Biar Cepat Asal Selamat (3): Quantum Learning

Bagian 3: Quantum Learning

Membaca seperti bermain ski, akan sulit mencapai tujuan dan mengalami kesulitan jika dilakukan dengan lambat

Buku Yang Aneh

Aku masih terduduk kelelahan sehabis menyelesaikan praktikum yang paling menyita waktu dan energiku, ketika dua orang  temanku duduk di sebelahku sambil berebut sebuah buku.

Selintas, aku bisa melihat judul buku tersebut: “Quantum Learning”. Learning kan artinya belajar, kalau Quantum aku sih belum begitu memahami artinya. Mendengar pun sangat jarang. Yang terlintas di dalam pikiranku ketika itu sih, serial Quantum Leap, yang menceritakan seorang laki-laki yang melompat-lompat dari kehidupan seseorang ke kehidupan orang lain, dengan menjadi orang tersebut.

“Maaf, boleh saya tahu judul bukunya?” Sapaku kepada dua gadis berjilbab yang sedang asyik berebut untuk membaca buku tersebut.

“Sepertinya buku itu sangat menarik ya, sampai kalian harus berebut untuk membacanya?” Tanyaku lagi.

Mereka langsung berhenti, seolah-olah baru menyadari bahwa ada orang di dekat mereka.

“Iya Kang, buku ini bagus banget!” Jawab salah satu dari mereka yang berusaha mempertahankan buku itu dari temannya.

“Dia curang tuh, harusnya aku dulu yang minjem buku itu!” Jawab yang satunya lagi.

Setelah beberapa saat aku perhatikan, mereka pun akhrinya terdiam, dan mengakhiri “perebutan” buku tersebut.

“Buku itu memangnya bukan milik salah satu di antara kalian?” Tanyaku keheranan.

“Bukan, Kang, ini milik teman satu kelas kami”. Jawab salah satu dari mereka.

“Boleh saya lihat sebentar bukunya?” Pintaku.

“Iya, sok, silahkan!” Katanya sambil menyodorkan tangannya yang memegang buku itu.

 

Buku itu pun berpindah tangan.

 

Judul buku itu Quantum Learning, ditulis Oleh Bobbi DePorter dan Mike Hernacki.

Ternyata buku itu terlihat aneh. Desain sampul yang tidak umum, dan desain lay-out buku itu sangat menarik. Sangat berbeda dari buku-buku pada umumnya. Buku ini “aneh” Karena tidak melulu hanya teks, tetapi di beri ilustrasi yang sangat menarik juga. Halaman sebelah kiri selalu merupakan gambar dan tulisan yang disertai ilustrasi dengan ukuran besar-besar. Sedangkan halaman kiri adalah penjelasan dari gambar dan ilustrasi dari halaman sebelah kiri. Walaupun penuh gambar dan ilustrasi, buku ini tidak tampak seperti buku untuk anak-anak. Banyak gambar dan ilustrasi di dalam buku itu adalah diagram, tetapi disajikan layaknya komik.

 

Aku hanya membaca sekilas tulisan dari si penulis: “Jika anda hanya mempunyai sedikit waktu untuk membaca buku ini, bacalah hanya halaman sebelah kiri, halaman yang hanya berupa gambar. Mereka akan memiliki isi yang kurang lebih sama dengan halaman sebelah kanan.

 

Karena waktuku sangat sedikit, jadi aku langsung membuka daftar isinya.

 

Dan, AHA! Ada satu bab yang sangat menarik buatku. Bab tentang membaca cepat.

 

Diriku sudah hampir tenggelam ke dalam gambar-gambar dan ilustrasi yang sangat menarik di dalam buku itu ketika tiba- tiba saja aku terkaget oleh tepukan halus dipundakku.

 

“Akang! Sudah dong baca bukunya. Kita juga kan mau baca!” Ujar salah satu dari mereka.

 

“Ehh, iya, maaf, maaf, soalnya buku ini bagus banget. Isinya ngga membosankan!” Jawabku sambil mesem-mesem dan menyodorkan buku itu kembali kepada mereka.

 

Kutemukan Ilmu Baru

Seperti diinstruksikan, yang aku baca hanya halaman sebelah kiri saja. Hanya dua poin penting saja yang aku bisa ingat dari bab itu: Tentang pandangan feriferal dan analogi membaca yang diungkapkan oleh si penulis buku tersebut.

 

Pandangan Feriferal

Pandangan periferal adalah luas area yang masih terlihat jelas di sekitar titik fokus mata anda.

 

Contoh yang sangat sederhana, jika anda melihat sebuah keramaian, dan anda memfokuskan pandangan pada salah satu orang. Luas area yang masih bisa anda kenali dengan baik, tanpa harus menggerakkan leher ataupun memmindahkan fokus mata anda, itulah pandangan periferal anda.

 

Semakin luas area ini, maka semakin baguslah kualitas pandangan periferal anda.

 

Dalam konteks membaca, daripada membaca kata perkata atau bahkan huruf per huruf, ternyata ada cara sederhana untuk langsung menambah kecepatan membaca kita. Kita hanya tinggal “menjatuhkan” fokus pada titik- titik kosong di antara kata-kata. Walaupun anda tidak pernah melatihnya, minimal dua kata akan langsung terbaca.

Intisari inilah yang aku betul-betul bisa praktekkan dari buku Quantum Learning.

 

Membaca=Bermain Ski

Pernahkah anda melihat orang yang bermain ski? Setidaknya melalui televisi? Anggap saja jawaban anda semua adalah Ya!

