RISIKO LENTERA KEHIDUPAN


RISIKO LENTERA KEHIDUPAN

Seorang pria berlayar menyeberangi Selat Sunda dalam rangka mudik ke kampung halamannya. Ia mengalami mabuk laut yang parah dan mengurung diri didalam kamar. Hingga suatu malam ia mendengar teriakan, “Ada orang jatuh ke laut!”.

Akan tetapi, ia merasa bahwa tidak ada yang dapat ia lakukan untuk memberikan pertolongan. Kemudian ia berkata kepada dirinya sendiri yang tengah mengalami mabuk laut tersebut, “Setidaknya saya dapat menaruh lentera pada tingkap di sisi kapal!”.

Lalu ia berusaha berdiri dan menggantungkan lenteranya. Keesokan harinya dia mendengar bagaimana orang yang berhasil diselamatkan tersebut berkata, “Saya nyaris tenggelam di tengah gelapnya malam. Namun, pada saat yang tepat,seseorang menaruh sebuah lentera pada tingkap di sisi kapal. Ketika lentera itu menyinari tangan saya, seorang pelaut yang ada di sekoci menangkap tangan saya dan menarik saya masuk kedalam sekocinya.”

Teringat akan yang diungkapkan KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) tentang konsep 3Mnya untuk mengubah diri dalam rangka mengubah dunia, yaitu Mulai dari diri sendiri, Mulai dari yang kecil dan Mulai dari sekarang juga.

Hidup akan terasa lebih hidup dan bermakna bukan karena hal-hal yang besar, melainkan dari hal-hal kecil yang dikerjakan dengan jiwa besar. Cahaya kehidupan abadi bukan nampak dari kemilau harta yang dimiliki, bukan pula dari indahnya tahta kedudukan yang dipunyai seseorang atau deretan gelar yang disandang. Cahaya kehidupan abadi justru dimulai dari lentera kecil yang ada dalam diri yang menyala dalam ketulusan memberi pertolongan pada orang lain dalam segala kekurangan dan kecukupannya.

Lentera kehidupan bukan berarti selalu member kebaikan kepada orang-orang yang baik dengan kita. Memberi pertolongan kepada orang yang sepaham, sealiran dan sependapat dengan kita adalah hal yang biasa. Namun, memberi pertolongan dengan dasar cinta kasih kepada orang-orang yang justru membenci kita, yang berbeda dan tidak sepaham dengan kita merupakan nilai tertinggi dari lentera kehidupan tersebut.

Seorang senior yang sangat bijak dan rendah hati, sungguh pun memiliki jabatan yang tinggi, pernah bertutur, “Harta saya yang abadi itu adalah yang saya berikan pada orang lain.”

Pernyataan yang menunjukan implementasi nilai-nilai spiritual yang tinggi itu, memberikan inspirasi dan dorongan bahwa apa yang kita miliki saat ini adalah titipan dan sebagian milik orang lain. Inspirasi yangmemperkokoh keyakinan bahwa semua yang kita mliki saat ini tidaklah abadi. Hidup semata-mata adalah menjadi saluran berkah bagi orang lain.

Ketika lentera menyala bukan berarti tidak ada resiko-paling tidak resiko tertiup angin dan padam. Resiko terberat yang dirasakan seseorang ketika member pertolongan kepada orang lain, bukanlah semata-mata akibatnya harta yang berkurang atau tenaga dan waktu yang tersita, melainkan mempertaruhkan harga diri dan gengsi. Menyalakan lentera kehidupan berarti rela turun dengan rendah hati untuk sama-sama sederajat dengan orang yang ditolong untuk kemudian secara bersama-sama membawanya terbang tinggi.

Hambatan utama dalam menyalakan lentera kehidupan justru datang dari dalam diri sendiri yang tidak mau keluar (in side out) memperhatikan dan menolong orang lain. Dr. Lyndon pernah menyatakan bahwa orang yang menaklukkan orang lain adalah orang kuat, sedangkan orang yang menaklukan dirinya sendiri adalah orang yang berkekuatan dahsyat..

Berbicara mengenai resiko, akan sendi-sendi kita yang berjalan tanpa resiko. Tertawa berarti mengambil resiko kelihatan tolol. Menangis berarti mengambil resiko kelihatan sentimental. Mengulurkan tangan kepada orang lain berarti mengambil resiko terlibat. Menunjukkan perasaan berarti mengambil resiko menunjukan diri sejati kita.memberitahukan ide-ide dan impian kita didepan banyak orang berarti mengambil resiko kalah. Hidup berarti mengambil resiko mati. Berharap berarti mengambil resiko putus asa. Mencoba berarti mengambil resiko gagal.

Keberanian yang mengambil resiko moderat untuk memberikan yang terbaik bagi orang lain, perusahaan, dan masyarakat merupakan awal yang baik untuk memulai hidup yang baru dengan menyalakan lentera kehidupan. Tidak dapat dipungkiri, begitu komitmen ini mulai dibangun, maka pada saat yang bersamaan pula rasa takut datang untuk menghambat laju komitmen tersebut. Berani berarti melawan rasa takut, menguasai rasa takut. Bukannya tidak merasa takut. Lebih baik mengambil resiko sekarang daripada selalu hidup dalam ketakutan.

Teringat apa yang diungkapkan KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) tentang konsep 3M-nya untuk mengubah diri dalam rangka mengubah dunia, yaitu Mulai dari yang kecil, Mulai dari diri sendiri, dan Mulai dari sekarang juga.

Kehidupan yang paling menyedihkan adalah ketidakberanian mengambil resiko sekecil apapun (safety player). Orang yang tidak mau mengambil resiko berarti dia tidak dapat meraih apa pun, tidak memiliki apa pun, tidak merasakan apa pun dan akhirnya tidak menjadi siapa-siapa. Nyalakanlah lentera kehidupanmu dengan resiko apa pun, besok mungkin sudah terlambat dan padam.

(Parlindungan Marpaung, Setengah Isi Setengah Kosong)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s