Bangkrut Pangkat Tiga Kuadrat


“Sukses dalam penjualan tidak akan berarti apa- apa jika ternyata kita memiliki pengelolaan keuangan yang buruk”

SD

Sejak aku masih mengenakan kebesaran seragam Putih-Merahnya Sekolah Dasar, aku sudah memiliki pengalaman berjualan dan berbisnis.

Pengalaman pertamaku adalah membuka membuka usaha taman bacaan. Ketika masih kecil aku sering dirawat. Setiap yang menengok, tidak ada permintaan yang kuucapkan kepada mereka yang berupa makanan. Aku tidak pernah meminta jeruk, apel Amerika, martabak, biskuit, atau makanan apa pun. Aku hanya meminta majalah Siswa, Donal Bebek, atau Bobo.

Karena saking seringnya aku dirawat, tanpa terasa akhirnya majalah- majalah itu pun menumpuk di kamarku. Tiba- tiba saja terpikir untuk membuka taman bacaan kecil- kecilan.

Mulailah aku membuka lapak di teras depan rumah, dengan membuat tulisan “Taman Bacaan, 100 Rupiah/hari” di depan pagar rumahku. Kugelar lapak Taman Bacaanku itu setiap pulang sekolah sampai menjelang Magrib.

Ah, sebenarnya sih sama sekali tidak mirip taman bacaan, hanya puluhan koleksi majalahku yang kutumpuk beberapa baris di teras rumah.

Eh, ternyata usaha Taman Bacaanku ini lumayan sukses! Tiap hari ada saja yang menyewa.

Tapi sayang, uang yang kudapat bukannya kutabung, malah aku belikan gambar apung (maaf, tak dapat kutemukan terjemahannya ke dalam Bahasa Indonesia), dan kelereng yang kuadu bersama- teman-temanku. Karena sering kalah bermain adu gambar, dan skillku dalam ngadu kaleci (ngadu kelereng) di bawah teman- temanku. Jadinya ya gitu deh, aku lebih sering membeli gambar apung dan kelereng.

SMP

Ternyata setelah aku sudah berseragam Putih-Biru pun bakat dan insting berjualanku ternyata masih tajam saja. Aku kali ini berjualan bordiran dan kartu nama lusinan untuk teman- teman di sekolahku. Untungnya luar biasa besar. Di sekolah, harga Nama Bordir, lokasi untuk di seragam bisa dua ribu lima ratus rupiah. Sedangkan aku bisa menjual ke mereka paling mahal seribu lima ratus, itu pun jika mereka meminta desain macam- macam seperti warna border yang berbeda- beda, atau ingin dibentuk seperti plat nomer mobil/motor.

Kalau hanya bentuk standar dengan latar belakang putih dan tulisan hitam atau sebaliknya sih, aku bisa kasih mereka harga seribu dua ratus saja.

Dan dari harga itu pun, aku masih punya untung paling sedikit lima ratus, karena kadang jika pesenan yang datang banyak, si tukang bordir akan memberiku diskon tambahan.

Bayangkan saja dengan jumlah siswa di SMP ku itu, ada sebelas kelas per angkatan. Dan ada minimal empat puluh lima orang murid di satu kelas. Tiap hari ada saja teman- teman yang datang memesan.

Benar- benar simbiosis mutualisme yang sempurna antara aku, teman-temanku dan tukang bordir.

Selain bisnis bordiran, aku juga menjadi makelar bisnis kartu nama. Ya, aku hanya membawa brosur, menawarkan ke teman- teman yang ingin membuat kartu nama. Harganya dua ribu lima ratus per lusin. Aku mendapat diskon juga lima ratus rupiah per set kartu yang dipesan.

Pesanan kartu nama ini tidak terlalu banyak, tapi sangat lumayan. Minimal tiap minggu ada dua atau tiga orang yang datang memesan kartu nama dengan desain yang lucu- lucu dan unik itu.

Tapi sayang lagi, uang hasil usaha ku itu selama tiga –tahun tidak menjadi sesuatu yang besar, hanya sebatas barang- barang yang kubeli karena orang tuaku tidak bisa membelikannya. Sepatu Eagle yang sedikit mahal, dan Celana Merek Cardinal yang ketika itu rasanya sueper kwureen.

Dan satu lagi, aku hampir setiap hari bermain ding-dong (video gamne koin) yang harus membayar dengan koin seratus rupiah.

Jadi kadang, eh, malah sering sekali uang hasil usahaku itu akhirnya bukan berakhir di celangan, tapi malah berakhir di dalam mesin ding- dong Street Fighter atau Strikers 1945.

SMK

Kisah berjualan/wirausahaku di Masaku berseragam Putih-Abu-abu  ternyata tidak semeriah dan seramai kisah berjualan yang terus berlanjut sejak masa Putih- Merah dan Putih-Biru.

Di periode ini aku kurang intens berjualan, karena sekolahku yang sangat sibuk.

Mungkin hanya di sekolahku itu murid bisa pulang jam 5 dari sekolah. Karena katanya sih, itu SMK yang lumayan berkualitas dan lulusannya sangat didambakan oleh dunia kerja, hehehe..

