Nikmatnya Berbuka Dengan Gehu di Qatar

Koneksi internet di sini sangat cepat dan mudah, sehingga saya tidak pernah ketinggalan perkembangan berita di tanah air. Ketika membaca dan menonton berita tentang “ngambeknya” para produsen tahu dan tempe di Indonesia, sehingga mereka sepakat untuk tidak memproduksi Tahu dan Tempe karena harga kedelai yang tiba- tiba meroket, saya merasa sangat beruntung.

Saya merasa sangat beruntung karena saya bisa mendapatkan Tahu dan Tempe dengan mudah, walau pun saya tinggal di negara kecil yang terletak di tengah Gurun: Qatar.

Tidak hanya Tahu dan Tempe saja yang mudah didapatkan, makanan buka puasa tradisional dari berbagai daerah pun bisa kami dapatkan dengan mudah, walau pun tidak harus memasak sendiri. Dari Bala- bala ala Sunda, Kolak pisang, Kolak Labu, Es Campur, Asinan Bogor, sampai Cecuer dan ketan bintul a la Banten juga ada.

Untuk masalah kuliner, kami para TKI yang bekerja di Qatar tergolong sangat beruntung. Di negara yang kecil nan kaya raya ini setidaknya ada tujuh restoran Indonesia. Ada yang bergaya masakan Jawa, menu Minang, menu ala warteg, bahkan ada restoran yang khusus menyediakan masakan dan jajanan yang terbuat dari Tahu.

Bayangkan saja berapa macam jajanan yang berbahan baku Tahu. Batagor, Gehu/Tahu Isi, Bakso-Tahu/Siomay Bandung, Tahu Gejrot, Batagor Kuah, Kupat Tahu, dan Karedok Tahu. Menu jajanan yang mungkin susah ditemukan selain di kota Bandung saja.

Dan mungkin di Indonesia sendiri belum ada restoran yang unik seperti ini.

Kesulitan kami yang terbesar ketika berpuasa di Qatar, mungkin hanya temperatur, dan waktu puasa yang agak lebih panjang dibanding dengan di Indonesia.

Di Qatar, bulan Juni sampai Agustus adalah musim panas. Sejak saya tiba di Qatar tahun 2008, bulan suci Ramadhan selalu jatuh pada musim panas. Suhu rata- rata pada siang hari selalu lebih dari 40 derajat Celsius. Dan pada malam hari pun tidak jauh berbeda, hanya sedikit lebih rendah saja. Lebih terasa berat lagi di akhir Juli dan awal Agustus, karena temperatur yang tinggi akan berpadu juga dengan kelembaban yang tinggi juga. Sehingga, jika kita berada di luar ruangan, kita akan sangat cepat merasa kelelahan walau pun tidak melakukan apa- apa.

Di musim panas, waktu siang lebih panjang. Adzan subuh berkumandang sekira pukul setengah empat pagi, dan adzan Magrib tiba sekira pukul setengah tujuh.

Sebisa mungkin kami menghindari untuk keluar pada malam hari. Setidaknya kami bisa menghindari ganasnya sinar matahari musim panas di tengah gurun ini.

Pemerintah Qatar sangat mendukung dan mengkondisikan para warganya untuk khusyu beribadah di bulan Ramadhan.

Para pekerja yang bekerja non- shift dibatasi hanya bekerja selama lima jam saja. Jadi pekerja kantoran hanya boleh bekerja dari jam tujuh pagi sampai jam dua belas siang.

Untuk pekerja yang shift, semua perusahaan memberi tunjangan khusus dan lembur istimewa untuk karyawan yang muslim.

Selain itu juga ada dispensasi khusus bagi karyawan yang muslim. Mereka boleh mengajukan perubahan jadwal kerja mereka menjadi hanya malam hari saja.

Mesjid di Qatar bagus- bagus dan sangat nyaman. Pemerintah membangun mesjid hampir di setiap blok pemukiman penduduk.

Bahkan ada mushola yang bagus, bersih dan nyaman di dalam pusat perbelanjaan. Di salah satu mal terbesar di Qatar, adasatu mushola besar dan setidaknya dua atau tiga mushola di setiap lantai.

Dan juga, Mesjid terbesar di Qatar, Mesjid Imam Muhammad Ibn Abdul Wahhab, bulan Ramadhan kali ini mengundang Imam tamu dari luar Qatar seperti Sheikh Abdullah Basfar dan Sheikh Sa’d Al Ghamidi yang sebagian besar dari kita hanya bisa mendengar suara bacaan Al Qur’annya dari rekaman radio, atau siaran langsung taraweh di televisi.

Di banyak tempat, pemerintah menyediakan tenda- tenda iftar untuk umum.

Pemerintah juga mengadakan acara buka puasa bersama akbar bersama komunitas warga muslim Indonesia.
Tapi seperti di Indonesia juga, tetap saja ada godaan yang sama.

Di Qatar, bulan Ramadhan juga adalah bulan diskon, bulan promosi, dan bulan Sale, karena bertepatan juga dengan musim Summer Sale.

Showroom mobil dan pusat perbelanjaan berlomba- lomba menggoda para penduduk Qatar untuk menghabiskan uang dengan godaan diskon dan promosi yang sangat menggiurkan.

.

