Apakah Kita Seorang Mukmin ?

“Seseorang bertanya pada Hasan Al Bashri, “Ya Hasan, apakah engkau seorang Mukmin?” Hasan Al Bashri hanya menjawab, “Insya Allah.”

Sejak pertama melangkahkan kaki di sini, setiap kita harusnya tahu, bahwa kita sedang berada dalam proses hijrah kepada Allah swt. kita sedang berjalan dan berlari menuju Allah swt. hanya Allah saja. Kita juga harus mengerti bahwa proses perjalanan itu tidak mudah. Jalan ini ibarat tangga yang menjulang ke atas dan bertingkat-tingkat. Kita menaikinya satu demi satu, setingkat demi setingkat. Hingga ke anak tangga yang terakhir.

Seperti yang dikisahkan tentang seorang Tabi’in bernama Tsabit Al Banani di ujung hayatnya. Ketika itu ia dikelilingi oleh para sahabatnya. Mereka berupaya mentalqinkan Tsabit yang saat itu memasuki fase sakratul maut. Tapi, sungguh mengejutkan karena ketika itu Tsabit mengatakan pada mereka, “Saudaraku, jangan ganggu aku. Aku sedang menuntaskan wiridku yang keenam.” (Shaidul Khatir, 50)

Saudaraku,

Sungguh mulai perjalanan para salafushalih, orang-orang yang menemani mereka bertutur kagum tentang perjalanan hidup mereka. Seorang ahli hadis bernama Ibrahim Al Harabi, Ahmad bin Hambal. Dengarkanlah perkataannya, “Aku telah menemaninya (Imam Ahmad bin Hamdal) selama 20 tahun. Kami melewati musim kemarau dan musim semi, musim panas dan musim dingin. Sementara aku tidak pernah mendapatinya pada suatu hari, kecuali ia dalam kondisi lebih baik dari harinya yang kemarin.” (Manaqib Ahmad, Ibnul Jauzi, 40)

Menjadi lebih baik dari kemarin. Selama bertahun-tahun. Itulah barangkali makna anak-anak tangga kehidupan menuju Allah swt. semakin hari semakin tinggi, semakin mendaki, semakin mendekat ke langit. Betapa indahnya orang yang bisa menerapkan kaidah seperti itu. Ketika tapak-tapak usia membuktikan sebuah perjalanan yang semakin mahal nilainya. Di saat jejak umur semakin lama semakin menambah kemuliaan seseorang. Ketika perguliran hari, bulan dan tahun, menjadi pertambahan kita saat menuai pahala, balasan dari Allah swt. di saat perjalanan waktu, terus menerus menambah kedekatan kita kepada kebahagiaan di akhirat.

Tapi, sedikit sekali di antara kita yang bisa menepati prinsip itu.

Saudaraku,

Dahulu ada sahabat Rasulullah saw, yang kerap menyadari jikalau dirinya lemah dan banyak kekurangan mengisi hari-harinya untuk beramal. Abu Dzar Al Ghifari ra, namanya. Ia adalah tokoh sahabat yang telah mengukir prestasi mengagumkan dalam fase perjuangan sejarah awal dakwah Islam. Tapi ia kerap merasakan kelemahan dan ketidakberdayaan dirinya dalam menunaikan amanah yang Allah swt. berikan kepadanya. Hingga suatu hari, ia datang kepada Rasulullah saw dan berkata, “Ya Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku ternyata lemah dalam melakukan amal-amalku?”.

Begitulah pertanyaannya kepada Rasulullah di tengah prestasi ubudiyah dan perjuangannya yang luar biasa. Abu Dzar mengakui kekurangan dirinya secara terus terang di hadapan Rasualullah saw. Ia tidak menoleh seberapa bagus ibadah dan nilai perjuangannya yang telah ia tunaikan bersama Rasulullah saw. Ia juga tidak segan untuk mengakui kelemahan itu di hadapan orang lain. Ketika itu, Rasulullah saw berpesan kepadanya, “Peliharalah orang lain dari keburukanmu. Itu saja sudah merupakan shadaqah darimu untuk dirimu sendiri.” (HR Muslim)

Saudaraku,

Beramallah dalam hidup ini, tanpa perlu membanding-bandingkan kelebihan amal-amal kita dengan orang lain. Membanding-bandingkan dan mengukur-ukur kelebihan amal-amal kita dengan orang lain, bisa menjerumuskan kita menjadi ujub dan sombong. Padahal Ibnu Harits Al Hafi mendefinisikan kesombongan dan ujub itu dengan ungkapan, “Jika engkau merasakan amalmu banyak sedangkan amal orang selainmu itu sedikit.”