Ternyata tidak sepenuhnya berhenti. Instingku untuk berbisnis masih saja kuat. Ada divisi wira usaha di sekolah yang baru saja dibentuk. Mereka membuat tender untuk pembuatan papan nama sekolah dan Mading (Majalah-Dinding) sekolah.

Ah, pokoknya mah entah kenapa aku jadi siswa yang terpilih untuk membuat papan nama dan Mading itu.

Tender ini sangat menguntungkan. Karena pihak sekolah selalu memberi uang lebih dari setiap nota pembelian bahan baku yang aku ajukan ke bendahara sekolah. Paling sedikit aku bisa mendapat lima ribu rupiah per satu papan nama kelas yang kubuat. Ada puluhan kelas dan enam laboratorium. Belum ditambah uang konsumsi yang kudapat jika aku bekerja setelah jam sekolah. Lumayan bisa untuk membeli satu porsi nasi rames plus sayur dan segelas teh manis hangat di warteg depan sekolahku.

Bisnisku yang ke dua sih, tidak sepenuhnya bisnis. Karena ini berkaitan dengan posisiku yang diangkat sebagai sekretaris panitia untuk acara perpisahan atau semacam pentas seni. Maaf, aku lupa acara tepatnya yang mana.

Aku ditugasi untuk membuat proposal acara tersebut dengan sangat detail.

Tapi, karena ternyata sang Ibu Kepala Sekolah ketika itu baru menjabat, jadi beliau aaga “cerewet”. Hampir sepuluh kali proposal yang kubuat itu ditolak oleh beliau. Dari kesalahan ketik sampai kesalahan konteks dan kesalahan budget.

Hal itu malah menjadi berkah tersembunyi buatku. Karena masih jarang yang punya komputer, jadi tiap membuat proposal, aku harus pergi ke warnet dan mengajukan anggaran khusus. Aku tentu saja tidak mau rugi. Kuminta lah, ongkos angkot dari Kiaracondong ke Inhoftank, ditambah konsumsi.

Lumayan, selama hampir sebulan, minimal aku tiga kali seminggu berangkat ke warnet. Dan pulangnya langsung deh makan Batagor Kuah gratis di dekat stasiun Kiaracondong dan pulang naik angkot gratis.

Dua usaha itu tidak begitu menguntungkan secara finansial, karena tidak ada yang bisa kukumpulkan dalam bentuk tabungan. Hanya skill komputerku saja yang meningkat pesat, secara, bulak- kalik ke warnet hampir tiap hari. Dan sedikit kecanduan Batagor Kuah..hehehe..

Cilegon: Bagian 1

Tahun pertamaku kerja di Cilegon, aku masih menikmati masa- masa “menghasilkan uang sendiri”. Iya lah, ketika sekolah, paling banyak aku memegang uang dua ribu sehari. Gaji pertamaku ketika itu tuuh ratus delapan puluh lima ribu. Gimana mau mikir bisnis atau berjualan ketika masih bingung uang sebanyak itu mau dipakai apa?

Walau pun lama vakum berjualan, tapi bakat dan instingku ternyata masih tetap tajam.

Tahun kedua aku mulai kuliah lagi. Dan mulai kurasakan pertama kalinya yang namanya kesulitan keuangan. Aku membiayai sendiri kuliah ku yang lumayan mahal itu.

Jadi, mau tidak mau aku harus mencari uang tambahan di luar gaji.

Kali ini aku berjualan ditambah oleh satu bakat lagi: “Bakat Ku Butuh” (Istilah dalam bahasa Sunda yang artinya, karena sangat butuh, atau kepepet, hehehe).

Kuputuskan untuk mulai lagi berjualan.

Kali ini komoditas pertamaku adalah Buku dan VCD ceramah- ceramah Aa Gym. Ketika itu Aa Gym dan Manajemen Qolbunya sedang booming di Banten, bahkan seluruh Indonesia. Dan di daerah Cilegon-Banten belum ada yang berjualan produk- produk Manajemen Qolbu.

Aku langsung membeli ke agen Manajemen Qolbu di Mesjid Daarut Tauhiid Bandung, dengan diskon bervariasi, antara sepuluh sampai dua puluh persen.

Bulan- bulan pertama berjalan sangat berat karena aku sudah mulai kuliah. Dan aku bukan mengambil kuliah di kelas karyawan, tapi sebagai mahasiswa regular. Ditambah dengan jadwal kerja shiftku yang delapan jam, membuat waktuku sebagian besar habis di luar rumah. Kerja, kuliah, dagang.

Bahkan pernah aku menggelar lapak di depan Mesjid Agung Cilegon, walaupun hanya beberapa saat, karena ketika itu aku sudah tidak mempunyai uang sama sekali.

Konsumenku tadinya masih sebatas tetangga dan teman-teman satu pekerjaan. Aku masih harus turun sendiri menjajakan daganganku. Mereka boleh membayar setelah gajian, dan bahkan ada yang aku beri kemudahan untuk mencicil, tanpa tambahan harga sepeser pun.

Cilegon: Bagian 2

Sampai akhirnya bala bantuan datang.

Akhirnya ada empat orang teman- temanku yang membantu berjualan. Ada guru TPA tetangga, dan sisanya teman- teman mengajiku di Remaja Islam Mesjid. Aku beri mereka sistem konsinyasi (hanya membayar harga setelah diskon untuk barang yang laku).