Iklan

Toga Biru

 

Sekolah Mahal

Di Qatar, sampai tulisan ini dibuat, belum ada sekolah khusus untuk orang Indonesia seperti di beberapa negara lain.

Alhamdulillah, akhirnya saya bisa memasukkan si sulung ke salah satu sekolah yang ada, dan termasuk ke dalam sekolah yang termasuk ke dalam daftar yang ditanggung langsung oleh perusahaan.

O iya, perusahaan saya, dan perusahaan Oil & Gas atau Petrokimia lainnya di Qatar biasanya menanggung biaya pendidikan hingga anak ke-empat. Fasilitas ini juga yang menjadi salah satu pertimbangan saya untuk membubuhkan tanda tangan saya di atas surat penawaran dari perusahaan tempat saya bekerja sekarang.

Biaya pendidikan di sini super muahhall.

Biaya pendidikan per bulan sekolah setingkat TK Nol Besar saja bisa mencapai hampir lima juta rupiah! Padahal sekolah itu bukan termasuk sekolah yang elit, masih sekolah yang tingkatnya biasa- biasa saja. Salah satu sekolah elit yang ada di Doha, malah ada yang biaya per bulannya mencapai hampir delapan belas juta rupiah. Ya, anda tidak salah membaca dan saya juga tidak salah mengetik, delapan belas juta rupiah per bulan!

Di Indonesia, TK yang paling elit pun tidak akan memungut biaya sebegitu besar, bahkan bisa membiayai kuliah S2.

Ah, tapi ya sudahlah, ilustrasi biaya tadi hanya untuk pembuka tulisan saya saja.

Hari Pertama Sekolah

Langsung saja ke intinya deh, walau pun pasti untuk pembaca yang berada di Indonesia masih terkaget- kaget begitu mengetahui biaya sekolah di sini yang super mahal luar biasa.

Hari pertama anak saya sekolah adalah hari di mana saya benar- benar merasa menjadi orang tua yang sesungguhnya. Bahkan perasaan campur aduk antara bangga, taku, khawatir, perasaan menjadi tua, dan perasaan lain yang bertumpuk dan bercampur di dalam pikiran dan hati itu sudah muncul sejak hari pendaftaran.

Berlanjut ke persiapan sekolahnya. Dari mulai membeli seragam, peralatan sekolah, sepatu. Kami biarkan dia memilih sendiri model dan warna yang dia inginkan untuk peralatan sekolah. Walau pun ada efek sampingnya juga sih. Adik perempuannya yang baru beranjak dua tahun, ternyata ikut- ikutan seperti kakaknya. Pada akhirnya hanya satu anak yang sekolah, tapi belanjaan jadi dua kali lipat, karena si kecil meniru kakaknya dengan memasukkan benda- benda yang dia inginkan ke dalam kereta belanjaan.

Di hari pertama itu, perasaan kami berdua sudah campur aduk seperti bubur ayam yang sudah diaduk, tadinya rapih dengan topping kerupuk, daging ayam suwir, irisan seledri, kacang kedelai yang sudah digoreng garing, taburan merica, dan sedikit tetelan tulang ayam yang tenggelam di tengah adonan bubur, dilengkapi dengan sambel super pedas berwarna Jingga teronggok di sudut salah satu lekukan kerupuk

Gembira, karena kami akhirnya menaiki salah satu tangga fase kehidupan di dalam kehidupan berumah tangga, mengantar anak ke sekolah.

Sedih, karena sejak hari itu dan dua belas tahun, atau mungkin lebih, di hari selain hari libur kami sudah tidak akan mungkin lagi bisa mendengar canda tawanya di dalam rumah ketika matahari terbit.

Di hari itu pula kami bisa membayangkan perasaan orang tua kami ketika dulu melepas kami di hari pertama sekolah.

Entah apa yang ada dibenaknya, tapi di benak saya dan istri hanya ada satu perasaan: khawatir.

Khawatirnya cuma satu, tapi hal- hal kami khawatirkan banyak sekali.

Khawatir dia tidak akan bisa mengikuti pelajaran di sekolahnya, dan harus mengulang lagi di TK Nol Kecil tahun depan.

Khawatir dia tidak akan mengerti gurunya, yang tidak mungkin bisa berbahasa Indonesia.

Eh, tanpa terasa, serasa baru kemarin kami mengantarkannya ke sekolah.

Serasa baru kemarin kami dengar tangis dan teriakannya yang masih terdengar sampai gerbang sekolah, karena tidak ingin ditinggal. Hanya hari pertama sekolah saja kami boleh mengantarnya sampai ke dalam kelas . Besoknya, kami sudah tidak boleh melangkah lebih jauh dari garis pintu gedung kelasnya.

Pada hari pertama itu, gedung anak kelas Reception riuh rendah oleh tangis anak- anak TK yang tidak ingin ditinggal oleh orang tuanya. Ada yang berteriak- teriak. Ada yang bertahan sekuat tenaga memegang pintu kelasnya agar tidak tertutup. Ada yang menangis meraung- raung tak henti- henti. Gedung itu penuh sesak oleh para orang tua yang khawatir meninggalkan anaknya yang masih menangis.

“Don’t worry Sir, Maam, please leave now. This is normal. We are used to it already. We will take care of your children!” Ujar gurunya dengan memasang wajah yang sangat manis.