Syaikh Muhammad Ahmad Ar Rasyid, seorang ulama yang banyak menuangkan nasihat-nasihat ruhani dalam banyak bukunya, membuat satu jub judul pendek yang berisi tentang ujub. Judul itu berbunyi “Laa tarfa’ si’rak,” yang artinya, jangan jual mahal. Yang dimaksud Syaikh Muhammad Ahmad Ar Rasyid adalah agar kita tidak cenderung memandang diri sendiri lebih baik dari orang lain. Betapapun secara lahiriah banyak orang yang mendudukan kita seperti itu. Tidak merasa diri lebih berprestasi, lebih banyak berperan, lebih sering beramal, daripada orang lain.

Menyentuh sekali perkataan Fudhail bin Iyadh rahimahullah saat menyinggung masalah ini. Katanya, iblis akan menang atas Bani Adam, hanya dengan menjadikan manusia memiliki satu dari tiga prilaku. “Jika aku sudah dapat satu saja, aku tidak akan meminta yang lain.” Begitu kata iblis seperti diungkapkan oleh Fudhail. Tiga prilaku itu adalah: Ujubnya seseorang terhadap dirinya, atau menganggap banyak amal yang telah dilakukannya, atau melupakan dosa-dosanya.” Itulah pangkal dosa menurut Fudhail.

Konon ada perkataan Nabiyyulah Isa as yang menyebutkan, “Berapa banyak lentera yang cahayanya mati tertiup angin. Berapa banyak ibadah yang pahalanya rusak oleh kesombongan. Amal sholeh adalah cahaya. Dan cahaya itu bisa padam oleh angin ujub dan kesombongan.

Saudaraku,

Semoga cahaya amal shalih kita tidak mati oleh perasaan kita sendiri. Semoga keimanan kita tidak redup oleh kebanggaan kita sekadar telah mendapatkan penilaian dan pandangan orang yang baik tentang kita.

Dahulu, Hasan Al Bashri rahimahullah tidak merasa yakin untuk mengatakan bahwa dirinya pasti beriman, lantaran kekhawatirannya bila Allah memandang amal-amal yang ia lakukan ternyata tidak sesuai dengan tuntutan keimanannya. Ia pernah ditanya, “Ya Hasan, apakah engkau seorang Mukmin?” Hasan Al Bashri hanya mejawab “Insya Allah”. Penanya terkejut dengan jawaban Hasan al Bashri itu. “Kenapa engkau menajwab seperti itu?” ulama yang terkenal zuhud di zaman generasi Tabi’in itu lalu mengatakan, “Aku takut jika aku katakan, ‘Ya aku Mukmin’, tapi Allah mengatakan ‘engkau bohong’, karena itulah aku katakana Insya Allah. Aku tidak merasa aman jika suatu ketika Allah mendapatiku melakukan apa yang Ia benci, lalu Ia murka padaku dan mengatakan, “Pergilah aku tidak menerima amal-amalmu.”

Saudaraku,

Apakah kita seorang Mukmin?

Mencari Mutiara di Dasar Hati seri 1 oleh Muhammad Nursani

Sumber Ketenangan itu

Sumber Ketenangan itu

“Tidaklah dunia akan menjadi obsesi seseorang, kecuali dunia menjadi sangat melekat di hatinya dalam empat keadaan: Kefakiran yang tak kenal kekayaan, keinginan yang tak putus asa, kesibukan yang tak pernah habis, dan angan-angan yang tak ada ujungnya.” (Umar bin Khattab)

Mari kita mulai hari ini dengan ungkapan syukur. Setiap hari anugerah dan nikmat-Nya selalu turun kepada kita, meski pada hari kemarin dan bahkan pada hari ini pun kemaksiatan dan dosa selalu kita lakukan. Setiap jam, perlindungan dan pemeliharaan-Nya terus menerus mengayomi kita, padahal pada jam yang lalu dan mungkin pada jam ini, kita masih menentang-Nya dengan dosa-dosa dan keburukan-keburukan kita. Allah telah membawa kita pada hari ini. Allah memberi kesempatan pada kita untuk menghapus dosa dan beramal shalih.