 

Apakah ada pemaiin ski yang meluncur dengan perlahan, selangkah demi selangkah, meluncur dari puncak bukit ke dasar lembah arena ski?

 

Apakah mungkin bermain ski tetapi anda melaju pelan?

 

Bagaimana pergerakan pemain ski ketika meluncur cepat di atas salju?

 

Pertanyaan- pertanyaan itu yang diutarakan oleh si penulis di dalam salah satu halaman ilustrasi yang aku baca.

Pemain ski akan meluncur dengan sangat cepat di atas salju, dari atas bukit ke dasar lembah arena ski, dengan melakukan pergerakan yang menyerupai huruf “S” yang terpelintir. Itu adalah jawaban dari pertanyaan- pertanyaan dari si penulis.

 

Bobbi DePorter menganalogikan bahwa kegiatan membaca memiliki “sifat” yang sama dengan bermaiin ski. Jika dilakukan secara perlahan, tidak akan mampu memberikan hasil yang maksimal dan optimal.

 

Kita akan sering mentok, sehingga memerlukan energi dan waktu tambahan untuk sekedar memulai kembali “meluncur”.

 

Dengan mengintegrasikan pandangan periferal dan konsep membaca=bermain ski, akhirnya kutemukanlah skill baru, membaca cepat. Dengan ukuran kasar kecepatan membacaku sebelum mempraktekkan ilmu ini tidak jauh berbeda seperti orang lain, berada di kisaran angka 200-300 kata per menit.

 

Setelah mempraktekkannya, dalam waktu beberapa jam saja, rata- rata kecepatan membacaku sudah meningkat pesat menjadi 600-700 kata per menit!

 

Dan Alhamdulillah, proses “penginstallan” kemampuan yang berlangsung sangat singkat ini ternyata menjadi kunci utama dari perubahan-perubahan besar yang terjadi di dalam kehidupanku sampai saat buku ini ditulis.

 

Berburu Buku Quantum Learning

Aku lupa berapa harga buku itu tepatnya, yang jelas sih, pada waktu itu rasa- rasanya tidak mungkin aku bisa membeli buku semahal itu.

 

Perpustakaan Daerah Jawa Barat pun menjadi solusinya.

 

Sebelumnya aku sudah menjadi anggota, tapi yang aku baca sih paling- paling sebatas komik yang lucu-lucu dan seru-seru semacam Kenji, Doraemon, Kung Fu Boy, dan teman-temannya. Aku ingin menghilangkan kejenuhan belajar di sekolahku dengan bersantai dan membaca hal-hal yang lucu dan menyenangkan saja ketika itu. Atau meminjam buku- buku untuk bahan mengerjakan tugas dari sekolah saja. Aku tidak pernah terpikir untuk menyengajakan diri meminjam buku-buku “serius” seperti sastra novel.

 

Kali ini aku serius, ingin meminjam buku yang sebenarnya sih serius juga, walau kali ini buku ini aku bilang sih cenderung menyenangkan, karena aku langsung bisa mendapatkan kemampuan baru yang efeknya ternyata lumayan hebat.

 

Beberapa waktu setelah itu, aku baru tahu ternyata buku-buku ini dikategorikan sebagai buku- buku How-To. Buku- buku yang berisi panduan- panduan untuk melakukan hal- hal di dalam kehidupan sehari- hari manusia.

 

Kembali ke proses “perburuan” buku.

 

Banyak anggota perpustakaan daerah yang berminat untuk meminjam buku tersebut, sehingga walaupun ada beberapa buku yang disediakan, tetap saja buku itu selalu tidak ada di dalam rak kategoriHow-To. Dan ada ketentuan lain, tidak seperti buku yang lain, yang bisa diperpanjang masa peminjamannya lebih dari dua minggu, tidak dengan buku ini. Buku ini hanya boleh dipinjam satu periode, hanya dua minggu saja.

 

Setelah beberapa kali datang, dan sempat pula berebut dengan aggota yang lain, akhirnya aku pun berhasil meminjam buku tersebut.

 

Kali ini aku benar- benar memfokuskan diri untuk membaca buku ini. Aku hanya fokus pada bab Membaca Cepat.

Alhamdulillah, setelah dua minggu aku mendalami dan berlatih dengan petunjuk buku tersebut, kemampuanku meningkat semakin pesat.

Kecepatan membacaku yang tadinya 600-700 kata per menit, kini melaju semakin kenjang dengan kecepatan maksimal yang pernah kucatat adalah 1346 kata per menit!

 

Berhasil, Berhasil!

Aku memiliki kelemahan di beberapa mata pelajaran yang memerlukan pemahaman(selain Matematika dan Fisika tentunya). Kalau orang lain bisa memahami sebuah subyek dengan hanya dua kali membaca, aku harus 3 atau 4 kali membaca untuk mendapatkan pemahaman yang sama dengan mereka. Ternyata kemampuan membaca cepatku sangat membantu.

 

Nilai- nilai ujianku mulai meningkat seiring waktu aku mempraktekkan ilmu baruku untuk belajar.

Sangat wajar, karena dengan  kecepatan membacaku, aku mempunyai waktu yang lebih banyak dibanding orang lain untukku melakukan proses review dan menganalisa jawaban dari soal-soal ujian yang diberikan.

Walaupun tidak sampai menjadi bintang kelas, tapi Alhamdulillah peringkatku tidak berada di kelas “menengah ke bawah” di antara teman-teman sekelasku.