Padahal di saat yang sama, kaki kanannya sedang menghalangi pintu yang sedang didorong paksa oleh seorang anak, tangan kirinya memegangi tangan seorang anak laki- laki yang hendak lari keluar, dan mulutnya langsung berteriak kepada guru yang lain:

 “I need somebody here, please!” 

Karena dia melihat seorang anak berhasil berlari dari hadangan para guru dan lolos ke halaman kelas. Ketika dia tidak menemukan orang tuanya di sana, stadium kedua dimulai untuk anak itu.

Kali ini aktifitasnya bertambah. Tidak hanya menangis dan meraung- raung, tapi juga dilengkapi dengan teriakan dan kokosehan (duduk sambil menendang-nendangkan kaki), dan bahkan ada yang sampai berguling- guling.

Tadinya sih kami kira anak kami tidak akan sampai seperti itu.

Eh, ternyata di dalam kelas ada beberapa anak yang juga sudah mencapai stadium dua. Padahal, satu kelas yang hanya berisi dua puluh orang anak, dijaga oleh tiga orang guru.

Ah, pokoknya seru deh hari pertama itu.

Kalau di Indonesia kan jauh berbeda kondisinya.

Bukan hanya anak TK, bahkan seringkali anak sudah berseragam Putih- Merah pun masih ditunggui oleh Ibunya di kelas.

Mungkin hari yang “seru” itu sudah sering dihadapi oleh para guru, tapi bagi kami yang baru pertama kali mengalami chaos dan keseruan seperti itu, sangatlah luar biasa.

Luar biasa karena pertama kalinya.

Dan yang utama, luar biasa menambah lagi kekhawatiran kami terhadap si sulung yang masih menangis dan berteriak- teriak ketika kami tinggalkan di dalam.

Akhirnya kami tenang- tenangkan saja pikiran kami. Dan kami serahkan kepada Allah dan gurunya saja.

Ternyata periode seperti itu hanya berlangsung satu atau dua minggu saja.

Alhamdulillah, si sulung tidak susah dibangunkan. Walau pun dengan mata yang masih tertutup, dia tetap bangun untuk berdoá kala bangun tidur dan beranjak dari tempat tidur mungilnya untuk mandi. Dan ketika air sudah menyiram tubuhnya yang kini tidak super montok lagi, langsung segar bugar seketika. Masalahnya paling hanya tidak mau sarapan, tidak mau sekolah dengan berjuta alasan, atau tidak mau memakai seragam.

Alhamdulillah, setelah periode itu berlalu, kami sendiri yang malah terkaget- kaget dengan perkembangannya.

Ternyata kekhawatiran kami tidak terbukti sama sekali. Dia berhasil beradaptasi dengan hebat di lingkungan yang tadinya sama sekali asing baginya. Dan lagi dia langsung kami masukkan ke TK Nol Besar, bukan TK Nol kecil. Pertimbangannya sih ya itu tadi, perusahaan baru menanggung biaya sekolah anak karyawan di tingkat Nol Besar.

Bayi super montok itu kini sudah mempelajari tiga bahasa asing: Arab, Inggris, dan Prancis. Dan setelah term (Catur Wulan atau semester) pertama, dia sudah mulai cas-cis-cus berbahasa Inggris, dan dia mulai sering protes kalau diajak berbahasa Indonesia di rumah.

English, please!” Mulut mungilnya berucap dan mata belonya semakin besar karena sambil melotot.

Tidak berbeda jauh sih dengan orang tuanya, sama- sama tiga bahasa.

Hanya bahasa yang kami pelajari adalah Indonesia, Inggris dan Sundanese.

Hehehe.

Wisuda TK

Bayi super montok yang menjadi “mainan” sehari- hari kami sejak tiba di sini kini sudah tumbuh tinggi, kemarin berbaris melangkah masuk gedung ke tempat acara wisuda, memakai toga dan seragam kebesaran kain satin berwarna Biru sambil melambai- lambaikan tangannya yang masih montok dan pejal itu ke semua orang. Tentu saja bibirnya tidak lupa dia sejajarkan dengan pipinya yang masih tembem untuk membentuk senyum yang mungkin di masa depan akan membuat lawan jenisnya kelepek- kelepek. Hehehe.

Dia kemarin dengan lincahnya mentas di panggung bersama- puluhan teman- teman sekelasnya,  menari dan menyanyikan lagu “Transportation Song” dan “Graduation Song.”

Dia kemarin sudah berfoto dengan ijazah pertamanya dengan Toga Biru yang membalut tubuh mungilnya.

Padahal bapaknya seumur- umur belum pernah memakai Toga. Hehehe.

Selamat ya Nak! Kamu sudah lulus TK!

Kami sangat bangga kamu berhasil melewati tantangan besar pertama di awal kehidupanmu.

Doha, 11 Juni 2013

http://www.didaytea.com

Syurga Untuk Istriku

Oleh: Diday Tea

Kisah Fatimah Az Zahra dan Gilingan Gandum

Beberapa jam yang lalu saya membaca sebuah kisah Fatimah Az Zahra dan Gilingan Gandum. Di website tersebut dicantumkan sumbernya dari Syarah ‘Uquudil lijjaiin karya Syaikh Muhammad Nawawi Al-Bantani.