Alhamdulillah, berkat ijin Allah dan bantuan dari teman- temanku itu usahaku mulai berkembang.

Aku bisa melebarkan sayap ke produk lain.

Kali ini aku bisa menambah jenis produk yang aku jual. Aku mulai menjalin kerjasama dengan agen- agen produk Islami di Tanggerang dan Bandung.

Tahun ke dua berjalan sangat mulus seperti mulusnya jalan dari Doha ke Al Khor.

Bahkan di tahun ini, ada tujuh orang temanku yang membantu menanam modal.

Perputaran uang yang kutangani ketika itu hampir empat belas juta.

Puncaknya adalah ketika aku bisa mengikuti sebuah pameran di Banten: Banten Islamic Fair. Di pameran ini, aku mencatat rekor penjualan tertinggi dalam satu minggu. Total pendapatanku kala itu setidaknya delapan juta setengah.

Biaya sewa stand yang cukup mahal, lima ratus ribu rupiah untuk tujuh hari saja, dan tujuh hari aku cuti ternyata setimpal dengan apa yang aku dapatkan.

Aku mendapat rejeki nomplok dan investor pun tersenyum lebar.

Lagi- lagi usaha ini pun akhirnya gagal. Tadi nya sih aku ingin bilang usahaku ini hancur lebur, tapi sedikit tidak tega… hehehe..

Ya, usaha ini ambruk dalam sekejap, hanya beberapa minggu setelah mencatat keuntungan tertinggi.

Sebenarnya faktor yang menyebabkan ambruknya usahaku ini tidak hanya satu.

Tapi penyebab utamanya lagi- lagi lagi karena pengelolaan uang yang kurang baik.

Dengan kondisiku yang harus membayar kuliah yang lumayan mahal, seringkali uang yang terkumpul dari bisnisku itu terpakai. Dan uang modal yang harusnya selalu ada yang stand by untuk membeli barang pesanan pun terpakai.

Kondisi bisnisku semakin limbung ketika salah satu investor mendadak ingin menarik investasinya di kala kondisi bisnis sedang bagus- bagusnya. Dia beralasan karena dia akan menikah dan butuh dana invesasinya untuk menambah biaya pernikahannya.

Aku dan para rekan- rekanku sedang menerima pesanan yang lumayan banyak ketika itu. Karena kekurangan dana untuk membeli barang, dengan sangat terpaksa kami tolak.

Ditambah lagi faktor, teman- temanku yang membantu bisnisku mundur teratur dengan alasan menjelang UAS di kampus dan sekolahnya.

Beberapa minggu kemudian para investor lain juga melakukan hal yang sama.

Mereka juga menarik modalnya.

Mereka beralasan bahwa, kenapa si A bisa melanggar perjanjian yang menyatakan bahwa dana investasi tidak bisa ditarik sebelum dua tahun.

Karena aku sudah tidak mempunyai dana, yang ada hanya stok barang, aku pun kelimpungan mencari dana untuk mengembalikan dana para investor yang kini sudah berkembang lumayan besar.

Kala itu aku harus mengembalikan setidaknya tujuh juta rupiah.

Akhirnya ada jalan yang kutemukan, walaupun tadinya ingin kuhindari.

Aku pun berhutang ke bank.

Dan, pada akhirnya runtuhlah bisnis yang sudah dua tahun kurintis bersama teman- teman itu, ketika sudah tidak ada lagi dana untuk membeli pesanan para pembeli dan barang yang ada pun menumpuk di kamarku.

Kali ini aku sah mengalami kebangkrutan dalam berbisnis.

Cilegon: Bagian 3

            Selama beberapa minggu, aku sempat kaget dan syok, karena masih belum percaya, bisnisku bisa bangkrut dan membuatku berhutang jutaan rupiah bangkrut dalam hitungan minggu, tepat setelah mencetak rekor pendapatan tertinggi.

Setelah kurenungkan, kuresapi, kupertimbangkan, kutimang- timang, kutafakuri, kupikirkan, ah pokoknya segala hal yang terdefinisikan sebagai evaluasi pemikiranku atas pengalaman bangkrut itu, akhirnya aku mendapat satu benang merah.

Ya, benang merah kenapa walau pun aku cukup lihai untuk berdagang, berjualan dan berbisnis, tapi selalu, yaa tidak selalu sih, hampir selalu gagal. Dan bahkan kasus yang terakhir, memiliki akibat yang sangat lama. Aku harus mencicil bertahun- tahun ke bank.

Naluri berdagang dan kelihaianku berjualan ternyata tidak diimbangi dengan kemampuan manajemen uang yang baik.

Uang pribadi, uang modal, uang barang, keuntungan, dan uang lain, selama ini berada di dalam satu dompet. Mereka tidak pernah kupisahkan.

Padahal tidak seharusnya mereka semua memiliki tempat yang sama. Ya itu, untuk mencegah silang kepentingan dan silang pemakaian yang menjadi penyebab aku sama sekali tidak punya dana segar jika ada kejadian yang tidak terduga seperti yang kualami terakhir kali.