Saudaraku,
Mari ucapkan istigfhar. Mohon ampun atas segala kesalahan. Syukur atas ampunan dan semua karunia-Nya yang tak pernah berhenti. Ada sebuah hadits yang patut kita renungkan di waktu pagi. Rasulullah Saw pernah mengatakan, bahwa setiap masuk waktu pagi, ada dua malaikat mengajukan permohonan mereka kepada Allah Swt. Malaikat pertama berdo’a: “Ya Allah berikanlah ganti bagi orang yang menginfaqkan hartanya.” Yang kedua berdo’a: “Ya Allah jadikanlah semakin tidak punya orang yang yang pelit terhadap hartanya.” Renungkanlah butir-butir do’a yang diucapkan para malaikat yang suci itu.

Saudaraku,
Adakah do’a malaikat Allah yang tak pernah bermaksiat itu ditolak Allah? Mungkinkah permohonan itu tidak diijabah oleh Allah? Kaitkanlah do’a para malaikat itu dengan firman Allah dalam surat Saba’ ayat 39 yang artinya: “Katakanlah: ‘Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rizki bagi siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa-siapa yang dikehendaki-nya) dan apa saja yang kau infaqkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rizki yang sebaik-baiknya.
Rizki mutlak ada dalam genggaman kuasa Allah Swt. tak satupun makhluk yang bisa menentukan kadar dan bagian rizki. Do’a para malaikat yang diucapkan setiap pagi, dan juga firman Allah Swt tadi sesungguhnya menegaskan bahwa nilai harta yang dikeluarkan di jalan Allah takan hilang.
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan, “Kandungan ayat tersebut adalah, apapun yang kalian infaqkan sesuai dengan apa yang Allah perintahkan maka Allah pasti akan menggantikan sesuatu itu untukmu sejak di dunia. Lalu di akhirat, Allah akan memberikan balasan pahala atasmu”. Allah menjamin bahwa tak pernah ada orang yang berinfaq, bersedeqah, berzakat, berderma dan semacamnya, yang kemudian jatuh miskin.

Perhatikanlah saudaraku,
Kenyataan hidup yang kita lihat di sekitar kita. Atau bahkan, pengalaman kita sendiri selama ini. Perhatikanlah sabda Rasulullah yang dikutip dalam tafsir Ibnu Katsir, “Anfiq yunfaq alaik….” Berinfaqlah, maka kalian akan diberi infaq. “Ma naqasha malun min shadaq”. Artinya, harta tidak akan berkurang karena shadaqah.

Saudaraku,
Perhatikan keadaan teman-teman, sahabat, orang tua atau siapapun yang ada disekitar kita. Benarkah jaminan Allah tersebut? Adakah orang yang jatuh pailit karena ia banyak berinfaq atau bersedeqah? Adakah orang yang akhirnya jatuh miskin akibat ia membantu saudara-saudaranya di jalan Allah?
Tapi kenapa kita kerap menolak dan enggan untuk menyisihkan sebagian harta untuk kepentingan fi sabilillah? Mari kita waspada dengan tipu daya syaitan yang selalu menakut-nakuti dengan kefakiran, sehingga seseorang menjadi bakhil untuk mengeluarkan hartanya di jalan Allah Swt. “Syaitan itu menjanjikan kefakiran dan memerintahkan kalian pada kekejian. Sedangkan Allah menjanjikan kalian maghfirah (ampunan) dari-Nya dan karunia. Dan, Allah Maha luas pengatahuan-Nya”, begitu firman Allah dalam surat Al Baqarah, ayat 268.
Infaq, shadah, zakat tak pernah membuat orang miskin, dan justru akan menjadikan jiwa seseorang pantang gelisah dan jauh dari kondisi resah. Itu manfaat lain dari mengeluarkan infak di jalan Allah. Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya manusia itu diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabial ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir. Kecuali orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu. Bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa.” (QS. Al Ma’arij: 19-25)