Saya rangkum kisah tersebut dan saya interpretasikan sendiri dengan salah satu ceramah dari Ust. Abu Syauqi, tentang kisah yang sama.

Pada suatu waktu Rasulullah SAW menemui putrinya Fatimah yang sedang  menggiling sejenis padi-padian dengan gilingan yang terbuat dari batu sambil menangis.

Ketika Rasulullah SAW bertanya kenapa dia menangis, Fatimah pun curhat kepada beliau.

“Ayahanda, aku ini anak Rasulullah SAW, anak seorang pemimpin negara, tapi lihatlah tanganku ini, sampai lecet- lecet karena harus menggiling gandum dengan gilingan batu!” Dengan diiringi isak tangis.

Kemudian Rasulullah S.A.W bersabda kepada putrinya:

“Jika Allah menghendaki wahai Fatimah, niscaya penggilingan itu akan berputar dengan sendirinya untukmu, akan tetapi Allah telah menghendaki menuliskan beberapa kebaikan dan menghapus beberapa kesalahanmu dan mengngkat beberapa derajat untukmu, Ya Fatimah… Perempuan mana yang apabila menggiling gandum/tepung untuk suami dan anak-anaknya maka Allah SWT menuliskan untuknya dari setiap biji gandum yang digilingnya satu kebaikan(pahala) dan mengangkatnya satu derajat.

Rasulullah SAW masih melanjutkan dengan menyebutkan banyak sekali keutamaan dan ganjaran yang akan didapat oleh seorang wanita yang menjadi istri dan ibu.

Silahkan langsung ditanyakan saja kepada mas Google untuk membaca kisah lengkapnya yang lumayan panjang.

Hikmah

Kisah di atas tentunya masih sangat relevan dengan kondisi yang dialami oleh kita yang hidup empat belas abad setelah periode Rasulullah SAW.

Kisah ini akan memiliki hikmah yang lebih istimewa dengan para istri yang suaminya bekerja di negeri orang. Ada paradox yang terjadi. Ketika penghasilan suami dan taraf hidup suami mereka sangat berlebih jika dibandingkan dengan bekerja di negeri sendiri, sama sekali tidak mengurangi beban pekerjaan rumah tangga yang mereka lakukan. Sama sekali tidak mengurangi kesibukan dan beban mereka mengurus suami dan anak- anak. Yang ada malah bertambah dan berlipat- lipat, karena mereka harus melakukan segala sesuatunya sendirian.

Jika kita melihat sekilas memang seperti tidak adil untuk para wanita yang menjadi seorang istri dan Ibu. Saya yakin sekali yang paling syok adalah mereka yang sebelumnya terbiasa memiliki pembantu di rumahnya dan belum terbiasa melakukan pekerjaan rumah tangga. Apalagi mereka yang tadinya pernah bekerja, sebelum ikut hijrah mendampingi suami mereka.

Walau pun suami mereka sudah berusaha membantu pekerjaan rumah, selalu ada hal- hal yang tidak tergantikan perannya.

Ada sih pengecualian, untuk mereka yang sudah menempati posisi yang lumayan tinggi, bisa mengusahakan PRT di rumahnya. Itu pun tidak bisa merekrut PRT dari Indonesia, karena ada peraturan yang melarangnya.

Tetapi, untuk TKI dengan posisi teknisi biasa seperti saya, hampir mustahil bisa mendapatkan hal yang sama. Di samping prosesnya memang sulit dan memerlukan biaya yang tidak sedikit.

Malah pernah kudengar seorang istri berucap bahwa dia lebih baik tinggal di tanah air, gaji pas- pasan tapi bisa punya pembantu dan bisa hidup seperti seorang ratu yang tidak harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga sendiri. Daripada berlimpah harta di negeri orang, tapi tetap harus “nginem” di rumah.

 

Lelah Tak Terbayangkan

Bayangkan saja, istri saya sudah bangun dari jam setengah empat pagi untuk menyiapkan seragam, bekal sarapan dan hal- hal yang saya perlukan untuk bekerja.

Setelah saya berangkat pun, dia masih harus menyiapkan sarapan, baju dan lain- lainnya untuk anak lelakiku yang sekolah.

Selepas si sulung berangkat ke sekolah, dia pun masih harus berlelah- lelah dan menghabiskan berjam- jam waktunya untuk merapikan hampir setiap sudut rumah yang berantakannya seperti kapal dibom, sisa- sisa anak- anak bermain semalaman.

Sarapan pun kadang tidak sempat ketika rumah masih acak- acakan, tapi si kecil sudah terduduk bangun di atas kasur kecilnya dan merengek- rengek meminta susu coklat kegemarannya.

Ketika si kecil bangun pun , rumah yang sudah rapi jali, kembali menjelma menjadi kapal pecah hanya dalam hitungan menit saja.

Pada hari- hari saya bekerja dan si sulung sekolah, sejak bangun tidur, hingga tidur lagi, istriku selalu terlihat sibuk. Hanya sesekali saja kulihat dia bisa bersantai.

Hanya ketika aku dan si sulung libur saja, dan ketika kami sekeluarga pergi keluar rumah kulihat dia bisa sepenuhnya bebas dari pekerjaannya sehari- hari.