 

Kelak, kemampuan baruku ini, yang walau sampai saat ini pun belum aku kuasai sepenuhnya,-dalam pengertian aku bisa mencapai pengertian yang baik dan menyeluruh hanya dengan sekali membaca tulisan-akan menjadi penolong terbesarku ketika aku menghadapi kesulitan dan kondisi yang aku tidak akan pernah mau mengalaminya lagi.

 

 

Bersambung..

www.didaytea.com

 

Biar Cepat Asal Selamat Bagian 2: Naik Kelas Euy!

 

 

Jumlah kegagalan yang kita alami tidak memiliki arti apa-apa, tapi berapa kali kita bisa bangkit setelah mengalami kegagalan-kegagalan tersebut, itu yang luar biasa!”

“Heavy Duty School”

Pada dasarnya sekolahku itu memang “heavy duty school”. Kelas 1 adalah kelas yang terberat untuk semua siswa baru. Dari persaingan dan beban belajar, jauh lebih ketat dari sekolah biasa.

Bayangkan saja, ketika itu satu angkatan hanya terdiri dari dua kelas. Dan dalam satu kelas hanya terdiri dari tiga puluh lima siswa saja. Di sekolah biasa satu angkatan bisa ada Sembilan, bahkan sepuluh kelas. Dan satu kelas bisa terdiri dari minimal lima puluh orang siswa.

Dari sisi persaingan, jelas, hampir semua siswa adalah juara satu ketika di SMP-nya.

Karena sekolahku itu adalah sekolah favorit, kebanyakan siswanya pun berasal dari luar kota Bandung. Siswanya ada yang berasal dari Pulau Bangka sampai ke Tuban.

Beban belajar di sekolah ini aku rasa hampir dua kali lipat lebih berat dari SMK/SMU biasa.

Bagaimana tidak, dalam enam  hari belajar, hanya ada satu hari “tenang”, di mana kami belajar di sekolah hanya sampai jam dua belas siang. Lima hari sisanya, paling cepat kami baru bisa keluar dari Laboratorium atau kelas jam empat sore.

Dan masih ada lagi, waktu setelah sekolah pun ternyata masih menjadi beban belajar untuk para siswanya. Karena harus membuat laporan atau jurnal, yang merupakan syarat untuk bisa menghadiri kelas atau praktikum di keesokan harinya. Lupa atau salah membuat jurnal? Siap-siap saja sang guru atau asisten praktek membuat anda hanya bisa melongo di luar, karena siswa tidak boleh masuk ke dalam ruangan.

“Tidak naik kelas”, hal yang hanya terjadi sebagai kejadian yang langka dan luar biasa di sekolah lain, di sekolah ini adalah hal yang lumrah saja. Tidak ada yang istimewa.

Jangan berharap jumlah siswa yang mendaftar, akan lulus pada waktu yang bersamaan. Karena pasti akan selalu ada yang “menghabiskan waktu untuk belajar” lebih lama dibanding teman- temannya yang lain.

Tahun Ke- Dua Ternyata Tetap Sulit

Hari pertamaku sebagai siswa “senior” di kelas satu awalnya sangat menakutkan bagiku. Sudah terbayang  pandangan  teman-teman sekelasku yang akan mencemooh, menghina karena aku tidak naik kelas. Terbayang pandangan keheranan para siswa baru, karena ada siswa “asing” yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan yang sama dengan mereka.

Ternyata, aku tidak sendirian. Ada siswa lain yang bernasib sama denganku. Dari dua kelas, ada empat orang yang tidak naik kelas.

Pertemuan pertama di kelas, aku diperkenalkan oleh wali kelas sebagai siswa yang “masih betah” belajar dengan beliau. Dan, Alhamdulillah, suasana yang tadinya tegang, karena para siswa baru pun masih keheranan dan terkaget-kaget, karena ada siswa “asing” di antara mereka.

Walaupun aku menyandang status sebagai siswa “senior”, tenyata tidak menjadi jaminan aku bakal menjadi yang terbaik. Seperti yang aku bilang di awal tulisan, sekolah ini mengumpulkan siswa-siswa terbaik di SMP se- Jawa Barat, bahkan dari luar propinsi.

Aku hanya menonjol di beberapa mata pelajaran yang betul-betul memerlukan “pengalaman”, seperti praktikum. Aku malah bisa mengajari teman-temanku trik trik untuk mengatur waktu dan pekerjaan ketika praktikum berlangsung.

Jadwal praktikum kami sangat padat, dan kami harus menyelesaikan banyak topik yang menjadi target untuk memenuhi batas nilai minimal kelulusan mata pelajaran yang bersangkutan.

Di mata pelajaran lain, aku masih berada di level yang tidak jauh berbeda dengan mereka.

Aku masih mengalami kesulitan di tahun ke-duaku di kelas satu. Ternyata tidak semudah seprti yang aku bayangkan sebelumnya.

Kelemahanku yang sangat menonjol adalah di bidang Matematika dan Fisika. Dua mata pelajaran ini yang membuat aku tidak naik kelas. Aku hanya memiliki dua nilai merah di raportku. Sialnya, dua mata pelajaran ini adalah mata pelajaran inti yang merupakan syarat wajib untuk seorang siswa agar bisa naik kelas.

Memang sih, sejak SD dan SMP, aku kurang menyukai dua mata pelajaran ini. Tapi Alhamdulillah, aku bisa mendapatkan nilai yang lumayan baik.

Ternyata,  Matematika di sekolahku ini memang lebih sulit dari Matematika yang diajarkan di sekolah biasa. Kakak- kakak kelasku bahkan bilang, kalau soal dari guru Matematika di sini jauh lebih sulit dibandingkan soal EBTANAS sekalipun!