Saudaraku,
Logika beramal shaleh memang kerap tidak sejalan dengan logika kemanusiaan dan keduniaan. Bukan hanya tidak sejalan, bahkan bisa saja sangat bertentangan. Lihatlah contoh lain dari hadits Rasulullah Saw. “Dua raka’at fajar itu lebih baik dari dunia dan seisinya. (HR Muslim dari Aisyah). Atau hadits lain, “Pergi di pagi hari di jalan Allah lebih baik dari dunia dan seisinya.” (HR Bukhari dan Muslin dari Anas)
Itulah logika ketaatan. Itulah logika pahala dan karunia Allah Swt. yang mungkin menjadi masalah, adalah bila kita membatasi balasan Allah itu semata pada kita membatasi batasan Allah itu semata pada batasan material yang berbentuk uang. Sebab penggantian yang Allah berikan tidak selalu berarti bahwa orang yang berinfaq akan menjadi kaya secara materi. Akan tetapi Allah menjamin hidupnya menjadi tahu, harta tak pernah menjamin hidupnya berkecukupan, dan ini tentu lebih baik. Sebab kita semua tahu, harta tak pernah menjamin kesejahteraan dan kebahagiaan hidup. Yang membahagiakan adalah rasa cukup itu. Balasan Allah di dunia, bisa berupa kebaikan keluarga, kesehatan, berkah harta yang ada dalam kesedikitan dan sebagainya. Bisa juga balasannya bersifat maknawi seperti petunjuk pada kebenaran, ditolong untuk melakukan kebaikan, kelapangan hati, ketenangan bathin, tumbuh dan mekarnya kecintaan orang lain kepada kita, dan lain sebagai. Terlebih lagi balasan di akhirat.
Orang yang tak mengerti, mengetahui bahwa rizki bathin itu lebih membuat bahagia dan lebih kekal dari apapun yang sifatnya terlihat oleh mata. Ada orang yang bodoh, tapi ia kemuadian memiliki harta dunia dan berlimpah. Ada orang pintar, kuat, sehat, pandai tapi ia tidak memiliki harta bahkan ia miskin. Seperti ungkapan seorang salafushalih, “Sesungguhnya Allah memelihara hamba-Nya dari dunia sebagaimana ia memelihara salah seorang kalian dari makan dan minum yang membawa penyakit.”
Lebih tegas lagi jika kita melihat hadist qudsi dari Rasulullah saw yang berbunyi, “Sesungguhnya ada di antara hamba-Ku yang tidak menjadi baik kecuali bila ia dalam kondisi fakir. Bila kau beri kekayaan padanya niscaya hal itu akan merusaknya. Dan sesungguhnya ada di antara hamba-Ku yang tidak baik keadaannya kecuali bia ia dalam kondisi kaya, jka ia aku fakirkan maka itu akan merusaknya.”

Saudaraku,
Sayyidina Umar ra pernah berpesan, “Tidaklah dunia akan menjadi obsesi seseorang, kecuali dunia menjadi sangat melekat di hatinya dalam empat keadaan: Kefakiran yang tak kenal kekayaan, keinginan yang tak putus-putus, kesibukan yang tak pernah habis, dan angan-angan yang tak ada ujungnya.”

Mencari Mutiara di Dasar Hati seri 1 oleh Muhammad Nursani

Kelezatan Yang Tak Ada Bandingnya

“Berusaha sekuat tenaga menekan hawa nafsu itu adalah kelezatan, kelezatan di atas segala kelezatan. (Ahli Hikmah)

Saudaraku,

Manusia, tetap manusia. Bukan malaikat. Rasulullah Saw, sebagai hamba Allah teladan, juga manusia. Ia tetap memiliki tabi’at kemanusiaan. Karena, andai sosok teladan untuk manusia itu bukan manusia, sudah tentu tak ada manusia yang bisa mengikutinya. Dan artinya ia tak mungkin dijadikan teladan.

Karena itulah Rasulullah mengucapkan do’a: “Ya Allah, sesungguhnya aku adalah manusia. Aku marah sebagaimana manusia marah. Maka siapa saja dari kaum muslimin yang merasa telah aku sakiti, aku caci, aku laknat dan aku cambuk, jadikanlah hal itu sebagai do’a dan pembersih yang akan mendekatkannya kepada-Mu pada hari kiamat”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Meski tetap dengan kemanusiaannya, Rasul tetap memiliki predikat Al-Ma’shum -yang terpelihara dari dosa- karena keimanannya yang tinggi dan Allah Swt. merahmatinya dengan selalu meluruskannya dari kesalahan. Iman sajalah yang membuat Rasulullah memiliki kemauan baja, cita-cita tinggi dan mampu terhindar dari bisikan syaitan melalui hawa nafsu.