Ketika dia masih bekerja pun, tidak mungkin dia sampai selelah itu. Jam kerja kan sudah pasti, dan dia bisa kapan saja beristirahat di antara pekerjaannya.

Di rumah? Jam kerjanya hampir dua puluh empat jam. Istirahat pun tidak menentu, karena harus selalu siap sedia ketika anak- anak membutuhkannya.

Hebatnya lagi, dia sangat jarang mengeluh.

Ahem, terlalu berlebihan dan sangat mustahil banget ya kalau memang istri saya tidak mengeluh. Padahal sih sering banget. Hehehe…

Tapi periode dramatis yang diwarnai tangisan, keluhan, ratapan dan terkadang pertengkaran itu hanya terjadi di periode beberapa bulan pertama istriku tiba di Qatar.

 

Sebuah Jawaban

Berikut adalah curahan hati yang saya edit dan saya dramatisir dari seorang Istri merangkap Ibu Rumah Tangga yang menemani suaminya yang bekerja di Qatar.

Suamiku tercinta, kalau hanya menggugu nafsu ingin hidup seperti seorang ratu, atau sekedar menghindari beratnya tugas seorang ibu rumah tangga, aku pasti sudah minta pulang sejak dulu, sejak hari pertama aku menginjakkan kaki di negeri padang pasir ini. Karena sejak dari pesawat sejauh mata memandang hanya pasir saja yang nampak di pelupuk mataku ini.

Suamiku, sejujurnya aku tadinya sangat keberatan untuk meninggalkan pekerjaanku karena aku sudah bertahun- tahun terbiasa ditunggu di rumah, bukan menunggu seseorang di rumah.

Suamiku, sejujurnya dulu aku sedih tak terhingga karena harus kukubur dalam- dalam impianku untuk menjadi wanita karir dan meraih posisi setinggi mungkin di perusahaan tempatku bekerja.

Suamiku, sejujurnya aku panik ketika harus memasak dan mencuci piring, karena sebelumnya aku hampir tidak pernah memasak. Selalu ada yang memasakkan untukku sepulang dari pekerjaan.Apalagi mencuci piring. Tanganku saja langsung gatal- gatal ketika pertama kali mencuci piring dengan sabun pembersih khusus piring itu. Sampai sekarang pun aku masih harus memakai sarung tangan ketika mencuci piring.

Suamiku, Aku sudah bertekad bulat meniatkan diri untuk beribadah kepada Allah dengan cara berbakti kepada suami, sejak  Aku memutuskan untuk menerima pinanganmu dan menyerahkan surat pengunduran diriku kepada atasanku. Tidak kupedulikan lagi berjuta bujuk rayu atasanku yang berusaha mencegahku untuk mengundurkan diri.

Sambil bersabar ketika sepenat apa pun kepala ini harus menahan kantuk dan letih ketika berusaha memisahkan kedua anak kita bertengkar memperebutkan sesuatu, aku selalu berdoa semoga itu menjadi pahala kebaikan untukku dan untukmu.

Sekuat tenaga Aku tahan tangisku, agar tidak ada air mata yang jatuh menetes di depanmu ketika menahan betapa pedihnya luka sayatan bekas operasi caesar sehabis melahirkan si kecil, agar engkau bisa tenang pergi bekerja.

Aku buka cakrawala pikiranku dengan membuka jendela internet yang terbuka lebar- lebar ketika aku merasakan kejenuhan yang luar biasa, merasakan kesendirian dan kesepian yang luar biasa ketika seharian dan semalaman kamu tidak ada di rumah.

Aku paksakan diriku untuk membaca salah satu buku di antara ratusan buku yang kau bawa dari Indonesia, walau pun sebenarnya sejak dulu aku sama sekali tidak suka membaca, ketika aku tidak tahu apa yang aku harus lakukan di waktu luangku.

Aku temui keluargaku dan keluargamu di dunia maya dan melalui pulsa telepon, jika rinduku kepada mereka sudah tak tertahan lagi.

Kubuka- buka saja jadwal mudik, dan foto- foto ketika kita sedang berliburan di Indonesia dan website maskapai penerbangan yang selalu menerbangkan kami pulang, ketika aku dilanda rindu setengah mati kepada kampung halaman.

Selalu kuajak kamu pergi ke taman- taman yang luar biasa indahnya di Qatar, ketika aku kangen indahnya pemandangan hijaunya tanah airku.

Selalu kupandang mobil yang kau kemudikan berlalu keluar garasi dari balik celah sempit tirai di ruang ruang tamu, dan selalu kuingat betapa mudahnya kamu memberikan apa yang istri dan anak- anaknya inginkan ketika musim SALE dan diskon melanda mall- mall di Qatar, jika aku sedang tergoda utuk meratapi dan mengeluh betapa melelahkannya mengurus anak- anak jika kamu tidak ada di rumah.

Selalu kuingatkan diriku bahwa sabarku ini bisa menjadi tiket ke syurga, ketika kuhapus setiap tetes keringat yang menetes di pelipisku ketika aku sudah sampai di puncak kelelahan membereskan “hasil karya” kedua anak- anakku di setiap sudut rumah.