Dan benar saja, setelah aku putar balik ingatanku, ternyata ada perbedaan kurikulum mata pelajaran di sekolahku itu dengan kurikulum sekolah biasa.

Perbedaan yang paling terasa sih, guruku itu tidak pernah mewajibkan siswanya untuk membeli buku praktek tertentu. Dia hanya menganjurkan beberapa buku untuk latihan saja. Untuk mata pelajaran “Kimia- kimian”, kadang kami harus langsung mencari referensinya ke perpustakaan ITB, atau perpustakaan Puslitbang Teknologi Mineral, jika guru kami menugaskan sesuatu.

Tetapi pada akhirnya, tetap saja, soal-soal yang dia berikan selalu lebih sulit dari soal latihan di buku-buku yang dia anjurkan itu.

Pokoknya, kami serasa mahasiswa yang berseragam putih-abuabu deh!

Matematika tetap menjadi ganjalan utama bagiku di tahun ke dua ini.

Dua Catur Wulan Yang Paling Mendebarkan

Mungkin karena aku sudah merasa takut duluan, dan memang aku sangat lemah di bidang matematika, dua catur wulan pertama aku masih mendapat nilai merah di raportku.

Catur Wulan pertama, ternyata tetap saja ya, Matematika dan Fisika masih menjadi batu sandungan terbesarku. Aku masih saja mendapat nilai lima di buku raport untuk ke-dua mata pelajaran itu. Tak bisa kugambarkan bagaimana takutnya aku ketika itu, ketika mengetahui bahwa aku terancam tinggal kelas dua tahun berturut-turut karena tidak bisa menguasai dua pelajaran itu. Aku juga tidak berani membayangkan bagaimana sedihnya orang tuaku. Dan aku mungkin tidak akan pernah bisa memaafkan diriku yang sudah memutuskan untuk mengambil kesempatan ke-dua dengan bertahan di sekolah ini. Aku pasti akan menyesal, karena memilih untuk bertahan ketimbang pindah saja ke sekolah yang lebih mudah, yang kelulusan dan naik kelas bukanlah sesuatu yang istimewa.

Agak aneh memang, seingatku, hanya dua pelajaran itu yang terasa sangat sulit dan membebani pikiranku. Pelajaran yang lain, walaupun sesulit apa pun, rasa-rasanya masih bisa kutangani, dan aku bisa mendapat nilai yang lumayan, tidak sampai harus berakhir dengan warna merah di buku raportku.

Catur Wulan ke-dua, tak kuduga dan tak kusangka, ternyata aku mendapat nilai yang lumayan, enam untuk Matematika, dan tujuh untuk Fisika. Buatku, dua nilai itu adalah suatu keajaiban terbesar yang kualami pada saat itu!

Kesempatan Ke-dua Akhirnya Berhasil Kulalui

Syarat untuk naik kelas: 1. Tidak boleh mendapat nilai Merah (di bawah 6) lebih dari empat mata pelajaran. 2. Tidak boleh mendapat nilai 4 di mata pelajaran apa pun. 3. Siswa tidak layak naik kelas jika ada satu saja nilai 4, walaupun tidak ada mata pelajaran lainnya yang nilainya Merah.

Di Catur Wulan  ke tiga, aku berusaha lebih keras untuk bisa menaklukkan si “Matematika” ini. Karena materi yang diberikan sang Guru kali ini jauh lebih sulit. Aku sering menginap di kost-kostan teman- teman sekelasku menjelang ujian mingguan. Alhamdulillah, materi yang luar biasa sulit itu sedikit bisa kutangani, setidaknya ada tempat buatku untuk bertanya.

Ujian Catur Wulan terakhir pun akhirnya tiba. Ujian yang akan menentukan apakah aku akan bisa melewati kesempatan ke-dua ini, atau aku akan gagal lagi untuk kedua kalinya, dan mau tidak mau harus angkat kaki dari sekolah itu.

Masa ujian ketika itu, adalah ujian terberat selama aku bersekolah. Aku harus menanggung beban yang dua kali lebih berat. Beban ujian itu sendiri, dan beban kenyataan bahwa aku masih berpeluang untuk tinggal kelas lagi.

Akhirnya, ketika hari pembagian raport tiba, sang wali kelas memanggil namaku: “Dedy Mulyadi!”

Bangku beliau yang hanya berjarak kurang dari sepuluh meter tiba-tiba terasa sangat jauh. Setiap langkahku terasa sangat berat, seperti dibebani oleh besi puluhan kilogram. Detak jantungku pun berdegup kencang, bertalu-talu seperti musik kopi dangdut hard rock.

Otakku terus menerus membuat skenario kehidupan, membayangkan kemungkinan- kemungkinan terburuk, membuat rencana dan langkah yang akan kuambil setelah kulihat hasil belajarku setelah setahun berlalu.

“Silahkan duduk!” Suara lembut tapi tegas beliau tiba-tiba membuyarkan lamunanku.

“Iya Pak!” Kusimpan tubuhku dengan perlahan di atas kursi yang di kala itu, entah kenapa terasa panas.

“Masih betah di kelas satu?” Tanya guruku itu dengan mimik serius.

“Pastinya nggadong Pak!” Jawabku dengan tersenyum kecut, dan mata langsung memandang kosong ke arah depan, karena “film” yang tadi berputar di pikiranku tiba-tiba muncul lagi.

“Bagus, berarti kamu setahun ini belajar dengan serius.” Jawab guruku, kali ini wajahnya agak sedikit berubah.