Selihai apa pun kita dalam berbisnis, tidak akan berarti apa- apa jika kita memiliki pengelolaan keuangan yang buruk.

http://www.didaytea.com

Insyallah+Semampunya: Komitmen atau Kemalasan?

Insyaallah dan Semampunya, kata- kata yang sering disalahgunakan untuk menyembunyikan kemalasan”

 

“Insyaallah”,arti sebenarnya sangat baik, dengan ijin Allah. Kata ini jika dirangkaikan dengan sebuah rencana, seharusnya digunakan untuk menunjukkan bahwa rencana itu sudah pasti akan dilakukan. Hanya Allah yang bisa menggagalkan rencana kita itu dengan menciptakan kejadian luar biasa.

Tapi kata ini sering disalahgunakan.

Bukan definisi diatas yang digunakan. Kata Insyaallah seringkali diucapkan jika seseorang sebenarnya tidak niat datang ke sebuah undangan. Atau diucapkan seseorang ketika sebenarnya dia tidak mau melakukan sesuatu, tapi karena merasa tidak enak dengan yang meminta tolong, dia pakai lah kata “Insyaallah” ini sebagai alat untuk menyembunyikan hal itu, agar seolah- olah dia sudah berkeinginan untuk melakukan hal yang diminta.

“Insyaallah lah saya dateng ya!” atau

“Insyaallah deh, kalau bisa saya nanti ke sana!”

“Insyaallah nanti kalau sempat saya sampaikan!”

“Insyaallah saya kerjakan abis Ashar deh!”

Insyaallah yang seharusnya diucapkan ketika kita ingin memastikan sesuatu, dan hanya Allah saja lah yang bisa membuat kita tidak dapat memenuhi janji tersebut, ternyata malah menjadi sebaliknya. Insyaallah malah dijadikan sebagai alat untuk menunjukkan kemalasan kita untuk memenuhi janji, dan bersembunyi di balik “izin Allah”.

Begitu juga dengan “semampunya”.

Di kala seseorang meminta kita untuk melakukan sesuatu, dan kita menjawab dengan mengucapkan semampunya, kadang itu bukan ekspresi kesanggupan kita.

Seringkali itu malah menunjukkah bahwa kita sebenarnya malas untuk melakukannya dan tidak enak untuk bilang tidak. Semampunya dan “kalau mampu” juga akhirnya menjadi tempat kita berlindung.

Kata “Semampunya” seharusnya digunakan untuk menunjukkan bahwa kita siap berusaha seratus persen untuk melakukan hal itu. Untuk menunjukkan bahwa kita sudah siap dan akan memberikan semua sumber daya yang ada pada diri kita sekuat tenaga untuk berusaha melakukan hal tersebut.

Contohnya jika kita berkomitmen berusaha semampunya untuk bisa bangun di sepertiga malam terakhir. Dalam prakteknya semampunya ini didefinisikan sebagai sebisanya atau sebangunnya. Kalau bangun syukur, ya kalau tidak bangun juga ya tidak apa- apa.

Kita tidak membeli beberapa weker yang super kencang agar bisa membangunkan tidur kita. Menyetel alarm pun hanya satu kali, yang kalau pun kita terbangun, itu pun hanya untuk mematikan alarm tersebut sebelum akhirnya kembali ke pangkuan selimut hangat yang sudah memeluk kita semalaman. Atau sebelum tidur kita tidak memaksa diri untuk bisa sholat dua rakaat dan berdoa mati-matian kepada Allah agar bisa dibangunkan untuk bisa mendapatkan kemuliaan sholat malam.

Sudah saatnya kita keluar dari belenggu kemalasan dan bersembunyi di balik dua kata sakti: Insyaallah dan semampunya.

Sudah saatnya kita menggunakan kedua kata itu sebagai komitmen seratus satu persen untuk memperbaiki kualitas diri dan ibadah kita.

Komitmen untuk memenuhi janji kita.

Komitmen untuk memperbaiki ibadah kita.

Komitmen kepada diri sendiri dan keluarga, sebagai tekad untuk berubah ke arah yang lebih baik.

Insyaallah, mari kita berusaha semampunya!

 

http://www.didaytea.com

 

Susah Kuadrat = Senang Pangkat Empat

“Mengingat kesulitan di masa lalu, kadang kita perlukan untuk menyadari bahwa betapa beruntungnya kita saat ini”

            Dinginnya ac di dalam bis sepanjang jalan Anyer hingga ke Cilegon langsung lenyap tak berbekas, terhapus oleh hawa lembab dan panas ketika belum sempat kaki kiriku beranjak ke luar dari bis jemputan itu.

Seperti biasanya, hawa dan lembab dan panas ini memang tipikal suhu dan kondisi udara sehari- hari di Cilegon dan daerah- daerah lainnya yang dekat dengan pantai dan daeran industri.

Dari Ramayana Cilegon, aku harus naik angkot lagi ke rumah kontrakanku.

Di dalam angkot, hawa panas dan lembab itu lumayan berkurang karena kuatnya AG (angin gelebug=angin besar) dari pintu dan jendela angkot yang terbuka lebar, membelai deras wajahku dengan debu yang terbawa dari jalanan, disertai wanginya harum bensin dan solar yang beriringan, serta mengibar-ngibarkan rambutku yang kala itu bergaya persis seperti Andy Lau: cepak dalem dan belah tengah…hehehe.