Tapi maafkan aku suamiku sayang, aku melakukan semua itu bukan untuk kamu.

Aku bersabar karena itu semua adalah ibadahku kepada Allah..

Aku ingin menjadi seperti Fatimah Az Zahrah,  yang ditemani oleh batu gilingan gandumnya ke Syurga.

Kupersembahkan tulisan ini untuk para Istri dan Ibu luar biasa yang berada di Qatar, serta di mana pun di muka bumi ini. Semoga Allah menghadiahkan syurga sebagai ganjaran dari setiap detik waktu yang kalian habiskan, dan setiap titik keringat yang menetes untuk mengurus suami dan anak- anak kalian.

Doha, 3 Januari 2013

Ilmuwan Cilik

“Periode bayi dan anak- anak, sampai kira- kira umur lima tahun adalah Research and Development Unit of Human Species, menurutProfessor Alison Gopnik, seorang Professor di bidang psikologi di University of California, Berkeley, USA”

 

Jika ada yang masih ingat, belasan tahun lalu ada iklan sebuah baterai yang super awet. Di dalam iklan itu diperlihatkan sebuah mainan kelinci yang masih saja anteng menabuh drum dengan kuatnya di saat baterai- baterai dengan merek lain sudah tidak bisa bergerak lagi.

Seperti itu juga kondisiya dengan bayi perempuanku yang baru berumur tiga belas bulan.

Sekarang, dia hanya punya tiga kegiatan besar: minum susu, tidur, dan bermain.

Minum susu dan tidur sih sama sekali tidak bermasalah untuk kami orang tuanya.

Tapi ketika dia sedang bermain, baik sendiri atau pun dengan kakaknya, hmmmm….itu baru tantangan yang sesungguhnya.

Bayangkan saja, kalau dia bangun, hampir tidak ada sedetik pun yang dia habiskan untuk diam. Kaki- kaki mungilnya selalu bergerak dengan spartan dan konstan menyusuri setiap jengkal lantai di rumah kami.

Hampir sepanjang hari, dia akan titirilikan (entah apa ini terjemahannya dalam bahasa Indonesia, digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang kecil atau mungil dan bergerak dengan sangat cepat dengan arah yang acak.. :D)

Jari- jari kecilnya akan menggenggam apa pun di depannya tanpa ragu.

Tangan mungilnya juga yang akan oprek barang- barang apa pun yang dia temukan. Lalu dia tumpuk, susun, lempar, injak, jilat, dan bahkan kalau sedikit saja luput dari pengawasan kami, dia akan memakan apa pun yang dia rasa enak.

Jika saja mainan- mainan itu hidup, tentunya di ruangan itu akan terdengar riuh –rendahnya teriakan kesakitan dari para mainan yang terlempar ke sana ke mari, terinjak berulang kali.

Tapi ada juga sih sedikit keributan , yaitu teriakan kakaknya yang kadang kesal ketika sedang memegang iPad tiba- tiba dilempar oleh mainan mobil, atau ketika sedang asyik bermain dan menyusun lego, tiba- tiba makhluk kecil dan imut itu lewat begitu saja sambil menginjak bangunan yang sudah dia susun dengan susah payah.

Apa pun yang berada di dalam wadah tidak akan luput dari “percobaannya” . Makanan, minuman, mainan lego milik kakaknya, biskuit yang kadang kami lupa menutup wadahnya akan sukses berpindah dari wadahnya ke atas lantai yang sudah penuh sesak dengan ratusan potongan dan patahan mainan.

Analogi “kapal pecah” mungkin sudah tidak relevan lagi untuk menggambarkan keadaan rumah kami jika si bayi sudah beraksi. “Kapal dibom” atau “kapal meledak” rasanya lebih tepat.

Persis seperti mainan kelinci di iklan baterai tersebut, energinya seperti tidak pernah habis. Dengan minum susu sebentar dan tidur hanya beberapa puluh menit, kecuali malam, “baterai” di dalam badan mungil, pejal dan montok itu sudah terisi penuh dan kembali bergerak dengan aktif.

Sudah tak terhitung berapa kali tubuh montoknya itu jatuh berdebam di atas lantai karena terpeleset mainan atau mobil- mobilan yang berserakan di lantai.

Sudah tak terhitung pula istriku harus mengepel lantai dari tumpahan susu, coklat, selai, biskuit dan “hasil karya” seniman mungil imut yang montok dan super lucu itu.

Dalam sehari, istriku bisa tiga kali membereskan mainan yang hampir sama sekali tidak menyisakan ruang untuk sekedar menginjakkan kaki pun di ruang tamu.

Ah, pokoknya, kadang terlintas di pikiran bahwa bayi dan anak- anak adalah makhluk yang sama sekali tidak berguna, hanya merepotkan saja.

Ternyata sama sekali tidak seperti itu.

Periode bayi dan anak- anak, sampai kira- kira umur lima tahun adalah Research and Development Unit of Human Species, menurutProfessor Alison Gopnik, seorang Professor di bidang psikologi di University of California, Berkeley, USA.

Ilmuwan adalah seorang “anak kecil besar”.

Dan seorang anak kecil adalah seorang “ilmuwan” cilik.