“Selamat Ded, kamu kali ini naik kelas!” Kata beliau sambil berdiri dan menyodorkan kedua tangannya; yang kanan mengajak untuk bersalaman, dan yang kiri memegang buku raport biruku dilengkapi seyuman lebarnya, yang ketika itu terasa lebih manis dari biasanya.

“Alhamdulillah..!” Hanya kata itu yang bisa kuucapkan ketika itu.

Kujabat tangan guruku itu dengan wajah sumringah, dan kuambil buku raportku, sambil menahan tubuhku yang seperti ingin menghentak-hentakkan diri, untuk terbang dan meloncat. Ingin rasanya aku berteriak sekencang-kencangnya karena saking gembiranya diriku saat itu.

Tapi tetap saja, akhirnya aku tidak bisa menahan diri lagi, dan sesaat setelah mejabat tangan guruku, tubuhku pun meloncat sambil mengepalkan kedua tanganku di depan teman-teman sekelasku:

“Yeesssss…..!!!”

Urang naek kelas euy!”

Bersambung




Biar Cepat Asal Selamat! Menuju Sukses Dunia Akhirat Dengan Membaca Lebih Cepat, Bagian 1

Bagian 1: Tidak naik kelas? Mustahil!

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu;Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”.(QS Al Baqarah, 2:216).

 

Kabar Mengejutkan

“Kriiiiiinnggg…!!!” Kedua telingaku hampir pecah rasanya ketika telepon di ruang depan tiba- tiba menjerit, memanggil siapa pun yang didekatnya untuk segera mengangkatnya.

 

“Halo, Assalaamu’alaikum, siapa ini, Aa ya?” Suara seorang wanita paruh baya terdengar dengan lirih dari gagang telepon di telingaku.

 

“Wa’alaikumsalaam, iya Bu, ini Aa!” Jawabku, tanpa sedikit pun khawatir bahwa Ibuku akan segera menyampaikan berita yang tidak akan pernah aku ingin dengar seumur hidupku.

 

Ibuku hari ini pergi ke sekolah untuk mengambil raportku. Raport itu seharusnya diambil dua hari yang lalu, di acara pembagian yang resmi oleh wali kelas. Hari itu aku tetap datang ke sekolah, walau pun sudah diberitahu bahwa siswa yang belum melunasi uang SPP tidak akan diijinkan untuk mengambil raport.

 

Dan ternyata benar saja, hari itu aku pulang dengan tangan hampa. Ibu wali kelas betul- betul menepati janjinya. Siswa yang belum membayar SPP tidak bisa mengambil raportnya. Raport itu harus diambil langsung oleh orang tua siswa yang bersangkutan.

 

“Aa, Aa yang sabar ya!” Ibuku berkata dengan lirih, dan terdengar seperti terisak menahan tangis.

“Sabar? Sabar kenapa Bu? Kenapa Aa harus sabar?” Jawabku segera, dengan perasaan yang mulai tidak enak.

“Hiks…..” Di ujung sana tidak terdengar kata- kata apapun, selain isak tangis ibuku yang rupanya sudah tidak tertahankan lagi.

 

“Ada apa Bu? Ada apa..?” Aku makin khawatir.

 

“Aa,  Aa ternyata tidak naik kelas…!” Dan tangis ibuku pun sudah tidak tertahan lagi setelah mengucapkan kata- kata yang mungkin tidak pernah ingin dia sampaikan kepada anak sulungnya ini. Selanjutnya yang terdengar hanya isak tangis dan suara sesenggukan ibuku di ujung sana.

 

Aku hanya bisa terdiam. Otakku seketika beku dan tidak bisa memikirkan apa pun setelah mendengar berita yang terdengar jauh lebih dahsyat dari petir yang menggelegar ketika Bandung dilanda hujan lebat. Berita yang menusuk hatiku jauh lebih sakit daripada berita bahwa siswa tercantik di angkatanku ternyata sudah dijodohkan oleh orang tuanya.

 

Aku coba berpikir jernih dan kuhela nafasku dalam- dalam. Aku masih setengah tidak percaya dengan apa yang sudah aku dengar langsung.

 

“Mustahil! Mustahil aku tidak naik kelas!” Kata- kata itu terus bergumam di bibirku dan berkecamuk di dalam hatiku.

 

Aku adalah anak paling pintar di kelurahanku. Aku sudah bisa membaca ketika berumur empat setengah tahun sampai “ditendang” keluar dari TK agar langsung masuk ke SD. Dan aku jadi siswa termuda ketika itu, karena umurku baru empat setengah tahun. NEM-ku ketika SD dan SMP paling besar di kelurahanku. Selama sembilan tahun menginjakkan kaki di sebuah institusi yang bernama sekolah, aku tidak pernah sekali pun terlempar dari peringkat 10 besar.

 

Tidak naik kelas adalah hal yang tidak pernah sekalipun terbayangkan. Otak kiriku mengatakan kejadian ini  mustahil terjadi, sama seperti mustahilnya seperti mengalahkan terangnya matahari dengan sebuah lampu senter. Sama mustahilnya dengan Barcelona atau Real Madrid terdegradasi ke Segunda Division!

 

“Sekarang rencana Aa gimana?” Isak Ibuku dengan masih sesengukan karena menahan tangis.

 

“Mau tinggal di sekolah ini saja, atau mau pindah ke sekolah biasa?”

 

Aku masih terdiam dan tergumam.