Tak sampai lima belas menit, angkot berwarna ungu itu pun kuhentikan dengan satu kata sakti jurus andalan para penumpang angkot: “Kiri…!”

Dari situ rumah kontrakanku masih lumayan jauh, kira- kira tiga ratus meter.

Berhubung hari itu tanggal dua puluh, jadi langkah kakiku agak sedikit lemah. Jauh berbeda dibandingkan langkah kakiku ketika tanggal dua puluh enam, ketika uang gaji masih utuh, hehehe..Jadi setelah hampir sepuluh menit baru aku tiba di depan rumah tipe dua satu bercat serba abu- abu yang kukontrak dua ratus lima puluh ribu per bulan sejak dua tahun yang lalu itu.

Tadinya sih aku ingin mampir dulu ke warteg untuk membeli makan, tapi apa daya, karena sindrom tanggal dua puluh sudah sedikit parah, jadi uang di dompetku hanya tinggal dua ribu rupiah, dan itu pun habis untuk membayar ongkos angkot.

Hawa lembab dan panas itu ternyata belum hilang saja, ya karena memang tidak mungkin hilang, secara, di rumahku memang tidak ada ac. Ketika masuk rumah, bukannya hawa dingin yang kunikmati, malah hawa panas yang lebih menyengat keluar dari dalam rumah ketika kubuka pintu.

Langsung kelemparkan tubuhku ke atas kasur Palembang di dalam  kamar. Aku ingin melepas lelah dan penat ini sejenak. Panas dan lembab aku lawan dengan menyalakan sebuah kipas angin, yang selalu menciptakan dilema di dalam hidupku. Jika dinyalakan, aku selalu masuk angin, tapi jika dimatikan aku tidak bisa menahan gerahnya efek panas dan lembab itu.

Tak sampai lima belas menit dan selepas adzan Magrib, aku beranjak untuk sholat dan berwudhu dengan air yang tersisa di bak mandi.

Bulan- bulan itu memang masa- masa tersulit dalam hidupku. Bagaimana tidak, saat itu aku harus mencari- cari uang yang tersisa. Aku merogohi satu- satu saku celana dan bajuku yang sudah kotor. Tapi belum kutemukan juga uang lima ribuan, sepuluh ribuan, atau bahkan sekedar ribuan yang terkumpul dan nyempil di dalam saku.

“Gawat, bisa ngga makan nih malam ini!” Aku mulai panik. Dan perutku pun ikut panik dengan mengeluarkan sekilas bunyi musik keroncong, seolah mengiyakan.

Ketika sedang asyik mengumpulkan baju kotor dan merogoh- rogoh saku- sakunya, tiba- tiba di luar terdengar suara petir yang luar biasa kencang.

“Jelegeeerr….!!!” Dor dar gelap, kalau kata orang Sunda. Suara petir itu sontak membuat aku terkaget- kaget sampai hampir terloncat dari dudukku.

Hujan yang sangat deras turun tiba- tiba tanpa disertai gerimis. Mungkin ini yang namanya hujan bandang, hehehe.

Tapi tak kuhiraukan suara hujan itu, aku langsung fokus lagi untuk mencari uang yang tersisa untuk membeli makan malam. Hujan masih bisa ditanggulangi, tapi lapar? Masih bisa juga sih, tapi perutku sudah keroncongan, dan tadi siang di tempat kerja sibuk luar biasa. Aku harus makan segera.

Eh, tidak lama kemudian, PET, listrik mati.

Gelap gulita lah kamarku seketika.

“Waduh! Gimana mau nyari duit, gimana mau makan? Cemilan pun sudah habis? Aku langsung mengutuk diri sendiri, kenapa tadi pake tiduran segala, bukannya langsung mencari uang. Kucek pulsa di hapeku pun sudah kosong total.

Aku pun langsung terduduk pasrah. Ya, ngga pasrah gimana, lha wong kamarku gelap gulita. Tangan sendiri pun tidak bisa kulihat.

Sambil duduk, aku masih berpikir positif, mungkin hujan ini bakal cuma sebentar. Walau pun ada sisi lain dari diriku yang berpikir lebih logis, bahwa hujan seperti ini biasanya lama.

Dan benar saja, ternyata sampai beberapa jam, ternyata hujan itu belum berhenti. Posisi tidurku mulai menggelosor menjadi setengah tidur dan akhirnya aku pun terlentang tanpa tertidur dalam kegelapan.

Penderitaanku malam itu makin lengkap ketika tiba- tiba aku merasa sesuatu yang dingin mengalir di punggungku.

Ya Allah, banjir! Lengkap lah sudah penderitaanku saat itu. Kebanjiran dan kelaparan di tengah kegelapan.

Eh, ternyata belum lengkap, ada satu lagi yang melengkapi kejadian malam itu.

Tiba-tiba terdengar suara bercuit yang lumayan kencang dari arah dapur. Aku pun mulai panik karena aku yakin itu adalah suara wirog (wirog=tikus got yang besar). Kalau aku digigit bisa kena penyakit pes nih.