Bayi dan anak kecil, seperti layaknya seorang ilmuwan yang sedang melakukan penelitian, hanya melakukan satu hal, yaitu belajar. Mereka tidak perlu memikirkan lagi tentang makanan, minuman, dan kehidupan mereka karena sudah ditangani oleh orang lain.

Mereka mempunyai kemampuan dan kapasitas belajar yang sangat luar biasa. Perkembangan otak manusia yang paling pesat terjadi di periode nol sampai dua atau tiga tahun/

Mereka akan mempelajari bagaimana barang- barang di sekitar mereka bekerja.

Mereka akan mengamati bagaimana sikap orang- orang di sekitar mereka.

Mereka akan mencari tahu bagaimana perkaitan antara sesuatu hal yang disebabkan oleh sesuatu yang lain. Tentu bukan “sesuatu”nya Syahrini. Hehehe.

Mereka akan selalu melakukan percobaan- percobaan tertentu, hanya untuk sekedar ingin mengetahui sesuatuyang kdang berbahaya buat mereka. Si mungil akan tanpa ragu memegang colokan listrik tanpa ada rasa takut tersengat aliran listrik sebelum orang tuanya panik dan berteriak- teriak, atau bahkan langsung menggamit tubuh mungilnya menjauh dari area colokan listrik itu.

Ada periode di mana mereka akan mencoba memakan apa pun yang mereka pegang.

Mereka belajar seperti spons yang menyerap air. Bahasa, Sikap, perilaku, kata- kata orang tua, televisi, film, musik, lagu, tingkah laku kakaknya, akan mereka tiru atas nama “penelitian” pribadi mereka.

Mungkin ini adalah jawaban kenapa manusia menjalani masa kecil atau masa anak-anak lebih panjang dibanding dengan makhluk lainnya.

Allah mentakdirkan kehidupan manusia lebih lama di dalam masa anak- anak, untuk mempersiapkan diri seorang manusia dalam menghadapi keras dan rumitnya kehidupan seorang manusia dewasa kelak.

Bayangkan saja, sorang anak kuda atau rusa akan bisa berjalan dengan tegap bahkan berlari, hanya setelah satu jam dia dilahirkan.

Tapi lihat, sejak itu sampai dia mati pun tidak ada perkembangan yang berarti di dalam kehidupannya: makan, tidur, buang air, begitu besar kawin dengan binatang lain dan mati.

Lihatlah seorang manusia.

Untuk bisa berjalan saja, paling cepat memerlukan sembilan bulan.

Untuk bisa berbicara lancar seperti orang dewasa, setidaknya sampai umur tiga atau empat tahun.

Bahkan sampai mereka betul- betul mandiri pun setidaknya memerlukan waktu sampai mereka lulus kuliah atau sekolah.

Sungguh sangat beruntung kita dilahirkan sebagai manusia!

Dunia di mata Seorang Kurcaci

Dunia di mata Seorang  Kurcaci

Bayangkan diri anda berada di sebuah rumah yang sangat besar. Semua barang yang ada di rumah tersebut berukuran dua kali lipat dari biasanya. Ketika anda duduk di kursi, anda perlu bantuan kursi yang lain untuk bisa naik ke atasnya. Ketika anda ingin mengambil remote TV di meja makan, anda harus memakai kursi atau bangku agar bisa meraihnya, karena semuanya terlalu tinggi, dan semuanya terlalu besar untuk ukuran badan anda.

Dan bayangkan betapa takutnya anda, ketika tiba-tiba dari dalam kamar, keluar manusia yang ukurannya hampir dua kali lipat tinggi badan anda. Dia terlihat sangat besar. Ketika dia berdiri di depan anda, kepala anda hanya  sedikit lebih tinggi di atas lututnya. Kaki orang ini sedemikian besarnya, sehingga hampir seukuran dengan badan anda. Tangan orang ini lebih besar dari paha anda. Wajah orang ini, bisa memenuhi wilayah perut anda.

Lalu bayangkan lagi takutnya anda ketika tiba-tiba orang ini mendekatkan mukanya kepada anda. Matanya melotot, terlihat sangat besar dibanding mata-anda yang sangat mungil. Lalu bayangkan betapa takutnya anda ketika orang ini tiba-tiba berteriak kepada anda dengan suara yang buat anda seperti petir menggelagar, tepat di depan muka anda: “Jangan Berisiiiiiik…!!! “ Sambil mengayunkan tangannya yang sebesar paha anda, memukul badan atau pantat anda berkali-kali. Setiap pukulan itu mendarat, pastinya terasa sangat menyakitkan, karena ukuran dan kekuatan tangan tersebut ketika memukul.

Sudah anda bisa bayangkan, betapa takut dan sakitnya anda ketika menghadapi momen seperti itu?

Dan tahukah anda? Ternyata ANAK ANDA hampir setiap hari menghadapi situasi seperti itu!

Untuk beberapa orang, mungkin baru menyadari bahwa anak mereka akan memiliki perasaan seperti itu ketika membaca tiga paragraf pertama tadi.

Ternyata, di mata anak kecil, untuk hidup dan tinggal bersama-sama dengan kita, orang dewasa, sudah merupakan “penderitaan” yang luar biasa.