 

“Kalau Aa misalnya mau pindah, harus segera diurusin hari ini juga, karena hari ini adalah hari terakhir penerimaan siswa baru di SMA atau SMK selain sekolah yang sekarang!” Pungkas Ibuku yang terdengar sudah mulai menguasai kesedihannya.

 

“Menurut Ibu gimana baiknya?” Aku malah menjawab pertanyaan Ibuku dengan pertanyaan lagi.

 

“Ya terserah Aa, Aa kan yang akan menjalani bukan Ibu.” Jawab Ibuku.

 

“Tapi kalau boleh Ibu memberi saran, bidang kimia masih menjadi favorit.Lulusannya akan lebih mudah bekerja. Coba saja berjuang satu tahun lagi di sekolah yang sekarang. Jika ternyata masih tidak naik, ya mau tidak mau Aa harus pindah sekolah.” Jawab Ibuku dengan lirih.

 

“Jika Aa rasa Aa masih mampu menjalani sekolah yang sekarang, sebaiknya Aa tidak usah pindah. Dan lagi pula pendaftaran sudah mepet. Kita tidak akan sempat menyiapkan surat- surat yang diperlukan untuk bisa pindah sekolah.” Kata Ibuku.

 

Aku masih belum bisa menjawab.

 

“Aa butuh waktu untuk berpikir dulu Bu, supaya keputusan yang diambil benar- benar matang dan tepat untuk kehidupan Aa. Sebaiknya Ibu pulang dulu, dan kita bicarakan masalah ini di rumah.” Jawabku  setelah beberapa menit melamun dengan pandangan kosong ke luar rumah melalui jendela ruang tengah yang menutupi setengah dari dinding ruangan itu.

 

“Iya A, sebaiknya memang seperti itu. Ya sudah Ibu langsung pulang sekarang ya!”

 

Bertahan Atau Menyerah?


Beberapa lama setelah Ibuku menutup telepon, hatiku langsung berkecamuk, otakku langsung seperti mendidih dan pikiranku berputar, terus memikirkan pilihan apa yang harus aku ambil hari ini.

 

Pindah sekolah?

 

Atau bertahan, dengan status siswa yang tinggal kelas?

 

Walaupun sekolah itu memang berat, tapi aku rasa aku masih mampu menjalaninya. Toh, nilaiku pun tidak jelek-jelek amat. Hanya ada dua nilai merah di raportku. Penyebab utamanya, nilai matematikaku sangat di bawah standar, tidak hanya “nilai merah” biasa.

 

Terdengar sangat memalukan memang. Tapi itulah, sekolahku memang menerapkan standar yang sepintas terlihat sangat mudah. Padahal dibalik standar yang mudah terdapat perjuangan yang sangat berat.

 

Kuyakinkan diriku bahwa aku masih bisa memperbaiki ini, aku masih mampu melewati perjuangan yang sangat berat di sekolah itu. Aku harus menuruti saran Ibuku. Bukankah dia dan Ayahku jauh lebih tahu yang terbaik untukku yang baru lulus SMP ini?

 

Tak berapa lama, Ibuku pun tiba di rumah. Tampak bagiku sekarang kondisinya sudah jauh lebih tenang.

 

“Gimana, sudah ada keputusan?” Tanya Ibuku.

 

Dengan yakin, akupun menjawab: “Insyaalah, Aa akan menuruti saran Ibu, Aa akan bertahan di sekolah ini”.

 

Yakin hanya ungkapan ini yang bisa mewakili perasaanku ketika akhirnya mengambil keputusan untuk bertahan. Aku berjanji kepada diriku dan orangtuaku untuk berusaha lebih baik. Alasanku yang utama ketika itu adalah ingin menuruti saran Ibuku yang masih ingin aku bertahan di sekolah favorit itu.

 

Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kedua-pilihan yang aku ambil-untuk bisa melalui beratnya pendidikan di sekolah itu.

 

Dan Alhamdulillah, ternyata keputusan yang aku ambil ketika itu adalah pilihan yang tepat. Karena keputusan inilah yang mendasari perubahan-perubahan besar dalam hidupku di masa depan.

 

Hikmah


Akhir-akhir ini, ternyata baru kusadari hikmah dari kejadian itu.

 

Sangat sering sekali aku membanggakan diriku yang mulai masuk SD ketika masih berumur empat setengah tahun. Aku sering menyombongkan diri ketika memasuki sekolah itu, karena aku bisa menembus seleksi yang sangat ketat, ditambah dengan umurku yang paling muda dari seluruh siswa baru yang berhasil diterima di sekolah itu.

 

Mungkin ini adalah teguran dari Allah untuk kesombonganku.

 

Hikmah positifnya, tentu saja adalah keadaan diriku yang sekarang ini.

 

Allah ternyata menyiapkan kondisi yang tidak pernah aku mimpikan sebelumnya, kondisi ketika aku bisa mencapai impian-impian yang tidak kalah mustahilnya dengan takdir bahwa aku tidak naik kelas.

Subhanallah!

Bersambung….

DIALOG LIMA BELAS JUTA

DIALOG LIMA BELAS JUTA

DIALOG LIMA BELAS JUTA

“Lima belas juta rupiah?” Pekik temanku dengan mata yang terbelalak sebesar-besarnya sampai terlihat hampir meninggalkan tempatnya, ketika aku bilang bahwa itu adalah nilai semua ratusan buku yang berbaris dan bertebaran di sekeliling kamarku. Aku beli semua buku itu selama bekerja hampir tujuh tahun.