Aku tutup pintu kamar dan kubendung banjir sebisanya dengan apa pun yang ada di dekatku, walau pun tidak terlihat. Kupaksakan diriku untuk berbaring dekat jendela dan kubuka gorden lebar- lebar agar setidaknya ada cahaya yang masuk, walau pun hanya kelebatan petir.

Sejujurnya pada saat itu aku ingin menangis dan meratap. “Ya Allah, kenapa lengkap sekali kau beri aku penderitaan kali ini? Dosa apa aku?” Kataku dalam hati.

Setelah itu aku langsung minta ampun, karena kupikir pasti ada hikmahnya dibalik penderitaan luar biasa, ah, sebenarnya sih tidak begitu luar biasa, hanya lumayan lengkap saja dan sangat menyedihkan. Hehehe..

Karena tidak kuat menahan lapar, dan keletihan, tidak terasa aku pun tertidur.

Ketika terbangun oleh suara adzan subuh, ternyata listrik sudah menyala kembali dan banjir pun sudah surut, walau pun menyisakan lumpur tebal yang menumpuk di depan pintu kamar.

Kupejamkan mata ini setelah membayangkan salah satu momen paling sulit dan menyedihkan dalam hidupku itu.

Ketika kubuka kembali kedua kelopak mataku pelan- pelan, kulihat ada sepasang anak kecil yang luar biasa lucu sedang tertidur pulas di kursi belakang dan seorang wanita cantik di antara mereka sedang tersenyum manis penuh cinta, dia sedang memegang sesendok nasi goreng yang aromanya luar biasa segar, sambil berkata: “Sayang, kenapa ngelamun? Ayo berangkat? Makannya sambil nyetir aja ya?”

Alhamdulillah, Maha Suci Engkau Ya Allah, Yang Maha Kaya, Yang Maha Memberi, engkau telah cabut aku dari kesulitan hidup semacam itu dan kau beri aku kenikmatan dunia yang luar biasa besar.

Divana Divana

Divana Divana


Ah, selama masih hidup, yang namanya manusia pasti bisa berubah dan bisa dirubah seiring dengan berjalannya waktu.

 

               Di dalam rentang waktu antara semasa diriku masih bersekolah di TK, sampai kira- kira kelas lima SD, hampir setiap tahun aku dirawat di rumah sakit. Kalau ngga gejala demam berdarah, ya gejala tipes. Biasanya sakitku muncul di antara pergantian musim.


               Masih terbayang diriku memakai kemeja kotak-kotak hijau putih dan celana hijau yang sedang ngarengkol di sudut ranjang khusus untuk anak kecil itu.


               Karena ibuku seorang perawat di rumah sakit itu, jadi dia tidak bisa selalu menjagaku selama dirawat. Jadi dia membekali aku dengan sebuah radio kecil.


               Tadinya sih tidak pernah kulirik sedikit pun si radio kecil ini. Boro- boro mau mendengar radio, yang ada pusing dan mual serta badan ini serasa remek karena demam tinggi yang hinggap di badanku sudah hampir mencapai empat puluh derajat celsius.


               Tapi, setelah sayup- sayup suara adzan Isya dari seberang rumah sakit sudah berlalu, kesepian pun mulai datang. Tidak ada perawat yang stand by di ruangan pasien. Hanya ada aku sendiri di dalam bunker bed di  kamar kecil khusus untuk anak- anak itu. Yang terdengar pun hanya suara jangkrik di tengah tebalnya kesunyian yang melandaku kala itu.


               Aku pun tidak tahan dan akhirnya kugapai radio yang masih teronggok di atas lemari kecil di samping ranjang besi tempat teronggoknya diriku juga.


               “Brrrrzzzzzzzzzzzzzzzz…………..”. Awalnya hanya suara gemerisik radio yang tiba- tiba membuat kamarku sedikit berisik. Kukecilkan volume radio itu sedikit dan kuputar gelombang radio.


               Tak lama kemudian, akhirnya kutemukan saluran yang terdengar sangat jelas.


               “Masih bersama saya, mister X di radio RX bandung, langsung saja kita putarkan lagu request dari Akang X juga, lagu romantis dari Kumar Sanu dan Kavita: Divana- divana…!” Suara lembut penyiar radio itu langsung seketika mengenyahkan kesepian itu dari kamar sempitku.


               “Divana- divaana, metera diivaana, tumera jaaneja, apkahi cunemi…” Hanya itu saja lirik yang kuhafal. Ternyata radio itu sedang memutar acara khusus request, seperti acara AMKMnya Sonora FM. Tapi  khusus lagu India saja.


               Tadinya sih mau langsung kupindahkan saja saluran itu, lebih baik ku pindah ke Radio Paramuda, Ardan, atau OZ yang memutar lagu yang lebih “jelas”.


               Entah kenapa, tiba-tiba kuurungkan niatku dan kusimpan kembali tanganku yang sudah terulur ke arah radio itu.


               Karena dingin akhirnya kutarik saja selimut ke atas tubuhku dan kuraih radio itu dan kusimpan di dekat kepalaku. Posisi ngarengkol seperi bayi, memeluk guling dan menghadap ke kanan adalah posisi tidur paling nyaman untukku ketika itu. Kucoba dengarkan lagu itu beberapa saat, dan entah kenapa lagi, lagu itu terdengar sangat adem di telinga dan nyaman di hati.


