Elemen-elemen Kemampuan Belajar (2)

Elemen-elemen Kemampuan Belajar (2)

Di tulisan saya sebelumnya, telah dibahas tentang elemen-elemen kemampuan belajar; membaca cepat dan efektif, kemampuan mengingat dan “merecall”dan kemampuan berpikir cepat dan logika yang  baik.

Berikut adalah “alat- alat” tambahan untuk menunjang elemen- elemen utama tadi.

  1. Menghitung cepat. Jangan biarkan anak anda tergantung dengan kalkulator. Usahakan mereka menghitung dengan cara “mencongak”. Atau fasilitasi mereka untuk belajar dengan menggunakan sempoa. Ada buku yang khusus untuk melatih kecepatan menghitung yang pernah saya baca:The Sharper Mind. Buku ini sudah ada edisi bahasa Indonesianya. Buku ini berisi tentang jalan pintas untuk proses-proses berhitung.
  2. Biarkan anak bermain game. Pada porsi yang tepat dan game yang tepat, bermain game, pada platform apa pun, bisa meningkatkan kualitas seorang anak, dari kemampuan berpikir cepat dan tepat (Who Has The Biggest Brain?), kemampuan manajerial (Farmville, Empire of Age, Football Manager, Championship Manager), kemampuan berkonsentrasi (Game- game racing, Formula One, Wipe Out, Dirt, dan masih banyak lagi), kemampuan strategis (Game sepak bola:FIFA, Pro Evolution Soccer).
  3. Maksimalkan internet. Gunakan lebih dari sekedar jejaring sosial dan chatting. Gunakan internet sebagai sumber ilmu dan tempat belajar untuk keluarga anda. Cari berita, update info terbaru di bidang pendidikan. Ajak anak untuk “berburu” pengetahuan bersama.
  4. Biasakan anak untuk menulis setiap hari, diary misalnya. Ini akan melatih koordinasi otak, pikiran dan perasaannya. Sehingga akan mempermudah proses untuk menerima ilmu pengetahuan keesokan harinya.
  5. Buat anak untuk berbagi pengetahuannya dengan orang lain tentang apa yang kita ketahui. Kita akan menyerap 90 persen dari hal yang kita ajarkan (Learning Revolution).
  6. Biasakan anak membaca Al Qur’an di akhir hari (sebelum tidur) dan di awal hari (setelah sholat subuh), untuk “mencerahkan” diri mereka.

Ketika anak sedang mengerjakan tugas atau belajar, iringi mereka dengan musik klasik untuk membuat mereka dalam kondisi waspada-relaks. Kondisi ini disebut adalah kondisi Alfa, dengan frekuensi gelombang otak 8- 12 cps (cycle per second). Kondisi ini di dalam buku Revolusi Cara Belajar disebut kondisi “WASPADA-RELAKS”. Musik klasik yang paling umum dibuat untuk mencapai kondisi ini adalah Handel: Water Music, dan Vivaldi: Four Seasons.

Selamat berjuang!

Didaytea

Iklan

Anak Belajar Dari Kehidupannya

Anak Belajar Dari Kehidupannya

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi.

Jika anak dibesarkan dengan ketakutan, ia belajar gelisah.

Jika anak dibesarkan dengan rasa iba, dia menyesali diri.

Jika anak dibesarkan dengan olok-olok, ia belajar rendah diri.

Jika anak dibesarkan dengan iri hati, dia belajar kedengkian.

Jika anak dibesarkan dengan dipermalukan, ia belajar merasa bersalah.

Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.

Jika anak dibesarkan dengan toleransi, dia belajar menahan diri.

Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.

Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, ia belajar mencintai.

Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri.

Jika anak dibesarkan dengan pengakuan, ia belajar mengenali tujuan.

Jika anak dibesarkan dengan rasa berbagi, ia belajar kedermawanan.

Jika anak dibesarkan dengan kejujuran dan keterbukaan, ia belajar kebenaran dan keadilan.

Jika anak dibesarkan dengan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan.

Jika anak dibesarkan dengan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.

Jika anak dibesarkan dengan dengan ketenteraman, ia belajar berdamai dengan pikiran.

Dorothy Law Notte