Saudaraku, ketahuilah

Syaitan adalah pemangsa orang yang lemah semangat, tidak percaya diri, pesimistik dan tidak kuat kemauannya. Orang-orang seperti itu mudah terjebak dengan bisikan syaitan. Menurut Ibnul Qayyim rahimahullah, “Jika syaitan melihat seseorang memiliki kemauan yang lemah, cita-cita yang rendah, condong mengikuti hawa nafsu, maka syaitan sangat menginginkannya, mambantingnya dan mengekangnya dengan kekuatan hawa nafsu dan kemudian mengendalikannya ke arah mana yang ia kehendaki. Tapi, jangan juga menganggap kita mampu menaklukkan hawa nafsu karena kita merasa memiliki semangat tinggi, optimistik, sangat percaya diri, serta kuat kemauan. Karena sebenarnya perasaan seperti itu akan membuka celah syaitan untuk menyelinap lalu menguasai hati. Ibnul Qayyim mengistilahkan hal ini dengan “perampasan dan pencurian” oleh syaitan. “Jika Syaitan merasa orang itu memiliki kemauan yang teguh, jiwa yang mulia dan cita-cita tinggi, maka ia tidak menginginkan orang tersebut kecuali dengan jalan perampasan dan pencurian,” begitu urai Ibnul Qayyim Al Jauziyah.

Coba perhatikan perkataan Ali radhiyallahu ‘anhu. Menurutnya, ada empat momen kebaikan tertentu, yang paling berat dilakukan. Yakni, mema’afkan ketika marah, berderma ketika pailit, manjaga diri dari dosa (iffah) ketika sendirian, dan menyampaikan kebenaran pada orang yang ditakuti atau diharapkan.

Saudaraku,

Renungkanlah. Momen-momen seperti itulah sebenarnya yang sering menjadi celah rawan perampasan dan pencurian syaitan. Sulit sekali memberi maaf ketika justru amarah seseorang meletup dan dalam kondisi mampu melampiaskannnya. Sangat sulit sekali memberi sesuatu yang kita sendiri sangat membutuhkannya. Sangat sulit memelihara diri dari dosa, bila kesempatan untuk melakukannya datang berulang kali dan terbuka lebar di depan mata kita. Apalagi, kita tahu tak ada orang lain yang melihat tingkah kita saat itu. Seberapa mampu kita menyampaikan kebenaran kepada orang yang kita takuti? Atau kepada orang yang justru kita menanam harapan kepadanya?

Saudaraku, pada momen-momen itulah, kita manusia seringkali tergelincir.

Ada satu kata sangat sederhana untuk mengatasinya, keikhlasan. Itulah kuncinya. Keikhlasan membawa seseorang mudah memaafkan dikala marah. Ikhlas juga menjadikan seseorang ringan memberi meski ia membutuhkan. Ikhlas, yang membuat seseorang tak memandang situasi dalam beramal dan menjauhi maksiat, meski tak seorangpun melihat. Keikhlasan juga yang membuat orang tak memandang resiko apapun dalam menyampaikan kebenaran. Itulah rahasia-rahasia dibalik keikhlasan.

Berkat ikhlas, Rasulullah Saw, berhasil melewati momen-mmen yang diangap paling sulit tersebut. Rasul adalah sosok yang paling mudah memberi maaf, paling banyak memberi laksana angin, paling terpelihara dari penyimpangan, paling berani menyampaikan kebenaran kepada siapapun. Benarlah ucapan Ibnul Jauzi rahimahullah, “Barangsiapa yang telah mengintip pahala (yang dituai karena keikhlasan), niscaya menjadi ringanlah semua tugas yang berat itu”. (Ar Raqa iq, Muhammad Ahmad Rasyid)

Saudaraku,

Lihatlah wujud ketulusan dari keikhlasan lain yang dimiliki Ibnu Abbas. Ia menyatakan, “Bila aku mendengar berita tentang hujan yang turun di suatu daerah, maka aku akan gembira, meskipun aku didaerah itu tidak mempunyai binatang ternak atau padang rumput. Bila aku membaca suatu ayat Kitabullah, maka aku ingin agar kaum muslimin semua memahami ayat itu seperti apa yang aku ketahui.” Orang seperti Ibnu Abbas tak pernah memikirkan apa yang ia peroleh dari kebaikan yang ia lakukan. Ia cukup merasa bahagia, hanya dengan mendengar informasi kebaikan yang mungkin tidak terkait langsung dengan kepentingannya. Lebih dalam lagi keikhlasan yang dikatakan oleh Imam Syafi’i, “Aku ingin kalau ilmu ini tersebar tanpa diketahui siapa orang yang menyebarkannya.”

