Refleksi 10 Tahun Kelulusan

               Pagi hari di 30 Juni 2001.

Hari itu adalah hari paling campur aduk di dalam hidupku selama bersekolah di SMKN 13.

Gembira. Iya lah, karena itu hari kelulusanku.

Sedih, karena aku harus berpisah dengan orang-orang yang sudah sangat dekat selama empat tahun bersekolah. Perpisahanku dengan teman-teman dekatku bahkan diiringi isak tangis oleh beberapa teman yang menjadi secret admirerku, eh, kebalik ketang, teman- teman yanm diam-diam pernah ku secret admirer-i, hehehe…pasti yang kenal mah tahu lah. Kita sama- sama tau aja, jangan bilang- bilang ya!

Lega, eh, tunggu dulu, bukan hanya lega, tapi suueeperrrr lueggaaa! Iya lah, karena aku akhirnya lulus juga setelah lima tahun bersekolah di sana.

Lima tahun? Ya lima tahun. Karena aku pernah tinggal kelas di tahun pertama. Hampir sama lamanya dengan sekolah SD.

Dua tahun terakhir menjadi masa-masa paling berat di kehidupanku selama bersekolah.

Bukan karena beratnya pendidikan di SMKN 13, tapi beratnya beban moral yang harus kutanggung selama mengenakan seragam putih abu-abu. Ketika teman-teman seangkatanku sudah lulus dan kuliah bersemester- semester, aku masih saja setia dengan “Putih Abu-Abu”.

Ledekan dan cemoohan mah sudah tak terhitung lagi.

“Ari ente sakola di mana euy, naha teu lulus lulus?”

“Wiihh…awet ngora euy!” Pujian yang satir.

“Urang mah geus semester dua, naha ente mah masih keneh diseragam?”

Ketika di kelas tiga sih, aku masih bisa menanggapi pertanyaan- pertanyaan dan ledekan itu dengan kalimat andalanku: “Sekolahku di SMKN 13, sekolahnya empat tahun, kaya STM Pembangunan”.

Nah, ketika kelas empat yang sangat berat. Tadinya aku ingin menutupi hal yang tadinya kuanggap aib. Aku berniat untuk berangkat dengan baju bebas lalu berganti seragam di rumah temanku yang dekat dengan sekolah.

Ah, tapi setelah merenung, aku rasa tampil apa adanya lebih baik. Aku akan menghabiskan energi terlalu banyak jika ingin menutupi statusku yang pernah tidak naik kelas ini.

Dan ternyata benar saja, pertanyaan dan ledekan itu tidak bertahan lama, selesai dengan jawaban yang apa adanya: “Saya pernah tinggal kelas!”

Sampai tanggal 30 Juni itu, alhamdulillah, sekolahku lancar-lancar saja.

Dan Alhamdulillah, tinggal kelasnya aku ternyata menyimpan hikmah tersembunyi yang sangat luar biasa besar di masa depan.

Aku lulus dengan nilai rata-rata 7.55, entah ini peringkat ke berapa, tapi itu adalah hal yang sangat luar biasa di tengah persaingan yang super ketat, layaknya Petir atau Big Brother.

Tanggal 30 Juni aku memang masih siswa SMK, tapi beberapa bulan sebelumnya aku dan empat temanku sudah menandatangani kontrak dengan sebuah perusahaan Petrokimia di Merak, Cilegon.

Tanggal 30 Juni adalah hari Sabtu, dan hari Senin, tanggal 2 Juli 2001 satu adalah hari pertama kerjaku.

Alhamdulilah, kami berlima tidak pernah mengalami satu hari pun dengan menyandang status tidak punya pekerjaan.

Dan hikmah terbesar yang disembunyikan oleh Allah selama bertahun-tahun, ya kondisiku sekarang ini.

Kondisiku yang menjadi impian banyak orang yang belum bisa menggapainya. Bekerja di luar negeri, Allah menganugerahkan kepadaku wanita yang luar biasa dan bisa mencintaiku apa adanya, dan telah memberiku sepasang malaikat kecil yang lucu- lucu.

Aku akhirnya bisa melunasi impianku untuk membelikan rumah untuk orangtuaku.