               Anak seumuranku di kala itu tentu saja belum mengenal apa namanya cinta. Walau pun tentu saja harus aku akui bahwa aku menyukai si teteh tetanggaku yang sering berangkat sekolah bareng itu…hehehe….Itu hanya cinta babon, belum mencapai tahapan cinta monyet sekali pun.


               Tapi semenjak itu dan sepanjang  delapan hari aku di rawat, setiap selepas magrib aku sudah “tetap stay tune” di radio itu. Hanya untuk menunggu lagu Divana- divana itu diputar. O iya, Divana itu artinya kekasihku.


               Dan benar saja, lagu itu memang favorit semua pendengar dan sedang merajai tangga lagu India di radio itu. Hampir semua perawat meledekku: “Anak kecil kok suka lagu India sih?” Tanya mereka dengan heran.

               “Wios weh da enakeun (biarin, lagunya enak kok!)” Jawabku dengan cueuk sambil kembali ngarengkol di ujung kasur besi itu.


               “Infeksi” ini akhirnya berlanjut selama beberapa minggu, hampir setiap magrib aku tunggu lagu itu untuk diputar. Dan bahkan kadang ada acara khusus menjelang tengah malam untuk memutar lagu- lagi India favorit pendengar. Hanya lagu itu saja yang bisa merasukiku sampai tahap seperti ituampai lagu itu sama sekali hilang, dan terhapus oleh kesibukanku bersekolah. Orangtuaku tidak bisa melarang dan juga tidak marah, mereka juga cuek. Kadang Divana- divana ini bersahut-sahutan dengan lagu2 Panbers favorit Bapak dan Ibuku.


               Tak pernah kubayangkan ketika suatu hari kelak aku akan tinggal di negara yang diihuni ribuan, puluhan ribu, eh, bahkan ratusan ribu orang India.


               Ya, kini aku di sini, sebuah negara timur tengah yang mayoritas penghuninya adalah orang India.


               Tapi sayang sekali,walau pun di kantin hampir setiap hari diputar lagu India, sampai sekarang diriku belum terkontaminasi lagi oleh lagu India semacam Divana- Divana itu.


               Dan ketika kucoba cari lagu itu di youtube, ternyata lagu itu tidak terdengar seenak dulu lagi. Sekarang aku malah merasa agak risih. Hanya senyumku dan tawa renyah istriku yang timbul ketika kuingat bahwa aku pernah tidur berbulan-bulan dengan lagu itu. Ngefans abis- abisan.


               Ah, selama masih hidup, yang namanya manusia pasti bisa berubah dan bisa dirubah seiring dengan berjalannya waktu. Kalau tidak berubah sendiri, ya kita akan berubah dan dibentuk oleh lingkungan sekitar kita.


               Jangan takut untuk menerima perubahan-selama itu positif-dan memulai perubahan di dalam diri, keluarga, dan bahkan kehidupan kita. Karena seringkali perubahan kecil akan membuat kita terbang tinggi ke arah yang lebih baik.

               Dijamin!


http://www.didaytea.com 

Belajar Memaksa Diri

“Sholat malam itu ternyata tidak susah. Walaupun hanya sebatas satu rakaat witir, tapi jika kita bisa merutinkannya setiap hari, insyaallah bisa mengangkat kita ke derajat yang sangat mulia”

 

                “Kriiinnngg…!!!” Suara melengking tinggi seperti ribuan gelas yang dipecahkan bersama- sama memasuki telinga seperti tusukan tombak yang tembus ke dalam otak. Sakit.

                Hampir saja kulempar weker itu jauh- jauh kalau tidak ingat harganya lumayan mahal. Hehehe…

                Ah, ternyata baru setengah empat. Sengaja kubuat alarm berbunyi jam segitu, niatnya sih ingin sholat malam dulu sebelum sholat subuh ke mesjid.

                Tetapi pada akhirnya alarm mah alarm, tapi yang bangun hanya tanganku saja. Itu pun sekedar mematikan lengkingan super berisik si weker merah kesayanganku itu. Pada akhirnya, sholat malam engga, dan sholat subuh boro- boro bisa ke mesjid. Yang ada malah kesiangan. Dan kadang bablas sampai hampir mepet matahari terbit.

                Apakah ada yang memiliki pengalaman yang sama?

                Mungkin tidak ya? Tidak jauh beda maksudnya kan? 😀

                Begitulah yang terjadi, menjadi rutinitas harian saya. Boro- boro sholat malam atau bisa sholat subuh ke mesjid. Sholat subuh saja kadang masih bisa telat.

                Walaupun tidak sama persis, tapi tahapan- tahapan monolog seperti ini pasti akan kita lalui:

                “Jam berapa sekarang?” Kita pasti langsung terduduk atau masih berbaring tapi dengan mata yang setengah terbuka karena tertutup pulau di ujung mata. Kalau dalam bahasa Prancis, biasanya pulau ini disebut sebagai C’hileuh.

                “Hari apa ya sekarang?” Mulai deh garuk- garuk kepala walau pun tidak gatal.