“Sayang banget , uang sebanyak itu kamu habiskan hanya untuk membeli buku- buku ini, buku kan tidak bisa dijual, dan kalau pun dijual nilainya ya seperti  barang loakan!”

Itu adalah komentar paling  “lucu” menurutku sepanjang aku bekerja di sebuah kota industri.

Dan mungkin, itu adalah pendapat sebagian besar orang yang memahami bahwa lebih baik membeli  rumah, kendaraan, tanah, bahkan makanan daripada membeli buku.

MEMBACA LEBIH CEPAT=BERPIKIR LEBIH CEPAT

Alhamdulillah, sebelum mendapatkan ijazah kelulusan dari sebuah SMK di Bandung, aku sudah resmi menandatangani kontrak dengan sebuah perusahaan petrokikia di Cilegon. Tidak sehari pun waku dalam hidupku yang berstatus pengangguran setelah lulus dari sekolah.

Hari Sabtu aku diwisuda, Seninnya aku sudah bekerja.

Impianku waktu itu, aku ingin membeli semua buku yang aku inginkan sewaktu aku masih bersekolah. Karena waktu itu aku hanya mampu meminjam ke perpustakaan daerah Jawa Barat. Kurang sreg rasanya jika hanya meminjam, aku ingin bisa memiliki buku-buku  tersebut.

Incaran utamaku adalah Quantum Learning. Buku yang pernah kupinjam dari seorang adik kelas. Buku ini yang paing berkesan untukku karena memberi paradigma baru ke dalam diriku tentang proses pembelajaran. Lebih spesifik lagi, yang paling menarik minatku adalah Bab tentang Membaca Cepat. Itu Skill utama yang sampai sekarang aku miliki, yang dihasilkan dari membaca buku tersebut.

Dan mimpi itu pun menjadi kenyataan.

Ketika mudik pertama, hal yang pertama lakukan adalah langsung meluncur ke Palasari,dan membeli buku itu.

Dan makin jatuh cintalah aku kepada buku-buku dengan tema yang berkaitan dengan proses pembelajaran, atau “belajar bagaimana belajar”.

Sejak itulah, aku rajin berburu buku-buku dengan tema sejenis Accelerated Learning, Otak Sejuta Giga Bite, Super Brain Power, Berpikir Ala Einstein, Revolusi Cara Belajar, The Sharper Mind, Imagine That, Master Your Memory, Use Both Side Of Your Brain, Use Your Brain, Beyond Teaching and Learning, dan buku-buku lainnya.

Semua buku itu penuh dengan metode-metode untukmeningkatkan kecerdasan, untuk memudahkan proses belajar kita, dan segudang “how-to” lainnya.

Tapi mungkin karena diriku kurang cerdas dan kurang pemahaman, yang benar- benar “menempel” sebagai sebuah kemampuan di dalam diriku hanya kemampuan membaca cepat.

Sebelum aku mempelajari buku-buku tersebut, kecepatan membacaku (dengan berusaha membaca secepat mungkin) maksimal hanya 200-300 kata per menit.

Tapi setelahnya, kecepatanku meningkat tajam sampai hampir 1400 kata per menit!

Alhamdulillah, kecepatan membacaku bisa menutupi kelemahanku di dalam memahami pelajaran di sekolah dan kampus. Dengan membaca lebih cepat, otomatis aku pun bisa berpikir lebih cepat. Sehingga di dalam jangka waktu yang sama, aku mempunyai waktu lebih lama untuk bisa lebih memahami pelajaran.

Yang paling terasa ketika ujian datang. Kecuali Kalkulus, Fisika, dan statistik, mata kuliah yang tidak memerlukan kecepatan membaca (dan memang aku mentok di dua mata kuliah itu), aku selalu dapat menyelesaikan soal- soal ujian jauh lebih cepat dari siswa/mahasiswa lain.

Wajar saja kan, dengan kecepatan rata- rata orang biasa 200-300 kata per menit, aku melaju kencang dengan 1300 kata per menit. Dengan “meluangkan waktu” untuk memeriksa, memastikan dan mencocokkan jawaban dua kali saja, aku dipastikan bisa selesai dalam waktu sepertiga kali lebih cepat dibanding orang lain.

Kemampuanku membaca cepat juga ternyata berpengaruh kepada kemampuan berbahasaku juga. Hobiku menonton film menjadi “penyumbang” terbesar kemampuan bahasa Inggrisku. Dulu, ketika masih membaca dengan “biasa” aku malas untuk mendengar percakapan para tokoh di film- film itu. Lebih baik fokus ke cerita dan menikmati serunya filem, cukup dilengkapi dengan teks bahasa Indonesia. Jika aku set teksnya ke Bahasa Inggris, pasti memerlukan waktu untuk membaca, menerjemahkah ke Bahasa Indonesia dan menghubungkan teks dengan cerita dalam filem tersebut.

Ketika aku bisa membaca lebih cepat, ide cemerlang pun muncul.

Proses “Membaca-Menerjemahkan-Menghubungkan” kini bisa berlangsung lebih cepat, karena aku bisa membaca teks jauh lebih cepat, menerjemahkan (berpikir) lebih cepat, dan menghubungkan teks dengan cerita di film tersebut jauh lebih cepat dan lebih cepat. Setelah itu proses menonton film pun menjadi sangat menyenangkan buatku, karena bisa mendapat hiburan sekaligus menambah kemampuan berbahasa Inggrisku.