Aku akhirnya bisa memulai kuliah lagi.

Ah, Allah mah memang Maha Adil ya!

Kitanya saja yang sok tahu tuh, sok bisa mengatur kehidupan kita sendiri. Sok tahu mana yang paling baik untuk kehidupan kita.

Dia tidak akan pernah mentakdirkan suatu keburukan untuk hamba-Nya. Tidak naik kelas yang Allah takdirkan, ternyata adalah “tiket” untuk hal-hal luar biasa yang telah kucapai, dan untuk menggapai impianku yang jauh lebih besar untuk masa depanku kelak.

Diday Tea

120720111221, Setelah sepuluh tahun lulus. J

 

Bandung Lautan Hot Pants

                Miris, sedih, kecewa. Itu yang kurasakan ketika baru beberapa jam menginjakkan kaki di kota kelahiranku, Bandung.

Masih terbayang beberapa tahun yang lalu, di masjid sebelah rumahku masih ada yang mengaji setiap sehabis sholat magrib. Sekarang sudah sepi.

Masih terbayang ributnya anak-anak kecil yang masih olol leho (ingusan), berjilbab walaupun lusuh, berbaju koko walaupun belel, memakai sarung walaupun milik kakaknya, sehingga harus selalu mereka pegangi agar tidak merosot. Aku yakin mereka lebih dekat ke miskin daripada berkecukupan. Aku masih ingat puluhan anak-anak itu minta diantar olehku, dan sambil berjalan, mereka bersholawat bersama sekencang-kencangnya, atau mengaji, bahkan ada yang sesekali menyelingi dengan lagu Sheila on Tujuh, eh Sheila on 7. Indah dan Kurindukan.

Setelah lebih dari sepuluh tahun berlalu, hal itu tidak kulihat lagi.

Detik pertama aku memasuki kota Bandung, selepas Gerbang Tol Pasir Koja, aku sudah disuguhi pemandangan yang dulu sangat jarang kulihat. Girls with hot pant (gadis dengan celana panas, eh celana super pendek)yang sedang menunggu bis. Waduh, rasa- rasanya baru dua puluh dua bulan aku tidak ke Bandung, kenapa tiba- tiba ada pemandangan seperti ini. Ah, mungkin saja itu hanya kebetulan, mungkin orang luar kota yang sedang mampir ke Bandung.

Beberapa ratus meter kemudian, dugaan “kebetulan” itu mulai hilang, karena ada sepasang muda-mudi, dan tidak mungkin suami istri,  sedang berboncengan. Dan si cewek yang di belakang, mengenakan celana dengan model yang sama persis dengan yang kulihat beberapa ratus meter sebelumnya.

Dan ternyata, itu hanya beberapa saja dari puluhan hal serupa yang kulihat sepanjang jalan dari Gerbang Tol Pasir Koja ke tempat kelahiranku Bonji, yang hanya berjarak beberapa kilometer saja.

Memasuki daerah Bonji, sejujurnya sih aku berharap untuk tidak melihat lagi pemandangan semacam itu.

Dan harapanku itu ternyata hanya bertepuk sebelah tangan.

Baru juga memasuki gerbang jalan, sudah ada tiga orang cewek, di tengah gerimis, memakai “celana panas” itu lagi!

Dan yang paling menyedihkan, mereka itu anak- anak kecil olol leho  yang mengaji ke mesjid setiap hari.

Dan sampai beberapa hari kemudian aku berkeliling di Bandung, pemandangan yang sama masih kuliahat saja. Di BIP, Bandung Supermall, di jalan, Yogya Kepatihan, pasti ada saja kulihat cewek yang memakai celana panas itu.

Duh!

Entah apa penyebabnya. Mungkin banyak orang Bandung yang semakin miskin, sehingga sekarang makin sedikit orang tua yang mampu membelikan baju yang pantas untuk anaknya.

Semoga itu hanya ketidakberuntunganku saja sehingga aku disuguhi pemandangan seprti itu.

Semoga pemandangan semacam itu tidak kulihat lagi di Bandung.

Diday Tea

1207201102:16, ditemani oleh Gipang Super Original