                “Siapa sih yang nyalain alarm jam segini?” (padahal kita sendiri tuh yang nyalaain, hehehe)

                “Oh alarm ini, tahajud tea geningan yah?” Pada tahap ini mulai sedikit sadar nih. Sampai tiba-tiba:

                “Ah, masih setengah empat ini lah, subuh kan jam lima kurang seperempat, lebih dari sejam” Pertanda buruk pun mulai muncul. 😀

                Dengan diikuti bunyi yang sangat legendaris:

                “ZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZ……………….” Kita pun sukses tidur lagi dan dialog selanjutnya (setelah bangun yang kedua) mungkin kita yang marah- marah kepada diri sendiri, atau bahkan istri kita.

Menyalahkan, kenapa kita tidak dibangunkan.

Sok lihatin geura, berapa kali kita kalah?

                Bukan satu, bukan dua, tapi lima kali kita menyerah di dalam pertarungan terbesar dalam diri seorang manusia.

Baik vs Jahat.

Malas vs Rajin.

Bangun vs Tidur.

Kasur vs Sajadah.

Alhamdulillah, akan tetapi hal itu tidak terjadi lagi sodara- sodaraku yang tercinta!

Setelah melalui tahapan perenungan, pencarian, investigasi dan observasi yang menyeluruh dan berkesinambungan serta super komprehensip, eh, komprehensif, akhirnya saya temukan siasat terbaik untuk bisa melawan lambaian selimut dan panggilan tempat tidur empuk yang bselama bertahun- tahun membuat saya jadi manusia pemalas.

Beberapa minggu ini Alhamdulillah saya akhirnya menemukan jurus paling ampuh untuk bisa bangun tidur, dan tentunya terbukti ampuh untuk diri saya juga. J Sebab tidak mungkin saya membuat tulisan ini kalau diri saya masih belekok, dan tidak mengalami dan melakukan apa yang saya tulis. Semoga ampuh juga buat yang membaca.

                Ternyata nih, penyebab utama kemalasan diri untuk bisa bangun adalah hal yang sangat sederhana sekali.  Kita malas bangun, atau bahkan tidak bisa bangun karena kita sering, bahkan selalu memberi kesempatan kedua kepada diri kita untuk berpikir setelah kita terbangun.

Jurusnya cuma satu:  Hudang Harita Keneh! Eh, maaf, channelnya berpindah lagi ke bahasa Sunda.

Bangun Saat Itu Juga!

                Ya, begitu anda terbangun karena alarm atau dibangunkan oleh istri, jangan beri waktu otak untuk berpikir. Jangan beri kesempatan sisi malas anda untuk menguasai diri anda. Lempar diri anda keluar dari tempat tidur.

                Tinggalkan tempat tidur, dan langsung ke kamar mandi, siram muka anda dengan air dingin. Ketika muka sudah terbasuh dengan air wudhu, dan nyawa anda sudah terkumpul semua itulah saatnya anda berpikir. Hehehe..

                Kalau pun anda ternyata masih ngotot ingin tidur lagi, insyaallah tidak akan bisa, kecuali  anda memang super kebluk dan bersahabat erat dengan Raja Penidur, tokoh terhebat dunia persilatan di novel karya Bastian Tito: Wiro Sableng. 😀

                Sok atuh, masa masih kalah sama selimut dan kasur?

                Sholat malam itu ternyata tidak susah. Walaupun hanya sebatas satu rakaat witir, tapi jika kita bisa merutinkannya setiap hari, insyaallah bisa mengangkat kita ke derajat yang sangat mulia.

                Dan pastinya akan ada “efek samping” yang lainnya.

                If you managed to do that, eh, kenapa pindah channel lagi ini teh? Maaf. Jika anda berhasil memaksa diri anda untuk mendobrak kemalasan ini, insyaallah anda pasti akan bisa rutin sholat subuh ke mesjid setiap hari.

                Dan insyaallah pasti itu juga akan berakibat anda bisa sholat sunat dua rakaat sebelum subuh, yang “lebih baik dari dunia dan seisinya” kan?

Pada akhirnya saya tetap saja hanya seorang manusia tempatnya salah dan khilaf, yang kadang akhirnya masih juga terlalu lemah untuk mengalahkan kemalasan. Sehingga satu atau dua kali masih bisa terlambat.

                Buat diri saya, untuk bisa menemukan penyebab utama seperti ini sungguh merupakan pencapaian yang luar biasa. Ya seperti di tulisan Dobrak Diri, saya akhirnya bisa mendobrak diri saya untuk bisa sholat malam, walau pun hanya dua rakaat+satu rakaat witir, atau bahkan hanya sholat witir saja.

Lagi- lagi pencapaian ini membuat diri saya memiliki motivasi lebih dalam hidup. Lebih segar dan lebih tenang menjalani hari. Masalah- masalah besar menjadi ringan.

Tidak ada yang susah lah di dunia ini mah, mau urusan ibadah, pekerjaan, sekolah, rumah tangga, dan urusan- urusan lain yang biasanya membikin kita pusing tujuh keliling.

                Bukankah kemalasan itu salah satu sumber malapetaka dan kemiskinan hidup?

                Mari memaksa diri!

 

www.didaytea.com       

271111