Karena itulah saudaraku,

Da’i dan mujahid Islam terkenal, Imam Hasan Al Banna mengatakan, “Ikhlash itu kunci keberhasilan.” Menurut Al Banna, para salafushalih yang mulia, tidak menang kecuali karena tiga hal, yaitu kekuatan iman, kebersihan hati dan keikhlasan mereka. “Bila engkau sudah memiliki tiga karakter tersebut, maka ketika engkau berpikir, Allah akan mengilhamimu petunjuk dan bimbingan. Jika engkau beramal, maka Allah akan mendukungmu dengan kemampuan dan keberhasilan…” Al Banna begitu serius memandang masalah ini, sehingga setelah kalimat tadi, ia mengatakan, “… tapi bila ada di antara kalian yang hatinya sakit, cita-citanya lumpuh, diselimuti oleh motif sikap egois (tanda tidak ikhlas), masa lalunya pun penuh masalah, maka keluarkan ia dari barisanmu! Karena orang seperti itulah yang akan menghalangi rahmat dan taufik Allah. “(Al Awai’q, Muhammad Ahmad Rasyid)

Hasan al Banna tidak berlebihan. Karena, orang yang tidak ikhlas umumnya tidak selamat dalam perjalanannya. “Innama yata’atsaru man lam yukhlish,” hanya orang yang tidak ikhlas yang akan tergelincir. (Shaidul Khatir, 355)

Saudaraku,

Dengan keikhlasan, kita jadi tak mudah diperdaya oleh nafsu. Dan itulah nikmat yang hanya dirasakan para mukhlisin. Seperti yang tertuang dalam untaian nasihat Ibnul Qayyim rahimahullah, bahwa mengutamakan kelezatan iffah (menjaga diri dari perbuatan durhaka), lebih lezat daripada kelezatam maksiat. Dalam kesempatan lain ia mengatakan, “Rasa sakit yang ditimbulkan oleh mnegikuti hawa nafsu, lebih dahsyat daripada kelezatan yang dirasakan seorang karena memperturutkan hawa nafsu.”

Di sanalah kita bisa meresapi perkatan ahli hikmah yang dikutip Syaikh Ahmad Muhammad Rasyid: “Fi quwwati qahril hawa ladzdzah, taziidu ‘ala kuli ladzdzah,” berusaha sekuat tenaga menekan hawa nafsu itu adalah kelezatan. Kelezatan diatas segala kelezatan.

Mencari Mutiara di Dasar Hati seri 1 oleh Muhammad Nursani

Latihan Speech Agar Cepat Faseh berbahasa Inggris

Latihan Speech Agar Cepat Faseh berbahasa Inggris

Kuring tukang karung lamun karung kuring kurang indung kuring kerang kerung.

(Note: khusus Sundanese)

Pemula:
She sells sea shells by the seashore.

I saw Susie sitting in a shoe shine shop.

Menengah:
How much wood would a woodchuck chuck if a woodchuck could chuck wood?

Don’t turn on the night light on the night like tonight.

Betty Botta bought a butter, but the butter that Betty Botta bought is bitter, so Betty Botta bought a butter, to make the butter that Betty Botta bought better.

Peter Piper picked a pack of pickled pepper, a pack of pickled pepper Peter Piper picked. If Peter Piper picked a pack of pickled pepper, where is the pack of pickled pepper Peter Piper picked?

The sixth sick sheik’s sixth sheep’s sick.

Dari juragan Lemonedstardust: Three Swedish switch witches watch, three Swiss Swatch watches switch. Which Swedish switches witch watch, which Swiss Swatch watch switches?

