“Ngga pernah Mang…” Jawab Si Fulan dengan lesu.

            “Tuh kan…Hal yang sudah jadi kewajiban ternyata malah Mas Bro ngga pikirin.”

“Ngga usah khawatir mikirin masalah rejeki and jodoh mas, atau masalah- masalah lainnya. Allah mah Maha Kuasa Atas Segala Sesuatu. Kalau ibadah kita sudah benar, dan diterima oleh Allah, Allah pasti akan dekat dengan kita. Kalau Allah sudah deket sama kita, kita pasti dimudahkan dan diberi jalan dari jalan yang tidak di duga- duga selama kita beikhtiar sekuat tenaga dengan benar dan dengan niat yang lurus.” Si Mamang menjelaskan lagi dengan perlahan.”

“Iya juga Mang, eh..Iya ya Mang..” Si Fulan menjawab.

“Selama ini saya selalu ruwet mikirin urusan dan masalah hidup saya, tapi malah sama sekali ngga pernah mikirin gimana kualitas ibadah saya. Padahal sudah puluhan tahun saya sholat, puasa, zakat. Tapi saya ngga pernah kepikiran untuk mikirin kalau ibadah saya itu sudah benar atau tidak, bakalan diterima oleh Allah atau tidak…” Ucap si Fulan dengan sedikit terisak.

“Astaghfirullohal’azhiim…ampun ya Allah” Si Fulan beristighfar dengan lirih..

“Tidak pernah ada kata terlambat untuk tobat Mas Bro” Kata si Mamang.

“Alhamdulillah kalau Mas Bro sudah sadar mah, ini juga sebagai koreksi untuk diri saya gar bisa memperbaiki kualitas ibadah saya lebih baik lagi” Si Mamang menambahkan lagi.

“Saya pamit dulu ya Mas Bro…semoga sukses! Saya tunggu di mesjid Ashar nanti Ya!” Ucap si Mamang Tukang Sayur sambil berlalu dengan motor yang sudah dimodifikasi dengan keranjang sayurnya.

“Wa’alaikumsalaam. Terima kasih Mang, sudah mengingatkan..” Jawab si Fulan yang mulai terisak lagi.

Tak lama kemudian si Fulan pun bergegas mengambil wudhu.

Kali ini dia merasa wudhunya terasa sangat berbeda. Dia sangat menikmati setiap bilasan air dingin yang mengalir dari keran plastik di kamar mandinya. Tanpa terasa air matanya pun mengalir pelan, terbilas oleh air wudhu yang membasuh mukanya. Hatinya pun berdetak kencang, tak sabar ingin segera mendirikan sholat, agar dia bisa taubat sepuasnya.

     لا إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحانَكَ إِنّى‏ كُنْتُ مِنَ الظَّالِمينَ

Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.”

 

www.didaytea.com

131011