Paradoks Kemalasan

Kemalasan selalu menjadi musuh terbesar bagi umat manusia.

Ada paradoks yang tidak akan terjelaskan selain hanya dengan menyinggung si malas ini.

Di dalam jangka waktu yang sama, seringkali kita bisa melakukan lebih banyak hal jika memang banyak hal yang dibebankan kepada kita.

Ada ungkapan yang sering saya baca, entah hadits, entah ungkapan dari siapa, bahwa waktu yang paling berbahaya adalah waktu luang.

Biasanya, terutama saya nih, kalau di awal hari jadwal pekerjaan hanya sedikit, saya akan cenderung menunda- nunda pekerjaan itu.

Saya cenderung langsung pergi ke pantry, minum teh, ngemil basreng (baso goreng), atau memasak mie instan dulu.

Ketika acara sarapan hampir beres, datang deh teman- teman yang lain dan, terjadilah sarapan berantai, karena selalu ada saja yang membawa cemila atau makanan yang bisa dinikmati beramai- ramai.

Dan ujung- ujungnya, pekerjaan yang hanya sedikit itu, ya bisa selesai mepet ke waktunya makan siang.

Padahal, pekerjaan yang hanya sedikit ini, karena di tempat saya bekerja jadwal pekerjaan selalu berbeda setiap harinya, tergantung permintaan dari user, seharusnya bisa selesai dalam waktu satu atau dua jam saja.

Paradoksnya, kalau begitu melihat daftar pekerjaan  yang terpampang di layar monitor itu jauh lebih banyak dari biasanya.

Secara luar biasa, sarapan menjadi lebih cepat, tidak ada acara ngemil bersama atau ngerumpi lagi. Begitu beres sarapan, minum sebentar, langsung pekerjaan saya mulai.

Dan anehnya, dengan pekerjaan yang jumlahnya berlipat- lipat dan jauh lebih banyak dari biasanya, ternyata tetap saja selesai sebelum waktunya makan siang.

Jika kita bisa menaklukan kemalasan sebentar dan sedikit saja di dalam periode kehidupan kita, ternyata kita bisa melakukan hal yang luar biasa.

Apalagi jika kita bisa istiqomah (konsisten) terus- menerus berusaha menaklukan dan mengendalikan kemalasan, pasti luar biasa!

Doha 210320132121

Rindu Lagi

Semakin dekat ke tanggal keberangkatanku ke Indonesia, semakin hebat rasa rindu ini melanda.

Kalau ada istri dan anak- anakku, sepulang kerja shift pagi sih, pasti kami akan makan malam bersama. Walau pun kadang- kadang acara sesungguhnya adalah, aku dan istriku makan bersama, dan diganggu oleh dua balita yang berlari- lari ke sana kemari sambil berteriak- teriak. Bukan hanya sekali gelas tertendang oleh kaki- kaki mungil itu.

Atau pinggiran piring yang terinjak sehingga jungkir balik dan menumpahkan semua makanan yang sedang disantap ke atas lantai.

Kata ibunya sih, mereka sedang kangen sama papihnya. Lha wong mereka seharian kalem- kalem aja kok!

Begitu aku tiba di rumah ya begitu.

Awalnya sih kadang kesal, ketika badan ini luar biasa letih dan lunglai.

Tapi..

Walau pun hanya tidak sampai dua minggu aku jauh dengan mereka, momen seperti itu sangat kurindukan setengah mati tanpa henti.

Makan tak enak,tidur tak nyenyak. Pikiran pun selalu terbagi.

Sabar ya nak, tinggal empat hari lagi papih akan datang menjemput kalian.

Disiksa Kerinduan

Seharusnya saya tidak boleh mengungkapkan hal ini, karena hanya Allah-lah sumber ketenangan sejati.

Tapi, faktanya secara de facto, hidup saya tidak tenang disiksa kerinduan kepada istri dan anak- anak saya.

Sejak tiba di Qatar, dan tidak bersama mereka, tidur saya tidak pernah nyenyak. Waktu saya sehari- hari jadi teu paruguh kata orang Sunda mah. Saya tidak hadir sepenuhnya di setiap hal yang saya lakukan.

Ada bagian jiwa saya yang tertinggal di Indonesia bersama mereka.

Walau pun saya tidak memikirkan mereka, tapi mereka selalu hadir di dalam kepala.

Hanya kepada Allah saya meminta pertolongan agar diberi kekuatan untuk bisa sabar menghadapi siksa kerinduan yang sangt berat ini.

Doha, 19 Maret 2013

Mighty Wife

Sudah lima hari ini istri dan anak- anak saya tinggalkan di Indonesia. Istri saya sakit, dan sempat dirawat beberapa hari karena sakit punggung, dan leukosit di dalam rendahnya di bawah batas normal.

Notabene, saya ingin dia harus bebas tugas dahulu dari semua urusan rumah tangga. Terutama mengurus dua anak- anak saya yang balita. Mereka tentunya memerlukan penanganan khusus yang sangat melelahkah.

Alhamdulillah, di rumah mertuaku banyak bala bantuan. Ada beberapa orang yang bisa menangani mereka.

Jadi aku bisa memastikan bahwa istriku bisa beristirahat total, dan bisa memulihkan dirinya secepat mungkin.

Di Qatar, saya harus melakukan segalanya sendiri.

Ternyata, hal yang paling melelahkan adalah housekeeping. Beres- beres rumah.

Sudah sejak matahari terbit, dan sampai saat tulisan ini ditulis, jam 10:33, baru sebagian kecil sudut kamar (bukan sudut rumah lho!) yang terlihat agak mendingan, dibanding ketika saya baru pertama kali tiba.

Padahal saya sudah mengalami bertahun- tahun hidup mengontrak rumah sendiri, dan bisa survive.

Tapi kali ini berbeda.

Bukan hanya area yang harus dibereskan lebih luas, tapi lebih cenderung ke mental dan perasaan.

Setelah menikah, saya terbiasa mengandalkan istri saya untuk mengurus segalanya di dalam rumah.

Sejujurnya sih, jarang membantu juga.hehehe.

Hilang deh, skill mumpuni saya untuk bisa hidup sendirian setelah menikah.

Wanita itu memang hebat.

Ibu itu super hebat.

Istri itu super mega big match, eh, super mega hebat sekali!

Adaptasi Lagi

Sejak tiba di Qatar setelah mudik, ini adalah malam ke lima saya merasakan kelelahan yang luar biasa ketika bangun tidur.

Entah apa penyebabnya. Kalau dirunut sih, mungkin saja tubuh saya belum siap untuk langsung bekerja dan beradaptasi lagi dengan iklim Qatar.

Walau “jadwalnya masih musim dingin, tapi perbedaan suhu di sini bisa sangat drastis.

Sangat dingin di pagi hari, dan lumayan panas di siang hari. Pagi dan malam, suhu sekitar 12-18 derajat Celcius. Tapi siang hari bisa mencapai 27-37 derajat Celcius.

Di Indonesia, suhunya relatif stabil, perbedaan antara pagi dan siang hari tidak terlalu jauh.

Mudik kali ini adalah mudik terpanjang selama saya bekerja di Qatar, 35 hari.

Begitu kembali lagi ke Qatar, tubuh ini harus beradaptasi lagi dengan cuaca dan makanan.