Alhamdulillah, walaupun tidak sampai sekelas penerjemah “asli”, dan Tata Bahasa Inggris “resmi” tidak pernah aku kuasai, tapi aku bisa berkomunikasi dengan cukup lancar di bahasa yang sebagian besar siswa dan mahasiswa takuti ketika seklah dan kuliah dulu. Dan aku sempat dipercaya untuk menerjemahkan beberapa tulisan Gola Gong di blognya, walaupun sangat jauh dari dibilang bagus dan baik.

Dan puncaknya, adalah momen di mana seorang temanku datang ke rumahku dan berlangsunglah “dialog lima belas juta”, seperti di awal paragraf tulisan ini.

BALIK MODAL PLUS UNTUNG BESAR

Beberapa waktu setelah “dialog lima belas juta” itu berlangsung, aku mendapat panggilan untuk bekerja di luar negeri.

Entah kenapa, ketika itu aku sangat yakin dan percaya untuk bisa diterima. Karena ketika itu aku sedang mengalami periode “puncak kesulitan finansial” di dalam hidupku. Hanya itu harapanku untuk bisa survive.

Sebelum test berlangsung, aku melakukan persiapan habis- habisan demi menghadapi test tersebut. Aku pergi ke warnet setiap hari untuk mengunduh materi- materi yang berhubungan dengan perusahaan yang memanggilku untuk test tulis di Jakarta.

Ketika hari yang sangat mendebarkan di dalam hidupku itu tiba, aku pun meluncur ke TKP, eh, sebuah hotel di Jakarta.

Sepanjang perjalanan, terus kuyakinkan diriku untuk yakn dan percaya diri bahwa aku bisa menembus persaingan yang sangat ketat, karena bakal ada puluhan orang yang menjadi sainganku.

Dan ternyata benar, beberapa sainganku bahkan adalah kakak kelasku yang tujuh angkatan di atasku! Ada juga yang sudah menjadi supervisor di perusahaannya. Wah, harapanku semakin kecil nih. Dan satu hal lagi, aku paling muda diantara delapan puluh tiga peserta test yang datang hari itu.

Dan Alhamdulillah, Subhanaloh, Allaahu Akbar! Ketika soal test dibagikan, sama sekali tidak ada test tentang hal-hal yang aku unduh dari internet, sama sekali tidak ada pertanyaan mengenai produkk perusahaan tersebut. Yang ada hanya soal- soal yang sangat dasar tentang kimia. Dan subyek lainnya, ini yang paling utama menurut perwakilan dari perusahaan tersebut adalah “The Learning Ability”, test kemampuan belajar.

Soal- soal yang lebih menyerupai Test IQ dibanding test masuk perusahaan, hanya ini diujikan dalam bahasa Inggris.

Soal- soal yang memang bakal menjadi “makanan empuk” untuk kecepatan membaca dan kecepatan berpikirku. Dan benar saja, dari  satu jam yang diberikan oleh penguji, aku bisa menyelesaikannya hanya dalam waktu dua puluh menit! Alhamdulillah.

Setelah melalui proses wawancara dan test medis, akhirnya aku pun ditawari kontrak kerja melalui email.

Ketika aku membuka file kontrak kerja dan jumlah yang tertera di kontrak itu seketika mulutku ternganga selebar-lebarnya, dan membuat jantungku berdegup kencang bukan main, dan aku pun langsung bersimpuh sujud syukur kepada Yang Maha Kaya.

Bagaimana tidak, ketika hitungan “juta” pun sudah terasa sangat besar, karena aku baru bekerja enam setengah tahun,masa kerja yang jauh lebih singkat dari para sainganku itu, aku ditawari kontrak kerja dengan jumlah lebih dari  lima belas kali dari jumlah yang biasa kuterima.

Tanpa pikir panjang, aku pun langsung menandatangani kontrak itu dan mengirimnya ke bagian rekrutment perusahaan tersebut.

Seminggu sebelum aku terbang menuju negeri impian, aku bertemu dengan temanku di “dialog lima belas juta” itu, dan berbicara dengan yakin: “Mas, lima belas juta uangku yang kuhabiskan untuk membeli buku, dan mas bilang sia- sia, ternyata sekarang sudah balik modal, plus untungnya dikali beberapa puluh kali!”

Didaytea!

Yang Sedang Sangat Beryukur Tak Henti-henti

Di tengah musim panas yang sangat sejuk.

260720101045

Membantu Orang Membayar Hutang

Membantu Orang Membayar Hutang

“Saudaraku,” kata Nasrudin kepada seorang tetangga, “aku sedang mengumpulkan uang untuk membayar utang seorang laki-laki yang amat miskin, yang tidak mampu memenuhi tanggung jawabnya.”
“Sikap yang amat terpuji,” komentar tetangga itu, dan kemudian memberinya sekeping uang.
“Siapakah orang itu?”
“Aku,” kata Nasrudin sambil bergegas pergi. Beberapa minggu kemudian Nasrudin muncul lagi di depan pintu tetangganya itu. “Kupikir, kau mau membicarakan soal utang,” kata sang tetangga yang sekarang tampak sinis.
“Betul demikian.”
“Ada seseorang yang tidak bisa membayar utangnya dan engkau mengumpulkan sumbangan untuknya?”
“Ya. Memang demikian adanya.”
“Lalu engkau sendiri yang meminjam uang itu?”
“Tidak untuk saat ini.”
“Aku senang mendengarnya. Ini ambillah sumbangan ini.”
“Terima kasih…”
“Satu hal, Nasrudin. Apa yang membuatmu begitu bersikap manusiawi terhardap masalah yang khusus ini?”
“Oh, rupanya kamu tahu… akulah yang memberi pinjaman.”