Jawaban Elegan Seorang Tukang Bakso

Jawaban Elegan Seorang Tukang Bakso

Di suatu senja sepulang kantor, saya masih berkesempatan untuk ngurus tanaman di depan rumah, sambil memperhatikan beberapa anak asuh yang sedang belajar menggambar peta, juga mewarnai. Hujan rintik rintik selalu menyertai di setiap sore di musim hujan ini.

Di kala tangan sedikit berlumuran tanah kotor,…terdengar suara tek…tekk.. .tek…suara tukang bakso dorong lewat. Sambil menyeka keringat…, ku hentikan tukang bakso itu dan memesan beberapa mangkok bakso setelah menanyakan anak – anak, siapa yang mau bakso ?

“Mauuuuuuuuu. …”, secara serempak dan kompak anak – anak asuhku menjawab.

Selesai makan bakso, lalu saya membayarnya. …

Ada satu hal yang menggelitik fikiranku selama ini ketika saya membayarnya, si tukang bakso memisahkan uang yang diterimanya. Yang satu disimpan dilaci, yang satu ke dompet, yang lainnya ke kaleng bekas kue semacam kencleng. Lalu aku bertanya atas rasa penasaranku selama ini.

“Mang kalo boleh tahu, kenapa uang – uang itu Emang pisahkan? Barangkali ada tujuan ?” “Iya pak, Emang sudah memisahkan uang ini selama jadi tukang bakso yang sudah berlangsung hampir 17 tahun. Tujuannya sederhana saja, Emang hanya ingin memisahkan mana yang menjadi hak Emang, mana yang menjadi hak orang lain / tempat ibadah, dan mana yang menjadi hak cita – cita penyempurnaan iman “.

“Maksudnya.. …?”, saya melanjutkan bertanya.

“Iya Pak, kan agama dan Tuhan menganjurkan kita agar bisa berbagi dengan sesama. Emang membagi 3, dengan pembagian sebagai berikut :

1. Uang yang masuk ke dompet, artinya untuk memenuhi keperluan hidup sehari – hari Emang dan keluarga.

2. Uang yang masuk ke laci, artinya untuk infaq/sedekah, atau untuk melaksanakan ibadah Qurban. Dan alhamdulillah selama 17 tahun menjadi tukang bakso, Emang selalu ikut qurban seekor kambing, meskipun kambingnya yang ukuran sedang saja.

3. Uang yang masuk ke kencleng, karena emang ingin menyempurnakan agama yang Emang pegang yaitu Islam. Islam mewajibkan kepada umatnya yang mampu, untuk melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji ini tentu butuh biaya yang besar. Maka Emang berdiskusi dengan istri dan istri menyetujui bahwa di setiap penghasilan harian hasil jualan bakso ini, Emang harus menyisihkan sebagian penghasilan sebagai tabungan haji. Dan insya Allah selama 17 tahun menabung, sekitar 2 tahun lagi Emang dan istri akan melaksanakan ibadah haji.

Hatiku sangat…… …..sangat tersentuh mendengar jawaban itu. Sungguh sebuah jawaban sederhana yang sangat mulia. Bahkan mungkin kita yang memiliki nasib sedikit lebih baik dari si emang tukang bakso tersebut, belum tentu memiliki fikiran dan rencana indah dalam hidup seperti itu. Dan seringkali berlindung di balik tidak mampu atau belum ada rejeki.

Terus saya melanjutkan sedikit pertanyaan, sebagai berikut : “Iya memang bagus…,tapi kan ibadah haji itu hanya diwajibkan bagi yang mampu, termasuk memiliki kemampuan dalam biaya….”.

Ia menjawab, ” Itulah sebabnya Pak. Emang justru malu kalau bicara soal mampu atau tidak mampu ini. Karena definisi mampu bukan hak pak RT atau pak RW, bukan hak pak Camat ataupun MUI.

Definisi “mampu” adalah sebuah definisi dimana kita diberi kebebasan untuk mendefinisikannya sendiri. Kalau kita mendefinisikan diri sendiri sebagai orang tidak mampu, maka mungkin selamanya kita akan menjadi manusia tidak mampu. Sebaliknya kalau kita mendefinisikan diri sendiri, “mampu”, maka Insya Allah dengan segala kekuasaan dan kewenangannya Allah akan memberi kemampuan pada kita”.

“Masya Allah…, sebuah jawaban elegan dari seorang tukang bakso”.

Dari forum kaskus…