Jangan ditanya jika ternyata anda adalah orangtua yang ringan tangan, suka memukul. Bayangkan berapa lama sakit akibat pukulan anda akan hilang. Atau anda orang tua yang suka membentak kepada anak? Bayangkan berapa lama, telinganya akan berdengung, karena bentakan dan teriakan anda.

Jika ya, segeralah minta maaf kepada anak anda, karena sudah bertahun-tahun anda membuat anak anda berada dalam kondisi ketakutan dan kesakitan yang luar biasa seperti yang anda bayangkan di perumpamaan tadi.

Inilah kesalahan besar yang sering dilakukan oleh para orangtua.

Moral dari kisah di atas, adalah, orangtua seringkali tidak tenggang rasa kepada anak-anaknya. Para orangtua menganggap bahwa mereka sedang berurusan dengan manusia yang seumur dan seukuran dengan mereka. Padahal, jelas tidak sama sekali.

Sering orang tua berteriak dan mengeluh: “Kenapa anak saya ngga pernah nurut sama orangtuanya? Kenapa mereka ngga ngerti-ngerti dengan nasihat orang tuanya?”.

Jawabannya:

Ternyata, bukan anak yang harus mengerti orang tua, tapi sebaliknya, orang tua yang harusnya mengerti dunia anak-anak. Karena orangtua sudah hidup jauh lebih lama dengan anak-anak.

Bermain tanah, buat kita akan terasa kotor dan menjijikkan. Tapi buat anak, adalah sesuatu yang menyenangkan.

Mengacak-ngacak rumah, buat mereka adalah keasyikan yang luar biasa, ketika di mata kita itu adalah hal yang menjengkelkan.

Menangis jika ingin sesuatu, buat mereka sahsah saja, karena mungkin hanya itu cara yang mereka tahu untuk meminta sesuatu.

Api yang buat kita bahaya, dan kita akan jauh-jauh darinya, buat mereka mungkin hal yang sangat menarik. Dan mereka tidak akan tahu bahayanya sampai mereka betul-betul terbakar.

Hampir setiap hal di dunia ini menyenangkan buat seorang anak kecil. Yaa..itu karena keterbatasan ilmu dan pengalaman hidup mereka di dunia ini.

Sangat lucu jika ada orangtua yang  “ingin dimengerti” oleh anaknya.

Ketika anak tidak bisa dilarang, mungkin karena “frekuensi” yang digunakan oleh orangtua kurang tepat.

Kalau tidak salah, proses pengharaman Khamr, tidak sekaligus dalam perintah instan, tapi secara bertahap. Dari sejak memberi pengertian bahwa Khamr lebih banyak mudharatnya dibanding manfaatnya, lau perintah jangan sholat ketika dalam pengaruh minuman, dan akhirnya, turunlah ayat yang menyatakan bahwa Khamr itu adalah haram dan termasuk perbuatan syetan.

Begitu juga kepada anak kita. Jika mereka kecanduan Facebook, game online, atau PSP, XBOX, Playstation, larangan kita akan cenderung tidak digubris, bahkan mereka akan cenderung melawan.

Jika kita terus ngotot dan tetap selalu memakai metode yang sama untuk melarang mereka. Mereka akan cederung mencari hal yang sama di luar rumah, mereka akan selalu mencari cara untuk bisa melakukan apa yang orang tua mereka larang.

Bagaimana jika caranya dibalik, ketika orang tua yang berusaha mengerti mereka. Atur “frekuensi” kita agar lebih nyambung dengan mereka. Jika mereka kecanduan Facebook, daripada langsung melarang dan bilang “Facebook Haraaamm!”, lebih baik tanya mereka, apa manfaat yang bisa mereka dapatkan. Atau arahkan mereka pada hal yang baik (jika ada) di Facebook, cari oleh anda sendiri, “terjun” langsung ke lapangan. Cari celah di mana akhirnya anda bisa memberi pengertian yang tepat kepada mereka.

Jika anak anda senang bermain game, arahkanlah pada game-game yang bisa melatih otak mereka. Jangan biarkan mereka bermain game GTA misalnya, yang penuh kekerasan dan sedikit “jorok”.

Biarkan mereka bermain game Racing, atau game-game yang bisa melatih otak mereka. Kalau perlu, anda juga ikut bermain game, kalahkan mereka dengan hukuman mereka tidak boleh dulu bermain game untuk jangka waktu tertentu. Atau belikan mereka Mind Games. Jangan ijinkan mereka bermain game yang lain jika mereka belum mencapai skor tertentu misalnya.

Selalulah upgrade pengetahuan anda walau sedikit, tentang dunia mereka. Agar kita bisa memiliki celah untuk menyamakan frekuensi kita dengan mereka.

Seperti layaknya gelombang radio yang baru nyambung jika frekuensinya sama, begitu juga layaknya antara anak dan orangtua.

Baca artikel-artikel tentang pendidikan anak dan psikologi untuk menambah pengetahuan anda tentang masalah-masalah mutakhir di dunia anak dan orangtua. Ikuti milis tentang dunia anak dan orangtua serta permasalahannya.

Pokoknya teruslah  menambah ilmu.

Bacalah!

Bacalah!

Bacalah!

Selamat menyamakan frekuensi!

Tulisan ini terinspirasi dari kisah yang dibawakan Aa Gym di salah satu ceramahnya.

Doha, 27 December 2009.

Didaytea